1,673 research outputs found
Takdir-takdir fansuri
Bunga rampai bertajuk Takdir-takdir Fansuri ini mencoba memandang masa lampau daerah muasal sebagai penuh masalah, paradoks, dan ironi. Lara masa kini tak bisa hanya tersebabkan kuasa dari luar, tapi juga pengingkaran atas setimbun luka dan keliru yang dibuat diri-sendiri. Kisah Hamzah Fanzuri, seorang penyair penganut tasawuf pada abad 16-17 di Tanah Aceh, adalah sebuah contoh. Karya-karyanya yang menampilkan sejenis subversi terhadap ortodoksi dilarang, dibakar. Demikianlah "takdir Fansuri" digariskan dan dipercayai hingga kini. Tapi judul bunga rampai menyarankan sejumlah takdir lain atas sang penyair
KONSEP TAKDIR MENURUT ABU MANSUR AL-MATURIDI
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang pemikiran Abu Mansur Al-Maturidi tentang
Takdir. Penelitian ini dilatar belakangi karena adanya kekeliruan masyarakat dalam
memahami makna takdir. Takdir dijadikan sebagai kata pamungkas untuk
pembenaran perilakunya. Ketika seseorang yang beralasan dengan takdir, dengan
takdir dia dizalimi, dan orang yang menzalimi nya beralasan dengan takdir dia
menzalimi, maka hal ini tentu saja tidak sesuai dengan makna takdir yang
sesungguhnya. Tujuannya selain untuk mengetahui konsep takdir menurut Abu
Mansur Al-Maturidi, juga untuk mengetahui relevansi pemikiran takdir Abu
Mansur Al-Maturidi terhadap masyarakat modern. Abu Mansur Al-Maturidi salah
satu tokoh dalam aliran Teologi Islam (Ilmu Kalam) yang memiliki pendapat
tentang takdir, bagaimana takdir menurut Abu Mansur Al-Maturidi? Dan
bagaimana relevansi pemikiran takdir Abu Mansur Al-Maturidi dalam kehidupan
masyarakat modern saat ini? Untuk menjawab rumusan masalah tersebut maka
metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, dalam
kategori penelitian pustaka (library research), karena sumber rujukannya berupa
buku-buku, jurnal, skripsi,dan website yang mendukung data penelitian ini. Teologi
Islam sebagai pendekatan penelitian ini, dan menggunakan analis isi (content
analysis). Melalui metode tersebut diketahui bahwa Abu Mansur Al-Maturidi tidak
seperti paham As’ariyah yang lebih mengutamakan kehendak Tuhan dari pada
kehendak manusia, dan juga tidak seperti paham Mu’tazilah yang lebih
mengutamakan kebebasan kehendak manusia. Dalam hal ini Abu Mansur AlMaturidi
berada
di
tengah-tengah
dengan
pendapatnya
bahwa
perbuatan
manusia
itu
memang
benar ketetapan Tuhan, tetapi atas dasar Ikhtiar (usaha) manusia itu
sendiri, dalam artian manusia diberi kebebasan untuk memilih melakukan
perbuatan baik atau buruk, ketakwaan atau kefasikan. Konsep Takdir tersebut
menurut Abu Mansur Al-Maturidi sangat relevan dengan kehidupan manusia
modern ini. Manusia modern ini selalu berdalih atas nama takdir terhadap perbuatan
buruk yang mereka lakukan. Hal ini tentu saja suatu kekeliruan dalam memahami
makna Takdir dalam Islam.
Kata Kunci: Konsep Takdir, Abu Mansur A-Maturidi, Teologi Islam, Masyarakat
Modern
The Author\u27s View on the Anthology of Short Stories Tukar Takdir by Valiant Budi for the Utilization of Literary Learning
This research is motivated by the limited use of literary works, especially short story anthologies, as a medium for revealing the author\u27s worldview in the context of literary learning. The focus of this research is the short story anthology Tukar Takdir by Valiant Budi, which is considered representative of contemporary Indonesian society\u27s collective consciousness. The purpose of this research is to describe the author\u27s worldview in the anthology by examining the story structure, character conflicts, and cultural symbols used. This research uses a qualitative descriptive method, with data collected through document analysis, observation, and interviews, and validity is established through theoretical triangulation. Data analysis is carried out using the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and result verification. The main data of this research are the texts of the short stories in Tukar Takdir and supporting documentation from the author and readers. The results of this research show that the author\u27s worldview is reflected in the character conflicts and the storyline that depicts the dialectic between individual fate and social structure. This finding confirms that literary works are not only aesthetic but also represent ideology and social awareness, serving as a medium for critical learning. In conclusion, Tukar Takdir is not just an anthology of short stories but rather a representation of the author\u27s worldview, relevant to contemporary social problems, and with great potential to support reflective, dialogical, and transformative literary learning
Falsafat Kebudayaan Sutan Takdir Alisjahbana
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan falsafat kebudayaan yang
dirumuskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dengan fokus utama pada pengertian
budi dan aktivitas kemampuannya. Aktivitas budi akan sangat menentukan corak
manusia berbudaya, karena kebudayaan itu sendiri merupakan hasil dari aktivitas
budi yang ada dalam tubuh. Dalam melakukan penelitian ini penulis
menggunakan kajian pustaka terutama karya Sutan Takdir Alisjahbana baik
tulisan sendiri maupun yang dikaji oleh orang lain.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa menurut Sutan Takdir
Alisjahbana, budi mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam membangun
sebuah kebudayaan bangsa. Di dalam budi sudah terdapat enam dasar nilai yang a
priori yang akan menghasilkan dua macam kebudayaan besar, kebudayaan
ekspresif dan progresif. Kebudayaan ekspresif diidentifikasikan dengan
kebudayaan tradisional dan kebudayaan progresif diidentifikasikan dengan
kebudayaan Barat yang bercirikan rasionalitas. Sedangkan kebudayaan Indonesia
menurut Sutan Takdir Alisjahbana masih digolongkan ke dalam kebudayaan
ekspresif yang didominasi oleh nilai seni dan agama.
Di dalam penelitian ini akan diketahui bahwa cita-cita Sutan Takdir
Alisjahbana tentang kebudayaan Indonesia adalah merubah paradigma bangsa
Indonesia dari kebudayaan ekspresif menjadi kebudayaan progresif yang dimulai
dengan merekonstruksi pola berpikir tradisional menjadi pola berpikir modern
yang bernafaskan rasional. Oleh karena itu Sutan Takdir Alisjahbana
menganjurkan bangsa Indonesia berguru pada Barat yang sudah terlebih dahulu
maju dalam hal budaya. Sutan Takdir Alisjahbana pada tahap lebih tinggi ingin
mewujudkan suatu kebudayaan universal di mana semua orang di dunia ini
bersaudara dan saling pengertian
PERSEPSI TUKANG BATU DI DESA JENETALLASA TENTANG TAKDIR (ANALISIS TEOLOGIS)
Destiny is not only understood as an absolute provision but has a dimension that involves wise planning and determination according to the will and knowledge of Allah SWT. First, with this understanding it provides a foundation for understanding how the concept of destiny in human life, both in theological and practical aspects. Second, the masons in Jenetallasa village understand destiny as a combination of human effort and God's will. They believe that although destiny is a definite provision, humans are still required to try. Destiny in the view of masons, teaches surrender, acceptance, and patience in facing life's challenges. Third, the application of destiny by masons in Jenetallasa village has various ways, namely including effort, prayer, and acceptance of destiny, with variations in the level of surrender and effort made by each individual according to their views on destiny. The implications of the research suggest that understanding destiny has a broad impact on the lives of individuals and society. Therefore, spiritual development that can deepen this understanding can be used as a strategic step to create a more productive, harmonious, and religious society.
This type of research is qualitative with a field research approach, namely research conducted by going directly to the location to collect the required data. The author applies the observation method by observing directly and using interview techniques. Interviews are conducted through conversations between two parties, between the author and the informant.Takdir tidak hanya dipahami sebagai ketentuan yang bersifat mutlak akan tetapi memiliki dimensi yang dimana melibatkan perencanaan dan penetapan yang bijaksana sesuai kehendak dan ilmu Allah SWT. Pertama, dengan pemamaham ini memberikan landasan untuk memahami bagaimana konsep takdir dalam kehidupan manusia, baik dalam aspek teologis maupun praktis. Kedua, para tukang batu di desa Jenetallasa memahami takdir sebagai kombinasi antara usaha manusia dan kehendak Allah. Mereka mempercayai bahwa meskipun takdir adalah ketentuan yang pasti, manusia tetap diwajibkan untuk berusaha. Takdir dalam pandangan tukang batu, mengajarkan kepasrahan, penerimaan, dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup. Ketiga, penerapan takdir oleh tukang batu di desa Jenetallasa memiliki beragam cara, yaitu mencakup ikhtiar, doa, serta penerimaan takdir, dengan variasi tingkat pasrah dan usaha yang dilakukan masing-masing individu sesuai dengan pandangan mereka terhadap takdir. Implikasi penelitian mengemukakan bahwa pemahaman mengenai takdir memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Oleh karena itu, pembinaan spiritual yang mampu memperdalam pemahaman ini dapat dijadikan langkah strategis untuk menciptakan masyarakat yang lebih produktif, harmonis, dan religius.
Jenis penelitian ini adalah bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan turun langsung ke lokasi untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Penulis menerapkan metode observasi dengan mengamati secara langsung serta menggunakan teknik wawancara. Wawancara dilakukan melalui percakapan antara dua pihak, antara penulis dengan informan
KONSEP TAKDIR DALAM AL-QUR’AN ( Studi Tafsir Tematik)
Takdir merupakan sebuah sebutan atas pengetahuan Allah Swt yang meliputi seluruh alam. Allah Swt menulis segala peristiwa yang terjadi baik kepada alam maupun manusia. Takdir Allah Swt hanya untuk menyelaraskan takdir dengan keinginan manusia, karena manusia diberkahi kelebihan akal untuk mampu membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, Allah Swt hanya membimbing kita menuju amal kebaikan yang menyebabkan kita mempunyai keinginan dan kemudian melakukannya. Amal kebaikan kita didapat melalui keimanan, ketaatan yang tulus dan berdo’a agar selalu mendapatkan ridha Allah Swt.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep takdir dalam al-Qur’an secara kronologis pewahyuan makkiyah dan madaniyah serta perspektif teologis dan sains, sedangkan metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode maudlu’i (tematik), yang berarti menghimpun ayat-ayat yang berkenaan dengan takdir kemudian menyusun secara kronologis ayat makkiyah dan ayat madaniyah. Dalam penyusunan ayat makkiyah dan madaniyah penulis menggunakan teorinya Ibnu Abbas. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menunujukkan bahwa sebagian besar ayat tentang takdir lebih cenderung kepada ayat-ayat makkiyah dibandingkan dengan ayat-ayat madaniyah. Ini menunujukan bahwa ayat tentang takdir lebih menyeru kepada tauhid. Dalam pengelompokan ayat-ayat tentang takdir berdasarkan makkiyah dan madaniyah penulis mengkategorikan ke dalam empat kategori yakni: takdir yang berbicara tentang waktu, takdir yang berbicara tentang manusia, takdir yang berbicara tentang alam semesta dan takdir yang berbicara tentang balasan manusia.   Kata Kunci: Takdir, Teologis dan Sains, Tafsi
Penafsiran Ayat-Ayat Takdir dalam Al-Qur’an
Muslims throughout history have been divided into three groups in the understanding of fate: groups that are excessive, groups that deny, and groups that are moderate. In strengthening the argument in the debate, each group uses the verses of the Qur'an incompletely. Resulting in contradiction of verses. This is the problem that the author raises in this study, by reviewing three books of Tafsir. The methods used are mauḍhūʻi and muqarān methods, with the type of qualitative research of literary objects. The research aims to determine the interpretation of the verses of fate in the Qur’an according to Tafsīr al-Ṭabarī, fī Ẓilāl al-Qur’an, and al-Miṣbāḥ. According to Tafsīr al-Ṭabarī, fate is an absolute provision that has been written in Lauḥ Mahfūz, whether in the form of good or bad. But with the perseverance of worship, the provisions or fate in Lauh Mahfuz can be changed. According to the fī Ẓilāl of the Qur’an, human fate is supernatural therefore man must strive in all his deeds even if the end result is determined by Allah. According to Tafsīr al-Miṣbāḥ, human beings are in the fate of Allah which have certain dimensions. So that God commands human beings to choose based on the potential of the intellect that has been bestowed by Him. The author understands that fate is everything that has been written in Lauḥ Mahfūz. But this does not mean that human beings should ignore the ability of the intellect that has been bestowed by God. Umat Islam dalam sepanjang sejarah terbagi menjadi tiga kelompok dalam memahami takdir: kelompok yang berlebihan, kelompok yang mengingkari, dan kelompok yang bersikap pertengahan terhadap takdir. Untuk menguatkan argumen dalam berdebat, masing-masing menggunakan dalil al-Qur’an secara tidak utuh. Sehingga ayat-ayat tersebut terlihat seakan-akan bertentangan. Permasalahan inilah yang penulis angkat di dalam penelitian ini, dengan mengkaji dari tiga kitab Tafsir. Metode digunakan adalah metode mauḍhūʻi dan muqarān, dengan jenis penelitian kualitatif objek kepustakaan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penafsiran ayat-ayat takdir di dalam al-Qur’an menurut Tafsīr al-Ṭabarī, fī Ẓilāl Al-Qur’an, dan al-Miṣbāḥ. Menurut Tafsīr al-Ṭabarī, takdir adalah ketentuan mutlak yang telah tertulis di Lauḥ Mahfūz, baik berupa kebaikan atau keburukan. Namun dengan ketekunan beribadah ketentuan atau takdir di Lauh Mahfuz dapat saja berubah. Menurut fī Ẓilāl Al-Qur’an, takdir manusia bersifat ghaib karena itu manusia harus berusaha dalam segala perbuatannya meskipun hasil akhir ditentukan oleh Allah. Menurut Tafsīr al-Miṣbāḥ, manusia berada dalam takdir-takdir Allah yang memiliki ukuran-ukuran tertentu. Sehingga Allah menyuruh kepada manusia untuk memilih berdasarkan potensi akal yang telah di anugerahkan-Nya. Penulis memahami bahwa, takdir adalah segala sesuatu yang telah tertulis di Lauḥ Mahfūz. Namun bukan berarti manusia harus mengabaikan kemampuan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah
Vergi idaresinin takdir yetkisinin saptanması
Danışman: Prof.Dr. Mustafa AKKAYA, 200 s. ÖZET Vergi idaresinin takdir yetkisinin saptanması başlıklı çalışma iki bölümden oluşmaktadır. Birinci bölümde idarenin takdir yetkisi kavramı normlar hiyerarşisi teorisi bakımından incelenmiştir. Bölümde öncelikle takdir yetkisine atfedilen özellikler saptanmaya çalışılmıştır. Ardından saptanan bu özellikler normlar hiyerarşisi teorisi bakımından irdelenmiştir. Vergi normlarında idarenin takdir yetkisinin saptanmasını konu edinen ikinci bölümdeyse, ilk olarak takdir yetkisinin saptanması bakımından kilit öneme sahip bağımlı bağımsız norm ayrımı incelenmiştir. Bu ayrım içerisinde özellikle hipotetik/koşullu-kategorik norm alt ayrımları üzerinde durulmuştur. Daha sonra takdir yetkisinin idari işlemin hangi unsurunda olduğu sorunu analiz edilmiştir. Bu bağlamda idarenin takdir yetkisi ve değerlendirme yetkisinin farkı ortaya konulmuştur. Bu bölüme kadar yapılan tespitlerin yardımıyla idarenin takdir yetkisini saptamaya yönelik ölçütlerin eleştirisi yapılmış ve yeni bir ölçüt önerisinde bulunulmuştur. Son olarak, varılan sonuçlar vergi normu örnekleri üzerinden sergilenmiştir.Canyaş Oytun, Determining the discreationary power of tax administration, Ph.D. Thesis, Advisor: Prof. Mustafa AKKAYA, 200 p. ABSTRACT This study named as “Determining the Discreationary Power of Tax Administration” consists of two parts. Within the context of the first part, concept of discreationary power of administration has been analysed in pursuant to the theory of hierarchy of norms. In this part, it has mainly been aimed to ascertain the main characteristics attributed to discreationary power. After that, these characteristics have been scrutinized from the perspective of hierarchy of norms. In the second part named as “Determining Tax Administration’s Discreationary Power in Tax Norms”, firstly, the distinction between dependent and independent norms which has a key role in determining the discreationary power has been analysed. Within the concept of this distinction, the sub-distinctions between hypothetic/conditional-categorised norm have specifically been discussed. In pursuit of this discussion, it has been set forth that which element of the administrative act the discreationary power deals with. In this regard, the differece between the discreationary power and appreciation power has been established. By means of the determinations set forth until this part, the criteria brought for determining the discretiory power have been criticized and a new criterion has been proposed. Finally, the conclusions have been presented by examples from tax norms
TAKDIR DAN KEBEBASAN MENURUT FETHULLAH GÜLEN
Abstract:Destiny and free will is one of issues in Islamic theology which is still discussed by Moslem theologian up to now. This discussion has yielded some streams with its argumentation respectively. Included who intense to discuss this issue is muḥammad Fethullah Gülen. At a glance, he offers to explain the issue in his own way without following one of the streams. He introduces some key terms, like Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, Formal or Theoretical Destiny, actual destiny. Terms are Gülen’s exclusive. The article will elaborate the explaination of Gülen relating to the destiny and free will. The purpose is to map what is he follows the streams or he has interpretation in himself. For this reason, I will spread out briefly views of theologian before, i.e. these streams of Mu’tazili, al-Asy’arite, Matūridite Samarkand dan Matūridite Bukhārā. By this way it will be seen clearly where is the position of Gülen and what is contribution of his thinking. Abstrak: takdir dan kebebasan adalah isu teologi Islam yang masih diperbincangkan oleh para teolog hingga sekarang. Perdebatan ini telah melahirkan berbagai aliran dengan pen¬dapat¬nya masing-masing. Termasuk yang juga intens mem¬bahas isu ini adalah Muḥammad Fethullah Gülen. Sekilas, ia berusaha menjelaskan isu ini dengan caranya sendiri tanpa mengikuti salah satu aliran tersebut. Ia mengenalkan be¬berapa istilah kunci, seperti Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir teoritis, dan takdir aktual. Istilah-istilah ini merupakan khas Gülen. Tulisan ini akan mengelaborasi penjelasan Gülen mengenai takdir dan ke¬bebas¬an tersebut. Tujuannya adalah memetakan apakah ia mengikuti aliran-aliran teologi yang sudah ada ataukah ia mempunyai pemaknaan sendiri ter¬hadap persoalan ini. Untuk alasan ini, penulis akan me¬mapar¬kan secara singkat pendapat para teolog sebelumnya, yakni aliran-aliran Mu’tazi¬lah, al-Asy’ariyah, Mātūridiyah Samarkand dan Mātūridiyah Bukhārā. Dengan cara ini akan terlihat dengan jelas di mana¬kah posisi Gülen dan apa kontribusi dari pemikirannya itu. Keywords: Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir aktual
Vergi hukuku alanındaki takdir yetkisinin kullanılmasında idarenin ve memurun sorumluluğu
Vergi hukuku alanında idarenin takdir yetkisi uzmanlık gerektiren konularda kullanılır. Ancak, takdir yetkisi keyfi ve sınırsız bir yetki olmayıp, idarenin bu yetkiyi kanunlarla belirlenen sınırlar içinde ve hukukun genel ilkelerine uygun olarak kullanması gerekir. İdare, işlem ve eylemlerinde sahip olduğu takdir yetkisini hukuka aykırı olarak kullanırsa “takdir sakatlığı”ndan söz edilir. Takdir yetkisinin kullanımında sakatlık olup olmadığı yargı organları tarafından denetlenir. Vergi hukuku alanında takdir sakatlığının olması durumunda, idarenin işlem ya da eyleminden zarar gören kişiler “hizmet kusuru” nedeniyle idarenin sorumluluğuna başvurabilirler. Vergi hukuku alanında idare takdir yetkisini kullanırken yapılan sakatlıklar ve verilen zararlar esas itibariyle memurlar tarafından işlenmektedir. Memurun “kişisel kusuru”ndan kaynaklanan takdir sakatlıkları varsa, tazminat davasının zarara uğrayanlar tarafından idareye karşı açılması gerekir. Bu aşamadan sonra idare, tazmin ettiği zararı ilgili memurdan rücu etmek zorundadır. İdare rücu hakkını kendiliğinden kullanmadığı durumlarda, vatandaşlar bunu sağlamak amacıyla idareye veya mahkemeye başvurabilirler.The discretion power of the administration is used in areas of expertise in tax law. However, discretion is not arbitrary and unlimited powers and tax administration must use it within the limits specified by laws and in accordance with general principles of law. If administration uses the discretion power contrary to law in its operations and actions, it is mentioned in terms as a "disability of discretion". The disability of discretion is controlled by the courts. In case of disability of discretion in the area of tax law, the people suffered from operations or actions of the administration can apply for responsibilities of the administration due to "service faults". The disability and the losses overt using discretion powers in the area of tax law are mainly handled by civil servants. If there are any disabilities of discretions arising from the officer's "personal fault", the sufferer must bring an action for damages against to the administration. After this stage the administration must be recourse to the relevant officers. If administration doesn’t use the right of recourse itself, citizens can apply to the administration or the courts
- …
