124,784 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
RELOKASI PASAR BINTORO DEMAK
Tingginya tingkat pertumbuhan ekonoi dewasa ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan kota-kota di Indonesia. Perbandingan junmlah masyarakat yang tinggal di kota dengan yng tinggal di desa pada saat inipun sudah hampir memiliki angka yang seimbang. Hal tersebut merupakan bukti bahwa perkembangan suatu kota merupakanmagnet bagi penyebaran penduduk, yang bila tidak diimbangi dngan pembangunan pedesaan akan dapat menyebabkan merosotnya interaksi desa-kota, yang pada hakekatnya daerah pedesaan merupakan produsen kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari bagi kehidupan masyrakat perkotaan.
Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek pendukungnya adalah diperlukannya suatu adah yang akomodatif sebagai pendukung kelancaran pendistribusian baik barang maupun manusia dari desa ke kota, dan dalam hal kedudukan desa sebagai produsen sebagian kebutuhan-kebutuhan primer masyarakat kota, maka diperlukan sebuah pasar sebagai pusat distribusi barang yang secara langsung maupun tidal langsung nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat kota.
Pengertian “pasar” itu sendiri merupakan tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan. Pasar dalam artian luas adalah tempat tertentu dan tetap, pusat memperjualbelikan biasanya dan terutama barang-barang keperluan sehari-hari. Selain itu pasar sebagai pusat pertemuan penghasil dan pemakai (propuden dan konsumen) yang sudah banyak dikenal sejak jaman dahulu kala ketika sifat perdagangan masih berupa pertukaran barang (barter).
Daerah Kabupaten Dati II Demak merupakan daerah yang sedang membangun dan termasuk kota yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pertumbuhan kota Demak tidak akan lepas dengan kota Semarang yang memilliki ordo lebih tinggi. Keberadaan kota Demak juga sangat menguntungkan terhadap wilayah pertanian dikota-kota sekitarnya dalam hal penyediaan kebutuhan pangan. Hal tersebut didukung dengan keadaan perekonomian Kabupaten Demak yang dominan disektor pertanian, menjadi kota yang potensial terhadap kegiatan-kegiatan perdagangan.
Pemerintah daerah menyadari akan perkembangan kehidupan perekonomian yang meningkat seiring dengan pertambahan penduduk harus diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarananya. Pada saat ini salah satu kebijaksanaan pemerintah daerah setempat adalah dengan pengembangan pasar Bintoro sebagai tempat perbelanjaan dan sebagai fasilitas umum perdagangan. Renovasi Pasar Bintoro ini sudah direncanakan sejak tahun 2003 oleh pemerintah daerah setempat. Akan tetapi kenyataan yang ada menunjukkan belum terealisasinya pembangunan pasar karena berbagai kendala yang dihadapi baik dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat pedagang pasar serta kurangnya pendekatan-pendekatan secara menyeluruh dan komprehensif antara pihak-pihak yang terkait.
Permasalahan yang ada sekarang bahwa keberadaan Pasar Bintoro Demak sekaang ini dirasakan kurang memadai baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Jumlah pedagang dalam saat ini sudah melebihi batas daya tampung (los maupun kios), jumlha pedagang tersebut sudah lebih dari 2000 pedagang, padahal jumlah los dan kios tersedia kurang dari jumlah pedagang yang ada sekarang (wawancara dengan Kadin Pengelola Pasar Daerah, juli 2004). Luasan bangunan sangat terbatas untuk menampung para pedagang yang semakin bertambah sehingga jlan raya sebagai jalan utama pasar menjadi semakin sempit karena digunakan sebagai areal berjualan bagi para pedagang yang tidak tertampung dalam los pasar, serta lahan parkir yang tersedia sangat lah kurang didalam menampung jumlah kendaraan yang keluar masuk. Hal tersebut ditambah dengan termakannya area pedestrian disepanjang jalan raya oleh keberadaan PKL. Aktivitas bongkarmuat barang yang semula direncanakan dari jalan dibelakang pasar mengalami pepindahan yaitu dari jalan raya di depan pasar karena factor kedekatan dan kemudahan dalam hal pencapaian.
Melihat arah kebijaksanaan pembangunan serta potensi dan kendala yang telah diuraikan diatas, Kabupaten Demak sebagai kota yag sedang membangun memerlukan sebuah pasar yang representative dan mampu melayani kebutuhan masyarakat kota khususnya barang-barang kebutuhan sehari-hari serta mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul sekarang ini. Disamping itu perlu adanya peningkatan baik kuantitas maupun kualitas terhadap fasilitas-fasilitas pendukung yang lainuntuk lebih memantapkan peran pasar didalam melayani kebutuhan masyarakat dengan lingkungannya, yaitu dengan penekanan desain Arsitektur Neo Vernakular.
1.2. Tujuan dan Sasaran
Maksud pembahasan secara umum adadlah untuk merumuskan landasan konseptual dan program dasar perancangan untuk menciptakan suatu wadah bagi kegiatan perdagangan yang representatif dan memenuhi kualitas pelayanan yang baik.
Desangkan tujuan dari penyusunan landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur adalah untuk mengungkapkan masalah-masalah dan potensi yang timbul sebagai akibat perkembangan aktifitas perdagangan di Pasar Bintoro Demak serta menentukan langkah-langkah pokok dalam perancangan suatu fasilitas perdagangan.
1.3. Lingkup Pembahasan
Ruang lingkup pembahasan dititik beratkan pada permasalahan mengenai pasar sebagai tempat kegiatan perdagangan dan jasa beserta dengan fasilitas-fasilitas pendukung yang ada dengan skope pelayanan tingkatkota dengan prediksi pelayanan untuk masa yang akan datang dengan lingkup pembahasan dari disiplin ilmu arsitektur. Ilmu pengetahuan yang diluar lingkup bidang arsitektur akan tetap turut dibahas secara garis basarnya saja dan sepanjang masih berkaitan dan mendukung masalah utama.
1.4. Metode Pembahasan
Metode pembahasan dilakukan dengan metode deskriptif, yaitu mnguraikan dan menjelaskan data kualitatif, kemudian dianalisa unuk memperoleh suatu kesimpulan.
Pengumpulan data diperoleh dengan cara :
a. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu data sekunder yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan perancangan.
b. Wawancara
Wawancara yaitu dilakukan dengan pihak-pihak terkait terutama dengan pihak pengelola pasar, Dinas Pengelola Pasar Daerah dan Bappeda Kabupaten Demak. Hal ini dilakukan untuk menggali data (data primer) mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan topik.
c. Observasi lapangan
Observasi lapangan dilakukan degan mengadakan pengamatan pendataan langsung dilokasi.
1.5. Sistemtika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup pembahasan, metode pembahasan dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN UMUM PASAR
Menguraikan tentang pengertian pasar dan perkembangannya, macam pasar, fungsi pasar, persyaratan pasar dan fasilitas-fasilitas pendukung sebuah pasar.
BAB III TINJAUAN UMUM KOTA DAN PASAR BINTORO DEMAK SERTA STUDI BANDING
Menguiraikan tentang tinjauan umum kota Demak, arah perkembangan kota Demak, fungsi utama kota Demak dan tinjauan pasar bintoro Demak serta menguraikan studi banding pasar Gede Surakarta, pasar Bering Harjo Yogyakarta yang meliputi kondisi fisik dan non fisik serta analisis permasalahannya.
BAB IV KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN
Bab ini mengungkapkan kesimpulan, batasan dan anggapan dari uraian pada bab sebelumnya.
BAB V PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
Menguraikan analisis fisik bangunan baik secara kualitatif maupun kuantitatif dimulai dari dasar pendekatan yang menjadi acuan bagi perencanaan dan perancangan sebuah pasar. Juga dilakukan studi terhadap pelaku, aktivitas, sirkulasi dan pendekatan ruang, juga dibahas sistem struktur, bahan bangunan, utilitas dan studi modul.
BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR BINTORO DEMAK
Membahas mengenai konsep perancangan bangunan pasar yang meliputi konsep bentuk, penekanan desain yang digunakan, dan menegenai program perencanaan yang meliputi lokasi dan tapak terpilih, program ruang serta struktur dan utilitas banguna
Pragmatic Case Studies as a Source of Unity in Applied Psychology
To unify or not to unify applied psychology: that is the question. In this article we review pendulum swings in the historical efforts to answer this question—from a comprehensive, positivist, “top-down,” deductive yes between the 1930s and the early 60s, to a postmodern no since then. A rationale and proposal for a limited, “bottom-up,” inductive yes in applied psychology is then presented, employing a case-based paradigm that integrates both positivist and postmodern themes and components. This paradigm is labeled “pragmatic psychology” and, its specific use of case studies, the “Pragmatic Case Study Method” (“PCS Method”). We call for the creation of peer-reviewed journal-databases of pragmatic case studies as a foundational source of unifying applied knowledge in our discipline. As one example, the potential of the PCS Method for unifying different angles of theoretical regard is illustrated in an area of applied psychology, psychotherapy, via the case of Mrs. B. The article then turns to the broader historical and epistemological arguments for the unifying nature of the PCS Method in both applied and basic psychology.Peer reviewe
Dr. Edwin Wright Collection: Author Unknown
Notes - The author relates several short stories about his neighbours including Alex McDonell, homesteading and life around Meanook and Athabasca (1 page
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Measurement of the ratio of branching fractions B(B0→K∗0γ )/B(B0s→φγ ) and the directCP asymmetry inB 0→K∗0γ
The ratio of branching fractions of the radiative B decays B0→K⁎0γ and B0s→ϕγ has been measured using an integrated luminosity of 1.0 fb−1 of pp collision data collected by the LHCb experiment at a centre-of-mass energy of s√=7TeV. The value obtained is
B(B0→K⁎0γ)B(B0s→ϕγ)=1.23±0.06(stat.)±0.04(syst.)±0.10(fs/fd),
where the first uncertainty is statistical, the second is the experimental systematic uncertainty and the third is associated with the ratio of fragmentation fractions fs/fd. Using the world average value for B(B0→K⁎0γ), the branching fraction B(B0s→ϕγ) is measured to be (3.5±0.4)×10−5.
The direct CP asymmetry in B0→K⁎0γ decays has also been measured with the same data and found to be
ACP(B0→K⁎0γ)=(0.8±1.7(stat.)±0.9(syst.))%.
Both measurements are the most precise to date and are in agreement with the previous experimental results and theoretical expectations
The construction of Karen Karnak: The multi-author-function
This thesis is situated within the comparatively recent developments of Web 2.0 and the emergence of interactive WikiMedia, and explores the mode of authorship within a Read/Write culture compared to that of a Read/Only tradition. The hypothesis of this study is that the role of the audience has become merged with the author, and as such, represents new functions and attributes, distinct from a more conventional concept of authorship, in which the roles of audience and author are more separate. Read/Write and participatory culture, as defined by this study, is focused on collaboration, and includes the influences of D.I.Y. culture, Open-Source practices and the production of text by multiple authors. Multi-authorship presents a re-thinking of several concepts which support the notion of the individual author, since the focus of multi-authorship is not on attribution and ownership of a finished text, but on the continued malleability of a text. Modes of multi-authorship, demonstrated in the use of the pseudonyms Alan Smithee and Karen Eliot, represent declarative authors whose names signify multiple origins, whilst concurrently indicating a distinct body of work. The function of these names form an important context to this study, since primary research involves the construction of an experimental mode of multi-authorship utilising WikiMedia technology and the interaction of thirty nine participants, who are invited to create a body of work under the collective pseudonym Karen Karnak. The data generated by this experiment is analysed using aspects of Michel Foucault's author-function to identify and determine power structures inherent in the WikiMedia context. The interplay of power structures, including concepts such as identity, ownership and the body of work, affect the resulting mode of authorship and contribute to the construction of Karen Karnak, suggesting further areas of research into the emerging multi-author
Branching fraction and CP asymmetry of the decays B+→K0Sπ+ and B+→K0SK+
An analysis of B+ → K0
Sπ+ and B+ → K0
S K+ decays is performed with the LHCb experiment. The pp
collision data used correspond to integrated luminosities of 1 fb−1 and 2 fb−1 collected at centre-ofmass
energies of
√
s = 7 TeV and
√
s = 8 TeV, respectively. The ratio of branching fractions and the
direct CP asymmetries are measured to be B(B+ → K0
S K+
)/B(B+ → K0
Sπ+
) = 0.064 ± 0.009 (stat.) ±
0.004 (syst.), ACP(B+ → K0
Sπ+
) = −0.022 ± 0.025 (stat.) ± 0.010 (syst.) and ACP(B+ → K0
S K+
) =
−0.21 ± 0.14 (stat.) ± 0.01 (syst.). The data sample taken at
√
s = 7 TeV is used to search for
B+
c
→ K0
S K+ decays and results in the upper limit ( fc · B(B+
c
→ K0
S K+
))/( fu · B(B+ → K0
Sπ+
)) <
5.8 × 10−2 at 90% confidence level, where fc and fu denote the hadronisation fractions of a ¯b
quark
into a B+
c or a B+ meson, respectively
SENTUHAN KREATIF SENIMAN TERHADAP TRADISI BERSIH DESA DI DUSUN KELIRAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asal-usul diadakannya upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, prosesi jalannya upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, makna simbolik sesaji dalam upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, fungsi Foklor upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran serta peran atau sentuhan seniman untuk turut menjaga kelestarian upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran bagi masyarakat pendukungnya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam dengan sesepuh, pinisepuh, perangkat desa dan penulis sendiri yang terlibat serta memiliki pengetahuan tentang upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat bantu perekam, kamera video dan alat tulis. Analisis data yang digunakan adalah kategorisasi dan perbandingan berkelanjutan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Asal-usul upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran berawal dari pesan yang diberikan oleh Kyai Ageng Kelir yang merupakan cikal bakal upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran kepada Widodo Pujo Bintoro (penulis) untuk melakukan upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran dengan mengadakan kirab dan kenduri di Minggu Kliwon bulan Agustus, (2) Rangkaian upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran meliputi: (a) persiapan yaitu kerja bakti membersihkan lingkungan dan pembuatan jodhang atau gunungan serta pembuatan sesaji, (b) pelaksanaan meliputi kenduri, makan sesaji bersama dan kesenian; (3) Makna simbolik sesaji dalam upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, (4) Fungsi upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran tersebut antara lain (a) fungsi spiritual, (b) fungsi ekonomi, (c) fungsi sosial dan (d) fungsi pelestarian tradisi
- …
