34,608 research outputs found

    DIVERSIFIKASI DESAIN PRODUK TENUN IKAT NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN PADUAN TEKNIK TENUN DAN TEKNIK BATIK

    No full text
    ABSTRAK Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis kain tradisional indah dan unik, salah satunya adalah kain tenun ikat. Tenun ikat memiliki pola-pola tertentu yang menghasilkan motif-motif khas untuk keperluan tradisional. Seiring dinamika perkembangan zaman dan selera fasyen yang berubah, maka perlu dilakukan pengembangan desain motif baru sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian dan penciptaan seni ini bertujuan melakukan diversifikasi produk baru dengan cara mengombinasikan teknik tenun ikat dan teknik batik dalam selembar kain. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data, perancangan desain tenun ikat kombinasi batik, pengikatan dan pencelupan warna, penenunan, dan pembatikan. Tematik motif  yang diangkat yaitu seni budaya Nusa Tenggara Timur. Produk baru paduan tenun + batik ini disingkat nuntik. Tenun + batik = nuntik.  Kegiatan ini menghasilkan tujuh motif  nuntik yaitu Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Kata kunci: diversifikasi, desain, tenun ikat, batik, nuntik, Nusa Tenggara Timur  ABSTRACT Indonesia has a wealth of different types of beautifully decorated traditional fabrics admired by the world, one of which is ikat cloth. Traditional ikat motifs have certain patterns that produce distinctive motifs to meet various traditional activities or ceremonies. Along with the dynamics of the times and changing fashion tastes, it is necessary to develop a new motif design in accordance with the demands of the times. This art research and creation aims to improve aesthetic values or discover new aesthetics as a result of combining ikat weaving techniques and batik techniques in a piece of cloth. The method used is data collection, design design weaving bundle of batik combination, binding and dyeing, weaving, and batik. Thematic traditional motifs adopted are the arts of East Nusa Tenggara, because it is hoped that the technology and design of the motifs produced can be a diversification of new weaving products typical of East Nusa Tenggara. This new product of batik weaving / batik is shortened nuntik, tenun + batik = nuntik. This activity produced seven motive motions, namely Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Keywords: Value increase, design, batik alloy weaving, nuntic, East Nusa Tenggar

    PERANCANGAN AKSESORI FESYEN BERBASIS ANYAMAN DAUN LONTAR DAN TENUN IKAT TRADISIONAL FLORES TIMUR: DESIGNING FASHION ACCESSORIES BASED ON PALM LEAF WEAVING AND TRADITIONAL WEAVING OF EAST FLORES

    Full text link
    East Flores is one of the regions in East Nusa Tenggara with local potential that is worth developing, including palm leaf weaving and ikat weaving. The process of making woven palm leaves and ikat weaving cannot be separated from the diligence of Flores women. This research aims to explore these local materials in the development of modern fashion accessory products as an effort to integrate local wisdom into products that are relevant to today\u27s needs. The practice-led research method is applied in this design through 4 (four) stages, namely: pre-design, design, design implementation, and presentation. The practice-led research produced prototypes of fashion accessory sets, namely sling bag, hand bag, and shoulder bag. The design that combines traditional techniques with modern design is expected to increase

    Perbedaan Ketajaman Pendengaran Tenaga Kerja di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac Inti Corpora Bawen Tahun 2006

    No full text
    Telinga manusia terus menerus bekerja sebagai pintu masuk komunikasi dan informasi melalui proses transformasi yang rumit dan kompleks untuk menginterpretasikan getaran suara dan bunyi lingkungan. Bunyi lingkungan yang makin bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran maupun kesehatan pada umumnya. Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki sehingga dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, komunikasi, kenikmatan kerja dan ketulian menetap. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja di unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac inti corpora bawen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac Inti Corpora Bawen. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan metode survai dan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja operator mesin Loom shift B di Unit Weaving III (Loom III) berjumlah 43 orang dan di Unit Weaving Denim (Loom V) berjumlah 32 orang. Sampel yang diambil sebanyak 30 orang di Unit Weaving III (Loom III) dan 24 orang di Unit Weaving Denim (Loom V), sehingga total sampel sebanyak 54 orang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel restriksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Sound level meter, 2) Audiometer, 3) Kuesioner penyaringan sampel, 4) Kuesioner keluhan subjektif. Data penelitian ini diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, serta pengukuran intensitas kebisingan dan ketajaman pendengaran. Data sekunder diperoleh melalui dokumen yang ada di perusahaan yang berupa data tentang proses produksi dan ketenagakerjaan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan statistik uji t-tes Independent. Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji t-test independent dengan taraf kepercayaan 95% untuk telinga kanan, diperoleh nilai signifikansi p = 0,040 yang berarti p < 0,05, menunjukkan adanya perbedaan rata-rata ketajaman pendengaran telinga kanan di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V). Sedangkan untuk telinga kiri, diperoleh nilai signifikansi p = 0,033 yang berarti p < 0,05, menunjukkan adanya perbedaan rata-rata ketajaman pendengaran telinga kiri di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V). Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan bagi perusahaan adalah, sebaiknya dilakukan penggantian earplug yang lebih baik dari earplug yang telah dipakai dengan daya pelemahan yang lebih bagus, bagi karyawan di Unit Weaving III dan Weaving V khususnya operator mesin Loom hendaknya selalu disiplin dalam menggunakan alat pelindung telinga yang telah disediakan pihak perusahaan, bagi peneliti selanjutnya diharapkan dilakukan penelitian tentang perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja yang memakai earplug dengan yang tidak memakai earplug dan sebelum pemeriksaan dilakukan, sebaiknya sampel terbebas dari paparan bising selama 16 jam agar gangguan yang didapatkan benar-benar merupakan efek dari kebisingan lingkungan kerja

    Perbedaan Ketajaman Pendengaran Tenaga Kerja di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac Inti Corpora Bawen Tahun 2006

    No full text
    Siti Rochmah. 2006. Perbedaan Ketajaman Pendengaran Tenaga Kerja di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac Inti Corpora Bawen Tahun 2006. Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing : I. Drs. Bambang B. R. M.Si, II. dr. Mahalul Azam. Kata Kunci : Ketajaman Pendengaran, Unit Weaving III (Loom III), Weaving Denim (Loom V). Telinga manusia terus menerus bekerja sebagai pintu masuk komunikasi dan informasi melalui proses transformasi yang rumit dan kompleks untuk menginterpretasikan getaran suara dan bunyi lingkungan. Bunyi lingkungan yang makin bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran maupun kesehatan pada umumnya. Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki sehingga dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, komunikasi, kenikmatan kerja dan ketulian menetap. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja di unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac inti corpora bawen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V) PT. Apac Inti Corpora Bawen. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan metode survai dan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja operator mesin Loom shift B di Unit Weaving III (Loom III) berjumlah 43 orang dan di Unit Weaving Denim (Loom V) berjumlah 32 orang. Sampel yang diambil sebanyak 30 orang di Unit Weaving III (Loom III) dan 24 orang di Unit Weaving Denim (Loom V), sehingga total sampel sebanyak 54 orang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel restriksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Sound level meter, 2) Audiometer, 3) Kuesioner penyaringan sampel, 4) Kuesioner keluhan subjektif. Data penelitian ini diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, serta pengukuran intensitas kebisingan dan ketajaman pendengaran. Data sekunder diperoleh melalui dokumen yang ada di perusahaan yang berupa data tentang proses produksi dan ketenagakerjaan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan statistik uji t-tes Independent. Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji t-test independent dengan taraf kepercayaan 95% untuk telinga kanan, diperoleh nilai signifikansi p = 0,040 yang berarti p < 0,05, menunjukkan adanya perbedaan rata-rata ketajaman pendengaran telinga kanan di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V). Sedangkan untuk telinga kiri, diperoleh nilai signifikansi p = 0,033 yang berarti p < 0,05, menunjukkan adanya perbedaan rata-rata ketajaman pendengaran telinga kiri di Unit Weaving III (Loom III) dan Weaving Denim (Loom V). Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan bagi perusahaan adalah, sebaiknya dilakukan penggantian earplug yang lebih baik dari earplug yang telah dipakai dengan daya pelemahan yang lebih bagus, bagi karyawan di Unit Weaving III dan Weaving V khususnya operator mesin Loom hendaknya selalu disiplin dalam menggunakan alat pelindung telinga yang telah disediakan pihak perusahaan, bagi peneliti selanjutnya diharapkan dilakukan penelitian tentang perbedaan ketajaman pendengaran tenaga kerja yang memakai earplug dengan yang tidak memakai earplug dan sebelum pemeriksaan dilakukan, sebaiknya sampel terbebas dari paparan bising selama 16 jam agar gangguan yan

    Bahasa sejarah Melayu: satu perbincangan mengenai bahasa dan ketokohan bahasa pengarangnya

    No full text
    The language of Sejarah Melayu is one of high literature, i.e. a beautiful language written by weaving existing linguistic elements in a harmonious flow of rhythm which at the same time gives rise to a picture that is most vivid to the perception of the reader. This characteristic rests with the mastery of the author in utilizing his creativity in presenting his story so that it comes out in an integrated whole, and incorporated into it his own ideas about things. From the language and the discourse of Sejarah Melayu, one can conclude that its author belonged to the palace community, and could understand religious books written in Arabic. Furthermore, he was an intellectual of his age, and one who had a sense of humour.BAHASA Sejarah Melayu bahasa kesusasteraan tinggi, yakni bahasa yang indah yang dihasilkan dengan menjalinkan unsur-unsur bahasa yang ada dalam irama yang harmonis yang pada masa yang sama menimbulkan gambaran yangjelas pada persepsi pembaca. Ciri ini tentu sahaja terletak pada kewibawaan pengarang menggunakan daya ciptanya dalam menyampaikan cerita yang bersepadu yang disertai dengan ideaideanya sendiri. Dari penggunaan bahasa dan wacana Sejarah Melayu, dapat dibuat kesimpulan bahawa pengarangnya dari kalangan istana, dan dapat memahami kitabkitab Arab. Di samping itu dia seorang intelektual dalam zamannya, dan juga seorang yang mempunyai sense of humour

    ANALISIS KEBISINGAN RUANG WEAVING UNIT WEAVING B DI PT. DELTA MERLIN DUNIA TEXTILE IV

    Full text link
    Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB) dan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dapat menimbulkan penyakit (Sanders dan McCormick, 1987; Pulat, 1992 dan WHS, 1993 dalam Tarwaka dkk., 2004). Pada ruang weaving unit weaving B berpotensi memiliki dampak risiko kebisingan. Hal ini disebabkan oleh suara yang dihasilkan oleh 320 unit mesin tenun yang terdapat pada ruang weaving tersebut. Kebisingan yang ditimbulkan dirasa sangat mengganggu aktivitas pekerja, sehingga dilakukanlah penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui intensitas kebisingan pada ruang weaving unit weaving B dengan metode sederhana, dengan menggunakan alat berupa Sound Level Meter (SLM) yang dilakukan selama 10 menit dan waktu pembacaan setiap 5 detik. Hasil dari penelitian ini adalah intensitas kebisingan pada ruang weaving melebihi NAB kebisingan, yaitu 85 dB(A), sehingga unit tersebut dikategorikan sebagai daerah dengan tingkat kebisingan yang tidak aman bagi pendengaran pekerja.Kata kunci: Kebisingan, Intensitas Kebisingan, Metode Sederhan

    The Maximal Intensity Period: Rationalising its Use in Team Sports Practice

    Full text link
    Quantifying the highest intensity of competition (the maximal intensity period [MIP]) for varying durations in team sports has been used to identify training targets to inform the preparation of players. However, its usefulness has recently been questioned since it may still underestimate the training intensity required to produce specific physiological adaptations. Within this conceptual review, we aimed to: (i) describe the methods used to determine the MIP; (ii) compare the data obtained using MIP or whole-match analysis, considering the influence of different contextual factors; (iii) rationalise the use of the MIP in team sports practice and (iv) provide limitations and future directions in the area. Different methods are used to determine the MIP, with MIP values far greater than those derived from averaging across the whole match, although they could be affected by contextual factors that should be considered in practice. Additionally, while the MIP might be utilised during sport-specific drills, it is inappropriate to inform the intensity of interval-based, repeated sprint and linear speed training modes. Lastly, MIP does not consider any variable of internal load, a major limitation when informing training practice. In conclusion, practitioners should be aware of the potential use or misuse of the MIP

    Analisa Pengaruh Besar Arus Pada Pengelasann TIG Metode Striking Dan Weaving Terhadap Kekerasan Dan Struktur Mikro Stainless Steel 304

    No full text
    ABSTRAK  Utomo, Kuncoro Wahyu 2009. Analisa Pengaruh Besar Arus Pada Pengelasann TIG Metode Striking Dan Weaving Terhadap  Kekerasan Dan Struktur Mikro Stainless Steel 304.Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin FT UM. Pembimbing: (I) Drs. Sunomo, M.Pd.; (II) Drs. Solichin, ST, M.Kes. Kata kunci: Besar arus, Kekerasan, Las, Struktur Mikro Gas tungsten arc welding atau tungsten inert gas welding adalah jenis las listrik yang menggunakan bahan tungsten sebagai elektroda tidak terkonsumsi.Bahan penambah berupa batang las (rod), yang dicairkan oleh busur nyala untuk mengisi kampuh bahan induk dan untuk mencegah oksidasi digunakan gas mulia Argon UHP Perubahan suhu pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) secara drastis akibat masukan panas, geometri sambungan, posisi pengelasan, macam elektroda dan diameter inti elektroda, proses pembentukan spesimen juga berpengaruh terhadap perubahan nilai kekerasan logam, meskipun selama pembentukan dilakukan dengan cara pengerjaan dingin, dimana arus pengelasan menentukan penetrasi las dapat mempengaruhi nilai kekerasan, sehingga dengan variasi besar arus 80 Ampere, 120 Ampere, 160 Ampere dan metode pengelasan striking dan weaving di gunakan sebagai variabel untuk mengetahui perbedaan nilai kekerasan dan struktur mikronya.Dalam penelitian ini hasil yang diperoleh bahwa pengelasan metode striking dan metode weaving tidak mengalami perbedaan nilai kekerasan yang signifikan.dan didapat bahwa variasi besar arus 80 Ampere yang digunakan memberikan nilai kekerasan metode striking pada jarak 2mm sebesar35,08 HRC dan luas daerah HAZ 3,138 mm, sedangkan metode weaving 33,25 HRC dan luas daerah HAZ 3,691 mm, Nilai kekerasan metode striking dengan arus 120 Ampere pada jarak 2mm sebesar29,92 HRC dan luas daerah HAZ 3,352 mm, sedangkan metode weaving 22,50 HRC dan luas daerah HAZ 3,485 mm, Nilai kekerasan metode striking dengan arus 160 Ampere pada jarak 2mm sebesar 23,67 HRC dan luas daerah HAZ 5,083 mm, sedangkan metode weaving 24,75 HRC dan luas daerah HAZ 5,266 mm.Semakin besar arus yang digunakan semakin kecil butiran-butiran atom pada struktur mikronya semakin jauh jaraknya dan menyerupai bentuk  ferit-perlit. Sedangkan Pada proses pengelasan metode striking dan weaving pada jarak 2mm dari pusat pengelasan memiliki nilai kekerasan lebih kecil dibandingkan dengan jarak uji 10mm, karena jarak 2mm tersebut bukan terletak pada daerah HAZ akan tetapi di daerah logam las. Ini terbukti pada luas daerah HAZ metode weaving lebih luas dibanding metode striking, serta semakin besar arus mempengaruhi luas daerah HAZ juga. Pada dasarnya metode weaving mempengaruhi luas daerah HAZ dibanding metode striking dengan variasi arus 80A, 120A, 160A tetapi tidak ada perbedaan nilai kekerasan

    Faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja bagian weaving Pt.Unitex Tbk tahun 2011

    No full text
    Stres kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana satu atau beberapa faktor ditempat kerja berinteraksi dengan pekerja sedemikian rupa sehingga menggangu keseimbangan fisiologik dan psikologik. Stres kerja juga merupakan tahap awal terjadinya penyakit individu yang rentan. Sebagai akibat, stres dapat menimbulkan gangguan psikosomatik, neurotik, dan psikosis yang dapat dilihat dengan meningkatnya angka abseinteisme, angka terlambat kerja yang tinggi, pergantian karyawan dan kecelakaaan kerja yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kualitas dan performa kerja.berdasarkan tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi dibagian weaving, untuk itu perlu adanya mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya stres pada pekerja agar lebih mudah diatasi dan diminimalisasi. Penelitian ini bersifat studi analitik dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja bagin weaving PT Unitex Tbk. Pengambilan data ini dilakukan melalui data primer yaitu dengan menyebarkan kuesioner. Kuesioner ini sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sampel pada penelitian ini adalah 150 pekerja bagian weaving yang sebelumnya telah dihitung melalui rumus pengambilan sampel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua variabel yang memiliki hubungan terhadap stres kerja pada pekerja bagian weaving PT Unitex Tbk, yaitu variabel beban kerja (P Value=0,008) dan rutinitas (P Value=0,003). Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan terus memberikan pemerkayaan pekerjaan, membentuk lingkungan sosial sehat, melakukan pergantian wilayah kerja serta melakukan pekerjaan dengan perasaan senang. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan agar dapat meneliti faktor-faktor lain yang juga menunjang terjadinya stres kerja pada pekerja

    Keefektifan Komunikasi Organisasi dan Implikasinya terhadap Kinerja Karyawan di Bagian Weaving PT. Unitex Tbk, Bogor

    Full text link
    Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) masih memegang peranan yang cukup besar dalam perekonomian di Indonesia. Industri tersebut terdiri dari industri pemintalan, pertenunan, dan pencelupan serta industri garmen dan tekstil lainnya dengan konstribusi masing-masing sebanyak 2,4 juta ton; 1,8 juta ton; 754 ribu ton, dan 101 ribu ton. Sebagian besar industri TPT terletak di Jawa Barat, salah satunya di Bogor karena adanya pembukaan industri di kawasan tersebut. Salah satu perusahaan TPT di kawasan Bogor adalah PT. Unitex Tbk. Perusahaan ini merupakan perusahaan hasil kerjasama antara Indonesia dan Jepang yang bergerak di bidang tekstil terpadu, meliputi pemintalan, pertenunan, dan pencelupan. PT. Unitex Tbk merupakan suatu bentuk organisasi bisnis yang proses komunikasinya meliputi tiga sub unit pengolahan informasi, yaitu input, throught, dan output. Penelitian ini difokuskan pada sub unit throught dan bagian weaving. Salah satu aspek penting dalam sub unit tersebut adalah komunikasi organisasi. Proses komunikasi tersebut dapat mempengaruhi hasil kerja pegawai. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, antara lain: (1). Bagaimana keefektifan komunikasi organisasi di Bagian Weaving PT. Unitex Tbk dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?, (2). Bagaimana kinerja pegawai di Bagian Weaving PT. Unitex Tbk?, (3). Bagaimana hubungan antara keefektifan komunikasi organisasi dengan kinerja karyawan? Adapun tujuan penelitian ini, antara lain : (1). Menganalisis keefektifan komunikasi organisasi di Bagian Weaving PT. Unitex Tbk, (2). Menganalisis kinerja pegawai di Bagian Weaving PT. Unitex Tbk, (3). Menganalisis hubungan antara keefektifan komunikasi organisasi dengan kinerja karyawan
    corecore