31665 research outputs found
Sort by
Optimization of Vetiver Grass for Erosion Control Based on Soil Erodibility and CO2 Absorption Potential
Tanah longsor merupakan ancaman serius di wilayah perbukitan seperti Desa
Petir, Kabupaten Bogor. Berbagai metode pengendalian erosi telah digunakan.
Penggunaan beton berisiko tinggi terhadap lingkungan karena emisi karbon yang
dihasilkan. Metode seperti hydroseeding memang ramah lingkungan dan mampu
menyerap CO2, namun belum optimal dalam memperkuat lereng. Penggunaan
tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) mampu meningkatkan perkuatan lereng
sekaligus menyerap CO2 dari atmosfer. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas akar
wangi sebagai alternatif ramah lingkungan dalam pengendalian erosi berdasarkan
nilai erodibilitas tanah dan kemampuan penyerapan CO2. Hasil menunjukkan tanah
di lokasi penelitian memiliki tingkat erodibilitas tinggi (K = 0,50–0,51). Hasil
pengujian menunjukkan laju pertumbuhan akar meningkat sebesar 30-40 cm pada
60 HST dan 90 HST yang berfungsi mengikat tanah. Akar wangi terbukti mampu
menyerap CO2 hingga 1,53 g/tanaman/hari dalam intensitas cahaya tinggi dan
menyimpan karbon dalam biomassa. Akar wangi berpotensi menyerap hingga
2,844 ton CO2/ha/hari. Akar wangi dapat digunakan dalam pengendalian erosi
sekaligus berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.Landslides pose a serious threat in hilly regions such as Petir Village, Bogor
Regency. Various erosion control methods have been applied, yet many remain
suboptimal. Concrete-based structures, while effective, pose significant
environmental risks due to high carbon emissions. Environmentally friendly
alternatives such as hydroseeding can absorb CO2 but have limited effectiveness in
slope stabilization. This study evaluates the use of Vetiveria zizanioides (vetiver
grass) as an eco-friendly alternative for erosion control, based on soil erodibility
and carbon sequestration capacity. The results show that the study site has high soil
erodibility levels (K = 0,50–0,51). Root growth increased significantly, reaching
30–40 cm between 60 and 90 days after planting (DAP), contributing to soil
reinforcement. Vetiver was found to absorb up to 1,53 g CO2/plant/day under high
light intensity and store carbon within its biomass. Vetiver can potentially sequester
up to 2,844 tons CO2/ha/day. Vetiver grass not only serves as an effective erosion
control measure but also contributes to climate change mitigation through carbon
capture
Hematological Profile of Beef Cattle with Different Breeds
Informasi mengenai pengaruh faktor genetik terhadap profil hematologi darah sapi pedaging masih terbatas, khususnya sapi wagyu-bali yang sedang dikembangkan di Indonesia. Profil hematologi darah sangat penting sebagai indikator status kesehatan ternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil hematologi darah sapi pedaging dari tiga rumpun berbeda, yaitu sapi bali, wagyu, dan wagyu-bali. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari 18 ekor sapi yang diperoleh dari dua lembaga pembibitan. Data dianalisis ragam untuk data yang terdistribusi normal dan dianalisis Kruskal-Wallis untuk yang tidak terdistribusi normal. Peubah yang dianalisis mencakup leukosit, diferensial leukosit, eritrosit, indeks eritrosit, platelet, dan indeks platelet. Hasil menunjukkan rumpun sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap beberapa peubah hematologi, yaitu MON, %MON, NEU, RBC, MCV, MCH, dan MPV. Sapi wagyu memiliki MON dan %MON tertinggi, sedangkan sapi wagyu-bali memiliki RBC tertinggi. Sapi bali menunjukkan nilai MCV dan MCH tertinggi. Simpulan dari hasil penelitian bahwa profil hematologi antara sapi bali, wagyu, dan wagyu-bali berbeda dan dapat menjadi referensi dalam evaluasi kesehatan dan pemuliaan sapi pedaging.Information on the influence of genetic factors on the hematological profile of beef cattle remains limited, particularly for wagyu-bali crossbreeds currently being developed in Indonesia. Blood hematology profiles are crucial indicators of livestock health status. This study aimed to analyze the blood hematological profiles of beef cattle from three different breeds: bali, wagyu, and wagyu-bali. The study used secondary data from 18 cattle obtained from two breeding institutions. Data were analyzed using ANOVA for normally distributed variables and the Kruskal-Wallis test for non-normally distributed variables. The variables analyzed included leukocytes, leukocyte differentials, erythrocytes, erythrocyte indices, platelets, and platelet indices. The results showed that cattle breed had a significant effect (P<0,05) on several hematological variables, namely MON, %MON, NEU, RBC, MCV, MCH, and MPV. Wagyu cattle had the highest MON and %MON, while Wagyu-Bali cattle had the highest RBC. Bali cattle showed the highest MCV and MCH values. The results of this study indicate that the hematological profiles of bali, wagyu, and wagyu-bali cattle are different and can be used as a reference for health evaluation and beef cattle breeding programs
Development Smart Meter Gas and LSTM Analysis of Signal Strength RSSI Based on Narrowband IoT
Pencatatan gas manual sering kali menyebabkan kesalahan dan inefisiensi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Sistem Smart meter gas berbasis Narrowband IoT (NB-IoT) untuk pemantauan konsumsi gas otomatis dan real-time. Penelitian ini juga menganalisis kekuatan sinyal RSSI dengan algoritma Long Short-Term Memory (LSTM). Metode meliputi perancangan perangkat keras menggunakan modul NB-IoT SIM7000C, sensor Hall effect, dan mikrokontroler Arduino Pro Mini, serta perangkat lunak berbasis Laravel untuk antarmuka website dan analisis LSTM. Pengujian dilakukan pada berbagai jarak dan kondisi lingkungan untuk mengevaluasi transmisi data dan stabilitas sinyal. Hasilnya, sistem mengirimkan data RSSI real-time (-83,67 hingga -56 dBm) sesuai standar NB-IoT. Antarmuka website menampilkan kekuatan sinyal, waktu pengiriman, dan statistik RSSI. Prediksi RSSI dengan LSTM mencapai akurasi 88,07% (MAE 3,30 dBm), mendukung stabilitas di wilayah dengan jaringan terbatas. Sistem ini stabil dan berpotensi untuk aplikasi perkotaan dan pedesaan.Manual gas recording often leads to errors and inefficiencies. This research aims to develop a Smart meter gas system based on Narrowband Internet of Things (NB-IoT) for automated and real-time gas consumption monitoring. This research also analyzing Received Signal Strength Indicator (RSSI) using the Long Short Term Memory (LSTM) algorithm. The methodology includes designing hardware with the SIM7000C NB-IoT module, Hall-effect sensor, and Arduino Pro Mini microcontroller, alongside developing Laravel-based software for the website interface and LSTM analysis. Testing was conducted across various distances and environmental conditions to evaluate data transmission and signal stability. The system successfully transmits RSSI data in real-time (-83.67 to -56 dBm), compliant with NB-IoT standards. The website interface displays signal strength, transmission time, and RSSI statistics. LSTM-based RSSI prediction achieves 88.07% accuracy (MAE 3.30 dBm), supporting system stability in areas with limited network coverage. The system is stable and has potential for urban and rural applications
Species Composition, Stand Structure, Biomass, and Carbon Storage of Stands in the Lower Mountain Forest of Gunung Ciremai National Park
Ekosistem hutan pegunungan bawah memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi jenis, struktur tegakan, menduga potensi biomassa, dan simpanan karbon tegakan di hutan pegunungan bawah Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode penelitian ini menggunakan analisis vegetasi dengan metode plot kombinasi jalur dan garis berpetak. Biomassa dan simpanan karbon pada tingkat tiang dan pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik. Komposisi jenis hasil analisis vegetasi terdiri dari 11 jenis pohon beserta permudaannya, dan 14 jenis tumbuhan bawah. Ageratina riparia merupakan jenis tumbuhan bawah dominan yang paling banyak ditemukan. Calliandra calothyrsus merupakan jenis dominan pada tingkat semai, pancang, dan tiang, serta Pinus merkusii merupakan jenis dominan pada tingkat pohon. Nilai kerapatan tumbuhan bawah, pohon beserta permudaannya mendekati bentuk kurva J terbalik. Stratifikasi tajuk tegakan didominasi oleh pohon-pohon stratum C (tinggi pohon 4-20 m). Nilai total dugaan biomassa dan simpanan karbon tegakan masing-masing sebesar 452,11 ton/ha dan 212,49 ton/ha.The lower montane forest ecosystem harbors high biodiversity and plays a vital ecological role. This study aimed to analyze species composition, stand structure, and estimate biomass potential and carbon stock of forest stands in the lower montane forest of Gunung Ciremai National Park. The research employed vegetation analysis using a combination of line and plot sampling methods. Biomass and carbon stock at pole and tree levels were estimated using allometric equations. Vegetation analysis identified 11 tree species (including regeneration stages) and 14 understory plant species. Ageratina riparia was the most dominant understory species. Calliandra calothyrsus was dominant at the seedling, sapling, and pole levels, while Pinus merkusii dominated the tree layer. The density distribution of understory vegetation and tree regeneration resembled a reversed J-shaped curve. Canopy stratification was dominated by trees in stratum C (tree height of 4–20 m). The total estimated biomass and carbon stock of the stand were 452.11 tons/ha and 212.49 tons/ha, respectively
Respons 24 Galur Padi Tipe Baru (Oryza Sativa L.) Pada Budidaya Monokultur Dan Multikanopi
Di Departemen Agronomi dan Hotikultura, Fakultas Petanian IPB, kegiatan
pengembangan varietas padi tipe baru (PTB) telah berlangsung sejak tahun 1997.
Kemudian sejak tahun 2018, secara paralel mulai diinisiasi seleksi galur untuk budidaya
multikanopi, yaitu pertanaman padi yang menggabungkan dua galur dengan ketinggian
berbeda pada satu hamparan. Setelah studi-studi tentang potensi metode budidaya multi
kanopi, stusi arsitektur daun bendera, serta studi parameter genetik dan seleksi pada
budidaya multikanopi, pada tahap ini dilakukan kegiatan yang bertujuan pengujian galurgalur lanjut utk menganalisis respons galur terhadap kondisi multikanopi dibandingkan
kondisi pada pertanaman monokultur. Kegiatan ini dilaksanakan musim tanam musim
Kering (MK) 2024, buan Maret – Juli 2024 di lapang di sawah Babakan, Kampus IPB
Darmaga, Bogor, dilanjutkan dengan pngamatan pascapanen dan analisis data gabungan
s.d. bulan November 2024. Penelitian dirancang menggunakan pertanaman dua kondisi
lingkungan, yaitu kondisi lingkungan monokultur dan lingkungan budidaya multikanopi,
dengan rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal berulangan untuk masingmasing kondisi monokultur dan multikanopi. Materi tanaman digunakan 24 galur yang
diuji pada kondisi monokultur, dan juga diuji sebagai tanaman tinggi pada budaya
multikanopi dipasang denga 3 genotipe pendek. Plot percobaan berukuran 1x4 m. Pada
monokultur tanaman ditanam dengan jarak 25x25 cm, sedangkan pada multikanopi
ditanam dgn jarak (20-10)x25 cm, dengan satu bibit per lubang tanam. Pengamatan
dilakukan terhadap produktivitas, dan karakter agronomi lainnya yaitu: (1) tinggi
tanaman, (2) panjang batang, (3) jumlah anakan produktif, (4) Umur berbunga, (5) Umur
panen, (6) jumlah gabah total per malai, (7) jumlah gabah isi per malai dan (8) persen
gabah hampa, (9) Bobot 1000 butir gabah bernas. Karakter-karakter tersebut diamati
terhadap semua galur, baik pada lingkiungan budidaya monokultur maupun pada
lingkungan budidaya multikanopi sebagai tanaman tinggi. Data tiap lingkungan budidaya
ditabulasi, dan respons karakter agronomi galur terhadap kedua lingkungan budidaya
kemudian di analisis. Hasil penelitian menunjukkan, galur-galur PTB yang diuji pada
kondisi lingkungann budidaya monokultur dan lingkungan budidaya multikanopi
menunjukkan respons penurunan produktivitas yang beragam. Secara rata-rata,
produktivitas galur yang dipakai sebagai tanaman tinggi pada pasangan multikanopi
berproduksi 62% jika dibanding produktivitas pada budidaya monokultur. Karakter
tinggi tanaman dan panjang batang tidak bertambah tinggi sebagai pengaruh budidaya
multikanopi, demikian pula umur panen dan bobot 1000 biji. Terjadi penurunann nyata
pada jumlah anakan dan jumlah gabah isi per malai galur ketika dipasang sebagai tanaman
tinggi pada multikanopi dibanding monokultur. Beberapa galur yang potensial terpilih
dan dapat dilanjutkan dalam kegiatan program pemuliaan selanjutnya adalah galur
IPB200-F-46, IPB200-F-48, IPB200-F-52, IPB200-F-54, IPB200-F-58, dan IPB202-F-4
Analysis of Sectoral Investment Impact on the Employees Absoprtion in Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh investasi sektoral terhadap penyerapan tenaga kerja formal di Indonesia selama periode 2010-2023, dengan fokus pada tiga komponen utama investasi: Penanaman modal asing (PMA), Penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan kredit sektoral. Menggunakan analisis regresi data panel dengan pendekatan Random Effect Model (REM), penelitian ini juga mengeksplorasi kemungkinan adanya hubungan nonlinier melalui penambahan variabel kuadratik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMDN dan PMA berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja, namun PMDN memiliki turning point di mana dampaknya menurun setelah tingkat tertentu. Kredit sektoral juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan tenaga kerja. Temuan ini menyoroti pentingnya optimalisasi arah investasi ke sektor padat karya untuk memaksimalkan penciptaan lapangan kerja.This study aims to analyze the effect of sectoral investment on formal labor absorption in Indonesia during the 2010-2023 period, focusing on three main investment components: Foreign direct investment (FDI), Domestic direct investment (DDI), and sectoral credit financing. Using panel data regression analysis with the Random Effect Model (REM) approach, the study also explores the possibility of a non-linear relationship through the inclusion of quadratic variables. The results indicate that both DDI and FDI have a positive impact on labor absorption, although DDI exhibits a turning point where its effect diminishes beyond a certain level. Sectoral credit also shows a significant positive influence on employment. These findings highlight the importance of directing investment towards labor-intensive sectors to optimize job creation
Morphological and Genetic Variation of Regenerated Cassava Clones (Manihot esculenta Crantz.) based on SSR Markers
Ubi kayu merupakan komoditas strategis dengan kemampuan adaptif di lahan marginal, tahan kekeringan, dan berpotensi sebagai sumber pangan dan industri. Berdasarkan data FAO mencatat penurunan produktivitas sebesar 4,47?% dan penyusutan luas panen sebesar 3,28?% pada tahun 2023. Penurunan ini mengindikasikan masalah dalam keberlanjutan produktivitas, baik dari segi efisiensi lahan maupun aspek budidaya lain. Kondisi ini menjadi semakin serius di tengah keterbatasan lahan akibat alih fungsi. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan produktivitas melalui inovasi bahan tanam dan perbaikan teknik perbanyakan. Salah satu pendekatannya dengan menghadirkan varietas unggul sesuai dengan kebutuhan konsumsi dan preferensi petani. Budidaya ubi kayu umumnya dilakukan melalui teknik stek karena efisien dan mudah diterapkan. Selain itu, metode grafting juga dimanfaatkan untuk meningkatkan pembungaan, hasil umbi, serta membuka peluang bagi pengembangan spesies baru. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji variasi karakter pertumbuhan, daya hasil, dan kandungan biokimia pada klon regeneran ubi kayu dan genotipe asalnya, 2) menganalisis variasi genetik pada klon regeneran ubi kayu menggunakan penanda SSR dengan genotipe asal sebagai pembanding.
Bahan tanam yang digunakan terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama mencakup genotipe pembanding, yaitu Adira-1, Manggu, dan Menti. Kelompok kedua terdiri dari genotipe asal klon regeneran, yakni Carvita 25, Revita RV1, dan M. glaziovii. Kelompok ketiga mencakup 18 klon regeneran grafting generasi kedua dengan satu mata tunas. Percobaan lapangan menggunakan stek mini berukuran ±5 cm. Uji proksimat dilakukan pada sepuluh genotipe terpilih yang mewakili genotipe klon regeneran dan genotipe asalnya. Sementara itu, pengujian beta-karoten dilakukan pada umbi dari sepuluh genotipe terpilih berdasarkan warna umbi cenderung kekuningan hingga kuning. Identifikasi variasi genetik dilakukan menggunakan 32 primer SSR dilanjutkan dengan analisis pola pita DNA menggunakan metode PAGE 6% dan pewarnaan perak nitrat (AgNO3).
Klon regeneran ubi kayu hasil grafting generasi kedua menunjukkan variasi karakter yang signifikan. Kombinasi scion M. glaziovii dan rootstock Carvita 25 (R1-KC1) terbukti berkontribusi terhadap peningkatan tinggi tanaman, jumlah cabang, serta menghasilkan kadar beta-karoten tertinggi sebesar 14,19?µg/g. Beberapa klon, seperti R1-KR2 (11,0 umbi; 8,0?kg per tanaman), R1-KC5 (7,5 umbi; 5,1?kg per tanaman), dan R1-CR5 (10,8 umbi; 4,5?kg per tanaman), menunjukkan produktivitas yang unggul dibandingkan genotipe lainnya. Karakter kualitatif umbi cenderung seragam, namun tetap mencerminkan pengaruh kombinasi genotipe asal terhadap variasi warna, tekstur, dan bentuk umbi. Kandungan proksimat pada sepuluh genotipe secara umum berada dalam kisaran normal ubi kayu. Analisis SSR menunjukkan bahwa 22 klon stabil secara genetik, sementara R1-KC5 dan R1-KR4 mengalami variasi alel pada primer SSRY132.Cassava (Manihot esculenta Crantz) is a strategic crop with notable adaptability to marginal lands, tolerance to drought, and considerable potential as a source of food and industrial raw materials. FAO data shows a 4.47% decrease in productivity and a 3.28% reduction in harvested area were recorded in 2023. This decline indicates ongoing challenges in maintaining productivity, particularly regarding land-use efficiency and suboptimal cultivation practices. The situation has been further exacerbated by land conversion, which reduces the availability of arable land. Therefore, efforts to enhance cassava productivity are necessary, particularly through innovations in planting materials and propagation techniques. One such approach involves the development of superior varieties that meet consumer demands and farmer preferences. Cassava is commonly propagated vegetatively through stem cuttings due to its efficiency and ease of application. In addition, grafting has been employed to enhance flowering, increase tuber yield, and support the development of new species.
This study aimed to: (1) evaluate the variation in growth characteristics, yield performance, and biochemical content of cassava regenerant clones and their original genotypes; and (2) analyse genetic variation among cassava regenerant clones using SSR markers, with their original genotypes as references.
The planting materials used in this study were classified into three categories. The first group consisted of comparison genotypes, namely Adira-1, Manggu, and Menti. The second group included the original genotypes of the regenerant clones: Carvita 25, Revita RV1, and M. glaziovii. The third group comprised 18 second-generation graft-derived clones propagated using single-eye bud cuttings. The field trial was conducted using mini-cuttings approximately 5?cm in length. Proximate analysis was performed on ten selected genotypes representing both regenerant clones and their original genotypes. Beta-carotene content was analysed in ten genotypes selected based on tuber colour, ranging from yellowish to yellow. Genetic variation was assessed using 32 SSR primers, followed by analysis of DNA banding patterns through 6% PAGE and silver nitrate (AgNO3) staining.
The regenerant clones of cassava exhibited significant variation in morphological characteristics. The combination of M. glaziovii as the scion and Carvita 25 as the rootstock (R1-KC1) contributed to increased plant height, a higher number of branches, and the highest beta-carotene content, recorded at 14.19?µg/g. Several clones demonstrated superior yield performance, including R1-KR2 (11,0 tubers; 8,0?kg per plant), R1-KC5 (7,5 tubers; 5,1?kg per plant), and R1-CR5 (10,8 tubers; 4,5?kg per plant). Qualitative tuber traits were relatively uniform, although they still reflected the influence of the original genotype combinations on tuber colour, texture, and shape. The proximate content of the ten genotypes was generally within the normal range for cassava. SSR analysis showed that 22 clones were genetically stable, while R1-KC5 and R1-KR4 exhibited allele variation at the SSRY132 primer
Efektivitas Seed Coating Fungi Mikoriza Arbuskula terhadao Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Sengon pada Cekaman Kekeringan
Pemanasan global menyebabkan terjadinya bencana kekeringan yang menjadi faktor pembatas pertumbuhan pohon. Efek cekaman kekeringan mampu ditekan dengan memanfaatkan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) yang dapat diaplikasikan melalui seed coating. Penelitian bertujuan mengetahui respons perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit sengon pada cekaman kekeringan, efektivitas inokulasi FMA pada bibit sengon, serta efektivitas seed coating terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit sengon pada cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap dua faktor yaitu cekaman kekeringan dan FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan menurunkan daya kecambah, pertumbuhan tinggi, berat kering, dan kadar air bibit sengon. Aplikasi seed coating FMA tidak memiliki pengaruh nyata dalam perkecambahan benih karena kolonisasi FMA dapat terjadi pada akar yang telah berkembang. Inokulasi FMA melalui seed coating menunjukkan tingkat pertumbuhan dan kolonisasi akar yang lebih tinggi daripada inokulasi pada media tanam yang mengindikasikan bahwa seed coating memiliki efektivitas yang lebih tinggi dalam mekanisme toleransi bibit sengon terhadap cekaman kekeringan.Global warming increases the evaporation rate, causing drought, which is a limiting factor for tree growth. Drought stress effect can be suppressed by utilizing Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) which can be applied through seed coating. The research aims to determine the response of sengon germination and growth to drought stress, the effectiveness of AMF inoculation on sengon seedling, and the effectiveness of seed coating on sengon germination and seedling growth under drought stress. Research was conducted in a completely randomized design with two factors: drought stress and AMF inoculation. Results showed that drought stress reduced germination, growth, dry weight, and moisture content of sengon seedlings. Seed coating had no significant effect on germination because AMF colonization occur on developed roots. AMF inoculation through seed coating showed a higher growth rate and root colonization than growing media inoculation, indicating that seed coating has a higher effectiveness in the tolerance mechanism of sengon seedlings to drought stress
Evaluation of Nutrient Digestibility of Prill Fat Supplemented Wafer Feed in Male Garut Sheep
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemberian pakan wafer suplemen yang mengandung prill fat dengan level pemberian yang berbeda terhadap kecernaan nutrien dan konsumsi nutrien pada domba Garut jantan. Penelitian ini menggunakan domba Garut jantan sebanyak 16 ekor dengan rata-rata bobot badan 33,50±10,97 kg di peternakan Sejahtera Tani Farm, Cinangka. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yang terdiri dari P0: Rumput Lapang + konsentrat (pakan kontrol), P1: Pakan kontrol + Wafer suplemen 200 g, P2: Pakan kontrol + Wafer suplemen 300 g, P3: Pakan kontrol + Wafer suplemen 400 g. Peubah yang diamati konsumsi dan kecernaan nutrien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian wafer suplemen yang mengandung prill fat dengan taraf 400 g (P3) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap peningkatan konsumsi nutrien BK 905,96 g ekor-1 hari-1, BO 838,77 g ekor-1 hari-1, PK 119,96 g ekor-1 hari-1, LK 51,14 g ekor-1 hari-1, SK 243,37 g ekor-1 hari-1, BETN 420,55 g ekor-1 hari-1. Pemberian wafer suplemen mengandung prill fat lebih baik dibandingkan dengan pakan kontrol terhadap kecernaan nutrien.This study aims to evaluate the feeding of wafer supplements containing prill fat with different feeding levels on nutrient digestibility and nutrient consumption in Garut male sheep. This study used 16 male Garut sheep with an average body weight of 33.50±10.97 kg at Sejahtera Tani Farm Cinangka. This study used Randomized Group Design with 4 treatments and 4 replicates consisting of P0: Field Grass + concentrate (control feed), P1: Control feed + Wafer supplement 200 g, P2: Control feed + Wafer supplement 300 g, P3: Control feed + Wafer supplement 400 g. The observed variables were consumption and nutrient digestibility. The results showed that the provision of wafer supplements containing prill fat at the level of 400g (P3) had a significant effect (P < 0.05) on increasing nutrient consumption BK 905.96 g head-1 day-1, BO 838.77 g head-1 day-1, PK 119.96 g head-1 day-1, LK 51.14 g head-1 day-1, SK 243.37 g head-1 day-1, BETN 420.55 g head-1 day-1. Supplementary wafer feeding containing prill fat is better than the control feed on nutrient digestibility