9,151 research outputs found
Pelajaran tauhid untuk tingkat lanjutan
Judul asli: Muqarrarut tauhid kitab ta'limi lil mubtadi'in115 hlm. ;21 cm
Dakwah Tauhid Muhammad Nafis al-Banjari (1150 H/1735 M)
AbstractIn Islam, Tawheed is the primary foundation in getting closer to Allah and thus, every Muslim must have good understanding of it. If the act of worshipping God is not based on right Tawheed, that act will have no value to Allah. According to Sufi masters, the quality of Muslims depends on how well his comprehension of Tawheed is, without which Muslims will never be able to become closer to Allah. Muhammad Nafis al Banjari (born 1150H / 1735) preached his knowledge by teaching the concept of Tawheed in Sufism. This Muslim scholar from South Kalimantan preached by employing bi al-kitÉb, through his work known by al-Durr al-Nafis (1200 H). This qualitative study utilizing the method of library research aimed at finding out and analyzing the thoughts of Muhammad Nafis regarding the concept of Tawheed written in his work. Muhammad Nafis taught Tawheed in Sufism, more specifically to believe and know Allah well by using the eyes of the heart (qalb). By understanding the concept of Tawheed in Sufism, one can reach the level of ma'rifatullÉh, especially to truly know God. Muhammad Nafis’ concept of Tawheed was aimed to straighten people's understanding in Nusantara, more importanly in South Kalimantan, which once was wrong in having thorough understanding of Tawheed. The concept of Tawheed taught in Sufism comprises tauÍid al-afÉ'l, tauÍid al-asma 'tauÍÊd al-SifÉt and tauÍÊd al-DzÉt. The highest knowledge of Tawheed will be achieved if someone has reached ‘fanÉ fÊ Tauhid’, while the highest Tawheed itself is fanÉ fi Allah and baqÉ bi Allah, the sÉlik is called ArÊf bi AllÉh. Muhammad Nafis’ view of the essence of tawheed is similar to the thoughts of prominent Sunni scholars such as al-Junaid, al-Qusyairiy, and al-Ghazali. Within the perspective of right Tawheed, people will achieve the level of ma'rifatullÉh after having arrived at such maqÉmKeywords: tawheed, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka '. AbstrakDalam Islam ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam ber-taqarrub kepada Allah, oleh karena setiap muslim harus memahami ilmu tauhid secara benar. Ibadah tanpa dilandasi tauhid yang benar, tidak ada nilainya dihadapan Allah SWT. Menurut ahli tasawuf kualitas seseorang tergantung pemahaman dalam ber-tauhid, tanpa demikian seseorang tidak akan dapat taqarrub kepada Allah secara hakiki. Muhammad Nafis al Banjari (lahir 1150H/1735) mendakwahkan ilmunya dengan mengajarkan konsep tauhid dalam tasawuf. Seorang ulama Kalimantan Selatan ini berdakwah dengan cara bi al-kitÉb, melalui karyanya al-Durr al-Nafis (1200 H). Kajian yang bersifat kualitatif dengan metode library research ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pemikiran Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid yang ditulis dalam karyanya itu. Muhammad Nafis mengajarkan ilmu tauhid dalam tasawuf, yaitu meyakini dan mengenal Allah secara hakiki dengan menggunakan matahati (qalb). Dengan memahami konsep tauhid dalam tasawuf, seseorang akan dapat mencapai tingkatan ma’rifatullÉh yaitu mengenal Allah secara hakiki. Dakwah Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid itu bertujuan meluruskan pemahaman masyarakat di Nusantara khususnya di Kalimantan Selatan yang salah dalam memahami tauhid secara hakiki. Konsep tauhid dalam tasawuf yang diajarkan itu meliputi, tauÍid al-afÉ’l, tauÍid al-asma’ tauÍÊd al-SifÉt dan tauÍÊd al-DzÉt. Ilmu Tauhid tertinggi akan dicapai apabila seseorang telah mencapai ‘fanÉ fÊ Tauhid’ sedangkan punca tauhid tertinggi adalah fanÉ fi Allah dan baqÉ bi Allah, si sÉlik dinamakan ArÊf bi AllÉh. Pandangan Muhammad Nafis mengenai tauhid yang hakiki ini ada kesamaan dengan pemikiran para ulama-ulama Sunni yang masyhur seperti al-Junaid, al Qusyairiy dan al-Ghazali. Apabila telah sampai kepada maqÉm itu ia mendapatkan ma’rifatullÉh, inilah pandangan tauhid yang hakiki. Kata kunci: Tauhid, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka’.</p
Strategi dakwah KH. Muhammad Tauhid dalam meningkatkan religiusitas santri di Pondok Pesantren Al Madani Semarang
Skripsi yang berjudul “Strategi Dakwah KH Muhammad Tauhid Dalam Meningkatkan Religiusitas Santri Di Pondok Pesantren Al-Madani Semarang disusun oleh Winda Setiawan (1601036122) dengan tujuan untuk mengetahui strategi dakwah yang dilakukan KH Muhammad Tauhid dalam meningkatkan religiusitas santri di Pondok Pwsantren Al Madani.
Guna memahami Strategi Dakwah K.H Muhammad Tauhid Dalam Meningkatkan Religiusitas Santri Di PonpesAl-Madani Semarang, maka peneli menakai metode penelitian kualitatif deskriptif. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan: 1) Teknik wawancara, peneliti melakukan wawancara terhadap K.H Muhammad Tauhid, keluarga, Ustadz, beserta santri. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui aktivitas dakwah dan stratetegi dakwah yang dilakukan K.H Muhammad Tauhid Dalam Meningkatkan Religiusitas Santri Di Ponpes Al-Madani. 2). Teknik observasi, dalam hal ini penulis mencatat dan mengamati langsung kegiatan dakwah K.H Muhammad Tauhid Dalam Meningkatkan Religiusitas Santri. 3) Dokumentasi, dalam mendapatkan data, penulis juga mengumpulkan dokumen-dokumen tentang kegiatan dakwah K.H Muhammad Tauhid Dalam Meningkatkan Religiusitas Santri di Ponpes Al-Madani Semarang.
Strategi dakwah yang dilakukan K.H Muhammad Tauhid di Pondok Pesantren Al-Madani dengan cara memberikan kajian kitab-kitab keagamaan dan akhlak. Kemudian membimbing ruhaniyyah santri agar senantiasa menjalankan syariat islam sebagaimana mestinya. Adapun kegiatan tersebut meliputi Mujahadahan, istighosahan, tirakat, riyadhah puasa senin kamis maupun dawud. Faktor pendukung strategi dakwah K.HMuhammad Tauhid dalam meningkatkan religiusitas santri kualitas keilmuan dan kemampuan K.H Muhammad Tauhid dalam mengasuh, dukungan istri dan keluarga, kepemimpinan KH Muhammad Tauhid diberbagai organisasi baik keagamaan maupun kenegaraan sehingga dapat dikenal banyak kalangan untuk memasukkan anak-anak di Pondok pesantren Al-Madani. Faktor penghabat strategi K.H Muhammad Tauhid keterbatasan pengajar, perkembangan teknologi yang megandung unsur negative yang dapat memnghambat religiusitas santri saat berlibur, pergaulan santri saat dirumah sehingga kurang pengawasan dari pengasuh maupun pengurus Pondok Pesantren Al-Madani
KONSEPSI TAUHID MENURUT MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB DAN IMPLIKASINYA BAGI TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tauhid adalah ilmu yang pertama kali harus dipelajari oleh seorang Muslim. Karena itu,tauhid termasuk ajaran dasar Islam. Ilmu tauhid berkaitan dengan hakikat Allah, NamanamaAllah dan Sifat-sifatNya, dan sarana bagi seorang hamba untuk bertemudenganNya.Secara umum penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh gambaran konsepsitauhid menurut Muhammad bin Abdul Wahab. Sedangkan secara khusus, penelitian inidimaksudkan untuk memperoleh gambaran konsepsi tauhid menurut Muhammad binAbdul Wahab dan implikasinya bagi tujuan pendidikan Islam yang dibatasi pada peranabdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (wakil Allah) dalam menjalankan tugasnya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis deskriptif, dengantidak melakukan kritik intern terhadap pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, dengansumber data yang diambil dari Kitab al-Tauhid, karya Muhammad bin Abdul Wahabsebagai sumber data primer. Selain itu, data juga diambil dari Kitab Kasyfu Syubuhat,Kitab al-Ushul al-Tsalatsah wa Adilatuha, dan Kitab Syarh al-Aqidah al-Washitiyah,karya Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibn Taimiyah, Kitab Risalah Tauhidkarya Muhammad Abduh, dan Kitab Aqidah Islam karya Hasan al-Bana, sertakepustakaan lain yang berhubungan dengan tauhid dan pendidikan Islam.Temuan penelitian bahwa konsepsi tauhid menurut Muhammad bin Abdul Wahab, terdiridari tiga, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma wa sifatihi yangberarti bahwa Allah SWT memiliki 99 Nama Yang Baik, seperti al-Rahman dan al-Rahim.Dari penelitian ini, diketahui bahwa implikasi Konsepsi Tauhid Menurut Muhammad binAbdul Wahab bagi Tujuan Pendidikan Islam, dapat disimpulkan bahwa abdullah (hambaAllah) dalam menjalankan tugasnya bersifat pasif, sedangkan khalifatullah (wakil Allah)bersifat aktif dan dinamis
KONSEPSI TAUHID MENURUT MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB DAN IMPLIKASINYA BAGI TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tauhid adalah ilmu yang pertama kali harus dipelajari oleh seorang Muslim. Karena itu,tauhid termasuk ajaran dasar Islam. Ilmu tauhid berkaitan dengan hakikat Allah, NamanamaAllah dan Sifat-sifatNya, dan sarana bagi seorang hamba untuk bertemudenganNya.Secara umum penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh gambaran konsepsitauhid menurut Muhammad bin Abdul Wahab. Sedangkan secara khusus, penelitian inidimaksudkan untuk memperoleh gambaran konsepsi tauhid menurut Muhammad binAbdul Wahab dan implikasinya bagi tujuan pendidikan Islam yang dibatasi pada peranabdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (wakil Allah) dalam menjalankan tugasnya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis deskriptif, dengantidak melakukan kritik intern terhadap pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, dengansumber data yang diambil dari Kitab al-Tauhid, karya Muhammad bin Abdul Wahabsebagai sumber data primer. Selain itu, data juga diambil dari Kitab Kasyfu Syubuhat,Kitab al-Ushul al-Tsalatsah wa Adilatuha, dan Kitab Syarh al-Aqidah al-Washitiyah,karya Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibn Taimiyah, Kitab Risalah Tauhidkarya Muhammad Abduh, dan Kitab Aqidah Islam karya Hasan al-Bana, sertakepustakaan lain yang berhubungan dengan tauhid dan pendidikan Islam.Temuan penelitian bahwa konsepsi tauhid menurut Muhammad bin Abdul Wahab, terdiridari tiga, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma wa sifatihi yangberarti bahwa Allah SWT memiliki 99 Nama Yang Baik, seperti al-Rahman dan al-Rahim.Dari penelitian ini, diketahui bahwa implikasi Konsepsi Tauhid Menurut Muhammad binAbdul Wahab bagi Tujuan Pendidikan Islam, dapat disimpulkan bahwa abdullah (hambaAllah) dalam menjalankan tugasnya bersifat pasif, sedangkan khalifatullah (wakil Allah)bersifat aktif dan dinamis
PEMIKIRAN KALAM MUHAMMAD ABDUH DALAM BUKU RISALAH TAUHID
Setiap tokoh tentu memiliki konsep pemikiran yang berbeda-beda. Pembahasan pemikiran tersebut berimplikasi pada suatu ajaran bahwa teori yang ada akan memunculkan aliran-aliran yang berbeda pula, tidak terkecuali Muhammad Abduh. Abduh adalah pemikiran dan tokoh muslim berpengaruh abad ke-20. Dengan kejeniusannya merekonstruksi pemikiran-pemikiran Barat – Islam mengantarkan dirinya sebagai tokoh pembaharu dalam pemikiran Islam. Oleh karena itu, penelitian tentang pemikiran Abduh hingga saat ini terus dilakukan, dan penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemikiran kalam Muhammad Abduh khususnya yang diuraikan dalam karyanya dengan judul Risalah Tauhid. Dengan demikian, rumusan masalah yang disusun dalam penelitian ini yaitu; Pertama, Apa saja yang melatarbelakangi pemikiran kalam Muhammad Abduh. Kedua, Bagaimana pemikiran kalam Muhammad Abduh dalam buku Risalah Tauhid. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu; Pertama, Mengetahui latarbelakang pemikiran kalam Muhammad Abduh. Kedua, Mengetahui pemikiran kalam Muhammad Abduh dalam buku Risalah Tauhid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (Library Research). Data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini langsung merujuk kepada buku Risalah Tauhid karangan Muhammad Abduh. Adapun data sekunder dalam penelitian ini diambil dari berbagai sumber yang membahas tentang Muhammad Abduh, baik buku, jurnal maupun karya ilmiah sejenis.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa corak pemikiran kalam Muhammad Abduh berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya, meskipun corak pemikirannya lebih dekat dengan Mu’tazilah namun Muhammad Abduh bukan merupakan tokoh aliran Mu’tazilah. Menurut Muhammad Abduh dalam konteks pembahasan kalam khususnya terkait perbincangan antara akal dan wahyu, akal merupakan kekuatan utama sedangkan wahyu merupakan penyempurna dari kekuatan akal. Hal ini kemudian mengantarkan dirinya sebagai bagian dari salah satu tokoh Neo- Mu’tazilah. Kemudian secara latar belakang pemikiran Muhammad Abduh yang banyak dibentuk oleh faktor lingkungan maupun tokoh-tokoh, justru tidak menjadikan Abduh untuk menjadi tokoh penyambung, namun Abduh mereduksi pemikiran tokoh-tokoh tersebut dan menghasilkan pemikiran baru dalam perkembangan pemikiran Islam khususnya dalam konteks ini adalah pemikiran kalam
ANALISIS PENDIDIKAN TAUHID DALAM KITAB FATHUL MAJID KARYA SYEKH MUHAMMAD NAWAWI AL-BANTANI
ABSTRAK
Pendidikan tauhid perlu ditanamkan pada diri seorang muslim, karena pendidikan tauhid merupakan pokok ilmu agama yang paling utama. Dengan mempelajari ilmu tauhid, seorang muslim akan terhindar dari aqidah-aqidah yang menyesatkan. Implementasi dari pendidikan tauhid adalah dengan mengesakan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Selain itu, seorang muslim juga diwajibkan untuk mengimani segala hal yang wajib ada, yang jaiz, serta yang tidak mungkin ada pada Allah SWT dan utusan-Nya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis konsep pendidikan tauhid dan tipe pemikiran tauhid Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Fathul Majid. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mencari literatur yang berkaitan dengan objek penelitian, membaca, mengkaji, kemudian merumuskan materi pendidikan tauhid yang terdapat dalam kitab Fathul Majid Karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, serta membuat kesimpulan dari topik yang telah dirumuskan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis isi.
Hasil penelitian ini yaitu konsep pendidikan tauhid dalam kitab Fathul Majid karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani diimplementasikan dengan mengakui kesatuan penciptaan, kesatuan kemanusiaan, kesatuan tuntunan hidup, dan kesatuan tujuan hidup. Sedangkan tipe pemikiran tauhid Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Fathul Majid lebih sesuai dengan pendapat Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dibandingkan dengan pendapat Ibnu Taimiyyah. Diantaranya tentang penjelasan Dzat, Sifat, dan Af’al (perbuatan) Allah SWT.
Kata Kunci: Pendidikan, Tauhid, Kitab Fathul Majid Karya Syekh Muhammad
Nawawi Al-Bantan
Pembahasan Risalah Tauhid Karya Muhammad Abduh
Risalah Tauhid, adalah salah satu karya Muhammad Abduh, yang membicarakan masalah akidah Islam/ Ilmu Kalam. Dengan Risalah Tauhidnya itu –disamping tulisan-tulisannya yang lain—dia berjuang untuk menyehatkan dan membangkitkan semangat dunia Islam, khususnya masyarakat mesir waktu itu. Yaitu semangat untuk membebaskan kaum muslimin dari kejumutan, kelemahan, keterbelakangan dan penjajahan. Karena itulah ’barangkali’ Risalah Tauhid-nya itu memikat para (banyak) Ilmuan dan diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa; antara lain bahasaPerancis, Urdu, Indonesia dan lain-lain. Sedangkan tulisan (paper) ini dihidangkan, juga karena ingin turut kmembicarakannya, walaupun dangkal dan sederhana sekali
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
Pendidikan Tauhid Menurut Ibnu Taimiyah Dan Muhammad Suwaid
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali tentang konsep tauhid danpembelajarannya menurut Ibnu Taimiyah dan Muhammad Suwaid. Penelitianiniadalah penelitian kualitatifdengan jenis penelitian pustaka, dan teknikanalisis datanya menggunakan induktif dan deduktif. Temuan penelitian inidapat disimpulkan: pertama,Tauẖîd menurut Ibn Taimiyah adalah mengesakanAllah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah, baik dalam rububiyah,uluhiyah maupun asma‟ dan shifat. Kedua, Hubungan antara ketiga jenis tauẖîdtersebut adalah dalam bentuk korelatif dan komprehensif. Oleh karena itu,tauẖîdrububiyah merupakan keharusan dari tauẖîduluhiyah, sedangkantauẖîdrububiyah merupakan mukaddimahdari tauẖîduluhiyah.Adapuntauẖîdasma‟ wa sifat, maka turut terkandung di dalamnya pula kedua jenistauẖîd tersebut, artinya orang yang mengesakan Allah dengan segala yangdimiliki-Nya dari al-asma‟ al-husna dan sifat yang mulia yang tidak dimilikikecuali oleh-Nya maka dengan sendirinya ia mengakui tauẖîdrububiyah danuluhiyah.Ketiga, metode pendidikan tauẖîd menurut Suwaid, harus melaluibeberapa tahapan pendidikan, yaitu pendiktean, pemahaman, kepercayaan(i'tiqad), keyakinan, dan pembenaran dengan pengamalan dan pengorbanan.Hal itu karena pendidikan tauẖîd lebih banyak berkaitan dengan perkaraperkarayang ghaib yang menuntut untuk lebih mendahulukan keimanandaripada akal agar menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa kepada Allah.Kata Kunci: Konsep, Tauhid, Ibnu Taimiyah, Suwai
- …
