66 research outputs found

    Postkomodifikasi Media Sosial Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo dalam Perspektif Wacana Foucaldian

    Get PDF
    Ahead of the 2024 election, some figures are familiar with mediating themselves with social media. The purpose of this study is to understand the persona and analyze the post-commodification of social media on Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo\u27s uploads through Michel Foucault\u27s critical media discourse approach. The data collection technique uses textual observation techniques through the Instagram pages of the two figures. The results show that in the post-commodification perspective of social media, Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo\u27s uploads have content and relations with power. The discourses of these two figures have a strong relationship with the practice of management either as themselves or as public officials. The research impacts the theoretical output of practical activities carried out by political figures so that it can be a reference in learning critical communication in social media. Another effect, this analysis can contribute ideas and knowledge in the context of new media discourse that can be used as a reference in communication and media studies

    Analisis Semiotik Nilai-Nilai Toleransi Umat Beragama Dalam Film Wei (Rasa) Oleh Samuel Rustandi

    Get PDF
    Penelitian berjudul “Analisis Semiotik Nilai-Nilai Toleransi Umat Beragama Dalam Film Wei Oleh Samuel Rustandi” ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna tanda yang terdapat dalam film Wei mengenai nilai-nilai toleransi umat beragama. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis semiotik Roland Barthes. Semiotik Roland Barthes merupakan konsep pemikiran Tatanan Pertandaan (Order of Signification) dimana sebuah tanda/simbol dapat dimaknai secara denotasi (makna harfiah) dan konotasi (makna subjektif). Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Sehingga konotasi merupakan makna yang terbentuk berdasarkan konstruksi pemikiran penggunanya yang didasari dari adanya kebudayaan. Ketika kebudayaan mengkontruksi pemikiran seseorang, maka yang terjadi adalah pemikiran yang berlandaskan dari budaya tersebut. Implikasi yang terjadi adalah dalam memandang setiap fenomena selalu bersumber dari nilai-nilai atau norma budaya yang dijadikan pedoman tersebut. Ketika aspek konotasi menjadi populer di masyarakat, maka mitos terbentuk terhadap tanda tersebut. Inilah sebuah proses oleh Barthes sebagai urutan pemahaman mengenai tanda/simbol. Adapun jenis penelitian yaitu deskriptif kualitatif. Peneliti berusaha mendeskripsikan secara sistematis objek dan subjek penelitian. Subjek dari penelitian ini ialah film Wei yang disutradarai oleh Samuel Rustandi. Sedangkan objek penelitian adalah nilai-nilai toleransi umat beragama. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan ialah dokumentasi, peneliti mencari data mengenai hal- hal berupa catatan, buku-buku, dan literatur-literatur yang menunjang penelitian, serta wawancara. Penelitian memberikan kesimpulan bahwa nilai-nilai toleransi ini dapat ditemukan setelah memahami tanda-tanda yang terdapat dalam film Wei menggunakan analisis semiotik Roland Barthes, yakni setelah peneliti memaknai tanda yang sudah diseleksi secara denotasi (makna sesungguhnya dari tanda tersebut) dan secara konotatif (melibatkan persepsi subjektif) serta mitos yang dapat dibenarkan dari apa yang sudah dipahami mulai awal sampai film berakhir serta meninjau dari segi naratif maupun sinematik yang terbentuk di dalam film tersebut. Sehingga ditemukan setidaknya terdapat tiga nilai toleransi umat beragama yang ditampilkan dalam film tersebut yaitu: 1) Menghormati Keyakinan Orang Lain; 2) Agree in disagreement; dan 3) Saling Mengerti. Maka film ini dapat menjadi rekomendasi sebagai media komunikasi edukatif penyampai nilai-nilai toleransi umat beragama yang bermanfaat bagi khalayak dan masyarakat secara luas. The research entitled "Semiotic Analysis of Religious Tolerance Values in the Wei Film by Samuel Rustandi" was conducted to describe and analyze the meaning of signs related to the Wei film about values helping religious communities. This research was conducted with the semiotic analysis method of Roland Barthes. Semiotic Roland Barthes is a concept of the Order of Signs (Order of Significance) where the sign / symbol can be interpreted with denotation (translation meaning) and connotation (subjective meaning). The connotation of an ongoing interaction sentence sign meeting with the feelings or users and cultural values. Related to connotation is the meaning that is formed based on the user construction which is based on the existence of culture. When someone criticizes, then what happens is based on that culture. The implications that occur in every phenomenon always come from cultural values or norms that are used as guidelines. When aspects of connotation become popular in society, myths form on these signs. This is the process by Barthes as a sequence of understanding of signs / symbols. The type of research is descriptive qualitative in which the researcher seeks to fully describe the research problem and the object of research. The subject of this research is the Wei film directed by Samuel Rustandi. While the object of research is the comparative values of religious communities. The technique of receiving data that researchers use from documentation, researchers looking for data about things consisting of notes, books, and literature that support research, and interviews. The study concludes that these tolerance values can be found after understanding the signs contained in the Wei film using Roland Barthes's semiotic analysis, that is, after researchers interpret the signs that have been denotated (the true meaning of the sign) and connotatively (involving perception subjective) and myths that can be justified from what has been understood from the beginning to the end of the film and reviewing the narrative and cinematic aspects formed in the film. So it is found that there are at least three religious tolerance values displayed in the film, namely: 1) Respecting the Beliefs of Others; 2) Agree in disagreement; and 3) Understanding each other. Then this film can be a recommendation as an educational communication medium to convey the values of religious tolerance that is beneficial to the public and society at large

    ASPÉK ROMANTIS DINA NOVEL SABOBOT SAPIHANÉAN SABATA SARIMBAGAN KARYA MH. RUSTANDI KARTAKUSUMA (Ulikan Psikologi Sastra)

    Get PDF
    Objek penelitian ini yaitu novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan karya Mh. Rustandi Kartakusuma, Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori romantis cinta dari Robert Sternberg dengan pendekatan psikologi sastra dan struktural Robert Stanton. Tujuan penelitian ini untuk: (1) menjelaskan mengenai struktur novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan karya Mh. Rustandi Kartakusuma, (2) mendeskripsikan aspek romantis cinta novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan karya Mh. Rustandi Kartakusuma. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan teknik studi pustaka. Data dalam penelitian ini adalah kutipan dialog dan narasi yang menggambarkan aspek romantis cinta di novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan karya Mh. Rustandi Kartakusuma. Hasil dari penelitian ini yaitu Tema novel ini adalah masalah rumah tangga dan cinta. Fakta cerita yang terdapat dalam novel ini terdiri dari alur, tokoh dan latar; alur dalam cerita ini ada 13 episode dengan alur bertahap awal-tengah-ahir; ada 12 tokoh utama dan tambahan, juga memiliki sifatnya masing-masing; latar dalam cerita pun terbagi menjadi enam latar tempat dan tiga belas latar waktu. Sarana sastra yang terdapat dalam novel ini terbagi menjadi judul, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat; judul Sabobot Sapihanean Sabata Sarimbagan menggambarkan isi cerita; sudut pandang yang digunakan penulis merupakan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama; gaya bahasa yang ditemukan di antaranya personifikasi, hiperbola, simile, pleonasme, babasan dan paribahasa. Aspek romantis Cinta Ir. Tatang Danudireja dan Anah dalam kehidupan rumah tangganya digambarkan dengan teori cinta segitiga Robert Sternberg. Dalam rumah tangga pasti ada masalah-masalah nya, untuk menjauhi masalah rumah tangga dibutuhkan keintiman, gairah, dan komitmen. The object of this research is the novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan by Mh. Rustandi Kartakusuma. The theory used in the research is Robert Sternberg's romantic theory of love with Robert Stanton's literary and structural psychology approach. The aim of this research is to: (1) explain the structure of the novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan by Mh. Rustandi Kartakusuma, (2) describes the romantic aspects of love in the novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan by Mh. Rustandi Kartakusuma. This research uses a qualitative approach with descriptive analysis methods and literature study techniques. The data in this research are dialogue and narrative excerpts that describe the romantic aspects of love in the novel Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan by Mh. Rustandi Kartakusuma. The results of this research are that the theme of this novel is household problems and love. The story facts contained in this novel consist of plot, characters and setting; The plot of this story consists of 13 episodes with a gradual beginning-middle-end plot; there are 12 main and additional characters, each with their own characteristics; The setting in the story is divided into six settings and thirteen settings in time. The literary devices contained in this novel are divided into title, point of view, language style, and message; the title Sabobot Sapihanean Sabata Sarimbagan describes the content of the story; the point of view used by the author is a first person point of view as the main character; Language styles found include personification, hyperbole, simile, pleonasm, babasan and proverbs. Romantic aspects of Love Ir. Tatang Danudireja and Anah in her domestic life is described using Robert Sternberg's love triangle theory. In a household there are bound to be problems, to stay away from household problems requires intimacy, passion and commitment

    Cyberdakwah: Internet Sebagai Media Baru Dalam Sistem Komunikasi Dakwah Islam

    Get PDF
    Di era globalisasi, kemunculan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet membuka peluang baru untuk pengembangan dan proses penyebaran pesan-pesan dakwah. Internet dipandang sebagai ruang virtual yang mampu menyebarkan pesan dakwah secara efektif, mudah diakses, cakupan wilayah yang luas dan waktu yang tidak terbatas. Hal ini memunculkan wacana cyberdakwah, yakni sebuah aktifitas amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan media internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur yang didapatkan baik dari buku, jurnal dan sumber lainnya yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena cyberdakwah secara teoritik dipandang sebagai metode kontemporer dalam penyebaran pesan dakwah. Secara praktik, penggunaan media internet sebagai media baru dalam dakwah Islam membuka peluang untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah secara masif dan signifikan. Dampak penelitian diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan atas beberapa permasalahan cyberdakwah di Indonesia. In the era of globalization, the emergence of information and communication technologies such as the internet opens new opportunities for the development and dissemination of propaganda messages. The internet is seen as a virtual space that can spread the message of preaching effectively, easily accessible, wide area coverage and unlimited time. This raises the discourse of cyberdakwah, which is an activity of the amar ma'ruf nahi munkar which uses internet media. This study uses a qualitative approach through the analysis of literature obtained both from books, journals, and other relevant sources. The results showed that the phenomenon of cyber-dakwah theoretically was seen as a contemporary method in spreading the message of da'wah. In practice, the use of internet media as new media in Islamic da'wah opens opportunities to disseminate da'wah messages massively and significantly. The impact of the research is expected to be able to answer various challenges over several issues of cyber propagation in Indonesia. Kata Kunci: Cyberdakwah, Internet, Media Baru

    TRANSFORMATION OF PROPHETIC COMMUNICATION PATTERNS IN THE ERA OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE: CHALLENGES AND OPPORTUNITIES FOR ISLAMIC PREACHING IN INDONESIA

    Get PDF
    principles to algorithm-based religious content. Despite the contradiction between the comprehensive nature of Islamic da’wah (kāffah) and fragmented digital da’wah practices, there is no adequate theoretical framework to bridge the transformation of religious authority when algorithms modify da’wah messages without supervision. The study examines changes in Islamic da’wah practices in the digital era, utilizing artificial intelligence, and employs a qualitative descriptive-analytical approach. The results reveal seven significant impacts: 1) a shift from spiritual-moral aspects to technology-driven message dissemination; 2) format adaptation following digital trends; 3) social media's influence in expanding access; 4) artificial intelligence contributions in content presentation; 5) challenges in balancing popularity with teaching integrity; 6) ethical issues in religious communication; and 7) the importance of education and supervision. The findings have significant implications for Islamic educational institutions, suggesting an urgent need to develop integrated curricula that equip future religious leaders with both technological competencies and an understanding of prophetic communication ethics in digital contexts, thereby maintaining the integrity of Islamic teachings while engaging contemporary audiences

    Digital Literacy Assistance for Women at Madrasah Technology Al-Khwarizmi Pangalengan, Bandung Regency

    Get PDF
    This study aims to analyze the process of digital literacy education and assistance for women at Madrasah Teknologi Al-Khwarizmi Pangalengan, Bandung Regency. Specifically, the research focuses on four aspects of digital literacy: digital skills, digital culture, digital ethics, and digital safety. The analysis uses a constructivist paradigm with a qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, FGD, LGD, and documentation. Meanwhile, the mentoring process is carried out using an asset-based community development (ABCD) approach. The results of the research and mentoring show that the Madrasah of Technology Al-Khwarizmi is a non-formal educational institution in rural areas that focuses on providing understanding and assistance in digital literacy, especially for women. In addition, digital literacy assistance for women is carried out through increasing computer skills as a preventive measure against digital threats, positive cultural habituation by studying and reading the Qur'an in internet activities, strengthening digital ethics through family counseling and moral development for parents and community involvement and partnership networks in maintaining internet awareness

    Konsep dakwah digital Yasraf Amir Piliang: Analisis pesan dakwah dalam buku Bayang-bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi

    Get PDF
    Dakwah merupakan tugas suci yang diperintahkan Allah Swt kepada setiap umat-Nya sebagai sarana untuk menyebarkan risalah Islam. Misi utama dakwah Islam ialah mewujudkan peradaban manusia yang berakhlak mulia, yakni sebuah kehidupan manusia yang berlandaskan pada al-qur’an dan as-sunnah. Dakwah dapat dilakukan dengan beragam cara disesuaikan dengan konteks objek dakwah di lapangan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah mengubah pola pikir para juru dakwah dalam mentransmisikan ajaran-ajaran Islam. Sebagian besar umat Islam berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut sebagai sarana pengembangan dan penyebaran ajaran Islam, sebagai media dalam mendeskripsikan Islam yang universal. Internet, sebagai salah satu media baru memberikan ruang terbuka bagi manusia. Internet telah mengubah pola aktivitas dan interaksi manusia dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi, pendidikan, budaya, maupun agama. Dalam konteks agama, internet ikut mempengaruhi pola komunikasi agama secara signifikan. Teknologi internet dapat dijadikan sebagai alternatif media dakwah Islam. Munculnya konsep dakwah melalui internet, misalnya digitalisasi dakwah, dakwah online, atau cyber dakwah memberikan ruang baru dalam konteks komunikasi agama. Upaya dakwah Islam melalui berbagai media kontemporer saat ini cukup menarik untuk di kaji sebagai ragam khazanah dalam pergulatan pemikiran dakwah Islam. Yasraf Amir Piliang mencoba mendeskripsikan keterkaitan teknologi internet, digital, virtual dan ruang cyberspace dengan wacana keberagamaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tema-tema pokok yang terkandung dalam buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi, makna yang terkandung dalam buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajiasi, dan isi pesan dakwah dalam buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian analisis isi (Content Analysis). Dalam operasionalnya, data dikumpulkan dengan menggunakan studi pustaka, mengklasifikasikan data sesuai objek penelitian, menafsirkan data yang telah diklasifikasi, dan menarik kesimpulan. Metode analisis isi sifatnya kualitatif, sehingga mengandalkan penafsiran peneliti terhadap teks. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tema-tema pokok yang terkandung dalam buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi berhubungan dengan aqidah, syari’ah dan akhlak. Selanjutnya makna pesan dakwah yang terkandung dalam buku tersebut yakni mengenai ketauhidan, pengendalian diri, toleransi, kesederhanaan dan wacana cyberdakwah. Adapun isi pesan dakwah dalam buku tersebut yakni keharusan menjaga ketauhidan dan kreativitas berpikir, bersikap sederhana dan mengendalikan hawa nafsu, pentingnya bersikap toleran dan menjaga perdamaian, pentingnya bersikap sederhana serta pentingnya melakukan dakwah Islam

    Komodifikasi dakwah dalam siaran televisi: Analisis wacana kritis program religi “Islam itu indah” di media Trans TV

    Get PDF
    INDONESIA : Televisi merupakan salah satu media dakwah yang dipandang memiliki pengaruh signifikan dalam proses penyampaian pesan dakwah. Dakwah di media televisi melibatkan berbagai pihak dengan proses pengelolaan dan mekanisme tertentu yang didasarkan pada kebutuhan pasar (penonton dan pengiklan) maupun mengikuti logika media massa (rating and share, durasi, popularitas dan publisitas). Penggunaan televisi sebagai media dakwah tidak terlepas dari adanya pengaruh budaya populer dalam kehidupan manusia. Dalam konteks dakwah, salah satu wujud pengaruh budaya populer ini dapat dilihat dari adanya komersialisasi dan komodifikasi dakwah Islam baik terhadap da’i, maudhu maupun madh’u. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya komodifikasi dakwah yang dilakukan dalam siaran televisi. Penelitian dilakukan untuk menjawab permasalahan bagaimana identitas da’i dan konstruksi pesan dakwah (maudhu) dikemas dalam program dakwah di televisi. Penelitian dilakukan pada program religi Islam Itu Indah di media Trans TV. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode Analisis Wacana Kritis. Hal ini untuk menggambarkan upaya komodifikasi dakwah dalam siaran televisi sesuai dengan data-data penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, dokumentasi, wawancara dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang komodifikasi agama dari Vincent Mosco (2009) bahwa komodifikasi agama dalam siaran televisi dilakukan pada tiga aspek yakni pada sisi pesan (content), khalayak (audience), dan tenaga kerja. Teori tentang budaya populer dari John Storey (2009) bahwa budaya populer merupakan budaya massa, budaya yang disukai banyak orang, dikonsumsi melalui produksi massa dan secara komersial. Teori tentang televisi dari Raymond William (2009) bahwa televisi merupakan salah satu wujud artifisial perkembangan teknologi dan informasi yang dapat ditinjau dari dua sisi, yakni sebagai produk yang mendeterminisme teknologi (determinisme teknologis) dan sebagai gejala sosial (sympthomatic technology) yang memberikan pengaruh dalam kehidupan manusia. Teori tentang dakwah televisi dari Arie Setyaningrum (2015) bahwa dakwah televisi bersandar pada simbol, daya tarik dan pemaknaan nilai citra. Teori Representasi Media dari Stuart Hall (2011) bahwa representasi digunakan untuk memaknai suatu objek atau peristiwa. Teori Analisis Wacana Kritis dari Teun Van Dijk (2008) bahwa CDA dilakukan pada struktur teks, konteks dan analisis sosial dalam sebuah wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi dakwah pada program “Islam Itu Indah” dilakukan pada sisi da’i dan maudhu. Pada sisi da’i, pemiihan da’i/narasumber ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria tertentu yang meliputi unifikasi (karakter pembeda), daya jual (popularitas dan publisitas), keterampilan dan kecakapan berbicara, serta kualifikasi keilmuan. Representasi da’i pada program ini dilakukan dengan memperhatikan rating and share, performa dan sasaran audiens. Pada sisi pesan (content), komodifikasi ditemukan dalam proses penentuan tema dan pola pengemasan acara dalam menyampaikan pesan. Penentuan tema ditentukan oleh tim acara dengan memperhatikan beberapa kriteria tertentu, meliputi current issue, rating and share, dan minat audiens. Sedangkan pola pengemasan pesan dilakukan dengan memperhatikan durasi, pengembangan acara melalui inovasi, dan segmentasi pasar/audiens. Dalam konteks Analisis Wacana Kritis hasil penelitian ditemukan bahwa tema pokok kajian dominan berkenaan dengan akhlak dan muamalah, skema penyampaian pesan meliputi, tausyiah, kajian hadits, pembacaan ayat al-qur’an, kisah hikmah, kisah inspiratif, dan kisah teladan. Pesan disampaikan dengan menggunakan bahasa yang praktis, sederhana, tidak kaku dan mudah dicerna. ENGLISH : Television is one of the media propaganda that is deemed to have a significant influence in the process of delivering a message of propaganda. Da'wah in the television media involving various stakeholders with specific management processes and mechanisms that are based on the needs of the market (audience and advertisers) and follow the logic of the mass media (rating and share, the duration, the popularity and publicity). The use of television as a medium of propaganda can not be separated from the influence of popular culture in human life. In the context of propaganda, one of manifestation of the influence of popular culture can be seen from the commercialization and commodification of Islamic propaganda both to preachers, maudhu nor madh'u. This study aims to determine the commodification propaganda efforts undertaken in a television broadcast. The study was conducted to answer the question of how identity construction preachers and propaganda messages (maudhu) packed in propaganda programs on television. The study was conducted on Islamic religious programme “Islam itu indah” In Trans TV. The study was conducted with a qualitative approach and methods of Critical Discourse Analysis. This is to illustrate the commodification propaganda effort in a television broadcast according to research data. Data collection techniques used in this study is the observation, documentation, interviews, and literature. The theory used in this research is the theory about the commodification of religion from Vincent Mosco (2009) that the commodification of religion in a television broadcast made on three aspects namely on the side of the message (content), audience (audience), and labor. Theories about the popular culture of John Storey (2009) that popular culture is mass culture, a culture which is favored by many people, consumed through mass production and commercially. The Theory on television of Raymond William (2009) that television is one form of artificial development of technology and information that can be viewed from two sides, as a product that mendeterminisme technology (determinism technological) and as a social phenomenon (sympthomatic technology) that influence in the human life. Dakwah on television theory of Arie Setyaningrum (2015) that dakwah on television based on symbols, interest and the meaningful of imagologies. Media representation theory of Stuart Hall (2011) that the representation used for meaning an object or event. Critical Discourse Analysis Theory of Teun Van Dijk (2008) that the CDA is done on the structure of the text, context and social analysis of the discourse. The results showed that the commodification of propaganda on the program "Islam itu indah" made on the preacher and maudhu side. On the side of, the election preacher / resource is determined by considering certain criteria which include unification (distinguishing characteristics), tradability (popularity and publicity), skills and abilities to speak, as well as the scientific qualifications. Representation preachers on this program conducted with respect to rating and share, performance and target audience. On the side of the message (content), commodification found in the process of determining the themes and patterns of packaging event in conveying the message. Determination theme is determined by the team event with respect to some certain criteria, including current offering, rating and share, and audience interest. While the pattern of message packaging conducted with respect to the duration, event development through innovation, and market segmentation / audience. In the context of Critical Discourse Analysis research found that the main theme of the dominant assessment with regard to morals and muamalah, the scheme covers the delivery of messages, tausyiah, the study of hadith, recitation of Qur'an, wisdom stories, inspirational stories, and the story of exemplary. Messages are delivered using the language of practical, simple, rigid and easy to digest

    Analisis Wacana Kritis Komodifikasi Daí Dalam Program Televisi

    Get PDF
    This study aims to determine the construction of preachers in a television broadcast. The study was conducted to answer the question of how identity construction preachers and how preachers selection criteria in propaganda programs on television. The study was conducted with a qualitative approach and methods of Critical Discourse Analysis Teun Van Dijk Models. There are three element of Critical Discourse Analysis Methods : Text, Social Cognition and Social Context. Data collection techniques used in this study is the observation, interviews, and documentation. The results showed that the commodification of propaganda on the program "Islam itu indah" made on the preacher and maudhu side. On the side of, the election preacher / resource is determined by considering certain criteria which include unification (distinguishing characteristics), tradability (popularity and publicity), skills and abilities to speak, as well as the scientific qualifications. Representation preachers on this program conducted with respect to rating and share, performance and target audience.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi daí sebagai tenaga kerja dalam program televisi bertajuk “Islam Itu Indahâ€. Penelitian diarahkan untuk menggali aspek komodifikasi yang berkaitan dengan kriteria pemilihan dai’dan konstruksi daí dalam program televisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis) model Teun Van Dijk. Terdapat tiga elemen dalam Analisis Wacana Kritis Teun Van Dijk, yaitu teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi dakwah pada program “Islam Itu Indah†dilakukan pada sisi da’i dan maudhu. Pada sisi da’i, pemiihan da’i/narasumber ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria tertentu yang meliputi unifikasi (karakter pembeda), daya jual (popularitas dan publisitas), keterampilan dan kecakapan berbicara, serta kualifikasi keilmuan. Representasi da’i pada program ini dilakukan dengan memperhatikan rating and share, performa dan sasaran audiens. Â

    The tabligh language of the millenial generation in social media: Analysis of popular Islamic account framing

    Get PDF
    Purpose - This study aims to analyze the construction of tabligh language based on religious moderation in social media. The research was conducted by taking the research object of Popular Islamic accounts on three social media platforms, namely Facebook, YouTube, and Instagram. Specifically, the research is directed at studying expressive, conventional, rhetorical logic, and religious moderation tabligh language negotiations for the millennial generation. An interpretive paradigm was chosen in this study.Method - Qualitative approach through the Gamson and Modigliani model framing analysis method was chosen to analyze the packaging pattern of the tabligh language. Data were collected through observation, interview, and documentation techniques. Furthermore, it is analyzed through three stages: reduction, display, and verification.Result  -  The study results conclude that the expressive logic of the tabligh language contained in the Popular Islam account is related to the normativity and actuality of Islamic teachings. The conventional logic set by the Popular Islam account is based on normative arguments, actual arguments, opinions of Islamic leaders, metaphors or parables, and phenomena that are trending in society. Rhetorical logic is carried out by using language style, communication principles, appeals and message organizational structures, and visualizing messages in a way that links symbols, images, and text. The negotiation of religious moderation discourse is packaged by showing the face of Islam on two sides, namely the doctrinal side and the actual side. Popular Islam places historical, empirical, and actual religious reality as the core issue of Islamic ideas. Moderate and accurate packaging tools are presented both within the framework of framing and reasoning of Popular Islamic accounts.Implication – The implications of this research relate to the importance of building theological, technological, and humanist awareness in preparing the infrastructure and ecosystem of da'wah resources to face the era of digital industrialization.Originality - This study analyzes the phenomenon of how the choice of diction and tabligh language style regarding religious messages based on religious moderation is presented in a virtual space.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi bahasa tabligh berdasarkan moderasi beragama di media sosial. Penelitian dilakukan dengan mengambil objek penelitian akun Islami Populer di tiga platform media sosial yaitu Facebook, YouTube, dan Instagram. Secara spesifik, penelitian diarahkan untuk mengkaji negosiasi bahasa tabligh ekspresif, konvensional, logika retoris, dan moderasi agama bagi generasi milenial. Paradigma interpretif dipilih dalam penelitian ini.Metode - Pendekatan kualitatif melalui metode analisis framing model Gamson dan Modigliani dipilih untuk menganalisis pola pengemasan bahasa tabligh. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi, display, dan verifikasi.Hasil - Hasil penelitian menyimpulkan bahwa logika ekspresif bahasa tabligh yang terdapat dalam akun Islam Populer berkaitan dengan normativitas dan aktualitas ajaran Islam. Logika konvensional yang ditetapkan oleh akun Islam Populer didasarkan pada argumen normatif, argumen aktual, pendapat para pemimpin Islam, metafora atau perumpamaan, dan fenomena yang sedang tren di masyarakat. Logika retoris dilakukan dengan menggunakan gaya bahasa, prinsip komunikasi, daya tarik dan struktur organisasi pesan, dan memvisualisasikan pesan dengan cara menghubungkan simbol, gambar, dan teks. Negosiasi wacana moderasi keagamaan dikemas dengan menampilkan wajah Islam dalam dua sisi, yaitu sisi doktrinal dan sisi aktual. Islam kerakyatan menempatkan realitas keagamaan historis, empiris, dan aktual sebagai isu inti gagasan-gagasan Islam. Alat pengemasan yang moderat dan akurat disajikan baik dalam kerangka pembingkaian dan penalaran akun Islami Populer.Implikasi – Implikasi penelitian ini berkaitan dengan pentingnya membangun kesadaran teologis, teknologis, dan humanis dalam mempersiapkan infrastruktur dan ekosistem sumber daya dakwah untuk menghadapi era industrialisasi digital.Orisinalitas - Penelitian ini menganalisis fenomena bagaimana pilihan diksi dan gaya bahasa tabligh tentang pesan-pesan keagamaan berbasis moderasi keagamaan dihadirkan dalam ruang virtual
    corecore