Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
206 research outputs found
Sort by
Da’wah in the TikTok era: Analyzing Gus Miftah’s rhetoric, controversy, and community character education impact
Purpose – This study aimed to examine how Gus Miftah’s TikTok-based da’wah merges rhetorical strategies, audience reaction, and Islamic character education within a dynamic digital setting.
Method – Using interpretative and critical discourse analysis, the research sampled Gus Miftah’s TikTok videos, user comments, and YouTube sermons. Linguistic and rhetorical patterns were coded and triangulated to ensure analytical reliability.
Result – Findings revealed that his succinct, humor-infused style successfully engaged younger audiences yet incited controversy regarding doctrinal fidelity, underscoring the delicate balance between accessibility and theological rigor in digital religious discourse.
Implication – This tension highlights the need for ethical, pedagogical, and communicative recalibration, prompting religious figures to reconcile user-friendly presentation with doctrinal depth. Future efforts must address algorithmic constraints and community-driven discourse to maintain credibility.
Originality/Value – The study addresses a gap by analyzing how TikTok’s algorithmic culture and participatory audience mechanics shape contemporary da’wah. It offers novel insights into how digital media redefine religious authority and communication in online contexts.
***
Tujuan – Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana da’wah Gus Miftah di platform TikTok menggabungkan strategi retorika, reaksi audiens, dan pendidikan karakter Islam dalam konteks digital yang dinamis.
Metode – Menggunakan analisis wacana interpretatif dan kritis, penelitian ini menganalisis video TikTok Gus Miftah, komentar pengguna, dan khotbah YouTube. Pola linguistik dan retorika dikodekan dan ditriangulasi untuk memastikan keandalan analisis.
Hasil – Temuan menunjukkan bahwa gaya penyampaiannya yang ringkas dan sarat humor berhasil menarik perhatian audiens muda, namun juga memicu kontroversi terkait kesetiaan doktrinal, menyoroti keseimbangan halus antara aksesibilitas dan ketelitian teologis dalam diskursus agama digital.
Implikasi – Ketegangan ini menyoroti kebutuhan akan penyesuaian etis, pedagogis, dan komunikatif, mendorong tokoh agama untuk menyeimbangkan presentasi yang ramah pengguna dengan kedalaman doktrinal. Upaya di masa depan harus mengatasi batasan algoritmik dan diskursus yang didorong oleh komunitas untuk mempertahankan kredibilitas.
Orisinalitas/Nilai – Studi ini mengisi celah dengan menganalisis bagaimana budaya algoritmik TikTok dan mekanisme audiens partisipatif membentuk da’wah kontemporer. Studi ini menawarkan wawasan baru tentang bagaimana media digital mendefinisikan ulang otoritas agama dan komunikasi dalam konteks online
Constructing self-esteem: Authoritative da’wah material in Syi’ir Ngudi Susilo by Bisri Mustofa
Purpose – The purpose of this study is to analyze how Syi'ir Ngudi Susilo by Bisri Mustofa constructs and conveys the concept of self-esteem as an authoritative da’wah material
Method – This study used a qualitative method with a semiotic analysis approach. The data collection techniques included reading and note-taking. The data analysis methods used the Agih Method and the Match Method.
Result – The results showed that the construction of self-esteem in the Syi’ir Ngudi Susilo is achieved by identifying elements related to self-esteem in the Syi’ir. These elements include self-knowledge, self and others, self-acceptance, self-reliance, self-expression, self-confidence, and self-awareness. These elements align with the concept of self-esteem development, which includes the practices of living consciously, self-acceptance, self-responsibility, self-assertiveness, living purposefully, and personal integrity. Ngudi Susilo communicates authoritative da'wah material effectively in an aesthetic, emotional, and easy-to-understand manner.
Implication – The study has several significant implications in the fields of Islamic preaching (da’wah), education, psychology, and cultural studies. These implications highlight the broader impact of syi'ir in shaping religious understanding, promoting self-esteem, and preserving traditional Islamic literary forms
Originality/Value – This study is the first study that breaks new ground by using Saussure’s semiotic framework to examine how syi'ir constructs self-esteem and serves as an authoritative da'wah material. The syi'ir is not only just a religious or artistic form but also a therapeutic tool for personal and social development.
***
Tujuan – Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana Syi'ir Ngudi Susilo karya Bisri Mustofa membangun dan menyampaikan konsep harga diri sebagai bahan dakwah yang otoritatif.
Metode – Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotik. Teknik pengumpulan data meliputi pembacaan dan pencatatan. Metode analisis data yang digunakan adalah Metode Agih dan Metode Match.
Hasil – Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan harga diri dalam Syi’ir Ngudi Susilo dicapai dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang berkaitan dengan harga diri dalam Syi’ir. Unsur-unsur tersebut meliputi pengetahuan diri, hubungan diri dengan orang lain, penerimaan diri, kemandirian, ekspresi diri, kepercayaan diri, dan kesadaran diri. Elemen-elemen ini sejalan dengan konsep pengembangan harga diri, yang mencakup praktik hidup secara sadar, penerimaan diri, tanggung jawab diri, keberanian diri, hidup dengan tujuan, dan integritas pribadi. Ngudi Susilo menyampaikan materi dakwah secara efektif dengan cara yang estetis, emosional, dan mudah dipahami.
Implikasi – Studi ini memiliki beberapa implikasi signifikan di bidang dakwah Islam, pendidikan, psikologi, dan studi budaya. Implikasi ini menyoroti dampak yang lebih luas dari syi'ir dalam membentuk pemahaman agama, mempromosikan harga diri, dan melestarikan bentuk sastra Islam tradisional.
Orisinalitas/Nilai – Studi ini merupakan studi pertama yang membuka jalan baru dengan menggunakan kerangka semiotik Saussure untuk menganalisis bagaimana syi'ir membangun harga diri dan berfungsi sebagai materi da'wah yang otoritatif. Syi'ir tidak hanya sekadar bentuk keagamaan atau seni, tetapi juga alat terapeutik untuk pengembangan pribadi dan sosial.
Yanṭiq: A proposed concept in philosophy of islamic communication
Purpose – This study aims to understand the nature of speaking from the perspective of philosophical anthropology and communication ethics, with particular emphasis on its role in reflecting human identity as al-insān al-nāṭiq (the rational and speaking being).
Method – This study employed a reflective-philosophical approach, analyzing classical and contemporary perspectives on language philosophy, communication ethics, and the degradation of speech in the context of social media and instant expression culture. The method consisted of a critical literature review and conceptual analysis rather than empirical sampling.
Result – The results showed that speaking is not merely a biological function or impulsive response but a conscious act that integrates reason, emotion, and moral responsibility. In the modern era, however, speech tends to lose depth, control, and ethical awareness, leading to risks such as misinformation, social fragmentation, and symbolic violence.
Implication – This study suggests the need to revive reflective, ethical, and intentional communication practices to strengthen social harmony, protect human dignity, and ensure that speech continues to serve as a medium of truth and genuine dialogue.
Originality/Value – This research provides a novel reinterpretation of the act of speaking within the framework of Islamicate philosophical anthropology and communication ethics, offering a critical alternative to contemporary communication practices dominated by speed and superficiality.
***
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk memahami sifat berbicara dari perspektif antropologi filosofis dan etika komunikasi, dengan penekanan khusus pada perannya dalam mencerminkan identitas manusia sebagai al-insān al-nāṭiq (makhluk rasional dan berbicara).
Metode – Penelitian ini menggunakan pendekatan reflektif-filosofis, menganalisis perspektif klasik dan kontemporer tentang filsafat bahasa, etika komunikasi, dan degradasi berbicara dalam konteks media sosial dan budaya ekspresi instan. Metode ini terdiri dari tinjauan literatur kritis dan analisis konseptual, bukan pengambilan sampel empiris.
Hasil – Hasil menunjukkan bahwa berbicara bukan sekadar fungsi biologis atau respons impulsif, melainkan tindakan sadar yang mengintegrasikan akal, emosi, dan tanggung jawab moral. Namun, dalam era modern, ucapan cenderung kehilangan kedalaman, kontrol, dan kesadaran etis, yang berpotensi menimbulkan risiko seperti disinformasi, fragmentasi sosial, dan kekerasan simbolis.
Implikasi – Studi ini menyarankan perlunya menghidupkan kembali praktik komunikasi yang reflektif, etis, dan sengaja untuk memperkuat harmoni sosial, melindungi martabat manusia, dan memastikan bahwa ucapan tetap berfungsi sebagai medium kebenaran dan dialog yang sejati.
Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini menawarkan reinterpretasi baru tentang tindakan berbicara dalam kerangka antropologi filosofis Islam dan etika komunikasi, memberikan alternatif kritis terhadap praktik komunikasi kontemporer yang didominasi oleh kecepatan dan kedangkalan.
Enhancing students on climate issues through social media marketing and green knowledge sharing: A contemporary da'wah approach in Indonesia and Turkey
Purpose - This study examines the influence of social media marketing and green knowledge sharing on climate change awareness among university students in Indonesia and Turkey. These digital initiatives are framed as a contemporary form of da'wah bil hal, where Islamic values of environmental stewardship are promoted through action-based communication and active engagement on social media platforms.
Method - A quantitative approach was employed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to analyze data collected from 327 students through purposive sampling.
Result - The findings reveal that social media marketing significantly impacts green knowledge sharing (β = 0.279, p = 0.016) and climate awareness (β = 0.305, p = 0.012), with green knowledge sharing mediating the relationship (β = 0.112, p = 0.038). However, climate awareness alone does not significantly lead to pro-environmental behavior.
Implication – The study highlights that empowering students through social media campaigns can be an effective strategy for environmental da'wah, integrating Islamic values into climate action.
Originality/Value - This study is one of the first cross-cultural investigations linking social media-driven environmental communication with Islamic da'wah practices between Indonesia and Turkey. It highlights cultural variations in environmental awareness and communication style, where Indonesian students show higher collectivist-driven engagement in green campaigns. In contrast, Turkish students tend to approach environmental messaging more individually. These contrasts enrich understanding of how Islamic da'wah bil hal can be contextualized across different cultural and educational settings.
***
Tujuan - Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemasaran media sosial dan berbagi pengetahuan hijau terhadap kesadaran perubahan iklim di kalangan mahasiswa universitas di Indonesia dan Turki. Inisiatif digital ini dikonsepkan sebagai bentuk kontemporer dari da'wah bil hal, di mana nilai-nilai Islam tentang pengelolaan lingkungan dipromosikan melalui komunikasi berbasis aksi dan keterlibatan aktif di platform media sosial.
Metode - Pendekatan kuantitatif digunakan dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menganalisis data yang dikumpulkan dari 327 mahasiswa melalui sampling purposif.
Hasil - Temuan menunjukkan bahwa pemasaran media sosial secara signifikan mempengaruhi berbagi pengetahuan hijau (β = 0.279, p = 0.016) dan kesadaran iklim (β = 0.305, p = 0.012), dengan berbagi pengetahuan hijau sebagai mediator dalam hubungan tersebut (β = 0.112, p = 0.038). Namun, kesadaran iklim sendiri tidak secara signifikan mengarah pada perilaku pro-lingkungan.
Implikasi – Studi ini menyoroti bahwa memberdayakan mahasiswa melalui kampanye media sosial dapat menjadi strategi efektif untuk da'wah lingkungan, dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam aksi iklim.
Orisinalitas/Nilai - Studi ini merupakan salah satu penelitian lintas budaya pertama yang menghubungkan komunikasi lingkungan berbasis media sosial dengan praktik da'wah Islam antara Indonesia dan Turki. Studi ini menyoroti variasi budaya dalam kesadaran lingkungan dan gaya komunikasi, di mana mahasiswa Indonesia menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi didorong oleh kolektivisme dalam kampanye hijau. Sebaliknya, mahasiswa Turki cenderung mendekati pesan lingkungan secara lebih individual. Perbedaan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana da'wah bil hal Islam dapat dikontekstualisasikan dalam berbagai setting budaya dan pendidikan
Cross-cultural da’wah: Internalization of hadith in the oral traditions of Urang Sunda
Purpose – This study aims to comprehensively examine how Sundanese idioms and oral traditions effectively transmit Islamic values derived from hadith within the context of cross-cultural da'wah
Method – This research employs a qualitative method with a descriptive approach, specifically utilizing content analysis and thematic analysis techniques to examine the intersection of Sundanese cultural idioms and Islamic hadith in da'wah practices.
Result – The Sundanese oral tradition in the form of proverbs is a form of local intelligence in understanding hadith as a source of Islamic teachings, which functions as a cross-cultural communicative competence to avoid misunderstandings due to differences in expectations, worldviews, and values. Cross-cultural da'wah emphasises the universality of Islam that transcends geographical and socio-cultural boundaries, leveraging universal human similarities and the dynamics of cultural change to convey Islamic messages to diverse community groups effectively.
Implication – The transformation of Arabic hadith into Sundanese proverbs shows that Islamic preaching can succeed when religious messages are communicated through local cultural forms familiar to the local community, without changing the essence of the teachings. The cross-cultural approach to da'wah through local oral traditions proves that Islam has a universal nature that can adapt to various socio-cultural contexts, thereby facilitating the acceptance and practice of Islamic teachings in the daily lives of the Sundanese people.
Originality/Value – This study addresses a critical gap in existing literature by providing the first comprehensive analysis of the direct relationship between Sundanese idioms and hadith within the specific context of da'wah, offering a novel holistic approach that considers deeply rooted local cultural factors in Sundanese society.
***
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk secara komprehensif mengkaji bagaimana idiom-idiom Sunda dan tradisi lisan secara efektif menyampaikan nilai-nilai Islam yang berasal dari hadis dalam konteks da'wah lintas budaya.
Metode – Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, khususnya dengan teknik analisis konten dan analisis tematik untuk mengkaji perpaduan antara idiom-idiom budaya Sunda dan hadis Islam dalam praktik da'wah.
Hasil – Tradisi lisan Sunda dalam bentuk peribahasa merupakan bentuk kecerdasan lokal dalam memahami hadis sebagai sumber ajaran Islam, yang berfungsi sebagai kompetensi komunikatif lintas budaya untuk menghindari kesalahpahaman akibat perbedaan ekspektasi, pandangan dunia, dan nilai-nilai. Da'wah lintas budaya menekankan universalitas Islam yang melampaui batas geografis dan sosio-budaya, memanfaatkan kesamaan manusia universal dan dinamika perubahan budaya untuk menyampaikan pesan-pesan Islam secara efektif kepada kelompok masyarakat yang beragam.
Implikasi – Transformasi hadis Arab menjadi peribahasa Sunda menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat berhasil ketika pesan-pesan agama disampaikan melalui bentuk-bentuk budaya lokal yang familiar bagi komunitas setempat, tanpa mengubah esensi ajaran tersebut. Pendekatan lintas budaya dalam dakwah melalui tradisi lisan lokal membuktikan bahwa Islam memiliki sifat universal yang dapat beradaptasi dengan berbagai konteks sosio-budaya, sehingga memudahkan penerimaan dan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.
Orisinalitas/Nilai – Studi ini mengatasi celah kritis dalam literatur yang ada dengan menyediakan analisis komprehensif pertama tentang hubungan langsung antara peribahasa Sunda dan hadis dalam konteks khusus dakwah, menawarkan pendekatan holistik baru yang mempertimbangkan faktor budaya lokal yang mendalam dalam masyarakat Sunda
The The nexus of management model and social transformation: A case study of da'wah strategy at the Jogokariyan mosque
Purpose – This study aims to analyze the da'wah strategy implemented by the Jogokariyan Mosque management in driving social transformation within the community of Mantrijeron, Yogyakarta.
Method – Using a qualitative approach with a case study design, the research explores the Mosque's da'wah strategy in depth through interviews, participatory observation, and documentation studies.
Result – These findings reveal that the success of the Mosque lies in synergizing modern management with da’wah through a comprehensive strategy that integrates three main approaches: sentimental, rational, and sensory-based. This approach is built upon three core pillars: transparent financial management using a ‘zero-balance’ principle, community economic empowerment through business capital programs and food assistance, and the restoration of the Mosque’s function as a diverse community activity center.
Implication – The study implies that Mosques can serve as effective and sustainable catalysts for socioeconomic development. The research result demonstrates that religious institutions can be relevant and solution-oriented agents of change in the modern era.
Originality/Value – This research addresses a gap in the existing literature regarding the Mosque's role as an agent of holistic change, especially given the persistent structural challenges, such as poverty and destructive social behaviors, prevalent in the area. Its originality lies in the integrated.
***
Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dakwah yang diterapkan oleh pengurus Masjid Jogokariyan dalam mendorong transformasi sosial di lingkungan masyarakat Mantrijeron, Yogyakarta.
Metode - Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi strategi dakwah Masjid secara mendalam melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi.
Hasil - Temuan ini mengungkapkan bahwa keberhasilan Masjid adalah mensinergikan antara manajemen modern dan dakwah dan strategi dakwah komprehensif yang mengintegrasikan tiga pendekatan utama: sentimental, rasional, dan berbasis sensorik. Pendekatan ini dibangun di atas tiga pilar inti: pengelolaan keuangan yang transparan dengan prinsip 'zero-balance', pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program modal usaha dan bantuan pangan, serta restorasi fungsi Masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat yang beragam
Implikasi - Studi ini menyiratkan bahwa Masjid dapat berfungsi sebagai katalis yang efektif dan berkelanjutan untuk pembangunan sosial-ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga keagamaan dapat menjadi agen perubahan yang relevan dan berorientasi pada solusi di era modern.
Orisinalitas/Nilai - Penelitian ini membahas kesenjangan dalam literatur yang ada mengenai peran Masjid sebagai agen perubahan holistik, terutama mengingat tantangan struktural yang terus-menerus seperti kemiskinan dan perilaku sosial yang merusak yang lazim di daerah tersebut. Orisinalitasnya terletak pada yang terintegrasi.
Creative content production strategies for religious outreach materials on social media
Purpose – This study formulates a strategic framework for religious counselors in producing creative and effective da’wah content on social media. It responds to the urgent need for transitioning from conventional sermon-based communication to multiplatform strategies that align with digital audience behavior and algorithmic engagement.
Method – An exploratory, qualitative design was employed, utilizing van Dijk's Critical Discourse Analysis (CDA). The dataset comprises 50 short videos purposively collected from TikTok, YouTube Shorts, and Instagram Reels (January–June 2025), selected based on their thematic relevance and audience engagement (more than 10,000 views or 100 likes). Each video was examined at macro (theme), mezzo (narrative), and micro (language) levels to identify meaning construction and ideological framing.
Result – The findings reveal that audience engagement in digital da'wah is primarily driven by brevity, emotional proximity, and contextual themes rather than clerical authority. Religious messages that employ informal storytelling, humor, and local language tend to achieve a stronger connection with the audience. These dynamics reflect a transformation of religious authority from institutional to participatory and algorithmic forms.
Implication – The study provides a practical model for religious counselors to enhance digital literacy, narrative creativity, and ethical awareness in content production. It encourages the institutionalization of digital training within religious outreach programs under the Ministry of Religious Affairs.
Originality/Value – This research fills a conceptual gap in the existing literature by integrating critical discourse analysis with creative media production. It contributes to the emerging scholarship on digital religion through a model that bridges theological communication, media literacy, and participatory culture.
***
Tujuan – Studi ini merumuskan kerangka kerja strategis bagi konselor agama dalam menghasilkan konten da’wah yang kreatif dan efektif di media sosial. Studi ini menanggapi kebutuhan mendesak untuk beralih dari komunikasi berbasis khotbah konvensional ke strategi multiplatform yang selaras dengan perilaku audiens digital dan keterlibatan algoritmik.
Metode – Desain eksploratif kualitatif digunakan, dengan memanfaatkan Analisis Diskursus Kritis (CDA) van Dijk. Data set terdiri dari 50 video pendek yang dikumpulkan secara purposif dari TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels (Januari–Juni 2025), dipilih berdasarkan relevansi tematik dan keterlibatan audiens (lebih dari 10.000 tayangan atau 100 suka). Setiap video dianalisis pada tingkat makro (tema), mezzo (narasi), dan mikro (bahasa) untuk mengidentifikasi konstruksi makna dan bingkai ideologis.
Hasil – Temuan menunjukkan bahwa keterlibatan audiens dalam da'wah digital terutama dipengaruhi oleh kesederhanaan, kedekatan emosional, dan tema kontekstual, bukan otoritas keagamaan. Pesan keagamaan yang menggunakan cerita informal, humor, dan bahasa lokal cenderung membangun koneksi yang lebih kuat dengan audiens. Dinamika ini mencerminkan transformasi otoritas keagamaan dari bentuk institusional menjadi partisipatif dan algoritmik.
Implikasi – Studi ini menyediakan model praktis bagi konselor agama untuk meningkatkan literasi digital, kreativitas naratif, dan kesadaran etis dalam produksi konten. Hal ini mendorong institusionalisasi pelatihan digital dalam program penyebaran agama di bawah Kementerian Agama.
Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini mengisi celah konseptual dalam literatur yang ada dengan mengintegrasikan analisis wacana kritis dengan produksi media kreatif. Hal ini berkontribusi pada perkembangan kajian tentang agama digital melalui model yang menghubungkan komunikasi teologis, literasi media, dan budaya partisipatif
Da'wah communication strategy for strengthening wasathiyah Islam in Surabaya: A case study of NU, Muhammadiyah, and Al-Irsyad
Purpose - This study aims to describe the communication strategies used by Islamic social organizations, NU, Muhammadiyah, and Al-Irsyad, in strengthening Islam wasathiyah in the city of Surabaya.
Method - Employing a qualitative phenomenological approach and using in-depth interviews with Islamic organizational figures.
Result - The research identifies five key strategies of da'wah communication: an integrated cultural strategy, a curriculum-based educational strategy, a social synergy strategy, a media-based strategy, and a collaborative strategy.
Implication – This study could encourage the activists of da’wah within Islamic organizations in Indonesia to a synergize their approach in disseminating wasathiyah Islam teachings as well as inclusive religious understanding.
Originality/Value - The novelty of this study lies in the up-to-date description of the dynamics of Islamic organizations’ da’wah communication strategies in Surabaya, particularly to strengthen Islam wasathiyah. Moreover, this study led to the discovery of “a synergistic moderate da'wah communication strategy”, which proposes that harmony between Islamic social organizations’ approach to disseminating moderate da'wah messages will create an inclusive religious understanding, thereby strengthening wasathiyah Islam in society.
***
Tujuan - Studi ini bertujuan untuk menguraikan strategi komunikasi dakwah organisasi sosial keislaman dalam memperkuat Islam wasathiyah di Kota Surabaya.
Metode - Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan fenomenologi, dan wawancara mendalam dilakukan kepada para tokoh dari ketiga organisasi keagamaan.
Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi dakwah organisasi sosial keislaman dalam memperkuat Islam wasathiyah di kota Surabaya mencakup beberapa strategi yaitu; strategi kultural terintegrasi, strategi pendidikan berbasis kurikulum, strategi sinergi sosial, strategi melalui media, dan strategi kolaborasi.
Implikasi– Penelitian ini dapat mendorong para pegiat dakwah antar organisasi sosial keagamaan di Indonesia untuk melakukan pendekatan komunikasi dakwah yang sinergis dalam upaya menyebarluaskan ajaran Islam wasathiyah sekaligus pemahaman keagamaan yang inklusif.
Orisinalitis/Nilai – Kebaruan studi ini terletak pada deskripsi terkini tentang dinamika strategi komunikasi dakwah organisasi sosial keagamaan di Surabaya, khususnya dalam memperkuat Islam wasathiyah. Lebih lanjut, studi ini menghasilkan temuan "strategi komunikasi dakwah moderat bersinergi", dengan proposisi bahwa keselarasan antara pendekatan Ormas Islam dalam menyebarkan pesan dakwah moderat akan menciptakan pemahaman keagamaan yang inklusif, sehingga memperkuat Islam wasathiyah di masyarakat
Promoting peaceful Islam: Strengthening religious moderation and P/CVE strategies for Indonesian female migrant workers
Purpose – The purpose of this study was to examine the involvement and vulnerability of Indonesian female migrant workers (FMWs) in violent extremism and terrorism, as well as to explore their potential role in promoting peaceful Islamic values as a counter-narrative.
Method – The population of this study consisted of 100 Muslim women who were formerly migrant workers. Data collection was conducted through a survey of all participants and in-depth interviews with 15 respondents using open-ended questions. The data were analyzed descriptively to identify patterns of vulnerability and opportunities for empowerment.
Result – The results showed that some Indonesian FMWs have been targeted and even recruited by extremist groups. However, the findings also indicate that with proper empowerment, FMWs can serve as agents of peace, strengthening religious moderation both domestically and internationally.
Implication – This study suggests the need for systematic programs that reinforce peaceful Islamic narratives, resilience, and empowerment among migrant communities as part of preventing and countering violent extremism (P/CVE).
Originality/Value – This research provides one of the first empirical insights into the nexus between female migrant workers and violent extremism in Indonesia, highlighting their strategic role as peacebuilders in P/CVE efforts.
***
Tujuan – Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji keterlibatan dan kerentanan pekerja migran perempuan Indonesia (PMPI) dalam ekstremisme kekerasan dan terorisme, serta mengeksplorasi peran potensial mereka dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang damai sebagai narasi alternatif.
Metode – Populasi studi ini terdiri dari 100 perempuan Muslim yang pernah menjadi pekerja migran. Pengumpulan data dilakukan melalui survei terhadap semua peserta dan wawancara mendalam dengan 15 responden menggunakan pertanyaan terbuka. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola kerentanan dan peluang pemberdayaan.
Hasil – Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa FMW Indonesia telah menjadi sasaran dan bahkan direkrut oleh kelompok ekstremis. Namun, temuan juga menunjukkan bahwa dengan pemberdayaan yang tepat, FMW dapat berperan sebagai agen perdamaian, memperkuat moderasi agama baik secara domestik maupun internasional.
Implikasi – Studi ini menyarankan perlunya program sistematis yang memperkuat narasi Islam yang damai, ketahanan, dan pemberdayaan di kalangan komunitas migran sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan (P/CVE).
Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini memberikan salah satu wawasan empiris pertama tentang hubungan antara pekerja migran perempuan dan ekstremisme kekerasan di Indonesia, menyoroti peran strategis mereka sebagai pembangun perdamaian dalam upaya P/CVE.
Public participation and multi-way communication in virtual space: Building deliberative democracy in the era of communicative plenty
Purpose - This study examines the phenomenon of Lapor Hendi in Semarang city as a communication channel to enhance public participation in the era of internet-based communication to address two key questions: how does citizen participation in virtual spaces through Lapor Hendi contribute to public policy-making and improving public service quality in Semarang City? How does this experience of participation impact deliberative communication and democracy in virtual spaces within Semarang City?
Method - To explore these questions, this study uses a qualitative method with a phenomenological approach that prioritises data collection through in-depth interviews, documentation, and analysis of netizens’ communication texts on social media connected to the Lapor Hendi website.
Result - The results showed that the experience of citizen participation with multi-way communication in expressing aspirations and shaping public discourse through Lapor Hendi has successfully introduced public deliberation into the policymaking processes concerning urban spatial development, public goods governance, and public services.
Implication - Qualitative study of the Lapor Hendi initiative in Semarang City offers significant insights into how deliberative democracy can be cultivated and developed in virtual spaces within the local Indonesian context.
Originality/Value - This study provides an alternative theory to procedural democracy, which is increasingly experiencing a legitimacy crisis and decline, by developing a communication channel in virtual space for building citizen engagement and democratic policies.
***
Tujuan - Studi ini mengkaji fenomena Lapor Hendi di Kota Semarang sebagai saluran komunikasi untuk meningkatkan partisipasi publik di era komunikasi berbasis internet guna menjawab dua pertanyaan kunci: bagaimana partisipasi warga dalam ruang virtual melalui Lapor Hendi berkontribusi pada pembentukan kebijakan publik dan peningkatan kualitas layanan publik di Kota Semarang? Bagaimana pengalaman partisipasi ini mempengaruhi komunikasi deliberatif dan demokrasi dalam ruang virtual di Kota Semarang?
Metode - Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang memprioritaskan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan analisis teks komunikasi netizen di media sosial yang terhubung dengan situs web Lapor Hendi.
Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman partisipasi warga dengan komunikasi dua arah dalam mengemukakan aspirasi dan membentuk diskursus publik melalui Lapor Hendi telah berhasil memperkenalkan deliberasi publik ke dalam proses pembentukan kebijakan terkait pengembangan ruang kota, tata kelola barang publik, dan layanan publik.
Implikasi - Studi kualitatif tentang inisiatif Lapor Hendi di Kota Semarang memberikan wawasan signifikan tentang bagaimana demokrasi deliberatif dapat dikembangkan dan ditumbuhkan di ruang virtual dalam konteks lokal Indonesia.
Orisinalitas/Nilai - Studi ini menawarkan teori alternatif terhadap demokrasi prosedural, yang semakin mengalami krisis legitimasi dan penurunan, dengan mengembangkan saluran komunikasi di ruang virtual untuk membangun keterlibatan warga dan kebijakan demokratis.