Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
206 research outputs found
Sort by
EMPOWERING INDONESIAN FEMALE DOMESTIC WORKERS
Transnational domestic work is a billion dollar business that has a great impact to economic development of both sending and receiving countries. In fact, women are the main actors of this business that involve multiple stakeholders from governmental and non-governmental institutions and private sectors. Realizing the importance position of the women is necessary to enhance policies, programs and services that will bring positive impact to their lives. Islamic community development studies might provide religious perspective that integrates with other disciplines of studies such as social work, public policy and analysis, and social development. It might contribute ideas, principles and values used for improving social and economic conditions of transnational domestic workers. Therefore, it is necessary to extend the concept of Dakwah from communication (dakwah bil-lisan) into creating social action and movement (dakwah bil-hal) for attain extensive social change.***Pekerjaan rumah tangga transnasional adalah bisnis miliar dolar yang memiliki dampak yang besar bagi pembangunan ekonomi kedua negara pengirim dan penerima. Bahkan, perempuan merupakan aktor utama bisnis ini yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah, dan sektor swasta. Menyadari posisi pentingnya perempuan perlu meningkatkan kebijakan, program dan layanan yang akan membawa dampak positif bagi kehidupan mereka. Studi pengembangan masyarakat Islam dapat memberikan perspektif agama yang terintegrasi dengan disiplin keilmuan lain dari berbagai disilin kelimuan seperti kerja sosial, kebijakan publik dan analisis, dan pembangunan sosial. Pengembangan masyarakat Islam dapat menyumbang-kan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang digunakan untuk meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi pekerja domestik-transnasional. Oleh karena itu, perlu untuk memperluas konsep Dakwah dari komunikasi (dakwah bil lisan-) dalam menciptakan aksi sosial dan gerakan (dakwah bil-HAL) untuk mencapai perubahan sosial yang luas
REINTERPRETASI GERAKAN DAKWAH FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)
Front Pembela Islam (FPI) is an Islamic socio-religious organization group in Indonesia. The members’ preaching ways are considerably radical, and often has appalled many people, especially in implementing “amar ma’ruf nahi munkar”. These radical actions have caused some fear, even violated human rights for some members of the community. This study, then, presents the facts by looking further interactions and implications of FPI’s social movement in da’wah activities. Thus, the symbol and propaganda on “amar ma’ruf nahi munkar” are possibly reconsidered based on the social conditions of surrounding communities. Taking an action as a law enforcer of values, norms, and social order in the community means neglecting the responsibility of the government.***Front Pembela Islam (FPI) adalah sebuah kelompok organisasi sosial keagamaan Islam di Indonesia. Cara berdakwah para anggota FPI yang radikal, sering menimbulkan terkejut banyak orang, terutama dalam menerapkan "amar ma'ruf nahi munkar". Tindakan radikal yang dilakukan oleh FPI telah menyebabkan rasa takut, bahkan melanggar hak asasi manusia (HAM) untuk beberapa anggota masyarakat. Dengan demikian penelitian ini menyajikan beberapa fakta dengan memperhatikan interaksi lebih lanjut dan implikasi dari gerakan sosial FPI dalam kegiatan dakwah. Dengan demikian, simbol dan propaganda tentang "amar ma'ruf nahi munkar" perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi sosial masyarakat sekitar. Mengambil tindakan sebagai penegak hukum, nilai-nilai, norma-norma dan tatanan sosial di masyarakat berarti mengabaikan tanggung jawab pemerintah
MENGENALKAN DAKWAH PADA ANAK USIA DINI
One of the important parts relating to education for children is teaching da’wah since their early age, so that it becomes a habit for their life till they reach adulthood. Da'wah is regarded as a good process of education and it really should refer to the Islamic values which is implemented to children since early age. If this education process can run well, it would generate younger generations who have strong commitment. Introducing da’wah in early childhood requires extra patience to understand the child's condition; like the pra-formal operational stage of cognitive growth process, so that it requires easily understandable methods for children in its implementation. There are some methods to introduce da’wah for children; namely singing, role model, role playing, field trips, poetry, and speeches.***Salah satu bagian penting yang harus mendapatkan perhatian terkait dengan pendidikan yang diberikan sejak usia dini adalah mengajarkan dakwah pada anak sejak dini, sehingga dakwah sudah menjadi kebiasaan dan menjadi bagian hidup anak ketika dewasa. Dakwah dipandang sebagai proses pendidikan yang baik dan benar-benar harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang diterapkan sedini mungkin kepada anak-anak. Apabila proses tersebut dapat berjalan dengan baik, maka akan muncul generasi muda yang memiliki komitmen yang kuat. Untuk mengenalkan dakwah pada anak usia dini membutuhkan kesabaran yang ekstra dengan memahami kondisi anak misalnya proses pertumbuhan kognitifnya yang masih dalam tahap pra operasional formal, sehingga membutuhkan metode dalam aplikasinya yang mudah difahami anak. Metode dalam mengenalkan dakwah pada anak melalui bernyanyi, tauladan, bermain peran, karya wisata, bersyair, dan berpidato
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT BERBASIS MASJID Studi Kasus di Masjid Baiturrahman Klidon Sinduharjo Ngaglik Sleman
In Indonesia todays, the number of mosques, according to the Indonesian Council of Mosques, is no less than 700 thousand mosques. This number represents the greatest number of mosques in the world. From the large number of those, only a small portion has still been developed for handling poverty problems. Based on ths issue, it is necessary examine the Baiturrahman Mosque in Klidon Sinduharjo Ngaglik Sleman. This study will investigate and describe the success of economic empowerment achieved by the mosque, especially in tackling the poverty problems among the surrounding congregation of societies. The study shows that the managements of Baiturrahman mosque operate some stages in empowering the local economy. First, they build management phases, such as building the perception of stakeholders regarding the mosque function, managing the mosque in accordance with modern management, and building success dreams. Second, they apply the management principles, such as serving the congregations, making innovation and creativity for them, giving and enhancing the congregations rule in the mosque. Third, they choose the right strategy, such as starting to do the simplest and easiest thing, as well as considering the ongrgations’ interests. ****Di Indonesia, jumlah masjid menurut Dewan Masjid Indonesia tidak kurang dari 700 ribu masjid. Jumlah ini merupakan jumlah terbesar dari masjid di dunia. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil masih dikembangkan untuk menangani masalah kemiskinan. Berdasarkan masalah tersebut, perlu melihat Masjid Baiturrahman di Klidon Sinduharjo Ngaglik Sleman. Peneliti-an ini akan menyelidiki dan menggambarkan keberhasilan pemberdayaan ekonomi yang dicapai oleh masjid, terutama dalam menanggulangi masalah kemiskinan di antara jama’ah sekitar masyarakat. Studi ini menunjukkan bahwa manajemen masjid Baiturrahman mengoperasikan beberapa tahapan dalam memberdayakan ekonomi lokal. Pertama, membangun manajemen, seperti membangun persepsi stakeholders mengenai fungsi masjid, mengelola masjid sesuai dengan manajemen modern, dan mimpi membangun kesuksesan. Kedua, menerapkan prinsip-prinsip manajemen, seperti melayani jama’ah, membuat inovasi dan kreativitas bagi mereka, memberikan dan meningkatkan jama’ah di masjid. Ketiga, memilih strategi yang tepat, seperti mulai melakukan hal yang sederhana dan mudah, serta mempertimbangkan kepentingan organisasi
DAKWAH RETORIS DALAM KARYA SASTRA NOVEL “HABIBIE & AINUN” KARYA BJ. HABIBIE
There should be at least four rethorical principles in conducting da’wah. The first principle is an emotional appeal, which means a kind of touching da’wah communication that involves emotions, expectation and affection of the mad’u. Secondly, the da’i (preacher) should use persuasive and gently ways as well as clear and understandable languages. Thirdly, he should understand the condition of community so his da’wah could become soothing. The last principle is enabling to give strong arguments. The novel might become a medium to deliver the messages of da’wah. The novel of Habibie & Ainun does not only a philological and romance novel, but also a kind of cultural, political and da’wah novel. Its feature is not only in using rhetorical language, but indeed it was also written based on personal stories including his life experiences and love story of a religious man that tremendously inspires the readers. In this novel, the rhetorical da'wah is expressed in various ways following the context of life journey as well as the writer’s mood and passion namely kinds of persuasive and touching da’wah, contextual da’wah, and argumentative rethorical da’wah.***Prinsip Retorika dalam berdakwah paling tidak mengandung empat hal: emotional appeals (imbauan emosional) yakni sebuah tindak komunikasi dakwah yang menyentuh hati sasaran dakwah, melibatkan emosi, harapan dan kasih sayang;menggunakan bahasapersuasive, lemah lembut, jelas, dan mudah dipahami; memahami kondisi masyarakat sehingga mengarah pada dakwah yang menyejukkan hati; dan disertai dengan argumentasi yang kuat. Novel dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah.Novel Habibie & Ainun, bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tetapi juga novel budaya, politik dan novel dakwah.Dan keistimewaan Novel Habibie & Ainun ini disamping bahasanya yang retoris, adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, novel ini ditulis oleh pengarangnya berdasarkan kisah pribadi, apa yang terjadi dalam hidupnya, sebuah kisah cinta insan beriman yang memberi insprirasi yang luar biasa bagi pembaca. Dakwah retoris dalamnovel ini terpancar dalam berbagai bentuk mengiringi situasi perjalanan hidup, kejiwaan dan emosi sang penulis, ada dakwah retoris menyentuh hati, persuasive, memperhatikan kondisi sasaran dakwah hingga retorika argumentatif
DAKWAH PADA KORBAN BENCANA ALAM DAN BENCANA SOSIAL
Disaster is a kind of incidents disrupting normal conditions and resulting in misery and deprivation for some people who go through. It comprises of two types: natural disasters and social disasters that are caused by humans. These two might bring great psychological impacts and deep trauma that requires particular treatments to the victims. This kind of victims is considered as the da’wah addressee (mad'u) with special needs because the psychological condition they suffer has given a significant effect for their life. One of the ways to recover their suffering is through preaching da’wah. There are some forms of da’wah to cope with their conditions; namely by using irsyad and Islamic tathwir. While the da’wah methods are by using mau'idzah al hasanah, bil maal, bil haal, and group action.***Bencana merupakan kejadian yang menggangu keadaan dalam kondisi normal dan mengakibatkan penderitaan yang melampui kapasitas penyesuaian individu atau komunitas yang mengalaminya. Bencana terdiri dari dua jenis yaitu : bencana alam dan bencana sosial yang disebabkan oleh manusia. Dampak bencana ini membawa akibat secara psikologis dan trauma yang sangat mendalam yang membutuhkan penanganan. Mad’u korban bencana ini dapat dikatakan mad’u dengan kebutuhan khusus karena kondisi psikologis yang diderita memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi kehidupan yang harus dijalani. Salah satu cara untuk menanganinya adalah dengan jalan dakwah. Terdapat bentuk-bentuk dakwah untuk menangani korban bencana yaitu dengan dakwah bentuk irsyad dan tathwir islam dan metode-metode dakwah yang digunakan yaitu metode mau’idzah al hasanah, bil mal, bil hal dan aksi kelompok