Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
    206 research outputs found

    Digital innovation in islamic guidance: Fuzzy mamdani-based stress level detection for muslim adolescents

    Full text link
    Purpose - The purpose of this study is to address the urgent need for a reliable and accessible preliminary assessment tool for mental health issues among Indonesian adolescents, a demographic significantly impacted by recent societal changes and showing high rates of psychological distress (e.g., 34.9% experiencing mental problems per I-NAMHS 2022) Method - The methodology employed is the design and development of a web-based expert system utilizing Fuzzy Logic to diagnose stress symptoms. The system is structured with four core components (User Interface, Knowledge Base, Inference Mechanism, Working Memory) and incorporates Fuzzy Tsukamoto/Mamdani/Sugeno principles for mapping firm numerical symptom inputs to linguistic variables through Fuzzification and Defuzzification processes. Result  -  The result (anticipated/achieved) is a functional, dual-role web system (Admin/User) capable of providing objective, preliminary stress categorization, thereby serving as a first step toward early intervention. Implication – The implication of this work is twofold: clinically, it provides an immediate, non-expert-dependent tool for initial screening; ethically and religiously, it supports the collective obligation (fard kifayah) to safeguard youth mental well-being and maintain their fitrah. Originality/Value - The originality of this research lies in the specific integration of Fuzzy Logic reasoning within a web-based expert system tailored explicitly to the Indonesian adolescent context for stress awareness and preliminary diagnosis.*** Tujuan - Tujuan studi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan mendesak akan alat penilaian awal yang andal dan mudah diakses untuk masalah kesehatan mental di kalangan remaja Indonesia, kelompok demografis yang sangat terdampak oleh perubahan sosial terkini dan menunjukkan tingkat gangguan psikologis yang tinggi (misalnya, 34,9% mengalami masalah mental menurut I-NAMHS 2022) Metode - Metode yang digunakan adalah desain dan pengembangan sistem pakar berbasis web yang memanfaatkan Logika Fuzzy untuk mendiagnosis gejala stres. Sistem ini terdiri dari empat komponen inti (Antarmuka Pengguna, Basis Pengetahuan, Mekanisme Inferensi, Memori Kerja) dan mengintegrasikan prinsip-prinsip Fuzzy Tsukamoto/Mamdani/Sugeno untuk memetakan masukan numerik gejala yang pasti ke variabel linguistik melalui proses Fuzzifikasi dan Defuzzifikasi. Hasil - Hasil (diperkirakan/tercapai) adalah sistem web fungsional dengan dua peran (Admin/Pengguna) yang mampu memberikan kategorisasi stres awal yang objektif, sehingga berfungsi sebagai langkah awal menuju intervensi dini. Implikasi – Implikasi dari penelitian ini dua arah: secara klinis, menyediakan alat skrining awal yang segera dan tidak bergantung pada ahli; secara etis dan agama, mendukung kewajiban kolektif (fard kifayah) untuk melindungi kesejahteraan mental remaja dan menjaga fitrah mereka. Orisinalitas/Nilai - Keaslian penelitian ini terletak pada integrasi spesifik logika fuzzy dalam sistem pakar berbasis web yang dirancang khusus untuk konteks remaja Indonesia dalam kesadaran stres dan diagnosis awal

    The impact of cultural interaction on the effectiveness of muslimah da'wah communication in Indonesia

    Full text link
    Purpose – The study is to explore how cultural factors influence the delivery and reception of Islamic teachings by Muslimah da’wah practitioners and the communities they engage with. Method – This study employs a qualitative research design, collecting data through in-depth interviews with Muslimah da'wah activists, community leaders, and recipients of da'wah messages in various regions of Indonesia. The study found that cultural values and traditions significantly shape the way da'wah messages are communicated and accepted, with regional variations influencing the effectiveness of these communications. Result  -  The results indicate that Muslimah da'wah practitioners who incorporate local cultural elements into their messages are more successful in engaging their audiences. This study emphasizes the significance of cultural sensitivity in da'wah practices and provides valuable insights into enhancing the effectiveness of Muslimah da'wah in Indonesia. The findings suggest that understanding and adapting to cultural contexts is essential for improving communication strategies in religious outreach. Implication – The implications of this research are significant for both da’wah practitioners and scholars of Islamic communication, emphasizing the need for a culturally informed approach to religious communication. Originality / Value – The study examines the impact of cultural interaction on the effectiveness of da'wah in Indonesia, providing unique insights into how cultural factors influence Muslimah da'wah communication strategies and highlighting the importance of cultural sensitivity in religious outreach. *** Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana faktor budaya memengaruhi penyampaian dan penerimaan ajaran Islam oleh para praktisi da’wah Muslimah serta masyarakat yang mereka jangkau. Metode – Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan aktivis da’wah Muslimah, pemimpin komunitas, dan penerima pesan da’wah di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa nilai dan tradisi budaya secara signifikan membentuk cara pesan da’wah disampaikan dan diterima, dengan variasi regional yang memengaruhi efektivitas komunikasi tersebut. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktisi da’wah Muslimah yang mengintegrasikan unsur-unsur budaya lokal dalam pesan mereka lebih berhasil dalam melibatkan audiens mereka. Penelitian ini menyoroti pentingnya sensitivitas budaya dalam praktik da’wah dan memberikan wawasan berharga untuk meningkatkan efektivitas da’wah Muslimah di Indonesia. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemahaman dan penyesuaian terhadap konteks budaya sangat penting untuk memperbaiki strategi komunikasi dalam penyuluhan agama. Implikasi – Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan bagi praktisi da’wah dan akademisi komunikasi Islam, dengan menekankan perlunya pendekatan komunikasi agama yang peka terhadap budaya. Orisinalitas / Nilai – Penelitian ini menggali dampak interaksi budaya terhadap efektivitas da’wah di Indonesia, memberikan wawasan unik tentang bagaimana faktor budaya membentuk strategi komunikasi da’wah Muslimah dan menekankan pentingnya sensitivitas budaya dalam penyuluhan agama.

    Revitalization of irsyad's da'wah: Transformation of Santri through riyadhah an-nafs

    Full text link
    Purpose – The purpose of this study was to examine the revitalization of Irsyad’s da’wah through the implementation of riyadhah an-nafs as a means of transforming the character and spirituality of santri in Islamic boarding schools Method – The population of this study consisted of santri from a modern Islamic boarding school in Indonesia. The study employed a qualitative approach, utilizing phenomenological methods. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The data analysis employed thematic analysis to identify patterns of spiritual transformation. Result – The results showed that the practice of riyadhah an-nafs, including self-discipline, muhasabah, and spiritual exercises, significantly contributed to santri’s moral awareness, self-regulation, and da’wah orientation. These changes reinforced the essence of Irsyad’s da’wah as a guidance-based, transformative process. Implication – This method suggests that integrating Riyadhah an-nafs into pesantren curricula can effectively enhance the spiritual resilience and leadership capacity of santri in carrying out da'wah missions. Originality/Value – This study offers a novel integration between classical Islamic spiritual training and contemporary da’wah revitalization, emphasizing the role of inner transformation as a foundation for sustainable character development. *** Tujuan – Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji revitalisasi da’wah Irsyad melalui penerapan riyadhah an-nafs sebagai sarana transformasi karakter dan spiritualitas santri di pesantren Islam. Metode – Populasi penelitian ini terdiri dari santri dari sebuah pesantren Islam modern di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola transformasi spiritual. Hasil – Hasil menunjukkan bahwa praktik riyadhah an-nafs, termasuk disiplin diri, muhasabah, dan latihan spiritual, secara signifikan berkontribusi pada kesadaran moral, pengaturan diri, dan orientasi dakwah santri. Perubahan ini memperkuat esensi dakwah Irsyad sebagai proses transformatif berbasis bimbingan. Implikasi – Metode ini menyarankan bahwa integrasi Riyadhah an-nafs ke dalam kurikulum pesantren dapat secara efektif meningkatkan ketahanan spiritual dan kapasitas kepemimpinan santri dalam melaksanakan misi da’wah. Orisinalitas/Nilai – Studi ini menawarkan integrasi baru antara pelatihan spiritual Islam klasik dan revitalisasi da’wah kontemporer, dengan menekankan peran transformasi batin sebagai landasan untuk pengembangan karakter yang berkelanjutan

    Lived da'wah: Temporal structuring of religious practice in Tabligh jamaat's daily congregation

    Full text link
    Purpose - The main objective of this study is to understand the daily routine of Jemaah Tabligh deeply and to analyze how they integrate various aspects of da'wah (proselytizing) into their daily practices. Method - This research employs a qualitative method, specifically phenomenology, and the data source consists of individual in-depth interviews. All data were analyzed using the Miles and Huberman technique. Result - The analysis shows that the khuruj activities carried out by the Tabligh Jamaat group are divided into four daily routines: from early morning to morning, with seven activities; in the afternoon, with six activities; in the evening, with four activities; and at night, with six activities. This demonstrates that the Jamaah Tabligh group is a highly structured, disciplined, and organized entity in its missionary work. Implication – Based on studies of the Tabligh Jamaat movement, da'wah in the modern era can adopt several key strategies. First, it is important to establish consistent, structured routines, as demonstrated by the Tabligh Jamaat, to maintain the enthusiasm and commitment of members. Second, participatory learning methods such as halaqah should be intensified so that congregants can actively engage in discussions rather than merely passively receiving information. Third, focus on self-improvement (ishlah diri) and setting a good example (uswah hasanah), which are essential points, as da'wah must begin with oneself and be demonstrated through daily behavior. Fourth, the use of symbolic values through simple activities such as eating together can be an effective way to strengthen brotherhood and Islamic values. Originality/Value - The originality of this study lies in its in-depth analysis of Jemaah Tabligh's daily lifestyle and da'wah routines, which emulate the Prophet Muhammad's da'wah practices, providing a unique insight into the implementation of traditional da'wah in the modern era. *** Tujuan - Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami rutinitas harian Jemaah Tabligh secara mendalam dan menganalisis bagaimana mereka mengintegrasikan berbagai aspek da'wah (penyebaran agama) ke dalam praktik harian mereka. Metode - Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, khususnya fenomenologi, dan sumber data terdiri dari wawancara mendalam individu. Semua data dianalisis menggunakan teknik Miles dan Huberman. Hasil - Analisis menunjukkan bahwa aktivitas khuruj yang dilakukan oleh kelompok Tabligh Jamaat dibagi menjadi empat rutinitas harian: dari pagi buta hingga pagi hari, dengan tujuh aktivitas; siang hari, dengan enam aktivitas; sore hari, dengan empat aktivitas; dan malam hari, dengan enam aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok Jamaah Tabligh merupakan entitas yang sangat terstruktur, disiplin, dan terorganisir dalam pekerjaan misionarisnya. Implikasi – Berdasarkan studi tentang gerakan Tabligh Jamaat, dakwah di era modern dapat mengadopsi beberapa strategi kunci. Pertama, penting untuk menetapkan rutinitas yang konsisten dan terstruktur, seperti yang ditunjukkan oleh Tabligh Jamaat, untuk mempertahankan antusiasme dan komitmen anggota. Kedua, metode pembelajaran partisipatif seperti halaqah harus ditingkatkan agar jamaah dapat aktif berpartisipasi dalam diskusi daripada hanya menerima informasi secara pasif. Ketiga, fokus pada perbaikan diri (ishlah diri) dan memberikan teladan yang baik (uswah hasanah), yang merupakan poin penting, karena dakwah harus dimulai dari diri sendiri dan ditunjukkan melalui perilaku sehari-hari. Keempat, penggunaan nilai-nilai simbolis melalui aktivitas sederhana seperti makan bersama dapat menjadi cara efektif untuk memperkuat persaudaraan dan nilai-nilai Islam. Orisinalitas/Nilai - Keaslian studi ini terletak pada analisis mendalamnya terhadap gaya hidup sehari-hari dan rutinitas da'wah Jemaah Tabligh, yang meniru praktik da'wah Nabi Muhammad, memberikan wawasan unik tentang implementasi da'wah tradisional di era modern

    The role of nusantara ulama’s da’wah in islamic moderation: A critique of blackwater and peripheral in Islamic studies

    Full text link
    Purpose - This study aims to analyze the role of Nusantara ulama’s da’wah in promoting Islamic moderation as a response to global narratives that often marginalize peripheral Islamic traditions, as represented by the Blackwater symbol. Method - This research employs a qualitative approach using the library research method. Data were collected from various literature sources and analyzed descriptively and analytically. Result  -  The findings indicate that Nusantara ulama play a significant role in fostering Islamic moderation by integrating Islamic values with local wisdom. Nusantara Islam, characterized by its tolerance, inclusiveness, and flexibility, has proven to be a relevant model for Islamic moderation in global discourse. The narrative of Nusantara Islam addresses critiques of the marginalization of Southeast Asia as "peripheral Islam". It demonstrates that Islam can develop peacefully through processes of vernacularization and indigenization without losing its universal essence. Implication – This study underscores the importance of strengthening the study of Nusantara Islam in global discourse to offer an alternative to Islam's often conflictual and homogenizing narratives. Originality/Value - This research contributes by linking the da’wah of Nusantara ulama and the concept of Islamic moderation with critiques of global symbolism, such as Blackwater. *** Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran da’wah ulama Nusantara dalam mempromosikan moderasi Islam sebagai respons terhadap narasi global yang seringkali mengabaikan tradisi Islam di pinggiran, sebagaimana diwakili oleh simbol Blackwater. Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian perpustakaan. Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur dan dianalisis secara deskriptif dan analitis. Hasil  -  Temuan menunjukkan bahwa ulama Nusantara memainkan peran penting dalam memajukan moderasi Islam dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kebijaksanaan lokal. Islam Nusantara, yang ditandai dengan toleransi, inklusivitas, dan fleksibilitas, telah terbukti menjadi model yang relevan untuk moderasi Islam dalam diskursus global. Narasi Islam Nusantara menanggapi kritik terhadap marginalisasi Asia Tenggara sebagai “Islam periferal”. Ia menunjukkan bahwa Islam dapat berkembang secara damai melalui proses vernacularisasi dan indigenisasi tanpa kehilangan esensi universalnya. Implikasi – Penelitian ini menekankan pentingnya memperkuat studi Islam Nusantara dalam diskursus global untuk menawarkan alternatif terhadap narasi Islam yang seringkali konflik dan homogenisasi. Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini berkontribusi dengan menghubungkan dakwah ulama Nusantara dan konsep moderasi Islam dengan kritik terhadap simbolisme global, seperti Blackwater

    Phenomenon of digital da’wah: Analysis of religious moderation and the ethics of da’wah communication on social media

    Full text link
    Purpose – This study analysis the phenomenon of digital da'wah, focusing on religious moderation and the ethics of da'wah communication using a virtual ethnographic approach. Two controversial case studies are presented in this study: Gus Miftah and an iced tea seller, as well as da'wah in unconventional spaces (Bethel Indonesia Church and a nightclub). Method – This study uses a qualitative, virtual ethnographic approach to analyse the phenomenon of digital da'wah on social media. Result – The research findings show that, First, the implementation of religious moderation in digital da'wah requires a more careful approach in balancing freedom of expression with social responsibility. Second, Preachers need to develop digital competencies that include not only technical skills, but also an understanding of digital communication ethics and the social impact. Third, the role of social media algorithms in shaping public perception of da'wah messages is crucial. Implication – This research contributes to the development of a framework for ethical and moderate digital da'wah. Originality/Value – This study examines the phenomenon of digital da'wah in the era of social media with a focus on religious moderation (digital wasathiyyah) and ethics of da'wah communication. *** Tujuan – Studi ini menganalisis fenomena da'wah digital, dengan fokus pada moderasi agama dan etika komunikasi da'wah menggunakan pendekatan etnografi virtual. Dua studi kasus yang kontroversial dipresentasikan dalam studi ini: Gus Miftah dan penjual teh es, serta da'wah di ruang-ruang tidak konvensional (Gereja Bethel Indonesia dan klub malam). Metode – Studi ini menggunakan pendekatan etnografi virtual kualitatif untuk menganalisis fenomena da'wah digital di media sosial. Hasil – Temuan penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, implementasi moderasi agama dalam da'wah digital memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial. Kedua, para da'wah perlu mengembangkan kompetensi digital yang mencakup tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang etika komunikasi digital dan dampaknya terhadap masyarakat. Ketiga, peran algoritma media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap pesan dakwah sangat krusial. Implikasi – Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka kerja untuk dakwah digital yang etis dan moderat. Orisinalitas/Nilai – Studi ini mengkaji fenomena dakwah digital di era media sosial dengan fokus pada moderasi agama (digital wasathiyyah) dan etika komunikasi dakwah

    Transformation of religious authority in the digital era: A post-normal times analysis by Ziauddin Sardar on the phenomenon of social media da’wah

    Full text link
    Purpose – This study aims to analyze how digital transformation in Islam has altered the structure of religious authority, using the Post-Normal Times (PNT) approach developed by Ziauddin Sardar. Method – This research employs a qualitative-descriptive approach, analyzing the digital da’wah phenomenon, specifically social media's role in shaping religious authority. Result – The findings indicate that the digitalization of religion has caused a shift in religious authority from the traditional hierarchy dominated by scholars and religious institutions to a popularity-based authority, where figures like celebrity preachers and Islamic influencers have become dominant. Social media facilitates the spread of da’wah, but also gives rise to phenomena such as instant fatwas, fragmentation of religious teachings, and the commodification of religion. In the Post-Normal Times framework, the uncertainty of authority increases, where algorithms and popularity replace traditional scholarly credibility. Implication – This study has significant implications for managing digital da’wah, religious literacy, and the need for regulation to minimize negative impacts, such as spreading misinformation and oversimplifying religious teachings. Originality/Value – This study offers an original contribution by applying the Post-Normal Times theory to analyze changes in religious authority within the context of digital da’wah, a topic not widely discussed in the literature on religion and social media. *** Tujuan - Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana transformasi digital dalam Islam telah mengubah struktur otoritas agama, menggunakan pendekatan Post-Normal Times (PNT) yang dikembangkan oleh Ziauddin Sardar.  Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, menganalisis fenomena da’wah digital, khususnya peran media sosial dalam membentuk otoritas agama. Hasil - Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi agama telah menyebabkan pergeseran otoritas agama dari hierarki tradisional yang didominasi oleh ulama dan lembaga agama ke otoritas berbasis popularitas, di mana figur seperti pendakwah selebriti dan influencer Islam menjadi dominan. Media sosial memfasilitasi penyebaran da’wah, tetapi juga menimbulkan fenomena seperti fatwa instan, fragmentasi ajaran agama, dan komodifikasi agama. Dalam kerangka Post-Normal Times, ketidakpastian otoritas meningkat, di mana algoritma dan popularitas menggantikan kredibilitas ulama tradisional. Implikasi – Studi ini memiliki implikasi signifikan dalam mengelola da’wah digital, literasi agama, dan kebutuhan regulasi untuk meminimalkan dampak negatif, seperti penyebaran informasi yang salah dan penyederhanaan berlebihan ajaran agama.  Orisinalitas/Nilai – Studi ini memberikan kontribusi asli dengan menerapkan teori Post-Normal Times untuk menganalisis perubahan otoritas agama dalam konteks da’wah digital, topik yang belum banyak dibahas dalam literatur tentang agama dan media sosial

    Challenges and development of contemporary islamic da'wah in Japan, South Korea, and Taiwan

    Full text link
    Purpose – This study aims to identify various challenges and developments of contemporary Islamic da'wah in Japan, South Korea, and Taiwan. Method – This research relies on a qualitative approach with a literature study method, where data is collected through searching written sources such as books, academic journals, news articles, historical documents, and online publications related to the development of Islamic da'wah in Japan, South Korea, and Taiwan. Result – Da'is (Islamic preacher) in Japan, South Korea, and Taiwan face several challenges in spreading Islam, such as: (1) The World Trade Center incident in the United States on September 11, 2001 which negatively impacted the image of Islam among East Asia society; (2) Problems related to funerals; (3) Difficulty in finding a place to perform ablution; (4) Difficulties in integrating Islamic values into East Asia traditions, and; (5) The difficulty of the older generation in passing on Islamic knowledge to the younger generation. Implication – This research could encourage: (1) Train and empower Muslim youth in the region so that they can develop a da'wah approach that integrates Islamic teachings with culture and technology, as well as have broad insights and always follow the latest developments; (2) Understand the characteristics, interests, and needs of the local community; (3) Linking Islamic teachings to relevant social issues and offering inspiring solutions, and; (4) Muslims in the region are expected to demonstrate good behaviour and be consistent with the Islamic teachings they preach. Originality/Value – The novelty of this study lies in the more comprehensive and up-to-date presentation of the dynamics of Islam in East Asia, especially related to da'wah challenges and strategies in Japan, South Korea, and Taiwan. With a focus on a wide period, from 1950 to 2025, this study not only provides insight into the changing attitudes and acceptance of Islam by society but also presents recommendations for developing more effective da'wah strategies in the future. *** Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai tantangan dan perkembangan da'wah Islam kontemporer di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Metode – Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, di mana data dikumpulkan melalui pencarian sumber tertulis seperti buku, jurnal akademik, artikel berita, dokumen historis, dan publikasi online yang berkaitan dengan perkembangan da'wah Islam di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Hasil – Da'is (penyebar ajaran Islam) di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menghadapi beberapa tantangan dalam menyebarkan Islam, antara lain: (1) Insiden World Trade Center di Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang berdampak negatif terhadap citra Islam di masyarakat Asia Timur; (2) Masalah terkait upacara pemakaman; (3) Kesulitan menemukan tempat untuk berwudhu; (4) Kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi Asia Timur, dan; (5) Kesulitan generasi tua dalam meneruskan pengetahuan Islam kepada generasi muda. Implikasi – Penelitian ini dapat mendorong: (1) Melatih dan memberdayakan pemuda Muslim di wilayah tersebut agar dapat mengembangkan pendekatan da'wah yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya dan teknologi, serta memiliki wawasan yang luas dan selalu mengikuti perkembangan terbaru; (2) Memahami karakteristik, minat, dan kebutuhan masyarakat lokal; (3) Menghubungkan ajaran Islam dengan isu-isu sosial yang relevan dan menawarkan solusi yang inspiratif, dan; (4) Muslim di wilayah tersebut diharapkan menunjukkan perilaku yang baik dan konsisten dengan ajaran Islam yang mereka ajarkan. Orisinalitas/Nilai – Keunikan studi ini terletak pada penyajian yang lebih komprehensif dan terkini mengenai dinamika Islam di Asia Timur, terutama terkait tantangan dan strategi dakwah di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Dengan fokus pada periode yang luas, dari 1950 hingga 2025, penelitian ini tidak hanya memberikan wawasan tentang perubahan sikap dan penerimaan Islam oleh masyarakat tetapi juga menyajikan rekomendasi untuk mengembangkan strategi dakwah yang lebih efektif di masa depan

    Packaging religion through training: Da'wah commodification among middle-class muslim women in Indonesia

    Full text link
    Purpose – This article examines the phenomenon of the commodification of da'wah through religious training programs targeted at middle-class Muslim women in contemporary Indonesia, specifically the Spiritual Motherhood and Miracle Women trainings. Method – The study employs an ethnographic approach, collecting data through participant observation, interviews, and document analysis. Result – The results showed that distinctive patterns in these da'wah trainings: they are held in prestigious venues, involve speakers and participants predominantly from the middle class—especially women—and maintain ongoing communication networks among alums. The commodification of religion within these trainings is evident in branded material packaging, training fees and discounts, the use of celebrity figures, and book production. Implication – This study asserts that commodification serves as a means to present and frame Islamic values, reflecting the dynamics of religious adaptation within a society increasingly influenced by consumer culture. These findings encourage critical reflection on the practices and directions of da'wah in the modern era. Originality/Value – This research is the first study on packaging preaching through paid spiritual training, such as Spiritual Motherhood and Miracle Women. *** Tujuan – Artikel ini mengkaji fenomena komodifikasi da'wah melalui program pelatihan keagamaan yang ditujukan bagi perempuan Muslim kelas menengah di Indonesia kontemporer, khususnya program Spiritual Motherhood dan Miracle Women. Metode – Studi ini menggunakan pendekatan etnografis, mengumpulkan data melalui observasi partisipan, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil – Hasil penelitian menunjukkan pola khas dalam program-program da'wah ini: diselenggarakan di tempat-tempat prestisius, melibatkan pembicara dan peserta yang sebagian besar berasal dari kelas menengah—terutama perempuan—serta mempertahankan jaringan komunikasi berkelanjutan di antara alumni. Komodifikasi agama dalam program-program ini terlihat jelas melalui kemasan materi bermerk, biaya pelatihan dan diskon, penggunaan figur selebriti, serta produksi buku. Implikasi – Studi ini menegaskan bahwa komodifikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyajikan dan membingkai nilai-nilai Islam, mencerminkan dinamika adaptasi agama dalam masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh budaya konsumerisme. Temuan ini mendorong refleksi kritis terhadap praktik dan arah da'wah di era modern. Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini merupakan studi pertama yang mengkaji kemasan dakwah melalui pelatihan spiritual berbayar, seperti Spiritual Motherhood dan Miracle Women

    Gratitude and resilience among muslim students in Indonesia

    Full text link
    Purpose – This study aims to determine the level of gratitude and resilience among students;  to examine the effect of gratitude on the resilience of students at State Islamic Universities in Indonesia Method – This study is quantitative. The number of respondents was 571 from 18 PTKIN in Indonesia. The resilience scale used the Adult Personal Resilience Scale (APRS-20), and the gratitude scale used the Islamic Gratitude Scale (IGS-10). The construct validity and reliability tests used Confirmatory Factor Analysis (CFA). Resilience and gratitude levels were analyzed using descriptive statistics, while the effect test used simple linear regression analysis with the Jamovi application. Result  -  The results of the study show that student gratitude is in the very high category (67.78%), and resilience is in the high category (60.07%). Gratitude has a positive and significant effect on student resilience. The higher the level of student gratitude, the higher the level of resilience. The coefficient of determination (R² = 0.295) indicates that gratitude accounts for 29.5% of the variance in resilience, while the remaining 70.5% is attributed to other factors beyond the scope of this study. Implication – reinforces previous theories and findings that gratitude is closely related to psychological well-being and resilience; universities can develop gratitude-based guidance and counseling programs to improve student resilience; the campus community can create a culture of gratitude that encourages students to be more optimistic, supportive of one another, and able to face difficulties with a positive attitude. Originality/Value – This study is novel in terms of its respondent coverage, comprising PTKIN students from 18 universities in Indonesia. *** Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat rasa syukur dan resiliensi di kalangan mahasiswa;  untuk menganalisis pengaruh rasa syukur terhadap ketahanan mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia Metode – Penelitian ini bersifat kuantitatif. Jumlah responden sebanyak 571 orang dari 18 PTKIN di Indonesia. Skala ketahanan menggunakan Adult Personal Resilience Scale (APRS-20), sedangkan skala rasa syukur menggunakan Islamic Gratitude Scale (IGS-10). Uji validitas konstruk dan reliabilitas menggunakan Analisis Faktor Konfirmatory (CFA). Tingkat ketahanan dan rasa syukur dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan uji pengaruh menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan aplikasi Jamovi. Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat rasa syukur mahasiswa berada pada kategori sangat tinggi (67,78%), sedangkan tingkat ketahanan berada pada kategori tinggi (60,07%). Rasa syukur memiliki efek positif dan signifikan terhadap ketahanan mahasiswa. Semakin tinggi tingkat rasa syukur mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat ketahanan mereka. Koefisien determinasi (R² = 0,295) menunjukkan bahwa rasa syukur menjelaskan 29,5% varians dalam ketahanan, sementara 70,5% sisanya disebabkan oleh faktor lain di luar lingkup penelitian ini. Implikasi – memperkuat teori dan temuan sebelumnya bahwa rasa syukur erat kaitannya dengan kesejahteraan psikologis dan ketahanan; perguruan tinggi dapat mengembangkan program bimbingan dan konseling berbasis rasa syukur untuk meningkatkan ketahanan mahasiswa; komunitas kampus dapat menciptakan budaya rasa syukur yang mendorong mahasiswa untuk lebih optimis, saling mendukung, dan mampu menghadapi kesulitan dengan sikap positif. Orisinalitas/Nilai – Studi ini bersifat inovatif dalam hal cakupan respondennya, yang meliputi mahasiswa PTKIN dari 18 universitas di Indonesia.

    191

    full texts

    206

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Dakwah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇