Repository Universitas Negeri Jakarta

Repository Universitas Negeri Jakarta
Not a member yet
    39193 research outputs found

    PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 4-5 TAHUN PADA MASA TRANSISI (PENELITIAN KUALITATIF DESKRIPTIF DI TK ISLAM AL-AZHAR 13 RAWAMANGUN)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam mengembangkan kemandirian anak usia 4-5 tahun pada masa transisi masuk sekolah di TK Islam Al Azhar 13 Rawamangun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian berfokus pada dua guru kelas A dan 23 anak usia 4-5 tahun. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menjalankan tiga peran dalam mengembangkan kemandirian anak usia 4-5 tahun di masa transisi, yaitu sebagai model, fasilitator, dan motivator. Sebagai model, guru memberikan keteladanan dengan mencontohkan cara mengurus diri sendiri, seperti memakai sepatu, membawa alat makan, merapikan barang, hingga mencontohkan bagaimana berkenalan dan berbagi dengan teman. Sebagai fasilitator, guru menyediakan lingkungan dan sarana yang menstimulasi anak untuk mandiri, seperti penayangan video merapikan mainan sendiri, menyediakan mainan di koridor selama dua pekan awal agar anak dapat berpisah dari orang tua dan beradaptasi dari lingkungan rumah ke sekolah serta berbaur dengan teman, menyiapkan penyimpanan sesuai ukuran anak, serta memberi kesempatan anak menyelesaikan kegiatannya sendiri tanpa dominasi guru. Sebagai motivator, guru memberikan dorongan dan penguatan positif, baik verbal maupun nonverbal, seperti pujian, pelukan, dan kata semangat ketika anak berusaha melakukan kegiatan secara mandiri. Ketiga peran tersebut berkontribusi mengembangkan kemandirian anak usia 4-5 tahun, baik dalam aspek fisik untuk mengurus diri sendiri maupun aspek sosial-emosi, seperti datang ke sekolah tanpa menangis, berinteraksi, dan berbagi. Guru disarankan untuk terus menumbuhkan kemandirian anak melalui keteladanan, penyediaan fasilitas dan kesempatan, serta pemberian motivasi secara konsisten dalam kegiatan pembelajaran. Kata Kunci : peran guru, kemandirian, anak usia dini, masa transisi. ***** This study aims to describe the teacher’s role in developing independence in 4-5 year old children during the transition period to school at TK Islam Al-Azhar 13 Rawamangun. This research employed a descriptive qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The subjects of this study consisted of two class A teachers and 23 children aged 4-5 years. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing or verification. The results show that teachers play three main roles in developing independence in 4-5 year-old children during the transition period, namely as models, facilitators, and motivators. As models, teachers provide examples of independent behavior by demonstrating self-help activities such as wearing shoes, bringing eating utensils, tidying up, and demonstrating how to get to know and share with friends. As facilitators, teachers provide an environment and resources that stimulate children to practice independence, such as showing videos about tidying up toys, preparing play equipment in the corridor during the first two weeks to help children separate from parents and adapt to the school environment, arranging storage areas at children's height, and allowing them to complete activities independently without teacher domination. As motivators, teachers provide encouragement and positive reinforcement, both verbal and nonverbal, such as praise, hugs, and word of encouragement when children attempt to independent activities. These three roles contribute to developing independence in children aged 4-5 years, both in the physical aspects of self-care and social-emotional aspects, such as coming to school without crying, interacting, and sharing. Teachers are advised to continue fostering children's independence through role models, providing facilities and opportunities, and providing consistent motivation in learning activities. Keywords: teachers’role, independence, early childhood, transition perio

    PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG JAGUNG (Zea mays Indurate) TERHADAP SIFAT FISIK DAN MUTU SENSORIS KULIT PASTEL KERING MINI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi tepung jagung terhadap sifat fisik mencakup aspek kerapuhan dan daya serap minyak serta uji mutu sensoris mencakup aspek warna, aroma, rasa dan tekstur pada kulit pastel kering mini. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2024 hingga Januari 2026 di Laboratorium Pastry Bakery untuk uji mutu sensoris sedangkan sifat fisik bertempat di Laboratorium Rekayasa Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Jenis penelitian ini termasuk kedalam penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen, dengan perlakuan substitusi tepung jagung sebanyak 20%, 30% dan 40%. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak, dimana setiap panelis mendapatkan satu sampel acak dengan diberi kode yang hanya diketahui oleh peneliti. Pengujian uji mutu sensoris dilakukan kepada 15 panelis agak terlatih untuk setiap sampelnya. Uji sifat fisik menggunakan alat Texture Profile Analyzer untuk aspek kerapuhan dan untuk aspek daya serap minyak menggunakan perhitungan perbandingan selisih antara sebelum dan sesudah kertas baking paper terserap minyak. Teknik analisis sifat fisik menggunakan uji Anova dan dilanjutkan dengan uji Duncan, sedangkan untuk analisis uji mutu sensoris menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dangan uji Tuckey. Hasil uji kerapuhan menunjukan adanya pengaruh nyata dengan hasil terbaik yaitu pada perlakuan 30%, sementara pada aspek daya serap minyak tidak terdapat pengaruh nyata. Hasil pengujian mutu sensoris pada aspek warna, aroma jagung, rasa gurih, rasa jagung, dan tekstur (kerenyahan) menunjukan tidak adanya pengaruh nyata. Adapun hasil dari penelitian ini persentase yang direkomendasikan terdapat pada persentase 40% untuk dijadikan acuan penelitian selanjutnya, karena keseimbangan yang baik antara karakteristik fisik dan mutu sensoris, sehingga berpotensi menghasilkan produk dengan kualitas yang stabil, cita rasa yang disukai. ***** This study aims to analyze the effect of corn flour substitution on physical properties, including brittleness and oil absorption, as well as sensory quality tests covering color, aroma, taste, and texture in mini dry pastel skins. The research was conducted from December 2024 to January 2026 at the Pastry Bakery Laboratory for sensory quality testing, while physical properties were tested at the Food Engineering Laboratory, Jakarta State University. This type of research is classified as quantitative research using the experimental method, with corn flour substitution treatments of 20%, 30%, and 40%. Sampling was conducted randomly, with each panelist receiving one random sample coded only known to the researcher. Sensory quality testing was conducted on 15 moderately trained panelists for each sample. Physical properties were tested using a Texture Profile Analyzer for friability and oil absorption using a calculation of the difference between before and after the baking paper absorbed oil. The physical property analysis technique used the Anova test, followed by the Duncan test, while the sensory quality analysis used the Kruskal Wallis test, followed by the Tuckey test. The brittleness test results showed a significant effect, with the best results obtained at 30% treatment, while there was no significant effect on oil absorption. Sensory quality test results for color, corn aroma, savory taste, corn taste, and texture (crispness) showed no significant effect. The results of this study show that the recommended percentage is 40%, which can be used as a reference for further research, due to the good balance between physical characteristics and sensory quality, thus having the potential to produce products with stable quality and desirable taste

    PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG UBI CILEMBU (Ipomoea batatas var. Cilembu) PADA PEMBUATAN CHIFFON CAKE TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN DAYA TERIMA KONSUMEN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ubi cilembu (Ipomoea batatas var. Cilembu) pada pembuatan chiffon cake terhadap karakteristik fisik dan daya terima konsumen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu persentase substitusi tepung ubi cilembu terhadap tepung terigu. Perlakuan yang digunakan terdiri atas tiga variasi substitusi, yaitu 10%, 20%, dan 30%. Pengujian karakteristik fisik meliputi daya kembang, baking loss, dan porositas, sedangkan pengujian daya terima konsumen dilakukan melalui uji hedonik terhadap aspek warna luar, warna dalam, rasa manis, rasa ubi cilembu, aroma ubi cilembu, tekstur kelembutan, dan tekstur berpori. Panelis yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang panelis agak terlatih. Data karakteristik fisik dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan, sedangkan data daya terima konsumen dianalisis menggunakan uji Friedman dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung ubi Cilembu memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik fisik (daya kembang, baking loss, dan porositas) dan daya terima konsumen (warna, rasa, aroma, dan tekstur) chiffon cake. Perlakuan substitusi tepung ubi cilembu menghasilkan perbedaan tingkat kesukaan panelis pada aspek warna, rasa, aroma, dan tekstur. Berdasarkan hasil uji daya terima, dapat disimpulkan bahwa chiffon cake dengan substitusi tepung ubi cilembu 10% dapat diterima oleh konsumen dan berpotensi menjadi alternatif produk cake berbasis pangan lokal. ***** This study aimed to determine the effect of Cilembu sweet potato flour (Ipomoea batatas var. Cilembu) substitution on the physical characteristics and consumer acceptance of chiffon cake. The experiment employed a Completely Randomized Design (CRD) with one factor, namely the percentage of Cilembu sweet potato flour substitution for wheat flour, consisting of three treatments: 10%, 20%, and 30%. Physical characteristics analyzed included cake volume, baking loss, and porosity, while consumer acceptance was evaluated using a hedonic test on external color, internal color, sweetness, Cilembu flavor, Cilembu aroma, and texture attributes of softness and porosity, involving 30 semi-trained panelists. Physical data were analyzed using ANOVA and Duncan post hoc test, and consumer acceptance data were analyzed using the Friedman test and Tukey's post hoc test. The results indicated that substituting Cilembu sweet potato flour significantly affected both the physical characteristics and consumer acceptance of the chiffon cake. Chiffon cake with 10% Cilembu flour substitution was accepted by consumers and has potential as an alternative cake product based on local ingredients

    PENGARUH LATIHAN AGILITY LADDER CONVENTIONAL DAN MODIFICATION TERHADAP KEMAMPUAN KELINCAHAN TENDANGAN SABIT PADA ATLET REMAJA PENCAK SILAT SATRIA BANGSA

    No full text
    Dalam pertandingan pencak silat tendangan sabit masih relatif mudah diantisipasi oleh lawan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan tendangan atlet belum sepenuhnya didukung oleh unsur kelincahan dan kecepatan yang optimal,padahal kedua komponen tersebut merupakan faktor penting dalam efektivitas serangan dalam pencak silat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan Agility Ladder Conventional dan Modification terhadap kelincahan tendangan sabit pada atlet remaja Pencak Silat Satria Bangsa.Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain two group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan purposive sampling dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan.Berdasarkan teknik tersebut, diperoleh 20 atlet remaja sebagai sampel penelitian yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Ladder Conventional dan kelompok Ladder Modification.Pengukuran kelincahan tendangan sabit dilakukan melalui tes tendangan selama 15 detik yang dilaksanakan sebelum dan sesudah pemberian intervensi latihan. Program latihan Ladder Conventional dan Ladder Modification diberikan selama empat minggu dengan frekuensi latihan sebanyak empat kali per minggu. Setiap kelompok menjalani latihan sesuai dengan jenis perlakuan yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengaruh antara kedua metode latihan terhadap peningkatan kelincahan tendangan sabit. Kelompok yang diberikan latihan Agility Ladder Modification mengalami peningkatan kemampuan sebesar 19%, sedangkan kelompok yang menjalani latihan Agility Ladder Conventional hanya menunjukkan peningkatan sebesar 7%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa latihan Agility Ladder Modification lebih efektif dalam meningkatkan kelincahan tendangan sabit dibandingkan dengan latihan Agility Ladder Conventional pada atlet remaja Pencak Silat Satria Bangsa. ***** In pencak silat competitions, the sickle kick is still relatively easy for opponents to anticipate. This condition indicates that the athletes' kicking ability is not yet fully supported by optimal agility and speed, even though these two components are important factors in the effectiveness of attacks in pencak silat. This study aims to determine the effect of conventional and modified agility ladder training on the agility of the crescent kick in young athletes of Satria Bangsa Pencak Silat. The research method used is a quasi-experiment with a two-group pretest-posttest design. The sampling technique was carried out using purposive sampling, taking into account the predetermined inclusion and exclusion criteria. Based on this technique, 20 adolescent athletes were obtained as research samples, which were then divided into two groups, namely the Ladder Conventional group and the Ladder Modification group. The measurement of the agility of the hook kick was carried out through a 15-second kick test conducted before and after the training intervention. The Ladder Conventional and Ladder Modification training programs were given for four weeks with a training frequency of four times per week. Each group underwent training according to the predetermined type of treatment. The results of the study showed a difference in the effects of the two training methods on improving scissor kick agility. The group that underwent Agility Ladder Modification training experienced a 19% improvement in ability, while the group that underwent Conventional Agility Ladder training only showed a 7% improvement. Thus, it can be concluded that Agility Ladder Modification training is more effective in improving the agility of the sabit kick compared to Conventional Agility Ladder training in Satria Bangsa Pencak Silat youth athletes

    PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN TATA RIAS PANGGUNG TARI LENGGANG NYAI DI SMA PLUS PGRI CIBINONG

    No full text
    Kurangnya media pembelajaran yang dapat mendukung pembelajaran pada materi tata rias panggung menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman siswa. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengembangkan video pembelajaran tata rias panggung yang layak, praktis, dan efektif sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Tata Rias Wajah. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model 4D yang meliputi tahap Define, Design, Develop, dan Disseminate. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X Student Day Tata Rias di SMA Plus PGRI Cibinong. Pengumpulan data dilakukan melalui angket validasi ahli materi, ahli media, angket praktikalitas peserta didik, serta uji efektivitas melalui pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelayakan yang diberikan oleh ahli materi I dan II mencapai rata-rata persentase sebesar 90% dan ahli media sebesar 93%, sehingga video pembelajaran dapat dinyatakan sangat layak. Uji praktikalitas memperoleh nilai rata-rata 89% dengan kategori sangat praktis, sedangkan uji efektivitas menunjukkan nilai N-Gain sebesar 0,78 dengan kategori efektivitas tinggi. Dengan demikian, video pembelajaran Tata Rias Panggung Tari Lenggang Nyai layak, praktis, dan efektif digunakan sebagai media pembelajaran tambahan. ***** The lack of instructional media to support learning in stage makeup materials is one of the factors affecting students’ level of understanding. Therefore, this study was conducted to develop a stage makeup instructional video that is feasible, practical, and effective as a learning medium for the Facial Makeup subject. This study employed a Research and Development (R&D) method using the 4D model, which consists of the Define, Design, Develop, and Disseminate stages. The research subjects were tenth-grade Student Day Makeup students at SMA Plus PGRI Cibinong. Data were collected through material expert validation questionnaires, media expert validation questionnaires, student practicality questionnaires, and effectiveness tests using pre-tests and post-tests. The results showed that the feasibility level assessed by Material Experts I and II reached an average percentage of 90%, while the media expert assessment reached 93%, indicating that the instructional video is highly feasible. The practicality test obtained an average score of 89%, categorized as very practical, while the effectiveness test showed an N-Gain value of 0.78, indicating a high level of effectiveness. Thus, the Lenggang Nyai Dance Stage Makeup instructional video is feasible, practical, and effective for use as a supplementary learning medium

    PENGARUH KECEPATAN SPINDEL DAN DIAMETER MATA BOR TERHADAP DELAMINASI PADA PENGEBORAN MATERIAL CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) TERMODIFIKASI SILIKA ABU SEKAM PADI

    No full text
    Penelitian ini menganalisis pengaruh kecepatan spindel dan diameter mata bor terhadap delaminasi pada pengeboran material Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) yang dimodifikasi dengan silika hasil ekstraksi abu sekam padi. Material komposit CFRP termodifikasi ini memiliki peningkatan ketahanan termal dan sifat mekanis berdasarkan penelitian sebelumnya, namun kajian mengenai responsnya terhadap parameter pemesinan masih terbatas. Proses pengeboran dilakukan menggunakan mesin bor duduk dengan mata bor tipe Brad Spur berdiameter 4 mm, 6 mm, dan 8 mm serta variasi kecepatan spindel 1190 rpm, 1970 rpm, dan 2100 rpm. Delaminasi dianalisis pada dua mode kerusakan di delaminasi, yaitu delaminasi sisi masuk (Peel-up) dan delaminasi sisi keluar (Push-out). Pengolahan data menggunakan metode Taguchi dengan Orthogonal Array L9 serta Analysis of Variance (ANOVA) untuk menentukan pengaruh signifikan setiap faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter mata bor berpengaruh signifikan terhadap delaminasi Peel-up, sementara kecepatan spindel tidak berpengaruh signifikan. Pada sisi Push-out, kedua faktor tidak menunjukkan pengaruh signifikan, namun analisis S/N rasio menunjukkan kecenderungan pola kerusakan tertentu. Parameter optimum untuk meminimalkan delaminasi sisi masuk adalah diameter 4 mm – 2100 rpm, sedangkan untuk sisi keluar adalah diameter 8 mm – 2100 rpm. Temuan ini menegaskan perlunya pemilihan parameter yang seimbang untuk kualitas lubang yang lebih baik. ***** This study investigates the effect of spindle speed and drill bit diameter on delamination during the drilling of Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) modified with silica extracted from rice husk ash. Although previous studies have shown that silica-modified CFRP exhibits improved thermal and mechanical properties, research on its machining response remains limited. Drilling experiments were performed using a bench drilling machine with Brad Spur drill bits of 4 mm, 6 mm, and 8 mm diameters, combined with spindle speeds of 1190 rpm, 1970 rpm, and 2100 rpm. Delamination was evaluated in two damage modes: Peel-up (entry side) and Push-out (exit side). Data were analyzed using the Taguchi method with an L9 Orthogonal Array and Analysis of Varians (ANOVA) to determine the significance of each factor. The results indicate that drill bit diameter significantly affects Peel-up delamination, while spindle speed has no significant effect. For Push-out delamination, both factors were statistikally insignificant, although S/N rasio analysis revealed specific trends in damaged behaviour. The optimal parameters for minimizing Peel-up delamination were identified as a 4 mm drill bit with spindle speed of 2100 rpm, while the optimal conditions for reducing Push-out delamination were an 8 mm drill bit at 2100 rpm. These findings emphasize the impotance of selecting balanced machining parameters to achieve better overall hole quality

    IMPLEMENTASI PERMAINAN BENTENGAN DALAM MEMBANGUN NILAI KERJASAMA PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi permainan tradisional bentengan dalam membangun nilai-nilai kerja sama pada anak usia 10-12 tahun. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas 18 anak usia 10-12 tahun yang berada di lingkungan RW 08, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Penelitian dilaksanakan melalui enam kali pertemuan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi permainan tradisional bentengan mampu menumbuhkan nilai-nilai kerja sama pada anak, yang meliputi saling ketergantungan positif, tanggung jawab individu, interaksi tatap muka, keterampilan sosial, dan evaluasi kelompok. Melalui aktivitas permainan yang dilakukan secara berkelompok di ruang terbuka, anak-anak menjadi lebih aktif berinteraksi, mampu bekerja sama, serta menunjukkan sikap saling membantu dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Dengan demikian, permainan tradisional bentengan dapat dijadikan sebagai media yang efektif dalam membangun nilai-nilai kerja sama pada anak usia 10-12 tahun. Kata Kunci: Anak Usia 10-12 Tahun; Kerja Sama; Nilai Sosial; Permainan Bentengan; Permainan Tradisional ***** This study aims to describe the implementation of the traditional bentengan game in building cooperation values among children aged 10-12 years. The research approach used is qualitative with a descriptive method. The research subjects consisted of 18 children aged 10-12 years living in RW 08, Cakung District, East Jakarta. The study was conducted through six meetings. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation, using triangulation of sources, techniques, and time to ensure data validity. The results show that the implementation of the traditional bentengan game is able to foster cooperation values in children, including positive interdependence, individual responsibility, face-to-face interaction, social skills, and group evaluation. Through group-based play activities conducted in open spaces, children become more actively engaged in social interactions, are able to cooperate, and demonstrate mutual assistance and responsibility for their respective roles. Therefore, the traditional bentengan game can be used as an effective medium for building cooperation values among children aged 10-12 years. Keywords: Children Aged 10-12 Years; Cooperation; Social Values; Traditional Games; Bentengan Gam

    EFEKTIVITAS METODE LATIHAN BALL MASTERY DAN DRIBBLE CONE ZIG-ZAG TERHADAP KETERAMPILAN DRIBBLING ATLET FUTSAL USIA 13-14 TAHUN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) efektivitas metode latihan Ball Mastery dalam meningkatkan keterampilan dribbling, (2) efektivitas metode latihan Dribble Cone Zig-Zag dalam meningkatkan keterampilan dribbling, dan (3) perbandingan efektivitas antara metode latihan Ball Mastery dan Dribble Cone Zig- Zag terhadap keterampilan dribbling atlet futsal usia 13–14 tahun pada Akademi Always Futsal. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain Two Groups Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 15 atlet futsal usia 13–14 tahun yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok latihan Ball Mastery dan kelompok latihan Dribble Cone Zig-Zag. Instrumen penelitian berupa tes keterampilan dribbling yang terdiri atas tes keterampilan dan tes waktu/kecepatan. Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample t-test dan Independent Samples t-test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) metode latihan Ball Mastery dan Dribble Cone Zig-Zag secara signifikan meningkatkan keterampilan dribbling atlet futsal usia 13–14 tahun, yang dibuktikan dengan hasil uji Paired Sample t-test pada tes keterampilan dengan nilai thitung = 4,140 > ttabel = 2,145 dan nilai signifikansi p = 0,001 ttabel = 2,145 dan p = 0,001 < 0,05; (2). Hasil uji Independent Samples t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara metode latihan Ball Mastery dan Dribble Cone Zig-Zag terhadap keterampilan dribbling atlet futsal usia 13–14 tahun, dengan nilai signifikansi p = 0,001 > 0,05, sehingga hipotesis nol (H₀) diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode latihan Ball Mastery dan Dribble Cone Zig-Zag sama-sama efektif dalam meningkatkan keterampilan dribbling atlet futsal usia 13–14 tahun. Kata kunci: Ball Mastery, Dribble Cone Zig-Zag, keterampilan dribbling, futsal. ***** This study aiment to determine: (1) the effectiveness of the Ball Mastery training method in improving dribbling skills, (2) the effectiveness of the Dribble Cone Zig- Zag training method in improving dribbling skills, and (3) the comparison of the effectiveness between the Ball Mastery and Dribble Cone Zig-Zag training methods on the dribbling skills of futsal athletes aged 13–14 years at Always Futsal Academy. Thisstudy employed an experimental method with a Two Groups Pretest– Posttest Design. The research sample consisted of 15 futsal athletes aged 13–14 years who were divided into two groups, namely the Ball Mastery training group and the Dribble Cone Zig-Zag training group. The research instrument was a dribbling skillstest consisting of a skill performance test and a time/speed test. Data were analyzed using the Paired Sample t-test and the Independent Samples t-test with a significance level of 0.05. The results showed that: (1) the Ball Mastery and Dribble Cone Zig-Zag training methods significantly improved the dribbling skills of futsal athletes aged 13–14 years, as evidenced by the results of the Paired Sample t-test on the skill performance test with a calculated t-value of 4.140 greater than the t-table value of 2.145 and a significance value of p = 0.001 < 0.05, as well as on the time/speed test with a calculated t-value of 11.374 greater than the t-table value of 2.145 and p = 0.001 < 0.05; (2) the results of the Independent Samples t�test indicated that there was no significant difference in effectiveness between the Ball Mastery and Dribble Cone Zig-Zag training methods on the dribbling skills of futsal athletes aged 13–14 years, with a significance value of p = 0.001 > 0.05, therefore the null hypothesis (H₀) was accepted. Thus, it can be concluded that both the Ball Mastery and Dribble Cone Zig-Zag training methods are equally effective in improving the dribbling skills of futsal athletes aged 13–14 years. Keywords: Ball Mastery, Dribble Cone Zig-Zag, dribbling skills, futsal

    KESELARASAN KOMPETENSI KETERAMPILAN KHUSUS PADA MATA KULIAH PENGOLAHAN ROTI DENGAN KKNI LEVEL 6 DAN SKKNI

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keselarasan antara kompetensi keterampilan khusus pada mata kuliah Pengolahan Roti di Program Studi Pendidikan Tata Boga, Universitas Negeri Jakarta, dengan standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level 6 dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif terhadap 28 mahasiswa selama 11 kali sesi praktikum, sedangkan data sekunder mencakup dokumen RPS, KKNI, dan SKKNI. Instrumen penelitian berupa lembar observasi yang terdiri atas 37 butir aspek penilaian yang dikelompokkan ke dalam lima indikator kompetensi, yang dinilai menggunakan skala Likert (rentang 1–4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian pada seluruh indikator berada dalam kategori “Baik” cenderung “Sangat Baik”. Secara rinci, diperoleh rata-rata skor untuk indikator persiapan kerja sebesar 3,87; proses pengolahan sebesar 3,83; hasil produk eksternal sebesar 3,65; hasil produk internal sebesar 3,49; dan kebersihan area kerja sebesar 3,87. Berdasarkan skala penilaian tersebut, temuan ini mengindikasikan bahwa keterampilan khusus pada RPS mata kuliah Pengolahan Roti memiliki tingkat keselarasan yang sangat tinggi terhadap tuntutan kompetensi KKNI Level 6 dan SKKNI. Hasil ini mengonfirmasi bahwa mata kuliah tersebut efektif dalam membentuk kompetensi mahasiswa yang selaras dengan standar industri dan kualifikasi nasional. ***** This study aims to analyze the alignment of specific skill competencies in the Bread Processing course at the Culinary Arts Education Study Program, Jakarta State University, with the Indonesian National Qualifications Framework Level 6 and the Indonesian National Work Competency Standards. This research adopted a qualitative approach with a descriptive analysis method. Primary data were obtained through participatory observation of 28 students across 11 practicum sessions, while secondary data included the Bread-processing course Semester Learning Plan, Indonesian National Qualification Framework documents, and Indonesian National Work Competency Standards documents. The research instrument used was an observation sheet consisting of 37 assessment items categorized into five competency indicators, which were measured on a Likert scale (ranging from 1 to 4). The results indicated that the achievement across all indicators fell into the "Good" to "Very Good" categories. Specifically, the average scores obtained were 3.87 for work preparation, 3.83 for the processing stage, 3.65 for external product quality, 3.49 for internal product quality, and 3.87 for workplace cleanliness. Based on the assessment scale, these findings suggest that the specific skills outlined in the RPS of the Bread Processing course have a high level of alignment with the competency demands of Indonesian National Qualifications Framework Level 6 and Indonesian National Work Competency Standards. These results confirm that the course is effective in developing students' competencies in accordance with industrial standards and national qualifications

    MODEL LATIHAN FUNDAMENTAL SILAT BERBASIS TASK ENVIRONMENT IMPLIKASI UNTUK KETERAMPILAN TEKNIK DASAR TENDANGAN PADA PESILAT USIA 8-12 TAHUN

    Full text link
    ABSTRAK Pengembangan keterampilan gerak fundamental merupakan landasan penting dalam penguasaan teknik dasar tendangan pencak silat, khususnya pada pesilat usia 8–12 tahun. Namun, pelaksanaan latihan di banyak perguruan pencak silat masih cenderung berfokus pada penguasaan teknik secara langsung tanpa didukung oleh pengembangan gerak fundamental dan pengaturan lingkungan tugas yang mendukung proses belajar gerak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model latihan fundamental berbasis task environment serta menilai tingkat kemudahan pelaksanaannya dalam mendukung keterampilan teknik dasar tendangan pesilat usia dini. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Produk yang dikembangkan berupa model latihan fundamental yang disajikan dalam bentuk buku panduan latihan. Pengumpulan data dilakukan melalui validasi ahli, penilaian praktisi, dan uji coba lapangan, kemudian dianalisis menggunakan skala Guttman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kemudahan pelaksanaan model latihan memperoleh skor 435 dari skor maksimal 450 dengan persentase sebesar 96,67% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Dengan demikian, model latihan fundamental berbasis task environment dinyatakan layak dan mudah diterapkan sebagai alternatif pendekatan latihan untuk mendukung pengembangan keterampilan teknik dasar tendangan pencak silat pada pesilat usia 8–12 tahun.(*****) The development of fundamental movement skills is an essential foundation for mastering basic kicking techniques in pencak silat, particularly for athletes aged 8–12 years. However, training practices in many pencak silat schools still tend to focus directly on technical execution without sufficient emphasis on fundamental movement development and task-based learning environments. This study aimed to develop a task environment–based fundamental training model and to evaluate its feasibility for improving basic kicking skills in young pencak silat athletes. This research employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The developed product was a fundamental training model presented in a training guidebook. Data were collected through expert validation, practitioner assessments, and field trials, and analyzed using the Guttman scale. The results showed that the ease of implementation of the training model obtained a score of 435 out of a maximum score of 450, with a percentage of 96.67%, which falls into the “very good” category. These findings indicate that the task environment–based fundamental training model is feasible and appropriate to be used as an alternative training approach to support the development of basic kicking skills in pencak silat athletes aged 8–12 years.(*****

    34,004

    full texts

    39,193

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Universitas Negeri Jakarta is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇