71 research outputs found
PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MODERN
Pemikiran Ki Hajar Dewantara masih tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam pendidikan karakter, serta peluang yang bisa dimanfaatkan untuk penerapannya di era modern ini. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dalam bentuk studi tokoh. Data penelitian ini diperoleh dari artikel jurnal ilmiah dan laporan hasil penelitian yang relevan dengan topik pemikiran Ki Hajar Dewantara dan pendidikan karakter. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 1). Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Karakter di Era Modern adalah bahwa Pemikiran Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan karakter melalui prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani, serta konsep Tri Sentra Pendidikan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh. Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Karakter di Era Modern adalah bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang ditawarkan Dewantara, seperti tanggung jawab, kemandirian, dan moralitas, tetap relevan dalam menghadapi tantangan era digital. Prinsip-prinsipnya membantu peserta didik memiliki landasan etis yang kuat di tengah arus globalisasi dan teknologi. Peluang dalam Mengimplementasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan Karakter di Era Modern adalah bahwa era modern menyediakan peluang besar untuk menerapkan pemikiran Dewantara, dengan teknologi yang memfasilitasi kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat serta dukungan kurikulum berbasis nilai yang memperkuat pendidikan karakter bagi generasi mud
PERSEPSI TENTANG LAYANAN PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN UMUM KOTA BATU
ABSTRAK Dewantara, Rizal .2018. Persepsi Tentang Layanan Pemustaka Di Perpustakaan Umum Kota Batu.Tugas Akhir, Program Studi D3 Perpustakaan, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang Pembimbing: Drs. DwiSugianto, M.Pd. Kata Kunci:Perpustakaan Umum, Layanan, Pemustaka Perpustakaan umum mempunyai berbagai macam fungsi yang didalamnya mempunyai kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan penyebar luasan atau pelayanan segala macam informasi.Agar kegiatan layanan tersebut terlaksana dengan lancar perlu didukung oleh berbagai fasilitas.Layanan merupakan bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan guna memenuhi kebutuhan pemustaka tentang sumber informasi dan memberi kenyamanan pemustaka saat memanfaatkan perpustakaan.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tentang layanan di Perpustakaan Umum Kota Batu, untuk mengetahui persepsi pemustaka tentang layanan di Perpustakaan Umum Kota Batu, dan untuk mengetahui upaya pemanfaatan layanan bagi pemustaka. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.Populasi dengan pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan secara acak.Penelitian dilakukan di Dinas Perpustakaan Kota Batu.Pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Responden dalam pengumpulan data bersumber dari pustakawan, staff perpustakaan dari setiap layanan, dan pemustaka. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu, Perpustakaan Umum Kota Batu menyediakan fasilitas layana kepada pemustaka.Perpustakaan Umum Kota Batu mempunyai 8 layanan, yaitu: (1) layanan sirkulasi, (2) layanan referensi, (3) layanan keanggotaan, (4) layanan anak, (5) layanan deposit, (6) layanan perpustakaan keliling, (7) layanan taman baca masyarakat, dan (8) layanan ruang baca. Pada umumnya dari 8 (delapan) layanan yang telah disebutkan hasilnya adalah cukup baik, namunmasihterdapatkendalapadalayananPerpustakaanUmum Kota Batu,seperti: (1) layanananak, (2) layanan referensi, (3) layanan keanggotaan, dan (4) layanan deposit yang masih perlu adanya perbaikan dan perubahan. Upaya pemanfaatan layanan bagi Perpustakaan umum Kota Batu adalah; (1) memanfaatkan ruang kosong yang ada di setiap sudut Balai Kota Among Tani yang masih belum digunakan dengan maksimal, sehingga pihak Perpustakaan Umum Kota Batu dapat memanfaatkan ruangan tersebut, (2) fasilitas yang dimiliki oleh Perpustakaan Umum Kota Batul ebih diperbaiki kembali sehingga dapat meminimalis waktu pekerjaan oleh petugas perpustakaan dan ditambahnya SDM (Sumber Daya Manusia) Perpustakaan Umum Kota Batu untuk melayani pemustaka yang berkunjung kePerpustakaan Umum Kota Batu
KONSEP PAGURON KI HADJAR DEWANTARA DALAM TAMAN SISWA 1922-1945
Ki Hadjar Dewantara ialah tokoh pendidikan bercorak nasional pertama yang mendirikan Taman Siswa di dalam sebuah konsep yang disebut Paguron.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis sistem paguron menurut Ki Hadjar Dewantara; (2) Mendeskripsikan pengelolaan sistem paguron dalam Taman Siswa (1922-1945); (3) Mendeskripsikan pelaksanaan sistem paguron dalam Taman Siswa (1922-1945). Penelitian skripsi ini menggunakan penelitian sejarah kritis menurut Kuntowijoyo. Tahap pertama ialah pemilihan topik yang merupakan kegiatan untuk menetapkan permasalahan yang akan dikaji didalam penelitian. Tahap kedua adalah pengumpulan sumber yang didapat dari sumber tertulis dan tidak tertulis. Sumber tertulis didapatkan dari perpustakaan Taman Siswa, perpustakaan Museum Sono Budoyo dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Sumber tidak
tertulis diperoleh dari wawancara dua narasumber yang merupakan murid langsung dari Ki Hadjar Dewantara dan satu pengajar di Taman Siswa. Tahap ketiga adalah verifikasi atau kritik sejarah yang menguji keabsahan sumber untuk memastikan bahwa sumber yang diperoleh sudah valid. Tahap keempat adalah intepretasi yang merupakan kegiatan penafsiran atas data yang diperoleh dari
sumber tertulis dan tidak tertulis. Tahap kelima adalah penulisan sejarah sebagai hasil dari penelitian yang telah dilakukan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa dalam sebuah konsep yang disebut dengan paguron. Konsep paguron merupakan sebuah konsep pendidikan nasional mengacu pada budaya pendidikan yang pernah ada di Indonesia. (2) Diperlukan suatu tempat tinggal bagi guru dan anak didik di dalam lingkungan Taman Siswa. Tempat tinggal untuk siswa diberi nama wisma, ada tiga jenis Wisma di Taman Siswa: Wisma
Priyo untuk anak laki-laki, Wisma Rini untuk anak perempuan dan Wisma Prasojo untuk anak yang kurang mampu. Disediakanya wisma ini ikut membantu meringankan biaya pendidikan yang ditanggung oleh perguruan. (3) Di dalam
pelaksanaannya Taman Siswa menggunakan metode among sebagai metode pembelajaran, metode ini menempatkan anak didik sebagai sentral pendidikan.Pada masa Belanda Taman Siswa dihadapi peraturan yang menyulitkan dari pemerintah. Pada masa Jepang banyak Taman Siswa yang tutup dikarenakan gedungnya dipakai sebagai tempat latihan militer. Pada masa awal kemerdekaan Taman Siswa bersikap mendukung pemerintah dan mengikuti peraturan kebijakan pendidikan yang dibuat dengan tidak menghilangkan ciri khas Taman Siswa.
Kata kunci: Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Paguron, Tahun 1922-1945
HAKIKAT PENDIDIKAN: MENGINTERNALISASIKAN BUDAYA MELALUI FILSAFAT KI HAJAR DEWANTARA DAN NILAI-NILAI PANCASILA PADA SISWA
Efektivitas integrasi konsep Ki Hajar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan, dengan kendala utama terletak pada implementasi praktis di tingkat kurikulum, pembelajaran, dan interaksi sehari-hari di lembaga pendidikan. Jenis Penelitian ini bersifat kualitatif, memfokuskan pada pemahaman mendalam terkait hakikat pendidikan dengan menginternalisasikan budaya melalui filsafat Ki Hajar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila pada siswa. Pendekatan kualitatif dipilih untuk mengeksplorasi secara rinci konteks, nilai-nilai, dan pengalaman subjek penelitian.Metode wawancara, observasi, dan analisis dokumen dapat digunakan untuk merinci perspektif, sikap, dan respon siswa terhadap implementasi pendidikan berbasis filsafat Ki Hajar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila. Pendekatan triangulasi data dari berbagai sumber ini dapat memberikan kekayaan informasi yang mendalam dan komprehensif terkait dampak filsafat Ki Hajar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila pada pendidikan siswa. Hasil penelitian menunjukkan peran sentral konsep hakikat pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi utama dalam menginternalisasikan budaya melalui pendidikan. Pemahaman mendalam terhadap konsep ini menjadi landasan untuk mengarahkan upaya konkret dalam menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam siswa, sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DISRUPSI (STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DAN AZYUMARDI AZRA)
The background of this research lies in the educational landscape of the digital era, where the abundant conveniences provided by technology have significant impacts on the character development of adolescents. During their crucial developmental phase, adolescents should ideally utilize their time for learning and honing skills. However, in today's digital age, the current trend among adolescents tends towards dependency (addiction) to technology, such as games and others. Real social relationships become casualties. The effects on a child's character include changes in temperament, difficulty in regulation, and, in some cases, even disrespectful behavior towards parents, including instances of being indifferent to their surroundings and teachers.
This research is a literature review (library research). The study is descriptive-analytical, aiming to describe the existence of implied meanings and systematically elaborate on all relevant concepts discussed. The approach employed in this research is the historical-philosophical approach, which involves examining the historical context related to the time and social conditions of the past. It aims to formulate clear foundations underlying the concepts of Character Education in the Era of Disruption, as derived from the thoughts of Ki Hajar Dewantara and Azyumardi Azra.
The research results indicate that; firstly, Ki Hajar Dewantara was a religious nationalist whose thoughts could address the challenges of the disruptive era, while Azyumardi Azra was a religious nationalist, and his thinking was related to technology as the foundation for instilling character values. Second, the similarities between Ki Hajar Dewantara and Azyumardi Azra include being figures in Indonesian education, promoting holistic education, and emphasizing the importance of family, school, and society. As for the differences in their thoughts, these can be discerned in aspects such as the context of the era, views on Islam, a definitive approach to character education, responses to technology, and respons to religion. Third, the implications for educational institutions in the era of disruption encompass formal educational institutions, non-formal educational institutions, and informal educational institutions
Buku saku merdeka belajar: episode 1-10 Kemendikbudristek
Indonesia berdiri diatas semangat dan cita-cita kemerdekaan yang digaungkan oleh para tokoh pendiri bangsa dan diperjuangkan oleh rakyat. salah satu dari tokoh pendiri bangsa tersebut adalah Ki Hadjar Dewantara yang telah mencetuskan konsep kemerdekaan dalam belajar dengan pendekatan humanis.
Pemikiran tersebut menginspirasi kami di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek)dalam merancang kebijakan transformatif yang akan secara langsung membawa sistem pendidikan Indonesia kearah yang lebih baik. Kebijakan tersebut pun pada gilirannya kami beri nama "Merdeka Belajar"
Adapun paradigma dari Merdeka Belajar adalah pelibatan beragam pihak,mulai dari institusi pendidikan, guru, keluarga, dunia usaha dan dunia industri, serta masyarakat untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia
Ki Hadjar Dewantara et l'association des civilisations
2) Ki Hadjar Dewantara jang diagungkan sebagai pahlawan kemer- dekaan, pendidikan dan kebudajaan nasional, sudah selajaknja pula lebih dikenal diluar negeri. Setelah mengutarakan garis besar kehidupan, amal serta pemikiran Bapak Taman Siswa itu, Bénédicte Milcent menjuguhkan pada kami terdjemahan empat artikel jang kurang dikenal. "Penjatuan antara Barat dan Timur" jang ditem- patkan pada konteks kolonial tahun 1929 dimana bahasa Belanda dipergunakan hampir se-mata2 sebagai mata rantai untuk segala hubungan dengan dunia luar. Dalam artikel berikutnja tentang "Hubungan Kebudajaan antara Indonesia dan negara2 lain" pe- nulis menjatakan dukungannja dengan penuh semangat adanja pertukaran kebudajaan; asal sadja berdasarkan prinsip persamaan hak. Setelah sebuah petikan jang menarik tentang tjiri2 chas musik timur, karangan itu berachir dengan "Hubungan2 kami dengan Rabindranath Tagore". K.H.D. dan Tagore mempunjai hubungan sebagai teman jang dipupuk o!eh adanja saling harga menghargai.2) Venerated as a pioneer of independence, education and national culture in Indonesia, Ki Hadjar Dewantara merits to be better known abroad. After having recalled the major moments in the life, action and thought of the father of the Taman Siswa. Bénédicte Milcent gives us a translation of four lesser-known texts. "The Partnership of East and West" must be situated in the colonial context of 1929 where Dutch served almost exclusively as the link for all contact with the outside world. In the following article "Cultural Relations between Indonesia and other Countries", concerning the same theme, the author declares his enthusiastic support for cultural exchanges, provided that they are founded on the principal of parity. After an interesting text on oriental music, the article ends with "Our Relations with Rabindranath Tagore", who had with Ki Hadjar Dewantara a warm relationship nourished by mutual admiration.Milcent Bénédicte. Ki Hadjar Dewantara et l'association des civilisations. In: Archipel, volume 1, 1971. pp. 67-87
Analisis Hukum terhadap Akibat Hukum yang Timbul Atas Penggunaan Hak Merek Dagang Secara Sepihak (Studi Putusan Nomor 46/PDT. SUS-MEREK/2018/PN NIAGA JKT. PST.)
Merek dapat dibedakan atas dua jenis, menurut Pasal 1 angka 2 dan 3 UUM
yaitu merek dagang dan merek jasa. Merek dagang adalah merek yang digunakan pada
barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama
atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya. Salah satu
sengketa merek dagang yang terjadi adalah dalam Putusan Nomor 46/Pdt. Sus-
Merek/2018/PN Niaga Jkt. Pst.Sengketa ini terjadi antara Ocky Budijarto Karjono
melawan Wang Ching-Lung dan juga PT Kreasi Nutriboga. Dalam gugatannya,
penggugat menggugat logo merek dagang yang digunakan tergugat dalam menjalankan
bisnis ayam HOT STAR. Tergugat dianggap telah menggunakan merek yang lebih dulu
didaftarkan oleh Penggugat sehingga penggugat merasa dirugikan atas penggunaan
merek dagang tersebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: bagaimanakah
pengaturan hukum tentang merek terdaftar di Indonesia, bagaimanakah bentuk
perlindungan hukum terhadap merek terdaftar di Indonesia dan apakah akibat hukum
yang ditimbulkan atas Nomor 46/Pdt. Sus-Merek/2018/PN Niaga Jkt. Pst.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif atau doktriner yaitu
ditekankan pada penggunaan data sekunder. Peneliti menggunakan alat pengumpulan
data berupa Studi Kepustakaan atau Studi Dokumen (Documentary Study).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengaturan tentang merek diatur dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.
Pengaturan mengenai perlindungan Merek terkenal dapat dilihat pada Pasal
21 ayat (1) UU MIG. Undang-undang Merk No. 20 Tahun 2016 pada Pasal 2 Ayat (3)
menjelaskan merk yang dilindungi terdiri atas tanda berupa gambar, logo, nama, kata,
huruf, angka, susunan warna dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi,
suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk
membedakan barang dan/atau jas yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam
kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa. Jika dianalisis terhdap putusan tersebut,
dipandang dari azas pendaftaran merek, yaitu first to file, yang artinya pihak yang lebih
dulu mendaftarkan merek tersebutlah dianggap sebagai pemilik atas merek, maka
putusan tersebut telah tepat, dimana hakim berpendapat bahwa HOT STAR memilki
merek terlebih dahulu. Selain itu, hukum merk yang berlaku di Negara Indonesia
memberikan penjelasan mengenai ukuran merk dikatan merk terkenal (well known
mark) dapat dilihat pada bagian penjelasan Undang-undang Merk No. 20 Tahun 2016
Pasal 21 Ayat (1) huruf b yaitu: permohonan ditolak jika merk tersebut mempunyai
persamaan pada pokoknya taau keseluruhannya dengan merk terkenal milik pihak lain
untuk barang dan/atau jasa sejenis.91 HalamanSkripsi Sarjan
Sufisme Ki Hajar Dewantara
This article explores how Ki Hajar Dewantara has built his world of reality formulation. He has a sufism epistemology in establishing of his thinking. His sufism epistemology built evidently buried by well-established theories stating that Islam in Indonesia is a syncretic Islam, then labeled as religion Kejawen initiated as a religion abangan. But others say that the history of Islam in Java is not Islam Kejawen. On the contrary, it is Islam that affiliated with Sufism. This fact becomes important when the author had to review epistemology of Ki Hajar Dewantara. Because the reality is open to the fact that his epistemology is Sufism epistemology that puts knowledge about the duality of unity. Based on the epistemology, he give a clear interpretation of the relationship between man and nature that leads to the divine reality. Theoretically God created the universe as evidence or sign of existence and people should know about it. Armed with the epistemology, Manunggaling Kawula Gusti term can be interpreted in two ways, first it means that humans have the values of divinity, second, it means united with nature
Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan di Dalam Keluarga Menurut Pemikiran Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara
Article written by the author focuses on explaining about Driyarka and Ki Hajar Dewantara’s ideas and taught about education in the family. Ki Hajar Dewantara, put forward the concept of the Three Centers of Education, which states that education occurs in the family, school and social community, with the family as the first and main educational environment. His famous principle, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," describes the role of parents in various positions to educate children: providing example, and encouragement. According to Ki Hajar Dewantara, education in the family must also foster children's independence and responsibility, as well as giving them the freedom to explore their interests and talents. Meanwhile, Driyarkara emphasized that the family is the first place of a persons's presence as a human being, and the family is the first step in the process of his journey towards becoming a full human being. Overall, Driyarkara and Ki Hajar Dewantara's ideas about education in the family are related each other. Both agree that effective education starts from the family with an active and loving role of parents. While Driyarkara places more emphasis on holistic education and love, Ki Hajar Dewantara focuses on independence, freedom and the role of parents in supporting children from various educational positions. This writing uses a library research method sourced from both books and journals regarding the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hadjar Dewantara. Through library sources, the author reads, adapts, summarizes and reports back ideas related to this article. Library study is also called text study. Using this method is very important because it is able to understand deeply and comprehensively the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hajar Dewantara.AbstrakArtikel ini menampilkan pemikiran serta gagasan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di dalam keluarga. Ki Hajar Dewantara, mengemukakan konsep Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi di keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Prinsipnya yang terkenal, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," menggambarkan peran orang tua dalam berbagai posisi untuk mendidik anak: memberi teladan, semangat, dan dorongan. Pendidikan dalam keluarga menurut Ki Hajar Dewantara juga harus menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab anak, serta memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Secara keseluruhan, pandangan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dalam keluarga saling melengkapi. Keduanya sepakat bahwa pendidikan yang efektif dimulai dari keluarga dengan peran orang tua yang aktif dan penuh kasih sayang. Sementara Driyarkara lebih menekankan pada pendidikan holistik dan cinta kasih, Ki Hajar Dewantara fokus pada kemandirian, kebebasan, dan peran orang tua dalam mendukung anak dari berbagai posisi pendidikan
- …
