279 research outputs found

    SATIRE DALAM KOMIK INDONESIA 1998 KARYA MUHAMMAD MISRAD

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konteks satire yang terdapat dalam komik Indonesia 1998 karya Muhammad Misrad. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari 2020 hingga bulan Juli 2022. Metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika kontekstual. Analisis konteks tersebut kemudian dikaitkan dengan teori satire Gilber Highet untuk mengetahui satire yang terkandung dalam komik Indonesia 1998 karya Muhammad Misrad. Hasil penelitian analisis konteks satire dalam komik Indonesia 1998 karya Muhammad Misrad mengandung satire yang menyinggung isu-isu Ekonomi, Politik, dan Sosial pada tahun 1998. Berdasarkan satire menurut Gilbert Highet, ditemukan 103 peristiwa yang di dalamnya mengandung 57 Ironi, 10 Paradoks, 3 Antitesis, 56 Parodi, 3 Aktualitas, 1 Kecabulan, 4 Kekerasa, 23 Kejelasan, dan 1 Hiperbola yang menunjukan bahwa komik ini mengandung Ironi disusul oleh parodi yang lebih dominan. Dengan demikian komik ini digunakan oleh komikus untuk menyindir pemerintah dan masyarakat mengenai isu Ekonomi, Politik, dan Sosial yang mempunyai Ironi dan Parodi yang dominan. **** This study aims to determine the satire context contained in the 1998 Indonesian comic by Muhammad Misrad. This research was conducted from January 2020 to July 2022. The method used by the researchers in this study was descriptive qualitative with a contextual stylistic approach. The context analysis is then linked to Gilbert Highet's satire theory to find out the satire contained in the 1998 Indonesian comic by Muhammad Misrad. The results of the research on the analysis of the satire context in the 1998 Indonesian comic by Muhammad Misrad contained satire that touched on Economic, Political, and Social issues in 1998. Based on the satire according to Gilbert Highet, it was found that 103 events contained 57 ironies, 10 paradoxes, 3 antitheses, 56 Parody, 3 Actuality, 1 Obscenity, 4 Violence, 23 Clarity, and 1 Hyperbole which shows that this comic contains irony followed by parody which is more dominant. Thus, this comic is used by comic artists to satirize the government and society regarding economic, political, and social issues that have dominant irony and parody

    Journal of Indonesian Economy and Business: Vol.29 No.2 May 2014

    No full text
    TASK-TECHNOLOGY FIT AND PERSON-JOB FIT: A BEAUTY CONTEST TO IMPROVE THE SUCCESS OF INFORMATION SYSTEMS Woro Dwi Suryani, Sumiyana Sumiyana THE IMPACT ON FARM PROFITS OF A COMPANY’S PARTNERSHIP WITH A POTATO FARM Hirwan Hamidi PRICE STABILIZATION AND IPO UNDERPRICING: AN EMPIRICAL STUDY IN THE INDONESIAN STOCK EXCHANGE Suad Husnan, Mamduh M. Hanafi, Muhammad Munandar DEVELOPING A MEASURE OF LOCAL GOVERNMENT’S FINANCIAL CONDITION Irwan Taufiq Ritonga THE IMPACTS OF COUNTRY-OF-ORIGIN, PRODUCT INVOLVEMENT, AND PRODUCT FAMILIARITY ON PRODUCT EVALUATION Sahid Susilo Nugroho, Rokhima Rostiani, Indriyo Gitosudarmo UNDERSTANDING SOCIAL ENTERPRISES IN INDONESIA: Rokhima Rostiani, Widya Paramita, Handini Audita, Risa Virgosita, Teguh Budiarto, Boyke R. Purnom

    PERANCANGAN CORPORATE IDENTITY PERUSAHAAN PERLEBAHAN “ASYRAF”, BLITAR

    No full text
    ABSTRAK   Nugroho, Agung Dwi. 2010. Perancangan Corporate Identity Perusahaan Perlebahan ASYRAF. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si. Pembimbing (II): Muhammad Sigit, S.Sn.   Kata kunci : Perancangan, Corporate Identity, Perusahaan Perlebahan , ASYRAF, Blitar   Perusahaan Perlebahan ASYRAF adalah perusahaan yang bergerak di bidang perlebahan. Kegiatan perusahaan adalah mengumpulkan hasil produk alami lebah, menyeleksi kualitas, mengemas dan mendistribusikannya. Dengan berbagai dorongan dari pasar yang semakin berkembang, kompetitor yang semakin gencar mempromosikan produk dan keadaan intern perusahaan yang semakin kuat, perusahaan berencana untuk mengembangkan usaha dengan citra yang lebih baik dan mengembangkan daerah pemasaran yang lebih luas. Cara untuk mewujudkan rencana ini salah satunya adalah dengan menciptakan suatu citra perusahaan yang diawali dengan perancangan corporate identity (CI). Dalam mencapai tujuan di atas, diperlukan sebuah perancangan CI yang baik, yang akan diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual perusahaan. Kegiatan ini diangkat dalam tugas akhir yang berjudul ”Perancangan Corporate Identity Perusahaan Perlebahan ASYRAF, Blitar.” Model perancangan ini menggunakan model perancangan procedural yang deskriptif, dimana menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Perancangan ini ditujukan agar menghasilkan sebuah CI yang kemudian diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual dengan penampilan yang kosisten dan profesional. Penampilan yang konsisten dan profesional tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perusahaan perlebahan ASYRAF. Data yang diperoleh dalam perancangan ini diambil dengan metode observasi data, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi data terdiri dari data perusahaan, data pustaka dan survey target audience. Hasil karya dalam perancangan ini adalah berupa CI perusahaan yang terstandarisasi yang mengandung jati diri perusahaan yang kemudian diaplikasikan pada media-media komunikasi visual perusahaan.

    KRITIK SOSIAL DALAM FILM BADRUN & LOUNDRI DISUTRADARAI OLEH GARIN NUGROHO

    Full text link
    Film "Badrun & Loundri" karya Garin Nugroho merupakan karya sinema yang kaya akan kritik sosial, menyentuh berbagai isu yang relevan dengan masyarakat modern Indonesia. Dalam film ini, penonton diajak mengikuti perjalanan Badrun, seorang pria berusia 55 tahun yang hidup sederhana dan terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menemukan tas laundry berisi pakaian. Melalui karakter dan dialog yang kuat, film ini menggambarkan ketimpangan sosial, manipulasi citra, dan relasi kekuasaan yang ada di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan analisis sosiologi sastra untuk menafsirkan film sebagai representasi kehidupan sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa dialog antar karakter tidak hanya menggambarkan situasi sehari-hari, tetapi juga mencerminkan realitas sosial yang kompleks, seperti kemiskinan, marginalisasi, dan tekanan sosial yang dialami oleh kelas bawah. Melalui penggambaran yang mendalam, film ini mengajak penonton untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial di sekitarnya dan mendorong mereka untuk mengembangkan sikap kritis. Dengan pendekatan ini, "Badrun & Loundri" berhasil menciptakan kesadaran kolektif akan pentingnya perubahan sosial yang adil dan berkelanjutan. Kata-kata kunci: Kritik Sosial, Film, Badrun & Loundr

    Analisis Ekranisasi Manga “Kimetsu No Yaiba” ke dalam Film Anime Layar Lebar “Kimetsu No Yaiba: Mugen Reshha-Hen” Ditinjau dari Aspek Angle Kamera

    Full text link
    Manga dan film anime layar lebar memiliki perbedaan dalam menyampaikan cerita secara visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perbedaan dalam ekranisasi manga "Kimetsu no Yaiba" ke dalam film anime "Kimetsu no Yaiba: Mugen Ressha-Hen". Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan fokus pada aspek angle kamera. Objek penelitian meliputi manga dan film anime tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekranisasi manga ke dalam film anime menghasilkan perubahan dalam aspek angle kamera, seperti penciutan, penambahan, dan perubahan yang bervariasi. Meskipun terdapat perubahan dalam angle kamera, penekanan pada adegan tidak mengubah alur cerita versi manga ke dalam film anime layar lebar. Perbedaan ini disebabkan oleh sifat media yang berbeda antara manga dan film anime layar lebar. Penelitian ini memberikan pemahaman lebih lanjut tentang pentingnya angle kamera dalam ekranisasi serta peran yang dimainkannya dalam mempertahankan inti cerita.

    SI TENGGANG’S EFFORT IN FINDING CULTURAL IDENTITY DEPICTED IN MUHAMMAD HAJI SALLEH’S SI TENGGANG’S HOMECOMING

    Full text link
    Wardani, Dwi Sinta. 2015. Si Tenggang’s Effort in Finding Cultural Identity Depicted in Muhammad Haji Salleh’s,  Si Tenggang’s Homecoming.  Study Program of English, Department of Languages and Literatures, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya. Supervisor: Arcci Tusita; Co-Supervisor: Fredy Nugroho Setiawan.  Keywords: cultural identity, post-colonialism, Si Tenggang’s Homecoming    In post-colonial era, binary opposition between West and East affects the mentality and identity the Eastern. For some occasions, the Easterners imitate the Western culture in order to have equality. It may lead to identity crisis in finding cultural identity. The process of finding cultural identity is depicted throughout in a poem written by Muhammad Haji Salleh entitled Si Tenggang’s Homecoming. In this poem, Salleh as the writer portrays how Si Tenggang, as  the figure of the poem adopts the new culture in the Western country when he studies abroad. Therefore, this study  investigates  the finding of cultural identity in Si Tenggang when  he  experiences  a cross cultural exchange with the Western culture  and adjustment process after his homecoming.  Post-colonial criticism  and other theories  proposed by Homi K. Bhabha,  namely  mimicry, hybridity and ambivalence and  the last post-colonial identity, a  theory proposed by Stuart Hall are used to analyze the material research.   The result of this research  shows Si Tenggang’s  adaptation in American culture and Si Tenggang’s re-establishment in Malaysian culture. Throughout this analysis, there are  differences between Si Tenggang’s journey and  his homecoming. During studying abroad, he learns many things about culture and variety  such as mimicking the new culture.  Thus, after  his homecoming Si Tenggang becomes a hybrid figure who is different from common Malaysian. He becomes wiser and mature. Consequently, people in his native country questions his identity as Malay. At that time, he is ambivalent. Yet, after convincing himself and his society in the native country, he is sure with his identity as hybrid figure and positioning himself at the Third Space.  It is concluded that cross cultural exchange has influenced cultural identity in Si Tenggang.    The following researcher is  suggested to explore Si Tenggang’s experiences by using biographical approach. It is aimed to examine the correlation between the poem with the author’s life

    Kesenian Reog Ponorogo oleh Sanggar Cipto Budoyo di Perbaungan : Analisis Pertunjukan dan Struktur Musik

    No full text
    Penelitian ini mangkaji tentang Kesenian Reog Ponorogo Oleh Sanggar Cipto Budoyo di Perbaungan : Analisis Pertunjukan dan Struktur Musik. Hadirnya sebuah fenomena budaya tentang semaraknya pertunjukan kesenian Reog Ponorogo di kampung-kampung tempat tinggal orang Jawa di Sumatera Utara sebagai hal yang menarik untuk dapat diamati dan dikaji. Banyaknya persoalan yang dapat diidentifikasi tentulah tidak akan dapat terjawab semuanya, karena adanya keterbatasan baik waktu maupun hal lainnya, maka untuk itu penelitian ini difokuskan dalam menelisik dua hal yang dianggap paling penting yaitu : Bagaimana struktur Kesenian Reog dan bagaimana struktur musik iringan Reog Ponorogo yang ada di Perbaungan. Penelitian ini akan dikaji dengan menggunakan teori-teori yang dianggap relevan untuk dapat digunakan. teori yang dianggap relevan tersebut dintaranya adalah teori seni pertunjukan dan teori analisis struktur musik. selain itu juga dalam penelitian ini akan dilakukan pencabaran teori-teori pendukung seperti teori fungsi musik dan berbagai konsep lainnya tentang seni pertunjukan dan kosnep-konsep analisis komposisi musik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif yaitu dengan menggambarkan atau mengamati fakta-fakta yang sedang berlangsung. Tekhnik pengumpulan data dan penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Tekhnik pengolahan dan analisa data digunakan metode deskripsi kualitatif yaitu, menguraikan bagaimana struktur pertunjukan, dan struktur musik dari pertunjukan Reog Ponorogo di Perbaungan Sumatera Utara. dari hasil analisa yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa struktur pertunjukan Reog Ponorogo sangga Cipto Budoyo adalah: a) tema pertunjukan membawakan cerita legenda raja jawa, model pertunjukan Reog terbagi menjadi dua yaitu model arak-arakan dan pertunjukan di arena terbuka, struktur pertunjukan dibagi menjadi tiga fase yaitu fase pra pertunjukan, fase pertunjukan dan fase pasca pertunjukan. b). Struktur musik iringan Reog Ponorogo adalah secara berurutan mengikuti jalannya babakan pertunjukan dan tergambar secara jelas bagimana struktur gending Reog Ponorogo dan gending singo nebah dalam mengiringi arak-arakan, tarian ganongan, tarian singo barong, struktur gending lancaran Ricik-ricik dalam mengiringi tari persembahan jatilan, struktur gending sampak dalam mengirirngi adegan peperangan, struktur gending jaranan dan gending udan mas dalam mengiringi tarian ndadi atau kesurupan. Secara keseluruhan struktur musik gending iringan berkaitan dengan adegan dan gerakan tari yang diperagakan dalam Kesenian Reog Ponorogo sanggar Cipto Budoyo.This research is about the performance of Art Reog Ponorogo by Cipto Budoyo studio in Perbaungan. The analysis of performance and music structure. The presence of cultural phenomena is about enthusiastic of Reog Ponorogo performance in the vilages where Javanese people lives in north Sumatera it is an interesting to observe and discuss. So many problems can be identified but not all of them can be answered because of limited time or maybe another thing, so this research just focused with two things which are the most important : They are how about the performance of Reog Ponorogo and how about the music structure for Reog Ponorogo in Perbaungan. This research will use some of relevant theory they are show art theory and music structure analysis theory. Besides of those two theories, it used another theory to support the first one like music function theory and another concept of show art and music structure and composition of music. This research used desciptive qialitatif method. It' describe about the fact in a real time. Observation and interview are the technique for collecting the data. From this research we conclude the structure of Reog Ponorogo performance in Cipto Budoyo studio are : a) The themes of performance about the legend of Javanese king, the models of Reog performance divide into two things, Pageant model and outdoor performance model. The structure of show divided into three phases : pra-show, show after-show. b) Music structure for Reog Ponorogo followed by scene, it describes clearly about how the structure of Gending Reog Ponorogo and singo nebah Gending accompany the Pageant, ganongan dance, singo barong dance. The structure of lancaran Ricik-ricik accompany jatilan persembahan dance. Gending sampak structure accompany war scene. Jaranan and Udan Mas Gending accompany ndadi and trance dance. All of Gending music structure related to scene, art and dance whis is played in Reog Ponorogo from Cipto Budoyo studio.255 HalamanTesis Magiste

    Comparing the impacts of economic uncertainty, climate change, Covid-19, and the Russia-Ukraine conflict: Which is the most dangerous for EU27 food prices?

    No full text
    This study compares the impact of economic uncertainty, climate change, Covid-19, and the Russia-Ukraine conflict on 27 European countries (EU27) food prices. The author used panel data that combines cross section data from January 2019 – March 2023 and time series data from 27 European countries. The error correction model (ECM) and Autoregressive Distributed Lag (ARDL) were used to analyse the data. The domestic energy consumer price index, real broad exchange rate, climate change, and Russia-Ukraine armed clashes are the drivers of the short and long run rise in the EU27 domestic food consumer price index. New domestic cases of Covid-19 can increase the EU27 domestic food consumer price index in the short run but not in the long run. Meanwhile, an increase in the unemployment rate has the potential to lower the EU27 domestic food consumer price index in both the short and long run. Among all the global shocks examined in this study, changes in the real broad exchange rate have the greatest impact on the EU27 domestic food consumer price index

    Reinventing Wiḥdat al-Wujūd: Locality, Cultural Catharsis, and Spirituality of Majelis Shalawat Muhammad in East Java

    Full text link
    This paper examines the teaching of Wiḥdat al-Wujūd in Majelis Shalawat Muhammad in Surabaya and Bojonegoro from 2011 to the study period. As a Sufi “organization,” Majelis Shalawat under Gus Kahar and Gus Mursyidin (murshid) learned the Sufi thoughts on Ibnu ‘Arabi doctrine. This article was established on qualitative research using participatory techniques, in which the author was deeply involved in the Majelis Sahalawat. On the one side, this paper explores the Sufi education system of Gus Kahar and Gus Mursyidin from ‘lelaku’ or riyāḍah. The result of the inquiry presented a connection between the sanad and Sufi scholars in Java. On the other hand, Sufi thought in various Majelis Shalawat indicates a strong Wiḥdat al-Wujūd thought. This article argues that the thought of Wiḥdat al-Wujūd continuing living from time to time is proven by the thoughts of the two murshids in Majelis Shalawat Muhammad in East Java. These two murshids do not directly use the term Wiḥdat al-Wujūd; instead, the term aḥad or aḥadiyah is more frequent, which is synonymous with Wiḥdat al-Wujūd doctrines of Ibnu ‘Arabi. It also emphasizes that Indonesian Sufism denotes the importance of locality and cultural catharsis within Javanese Muslim’s spiritual practices

    Protest Against Oppression Reflected In Sandra Brown’s Rainwater Novel (2009): A Sociological Approach

    Full text link
    The purpose of this study is to analyze the oppression issue in Rainwater novel (2009) created by Sandra Brown. The oppression issue in this novel used sociological approach to be analyzed. Novel itself is the primary data sources of this study and the secondary data source taken from internet such articles, journals, books and many other sources related with it. The result of this study showed the following conclusion. Firstly, there are third types of oppression as likes exploitation, marginalization, and violence. Secondly, the researcher illustrated the oppression by using the character and characterization, setting, event, diction, and symbol. Thirdly, the reason why the author shows oppression issue in this novel is to give the message that oppression must go away from every region
    corecore