1,721,904 research outputs found
Companions' mursal (mursal al-saḥābī)
Sahabe murseli gerek yurt içinde, gerekse de yurt dışında müstakil olarak ele alınıp incelenmeyen bir konu olarak karşımıza çıkmaktadır. Mursel hadisle ilgili yapılan çalışmalar incelendiğinde sahabe murseline kısaca temas edilmekle yetinildiği görülmektedir. Senedinde bulunan inkıtâ nedeniyle hadisçiler tarafında mursel hadis zayıf kabul edilmiştir. Fakat aynı illet sahabe murselinde de bulunmasına rağmen hadis muttasıl hükmünde kabul edilmiş ve hadisin hüccet olarak kullanılmaya elverişli olduğu belirtilmiştir. Tezimizde sahabe murselinin neden böyle bir ayrıcalığa tabi tutulduğu irdelenmeye çalışılmıştır. Dolayısıyla bu çalışmada sahabe murseli konu edinilmekte, sahabe murselini kabul veya reddenlerin ne gibi deliller öne sürdükleri ele alınıp incelenmektedir. Sahabe döneminde var olan mursel rivayet olgusu ortaya koyulmaya çalışılmakta ve elde edilen veriler neticesinde sahabe murseline nasıl yaklaşılması gerektiği sorgulanmaktadır.The hadith category called 'Companions' mursal' (mursal al-ṣaḥābī) is a topic that has not been researched independently, both in Turkey and abroad. General studies on the ḥadīth mursal usually only briefly touch upon the mursal of the Companions. The ḥadīth mursal is considered weak by the hadith scholars because of the interruption (inqiṭā') found in its narration chain. However, although the same problem is present in the companions' mursal, this type has been treated by most scholars as contiguous (muttaṣil) and it has been considered suitable to be used as evidence in religious matters. This dissertation tries to examine the reasons why the ḥadīth mursal has been subjected to such a privilege treatment. Accordingly, in this study, the subject of the Companions' mursal is discussed in detail, and the arguments put forward by those who accept or reject its evidentiary value are assessed. In the dissertation, the phenomenon of mursal reports that existed in the period of the Companions is described and as a result of the data obtained, how to approach to the mursal of the Companions is questioned and discussed
Hadits mursal dalam kitab Al-Muwatta'
Al-Muwaṭṭa’ merupakan salah satu karya paling monumental pada abad kedua hijriyah, kitab ini controversial dalam sistematika penulisan, maupun kualitas isi ḥadīṡ di dalamnya. Bahkan kedudukan kitab al-Muwaṭṭa’ boleh dibilang kitab yang sangat berguna di dalam khazanah keilmuan ḥadīṡ Islam. Bahkan Imam syafi’I pernah berkata: “Di dunia ini tidak ada kitab setelah al-Qur’an yang lebih S}aḥīh{ dari pada kitab Mālik”. al-H{afid} al-Muglatayi al-ḥanafi berkata “buah karya Malik adalah kitab s}aḥiḥ yang pertama kali”. Sebagaimana kitab-kitab lain didalamnya diperselisihkan kualitas ḥadīṡ yang ada didalamnya. Diantara yang diperselisihkan oleh ‘Ulama’ adalah hadis Mursal yang ada didalamnya, yang diperselisihkan antara lain kehujjahannya, atau ketertolakannya. Hadis Mursal adalah hadis daif yang salah seorang dari Rawinya digugurkan yaitu Rawi dari kalangan Sahabat.
Tatkala melihat pernyataan Imam Malik yang menyatakan bahwa hadisnya telah ditelaah oleh 70 ulama’ pada masanya, membuat penulis tergerak untuk meneliti hadis-hadis yang notabene Mursal, menggunakan Sighat Balaga, yang terdapat dalam kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik. Dengan menggunakan metode kualitatif yang merupakan penelitian pustaka (library research). Pendekatan kualitatif sesuai diterapkan untuk penelitian ini karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi informasi. Dalam hal ini adalah ḥadiṡ-ḥadiṡ Mursal yang terdapat dalam kitab al-Muwaṭṭa’ yang penulis peroleh dari kitab al-Muwatta’ yang sudah dikomentari Mursal oleh Fuad ‘Abd al-Baqi, setelah hadis tersebut sudah terkumpul, kemudian penulis kumpulkan mana-mana rawi yang sama, setelah itu penulis analisis dengan menggunakan tahrij hadis. Dengan mentahrij penulis dapati ternyata tidak sedikit hadis pada kitab al-Muwatta’ daif Mursal namun
dalam kitab lain dengan redaksi yang mirip dan sanad yang bertemu pada kalangan Tabi’in dengan Jalur lain. Setelah didapati sanad dari jalur lain yang bisa disebut Sawahid atau Tawabi’ maka bisa dijabarkan bahwa tidak semua hadis Mursal semuanya tertolak.
penulis mencoba menyimpulkan (meski sebenarnya bukan “final-result”) demi menjawab pokok masalah dalam skripsi ini, yang terdiri dari Adakah ḥadiṡ Mursal dalam kitab al-Muwaṭṭa’ ?,Bagaimana kualifikasi ḥadīṡ Mursal dalam kitab al-Muwaṭṭa’? Dari kedua rumusan masalah tersebut, penulis dapat mengemukakan garis besar kesimpulan sebagai berikut, Bahwa ḥadīṡ Mursal dalam kitab al-Muwatta’ memang ada dan jumlahnya kurang lebih 117 hadis mursal dalam kitab al-Muwatta’ memiliki 2 tingkatan yakni yang mendapatkan sawahi atau Tawabi’ sehingga riwayatnya di terima dan yang tetap pada kesendiriannya sehingga riwayatnya Da’if. Ḥadīṡ Mursal kitab al-Muwatta’. Tujuan penulisan ini hanya untuk mengungkap secara terang kemursalan hadis pada kitab al-Muwatta’
xii
Kedudukan Hadits Mursal dalam kitab Hadits Muwaththa Malik
Kitab Muwaththa karyaImam Malik adalah kitab hadits sebagai asal atau dasar kehujjahan dalam madzhab Maliki. Kitab tersebut menurut sebagian ulama merupakan kitab hadits karena isi kitab tersebut adalah hadits Nabi Saw, selain itu ada pula atsar sahabat dan tabi'n.Sebagian ulama lain menyebutkan kitab tersebut adalah kitab fikih karena bab-banya tersusun berdasarkan bab-bab fikih. Imam Malik banyak sekali memasukkan hadits mursal yang merupakan macam dari macam-macam hadits dha'íf dan tidak bisa dijadikan hujjah menurut mayoritas ulama hadits. Imam Malik menerima hadits mursal dan menjadikannya sebagai hujjah. Pertanyaannya: apakah Imam Malik menerima begitu saja hadits mursal ataukah beliau mempunyai syarat-syarat tertentu dalam penerimaan hadits mursal? Hadits mursal seperti apakah yang diterima oleh Imam Malik dalam berhujjah?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan Imam Malik terhadap hadits mursal dan bagaimana kehujjahan hadits mursal yang ada dalam kitab Muwaththa karya Imam Malik. Penelitian ini bertolak dari kerangka teori tentang hadits mursal yang menjadi bagian dari hadits dha''if dan tidak bisa dijadikan sebagai hujah menurut jumhur ulama ahli hadits. Untuk itu, dari kerangka teori di atas akan digunakan oleh penulis untuk meneliti pandangan Imam Malik terhadap hadits mursal dan kehujahan hadits mursal yang ada dalam kitab Muwaththa Malik.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Analisanya akan ditempuh dengan menggunakan jenis data yang berupa data kualitatif. Penulis menggunakan cara berpikir deduktif, yakni cara berpikir yang bertolak dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus. Dengan sumber data kitab hadits Muwaththa Malikdan syarahnya yakni Al-Tamhid lima fii Al-Muwaththa karya Ibnu Abd Al-Barr juga kitab-kitab dan buku-buku yang ada hubungannya baik langsung maupun tidak langsung dengan penelitian. Data yang diperoleh dari kajian yang telah dilakukan berdasarkan pandangan Imam Malik tentang hadits mursal, penulis menemukan 185 mursal tabi'n, 194 periwayat setelah tabi''n (munqathi')dan 201 hadits balaghat.
Setelah melakukan penelitian, penulis dapat mendeskripsikan pandangan Imam Malik tehadap hadits mursal. Imam Malik menerima hadits mursal tabi'n, beliau juga menerima mursal itba' tabi'in dan periwayat setelahnya, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa Imam Malik menganggap sama antara hadits mursal dan hadits munqathi'. Dalam penerimaanya, Imam Malik hanya menerima mursal dari seorang periwayat yang dikenal tsiqah, dari gurunya yang tsiqah pula dan tidak bertentangan dengan amal ahl Madinah. Selain hanya menerima mursal tsiqah, hadits-hadits mursal yang ada dalam kitab Muwaththa karya Imam Malik secara umum dilihat dari segi marwiyat-nya adalah shahih. Dengan demikian, bisa dikatakan hadits mursalyang adadalam kitab Muwaththa Malik dapat dijadikan sebagai hujjah
Kritik al Nawawi terhadap al Shirazi tentang kehujahan Hadis Mursal
Dalam penelitian ini akan dikaji pendapat al-Shirazi tentang kehujahan hadis mursal dalam kritik al-Nawawi. Dimana al-Shirazi menggunakan pemikirannya sendiri dalam kehujahan hadis mursal yang diaplikasikan dalam kitabnya al -Muhadhdhab, yang secara umum pendapat dan aplikasi tersebut menyalahi terhadap pendapat al-Shafi’i. Dalam penelitian ini penulis fokus membahas tentang bagaimana kehujahan hadis mursal perspektif al-Shirazi, bagaimana kritik al-Nawawi terhadap al-Shirazi tentang kehujahan hadis mursal dan bagaimana implikasi dari kritik al-Nawawi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan histori (sejarah) yaitu usaha merunut akar sejarah secara kritis mengapa kedua tokoh tersebut menegeluarkan sebuah gagasan dan pemikiran tertentu, bagaimana latar belakangnya sekaligus mencari struktur fundamental (filosofi) dari pemikiran tersebut. Dengan pendekatan ini diharapkan mampu menunjukkan dasar pemikiran dari kritik al-Nawawi atas pemikiran alShirazi serta implikasi dari kritikan tersebut. Didalam penelitian ini penulis bisa menyimpulkal bahwa sebagai pengikut mazhab syafi’i, dalam menetapkan hukum syariat al-Shirazi lebih mengedepankan pendapatnya dalam berhujah dengan hadis mursal, dari kritik al-Nawawi tersebut didapatkan suatu pemahaman bahwa untuk menetapkan hukum harus mendatangkan hadis sahih, dan Semua jenis hadis mursal menurut krtitik alNawawi tidak mutlak sebagai hujah kecuali mursal sahabi dan juga tidak semua tertolak, akan tetapi hadis-hadis mursal tersebut dapat dijadikan hujah sesuai dengan syarat dan kriteria kehujahan hadis mursal sebagaimana yang telah ditetapkan oleh al-Shafi’i, yakni dengan mendatangkan riwayat pendukung, dimana dengan adanya pendukung tersebut mengindikasikan bahwa hadis mursal pada dasarnya tidak layak dijadikan huja
POLEMIK DI KALANGAN ULAMA TERKAIT HADIS MURSAL
Artikel ini bertujuan untuk memetakan definisi hadis mursal dari pendapat ulama yang lahir di era mutaqaddimi>n hingga era mutaakhkhiri>n yang mengalami diskursus menarik. Riset ini berangkatdari banyaknya bias penggunaan istilah mursal pada hadis. Padahal dalam ilmu hadis, penggunaan istilah secara tepat merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi siapapun yang konsen di bidang hadis. Artikel ini mendukung pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menekankan pentingnya menggunakan definisi yang ja>mi’, ma>ni’ terhadap kata mursal dalam sanad hadis. Jika tidak, maka harus diberikan pengecualian. Riset ini menggunakan metode analisis teks yang ditulis para pakar hadis dari era klasik hingga modern. Artikel ini berkesimpulan bahwa ada beberapa definisi dari mursal dalam hadis. Beberapa ulama memberikan masing-masing kecenderungannya dalam memberikan definisi. Misalnya imam Ahmad menyamakan mursal dengan tadlis. Ada juga yangmenyamakan dengan munqat}i’. Namun oleh ulama modern (mutaakhkhiri>n) deferensiasi tersebut berhasil dipetakan secara baik dan merekalah yang dianggap paling berjasa memetakan istilah-istilah dalam Ilmu Hadis secara mapan
This Dissertation Is Submitted As Partial Fulfillment Of The Requirements For The Award Of The
This study investigated the impact of teacher subject knowledge on student’s achievement in some secondary schools in Mogadishu, Somalia. The purpose of this study was to explore The impact of teacher subject knowledge on students achievement in some secondary schools The study had three objectives. The first objective was to determine the effect of teaching equipment on student’s achievement in Hodan district Mogadishu, Somali
Majaz mursal salam novel Az-Zillu Al-'aswadu karya Nazib Kailani : analisis ilmu bayan
Majaz mursal dalam Novel Az-Zillu Al-‘Aswadu Karya Nazib Kailani. Pemilihan judul tersebut dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti untuk mengkaji Novel Az-Zillu Al-‘Aswadu karena di dalamnya tidak dapat lepas dari pemakaian bahasa figuratif, termasuk di dalamnya majaz mursal.
Majaz mursal adalah gaya bahasa yang digunakan bukan untuk menunjukan makna denotasi atau makna sesungguhnya, melainkan makna kias majazi. ‘Alaqah atau hubungan yang muncul antara makna hakiki dan makna majazi tidak memiliki kemiripan غير المشابهة /gair al-musyabahah/. Untuk menentukan bahwa sesuatu kalimat mengandung majaz mursal, maka harus diketahui qarinahnya atau indikasi yang menghalangi pemahaman terhadap makna hakiki atau denotasi.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan jenis Qarinah majaz mursal yang terdapat dalam novel Az-zillu Al-‘aswadu Karya Nazib Kailani (2) Untuk memahami makna yang terkandung di dalam kata atau kalimat yang bermajaz sehingga maksud dari penulis tersampaikan. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, di mana data-data yang dijaring dipaparkan dan dianalisis sesuai dengan kaidah bahasa yang berkaitan dengan majaz mursal.
Data-data majaz mursal yang diperoleh dari novel Az-zillu Al-‘aswadu ternyata tidak semua kategori majaz mursal terdapat di dalamnya. Majaz mursal yang terdapat di dalam novel Az-zillu Al-‘aswadu ada 34. Majaz mursal As-sababiyyah 6, Majaz mursal al-mahaliyyah 9, Majaz mursal juz’iyyah 11, Majaz mursal al-kulliyyah 6, serta Majaz mursal i’tibar ma yakunu 2
Kehujjahan Hadis Mursal Menurut Imam Madzhab Empat
According to the muhaddits, a hadis is acceptable and reliable to be hujjah in law when its sanad has continuous authority till the Prophet Muhammad, beside that the narrator who delivered it is a tsiqat (‘adil and dhabt). If some sanads are ommited between the successor and the Prophet Muhammad, the hadis is called mursal. Islam scholars have different views in measuring the credibility and realibility of mursal hadis. Some of them absolutely received mursal hadis to be hujjah, the other one received it by giving requisites, while the rest of scholars absolutely rejected it. This article presented the opinion of four Islamic legal schools (Imam Abu Hanifah (d. 148 H), Imam Malik bin Anas (d. 179 H), Imam Syafi’i (d. 204 H), and Imam Ahmad bin Hanbal (d. 241 H)) regarding the validity of mursal hadis as hujjah. This result of this arcticle revealed that Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, and Imam Ahmad bin Hanbal accepted mursal hadis as hujjah by generally requites. Furthermore, Imam Syafi’i accepted it by specially requites
THE ROLE OF INTERNAL THREAT ON INFORMATION SECURITY
In recent times, there will be very few persons who will disagree with the fact that Information Technology has been a pivotal part of how we operate in today‘s modern world both in business and also from a recreational point of vie
Analisis uslub majâz mursal dalam surah al-fath (kajian balaghah)
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui penjelasan tentang uslub majâz mursal dan macam-macam majâz mursal didalam surah Al-Fath, dan untuk mengetahui klasifikasi majâz mursal dilihat dari segi alaqah dan qarinah dalam surat Al-Fath. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini diambil dari dari ayat-ayat pada surat Al-Fath dalam Al-Qur’an. Seumber penelitian utamanya adalah Al-Qur’an dan instrumennya adalah peneliti sendiri atau disebut dengan human instrument. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jenis- jenis majâz mursal yang terkandung pada surah Al-Fath ini penulis menemukan, Sepuluh ayat yang mengandung majâz mursal yaitu pada ayat: Tiga Ayat yang mengandung As-sababiyyah, Empat ayat yang mengandung Juziyyah, Satu ayat yang mengandung Haliyyah, satu ayat yang mengandung Kuliyyah dan satu ayat yang mengandung Mahaliyyah. Suatu kalimat disebut majâz mursal, jika pada kata yang mengandung nilai tersebut terdapat “ Alaqah / penghubung antara makna asli dan makna majazi nya. Serta Qarinah/ indikator yang menghalangi diartikannya kata tersebut kepada makna aslinyaâ€. Pada ayat empat penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: As-sababiyyah, ayat enam penulis menemukan terdapat Majaz Mursal yang alaqahnya: As-sababiyyah, ayat Sembilan penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Juziyyah, ayat sepuluh penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: As-sababiyyah, ayat Sebelas penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Juziyyah, ayat tiga belas penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Haliyyah, ayat delapan belas penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Mahaliyyah, ayat dua puluh penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Kuliyyah, ayat dua empat penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Juziyyah, ayat dua Sembilan penulis menemukan terdapat majâz mursal yang alaqahnya: Juziyyah.
 
- …
