154 research outputs found
Experiential learning: An exploration of the effect of Zen experience on personal transformation
This thesis was submitted for the degree of Doctor of Philosophy and awarded by Brunel University.This inquiry started by examining my own and others experience of Zen, and comparing it with Self Organised Learning. The aim was to see what effect each system had on the lives of the participants. The thesis plots how I had a tacit reliance on myself as a measuring instrument, and how this became an integrating theme running through my 'finally chosen' methods. The methodological difficulties caused by the paradox of trying to understand Zen and also be scientific converged when I realised that I had treated myself as the central measuring instrument throughout the inquiry. It was this discovery which allowed the thesis to be treated as a koan from a Zen perspective and yet to be a contribution to academic knowledge. The thesis traces how personal authenticity became the defining characteristic informing all my methodology.
This inquiry asks and answers the question can research be transpersonal? Initially the research started out looking at a transpersonal issue in the form of asking those who had regular interactions with a Zen master about their experience. This learning curve was contrasted with Learning Conversations with postgraduates at the centre for the Study of Human Learning, using inner directed learning in their research projects. During the research process, several major re-orientations took place which, necessitated changing my method and my interpretation of the data. These shifts of direction were largely driven by a need to find a method of inquiry which was appropriate to uncovering the transpersonal qualities I was investigating. As the inquiry developed I widened my sources of data to include art, fiction, accounts of death and grieving, and satsang (questions and answers with a master) in order to give an in depth picture of the impact of the transpersonal on participants' lives.
In treating the thesis as a koan there can be no emphasis placed on which purposes related to which outcomes. It was in the gradual abandonment of such a stance that the deeper insights and resolutions occurred. During the inquiry I eventually identified the qualities of wholeness, authenticity and openness as the defining characteristics which appeared to trigger changes in direction. Such an approach made it necessary to examine the implications for validity that approaching transpersonal issues in this way had uncovered
Politik Hukum Pers Pada Masa Kolonial
This research is about the legal politics of the press during the colonial period. The aim of this research is to understand legal politics in the colonial period, and to understand the political configuration in the colonial period, as well as to understand the legal products of that period. In the discussion section of this research, the political configuration during the Dutch East Indies era which was authoritarian was discussed. This kind of political configuration gives rise to press legal products that have a repressive and orthodox character. This research uses a normative juridical method using the concept of legal politics as a research conceptual framework. The use of this normative juridical method is necessary for the purposes of analyzing the content of legal products issued by the State based on the political configuration that existed at that timePenelitian ini tentang politik hukum pers pada masa kolonial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui politik hukum di masa kolonial, dan untuk mengetahui konfigurasi politik di masa kolonial, serta untuk mengetahui produk hukum di masa tersebut. Dalam bagian pembahasan di penelitian ini, dibahas konfigurasi politik pada masa Hindia Belanda yang bersifat otoriter. Konfigurasi politik semacam ini melahirkan produk hukum pers yang berwatak represif dan ortodoks. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan menggunakan konsep politik hukum sebagai kerangka konseptual penelitian. Penggunaan metode yuridis normatif ini diperlukan untuk kepentingan analisis isi dari produk hukum yang diterbitkan Negara berdasarkan konfigurasi politik yang ada pada masanya
HADIS NUZUL ISA AL- MASIH DALAM PANDANGAN AHMADIYAH LAHORE (STUDI ATAS PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI)
Konsep berakhirnya kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.
merupakan doktrin penting yang mesti dipegangi oleh setiap umat Islam.
Penyelewengan terhadap doktrin ini seringkali dianggap murtad bahkan kafir.
Salah satu kasus menyangkut tentang konsep berakhirnya kenabian di Indonesia
akhir-akhir ini yang tidak hanya berdampak pada takfir akan tetapi juka tindak
kekerasan adalah kasus yang menimpa Ahmadiyah Qodyan. Doktrin Ahmadiyah
Qodyan yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi mendapat reaksi
keras dan bahkan tindak kekerasan yang berujung pada pengrusakan Masjid
Ahmadiyah bahkan pembantaian. Doktrin kenabian Mirza Ghulam Ahmad ini
tidak terlepas dari pemaknaan hadis Ahmadiyah Qodyan tentang nuzu>l Isa al-
Masih yang dilakukan oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad putra Mirza
Ghulam Ahmad. Menurut Ahmadiyah Qodyan, yang diramalkan dalam hadis
tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad dengan posisi sebagai nabi layaknya nabinabi
terdahulu. Sebagai respon terhadap doktrin Ahmadiyah Qodyan ini,
Maulana Muhammad Ali yang merupakan salah satu pengikut setia Mirza
Ghulam Ahmad mendirikan gerakan tandingan dengan nama Ahmadiyah Lahore
dan menentang doktrin ini, karena menurutnya bertentangan dengan pandangan
Mirza Ghulam Ahmad. Untuk mematahkan pandangan Ahmadiyah Qodyan yang
dianggap salah tersebut, Maulana Muhammad Ali memahami hadis nuzu>l Isa al-
Masih tersebut sebagai ramalan Rasulullah tentang datangnya al-Masih Mirza
Ghulam Ahmad yang memiliki sifat seperti Isa al-Masih dan bukan sebagai
seorang nabi.
Penelitian ini berusaha mengkaji pemahaman Maulana Muhammad Ali
terhadap hadis nuzu>l Isa al-Masih. Dengan menggunakan metode deskriptifanalitik
dan pendekatan sejarah pemikiran (intellectual history) berupa
pemahaman holistik dengan menggabungkan tiga unsur penting berupa teks
(karya tulis), konteks, dan hubungan antara teks dengan masyarakat yang
melingkupi Maulana Muhammad Ali, diharapkan dapat memperoleh gambaran
tentang pemahaman Maulana Muhammad Ali terhadap hadis nuzu>l Isa al-Masih
secara komprehensif.
Dari hasil penelitian, hadis nuzu>l Isa al-Masih ini dipahami oleh Maulana
Muhammad Ali secara metaforis. Dalam pemaknaan metaforisnya, Maulana
Muhammad Ali menggunakan metode tematik dengan dibantu oleh dua
pendekatan yaitu bahasa dan sejarah (kisah-kisah dalam Bibel). Pemaknaan
metaforisnya ini terpengaruh oleh sikap simpatisnya kepada Mirza Ghulam
Ahmad. Kata nabi dan Isa ibn Maryam dalam hadis dipahamai secara metaforis
yaitu dengan hadirnya Mirza Ghulam Ahmad (yang memiliki sifat seperti Isa ibn
Maryam) dan berposisi sebagai Muh}addas| (nabi dalam arti bahasa, penerima
berita). Hadis ini dianggapnya sebagai dalil tentang diangkatnya Mirza Ghulam
Ahmad sebagai al-Masih yang dijanjikan dengan beberapa gelar yaitu Muh}addas|,
Mujaddid, dan juga al-Mahdi
KEWARISAN AHLI WARIS PENGGANTI DAN Z|AWI< AL-ARH}A>M (KAJIAN MENURUT KHI DAN HUKUM ISLAM)
Muhammad Zen, S. Ag, “Kewarisan Ahli Waris Pengganti dan Z|awi< al
arh}a>m (Kajian Menurut KHI dan Hukum Islam” Tesis Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2011.
Kata kunci : Ahli Waris Pengganti, Z|awi> Al-Arh}a>m, KHI, Hukum Islam.
Sistem kewarisan dalam hukum waris Islam didasarkan pada kitab suci Al Qur’an,
yaitu menganut sistem individual, dimana setelah pewaris meninggal dunia, harta
peninggalnnya dapat dibagikan kepada para ahli warisnya, baik pria maupun wanita sesuai
dengan haknya masing-masing. Agama Islam telah mengatur pembagian tersebut sudah
secara rinci dalam Al Qur’an dan Hadist agar tidak terjadi perselisihan di antara para ahli
waris.
Dalam Hukum Kewarisan Islam tidak mengenal adanya ahli waris pengganti, tetapi
yang ada ialah ahli waris z\awim, yaitu Keluarga mayit yang tidak termasuk
z\awid dan juga bukan termasuk as}a>bah”, secara sederhana bisa
dikatakan bahwa z\awim hanya diperuntukkan bagi kerabat dari jalur
perempuan, baik itu laki-laki maupun perempuan.
Hukum waris Islam di Indonesia baru mengenal adanya ahli waris pengganti
setelah dikeluarkannya Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam yang
pelaksanannya diatur berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor
154 Tahun 1991. Hal ini tertuang secara jelas dalam Pasal 185 ayat 1 dan 2.
Adapun produk dari KHI tentang z\awim adalah ahli waris pengganti
yang menjadikan kedudukan cucu baik laki-laki maupun perempuan mendapat hak atas
harta pusaka sebagai ahli waris pengganti orang tuanya, sebab cucu pewaris masih
mempunyai hubungan darah dengan pewaris sehingga termasuk dari kategori kerabat.
karena di kalangan masyarakat Indonesia banyak terjadi kasus yang meniadakan hak
waris cucu ketika orang tuanya meninggal lebih dahulu daripada pewaris, sehingga dirasa
tidak adanya keadilan terhadap anak yang ditinggalkan orang tuanya, padahal ketika
orang tuanya hidup mendapat bagian harta pusaka. Hal tersebut dapat dipahami karena di
dalam Al Qur’an sendiri tidak secara tegas mengatur mengenai ketentuan ahli waris
pengganti.
Melihat hal tersebut, ada indikasi yang menunjukkan bahwa ketentuan KHI yang
mencoba memposisikan z\awim termasuk ahli waris yang berhak
mendapatkan harta pusaka sebagai bentuk tawaran konsep keadilan dan kemaslahatan
bagi ahli waris z\awim yang disebut dengan ahli waris pengganti.
Rumusan masalah yang hendak dicari jawabanya dalam penulisan tesis ini
adalah: 1) Apa yang dimaksud dengan Ahli Waris Pengganti dan Z|awim;
2) Bagaimana pola kewarisan Ahli Waris Pengganti dan Z|awim;dan 3)
Kenapa ada hak waris bagi Ahli Waris Pengganti dalam KHI.
Adapun tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan Ahli Waris Pengganti dan Z|awim; bagaimana pola kewarisannya
dan mengetahui dasar hak waris bagi Ahli Waris Pengganti dalam KHI.
Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan
pemikiran dalam memberikan pemahaman kepada pencari keadilan di Pengadilan Agama tentang kewarisan yang berkaitan dengan ahli waris pengganti dan Z|awim
dalam KHI dan Hukum Islam serta untuk memperluas wawasan pengetahuan penulis dan
sebagai kontribusi pemikiran dalam bidang hukum kewarisan Islam. Jenis penelitian yang
penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini
merupakan studi komparatif yaitu perbandingan konsep ahli waris pengganti dan zawi al
arham dalam pandangan KHI dan Hukum Islam.
Adapun data primer yang penyusun gunakan adalah al-Mawa>ri<s\ fi< asy
Syarimiyyah fibi< wa as-Sunnah oleh Muhammad
‘Alibu>ni, Tas-hilul Fara-idh oleh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin,
Kompilasi Hukum Islam Buku II tentang kewarisan oleh Direktorat Pembinaan Badan
Peradilan Agama Depag 1991/1992 ditanbah buku-buku pendukung lainnya yang ada
kaitannya dengan sumber di atas. Metode yang dipakai dalam menganalisis data adalah
Content Analysis.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan persamaan dan
perbedaan Ahli Waris Pengganti dengan Z|awim. Kesamaannya bahwa
keduanya tidak golongan ahli waris z\awid dan as}a>bah. Mereka dianggap
sebagai keluarga “jauh” dari pewaris. Namun posisi Ahli Waris Pengganti dengan Z|awi<
al-Arh}a>m lebih dekat kepada pewaris, bila dibandingkan dengan seorang tuan dengan
maulanya dan bait al-ma>l. Pada kondisi, pewaris tidak meninggalkan ahli waris z\awi<
al-Furu>d dan as}a>bah atau harta yang diwariskan masih bersisa setelah dibagikan
kepada ahli waris z\awid dan as}a>bah, maka posisi ahli waris berikutnya
adalah z\awim, mawali, dan bait al-ma>l.
Adapun perbedaannya adalah; pertama, Ahli Waris Pengganti meliputi pihak
kerabat dari jalur laki-laki dan perempuan. Sedangkan z\awim hanya
diperuntukkan bagi kerabat dari jalur perempuan, baik itu laki-laki maupun perempuan.
Kedua, Ahli Waris Pengganti menganut prinsip bilateral. Sedangkan z\awim
menganut prinsip patrilineal. Ketiga, kewarisan Ahli waris pengganti bukanlah alternatif bila
harta warisan masih tersisa, namun ditetapkan sebagai pengganti bagi ahli waris yang
meninggal sebelum pewaris, sedangkan kewarisan z\awim bisa jadi
mendapatkan warisan yang tersisa setelah dibagikan kepada ahli waris z\awi< al
Furu>d dan as}a>bah
HERMENEUTIKA AL-QUR’AN DAN STUDI AL-QUR’AN DALAM KONTEKS KEINDONESIAAN
Al-Qur\u27an represents the source of first and most important Islamic Religion teaching besides al-Hadits, al-Qur\u27an degraded to Prophet Muhammad who was commisioned as last Prophet preaching Islamic Religion teaching to all people in the World. Al-Qur\u27an represents kalamullah which needs interpretation to be able to digest by mankind as creature, because at least there is limitation of human being in in comprehending the infinite Ianguage, so that, at a period of prophecy, perpetrator of interpreter was Prophet Muhammad till He passed away, hence it was continued by all disciples and tabi\u27in of mufassir having ability of interpretation, Along with growth of time, interpretation which have been assumed absolute and qot\u27ie by natural Islam people, various restlessness happened later; which was named hermeneutik. Hermeneutik can be interpreted to several things that are said to, ekplained to, translited to. Way of hermeneutik is on text only, all interpreters, and audiencies which later yielded; Interpretation means or results of interpretation. A Period of classic until a period of middle age in studying Al-Qur\u27an in Indonesia, it had not shown yet, because it was still influenced by idea of the middle east moslem scholar in a period of classic. When it is in modern period, Mahmud Yunus and Hamka started to show interpretation in the context of Indonesia
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INFORMASI RAHASIA PELAKU USAHA
Managing broadcasting management is not easy. Managing the broadcasting business is a difficult and challenging. This research aims to analyze the activity of management and organizational performance ACEH TV television media in an effort to disseminate the Islamic Sharia and Preservation of Local Culture in Aceh. This research is descriptive qualitative. Informants of this research is managing director, program director, executive producer, cameraman / reporter, as well as additional informants Regional Chairman of the Indonesian Broadcasting Commission (KPID) Aceh, Aceh Province Department of Islamic Law, and local media observers. The location of this research is in Banda Aceh, Aceh province.Sampling was done purposively. Data collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed by analysis of an interactive model of Miles and Huberman. The results showed that the ACEH TV as the medium of television that is broadcasting management ACEH have done according to a local television broadcasting standard. Agenda setting function of mass media performed in the ACEH TV dissemination of Islamic Shariah in Aceh and local culture to influence the people of Aceh to implement Islamic Sharia and also maintain the culture and local wisdom Aceh. It can be seen from all the programs that are aired ACEH TV is a program of local cultural nuances of Islamic law.There are still some shortcomings in running broadcasting broadcasting technology such as lack of equipment that is increasingly sophisticated. The results of image editing is very simple, and some programs presenter still looks stiff when in front of the camera. Keywords: Management of ACEH television,Islamic law,local culture Acehnese,agenda setting
Penafsiran KH. M. Zen Syukry dalam Kitab Qutul Qalbi QS. Al-Ikhlas 1-4: Sebuah Kajian Hermeneutika Fungsi Interpretasi Jorge J.E Gracia
This article discusses how the interpretation of KH. M. Zen Syukry in the book Qutul Qalbi QS. Al-Ikhlas 1-4 are analyzed using the theory of Function Interpretation of Jorge JE Gracia. The research methodology used in this research is qualitative with the type of library research (Library Research) through a descriptive analysis approach (descriptive analytic). From the analysis of the interpretation function theory of Jorge JE Gracia. KH. M. Zen Syukry has fulfilled the elements of the theory of the function of gracia interpretation of his interpretation; On the historical function KH. M. Zen Syukry explained about the fall of (asbabun–nuzul) Qs. Al-Ikhlas, namely when the Prophet Muhammad was asked by the polytheists about your God, then QS. Al-Ikhlas. In the function of developing meaning (meaning function) KH. M. Zen Syukry explains that Allah is a Essence that is exist (which must exist), and explains the meaning of the verses contained in it. Implication function (implicative function); its application is to use reason and Allah's guidance so that monotheism enters the soul, he continued, when mentioning Allah, one must recite with the heart. Because this interpretation is very thick with nuances of Sufi interpretation. So for further research it is recommended to use other hermeneutic theories in order to find reading results from other reading points of view
John Cage e a poética do silêncio
Tese (doutorado) - Universidade Federal de Santa Catarina, Centro de Comunicação e Expressão. Programa de Pós-graduação em LiteraturaEsta tese se propõe a analisar o silêncio a partir da obra de John Cage (especialmente a literária e a musical). Esse silêncio, inicialmente compreendido por Cage como um empírico (a pausa em música), revela-se gradualmente um transcendente: não mais uma substância nem a simples ausência de som, mas um modo da ação (modo de silêncio), aparecendo como estilo, profundidade, aura, dimensão, verticalidade, densidade. Esse silêncio implica modos de percepção e temporalidade próprios, descritos aqui a partir das noções de Gelassenheit (Heidegger) e Awareness (Gestalt) e estabelecendo conexões com as noções de Invisível em Merleau-Ponty e de Nada no Zen-budismo
Peranan Salman Al Farisi dalam perang Khondaq
Skripsi ini berjudul “Peranan Salman Al Farisi Dalam Perang Khondaq”. Yang dimaksud dalam judul ini adalah peranan Salman Al farisi dalam usulan pembuatan parid ketika akan mendapat serangan dari kaum ahzab. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: mengapa Salman Al farisi mengusulkan strategi pembuatan khondaq sebagai pertahanan ahzab; Mengapa dalam musyawarah antar kaum muslimin menerima strategi parit; Apakah motif kemenangan kaum muslimin terhadap kaum ahzab ditentukan oleh factor keyakinan; Apakah kaum Yahudi berhasil mengadakan konsolidasi diantara orang- orang kafir. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perang khondaq adalah perang antara kaum ahzab melawan kaum muslimin dengan menggunakan strategi parit. Dalam perang khondaq kaum muslimin memperoleh kemenangan berkat rahmat Alloh dan kesiap siagaan mereka dalam membaca situasi perang sebelumnya. Salman al Farisi adalah seorang pahlawan ahli siasat perang dan banyak pengalaman dari negara Persi yang belum pernah dimiliki dari orang- orang sebelumnya
KONSEP TAUHID DAN HERMENEUTIKA SUFISTIK KH. M. ZEN SYUKRI DALAM KITAB “QUTUL QALBI” (Perspektif Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer)
Tesis ini membahas konsep tauhid dan penafsiran; interpretasi KH. M. Zen Syukri dalam naskah Qutul Qalbi; Santapan Jiwa. Hermeneutika sufistik sebagai buah dari perkawinan interaksi manusia dan al-Quran, dalam hal ini ialah seorang sufi juga mursyid tarekat Sammaniyah di Palembang. Dalam teori klasik tafsir sufi dipetakan ke dalam dua klasifikasi tendensius yakni “Falsafi-nazhari” dan “sufi-isyari”, keduanya dianggap mampu untuk menampung semua geliat corak tafsir sufistik. Dalam penelitian ini penulis melihat lebih dalam tentang konsep tauhid dan penafsiran yang dilakukan oleh KH. M. Zen Syukri serta unsur yang mempengaruhi dalam menafsirkan ayat al- Quran yang digunakannya sebagai landasan dan legitimasi pada karyanya yang berjudul Qutul Qalbi juga dipakai dalam pengajian tarekat Sammaniyah di Palembang. Penelitian ini menggunakan metodelogi penelitian kualitatif dengan jenis penilitian Libarary Research, menggunkan sumber data dari kitab-kitab dan buku yang terkait dengan objek penelitian, selanjutnya peneliti menganalisis data yang dikumpulkan dengan pendekatan analisis-kritis. Pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini;(1) Bagaimana konsep tauhid yang ditawarkan dan Mengapa KH. M. Zen Syukri mewacanakan konsep tauhid yang ditulisnya dalam naskah “Qutul Qalbi”? (2) Bagaimana hermeneutika sufistik QS. al-Ikhlas 1-4 dalam naskah Qutul Qalbi dianalisis melalui kacamata hermeneutika filosofis Hans George Gadamer serta implikasinya? Melalui rumusan masalah di atas, penelitian kualitatif ini menyimpulkan bahwa konsep tauhid Kiai Zen yakni menuju ke yang satu (ahad), dengan segala af‟al, asma dan sifatnya. Adapun yang menjadi temuan baru ialah penekanan Kiai Zen pada “af‟al”nya Allah. Penulis menangkap definisi tauhid Kiai Zen bukan lagi pada “Laa Ma‟bud IllaAllah”, tetapi “Laa Fa‟ila IllaAllah”, Semua adalah atas perbuatan; kehendak Allah SWT. Serta, kondisi sosial masyarakat Palembang mengalami pergeseran tradisi yang disebabkan keragaman artikulasi keagamaan yang bersifat “fundamentalis”, pengkultusan, dan munculnya gerakan pembaharuan. sehingga merespon Kiai Zen untuk menuliskan karyanya, karena secara keilmuan Kiai Zen sudah terbangun sedari keluarga, juga unsur tarekat serta proses nyantri di bawah asuhan KH Hasyim Asy‟ari turut membentuk pribadi yang matang secara emosional dan keilmuan. Adapun interpretasi; tafsir Kiai Zen masuk pada kategori tafsir sufi; “sufi-isyari” sedangkan jika dibaca melalui kacamata hermeneutika filosofis Gadamer, Kiai Zen mampu menghasilkan makna baru. bahwa yang membedakan Islam dengan agama lainnya ialah ajaran “Tauhid Mutlak” yang tidak menegenal syirik, tidak menyekutukan Allah berdasarkan firman-firman-Nya dalam al-Quran yang diwahyukan sejak nabi Adam, a.s. sampai kepada nabi Muhammad Saw. Dengan menggunakan akal dan “tasdiq” hati serta hidayah dari Allah untuk mencapai “i‟tikad” terhadap keesaan Allah Swt. Implementasi yang dihasilkan adalah dapat menyatupadukan umat, mengandung asas amal, membentuk dasar yang kuat bagi kemajuan umat manusia, serta menciptakan akhlak yang luhur. Selaras dengan al-Quran bahwa umat Islam yang beriman adalah umat yang „khaira ummatin‟ adalah sebaik-baik umat
- …
