Jurnal Pewarta Indonesia
Not a member yet
    128 research outputs found

    Pola Komunikasi Interpersonal Keluarga dalam Pembentukan Konsep Diri Anak

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pola komunikasi interpersonal orang tua berperan dalam membentuk konsep diri anak di era digital, dengan fokus pada konteks sosial di Desa Manang, Sukoharjo. Latar belakang penelitian ini berangkat dari perubahan pola komunikasi keluarga akibat kemajuan teknologi digital yang memengaruhi proses interaksi, kedekatan emosional, serta pembentukan identitas diri anak. Kerangka teori yang digunakan adalah Teori Penetrasi Sosial, yang menjelaskan kedekatan dalam hubungan interpersonal berkembang melalui tahapan pengungkapan diri yang semakin dalam. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian melibatkan lima keluarga yang dipilih secara purposive, mempertimbangkan variasi tingkat pendidikan, kemampuan penggunaan teknologi orang tua, serta rentang usia anak antara 16–23 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memperoleh gambaran utuh mengenai dinamika komunikasi dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan pola komunikasi autoritatif, ditandai keterbukaan, dukungan emosional, serta interaksi dua arah, berkontribusi terhadap terbentuknya konsep diri anak yang positif, stabil, dan percaya diri. Sebaliknya, pola otoriter maupun permisif cenderung melahirkan konsep diri yang lemah, terfragmentasi, atau tidak konsisten. Temuan ini menegaskan relevansi teori penetrasi sosial dalam konteks keluarga digital, sekaligus menyoroti pentingnya komunikasi reflektif dan empatik. Kesimpulannya, pola komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh dukungan menjadi fondasi utama dalam memperkuat konsep diri anak di tengah tantangan sosial dan teknologi era digital.Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pola komunikasi interpersonal orang tua berperan dalam membentuk konsep diri anak di era digital, dengan fokus pada konteks sosial di Desa Manang, Sukoharjo. Latar belakang penelitian ini berangkat dari perubahan pola komunikasi keluarga akibat kemajuan teknologi digital yang memengaruhi proses interaksi, kedekatan emosional, serta pembentukan identitas diri anak. Kerangka teori yang digunakan adalah Teori Penetrasi Sosial, yang menjelaskan kedekatan dalam hubungan interpersonal berkembang melalui tahapan pengungkapan diri yang semakin dalam. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian melibatkan lima keluarga yang dipilih secara purposive, mempertimbangkan variasi tingkat pendidikan, kemampuan penggunaan teknologi orang tua, serta rentang usia anak antara 16–23 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memperoleh gambaran utuh mengenai dinamika komunikasi dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan pola komunikasi autoritatif, ditandai keterbukaan, dukungan emosional, serta interaksi dua arah, berkontribusi terhadap terbentuknya konsep diri anak yang positif, stabil, dan percaya diri. Sebaliknya, pola otoriter maupun permisif cenderung melahirkan konsep diri yang lemah, terfragmentasi, atau tidak konsisten. Temuan ini menegaskan relevansi teori penetrasi sosial dalam konteks keluarga digital, sekaligus menyoroti pentingnya komunikasi reflektif dan empatik. Kesimpulannya, pola komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh dukungan menjadi fondasi utama dalam memperkuat konsep diri anak di tengah tantangan sosial dan teknologi era digital

    Identity and Struggle of Women Micro, Small and Medium Enterprises in Digital Social Media Communication

    Full text link
    This study explores how female micro-entrepreneurs in Pangandaran construct their identities and narrate their economic struggles through digital communication on social media. Drawing on a qualitative case study approach, the research identifies that social media functions not merely as a marketing tool but also as a symbolic space for self-representation, emotional engagement, and collective empowerment. The findings reveal that identity construction among women entrepreneurs is shaped by a combination of domestic roles, cultural values, religious expressions, and community affiliation. Through platforms such as WhatsApp, Facebook, and Instagram, these women employ simple but consistent communication strategies to promote their businesses, connect with customers, and share personal narratives. Many include culturally embedded elements in their posts, such as local dialects, traditional products, and expressions of gratitude, reflecting their rootedness in local traditions and values. Community networks like Baraya and PPUMI serve as key enablers of cooperative branding and digital literacy, strengthening the social capital among members. This research confirms that digital communication is an essential tool for empowerment, particularly when it aligns with local contexts and gendered experiences. It also highlights the importance of narrative-based digital training and participatory approaches in fostering inclusive digital entrepreneurship. The study contributes to a deeper understanding of how digital media intersects with gender, culture, and economic resilience in tourism-based regions in Indonesia

    Pembentukan Citra Kepemimpinan Digital: Analisis Retorika William Tanuwijaya di Podcast Deddy Corbuzier

    Full text link
    Kepemimpinan merupakan bentuk pengaruh sosial yang kompleks dan menuntut kajian multidisipliner untuk memahaminya secara utuh. Dalam konteks ini, retorika menjadi aspek penting dalam membentuk citra kepemimpinan, terutama di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi retorika yang digunakan oleh William Tanuwijaya, pendiri dan CEO Tokopedia, dalam membangun citra sebagai pemimpin digital Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah metode analisis isi kualitatif dengan mengacu pada teori retorika Aristoteles, khususnya tiga elemen utama: ethos, logos, dan pathos. Data diperoleh dari transkrip percakapan dalam video podcast yang diunggah di YouTube melalui teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, William Tanuwijaya memanfaatkan ketiga aspek retorika tersebut secara seimbang, sehingga mampu membangun kredibilitas, menyampaikan pesan secara logis, dan menyentuh sisi emosional audiens. Strategi retorika ini tidak hanya memperkuat citra pribadinya sebagai pemimpin, tetapi juga menjadi model inspiratif dalam kepemimpinan digital di Indonesia.Kepemimpinan merupakan bentuk pengaruh sosial yang kompleks dan menuntut kajian multidisipliner untuk memahaminya secara utuh. Dalam konteks ini, retorika menjadi aspek penting dalam membentuk citra kepemimpinan, terutama di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi retorika yang digunakan oleh William Tanuwijaya, pendiri dan CEO Tokopedia, dalam membangun citra sebagai pemimpin digital Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah metode analisis isi kualitatif dengan mengacu pada teori retorika Aristoteles, khususnya tiga elemen utama: ethos, logos, dan pathos. Data diperoleh dari transkrip percakapan dalam video podcast yang diunggah di YouTube melalui teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa William Tanuwijaya memanfaatkan ketiga aspek retorika tersebut secara seimbang, sehingga mampu membangun kredibilitas, menyampaikan pesan secara logis, dan menyentuh sisi emosional audiens. Strategi retorika ini tidak hanya memperkuat citra pribadinya sebagai pemimpin, tetapi juga menjadi model inspiratif dalam kepemimpinan digital di Indonesia

    Analisis Naratif Video "Apa Pendapatmu Tentang Disabilitas?"

    No full text
    This study explores the video "Apa Pendapatmu Tentang Disabilitas?" created by UNICEF Indonesia in honor of the International Day of Persons with Disabilities. Using a qualitative approach and narrative analysis, the research delves into how the video’s storytelling shapes public perceptions of individuals with disabilities. The study focuses on elements like emotion, plot, structure, and characters, which collectively convey a strong message of inclusivity. The findings reveal that the video successfully sheds light on the social stigma faced by people with disabilities while showcasing their strength and resilience. By emphasizing narrative coherence and authenticity, the video delivers a powerful and relatable message that encourages viewers to rethink their perspectives. More than just an informational piece, the video emerges as a meaningful tool for challenging discrimination and promoting equality for persons with disabilities. Keywords:  narrative analysis, disability, social stigma, storytelling, inclusivityPenelitian ini menganalisis video berjudul "Apa Pendapatmu Tentang Disabilitas?" yang diproduksi oleh UNICEF Indonesia dalam memperingati Hari Disabilitas Internasional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis naratif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana struktur narasi video membentuk persepsi masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Analisis mencakup unsur-unsur storytelling, seperti emosi, plot, struktur, dan karakter, yang mendukung penyampaian pesan inklusivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video ini berhasil mengungkap stigma sosial yang dialami penyandang disabilitas sekaligus menyoroti ketahanan dan keberdayaan mereka. Penekanan pada koherensi naratif dan kebenaran cerita memperkuat pesan inklusif dan mengajak audiens untuk mengubah pola pikir. Video ini tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai alat untuk melawan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Kata Kunci: analisis naratif, disabilitas, stigma sosial, storytelling, inklusivita

    Queer Coding dalam Squid Game: Analisis Teori Semiotika dan Queer terhadap Subteks LGBTQ+ yang Tersembunyi

    No full text
    This research analyzes how the Squid Game series utilizes queer coding as a semiotic strategy to insert LGBTQ+ representations in the context of South Korean culture which is still dominated by heteronormative norms. Using a qualitative approach and visual semiotic analysis based on the theories of gender performativity (Butler), cultural myth (Barthes), and the concept of representation (Stuart Hall), this study identifies four forms of queer coding: predatory aesthetics, ambivalent queer heroism, gender ambiguous bodies, and symbolic resistance. The findings show that queer coding in Squid Game is ambivalent and can challenge patriarchal norms, while simultaneously reproducing stereotypes and deviance. The analysis also reveals that queer coding operates in a tug-of-war between political resistance, global market demands, and local cultural censorship. This research contributes to the global discourse on LGBTQ+ representations in non-Western popular media, and opens up space for critical reflection on how queer aesthetics are commodified in contemporary entertainment capitalism.Penelitian ini menganalisis bagaimana serial Squid Game memanfaatkan queer coding sebagai strategi semiotik untuk menyisipkan representasi LGBTQ+ dalam konteks budaya Korea Selatan yang masih didominasi norma heteronormatif. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis semiotika visual berbasis teori performativitas gender (Butler), mitos budaya (Barthes), dan konsep representasi (Stuart Hall), penelitian ini mengidentifikasi empat bentuk queer coding: estetika predatoris, kepahlawanan queer yang ambivalen, tubuh ambigu secara gender, dan resistensi simbolik. Temuan menunjukkan bahwa queer coding dalam Squid Game bersifat ambivalen dan dapat menantang norma patriarkal, namun sekaligus mereproduksi stereotip dan deviansi. Analisis ini juga mengungkap bahwa queer coding beroperasi dalam medan tarik-menarik antara resistensi politik, tuntutan pasar global, dan sensor budaya lokal. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus global tentang representasi LGBTQ+ dalam media populer non-Barat, serta membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana estetika queer dikomodifikasi dalam kapitalisme hiburan kontemporer

    Representasi Dukun Wanita sebagai Medium Komunikasi dalam Film Dokumenter "Shaman: Whisper from the Dead"

    Full text link
    Shamanisme Korea merupakan sistem kepercayaan tradisional yang menempatkan dukun, khususnya wanita, sebagai perantara spiritual yang memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat dan tetap bertahan melalui berbagai transformasi hingga era digital, salah satunya melalui medium film dokumenter. Dokumenter Shaman: Whisper from the Dead merepresentasikan praktik tersebut secara autentik dan menyajikan pembacaan ulang terhadap citra dukun dalam wacana visual kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi dukun wanita digambarkan dalam film dengan berfokus pada adegan, dialog, dan simbol visual yang mewakili dukun sebagai media komunikasi antara manusia, roh, dan dewa. Dengan menggunakan paradigma post-positivisme dan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis satu episode secara mendalam melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Data disajikan dalam narasi deskriptif, tabel, dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan dukun wanita sebagai tokoh sentral dalam praktik spiritual Korea Selatan sebagai pendeteksi gangguan spiritual, fasilitator, dan wadah fisik bagi entitas supernatural. Film dokumenter ini menunjukkan bahwa spiritualitas memberikan ruang bagi wanita untuk membangun otoritas dalam budaya patriarki, sekaligus menggeser stigma negatif terhadap dukun yang sering dikaitkan dengan praktik gelap dalam genre horor atau thriller.Shamanisme Korea merupakan sistem kepercayaan tradisional yang menempatkan dukun, khususnya wanita, sebagai perantara spiritual yang memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat dan tetap bertahan melalui berbagai transformasi hingga era digital, salah satunya melalui medium film dokumenter. Dokumenter Shaman: Whisper from the Dead merepresentasikan praktik tersebut secara autentik dan menyajikan pembacaan ulang terhadap citra dukun dalam wacana visual kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi dukun wanita digambarkan dalam film dengan berfokus pada adegan, dialog, dan simbol visual yang mewakili dukun sebagai media komunikasi antara manusia, roh, dan dewa. Dengan menggunakan paradigma post-positivisme dan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis satu episode secara mendalam melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Data disajikan dalam narasi deskriptif, tabel, dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan dukun wanita sebagai tokoh sentral dalam praktik spiritual Korea Selatan sebagai pendeteksi gangguan spiritual, fasilitator, dan wadah fisik bagi entitas supernatural. Film dokumenter ini menunjukkan bahwa spiritualitas memberikan ruang bagi wanita untuk membangun otoritas dalam budaya patriarki, sekaligus menggeser stigma negatif terhadap dukun yang sering dikaitkan dengan praktik gelap dalam genre horor atau thriller

    Pengaruh slogan Pendidikan “Embrace Your Passion, Prepare Your Future†terhadap kreativitas Pelajar SMAK PENABUR Summarecon Bekasi

    No full text
    This study aims to analyze the impact of the educational slogan "Embrace Your Passion, Prepare Your Future" on student creativity at SMAK PENABUR Summarecon Bekasi. This slogan is implemented as part of the school's philosophy, encouraging students to recognize and develop their passions while preparing for a future full of innovation. The research employs Structural Equation Modeling (SEM) using Smart PLS 3.0 software. The results show that the educational slogan has a positive and significant effect on student creativity, with a P-value smaller than 0.05 and T-statistics exceeding the significant threshold. The study also finds that a supportive educational environment plays a crucial role in fostering students' creativity. Therefore, this research recommends that schools create a balance between academic achievement and creativity development by implementing programs that encourage interest exploration and innovation, both inside and outside the classroom. These findings highlight the importance of applying educational slogans as a tool to motivate students in reaching their creative potential, which is highly relevant to the dynamic and competitive demands of the modern workforce.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh slogan pendidikan "Embrace Your Passion, Prepare Your Future" terhadap kreativitas pelajar di SMAK PENABUR Summarecon Bekasi. Slogan ini diterapkan sebagai bagian dari filosofi sekolah yang mendorong pelajar untuk mengenali dan mengembangkan passion mereka, serta mempersiapkan masa depan dengan inovasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan perangkat lunak Smart PLS 3.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa slogan pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pelajar, dengan nilai P-value yang lebih kecil dari 0,05 dan nilai T-statistics yang melebihi batas signifikan. Penelitian ini juga menemukan bahwa lingkungan pendidikan yang mendukung sangat berperan dalam mengembangkan kreativitas siswa. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan agar sekolah menciptakan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pengembangan kreativitas melalui program yang mendorong eksplorasi minat dan inovasi, baik di dalam maupun di luar kelas. Temuan ini memperkuat pentingnya penerapan slogan pendidikan sebagai alat untuk memotivasi pelajar dalam mencapai potensi kreatif mereka, yang sangat relevan dengan tantangan dunia kerja yang semakin dinamis dan kompetitif

    Analisis Teks Respon Otomatis Chatbot Provider Internet dan Telepon Seluler Menggunakan Karakter Perempuan

    Full text link
    Customer service from various providers now integrates artificial intelligence, allowing users to access assistance anytime, 24/7. This study explores human-machine interaction through the lens of the Media Equation theory. The primary focus is to analyze the message content from three AI-powered virtual assistants: Maira from MyRepublic, Veronika from Telkomsel, and Maya from XLCare. Using a qualitative approach, this research examines text-based conversations between users and chatbots to understand how these AI systems engage with customers. The findings reveal that the chatbots, personified with female identities Maira, Veronika, and Maya are designed to exhibit human-like characteristics, making interactions feel more natural. This study highlights how human communication with AI can mirror interpersonal relationships. However, further research is needed to explore how chatbot-driven interactions align with the Media Equation theory, particularly in measuring user satisfaction.Pelayanan pada pengguna dari provider sudah menggunakan teknologi kecerdasan buatan yang bisa di akses setiap hari dan setiap waktu. Interaksi antar manusia dengan mesin dalam teori persamaan media menjadi pokok penelitian disini. Tujuannya adalah untuk menganalisis isi pesan dari 3 provider Maira MyRepublic, Veronika Telkomsel, dan Maya XLCare. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan melakukan analisis teks percakapan antara pengguna dengan chatbot. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya penggunaan karakter perempuan yang dinamakan Maira, Veronika, dan Maya yang memberikan sifat pada mesin dengan lebih manusiawi. Menjelaskan tentang komunikasi manusia dengan teknologi yang hidup berinteraksi layaknya hubungan antar manusia. Perlu banyak penelitian lebih lanjut terkait dengan persamaan media menggunakan chatbot yang mengukur tingkat kepuasan pengguna

    Perlawanan Teks dari Perempuan Terbungkam oleh Kuasa Patriarki

    No full text
    Penelitian ini mengkaji bagaimana perempuan korban kekerasan seksual yang dilakukan seorang difabel mengungkapkan pengalaman mereka dan melawan keraguan dan pembungkaman oleh sistem sosial yang patriarki melalui platform media sosial Yotube. Metode yang digunakan adalah pendekatan semiotika sosial yang mencakup analisis pada tiga tingkatan yaitu bahasa, konteks situasional, dan konteks kultural, untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana korban menyusun pesan dalam pengungkapan, interaksi dengan audiens, proses pengalaman, aktor yang terlibat, dan konteks kejadian. Hasil analisis ini menunjukkan perempuan korban menggunakan bahasa dengan segala tantangan keterbatasan pilihan kata kepada kelompok dominan, serta perempuan lebih merasa nyaman dengan pemanfaatan dan media sosial seperti Podcast di Yotube untuk mengutarakan pengalaman dan pemberontakan mereka terhadap kekerasan seksual meskipun masih terdapat tantangan dalam menghadapi norma-norma sosial dan budaya yang mendukung pembungkaman dan penyalahan korban. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang perlawanan dengan teks di ruang publik oleh perempuan korban pelecehan seksual melawan kekuasaan patriartki dan peran new media berupa podcast memfasilitasi ruang komunikasi yang nyaman bagi perempuan korban.Penelitian ini mengkaji bagaimana perempuan korban kekerasan seksual yang dilakukan seorang difabel mengungkapkan pengalaman mereka dan melawan keraguan dan pembungkaman oleh sistem sosial yang patriarki melalui platform media sosial Yotube. Metode yang digunakan adalah pendekatan semiotika sosial yang mencakup analisis pada tiga tingkatan yaitu bahasa, konteks situasional, dan konteks kultural, untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana korban menyusun pesan dalam pengungkapan, interaksi dengan audiens, proses pengalaman, aktor yang terlibat, dan konteks kejadian. Hasil analisis ini menunjukkan perempuan korban menggunakan bahasa dengan segala tantangan keterbatasan pilihan kata kepada kelompok dominan, serta perempuan lebih merasa nyaman dengan pemanfaatan dan media sosial seperti Podcast di Yotube untuk mengutarakan pengalaman dan pemberontakan mereka terhadap kekerasan seksual meskipun masih terdapat tantangan dalam menghadapi norma-norma sosial dan budaya yang mendukung pembungkaman dan penyalahan korban. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang perlawanan dengan teks di ruang publik oleh perempuan korban pelecehan seksual melawan kekuasaan patriartki dan peran new media berupa podcast memfasilitasi ruang komunikasi yang nyaman bagi perempuan korban

    Social Construction of Technology Dalam Perspektif Global: Sebuah Systematic Literature Review

    No full text
    Studi ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan sistematis terhadap pendekatan Social Construction of Technology (SCOT) dalam berbagai konteks global dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang mengacu pada pedoman PRISMA 2020. SCOT memandang bahwa perkembangan teknologi bukan semata-mata ditentukan oleh aspek teknis, melainkan hasil dari proses sosial, interaksi, serta negosiasi makna yang melibatkan berbagai kelompok sosial. Penelitian ini mengidentifikasi 31 artikel jurnal internasional yang relevan dari basis data Scopus pada periode 2020–2025 melalui lima tahapan PRISMA: formulasi pertanyaan penelitian, penetapan kriteria seleksi, pemilihan artikel, penyaringan literatur, dan ekstraksi data. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori SCOT diterapkan luas pada domain teknologi (48,4%), masyarakat (35,5%), dan komunikasi (12,9%), dengan dimensi inovasi sebagai fokus utama. Mayoritas penelitian menggunakan pendekatan kualitatif (83,87%), dan sebagian kecil mengadopsi metode campuran. Kontribusi terbesar berasal dari penulis di Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda. Namun, temuan penting dari studi ini adalah masih minimnya eksplorasi terhadap dimensi komunikasi dalam studi-studi SCOT, padahal komunikasi memainkan peran sentral dalam proses interpretative flexibility, yaitu pembentukan makna teknologi melalui interaksi sosial. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan integrasi lebih kuat antara pendekatan SCOT dan perspektif komunikasi dalam menganalisis konstruksi sosial teknologi. Secara metodologis, pendekatan bibliometrik dan critical discourse analysis juga dapat dikombinasikan untuk menelusuri dinamika wacana sosial yang membentuk penerimaan atau resistensi terhadap teknologi. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan kajian teknologi dan masyarakat yang lebih kontekstual dan inklusif, serta menekankan pentingnya partisipasi aktif kelompok sosial dalam perencanaan dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan budaya masyarakat.Studi ini menelaah teori Social Construction of Technology (SCOT) yang menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak berlangsung secara linear, melainkan dibentuk oleh proses sosial dan komunikasi antar kelompok sosial yang relevan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penerapan pendekatan SCOT dalam studi-studi global serta menilai keterkaitannya dengan dimensi komunikasi dalam masyarakat digital. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020, penelitian ini menganalisis 31 artikel jurnal bereputasi yang diperoleh dari database Scopus periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar artikel berfokus pada domain teknologi dan masyarakat, sementara dimensi komunikasi masih jarang disentuh. Padahal, komunikasi memainkan peran penting dalam proses interpretative flexibility, yakni proses pembentukan makna teknologi melalui negosiasi antaraktor. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pengayaan pendekatan SCOT dengan mengintegrasikan perspektif komunikasi untuk memahami dinamika sosial dalam pengembangan dan adopsi teknologi secara lebih inklusif

    103

    full texts

    128

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pewarta Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇