Jurnal Pewarta Indonesia
Not a member yet
    128 research outputs found

    Nostalgia dalam Musik Kontemporer sebagai Strategi Era Postmodern: Studi Musik Diskoria

    Full text link
    This study explores the use of nostalgia aesthetics in contemporary music as a strategic communication tool in the postmodern era, with a focus on the works of Diskoria. Rooted in postmodern theory, particularly the concept of pastiche and intertextuality, this research examines how these frameworks support the integration of retro elements from the 1970s and 1980s into modern music and visuals to create emotional resonance across generations. The primary objective is to understand how nostalgia functions as a medium for cultural identity and audience engagement. Using a qualitative constructivist approach, this study employs textual and visual analysis on Diskoria’s song lyrics and official music videos. Data triangulation, through comparisons with relevant literature and references, ensures the reliability of findings. The analysis focuses on the manifestation of nostalgic aesthetics and their role in communication strategies. The findings reveal that nostalgia effectively strengthens emotional connections between audiences and cultural narratives of the past. Diskoria’s strategic use of retro elements, such as pastiche and intertextual references, bridges generational gaps while fostering a unique identity within the dynamics of postmodern media. Compared to previous research, this study highlights how nostalgia aesthetics amplify cross-generational appeal and reinforce cultural identity in a globalized music landscape. Nostalgia aesthetics not only enhance the artistic value of music but also operate as a communication strategy that fosters cultural connections and broadens audience engagement, demonstrating their relevance in the field of communication studies.Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan estetika nostalgia dalam musik kontemporer sebagai alat komunikasi strategis di era postmodern, dengan studi kasus pada karya Diskoria. Berlandaskan pada teori postmodern, khususnya konsep pastiche dan intertekstualitas, penelitian ini menganalisis bagaimana kerangka kerja tersebut mendukung integrasi elemen retro dari tahun 1970-an dan 1980-an ke dalam musik dan visual modern untuk menciptakan resonansi emosional lintas generasi. Tujuan utama penelitian ini adalah memahami bagaimana nostalgia berfungsi sebagai medium untuk memperkuat identitas budaya dan keterlibatan audiens. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis, penelitian ini menerapkan analisis teks dan visual pada lirik lagu serta video musik resmi Diskoria. Triangulasi data dilakukan dengan membandingkan temuan dengan literatur dan referensi yang relevan untuk memastikan keandalan hasil. Analisis difokuskan pada manifestasi estetika nostalgia dan perannya dalam strategi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nostalgia secara efektif memperkuat koneksi emosional antara audiens dan narasi budaya masa lalu. Penggunaan strategis elemen retro oleh Diskoria, seperti pastiche dan referensi intertekstual, menjembatani kesenjangan generasi sambil membangun identitas unik dalam dinamika produksi media di era postmodern. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, studi ini menyoroti bagaimana estetika nostalgia meningkatkan daya tarik lintas generasi dan memperkuat identitas budaya dalam lanskap musik yang semakin mengglobal. Estetika nostalgia tidak hanya meningkatkan nilai artistik musik, tetapi juga berfungsi sebagai strategi komunikasi yang memperkuat koneksi budaya dan memperluas keterlibatan audiens, menunjukkan relevansinya dalam studi ilmu komunikasi

    Peran Komunikasi Dialogis dan Modal Sosial dalam Pengembangan Desa Wisata Rotan Trangsan

    Full text link
    This research is based on the great potential of Trangsan Village in the development of a tourism village. Trangsan Rattan Tourism Village is known as the largest rattan artisan industry in Central Java Province and the second largest in Indonesia. Dialogical communication between the Trangsan Village Government and the community can build active community participation and strengthen their social capital in the development of tourism villages. Social capital owned by the community, such as trust, social networks, and prevailing values and norms, is believed to play an important role in the development of tourism in the village. This research aims to describe the role of dialogic communication and social capital in the development of Trangsan Rattan Tourism Village. This research uses a qualitative method with a case study approach. Data collection was conducted by observation and interviewing various related parties, including the local community, tourism village managers and the village government. The results showed that the Trangsan Village government has implemented dialogic communication and utilized social capital well in developing Trangsan Rattan Tourism Village. The most dominant important factor is the existence of mutuality, closeness and trust between the village government and the community and stakeholders, as well as a strong social network, contributing to the development of the tourist village.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi besar yang dimiliki Desa Trangsan dalam pengembangan desa wisata. Desa Wisata Rotan Trangsan dikenal sebagai industri pengrajin rotan terbesar yang ada di Provinsi Jawa Tengah dan menjadi nomor dua terbesar di Indonesia. Komunikasi dialogis antara Pemerintah Desa Trangsan dengan masyarakat dapat membangun partisipasi aktif masyarakat dan memperkuat modal sosial yang dimiliki dalam pengembangan desa wisata. Modal sosial yang dimiliki masyarakat, seperti kepercayaan, jaringan sosial, serta nilai dan norma yang berlaku, diyakini memainkan peran penting dalam pengembangan wisata di desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran komunikasi dialogis dan modal sosial dalam pengembangan Desa Wisata Rotan Trangsan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara berbagai pihak terkait, termasuk masyarakat setempat, pengelola desa wisata dan pemerintah desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Desa Trangsan telah menerapkan komunikasi dialogis dan memanfaatkan modal sosial dengan baik dalam mengembangkan Desa Wisata Rotan Trangsan. Faktor penting yang paling dominan yaitu adanya hubungan mutualitas, kedekatan dan kepercayaan antara pemerintah desa dengan masyarakat dan stakeholder, serta jaringan sosial yang kuat, berkontribusi dalam pengembangan desa wisata

    Pengaruh Disiplin Kerja, Lingkungan Kerja dan Komunikasi Organisasi terhadap Kepuasan Kerja Karyawan PT. Pilar Inti Fittindo

    No full text
    Penelitian ini dilakukan di PT. PIF untuk mengetahui sejauh mana faktor komunikasi organisasi, disiplin kerja, dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik sampel jenuh, seluruh populasi sebanyak 72 karyawan dijadikan responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner online yang dirancang untuk mengukur variabel penelitian, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini menegaskan bahwa keterbukaan, kejelasan, serta efektivitas komunikasi di dalam organisasi mampu meningkatkan rasa puas karyawan terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, variabel disiplin kerja dan lingkungan kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial terhadap kepuasan kerja. Meskipun demikian, ketiga variabel tersebut secara simultan terbukti memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan kerja dengan kontribusi sebesar 62,3%, sedangkan 37,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi organisasi sebagai strategi utama dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan, sekaligus menjadi masukan bagi perusahaan untuk terus mengembangkan aspek manajerial lainnya agar kepuasan kerja dapat lebih optimal.Manajemen sumber daya manusia berperan penting dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan di PT. Pilar Inti Fittindo di tengah persaingan industri yang ketat. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik sampel jenuh, data dikumpulkan melalui kuesioner online dari 72 responden dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunikasi Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Kerja, sementara Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja tidak berpengaruh secara parsial. Namun, secara simultan, ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh positif terhadap Kepuasan Kerja dengan kontribusi sebesar 62,3%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini

    Representasi Tri Hita Karana pada Film Dokumenter 'Bali Menantang Masa Depan'

    Full text link
    The documentary film ‘Bali Menantang Masa Depan’ by I Gede Putu Wiranegara contains opinions, social and cultural criticsm of the changes in Bali island since globalization. Bali is admired by people from within the country and abroad, because some of it is people still preserve their Balinese culture in the admist of modernization. The popularity of Bali has fatally led to corcens for it is natural condition and the condition of it is people. Researchers are interested in analyzing this film through the emergence of signs that are interpreted as part of the Balinese spiritual concept, Tri Hita Karana. This research uses Roland Barthes’s semantic thinking and analysis method, which divides the object of research into denotation, connotation, and myth. The results of the research are many problems that arise due to lack of maintining the pawongan. Nature still exist as it was formed and God will always remain with his nature, but mankind who change their nature. Keywords:  Documentary film; IGP Wiranegara; Bali; Tri Hita Karana; Semiotic; Roland Barthes; Modernization; Mankind; Pawongan.Film Dokumenter ‘Bali Menantang Masa Depan’ karya I Gede Putu Wiranegara berisikan pendapat, kritik sosial dan budaya terhadap perubahan yang terjadi di Pulau Bali, akibat globalisasi. Bali dikagumi orang dari dalam negeri maupun manca negara karena budaya tradisional Bali masih dilestarikan oleh sebagian warganya di tengah arus modernisasi. Popularitas Bali fatalnya menyebabkan keprihatinan kondisi alam dan kondisi masyarakatnya. Peneliti tertarik untuk menganalisis film ini melalui kemunculan tanda yang dimaknai sebagai bagian dari konsep spiritual Bali, Tri Hita Karana. Penelitian ini menggunakan metode berpikir dan analisis semotika milik Roland Barthes, yang membagi objek penelitian menjadi denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian banyak permasalahan yang muncul karena kurang menjaganya pawongan. Alam akan tetap ada seperti awal pembentukkannya dan Tuhan akan selalu tetap dengan sifatnya, tetapi manusialah yang mengubah kodratnya. Kata Kunci:  Film dokumenter; IGP Wiranegara; Bali; Tri Hita Karana; Semiotika; Roland Barthes, Modernisasi, Manusia, Pawongan

    Efektivitas Saluran Komunikasi Vertikal dan Horizontal Lembaga Filantropi Islam

    No full text
    Komunikasi internal yang optimal merupakan faktor esensial dalam mempertahankan kinerja organisasi, khususnya di sektor sosial keagamaan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi langsung, serta analisis dokumen pada salah satu lembaga filantropi Islam yang memiliki reputasi nasional Laznas PPPA Daarul Qur’an. Tujuan kajian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas saluran komunikasi vertikal dan horizontal dalam konteks lembaga filantropi Islam. Hasil kajian mengungkapkan bahwa komunikasi vertikal—antara pimpinan dan bawahan—bersifat formal dan mengikuti struktur organisasi, namun sering kali belum mampu merespons perubahan yang terjadi di lapangan secara cepat. Sebaliknya, komunikasi horizontal antarpegawai atau antarbagian menunjukkan karakteristik yang lebih fleksibel dan adaptif, meskipun berisiko memunculkan tumpang tindih informasi jika tidak ditata dengan sistem koordinasi yang baik. Temuan tersebut menekankan pentingnya pengembangan sistem komunikasi dua arah yang efektif, serta integrasi teknologi informasi guna memperlancar arus komunikasi dalam organisasi.Komunikasi internal yang optimal merupakan faktor esensial dalam mempertahankan kinerja organisasi, khususnya di sektor sosial keagamaan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi langsung, serta analisis dokumen pada salah satu lembaga filantropi Islam yang memiliki reputasi nasional Laznas PPPA Daarul Qur’an. Tujuan kajian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas saluran komunikasi vertikal dan horizontal dalam konteks lembaga filantropi Islam. Hasil kajian mengungkapkan bahwa komunikasi vertikal—antara pimpinan dan bawahan—bersifat formal dan mengikuti struktur organisasi, namun sering kali belum mampu merespons perubahan yang terjadi di lapangan secara cepat. Sebaliknya, komunikasi horizontal antarpegawai atau antarbagian menunjukkan karakteristik yang lebih fleksibel dan adaptif, meskipun berisiko memunculkan tumpang tindih informasi jika tidak ditata dengan sistem koordinasi yang baik. Temuan tersebut menekankan pentingnya pengembangan sistem komunikasi dua arah yang efektif, serta integrasi teknologi informasi guna memperlancar arus komunikasi dalam organisasi

    Konsentrasi Kepemilikan Media: Dampaknya Terhadap Pembatasan Keragaman Perspektif Publik di Masyarakat Modern Indonesia

    No full text
    Media ownership is a discussion that has always existed at any time. It is interesting to discuss because the theory is related to economics and politics. The diversity of perspectives is valuable as a bridge to society in consuming media information. Of course, it should be given freedom of space and access to concrete facts, instead of being confronted with the interests of power through capital owners to regulate the rotation of media issues according to the ruler's goals. The study in this research will discuss the influence of media ownership on the diversity of information and public perspectives in modern Indonesian society. The concentration of media ownership focuses on limiting the diversity of perspectives in a modern society that is instantaneous to obtain information, restrictions for reasons of political and industrial interests, the tendency of media ownership will be seen as domination. Using a qualitative approach and literature study, this research will analyze data from various sources to identify the impact of concentration of media ownership on access to public information, representation of the interests of various groups, and the role of the media as an information bridge. The results show that the concentration of media ownership creates a less diverse and less representative media ecosystem. This has a negative impact on the quality of democracy and people's ability to make rational decisions. By limiting the diversity of perspectives, concentration of media ownership creates a narrower and less inclusive public sphere.Kepemilikan media menjadi bahasan yang selalu ada pada setiap masa. Menarik dibahas karena teorinya berhubungan dengan ekonomi dan politik. Keragaman perspektif bernilai sebagai jembatan masyarakat dalam mengkonsumsi informasi media. Tentu seharusnya diberikan kebebasan ruang dan akses dengan fakta-fakta konkret, bukan justru dihadapkan dengan kepentingan kekuasaan melalui pemilik modal untuk mengatur perputaran isu media sesuai tujuan penguasa. Kajian dalam penelitian ini akan membahas pengaruh kepemilikan media terhadap keberagaman informasi dan perspektif publik di tengah masyarakat modern Indonesia. Konsentrasi kepemilikan media berfokus pada pembatasan keragaman perspektif di masyarakat modern yang serba instan untuk memperoleh informasi, pembatasan karena alasan kepentingan politis dan industri,  kecenderungan kepemilikan media akan di lihat sebagai dominasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur, penelitian ini akan menganalisis data dari berbagai sumber untuk mengidentifikasi dampak konsentrasi kepemilikan media terhadap akses informasi publik, representasi kepentingan berbagai kelompok, serta peran media sebagai jembatan informasi. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi kepemilikan media menciptakan ekosistem media yang kurang beragam dan kurang representatif. Hal ini berdampak negatif pada kualitas demokrasi dan kemampuan masyarakat untuk membuat keputusan yang rasional. Dengan membatasi keragaman perspektif, konsentrasi kepemilikan media menciptakan ruang publik yang lebih sempit dan kurang inklusif

    The Evolution of Radio Broadcasters' Roles in the Dynamic Digital Media Landscape

    Full text link
    The advent of the digital era has precipitated substantial challenges and opportunities for radio broadcasters to navigate the evolving digital media landscape. This study undertakes a comprehensive analysis of the evolution of radio broadcasters' roles in response to the intense competition from digital media platforms. Utilising a qualitative research methodology, this study employs a comprehensive approach that incorporates literature review, observational studies, and document analysis. It examines the transformative impact of digital technology on the operational dynamics of radio broadcasters, novel challenges and opportunities they encounter, and strategic measures they employ to maintain relevance and attract listeners. These findings indicate that successful radio broadcasters employ digital technology to extend their reach, cultivate robust listener communities, and facilitate customised listening experiences. These broadcasters have adopted digital platforms including online streaming, podcasts, and social media to interact with their audiences. Concurrently, radio broadcasters are acquiring new competencies in digital content production, data analytics, and multimedia to adapt to evolving media landscapes. Nevertheless, challenges persist, including intensified competition, fragmented audiences, and the need for sustainable digital business models. To thrive in the digital era, radio broadcasters must adopt audience-centric strategies, create unique and engaging content, and innovate continuously. The findings of this study contribute to the theoretical and practical understanding of the evolving roles of radio broadcasters, and provide insights for the future development of the radio broadcasting industry in the digital age

    The Role of Public Diplomacy the Indonesia Oscar Selection Committee: A Case Study of Indonesia's Film Submission to the Oscars

    Full text link
    This paper aims to explore the question: "How does The Indonesia Oscar Selection Committee (IOSC) contribute to public diplomacy?" Public diplomacy is a widely recognized tool in international relations, used to influence foreign audiences. It involves diplomatic actions taken by both government and non-government actors to advance national interests. Numerous mediums can be employed in public diplomacy, including literature, television, brands, festivals, consumer products, and films. In practice, much of the information about a country often comes from non-state actors, such as Indonesia’s film industry. Ideal public diplomacy requires a collaborative effort between governmental and non-governmental entities (Leonard, 2002). This study examines how the film industry, through the activities of the Indonesia Oscar Selection Committee (IOSC), serves as an instrument of public diplomacy. Using Mark Leonard’s public diplomacy theory, the study employs a qualitative descriptive approach, gathering data through interviews and literature review from both primary and secondary sources. The research offers insights into how IOSC’s activities align with Leonard’s public diplomacy framework, identifying potential gaps between theoretical concepts and real-world practices. Ultimately, the study argues that IOSC has significant potential to promote effective public diplomacy, and it underscores the importance of enhancing collaboration between IOSC and the Indonesian government to optimize IOSC’s role in advancing Indonesia’s international image through cinema.Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pertanyaan: "Bagaimana Komite Seleksi Oscar Indonesia (IOSC) berkontribusi terhadap diplomasi publik?" Diplomasi publik merupakan alat yang diakui secara luas dalam hubungan internasional, yang digunakan untuk mempengaruhi audiens asing. Diplomasi ini mencakup tindakan diplomatik yang dilakukan oleh aktor pemerintah maupun non-pemerintah untuk memajukan kepentingan nasional. Berbagai medium dapat digunakan dalam diplomasi publik, termasuk literatur, televisi, merek, festival, produk konsumen, dan film. Dalam praktiknya, banyak informasi tentang suatu negara sering kali berasal dari aktor non-negara, seperti industri film Indonesia. Diplomasi publik yang ideal membutuhkan upaya kolaboratif antara entitas pemerintah dan non-pemerintah (Leonard, 2002). Studi ini meneliti bagaimana industri film, melalui aktivitas Komite Seleksi Oscar Indonesia (IOSC), berfungsi sebagai instrumen diplomasi publik. Dengan menggunakan teori diplomasi publik Mark Leonard, penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif, mengumpulkan data melalui wawancara dan tinjauan literatur dari sumber primer maupun sekunder. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana aktivitas IOSC selaras dengan kerangka diplomasi publik Leonard, serta mengidentifikasi potensi kesenjangan antara konsep teoretis dan praktik di dunia nyata. Pada akhirnya, studi ini berargumen bahwa IOSC memiliki potensi signifikan dalam mempromosikan diplomasi publik yang efektif serta menekankan pentingnya meningkatkan kolaborasi antara IOSC dan pemerintah Indonesia guna mengoptimalkan peran IOSC dalam memperkuat citra internasional Indonesia melalui sinema

    Visual Da‘wah in the Mediatized Era: A Virtual Ethnographic Analysis of Illustrative Content on the Instagram Account @sholahayub

    Full text link
    This study examines digital Islamic preaching content on the Instagram account @sholahayub using the media space theory (Nasrullah, 2017) to revisit communication theory within the context of contemporary da’wah. The study assumes posits that visual content and user interactions on social media not only convey religious messages but also collectively shape religious identity and solidarity, particularly in humanitarian issues such as Palestine. The method employed is qualitative analysis based on cyber media analysis across four levels: media space, media document, media object, and user experience, with data consisting of illustrative posts, reflective narratives, and user responses. The findings reveal that semi-realistic illustrations and contemplative captions create a communicative and affective preaching space, where user interactions demonstrate deep emotional and spiritual engagement. These results expand communication theory by showing that social media functions as a dynamic, inclusive, and socially relevant space for the production of religious meaning. In conclusion, digital da’wah through Instagram serves as an effective medium of communication for fostering spiritual awareness, humanitarian solidarity, and strengthened devotion to Allah through transformative visual and emotional experiences

    Strategi Komunikasi Pemasaran Badan Pengelola Geopark Ranah Minang Di Kabupaten Sijunjung Sumatra Barat

    Full text link
    Tujuan dalam penelitian ini untuk memahami dan mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran yang digunakan oleh Badan Pengelola Geopark Ranah Minang dalam mempromosikan pariwisata Geopark Silokek di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. Untuk menjawab tujuan maka Peneliti menggunakan 5 teori perencanaan komunikasi pemasaran, diantaranya: Penetapan Tujuan, Penetapan Sasaran, Pesan dan Media, Promotional Mix, Evaluasi. Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, dan observasi non-partisipan. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling snowball. Uji Keabsahan Data menggunakan triangulasi sumber, dan member check. Teknik analisis data peneliti menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penetapan tujuan pemasaran meliputi bidang edukasi yaitu program "geopark goes to school", dan bidang wisata yaitu mendongkrak perekonomian masyarakat lokal, khalayak sasaran menargetkan pengunjung umum domestik dan pengunjung kelompok edukatif pesan dan media, pesan berupa keunikan geologi wisata dan media menggunakan Facebook, Instagram, Tiktok. Promotional mix, seperti periklanan menampilkan video trone, personal selling, contohnya guide lokal untuk membantu para wisatawan. Promosi penjualan, menyediakan voucher bagi yang booking perjalanan di blibli.com. hubungan masyarakat, mengadakan pameran dan festival budaya. Evaluasi dilakukan setelah mengadakan even untuk menilai efektifitas. Kesimpulan Penelitian adalah: Strategi komunikasi pemasaran Badan Pengelola Geopark Ranah Minang dalam mempromosikan Geopark Silokek di Sijunjung berhasil menarik perhatian wisatawan domestik dan kelompok edukatif melalui kombinasi media digital, media luar ruang, kerjasama media lokal, serta melibatkan komunitas, namun tantangan masih ada dalam peningkatan infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata.Tujuan dalam penelitian ini untuk memahami dan mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran yang digunakan oleh Badan Pengelola Geopark Ranah Minang dalam mempromosikan pariwisata Geopark Silokek di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. Untuk menjawab tujuan maka Peneliti menggunakan beberapa mikro: Penetapan Tujuan, Penetapan Sasaran, Pesan dan Media, Promotional Mix, Evaluasi.Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan wawancara mendalam, dan observasi non-partisipan. Teknik sampling yangdigunakan adalah teknik sampling snowball. Uji Keabsahan Data menggunakan triangulasi sumber, dan member check. Teknik analisis data peneliti menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penetapan tujuan pemasaran meliputi bidang edukasi yaitu program "geopark goes to school", dan bidang wisata yaitu mendongkrak perekonomian masyarakat lokal. khalayak sasaran menargetkan pengunjung umum domestik dan pengunjung kelompok edukatif. pesan dan media, pesan berupa keunikan geologi wisata dan media menggunakan Facebook, Instagram, Tiktok. Promotional mix, seperti periklanan menampilkan video trone, personal selling contohnya guide lokal untuk membantu para wisatawan. promosi penjualan, menyediakan voucher bagi yang booking perjalanan di blibli.com. hubungan masyarakat, mengadakan pameran dan festival budaya. evaluasi dilakukan setelah mengadakan event untuk menilai efektifitas. Kesimpulan Strategi komunikasi pemasaran Badan Pengelola Geopark Ranah Minang dalam mempromosikan Geopark Silokek di Sijunjung berhasil menarik perhatian wisatawan domestik dan kelompok edukatif melalui kombinasi media digital, media luar ruang, kerjasama media lokal, serta melibatkan komunitas, namun tantangan masih ada dalam peningkatan infrastruktur dan fasilitas pendukung pariwisata

    103

    full texts

    128

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pewarta Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇