723 research outputs found
Perlawanan Rakyat Selayar dalam Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1949.
ABSTRAK
Muhammad Hidayat Al-Amin, 2014. Perlawanan Rakyat Selayar dalam
Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1949. Skripsi. Jurusan Pendidikan Sejarah
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar. Dibimbing oleh Patahuddin
dan Ahmadin
5
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui situasi dan kondisi
keadaan masyarakat ketika runtuhnya kekuasaan Jepang di Selayar, kemudian
untuk mengetahui bentuk perlawanan rakyat Selayar dalam mengahadapi Sekutu
danNICA, serta bagaimana peranan lasykar AMRIS dan PPNI sebagai organisasi
perjuangan yang bertujuan untuk merangkul semua elemen masyarakat dari
berbagai kampung untuk melakukan perlawanan kepada Sekutu dan NICA.
Penelitian dilakukan melalui studi lapangan dan kajian pustaka dengan
menggunakan metode sejarah yang melalui beberapa tahapan kerja, yaitu heuristik
(pengumpulan sumber), verifikasi sumber, interpretasi dan historiografi
(penulisan) yang merupakan pengungkapan kisah sejarah secara tertulis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disaat runtuhnya pendudukan
Jepang di Selayar pada tahun 1945 keadaan rakyat Selayar kian memburuk.
Kebutuhan seperti sandang pangan sulit didapatkan, hal ini disebabkan karena
hasil bumi Selayar digunakan untuk membiayai perang dalam melawan Sekutu.
Disisi lain masih ada keuntungan sempat didapatkan oleh rakyat Selayar seperti
pemberian latihan kemiliteran, dari keterampilan inilah yang digunakan untuk
melawan Belanda dan Sekutu. Latarbelakang rakyat Selayar melakukan strategi
gerilya dalam melawan Belanda adalah karena berawal dari tertangkapnya
beberapa pemimpin seperti Rauf Rahman, Nastoera, Muh. Amin Solong, dan
Muh. Ali Solong. Strategi gerilya dengan melakukan penyerangan dadakan
dilakukan dengan harapan bahwa Belanda dapat dipukul mundur. Akan tetapi cara
itu selalu digagalkan oleh Belanda. Berawal dari perlawanan ini ternyata telah
mampu mempersatukan rakyat Selayar dalam sebuah wadah perjuangan yakni
Angkatan Muda Rakyat Indonesia Selayar (AMRIS) dan Pusat Pemuda Nasional
Indonesia (PPNI) Cabang Selayar. Dari kedua wadah inilah yang telah menjadi
sarana untuk melakukan kerjasama dan bergabung dalam kesatuan Lasykar
Pembertontak Republik Indonesia (LAPRIS) dan Kesatuan Gerilya Sulawesi
Selatan (KGSS).
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dalam upaya
mempertahankan kemerdekaan di Selayar kerap kali gagal, hal ini didasari karena
persenjataan dan kekuatan yang dimiliki rakyat Selayar tidak seimbang dengan
persenjataan dan kekuatan milik NICA, ditambah tertangkapnya beberapa
pimpinan AMRIS dan PPNI. Dengan tertangkapnya beberapa pimpinan tersebut
menyebabkan terjadinya kefakuman pergerakan yang dilakukan oleh rakyat
disebabkan tidak ada yang dapat memimpin sehingga NICA mampu menguasai
Selayar hingga adanya pengakuan kedaulatan
TRANSFORMASI DAKWAH TRADISIONAL KE DIGITAL PADA MAJELIS NURUL AMIN DI SAMARINDA
Dakwah Islam mengalami pergeseran besar dari metode konvensional ke penggunaan media digital selama pandemi COVID-19. Studi ini melihat bagaimana dakwah di Majelis Nurul Amin berubah sebelum, selama, dan setelah pandemi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran langsung tentang bagaimana strategi dakwah berubah, serta masalah dan perubahan yang dihadapi komunitas dakwah tradisional. Meskipun media digital seperti YouTube telah digunakan untuk menyebarkan dakwah, hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa fokus dakwah tetap pada hubungan emosional dan nilai-nilai spiritual, terutama cinta kepada Nabi Muhammad SAW
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR'AN
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR'AN Hamdan Hidayat
Interpretation of the Qur'an has occurred at the time of the Prophet Muhammad was still alive. When the Prophet Muhammad received revelations from God then delivered to the sahabat, it was the same when the Prophet Muhammad delivered the interpretation of a particular verse to the sahabat and those who asked the purpose of a particular verse, then the Prophet Muhammad answered it. After the Prophet Muhammad died, the development of interpretation then continued at the time of the Companions, Tabi'in and so on, by the method of the Qur'an, Hadith and Companions of Companions, because the main source was gone. Interpretation during this time of sahabat began to experience significant development, because the sahabat began to look for explanations of the Koran based on the explanation of the Prophet Muhammad, whether it came from the Koran or from the hadiths, if no interpretation is found, then Companions commit ijtihad. The development of further interpretations in the time of tabi'în, tabi'i al-tabi'în, 'long-time salaf al-shali'in, and' long-time khalifa (contemporary) with various methods, patterns and characteristics of its own.
05 09 2020 29 76 10.24239/al-munir.v2i01.46 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/view/46 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/download/46/30 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/download/46/3
Studi pemikiran Raden Haji Muhammad Nuh Cianjur tentang penentuan arah kiblat dalam kitab Risalah al-Qiblah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini memang sangat memungkinkan untuk menemukan arah kiblat yang lebih akurat. Risalah al-Qiblah karya Raden Haji Muhammad Nuh Cianjur merupakan kitab yang membahas mengenai penentuan arah kiblat yang dilengkapi data nilai arah kiblat terhadap Barat dan Utara untuk 18 Kota di Indonesia dan arah kiblat untuk 278 kota diseluruh dunia (Asia, Afrika, Eropa, dan Australia).
Melihat permasalahan di atas, penulis ingin menganalisis akurasi arah kiblat dalam kitab tersebut dengan teori dan perhitungan yang sama dan modern. Sehingga penulis merumuskan dua masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana pemikiran Raden Haji Muhammad Nuh dalam penentuan arah kiblat? dan bagaimana tingkat akurasi arah kiblat dalam kitab Risalah al-Qiblah karya Radsen Haji Muhammad Nuh Cianjur?
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan data primer yaitu Kitab Risalah al-Qiblah dan wawancara dengan peneliti sebelumnya. Sedangkan data skundernya penulis mengambil dari buku-buku dan karya ilmiah yang berhunungan dengan arah kiblat. mengenai analisis data penulis menggunakan metode deskiptif analitik yaitu analisis dengan menggambarkan perhitungan arah kiblat dengan teori yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penulis melakukan observasi, ternyata ditemukan hasil arah kiblat dari kitab Risalah al-Qiblah selisih 2˚ dengan teori perhitungan segitiga bola. Artinya arah kiblat dalam kitab Risalah al-Qiblah bisa dikatakan akurat bila memakai teori segitiga bola karena masih dalam konteks Ihtiyatul Kakbah.
ABSTRACT:
The development of science and technology at this time is indeed very possible to find a more accurate Qibla direction. The Risale al-Qiblah by Raden Haji Muhammad Nuh Cianjur is a book that discusses the determination of the Qibla direction which is equipped with data on the Qibla direction values to the West and North for 18 Cities in Indonesia and the Qibla direction for 278 cities around the world (Asia, Africa, Europe and Australia ).
Seeing the problems above, the author wants to analyze the accuracy of the Qibla direction in the book with the same and modern theories and calculations. So the authors formulate two problems in this study, namely how Raden Haji Muhammad Nuh's thoughts in determining the Qibla direction? and what is the level of accuracy of Qibla direction in the book Risale al-Qiblah by Radsen Haji Muhammad Nuh Cianjur?
The method used by the author in this study is a qualitative method, with primary data, namely the Book of Risale al-Qiblah and interviews with previous researchers. While the secondary data the author takes from books and scientific works related to the Qibla direction. regarding data analysis the author uses descriptive analytic method, namely analysis by describing the calculation of Qibla direction with existing theory.
The results showed that after the writer made observations, it was found that the results of the Qibla direction from the Risale al-Qiblah book had a difference of 2˚ with the spherical triangle calculation theory. This means that the Qibla direction in the Risale al-Qiblah book can be said to be accurate when using the spherical triangle theory because it is still in the context of the Ihtiyatul Kaaba
AL-QUR’AN DAN ISLAMISASI BAHASA ARAB
Al Qur’an was sent down to Prophet Muhammad SAW as the Holy book by Arabic. Allah decided Arabic as one of miracles because it was the pure language and uninfluenced by any concept, philoshopy of religion, and doctrines by other cultures; and also built by a great roof of words with eternally semantic guarded purity. In Jahiliyah, Arabic was stated as sastra language. It was changed as a science of language since itwas sent down as wahyu. By this case, author decided that process (the alteration from sastra to be wahyu) is a part of Islamization process. The terms, definitions, and new key words come from Islamization process. Those concepts gave new sense which was different in using and understanding before Al qur’an was sent down. Islamization Arabic, worldview, and framework of the society were changed into Islamic substance
EPISTEMOLOGI KITAB HIDAYAT AL-QUR’AN FI TAFSIR AL-QUR’AN BIL QUR’AN KARYA KH. MUHAMMAD AFIFUDDIN DIMYATHI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP TRADISI TAFSIR PESANTREN
Kitab Hidayat Al-Qur’an Fi Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an adalah salah satu bukti eksistensi tafsir pesantren dari sekian banyak jajaran tafsir yang lahir dari rahim pesantren. Sehingga peneliti merasa penting untuk melakukan telaah terhadap kitab tersebut dari sisi epistemologi tafsir. Dalam hal ini peneliti melakukan tiga langkah sebagai upaya telaah epistemologi pada karya tafsir tersebut, yakni pertama, apa saja sumber-sumber penafsiran yang digunakan oleh Muhammad Afifuddin Dimyathi dalam karya tafsirnya, Kedua, bagaimana metode yang diterapkan oleh beliau dalam karya tafsirnya, Ketiga, bagaimana validitas kebenaran terhadap penafsiran yang dilakukan oleh Muhammad Afifuddin Dimyathi. Selain itu, karena tafsir ini muncul dalam konteks sosial-budaya pesantren, maka peneliti juga menelusuri terkait bagaimana kontribusi kitab Hidayat Al-Qur’an Fi Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an terhadap tradisi tafsir pesantren.
Dalam hal ini, peneliti menjadikan dasar teori epistemologi tafsir Abdul Mustaqim sebagai pisau analisis untuk membedah permasalahan tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan model penelitian pustaka (Library Research). Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik dokumentasi yang diperkuat dengan interview secara langsung kepada muallif. Peneliti menggunakan teknik pengolahan data secara deskriptif-analitis terhadap sumber data primer, yakni kitab Hidayat Al-Qur’an Fi Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an serta sumber data sekunder seperti buku yang membahas epsitemologi dan kitab tafsir lain yang juga dipakai guna menunjang data penelitian tambahan. Peneliti memilih pendekatan filosofis historis sebagai pendekatan penelitian.
Dari hasil analisis serta telaah terkait kerangka epistemologi dalam kitab Hidayat Al-Qur’an Fi Tafsir Al-Qur’an bil Quran. Muhammad Afifuddin Dimyathi menggunakan tujuh jenis sumber penafsiran, yakni: Al-Qur’an, Hadits, Aqwal As-Sahabat, Aqwal Tabi’in, Kaidah Bahasa Arab, Aqwal Mufassirin, serta Ijtihad. Dari seluruh sumber penafsiran yang digunakan, beliau secara konsisten hanya mengambil sumber-sumber penafsiran yang mengandung aspek Al-Qur’an bil Qur’an yang sejalan dengan metode (manhaj) yang beliau usung, yakni Manhaj Al-Qur’ani. Penafsiran yang dilakukan oleh Muhammad Afifuddin Dimyathi dalam karya tafsirnya juga memenuhi dua dari tiga teori kebenaran epistemologi tafsir, yakni teori koherensi dan pragmatisme. Selain itu, kitab Hidayat Al-Qur’an fi Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an juga memiliki kontribusi terhadap tradisi tafsir pesantren, yakni: 1) inisiasi manhaj baru dalam tradisi tafsir pesantren, yakni Manhaj Al-Qur’ani. 2) membantu dan mempermudah para Huffadz Al-Qur’an dalam memperkuat hafalan, serta menciptakan branding baru dalam tradisi penulisan tafsir pesantren yang pada umumnya mengunakan tafsir al-Jalalain sebagai rujukan. Selain itu, menambah khazanah tafsir pesantren yang ditulis dengan Bahasa Arab setelah eksisnya Marah al-Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang juga membedakannya dengan dominasi penggunaan bahasa Jawa Pegon sebagai bahasa pengantar tafsir
KONSEPSI MARTABAT TUJUH DALAM WIRID HIDAYAT JATI RANGGAWARSITA
This research aims to answer: What is the background of writing the Wirid Hidayat Jati Book?, bagaimana konsep martabat tujuh dalam kitab tersebut ? , what is the concept of seven dignity in the book?, dan bagaimana pengaruhnya terha dap laku spiritual masyarakat Jawa? , and how does it affect the spiritual behavior of the Javanese people? .. Dengan mengaplikasikan pendekatan kajian pustaka (library research) By applying the library research and descriptive analysis can be concluded that: P ertama , Ranggawarsita adalah seorang pujangga Keraton dan dianggap sebagai pujangga penutup (as the coping stone of javanese writers) yang mampu menggabungkan antara ajaran tasawuf Islam dengan mistik Jawa. Ranggawarsita is a poet palace and is regarded as the coping stone of Javanese writers who are able to combine the teachings of Islam with Javanese mystical. K edua , martabat tujuh adalah sebuah pemahaman bahwa TuhanDignity seven is an understanding that God ber- tajalli emanation as many as seven stages, namely sajaratul yakin, nur Muhammad, mirátul hayaí, roh idlafi, kandil, dharrah and hijab. Ketiga, Wirid Hidayat Jati merupakan filsafat mistik yang dibangun oleh Ranggawarsita sebagai jawaban terhadap situasi politik dan budaya masyarakat J awa yang memiliki kecenderungan kuat kepada alam metafisika seperti ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran dan manekung (semedi, tirakat).Wirid Hidayat Jati is a mystical philosophy built by Ranggawarsita in response to the political and cultural situation of the Javanese people who have a strong tendency towards metaphysics such as ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran and manekung (semedi, tirakat). Dengan mempelajari metafisika, diharapkan mampu menjadi insan kamil , manusia yang memiliki kekuatan magis ( karamah ).
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research questions) yaitu: bagaimana latar belakang penulisan Kitab Wirid Hidayat Jati?, bagaimana konsep martabat tujuh dalam kitab tersebut?, dan bagaimana pengaruhnya terhadap laku spiritual masyarakat Jawa?. Dengan mengaplikasikan pendekatan kajian pustaka (library research) mengingat masalah yang diteliti adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan isi Kitab Wirid Hidayat Jati. Adapun metode penelitiannya adalah analisis deskriptif sebab menganalisa data dengan penelaahan yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Melalui pendekatan dan metode tersebut dapat disimpulkan bahwa: Pertama, Ranggawarsita adalah seorang pujangga Keraton dan dianggap sebagai pujangga penutup (as the coping stone of javanese writers) yang mampu menggabungkan antara ajaran tasawuf Islam dengan mistik Jawa. Kedua, martabat tujuh adalah sebuah pemahaman bahwa Tuhan ber-tajalli (baca: emanasi) sebanyak tujuh tahap, yakni sajaratul yakin, nur Muhammad, mirátul hayaí, roh idlafi, kandil, dharrah dan hijab. Ketiga, Wirid Hidayat Jati merupakan filsafat mistik yang dibangun oleh Ranggawarsita sebagai jawaban terhadap situasi politik dan budaya masyarakat Jawa yang memiliki kecenderungan kuat kepada alam metafisika seperti ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran dan manekung (semedi, tirakat)
HIDAYAT AL SALIKIN (Analisa Hadis Dalam MempengaruhiBudaya Melayu Palembang)
Shaykh \u27Abd al-Samad al Falembaniy is scholar who also have a role to spread Islam in the archipelago. In order to combat irregularities and practice of religious teachings in the archipelago, he translated two works of al Ghazaliy‟s, Lubab Ihya \u27Ulum al-Din and al Bidayat Hidayat. Two of these works present a system of Sufism at that time. Al Falembaniy also authored many books of Sufism, one of his works entitled Hidayat al Salikin. His contribution in Islamic thought has shown how his works have been "transmitted" to become a tradition of Islam in Malay Archipelago. Hadis on meal at the dawn of fasting day in Hidayat al Salikin explain how, the meal can distinguish between the fasting of Muslims and that of non Muslims. Furthermore, the meal will give the blessing. It is Prophet Muhammad tradition, and it provides motivation in worship. Hadith about the efficacy of zam-zam water is written in Hidayat al Salikin book. Ite explains how the zam zam contains a lot of vapour chemical elements that are not found in other water. It also provides motivation in public health. Hadith about the dreams is also written in his book Hidayat al Salikin. It explains how the forecast on dreams that exist in the community is wrong. Then it turns on explaining how the actual nature of dreams
Hidayat al-khiyari fi ajwibah al-Yahudi wa al-Nashara
Buku ini membahas mengenai pandangan Islam tentang Yahudi dan Kristen. Pembahasannya meliputi pengetahuan ulama yahudi tentang kenabian Muhammad SAW, taurat dan injil, dasar agama kristen, rahib, Nabi Isa AS., mengingkari kenabian, dan lain-lain
- …
