1,721,672 research outputs found
Haji Mabrur
Ada satu do’a yang selalu diucapkan kepada orang yang berangkat melaksanakan ibadah haji,
yaitu semoga mendapatkan haji yang mabrur. Dan do’a itu kita ucapkan dari mulai sebelum keberangkatan, saat pelaksanaan ibadah haji, maupun setelah pulang ke tanah air. Kira-kira mengapa haji mabrur ini menjadi suatu pengharapan yang sangat besar? Karena mabrur itu sendiri maknanya adalah kebaikan, dan kebaikan itu bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga keluarga, dan lingkungannya.Apalagi jika ada yang beranggapan bahwa dia memiliki pahala yang banyak karena telah shalat di dua masjid mulia, sehingga dia merasa tidak perlu untuk shalat lagi setelahnya. Ini juga pemahaman yang sangat keliru. Betapapun besarnya keutamaan melaksanakan ibadah sunnah, itu tetap tidak mampu menggugurkan kewajiban kita kepada Allah Swt. Mari samasama kita evaluasi diri kita, terutama yang telah melaksanakan ibadah haji. Apakah kita termasuk orang-orang yang memperoleh haji mabrur sebagaimana kriteria yang telah kita sebutkan tadi atau tidak. Semoga bermanfaat untuk kita semua.There is a prayer that is always spoken to the person who goes to perform the Hajj, that is, may get the hajj mabrur. And we say the prayer from the beginning before departure, during the hajj, and after returning to the country. Why is this hajj a great hope? Because mabrur itself means good, and goodness is felt not only by himself, but also his family, and his environment. Especially if anyone thinks that he has a lot of reward for having prayed in two noble mosques, so he feels no need to pray again afterwards. It's also a very wrong understanding. No matter how great the virtue of performing the Sunnah, it is still not able to abort our obligation to Allah Almighty. Are we among those who obtain hajj mabrur as we have mentioned earlier or not. Hopefully useful for all of us.Buletin Taqwa Universitas Medan Area Periode Juli 201
66 Rahasia Haji Mabrur
Mabrur atau tidak mabrur itu hak prerogatif Allah. Tapi, untuk menuju ke sana ada langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya plus diikuti dengan niat lillahi ta'ala.'( Muhammad Maftuh Basyuni, Menteri Agama RI)x,129 hlm.,cet.
Fiqh Haji Mabrur : Makna, Implementasi dan Implikasinya
Umat Islam mendambakan untuk mendapatkan predikat haji mabrur. Olehnya itu, perlupemahaman yang optimal tentang hakikat haji mabrur, bagaimana meraihnya danhikmahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor makna haji mabrur, implementasidan implikasinya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan datakepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan normatif, filosofis dansosiologis
Disiplin Berhaji: Menuju Haji Mabrur
Buku Disiplin Berhaji Menuju Haji Mabrur dapat mempermudah para jemaah haji dalam membangun karakter yang baik. Karakter tersebut untuk kepentingan diri sendiri khususnya dan para jemaah haji lain pada umumnya.
Haji adalah rukun kelima dari susunan rukun Islam. Perintah pelaksanaannya diwajibkan oleh Allah SWT. Jemaah haji harus memahami dasar hukum, syarat wajib, rukun, sunah, dam, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan haji agar memperoleh haji mabrur. Meskipun pada dasarnya, kemabruran seseorang dinilai oleh Allah, tetapi seyogianya jemaah tetap berusaha untuk memperolehnya.
Jemaah haji juga harus memahami dasar-dasar disiplin berhaji, mulai dari disiplin mengikuti bimbingan menasik haji, disiplin melakukan persiapan berhaji, disiplin melaksanakan ibadah haji, hingga disiplin menaati tata tertib berhaji. Hal tersebut perlu dilakukan oleh jemaah haji agar ibadah haji yang dilakukannya lancar dan mengantarkannya pada haji mabrur.
Merujuk pada hal tersebut, Buku Disiplin Berhaji Menuju Haji Mabrur lahir sebagai referensi tambahan mengenai hal-hal seputar ibadah haji. Buku ini berusaha mengemukakan informasi-informasi secara terstruktur mengenai beberapa hal yaitu :
Makna Berhaji,
Dasar-Dasar Disiplin Berhaji,
Pelaksanaan Disiplin Berhaji,
Tata Tertib Berhaji,
Disiplin Persiapan Berhaji,
Petunjuk Teknis Berhaji,
Sifat Haji, dan
Haji Mabrur
Haji mabrur dalam perspektif syarah Hadits: Telaah pandangan Imam Nawawi tentang Hadits-Hadits haji mabrur dalam syarah Shahih Muslim
Latar belakang penulisan Skripsi ini adalah mengetahui pandangan Imam Nawawi terhadap posisi atau kualitas hadits-hadits haji mabrur dalam Shahih Muslim dan mengetahui pula bagaimana pandangan Imam Nawawi tentang konsep haji mabrur dalam Shahih Muslim yang kemudian dipaparkan secara gambling baik itu hadis-hadis yang berkenaan dengan haji mabrur maupun kriteria atau ketentuan-ketentuan agar bisa meraih haji yang mabrur yakni haji yang diterima oleh Allah Swt. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pandangan Imam Nawawi terhadap posisi atau status hadits-hadits haji mabrur dalam Shahih Muslim. 2) Untuk mengetahui bagaimana pandangan Imam Nawawi tentang konsep haji mabrur dalam Shahih Muslim.
Penelitian ini bertolak pada pemikiran bahwa ibadah haji adalah kewajiban setiam umat Islam bagi yang sudah mampu melaksanakannya. Haji itu sendiri adalah menuju ke tanah suci makkah dalam rangka melakukan ibadah haji. Kewajiban ibadah haji ini didasarkan kepada al-Qur’an dan Hadis Nabi. Terdapat banyak hadits yang menjelaskan tentang haji. Salah satunya di dalam kitab syarah hadits karya Al-Imam, Al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin, Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi.
Metode yang akan ditempuh oleh penulis dalam penelitian skripsi ini adalah metode analisis deskriptif (descriptive analysis), yaitu dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menganalisis buku-buku yang berkenaan dengan masalah penelitian. Adapun sumber data yang digunaan adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara kepustakaan.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan terhadap kitab Shahih Muslim Syarh Nawawi mengenai haji mabrur dapat diambil kesimpulan bahwa hadis-hadis yang dipaparkan dalam pembahasan haji mabrur tersebut merupakan hadis-hadis yang matan dan sanadnya shohih. Pandangan Imam Nawawi tentang konsep haji mabrur dalam Syarah Shahih Muslim, bahwa haji mabrur ialah haji yang sebelum menunaikan, ketika pelaksanaan ataupun setelahnya selalu berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk, baik itu dihadapan Allah Swt maupun dihadapan sesama, serta senantiasa meningkatkan nilai ibadah dhzohiriah maupun bathiniyah. Pada dasarnya semua manusia yang melaksanakan ibadah haji harus atau wajib mendapatkan haji yang mabrur. Yakni dengan melaksanakan dan memenuhi segala kriteria dan langkah-langkahnya sehingga kemabruran itu bisa diperolehnya
KRITERIA HAJI MABRUR DALAM TINJAUAN HADITS NABAWI (AnalisisIlmuMa’ani al-Hadits)
Skripsi ini berjudul “ Kriteria Haji Mabrur Dalam Tinjauan Hadits Nabawi (Analisis Ilmu Ma’ani al-Hadits) ”. haji menurut bahasa artinya ُﺪْﺼَﻘﻟا (bertujuan atau berkeinginan). Adapun ّﺞﺤﻟا menurut syariat adalah bertujuan pada Baitulharam untuk melakukan suatu perbuatan (ibadah) khusus pada waktu yang khusus (yang ditentukan waktunya). Sedangkan haji mabrur menurut para Ulama adalah haji yang diterima dan tidak dicampuri dengan maksiat serta pelaksanaannya tidak dinodai dengan dosa. Mengukur haji seseorang mabrur atau belum mabrur bukanlah ketika kita berada di kedua tanah suci (Makkah-Madinah), tetapi bagaimana kebaradaan kita setelah pulang dari tanah suci.
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana kedudukan kualitas hadits tentang kriteria haji
mabrur dan bagaimana ilmu ma’ani al-Hadits dalam menelaah kriteria haji mabrur. Dalam kajian skripsi ini penulis menggunakanpenelitian studi pustaka (library research), yang menjadi sumber data dalam skripsi ini adalah hadits yang memuat masalah tentang kriteria haji mabrur, yaitu yang terdapat pada kitab Mu’jam al- Mufahrasy Li al-Fazh al-Hadis al-Nabawi, musnad Ahmad bin Hanbal dan al-Hakim. Kemudian berdasarkan dua hadits Rasulullah SAW dapat penulismemberikan kesimpulan bahwa ada tiga indikator atau kriteria jama’ah haji yang mendapat predikat
mabrur, yaitu gemar bersadaqah مﺎَﻌﱠﻄﻟا ُمﺎَﻌْطِإ, bertutur kata lembut dan baik مﻼَﻜْﻟا ُﺐّﯿَط, menebar perdamaian مﻼﱠﺴﻟا ُءﺎَﺸْﻓِإ. Dari gambaran detail tersebut diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa membuat haji kita mabrur itu harus ada perbedaan sikap yang semakin baik dari sebelum kita menunaikan ibadah haji. Artinya, kalau sebelum haji kita belum banyak berbuat kebaikan, maka sesudah menunaikan ibadah haji kita perlu memperbanyak berbuat kebaikan. Singkatnya, menjadi haji mabrur itu harus hablum min- Allah dalam bidang vertikal harus lebih tekun, istiqamah, ikhlas dan wara’
(menjaga diri dari sesuatu yang merusak kepribadian). Demikian pula hablum minannaas harus juga semakin baik, sopan santun, suka menolong, tidak membuat kerusakan bagi sesama umat dan sesama makhluk (lingkungan)
Preventing disaster: COVID-19 and the Rohingya in Bangladesh
How will Bangladesh's nationwide lockdown impact upon Rohingya refugees in Cox's Bazar? Mabrur Ahmed (Restless Beings) explains how applying methods of social distancing in Bangladesh will leave 1.1 million Rohingya refugees alone to survive without food and basic hygiene items in one of the most poorly equipped healthcare systems in the world
Makna mabrur bagi jemaah pasca haji Perumnas Krapyak Semarang
Memahami arti mabrur sesungguhnya perlu kiranya di ketahui secara tepat oleh umat muslim khususnya jemaah pasca haji yang kemudian mengimplementasikan kemabrurannya dengan benar saat telah kembali ke tanah air. Hal itu merupakan proses belajar dalam nilai-nilai kebudayaan. Beberapa anggapan jemaah pasca haji menyebutkan bahwa haji mabrur adalah haji yang mendatangkan perubahan yang lebih baik dimana tidak hanya antara dirinya kepada Tuhan-nya yang disebut dengan hablun minallah, namun perubahan yang lebih baik tersebut juga antara makhluk Tuhan-nya yang kemudian disebut hablun minanas. Dewasa ini haji banyak dilaksanakan oleh kelompok masyarakat khususnya perkotaan sebagai gaya hidup, sejatinya kemabruran haji bukanlah ia yang bisa berkali-kali menunaikan ibadah haji hingga menjadi gaya hidup, karena perlu diketahui bahwa haji mabrur tidak sekedar haji yang sah, bisa saja hajinya sah dan gugurlah kewajiban hajinya, namun belum tentu ibadah haji yang sah tersebut mabrur dan diterima oleh Allah swt. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pemaknaan haji mabrur bagi jemaah pasca haji di Perumnas Krapyak Semarang dan untuk mengetahui implementasi haji yang mabrur pada jemaah pasca haji di Perumnas Krapyak Semarang.
Jenis dan metode penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jemaah pasca haji perumnas Krapyak Semarang memaknai mabrur sebagai perjalanan spritual dalam meraih keridhaan Allah swt sehingga menimbulkan motivasi serta semangat untuk beribadah dan memberi kemanfaatan untuk masyarakat sekitar. Adapun jemaah pasca haji mengimplementasikan kemabruran haji diwujudkan melalui kegiatan keagamaan dan sosial seperti shalat berjamaah di masjid, menjalankan ibadah sunnah seperti sholat malam serta puasa senin dan kamis, menolong orang yang sedang kesusahan seperti sakit dan terkena bencana, juga infaq subuh harian yang dimanfaatkan untuk sedekah dhuafa, wakaf sosial, sedekah yatim, dan sedekah sumbangan pembinaan pendidikan (spp) untuk anak yatim
Achieving the Degree of Mabrur in Hajj
Topik kita pada kali ini adalah tentang bagaimana mencapai derajat mabrur dalam
berhaji. Rasulullah pernah mengatakan dalam sebuah hadits, ”Telah datang kewajiban
berhaji, maka berhajilah”. Kemudian sahabat bertanya, apakah haji itu dilakukan setiap
tahun? Maka Rasulullah mengatakan, “Lakukanlah sebagaimana yang aku tunjukkan”.
Sesungguhnya terlalu banyak kebinasaan umat-umat terdahulu, akibat terlalu banyak
bertanya dan berselisih dengan apa yang telah disampaikan oleh nabinya. Oleh karena itu,
sesungguhnya itulah kunci yang paling utama jika kita ingin mencapai derajat haji yang
mabrur, maka kita ikut apa yang sudah ditunjukkan Rasulullah Muhammad
PENGARUH PREDIKET HAJI MABRUR TERHADAP MOTIVASI MANASIK CALON JAMAAH HAJI
This study aims to see the influence of the title of "hajj mabrur" to the motivation of hajj manasik. The study was conducted in the city of Padang, West Sumatra. This paper is a literature study. The study found that mabrur prediket strongly influence the motivation of manasik
- …
