2,081 research outputs found
Sinergi Islam Dan Politik Dalam Manuver M. Amin Rais
Sinergi antara Islam dan politik telah menjadi topik penting dalam konteks perkembangan politik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam hal ini, Manuver M. Amin Rais, seorang politisi dan cendekiawan Muslim terkemuka, telah memainkan peran yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan sinergi antara Islam dan politik dalam manuver M. Amin Rais, dengan fokus pada kontribusinya dalam konteks Indonesia. Dengan menggunakan metode analisis kualitatif, penelitian ini mempelajari karya tulis, pidato, dan tindakan politik M. Amin Rais untuk mengungkap perspektifnya tentang Islam dan perannya dalam politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Manuver M. Amin Rais mencoba mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip politik dalam upaya memperjuangkan keadilan, kebebasan, dan keadilan sosial di Indonesia. Ia mengadvokasi pentingnya pemahaman Islam yang moderat dan inklusif dalam merumuskan kebijakan publik. Penelitian ini juga menyoroti tantangan dan kontroversi yang dihadapi oleh sinergi Islam dan politik dalam manuver M. Amin Rais. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang peran dan pengaruh Manuver M. Amin Rais dalam mengembangkan sinergi antara Islam dan politik di Indonesia. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan untuk memahami dinamika hubungan antara agama dan politik dalam konteks yang lebih luas
Tauhid Sosial: Telaah Pemikiran M. Amien Rais
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pengumpulan data dari sumber primer karya Amien Rais dan sumber-sumber sekunder dari karya-karya lain yang berkaitan dengan pokok permasalahan dalam skripsi ini. Pendekatan dalam pembahasan ini bersifat deskriptif-analisis dengan menguraikan, menggambarkan kemudian menganalisa pemikiran Amien Rais tentang tauhid sosial dan pengimplementasinya dalam aspek politik dan ekonomi. Penelitian dilakukan dengan melacak pandangan-pandangan dalam aliran teologi klasik tentang konsep ?m?n dan �amal serta pengertian tauhid sendiri dalam al-Qur�?n yang mengacu pada tafs?r dan ?ad?ts. Tauhid sosial digagas M. Amien Rais untuk menjawab permasalahan yang muncul di masyarakat dengan mengaktualkan nilai-nilai tauhid dalam ranah sosial. Dalam hubungan horizontal, tauhid mengajarkan tentang nilai keadilan (al-�ad?lah), kebebasan (al-?urriyyah) dan kedudukan yang sama bagi sesama manusia (al-mus?wah bayn al-n?s/egaliter) sehingga dalam konsep ini menolak adanya superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan dan lain-lain. Nilai-nilai ini kemudian diaktualkan dalam aspek politik dengan membingkainya dalam etika beragama yang disebut sebagai �high politics� yaitu politik kualitas tinggi, adiluhung yang berdimensi moral serta etis. Sedangkan dalam aspek ekonomi konsep zakat profesi menjadi solusi alternatif dalam mengatasi kesenjangan ekonomi dengan meningkatkan presentasi zakat sebanyak 10% yang dibebankan pada profesi-profesi yang mudah dalam mendapatkan rizki. Secara teoritis, pemikiran tauhid sosial berakar K.H. Ahmad Dahlan yang terpengaruh oleh pemikiran Mu?ammad ibn �Abd al-Wahhab yang menegaskan pemurnian tauhid dan Muhammad �Abduh yang menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur�an dengan ta�w?l
KONSTRUKSI PASANGAN CALON DALAM PILGUB JATENG 2008 OLEH MEDIA MASSA (KASUS PEMBERITAAN JAWA POS RADAR SEMARANG DAN SUARA MERDEKA)
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable.
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable
Vanadium Uptake by yeasts: EPR studies and effects of vanadium in Saccharomyces cerevisiae and Hansenula polymorpha
ISLAM DAN DEMOKRASI DI INDONESIA STUDI PERBANDINGAN PEMIKIRAN M. AMIEN RAIS DAN ABDURRAHMAN WAHID
Demokrasi pertama-tama merupakan gagasan yang mengandaikan bahwa kekuasaan itu adalah dari, oleh, dan untuk rakyat. Di Indonesia mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam yang berpedoman kepada Al-Qur‟an dan Sunnah. Oleh karena itu dengan mayoritas masyarakat Islam di Indonesia apakah demokrasi tersebut dapat di terima di negara Indonesia melalui pemikiran politik M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid. Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemikiran M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid tentang Islam dan demokrasi di Indonesia, bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran politik M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid tentang Islam dan demokrasi di Indonesia. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid tentang Islam dan demokrasi di Indonesia dan persamaan dan perbedaan pemikiran politik M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid tentang Islam dan demokrasi di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian library research (penelitian pustaka), yaitu suatu penelitian yang menelaah dari berbagai macam teori, data-data, dan dokumen-dokumen yang mempunyai hubungan dengan permasalahan yang akan diteliti yang dapat menjadi landasan teori bagi penelitian. Dalam penelitian ini digunakan pengumpulan studi pustaka, mengingat penelitian ini merupakan bahan kepustakaan maka penelitian ini pengumpulan data yang digunakan hanya metode dokumentasi, yaitu alat untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa dokumen, catatan, transkip, dan lain-lain yang berhubungan dengan Islam dan demokrasi baik itu bahan primer maupun bahan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan bahwa pemikiran M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid mengenai Islam dan demokrasi di Indonesia yaitu bagi keduanya persoalannya bukan sekadar demokrasi itu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, tetapi lebih dari itu, pembentukan masyarakat atau negara yang adil dan egaliter seperti yang dikehendaki Islam, untuk zaman sekarang hanya mungkin diwujudkan melalui sistem negara demokrasi. Persamaan dan perbedaan pemikiran M. Amien Rais dan Abdurrahman Wahid tentang Islam dan demokrasi di Indonesia, persamaannya yaitu karakteristik pemikiran Gus Dur dan Amien Rais berangkat dari Syari‟ah. Hanya saja Gus Dur lebih suka menjadikan syari‟ah sebagai social ethics dan berfungsi komplementer, sementara Amien Rais cendrung menjadikan syari‟ah sebagai “ideologi alternatif”. Sedangkan perbedaannya yaitu Perbedaan paradigma pemikiran Amien Rais dan Abdurrahman Wahid dalam konteks tertentu mempunyai implikasi yang berbeda, khususnya dalam merumuskan hubungan Islam (syari‟ah) dan demokrasi. Meskipun sama-sama menolak syari‟ah dijadikan sebagai konstitusi negara, tetapi lebih menerimannya sebagai patokan moral-etik kehidupan bernegara, Amien Rais membela demokrasi untuk melindungi syari‟ah dari penyelewengan atau distorsi dan detereorisasi. Sedangkan Abdurrahman Wahid mendukung demokrasi liberal justru lebih sebagai sebuah keharusan untuk melindungi pluralisme masyarakat bangsa
IMPLEMENTASI KONSEP TAUHID SOSIAL M. AMIEN RAIS DI SMA INTERNASIONAL BUDI MULIA DUA YOGYAKARTA
Islam religion has been taught to the students since they are in juniorhigh school, but the juvenile
delinquencystill often happens. Based on M. Amien Rais, social tauchid is needed to be solution of
the problem above. Budi Mulia Dua Yogyakarta International Senior High School is one of many
schools that is built by M. Amien Rais wich has been doing the implementation of the social tauchid
concept.Based on M. Amien Rais, social tauchid means is a social dimension from tauhīdullāh (to a
knowledge the oneness of God). The implementation of the social tauchid concept of M. Amien Rais
in Budi Mulia Dua Yogyakarta International Senior High School could be seen from the arrangement
of the perspective an the mission of the school. Then it is applied in extracurricular activity and is
evaluated by meeting session. Some of the extracurriculars that apply the social tauchid mission are
social volunteer, the distribution of Qurban’s meat, tithe institute and flea market.
Agama Islam telah diajarkan kepada peserta didik sejak pendidikan dasar, namun kenakalan remaja
masih sering terjadi. Menurut M. Amien Rais, diperlukan tauhid sosial sebagai solusi atas permasalahan
tersebut. Salah satu sekolah yang didirikan oleh Amien yaitu SMA Internasional Budi Mulia Dua
Yogyakarta telah mengimplementasikan konsep tauhid sosial. Tauhid sosial menurut M. Amien Rais
adalah dimensi sosial dari tauhīdullāh (meng-Esa-kan Allah). Implementasi konsep tauhid sosial M.
Amien Rais di SMA Internasional Budi Mulia Dua Yogyakarta dapat dilihat dalam perumusan visi
dan misi sekolah yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan dievaluasi dengan
rapat kerja. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang mengusung misi tauhid sosial, diantaranya yaitu
magang sosial, pembagian hewan kurban, lembaga zakat, dan flea market
IMPLEMENTASI KONSEP TAUHID SOSIAL M. AMIEN RAIS DI SMA INTERNASIONAL BUDI MULIA DUA YOGYAKARTA
Islam religion has been taught to the students since they are in junior high school, but the juvenile delinquency still often happens. Based on M. Amien Rais, social tawhid is needed to be solution of the problem above. Budi Mulia Dua Yogyakarta International Senior High School is one of many schools that is built by M. Amien Rais which has been doing the implementation of the social tauchid concept. Based on M. Amien Rais, social tawhid means a social dimension from tauhīdullāh (to a knowledge the oneness of God). The implementation of the social tawhid concept of M. Amien Rais in Budi Mulia Dua Yogyakarta International Senior High School could be seen from the arrangement of the perspective an the mission of the school. Then it is applied in extracurricular activity and is evaluated by meeting session. Some of the extracurriculars that apply the social tawhid mission are social volunteer, the distribution of Qurban’s meat, tithe institute and flea market
Cendekiawan muslim: Masih elitis?
Wawancara dengan M. Amien Rais tentang Cendekiawan Muslim untuk Majalah Risalah Agustus 1995
PEMIKIRAN POLITIK M. AMIEN RAIS TENTANG DEMOKRASI DI INDONESIA PERSPEKTIF FIQH SIYASAH
M. Amien Rais adalah salah seorang tokoh demokrat di negara Indonesia.
Yang selalu memberi kritikan kepada para pemimpin bangsa dan negara terutama
pada era Orde Baru (Orba) (pemerintahan Presiden Soeharto). Dimasa Orde Baru
beliau berani membuat opini tentang “suksesi nasional” terhadap kepemimpinan
Presiden Soeharto, dimana pada waktu itu istilah suksesi kepemimpinan nasional
adalah hal yang tabu dan jarang sekali yang berani mengeluarkan ide yang brilian
tersebut di muka publik. Ide tersebut dalam pandangan M. Amien Rais bertujuan
semata-mata adalah merasa prihatin dan ironis melihat mandegnya proses
demokrasi di negara Indonesia, padahal sistem pemerintahan Indonesia adalah
berasaskan demokrasi.
M. Amien Rais menekankan sistem demokrasi yang sesuai dengan
nasionalisme menurut ajaran Islam bukan nasionalisme yang tanpa landasan.
Dengan demikian persoalan-persoalan demokrasi selalu dikaitkan dengan agama
dan negara, sehingga menurutnya antara agama, negara dan demokrasi tidak dapat
dipisahkan.
Fiqh siyasah sebagai sebuah metode pemikiran melihat bahwa dikalangan
ummat Islam telah terjadi perbedaan pemikiran dan pandangan dalam mensikapi
masalah sistem, bentuk demokrasi yang diterapkan di Indonesia, sebagai
masyarakat Indonesia menginginkan agar sistem, bentuk pemerintahan tersebut
(demokrasi) diganti dengan sistem dan syariat Islam, sebagaimana tertuang dalam
Tujuh Kata dalam Piagam Jakarta, mengingat sebagian besar masyarakat
Indonesia adalah menganut agama Islam.
Diketahui bersama bahwa obyek fiqh siyasah adalah pembuat peraturan
dan perundang-undangan yang dibutuhkan untuk mengurus suatu negara dengan
menggunakan suatu sistem tertentu termasuk sistem demokrasi sesuai dengan
pokok-pokok ajaran agama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
analisis fiqh siyasah terhadap konsep pemikiran politik M. Amien Rais tentang
demokrasi di Indonesia.
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (Library
Research). Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang bertujuan untuk
mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi
yang terdapat diruangan perpustakaan yang berkaitan dengan demokrasi. Adapun
metode analisis data digunakan metode kualitatif dengan pendekatan berfikir
deduktif. Dengan menggunakan beberapa metode diatas akhirnya ditemukan
bahwa pandangan M. Amien Rais yang mensingkronkan nilai-nilai demokrasi
secara umum dengan nilai-nilai demokrasi menurut Islam adalah sesuai dengan
Al-Qur‟an dan Al-Hadis
Islam Dan Kenegaraan (Studi Komarasi Antara Pemikiran Abdurrahman Wahid Dan M. Amien Rais)
ISLAM DAN KENEGARAAN
(STUDI KOMARASI ANTARA PEMIKIRAN ABDURRAHMAN WAHID DAN M. AMIEN RAIS)
MOH. NASHIRUDDIN AMIN
NIM. 99363530
Satu fenomena yang sangat penting dalam masyarakat abad XX ini adalah semakin derasnya tuntutan demokrasi dan merebaknya wacana demokrasi, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam. Sebagian cendekiawan berpendapat bahwa tanpa Islam manusia tidak dapat berdiri dengan tegak. Negara juga tidak akan berada pada keadaan yang kondusif tanpa adanya demokrasi. Wacana demokrasi dan Islam tidak luput dari perhatian para tokoh politik Islam kontemporer. Diantara tokoh-tokoh intelektual muslim Indonesia yang secara tegas menerima Negara dan Demokrasi sebagai suatu referensi bagi sistem pemerintahan adalah K.H. Abdurrahman Wahid dan M. Amien Rais. Namun diantara keduanya mempunyai konsep yang berbeda bahkan berseberangan baik tentang agama, politik, dan demokrasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan mengungkapkan politik Abdurrahman Wahid dan Amien Rais tentang Islam dan kenegaraan di Indonesia serta menjelaskan bagaimana corak pemikiran Abdurrahman Wahid dan Amien Rais dengan melihat persamaan dan perbedaannya. Jenis penelitian ini adalah library research yang bersifat diskriptif, analisis, dan komparatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif, dan historis. Data dianalis secara kualitatif dengan menggunakan instrument analisis deduktif dan komaratif.
Hasil penelitian ini adalah :
1. Abdurrahman Wahid dan Amien Rais mengamini bahwa demokrasi sebagai system yang final dan dinamis. Terdapat kesamaan nilai-nilai dasar demokrasi dengan Islam, demokrasi mengandung prinsip kemanusiaan yang ideal sama dengan yang dicita-citakan Islam, yakni prinsip musyawarah, kebebasan, persamaan, dan keadilan.
2. Pandangan tentang negara Islam, Abdurrahman Wahid dan Amien Rais berpendapat bahwa pendirian negara Islam tidak terdapat dalam Al Qur’an dan al-Sunnah. Dalam melihat aplikasi hukum Islam dalam satu negara, Abdurrahman Wahid dan Amien Rais memiliki perbedaan cara pandang. Bagi Amien Rais hukum Allah dalam Al Qur’an merupakan hukum yang lengkap dan terpadu tidak dapat dikalahkan oleh hukum buatan manusia. Sedangkan menurut Abdurrahman Wahid, hukum Islam dalam Al Qur’an merupakan sumber normative yang dibuat untuk manusia, yang berfungsi tidak semata-mata untuk umat Islam tetapi juga untuk seluruh umat manusia.
3. Corak pemikiran Abdurrahman Wahid dan Amien Rais telah member kontribusi yang cukup signifikan bagi diskursus intelektual di Indonesia secara umum
- …
