323,730 research outputs found

    Bercocok Tanam Kubis

    No full text
    iv.84 hal.;ill.; 20 c

    Strategi Pemasaran Kubis Di kabupaten Jember (Studi Kasus di Kecamatan wuluhan)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi faktor INTERNAL yang menjadi (kekuatan dan kelemahan) dan faktor ekste al yang menjadi (peluang dan ancaman) dalam pemasaran kubis di dusun krajan, menganalisa strategi pemasaran yang mempengaruhi pemasaran kubis di dusun krajan. Metode dasar penelitian ini menggunakan deskriptif analitis. Metode penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu Dusun Krajan, Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah 1) Analisis Matrik IFE dan EFE, matrik IFE digunakan untuk mengindetifikasi faktor-faktor lingkungan INTERNAL dan menggolongkannya menjadi kekuatan dan kelemahan melalui pembobotan, sedangkan matrik EFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan ekste al dan menggolongkannya menjadi peluang dan ancaman melalui pembobotan. 2) Analisis Matrik IE digunakan untuk melihat strategi yang tepat untuk diterapkan. 3) Matrik SWOT digunakan untuk menyusun strategi pemasaran kubis. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor INTERNAL yang menjadi kekuatan pemasran kubis Dusun Krajan, Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember adalah potensi SDA yang dimiliki, kubis panen langsung disawah, memiliki WARNA hijau muda, pelayanan ke konsumen sudah baik, kepedulian masyarakat yang masih tinggi dan peningkatan pendapatan. faktor-faktor yang menjadi kelemahan pemasran kubis Dusun Krajan, Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember adalah panen langsung diambil pengepul/pemborong, SDM masih rendah dan pencatatan keuangan yang masih belum rapi. faktor-faktor yang menjadi peluang pemasran kubis Dusun Krajan, Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember adalah keinginan pemerintah dalam memajukan petani kubis, adanya minat konsumen cukup tinggi, daerah pemasaran kubis yang sangat luas. faktor-faktor yang menjadi ancaman pemasaran kubis adalah pendapatan masyarakat yang tidak menentu, banyak permainan harga pasar, pemerintah kurang perhatian dalam mengembangkan kubis dan cuaca kurang bersahabat

    STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI TANAMAN KUBIS

    No full text
    Kubis (Brassica oleracea) biasa dikenal masyarakat dengan sebutan kol merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) faktor kekuatan dan kelemahan yang ada didalam pengembangan usahatani tanaman kubis (Brassica oleracea). (2) faktor peluang dan acaman yang ada didalam pengembangan usahatani tanaman kubis (Brassica oleracea). (3) Menentukan formulasi strategi yang tepat dalam upaya pengembangan usahatani tanaman kubis (Brassica oleracea). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Sampel diambil secara purposive sampling kepada 17 responden. Data dianalisis menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Faktor kekuatan yang ada yaitu lahan pengembangan tersedia, pengalaman petani, kemampuan petani dan akses transportasi mudah. Faktor kelemahannya yaitu modal terbatas, kurang informasi pasar, sarana produksi terbatas. (2) Faktor peluang yang ada yaitu kondisi alam potensial, permintaan kubis semakin meningkat. Faktor ancaman yang ada yaitu serangan hama dan penyakit pada tanaman, peran penyuluh belum maksimal, teknologi belum maksimal dan fluktuasi harga. (3) Formulasi strategi yang tepat dari hasil analisis SWOT berdasarkan hasil penelitian berada pada kuadran I strategi yang diutamakan adalah strategi agresif (S-O), yaitu dengan memanfaatkan potensi yang ada untuk terus melakukan  usaha secara kontinyu  juga dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian dalam upaya meningkatkan produktivitas  kubis

    Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Kubis di Kabupaten Karo ke Malaysia

    No full text
    Natasya Veronica S (177039016) with the thesis title "Analysis of Factors Affecting Cabbage Exports from Karo District to Malaysia". The writing of this thesis is guided by Mr. Dr. Ir. Rahmanta, M.Sc As Chair of the Supervising Commission and Mrs. Dr. Ir. Tavi Supriana, MS As Member of the Supervising Commission. Cabbage production in Karo District has experienced fluctuations that have tended to increase over the past five years and export demand has tended to increase. This study aims to analyze the effect of cabbage production variables in Karo District, domestic cabbage prices, Malaysian international prices and the rupiah exchange rate to ringgit, on the volume of cabbage exports from Karo Regency to Malaysia in the period 2008;Q1-2017;Q4 using the linear regression analysis method through the SPSS 15.0 Program. The analysis shows that cabbage production variable has a positive and significant effect on cabbage exports from Karo Regency to Malaysia, domestic cabbage prices have a negative and significant effect on cabbage exports from Karo Regency to Malaysia, Malaysian international prices have a negative and not significant effect on cabbage exports from Karo Regency to Malaysia and the rupiah exchange rate against the ringgit have a significant negative effect on cabbage exports from Karo Regency to Malaysia.Natasya Veronica S (177039016) dengan judul tesis “Analisis Faktor- faktor yang Mempengaruhi Ekspor Kubis dari Kabupaten Karo Ke Malaysia”. Penulisan tesis ini dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si Sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS Sebagai Anggota Komisi Pembimbing. Produksi kubis di Kabupaten Karo mengalami fluktuasi yang cenderung meningkat selama lima tahun terakhir dan permintaan ekspor yang juga cenderung mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel produksi kubis di Kabupaten Karo, harga domestik kubis, harga internasional Malaysia dan nilai tukar rupiah terhadap ringgit, terhadap volume ekspor kubis dari Kabupaten Karo ke Malaysia periode 2008;Q1-2017;Q4 dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda melalui Program SPSS 15.0. Hasil analisis menunjukkan variabel produksi kubis berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor kubis dari Kabupaten Karo ke Malaysia, harga domestik kubis berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor kubis dari Kabupaten Karo ke Malaysia, harga internasional Malaysia berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ekspor kubis dari Kabupaten Karo ke Malaysia dan nilai tukar rupiah terhadap ringgit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor kubis dari Kabupaten Karo ke Malaysia.82 HalamanTesis Magiste

    PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN KUBIS DENGAN SISTEM TANAM TUMPANGSARI

    No full text
    [ENGLISH]The research of pest control at cabbage plant by inter cropping system was done at Semboro village, Semboro town, Jember Regency. The aim of this research is to find out the most effective inter cropping system to overcome the cabbage plant’s pest problem. This research uses randomized block design (RBD) with six treatments and each treatment is repeated five times. The treatments are planting monoculture cabbage, inter cropping cabbage with chili, inter cropping cabbage with marigold, inter cropping cabbage with sweet basil, inter cropping cabbage with eggplant, and inter cropping cabbage with tomato. The results shows that none of the treatments are sufficienly effective to reduce the population of both caterpillar pest, Crociodolomia binotalis or Plutella xylostella. The average population of Crociodolomia binotalis at cabbage with sweet basil’s inter cropping is lower than monoculture cabbage that is 0,89 tail/plant. The average population of Plutella xylostella for each treatment did not give a substantial different. The inter cropping of cabbage with sweet basil produces the highest weight per crop, that is 1,11 Kg/krop with grade II crop quality. Keywords: Cabbage; Crocidolomia binotalis; Plutella xylostella; inter cropping  [INDONESIAN] Penelitian pengendalian hama pada kubis dengan sistem tanam tumpangsari dilakukan di desa Semboro Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis tumpangsari yang efektif dalam mengendalikan hama tanaman kubis. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan diulang sebanyak lima kali. Perlakuan yang digunakan yaitu penanaman kubis monokultur, kubis tumpangsari dengan cabai rawit, kubis tumpangsari dengan kenikir, kubis tumpangsari dengan selasih, kubis tumpangsari dengan terung, dan kubis tumpangsari dengan tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan tidak efektif dalam menekan populasi hama ulat Crocidolomia binotalis maupun ulat Plutella xylostella. Rata-rata populasi Crocidolomia binotalis pada tumpangsari kubis dan selasih hasilnya lebih rendah dibandingkan kubis monokultur yaitu 0.89 ekor/tanaman. Rata-rata populasi Plutella xylostella pada masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata. Perlakuan tumpangsari kubis dan selasih menghasilkan berat per krop paling tinggi, yaitu 1.11 Kg/krop dengan kriteria mutu II. Kata Kunci: Kubis; Crocidolomia binotalis; Plutella xylostella; tumpangsari  How to citate: Kristanto SP, Sutjipto, Soekarto. 2013. Pengendalian hama pada tanaman kubis dengan sistem tanam tumpangsari. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 7-9

    AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN KUBIS (Brassica oleracea var. capitata L) TERHADAP LIMA BAKTERI PATOGEN

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak kloroform dan metanol daun kubis (Brassica oleracea var. capitata L) terhadap bakteri Bacillus licheniformis, Staphylococcus epidermidis, Acinetobacter calcoaceticus, Salmonella typhi, dan Klebsiella pneumonia. Dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen di laboratorium, dengan tahapan: (1) ekstraksi daun kubis dengan metode maserasi menggunakan pelarut kloroform dan metanol, (2) pemekatan menggunakan rotary evaporator, (3) pengujian aktivitas antibakteri ekstrak kloroform dan metanol daun kubis dengan konsentrasi (b/v) 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70% dan 80% terhadap bakteri uji gram positif (B. licheniformis, S. epidermidis) dan gram negative (A. calcoaceticus, S. typhi, dan K. pneumonia) dengan metode sumuran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) ekstrak metanol daun kubis (Brassica oleracea var. capitata L) mampu menghambat pertumbuhan bakteri yang ditunjukkan dengan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji. Sedangkan ekstrak kloroform daun kubis tidak memberikan zona hambat sama sekali, (2) efek antimikroba 50 % ekstrak metanol daun kubis memberikan zona hambat terhadap laju pertumbuhan bakteri B. licheniformis, S. epidermidis, A. calcoaceticus, S. typhi, dan K. pneumonia berturut-turut sebesar 12,50 mm, 13,20 mm, 13,79 mm; 13,40 mm; dan 13,54 mm. Dari hasil (2) tampak bahwa aktivitas ekstrak metanol daun kubis (Brassica oleracea var. capitata L) pada konsentrasi 50% cenderung lebih aktif terhadap bakteri gram negatif, daripada bakteri gram positif. Kata kunci: antibakteri, Brassica oleracea var. capitata L,kubi

    TINGKAT DEGRADASI BAHAN KERING DAN PROTEIN LIMBAH SAYUR KUBIS, DAUN KUBIS BUNGA, SELADA DAN PETSAI SECARA IN SITU PADA RUMEN DOMBA BERFISTULA

    No full text
    Limbah s,!yur kubis, daun kubis bunga. selada dan petsaidapat dijumpai dimana--mana dan merupakan limbah yang belum dimanfaatkan lebill lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya tingkat degradasi bahan kering dan protein limbah kubis. daun kubis bunga, selada dan petsai dalam rumen domba berfistula. Tiga ekor domba berfietula berumur ± 20 bulan dengan berat badan antara 20 -25 kg digunakan dalam penelitian ini. Selama pel'cobaan d\.)mba tersebut diberi pakan rumput lapangan secara ad libitum dan dodol mineral eetiap hari sebanyak 100 gram/ ekor/ hari. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan berfaktorial (5x4) x 3 ulangan. Waktu inkubasi didalam rumen domba 0, 6. 12. 24 dan 48 jam dangan empat janis limbah yaitu kubis. daun kubis bunga, selada dan patsai. Hasil J.:-<:::nalitian lI,enunjukko.Jl t,dL~.. a Vcll:l&si antara waktu inkubasi, ant.ara jenis limbah berbeda sangat nyata (p < 0,01) terhadap t.ingkat. degradasi bahan kering dan protein, serta terjadi interaksi antal'a waktu inkubasi dengan jenis limbah. Demikian pula hubungan antara waktu inkubasi dengan tingkat degradasi bahan kering dan protein limbah kubis. daun kubis bunga, selada dan petsai menunjukkan peningkatan sesuai dengan bertambahnya waktu inkuhasi. Tingkat degradasi bahan kering dan protein limbah kubis dan selada pada wakt.u inkubasi 48 jam tidak berbeda nyata (p > 0.05) dengan waktu inkubasi 12 dan 24 jam. Tingkat degradasi bahan kering dan protein limbah daun kubis bunga dan petsai pada wakt.u inkubasi 48 jam tidak berbeda nyata (p ;:. 0,05) dengan waktu inkubasi 24 jam. Berdasarkan tinskat degradasi bahan kering dan protein dapat diketahui bahwa limbah kubis, daun kubis bunga. salada dan petsai termasuk jenis limbah yang mempunyai daya cerna tinggi. nerdasarkan kandungan pl'ot,einnlra da{:at; disimpulkan bahwa limbah sayur tersebut tergolong bahall pakan yang rendah kadar proteinnya

    Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Kubis Di Kelurahan Rurukan Kota Tomohon

    No full text
    Kubis atau Kol adalah tanaman dua tahunan hijau atau ungu berdaun, ditanam sebagai tanaman tahunan untuk sayuran. Iklim di Kelurahan Rurukan sangat cocok dengan tanaman Kubis ini, rantai pasokan kubis merupakan salah satu sistem yang memiliki pengaturan yang berkaitan dengan lairan produk, aliran informasi, serta aliran keuangan. Sistem rantai pasok yang efisien dapat memenuhi kebutuhan sayur kubis di pasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem rantai pasok sayur kubis di Kelurahan Rurukan dari petani hingga ke konsumen. Metode penelitian ini merupakan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) sistem rantai pasok di Kelurahan Rurukan sudah sangat baik dilihat dari segi informasi, serta keuntungan yang di dapat petani; (2) Produk atau hasil panen yang di jual oleh para petani berupa sayur kubis yang segar; (3) Hubungan dari petani – pengepul – pengecer – konsumen terlihat sangat baik dilihat dari informasi serta keterlibatan oleh semua pihak dalam rantai pasok sayur kubis

    ANALISIS PEMASARAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI KUBIS DI DESA SUMBERJO KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER

    No full text
    Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember merupakan desa penghasil kubis tertinggi di Kabupaten Jember. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola saluran pemasaran kubis, efisiensi saluran pemasaran kubis di Desa Sumberjo, strategi pengembangan usahatani kubis di Desa Sumberjo. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dan analitik. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis Margin Pemasaran dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa (1) Dalam proses pemasaran kubis di Desa Sumberjo terdapat tiga pola saluran pemasaran, yaitu saluran pemasaran satu tingkat (Petani → Tengkulak → Konsumen), saluran pemasaran dua tingkat (Petani → Tengkulak → Pengecer → Konsumen), dan saluran pemasaran tiga tingkat (Petani → Tengkulak → Pedagang Besar → Pengecer → Konsumen); (2) Saluran pemasaran yang paling efisien yaitu saluran pemasaran satu tingkat; (3) Usahatani kubis di Desa Sumberjo berada pada posisi (White Area) kuat berpeluang maka usahatani tersebut memiliki peluang pasar yang prospektif dan memiliki kompetensi untuk mengerjakannya dengan menggunakan strategi S-O (StrenghtsOpportunities)

    Fermentasi Pada Kubis Menggunakan Kultur Campuran Lactobacillus Plantarum Dan Saccharomyces Cerevisiae Untuk Penurunan Zat Antinutrisi Dan Identifikasi Metabolit Sekunder

    No full text
    Kubis (Brassica oleracea var. capitata) adalah salah satu jenis sayur yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Namun, kubis mengandung zat antinutrisi pengganggu asupan protein yaitu tanin (290,88 mg/100 g kubis segar), yang dapat didegradasi oleh enzim tanase bakterial. Di sisi lain, kubis juga mengandung senyawa glukosinolat yang mampu terhidrolisis oleh enzim mirosinase tanaman untuk membentuk senyawa antikanker, yaitu isotiosianat. Enzim tersebut berada di dalam kompartemen sel tanaman dan dapat teraktivasi melalui perusakan dinding sel tanaman oleh mikroorganisme. Proses degradasi tanin dan glukosinolat akan melepaskan glukosa yang dapat dimetabolisme oleh mikroorganisme membentuk asam. Pada penelitian ini, dilakukan fermentasi pada kubis menggunakan Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae untuk 1) menentukan kondisi optimum fermentasi, yaitu volume inokulum campuran dan pH awal media untuk menurunkan senyawa tanin dalam kubis 2) mengidentifikasi keberadaan asam laktat dan asam asetat dalam filtrat sisa fermentasi menggunakan HPLC dan 3) mengidentifikasi keberadaan senyawa isotiosianat target, yaitu iberin dan sulforafan menggunakan LCMS. Variasi volume inokulum campuran yang dipelajari ialah 5%, 10%, 15%, 20%, 25% (v/v), sedangkan variasi pH yang dikaji yaitu 4, 5, 6, dan 7. Fermentasi kubis dilakukan pada suhu ruang dalam kondisi anaerobik selama 4 hari. Tolak ukur kondisi optimum didasarkan pada kadar terendah tanin dalam kubis yang ditentukan secara spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik volume inokulum campuran dan pH berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar senyawa tanin (P <0,05). Kondisi optimum untuk menurunkan senyawa tanin dalam kubis dengan teknik fermentasi terjadi pada saat penggunaan volume inokulum campuran L. plantarum – S .cerevisiae 5% dan pH 7. Fermentasi kubis pada kondisi tersebut dapat menurunkan kadar tanin dalam tanaman menjadi 54,061 mg/100 g berat segar kubis. Identifikasi jenis asam menunjukkan keberadaan senyawa asam laktat dan asam asetat dalam filtrat hasil fermentasi. Selain itu, senyawa isotiosianat target yang berhasil diidentifikasi dalam biomassa kubis terfermentasi adalah iberin dan sulforafan. Walaupun kubis segar telah mengandung kedua senyawa tersebut, tetapi kadar senyawa isotiosianat, yaitu sulforafan dalam kubis terfermentasi lebih besar (0,711 μg/g) dibandingkan dengan kadar sulforafan dalam kubis segar (0,539 μg/g)
    corecore