55 research outputs found

    Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung

    Full text link
    This study aims to describe the utterances of thelo, jidor, sikem, and sikak as typical curses of Temanggung Regency, Central Java. This study chose Temanggung Regency as the location for data collection aimed at revealing the meaning of thelo swear, jidor, sikem, sikak in citizens' communication behavior. This study uses qualitative methods to maximize data collection by interview and observation. From the results of the study, researchers found the form of swear in Temanggung, which is in the form of words and inscriptions in the form of phrases. There are two purposes for using the utterances of thelo, jidor, sikem, sikak. First, as a form of anger or resistance to crime, anomalies, or kazaliman that afflict the citizens of Temanggung. When someone commits a crime on one of the residents, the citizen spontaneously pronounces thelo, jidor, sikem, or sikak based on his crime rate. Second, as a cultural expression to express pleasure, admiration, surprise, and wonder. The thelo, jidor, sikem, or sikak speeches are not spoken for committing a crime, instead as a form of protest against crime. When someone steals, people usually say thelo, jidor, sikem or sikak for the incident. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan ujaran thelo, jidor, sikem, dan sikak sebagai umpatan khas Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini memilih Kabupaten Temanggung sebagai lokasi pengambilan data ini bertujuan untuk mengungkap makna umpatan thelo, jidor, sikem, sikak dalam perilaku komunikasi warga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memaksimalkan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bentuk umpatan di Temanggung, yaitu berupa kata dan makian berbentuk frasa. Ada dua tujuan penggunaan ujaran thelo, jidor, sikem, sikak. Pertama, sebagai bentuk marah atau perlawanan atas kejahatan, anomali, atau kazaliman yang menimpa warga Temanggung. Ketika ada orang melakukan kejahatan pada salah satu warga, maka warga secara spontanitas mengucapkan thelo, jidor, sikem, atau sikak berdasarkan tingkat kejahatannya. Kedua, sebagai ekpresi budaya untuk mengekspresikan rasa senang, kagum, terkejut, dan heran. Ujaran thelo, jidor, sikem, atau sikak tidak diucapkan untuk melakukan kejahatan, justru sebagai bentuk protes terhadap kejahatan. Ketika ada orang mencuri, maka warga biasa mengucap thelo, jidor, sikem, atau sikak atas kejadian tersebut

    Konsep Pendidikan Kemandirian Perspektif Pendidikan Agama Islam: Kajian Buku Teacherpreneurship Karya Hamidulloh Ibda

    No full text
    Latar belakang penelitian ini adalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, baik sarjana dan megister. Selain itu, problematika guru honorer yang tidak mendapat kejelasan nasib. Meskipun pekerjaan yang dilakukan sama beratnya dengan yang dilakukan oleh guru Aparatur Sipil Negara (ASN), namun upah yang didapat tidak sebanding. Maka dengan adanya pendidikan kemandirian diharapkan guru maupun calon guru tidak hanya bergantung pada upah honorer saja, namun mampu mengembangkan softskill yang dimilikinya sehingga kesejahteraaan psikologis guru dapat tercapai. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kepustakaan yang menggunakan metode kualitatif dengan sifat penelitian analisis konten. Subjek yang diteliti yaitu buku Teacherpreneurship: Konsep dan Aplikasi karya Hamidulloh Ibda.  Peneliti mengumpulkan data-data yang terkait dengann konsep kemandirian dalam pendidikan Islam. Dari hasil penelitian menunjukkan: (1) konsep pendidikan kemandirian dalam buku Teacherpreneurship meliputi adanya sikap percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, berani mengambil risiko, kepemimpinan, menyukai keorisinilan, berorientasi pada masa depan, jujur dan tekun, motif berprestasi tinggi, mandiri dan tidak bergantungan, selalu mencari peluang, dan memiliki kemampuan manajerial. (2) Terdapat korelasi antara pendidikan kemandirian dan dengan pendidikan Islam, terdapat penerapan konsep pendidikan kemandirian dalam perspektif pendidikan Islam, serta terdapat pula implikasi konsep kemandirian perspektif agama Islam dalam bentuk etika praktik yang relevan

    Urgensi Pemertahanan Bahasa Ibu di Sekolah Dasar

    Full text link
    Mother tongue defense is an effort to preserve the language treasures in Nusantara. Mother tongue as part of Indonesian wealth must be kept early, especially in elementary school level. If elementary school children lose their native language, it will deprive their own culture and character. Damage to language in children is a clear proof that maintaining the mother tongue is very important. Mother tongue defense in addition to strengthening in language learning can also be done through cultural diversity, maintaining ethnic identity, social adaptability, enhancing children’s sense of security and enhancing linguistic sensitivity. In addition, it needs family support, language environment in schools, language celebrations and mass media support as forming the public language.</jats:p

    Kompetensi Digital Guru Sekolah Dasar di Kota Semarang: Analisis Multivariat

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis keterampilan literasi digital guru Sekolah Dasar (SD). Metode penelitian kuantitatif dengan populasi 35 guru SD Kota Semarang yang dipilih secara random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner 25 komponen tentang keterampilan digital. Data dianalisis dengan menggunakan MANOVA berbantuan aplikasi IBM SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara guru yang pernah mendapatkan pelatihan/ workshop pembelajaran digital/ TIK dengan yang belum mendapatkannya terhadap keterampilan teknis menggunakan teknologi digital, Sebaliknya, tidak terdapat perbedaan pada kompetensi digital guru pada aspek kemamapuan menggunakan dan menerapkan teknologi digital dalam situasi kerja berbeda dan pada aspek kemampuan mengevaluasi teknologi digital. Hasil uji MANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan antara guru sertifikasi maupun guru yang belum bersertifikasi ditinjau dari keterampilan teknis menggunakan teknologi digital, kemampuan menggunakan dan menerapkan teknologi digital dalam situasi kerja yang berbeda, kemampuan mengevaluasi teknologi digital secara kritis untuk masalah etika, keterbatasan, dan tantangannya, motivasi untuk berpartisipasi dan berkomitmen pada budaya digital. Penelitian berikutnya perlu mengekplorasi lebih dalam terkait kompetensi digital guru SD utamanya yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi pendidik.Abstract: This study aims to analyze the digital literacy skills of elementary school teachers. Quantitative research method with a population of 35 elementary school teachers in Semarang City selected by random sampling. The research data were collected through a 25-component questionnaire on digital skills. The results showed a difference between teachers who had received training/ workshops on digital learning/ ICT and those who had yet to receive it on the technical skills of using digital technology. In contrast, teachers' digital competence was the same in the aspect of the ability to use and apply digital technology in different work situations and the ability to evaluate digital technology. The Manova test results show no difference between certified teachers and uncertified teachers in terms of technical skills using digital technology, the ability to use and apply digital technology in different work situations, the ability to critically evaluate digital technology for ethical issues, limitations, and challenges, motivation to participate and commit to digital culture. Future research needs to explore the digital competencies of primary school teachers, especially those who have received educator training and certification.

    Program kesejahteraan sosial melalui santunan pendidikan untuk anak yatim piatu dan fakir miskin di SMK japa pati

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program kesejahteraan sosial bagi siswa yatim dan yang membutuhkan melalui kompensasi pendidikan. Lokasi penelitian dipilih di Sekolah Menengah Kejuruan Jamaah Pasrah (JAPA) di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Alasan memilih sekolah ini karena menerapkan program kompensasi pendidikan untuk anak yatim dan yang membutuhkan dari masuk sekolah sampai lulus. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan tinjauan dokumen. Data dan informasi dikumpulkan, kemudian dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan menggunakan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kesejahteraan sosial melalui kompensasi pendidikan mampu meningkatkan kesejahteraan sosial anak yatim melalui bantuan produktif kepada anak yatim dan siswa yang membutuhkan yang mencakup semua biaya mulai dari penerimaan hingga kelulusan. Semua model penyediaan pendidikan untuk anak yatim adalah gratis, sedangkan yang membutuhkan hanya bebas dari biaya sumbangan pendidikan dan siswa kecuali mereka meminta bantuan. Kompensasi pendidikan SMK JAPA Pati mampu meningkatkan kesejahteraan sosial di bidang pendidikan. Kompensasi pendidikan ini mengurangi jumlah anak putus sekolah dalam setahun setidaknya 10-15 anak yatim dan yang membutuhkan. Pada tahun 2017, Sekolah Menengah Kejuruan JAPA memberikan bantuan pendidikan kepada 8 siswa yatim dan 12 siswa yang membutuhkan. Sedangkan pada 2018, memberikan kompensasi pendidikan kepada 17 siswa yatim

    The Strategy of the Educational Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java In Preventing Radicalism

    Full text link
    This study aims to describe the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java in preventing radicalism. This research uses descriptive qualitative method with interview and observation techniques. The results of the study, the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java was carried out in several ways. Starting from the strengthening of school quality, ideology, literacy, curriculum, teachers, and school management. Until April 2019, there have been no reports of schools or Islamic School under the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java that were exposed to or entered into radicalism. For this reason, although this strategy has only been running for one year, it has been effective in preventing radicalism. Despite receiving a positive response and the support of various parties, the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java itself experienced obstacles and opportunities. With the support of foreign institutions, the government, universities, the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java is optimistic to stem radicalism in schools and Islamic School during a period of management

    Strategi Membendung Islamofobia melalui Penguatan Kurikulum Perguruan Tinggi Berwawasan Islam Aswaja Annahdliyah

    No full text
    This article discusses the dynamics of Islamophobia and strategies to stem it. This study uses a descriptive qualitative approach that focuses on review Islamophobia and the strategy STAINU Temanggung to stem it through strengthening the curriculum. The results of this study, Islamophobia is a fear of everything that smells of Islam and Muslims. Islamophobia is not a product of Islam, because is caused propaganda, political interests, the influence of the mass media, hatred, Western fears of Islam, and a partial understanding of Islam. The strategy of STAINU Temanggung stemmed Islamophobia through strengthening the KKNI-SNPT curriculum based on Aswaja Annahdliyah in the dimensions of the Tri Dharma of Universities. All aspects of education-teaching, research, and community service are directed towards building competency, character, and values of Aswaja Annahdliyah, moderation, and values of mabadi khaira ummah. Through this strengthening, the face of Islam appears moderate, tolerant, friendly, and not radical, which in the long run stemming Islamophobia, especially in plural areas automatically

    Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Card Sort pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Iman Kepada Rasul-Rasul Allah di Kelas IV Semester 2 MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati Tahun Pelajaran 2011-2012

    Full text link
    Penelitian ini berawal dengan adanya permasalahan di kelas IV MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati pada tahun pelajaran 2011-2012 yaitu rendahnya keaktifan dan nilai rata-rata peserta didik pada materi iman kepada rasul-rasul Allah dikarenakan sulitnya peserta didik untuk memahami secara langsung apa yang dipelajari dan keabstrakkan peserta didik pada materi tersebut. Karena pada dasarnya, pembelajaran Akidah Akhlak dibutuhkan pemahaman materi secara mendalam. Selain itu berdasarkan pengamatan juga diperoleh fakta bahwa rendahnya keaktifan dan nilai belajar peserta didik dikarenakan pembelajaran masih didominasi oleh guru, peserta didik yang tidak memahami materi tersebut tidak mau bertanya. Diharapkan pembelajaran melalui model Card Sort akan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik pada materi iman kepada rasul-rasul Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah melalui model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi pokok Iman kepada rasul-rasul Allah di Kelas IV Semester 2 MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2011-2012. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2011-2012 sejumlah 7 peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sedangkan teknik pengambilan data ada 3 metode yaitu (1) Dokumentasi, (2) Observasi, (3) Tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak menggunakan model Card Sort meningkat baik dengan rata keaktifan pra siklus 45,24%, siklus I 61,91 % dan siklus II 84,51 %. Dan hasil belajar pra siklus nilai rata-rata peserta didik 48,14 dengan persentase peserta didik yang tuntas 14,28%, pada siklus I menjadi nilai rata-rata menjadi 69,57 dengan persentase peserta didik yang tuntas 42, 86%. Pada siklus I dan pada siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata peserta didik 83, 57 dan persentase peserta didik yang tuntas mencapai 100 %

    Penguatan Karakter Toleran dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Whole Language di Madrasah Ibtidaiyah

    Full text link
    This article discusses the dynamics of intolerance from aspects of mind, language, action and solution through strengthening the education of tolerant character in learning Indonesian. Intolerance in practice can be harsh words, hate speech, harassment, until the action of radicalism. Strengthening character education is a mandate that must be implemented in Islamic elementary education. There are seventeen required  implemented characters. Start religious character, honest, tolerant, disciplined, hard working, creative independent, democratic, curiosity, spirit of nationality, love of the homeland, appreciate achievement, communicative, love peace, love reading, caring environment, social care, and responsible. Tolerance became one of the urgent characters strengthened in this era of the fourth industrial revolution. The language of the children represents its character. The more polite, refined, and tolerant of their language, the stronger the character is polite, refined, and tolerant to them, and vice versa. Indonesian language learning with whole language approach can strengthen the tolerant character because it is done intact, integral, not partial from aspects of listening, reading, writing and speaking. The language understanding in this approach is not just textual, but contextual and even intertextual. Indonesian language learning through whole language approach aims to strengthen the character of tolerant, polite, social care and boils down to the attitude of religious tolerance. There are two indicators of religious tolerance, to people of fellow religion, and tolerance to people of different religions

    RELASI NILAI NASIONALISME DAN KONSEP HUBBUL WATHAN MINAL IMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

    No full text
    This article aims to find out the concept of hubbul wathan minal imanand nationalism in Islamic education. It also describes the genealogy of nationalism and hubbul wathan minal iman, the dynamics of the anti-nationalism group, and the character of nationalism in Islamic education. The findings in this article indicate the character of nationalism is very influential on the resilience of the nation, one of them through the program strengthening character education established by the government. In that program, there is a character of the spirit of nationalism and love of the homeland as a form of hubbul wathan minal iman that can be applied by all Islamic educational institutions to maintain the spirit of nationalism.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui konsep hubbul wathan minal iman dan nasionalisme dalam pendidikan Islam. Selain itu juga mendeskripsikan genealogi nasionalisme dan hubbul wathan minal iman, dinamika kelompok antinasionalisme, dan karakter nasionalisme dalam pendidikan Islam. Temuan dalam artikel ini menunjukkan karakter nasionalisme sangat berpengaruh terhadap ketahanan bangsa, salah satunyamelalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang ditetapkan pemerintah. Dalam progam itu, terdapat karakter semangat kebangsaan dan cinta tanah air sebagai wujud hubbul wathan minal iman yang bisa diterapkan semua lembaga pendidikan Islam untuk menjaga ruh nasionalisme
    corecore