30 research outputs found
Perjalanan Keimanan Tokoh Hasan Novel Atheis Karya Achiadat K. Mihardja dan Implikasinya
The purpose of this research was to describe the journey of the faith of Hasan in the Atheis novel by Achiadat K. Mihardja and its implications for Indonesian language learning in Senior High School. This research used descriptive qualitative method. The results showed that the faith of Hasan as the main character of the story is unstable. This characterized by the journey of Hasans faith which initially believed, then decreased, and ended with the return of Hasans faith. The journey of Hasans faith can be known based on indicators faith and unfaith. The results of this research were implicated in the Indonesian language learning activity in Senior High School grade twelve on the structural material and the rules of the novel also the interpretation of the means of the novel. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perjalanan keimanan tokoh Hasan dalam novel Atheis karya Achiadat K. Mihardja dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keimanan Hasan sebagai tokoh utama cerita tidak stabil. Hal ini ditandai dengan perjalanan keimanan Hasan yang awalnya beriman, kemudian mengalami penurunan, dan diakhiri dengan kembalinya keimanan Hasan. Perjalanan keimanan Hasan ini dapat diketahui berdasarkan indikator keimanan dan ketidakimanan. Hasil penelitian diimplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XII pada materi struktur dan kaidah novel serta interpretasi makna novel.Kata kunci : implikasi, ketidakimanan, perjalanan keimanan
Atheis
Atheis adalah sebuah novel karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1949. Roman yang menggunakan tiga gaya naratif ini menceritakan kehidupan Hasan, seorang Muslim muda yang dibesarkan untuk berpegang pada agama, tetapi akhirnya meragukan agamanya sendiri setelah berurusan dengan seorang sahabat penganut Marxisme Leninisme dan seorang penulis penganut nihilisme.xiv+252hlm.;15x21c
Filosofi Tuturan Ilokusi Tokoh Hasan pada Novel “Atheis” Karya Achdiat K. Mihardja
Novel merupakan karya sastra yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah novel yang berjudul Atheis karya Achidiat K. Mihardja meceritakan tentang Hasan sebagai tokoh utama dengan pergolakan batin mengenai agama yang dianutnya. Permaslahan pada penelitian ini adalah merupakan tuturan pada tokoh utama Hasan yang terdapat pada novel. Dengan dilakukannya penelitian ini dapat mengetahui bentuk tuturan ilokusi yang diucapkan oleh tokoh utama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskritif dengan data dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan yang menjelaskan data dari objek yang diteliti. Setelah data terkumpul penulis melakukan pemilihan pada data yang akan diteliti yang sesuai dengan macam-macam tuturan ilokusi yang memiliki kategori asertif, direktif, komisif, ekspersdif, dan deklaratif dengan jumlah data 22 tuturan ilokusi yang diucapkan oleh hasan. Dari 22 data tersebut memiliki 8 data tuturan ilokusi asertif, 4 data tuturan ilokusi direktif, 6 tuturan ilokusi ekspresif dan 3 tuturan ilokusi deklaratif. Seluruh data tuturan ini memiliki konteks yang berbeda sesuai dengan konteks yang terjadi pada tokoh hasan
Filosofi Tuturan Ilokusi Tokoh Hasan Pada Novel “Atheis” Karya Achdiat K. Mihardja
Novel merupakan karya sastra yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah novel yang berjudul Atheis karya Achidiat K. Mihardja meceritakan tentang Hasan sebagai tokoh utama dengan pergolakan batin mengenai agama yang dianutnya. Permaslahan pada penelitian ini adalah merupakan tuturan pada tokoh utama Hasan yang terdapat pada novel. Dengan dilakukannya penelitian ini dapat mengetahui bentuk tuturan ilokusi yang diucapkan oleh tokoh utama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskritif dengan data dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan yang menjelaskan data dari objek yang diteliti. Setelah data terkumpul penulis melakukan pemilihan pada data yang akan diteliti yang sesuai dengan macam-macam tuturan ilokusi yang memiliki kategori asertif, direktif, komisif, ekspersdif, dan deklaratif dengan jumlah data 22 tuturan ilokusi yang diucapkan oleh hasan. Dari 22 data tersebut memiliki 8 data tuturan ilokusi asertif, 4 data tuturan ilokusi direktif, 6 tuturan ilokusi ekspresif dan 3 tuturan ilokusi deklaratif. Seluruh data tuturan ini memiliki konteks yang berbeda sesuai dengan konteks yang terjadi pada tokoh hasan
NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN SASTRA : ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN
Abstract: the objectives of this research is to describe: (1) id psychology on the main character in Atheis novel by Achdiat Karta Mihardja; (2) ego psychology on the main character in the Atheis novel; (3) super-ego psychology on the main character in the Atheis novel; (4) the educational value contained in the Atheis novel; (5) its relevance as teaching material in learning literature appreciation in high school.This research uses descriptive qualitative method with psychology approach of literature. This research uses descriptive qualitative method with psychology approach of literature. The data obtained by researchers coming from Atheis novel, interviews with writers, lecturers of Indonesian language studies program, teachers and students. The validity of data is obtained through triangulation theory. Data were analyzed using analysis techniques interactive.The conclusions of this study were (1) the psychology of the main character in the Atheis novel by Achdiat Karta Mihardja is a Hasan character who suffers from psychiatric disorder that is the uncertainty of choosing religious belief (2) there are eleven grades of character traits contained in Atheis novel, they are religious values, tolerance, hard work, social caring, curiosity, friendship, responsibility, self-reliance, peace, discipline, like to read (3) Atheis novel is relevant to the literary learning material in senior high school because it contains many moral messages and good character education value for students.Keywords: novel, literary psychology, educational value, learning literature.Abstrak: tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) kejiwaan Id pada tokoh utama dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja; (2) kejiwaan Ego pada tokoh utama dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja; (3) kejiwaan Super ego pada tokoh utama dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja; (4) nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja; (5) relevansinya sebagai materi ajar dalam pembelajaranapresiasi sastra di SMA.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Data yang diperoleh peneliti berasal dari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, hasil wawancara dengan sastrawan, dosen Progam Studi Bahasa Indonesia, guru dan siswa-siswi SMA N 1 Gemolong. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Validitas data diperoleh melalui triangulasi teori. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis Interaktif.Simpulan penelitian ini adalah (1) kejiwaan tokoh utama dalam novel Atehis karya Achdiat Karta Mihardja adalahtokoh Hasan yang mengalami gangguan kejiwaan yaitu kebimbangan untuk memilih kepercayaan agama (2) terdapat sebelas nilai pedidikan karakter yang terkandung dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, nilai-nilai tersebut adalah nilai religius, toleransi, bekerja keras, peduli sosial, rasa ingin tahu, bersahabat, tanggung jawab, mandiri, cinta damai, disiplin, gemar membaca (3) novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja relevan dengan materi pembelajaran sastra di SMA karena banyak mengandung pesan moral dan nilai pendidikan karakter yang baik bagi siswa.Kata kunci: novel, psikologi sastra, nilai pendidikan pembelajaran sastra di SM
NEGOSIASI IDEOLOGIS DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT K. MIHARDJA: PERSPEKTIF HEGEMONI GRAMSCI
Penelitian ini menggunakan novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja
sebagai objek material dan teori hegemoni Gramsci sebagai objek formal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi formasi ideologi dan menganalisis
negosiasi ideologi dalam novel Atheis. Analisis data menggunakan deskriptif
analisis, yaitu mengungkapkan fakta-fakta yang dilanjutkan dengan analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan ideologi dalam
novel Atheis, yaitu teisme (islam), ateisme, tradisionalisme, mistisme, marxisme,
anarkisme, kapitalisme, feudalisme. Kedelapan ideologi tersebut memiliki
korelasi, pertentangan, dan subordinasi. Untuk mencapai hegemoni, dibutuhkan
negosiasi yang bisa terjadi melalui dialog antartokoh dan melalui perenungan diri
sendiri. Dalam hal ini, terdapat enam negosiasi ideologi dalam novel Atheis, yaitu
negosiasi Hasan, negosiasi Anwar, negosiasi Hasan dan Rusli, negosiasi Hasan
dan gurunya, negosiasi Hasan dan Anwar, dan negosiasi Anwar dan Bung
Parta.Melalui Atheis, pengarang ingin memperkenalkan gagasannya mengenai
situasi masyarakat Indonesia pada masa kolonial. Berdasarkan penelitian ini,
novel Atheis adalah usaha pengarang untuk memperlibatkan kekompleksan
permasalahan manusia pada masa itu. Kekompleksan permasalahan tersebut
ditunjukan melalui ideologi-ideologi para tokoh. Pengarang menceritakan
kegelisahan-kegelisahan pikirannya terkait ateisme melalui kehidupan Hasan,
sebagai tokoh utama yang dihadapkan dengan hidup modern melalui masuknya
filsafat eksistensialisme dan marxisme ke Indonesia.
This research uses novel Atheis Achdiat Karta Mihardja works as objects
of materials and theory of hegemony Gramsci as formal objects. This research
aims to identify ideological formation and analyze the ideological negotiations in
the novel Atheis. Data analysis using descriptive analysis, namely revealing the
facts followed by analysis.
The results showed that there are eight ideology in the Atheis novels, i.e.
Islamic theism, atheism, traditionalism, mysticism, Marxism, anarchism,
capitalism, feudalism. The eighth such ideology have correlation, contradiction,
and subordination. To achieve hegemony, it takes negotiation that can happen
through dialogue between characters and through the contemplation of oneself. In
this case, there are six ideological negotiations in the Atheis novels, i.e. Hasan
negotiation, Anwar negotiation, Hasan and Rusli negotiations, Hasan and his
teacher negotiations, Hasan and Anwar negotiations, Anwar and Mr. Parta
negotiations. Through the Atheis, the author wants to introduce the idea of the
situation of the community of the colonial period in Indonesia. Based on this
research, the novel is the author's effort to Atheis involves complexity problems of
human beings at that time. Complexity of the problems shown through ideology
of t he characters. The author recounts the anxiety related mind atheism through
the life of Hasan, as main characters who are faced with the modern life through
the inclusion of the philosophy of Existentialism and Marxism to Indonesia
Atheis
Setidaknya sejak 4000 tahun silam, Tuhan merupakan tema penting dalam sejarah kesadaran manusia dalam upaya menemukan Tuhan yang benar-benar bermakna dan relevan bagi hidup mereka.Kehidupan Atheis terletak pada hampir semua unsurnya yang begitu menonjol. Latar alam yang terjadi di daerah Pasundan, dengan berbagai tradisi keagamaannya sangat mendukung perkembangan watak tokoh utamanya, Hasan. Ceritanya yang justru diawali dengan akhir riwayat hidup tokoh utamanya. Unsur yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan sekaligus tiga penceritaan.250 hal.; illus 13,5 x 20 c
KONFLIK SOSIAL IDEOLOGIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT K. MIHARDJA (TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA)
Novel Atheis adalah potret zaman ketika bangsa Indonesia berada dalam masyarakat transisi. Tokoh-tokohnya representasi berbagai golongan masyarakat dalam menyikapi problem timur-barat yang belum selesai dan polemik kebudayaan. Ada tiga hal yang dihadapi oleh Hasan sebagai tokoh utama yaitu pengaruh barat, kultur sendiri, dan dogma agama. Ketiga hal tersebut bertarung dalam diri Hasan. Berbagai masalah sosial yang dihadapi Hasan menyebabkan terjadinya konflik. Apakah konflik itu juga merupakan cerminan masyarakat pada saat karya itu ditulis, untuk itu pendekatan sosiologi sastra digunakan dalam penelitian ini.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah konflik yang terjadi yaitu berupa konflik ideologi, konflik keluarga, dan konflik rumah tangga. Hal itu disebabkan oleh adanya pengaruh paham Atheis yang berkembang seiring dengan peralihan masyarakat dari tradisional ke modern. Pada lingkungan tersebut terdapat kelompok masyarakat yang hidup dengan cara menerima pengaruh kebudayaan barat tersebut. Hasan terpengaruh karena bujukan dari seorang propagandis bernama Rusli yang merupakan teman dekat Hasan. Rusli terus mendoktrin kebudayaan barat dalam bentuk pandangan hidup kepada Hasan menyebabkan Hasan terpengaruh pada pemikirannya. Novel Atheis merupakan penggambaran rakyat Indonesia pada awal abad ke-20. Pada masa itu rakyat Indonesia berada di tengah pengaruh masuknya kebudayaan barat berupa paham yang menyangkut kepercayaan rakyat Indonesia
Perubahan Kadar Interleukin-2 dan Interleukin-31 Serum Sesudah Tindakan Akupunktur pada LI11 Quchi dan Korelasinya dengan Perubahan Skala Pruritus pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis
Background: Serum interleukin 2 (IL-2) and interleukin 31 (IL-31) levels were
significantly higher in patients undergoing hemodialysis with pruritus than without
pruritus, whereas acupuncture has been shown to reduce pruritus. Changes in serum
IL-2 and IL-31 levels correlated with pruritus after acupuncture in patients
undergoing hemodialysis have never been known.
Objective: to prove changes in serum IL-2 and IL-31 levels, which were correlated
with the pruritusscale after acupuncture in patients undergoing hemodialysis.
Method: true experimental with a pretest-posttest design followed by a test of
differences between the intervention and control groups, single disguised with
randomization carried out from July 2018 to November 2018 at H. Adam Malik
General Hospital, Medan. Sixty patients met the inclusion criteria and did not meet
the exclusion criteria study subjects with consecutive sampling and randomly divided
into two groups: one group received acupuncture on LI11 Quchi (acupuncture
group) and others received placebo acupuncture (placebo group) as a control.
Serum IL-2, IL-31 levels and pruritus scales were measured before and after six
weeks of acupuncture and after four weeks of evaluation (without intervention)
in both groups..
Results: There was a decrease in serum IL-2 levels and pruritus scale (p = 0.013
and p = 0.028), while the decrease in serum IL-31 levels was not significant
(p = 0.931). There was a significant relationship between decreased serum IL-2
levels and decreased pruritus scale (p = 0.031; r = 0.278) after six weeks
of acupuncture LI11 Quchi with side effects of pain (VAS 2.15) and minimal bleeding
(2.50%). The increase in serum IL-2 levels and serum IL-31 levels was
not significant (p = 0.658 and p = 0.974) after four weeks of evaluation.
Conclusion: This study proved that the decrease in serum IL-2 levels was associated
with a significant reduction in the pruritus scale, while the decrease in serum IL-31
levels was not significant after six weeks of acupuncture LI11 Quchi with minimal
side effects. The increase in serum IL-2 leve and, serum IL-31 level was
not significant after four weeks of evaluation.Latar belakang: kadar interleukin 2 (IL-2) dan interleukin 31 (IL-31) serum secara
signifikan lebih tinggi pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan pruritus
dibandingkan tanpa pruritus, sedangkan tindakan akupunktur telah terbukti
mengurangi pruritus. Perubahan kadar IL-2 dan IL-31 serum yang dikorelasikan
dengan pruritus sesudah akupunktur pada pasien yang menjalani hemodialisis belum
pernah diketahui.
Tujuan: untuk membuktikan perubahan kadar IL-2 dan IL-31 serum yang
dikorelasikan dengan skala pruritus sesudah akupunktur pada pasien menjalani
hemodialisis.
Metode: eksperimental murni dengan disain pretest-posttest dilanjutkan dengan test
perbedaan antar kelompok intervensi dan kontrol, tersamar tunggal dengan
randomisasi dilakukan selama Juli 2018 hingga November 2018
di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan. Enam puluh pasien memenuhi
kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi menjadi
subjek penelitian dengan konsekutif sampling dan secara acak dibagi menjadi
dua kelompok: satu kelompok menerima akupunktur pada LI11 Quchi
(kelompok akupunktur) dan yang lainnya menerima akupunktur plasebo (kelompok
plasebo) sebagai kontrol. Kadar IL-2, IL-31 serum dan skala pruritus diukur sebelum
dan sesudah enam minggu akupunktur dan sesudah empat minggu evaluasi
(tanpa tindakan) pada kedua kelompok.
Hasil: Terdapat penurunan kadar IL-2 serum dan skala pruritus (p=0,013 dan
p=0,028), sedangkan penurunan kadar IL-31 serum tidak signifikan (p=0,931).
Ada hubungan yang signifikan antara penurunan kadar IL-2 serum dengan
penurunan skala pruritus (p=0,031; r=0,278) setelah enam minggu tindakan
akupunktur LI11 Quchi dengan efek samping nyeri (VAS 2.15) dan perdarahan
minimal (2.50%). Peningkatan kadar IL-2 serum dan kadar IL-31 serum tidak
signifikan (p=0,658 dan p=0,974), setelah empat minggu evaluasi..
Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan penurunan kadar IL-2 serum berhubungan
dengan penurunan skala pruritus secara signifikan, sedangkan penurunan kadar IL-31
serum tidak signifikan sesudah enam minggu tindakan akupunktur LI11 Quchi
dengan efek samping minimal. Peningkatan kadar IL-2 serum dan kadar IL-31 serum
tidak signifikan sesudah empat minggu evaluasi186 HalamanDisertasi Dokto
KAJIAN PUSTAKA: PARADIGMA BARU AKUPRESUR UNTUK MENUNJANG PROGRAM SDG POINT KETIGA: KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA
Sustainable Development Goals (SDGs) dideklarasikan oleh UN pada tahun 2015 yang memuat 17 tujuan/goals dan 169 target yang menggambarkan sasaran dan lingkup agenda pembangunan dan masyarakat global dalam 15 tahun ke depan. Beberapa target dalam SDGs diantaranya menurunkan angka kematian, menurunkan kematian neonatal, mengakhiri epidemi penyakit infeksi, serta menurunkan angka kematian dini akibat penyakit tidak menular, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mental. Target tersebut termuat dalam tujuan point ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Pandemi COVID-19 memberikan dampak global, terutama bagi populasi rentan yang terdampak, seperti ibu hamil dan anak-anak. Kesulitan akses terhadap fasilitas kesehatan dan obat semakin memperparah dampak COVID-19 dalam pencapaian tujuan SDGs point ketiga. Akupresur adalah teknik penekanan mekanik berdasarkan titik akupunktur. Teknik ini mempunyai keunggulan sederhana, murah, non invasif, mudah dilakukan, serta telah terbukti efektif pada banyak kondisi medis berdasarkan studi literatur beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Akupresur dapat menjembatani kondisi pasca pandemi dimana terjadi penurunan pendapatan sehingga angka kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan cenderung menurun. Akupunktur saat ini telah mengalami perubahan paradigma dari sebuah pengobatan tradisional menjadi keilmuan medis yang berdasarkan evidence based. Artikel ini merupakan studi literatur mengenai efektifitas akupunktur akupresur dalam beberapa kondisi yang menjadi tujuan/goals dari point ketiga SDGs
