Portal Jurnal Malahayati (Universitas Malahayati)
Not a member yet
7304 research outputs found
Sort by
The Relationship Of Pubter Mother's Knowledge And Husband's Support Towards Giving Colostrum To Newborn Babies
Latar Belakang : Bayi baru lahir harus diberikan kolostrum yang merupakan ASI pertama karena didalamnya terkandung zat imunitas tubuh Immunoglobulin (IgA) yang bisa mencegah penyakit infeksi pada bayi dan tidak terkandung pada ASI transisi dan ASI matur ataupun pada susu formula. rata-rata angka pemberian ASI eksklusif didunia pada tahun 2022 hanya sebesar 44% bayi usia 0-6 bulan dan masih jauh dari target dari WHO yaitu minimal mencapai 50% di tahun 2025.Tujuan : untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu nifas dan dukungan suami terhadap pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Rawat Inap PendopoMetode : Jenis penelitian menggunakan metode survey analitik observasional dengan desain cross sectional.Hasil : dari hasil penelitian didaptkan bahwa sebagian besar 20(55,6%) bayi tidak diberikan kolostrum, sebagian kecil 13(36,1%) pengetahuan ibu nifas kurang mengenai kolostrum dan sebagian besar 22(61,1%) tidak memberikan dukungan terhadap pemberian kolostrum pada bayi baru lahir. Hasil analisa bivariat menggunakan uji statistic Chi-Square. Kesimpulan : ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu nifas dan dukungan suami terhadap pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Rawat Inap pendopo Saran : Diharapkan Bidan bisa mengoptimalkan kelas ibu hamil dalam menyampaikan pentingnya pemberian kolostrum pada bayi baru lahir. Kata kunci : Dukungan Suami, Kolostrum, Pengetahuan ABSTRACT Background: Newborns should be given colostrum which is the first breast milk because it contains the body's immunity substance Immunoglobulin (IgA) which can prevent infectious diseases in infants and is not contained in transitional breast milk and mature breast milk or in formula milk. The average rate of exclusive breastfeeding in the world in 2022 is only 44% of infants aged 0-6 months and is still far from the WHO target of at least 50% in 2025. Purpose: to determine the relationship between postpartum mothers' knowledge and husband's support for providing colostrum to newborns in the Working Area ofthe Pendopo Inpatient Health Center UPTD Method: The type of research uses an observational analytical survey method with a cross-sectional design. Results: The results of the study showed that most 20 (55.6%) babies were not given colostrum, a small portion of 13 (36.1%) postpartum mothers' knowledge about colostrum was lacking and most 22 (61.1%) did not provide support for giving colostrum to newborns. The results of the bivariate analysis used the Chi-Square statistical test. Conclusion: There is a significant relationship between postpartum mothers' knowledge and husband's support for giving colostrum to newborns in the Working Area ofthe Pendopo Inpatient Health Center UPTDSuggestion: Midwives are expected to optimize pregnant women's classes in conveying the importance of giving colostrum to newborns. Keywords: Husband's Support, Colostrum, Knowledg
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Stres Mahasiswa Pre Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu
Stres yaitu reaksi fisik dan emosional (mental atau psikis) seseorang terhadap perubahan lingkungan yang mengharuskan untuk menyesuaikan diri. Pendidikan kedokteran dianggap sebagai salah satu program studi yang paling menegangkan di dunia, yang berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental mahasiswa. Sebuah penelitian yang membandingkan tingkat stres mahasiswa kedokteran dengan mahasiswa non-medis menemukan bahwa mahasiswa kedokteran mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada mahasiswa non-medis. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018 menurut provinsi, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun, urutan pertama yaitu Provinsi Sulawesi tengah dan diikuti oleh Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat stres dan faktor-faktor yang mempengaruhi stres mahasiswa pre klinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat berdasarkan variabel jenis kelamin, IPK, tempat tinggal, dan uang saku. Desain pada penelitian yakni observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan yaitu Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ). Hasil penelitian yang didapatkan diantaranya: tingkat stres mahasiswa berdasarkan stressor, jenis kelamin memiliki hubungan terhadap kejadian stres berdasarkan stressor akademik, stressor kegiatan belajar mengajar dan stressor aktivitas kelompok dan jenis kelamin perempuan memiliki tingkat kejadian stres yang lebih tinggi, IPK berhubungan terhadap kejadian stres berdasarkan stressor hubungan dengan diri sendiri dan interpersonal, Tempat tinggal tidak memiliki hubungan terhadap kejadian stres berdasarkan dari keenam stressor, Uang saku berhubungan terhadap kejadian stres berdasarkan stressor aktivitas kelompok
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepemilikan Jamban Keluarga Di Kampung Nelayan Kelurahan Belawan I
Indonesia sebagai negara berkembang, masih berjuang dengan masalah sanitasi. cakupan akses sanitasi layak di provinsi Sumatera Utara masih berada di sekitar 70%, dengan banyak daerah pesisir seperti Belawan yang masih menghadapi tantangan serius dalam penyediaan fasilitas sanitasi, salah satunya jamban keluarga, faktor-faktor yang mempengaruhi hal ini meliputi tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan jenis bangunan rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban pada masyarakat pesisir kampung Nelayan, Kelurahan Belawan I. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan populasi sebanyak 654 KK dan sampel sebanyak 87 KK. Sampel diambil menggunakan teknik non probability sampling tepatnya accidental sampling. Instrumen mengumpulkan data menggunakan kuisioner. Hasil dari uji chi-square menunjukan faktor- faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban yaitu tingkat sosial ekonomi dengan p value 0,009(p<0,05), jenis bangunan rumah dengan p value 0,001(p<0,05), dan tingkat pendidikan dengan p value 0,000(p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tingkat sosial ekonomi, jenis bangunan rumah, dan tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kepemilikan jamban keluarga. Saran yang dapat peneliti berikan kepada Pemerintah atau Pemangku Kebijakan agar lebih memperhatikan masyarakat dan lingkungan kawasan pesisir terkait jamban, dan terus melakukan evaluasi serta pengawasan yang berkala
Gambaran Kualitas Hidup Lansia Dengan Hipotensi Ortostatik Di Panti Werdha Jakarta Selatan
Hipertensi ortostatik (HO) adalah penurunan tekanan darah yang terjadi saat berdiri dari posisi terlentang, dan sering dialami oleh lansia. HO dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik, psikologis, dan kognitif, yang berdampak negatif pada tingkat kesehatan dan kualitas hidup lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup lansia dengan HO. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui wawancara menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 responden, 23 responden (27,1%) menderita HO dan 62 responden (72,9%) non-HO. Dari responden dengan HO, berdasarkan usia terdapat 17 (73,9%) kategori elderly, 5 (21,7%) kategori old, dan 1 (4,3%) kategori very old. Berdasarkan jenis kelamin, 5 (21,7%) laki-laki dan 18 (78,3%) perempuan. Berdasarkan pendidikan, 3 (13,0%) tidak sekolah, 8 (34,8%) SD, 6 (26,1%) SMP, dan 6 (26,1%) SMA. Berdasarkan komorbiditas, 10 (43,5%) hipertensi, 2 (8,7%) riwayat stroke, 4 (17,4%) diabetes melitus (DM), dan 7 (30,4%) tidak memiliki komorbiditas. Gambaran kualitas hidup lansia dengan HO berdasarkan aspek fisik menunjukkan 2 (8,7%) kategori buruk, 18 (78,3%) cukup, dan 3 (13,0%) baik. Berdasarkan aspek psikologi, 2 (8,7%) kategori buruk, 20 (67,0%) cukup, dan 1 (4,3%) baik. Berdasarkan aspek sosial, 4 (17,4%) kategori buruk dan 19 (82,6%) cukup. Berdasarkan aspek lingkungan, 20 (87,0%) kategori cukup dan 3 (13,0%) baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa lansia dengan HO di Panti Werdha Jakarta Selatan memiliki kualitas hidup yang cukup (60,9%) dan buruk (39,1%), sehingga pemeriksaan mengenai HO dan upaya meningkatkan kualitas hidup lansia dalam segala aspek sangatlah penting
Hubungan Kebiasaan Mengonsumsi Air Rebusan Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Desa Sriwulan Kabupaten Demak
Hipertensi merupakan penyebab kematian ketiga setelah stroke dan tuberkulosis. Salah satu pengendalian hipertensi yaitu rutin mengonsumsi obat. Namun, banyak penderita hipertensi tidak rutin mengonsumsi obat antihipertensi dan memilih mengonsumsi obat tradisional karena murah dan minim efek samping. Air rebusan daun salam (Syzygium polyanthum) dipercaya sebagai obat tradisional penurun hipertensi karena mengandung senyawa flavonoid yang berperan sebagai ACE inhibitor alami. Tujuan penelitian yaitu mengetahui hubungan kebiasaan mengonsumsi air rebusan daun salam terhadap tekanan darah penderita hipertensi. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif-korelasi dengan desain cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 52 orang yang merupakan total sampling. Instrumen penelitian berupa kuisioner kebiasaan mengonsumsi air rebusan daun salam dan lembar pencatatan tekanan darah. Hasil penelitian menunjukkan 69,2% responden berusia 40-60 tahun, 75,0% responden perempuan, 50,0% responden SMA, 71,2% responden tidak bekerja, 80,0% responden menderita hipertensi <1-5 tahun, 50,0% responden mengonsumsi obat antihipertensi, 46,1% responden sering mengonsumsi air rebusan daun salam, 50,0% responden menderita hipertensi grade I. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan signifikan kebiasaan mengonsumsi air rebusan daun salam dengan tekanan darah penderita hipertensi (p-value=0,041; α=<0,05; r=0,738)
Pelatihan dan Pendampingan Manajamen Kasus untuk Kelompok Lanjut Usia yang Membutuhkan Perawatan Jangka Panjang
ABSTRAK Lansia merupakan populasi rentan dan memiliki banyak masalah Kesehatan yang kompleks karena proses degeneratif. Manajemen kasus Kesehatan lansia dimasyarakat menjadi sangat penting dilakukan untuk memastikan bahwa lansia mendapatkan pelayanan Kesehatan yang baik. Keterlibatan kader Kesehatan lansia dalam manajemen kasus Kesehatan lansia dimasyarakat menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan Kesehatan lansia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kader Kesehatan lansia dalam melaksanakan manajemen kasus Kesehatan lansia dimasyarakat. Kegiatan ini dilaksankan di Desa Melinggih, Provinsi Bali. Peserta dalam kegiatan ini adalah kader kesehatn lansia diwilayah desa setempat yang berjumlah 10 orang. Kegiatan PKM dilaksanakan dengan pendekatan PARE (Preparation, Action, Reflection dan Evaluation). Hasil kegiatan ini menemukan adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader Kesehatan lansia dalam manajamen kasus Kesehatan lansia dimasyarakat dengan nilai uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test didapatkan nilai Z= -2.675b dengan p value = < 0,001. Kegiatan pelatihan dan pendampingan kepada kader Kesehatan lansia dimasa mendatang harus terus dilakukan untuk membangun meningkatkan pelayanan Kesehatan yang berbasis peran serta masyarakat untuk Kesehatan lansia yang membutuhkan perawatan Kesehatan. Kata Kunci: Lanjut Usia, Gerontik, Kader, Manajemen Kasus, Perawatan Jangka Panjang ABSTRACT Elderly people are a vulnerable population and have many complex health problems due to the degenerative process. Health case management for the elderly in the community is very important to ensure that the elderly receive good health services. The involvement of elderly health cadres in the management of elderly health cases in the community is one solution that can be done to achieve elderly health goals. This community service activity aims to provide training and assistance to elderly health cadres in implementing elderly health case management in the community. This activity was carried out in Melinggih Village, Bali Province. Participants in this activity were elderly health cadres in the local village area totally 10 people. PKM activities were carried out using the PARE approach (Preparation, Action, Reflection and Evaluation). The results of this activity found an increase in the knowledge and abilities of elderly health cadres in managing elderly health cases in the community with the Wilcoxon Signed Ranks Test statistical test value obtained Z = -2.675b with p value = <0.001. Training and mentoring activities for elderly health cadres in the future must continue to be carried out to build improvements in health services based on community participation for the health of elderly people who need health care. Keywords: Elderly, Geriatric, Cadres, Case Management, Long-Term Car
Deteksi Dini Pencegahan Stunting pada Remaja melalui Pemeriksaan Laboratorium : Kalsium Darah
ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kekurangan makanan bergizi, sering sakit, atau kurang stimulasi. Kekurangan protein dan mikronutrien, termasuk kalsium, merupakan faktor risiko utama stunting. Berdasarkan data tahun 2014 menunjukkan bahwa 23,8% anak di seluruh dunia dan 33,5% anak di negara-negara berkembang mengalami stunting atau pertumbuhan terhambat. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting pada remaja mencapai 35,1%. Provinsi Jawa Timur prevalensi stunting pada remaja mencapai 31,1%, sebanyak 10,8% dikategorikan sangat pendek dan 20,3% lainnya dikategorikan pendek. Pemeriksaan kalsium darah pada remaja awal sangat penting karena kalsium tidak hanya penting untuk pertumbuhan tulang, tetapi juga berperan dalam berbagai fungsi tubuh lainnya, seperti kontraksi otot, transmisi saraf, dan pembekuan darah. Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, kekurangan kalsium dapat dideteksi dini dan segera diberikan pencegahan yang tepat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang sejak dini, terutama terkait dengan peran kalsium dalam pertumbuhan tulang. Manfaat pemeriksaan kadar kalsium darah, diharapkan dapat mendeteksi potensi risiko stunting pada generasi mendatang dan mendorong remaja untuk melakukan gaya hidup sehat. Kegiatan ini di laksanakan di SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Pelaksanaan kegiatan PKMD ini pada tanggal 02 September 2024 sampai tanggal 09 September 2024. Hasil pemeriksaan kadar kalsium darah pada seluruh responden (48 orang) menunjukkan bahwa 100% memiliki kadar kalsium di bawah normal. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Kalsium Darah ABSTRACT Stunting is the impaired growth and development of children due to lack of nutritious food, frequent illness or lack of stimulation. Protein and micronutrient deficiencies, including calcium, are major risk factors for stunting. Based on 2014 data, 23.8% of children worldwide and 33.5% of children in developing countries experience stunting or stunted growth. In Indonesia, based on the results of the Basic Health Research in 2013, the prevalence of stunting in adolescents reached 35.1%. In East Java, the prevalence of stunting in adolescents reached 31.1%, with 10.8% categorized as very short and 20.3% categorized as short. Checking blood calcium in early adolescents is very important as calcium is not only essential for bone growth, but also plays a role in various other bodily functions, such as muscle contraction, nerve transmission, and blood clotting. By conducting regular checks, calcium deficiency can be detected early and appropriate prevention can be given immediately. The purpose of this activity is to increase knowledge about the importance of balanced nutrition from an early age, especially related to the role of calcium in bone growth. Through checking blood calcium levels, it is expected to detect the potential risk of stunting in future generations and encourage adolescents to adopt a healthy lifestyle. This activity was carried out at SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Cirebon Regency. The implementation of this PKMD activity was on September 02, 2024 to September 09, 2024. The results of checking blood calcium levels in all respondents (48 people) showed that 100% had calcium levels below normal. Keywords: Stunting, Adolescents, Blood Calciu
Deteksi Dini Pencegah Stunting pada Remaja melalui Pemeriksaan Laboratorium C-Reaktif Protein (CRP)
ABSTRAK Sangat penting untuk mendeteksi masalah kesehatan remaja sejak dini untuk mencegah stunting dan masalah kesehatan lainnya. Karena masa remaja sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, nutrisi yang seimbang sangat penting. Mendapatkan pemahaman tentang persepsi remaja tentang pencegahan stunting, terutama di SMAN 1 Dukupuntang. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sejauh mana remaja memahami masalah stunting dan bagaimana mereka dapat membantu mencegahnya.Teknik pengumpulan sample menggunakan teknik purposive sampling. Metode aglutinasi lateks digunakan untuk mengukur kadar CRP secara kuantitatif. Peserta menerima sampel darah vena sebelum diproses di laboratorium. Menunjukkan bahwa kadar CRP sebagian kecil remaja putri yang diteliti menunjukkan gejala inflamasi. Penting untuk diingat bahwa C-reaktif protein (CRP) menunjukkan peradangan dalam tubuh. Peningkatan CRP dapat menunjukkan infeksi, cedera, atau kondisi medis lainnya. Upaya untuk mendeteksi stunting sejak dini di SMAN 1 Dukupuntang, melalui pengujian CRP berhasil. 48 remaja putri yang diuji, sebagian besar (85%) memiliki CRP non-reaktif, yang menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda inflamasi yang signifikan. Namun, sekitar 15% remaja putri memiliki CRP reaktif, yang harus diperhatikan karena dapat menunjukkan proses peradangan dalam tubuh mereka. Penelitian ini telah meningkatkan pemahaman kita tentang status kesehatan remaja dan komponen yang terkait dengan stunting. Diharapkan bahwa saran-saran yang diajukan di atas akan berfungsi sebagai dasar untuk pembuatan program pencegahan stunting yang lebih efisien dan berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Pemeriksaan CRP ABSTRACT It is very important to detect adolescent health issues early to prevent stunting and other health problems. Because adolescence is very important for growth and development, balanced nutrition is crucial. To gain an understanding of teenagers' perceptions of stunting prevention, especially at SMAN 1 Dukupuntang. This is expected to provide a clearer picture of the extent to which teenagers understand the issue of stunting and how they can help prevent it. The sampling technique used is purposive sampling. The latex agglutination method is used to quantitatively measure CRP levels. Participants received venous blood samples before being processed in the laboratory. Results show that the CRP levels of a small portion of the adolescent girls studied exhibited signs of inflammation. It is important to remember that C-reactive protein (CRP) indicates inflammation in the body. An increase in CRP can indicate infection, injury, or other medical conditions. Efforts to detect stunting early at SMAN 1 Dukupuntang, through CRP testing, were successful. Of the 48 tested teenage girls, the majority (85%) had non-reactive CRP, indicating that there were no significant signs of inflammation. However, about 15% of the teenage girls had reactive CRP, which should be noted as it may indicate an inflammatory process in their bodies. This research has enhanced our understanding of the health status of adolescents and the components related to stunting. It is hoped that the suggestions put forward above will serve as a basis for the development of more efficient and sustainable stunting prevention programs. Keywords: Stunting, Adolescents, CRP Screenin
Program Pengabdian Masyarakat melalui Promosi Kesehatan tentang Keselamatan Berkendara untuk Pencegahan Kecelakaan pada Siswa Kelas XII di SMAN 1 Parongpong Kabupaten Bandung Barat
ABSTRAK Kecelakaan lalu lintas berkontribusi besar sebagai salah satu penyebab kematian di Indonesia. Dari jumlah tersebut, paling banyak terjadi pada usia remaja dan dewasa yang mengendarai sepeda motor. Pengabdian kepada masyarakat merupakan perwujudan yang nyata dari kewajiban dan tanggungjawab dosen yang melibatkan peran serta mahasiswa dalam melakukan Tri Darma Perguruan Tinggi. Wujud nyata tersebut diaplikasikan salah satunya dalam bentuk pengabdian dimana mahasiswa yang terbimbing oleh dosen memberikan promosi kesehatan kepada kelompok masyarakat. Kegiatan ini dilakukan pada siswa kelas XII di SMAN 1 Parongpong kabupaten Bandung Barat. Wujud pelaksanaan pengabdian tersebut adalah memberikan pendidikan kesehatan melalui kegiatan promosi kesehatan tentang keselamatan berkendara untuk mencegah kecelakaan yang dapat mengakibatkan cidera bahkan kematian. Promosi dilakukan bagi siswa & siswi yang merupakan kelompok usia remaja dimana kebanyakan dari sasaran menggunakan sepeda motor ke sekolah. Masa remaja digambarkan sebagai periode transisi baik secara sosial, psikologis, ekonomi, dan biologis. Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa promosi kesehatan tersebut, metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab dengan menggunakan media spanduk, leaflet dan juga makalah ppt sehingga memudahkan sasaran untuk memahami informasi terkait materi yang dipaparkan. Sebelum pelaksanaan, maka didahului dengan studi pendahuluan terhadap perilaku berkendara di sekitar lokasi sekolah tersebut. Terdapat 35 orang pengendara sepeda motor tidak menggunakan lampu pada malam hari. Melakukan pengamatan secara langsung untuk melihat kebutuhan dari sasaran yaitu pendidikan kesehatan tentang keselamatan berkendara. Pada sesi tersebut dilakukan tanya jawab dan memberikan pre & post test sebagai evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman sasaran. Hasil perhitungan nilai rata-rata pre-test adalah 72.9 sedangkan hasil perhitungan nilai rata-rata post-test sebesar 80.7. Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang keselamatan berkendara. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Keselamatan BerkendaraABSTRACT Traffic accidents contribute greatly as one of the causes of death in Indonesia. Of this number, most often occur in teenagers and adults who ride motorbikes. Community service is a real manifestation of the obligations and responsibilities of lecturers which involves the participation of students in carrying out the Tri Darma of Higher Education. One of the real forms of this application is in the form of community service where students, guided by lecturers, provide health promotions to community groups. This activity was carried out on class XII students at SMAN 1 Parongpong, West Bandung district. The manifestation of this service is to provide health education through health promotion activities regarding driving safety to prevent accidents that can result in injury or even death. The promotion is carried out for students who are in the teenage age group, where most of the targets use motorbikes to school. Adolescence is described as a period of transition both socially, psychologically, economically and biologically. In community service activities in the form of health promotion, the methods used are lectures, questions and answers using banners, leaflets and also ppt papers to make it easier for the target to understand the information related to the material presented. Before implementation, it was preceded by a preliminary study of driving behavior around the school location. There are 35 motorbike riders who do not use lights at night. Conduct direct observations to see the needs of the target, namely health education about driving safety. In this session, questions and answers were conducted and pre & post tests were given as an evaluation to determine the target's level of understanding. The calculation result of the average pre-test score was 72.9, while the calculation result of the average post-test score was 80.7. There is an increase in target knowledge about riding safety. Keywords: Health Promotion, Riding Safet
Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien Pasca Operasi
ABSTRAK Spiritual merupakan faktor penting bagi individu dalam menjaga kesehatan, kesejahteraan, serta beradaptasi dengan penyakit. Asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien pasca operasi lebih banyak berorientasi pada masalah keperawatan domain fisik, untuk domain spiritual masih kurang maksimal, salah satunya adalah pelaksanaan ibadah shalat saat pasien dirawat. Banyak pasien setelah dilakukan operasi tidak melaksanakan sholat. Meningkatkan pengetahuan peserta serta membantu perawat dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien pasca operasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode penyuluhan, edukasi menggunakan video serta simulasi tata cara bersuci dan sholat bagi pasien. Dari 31 peserta, 28 (90.3%) mengaku puas dengan materi yang diberikan, dan 23 (74.2%) peserta memiliki kategori pengetahuan tinggi. Sebagian besar peserta mengetahui dan memahami tata cara bersuci dan beribadah bagi pasien. Diharapkan pihak rumah sakit memfasilitasi media kebutuhan bersuci bagi pasien. Kata Kunci: Spiritual, Ibadah, Post Operasi ABSTRACT Spirituality is an important factor for individuals in maintaining health, well-being, and adapting to disease. The nursing care provided to post-operative patients is more oriented towards physical domain nursing problems, while the spiritual domain is still less than optimal, one of which is the implementation of prayers while the patient is being treated. Many patients after surgery do not pray. Increase participants' knowledge and assist nurses in meeting the spiritual needs of post-operative patients. The activities are carried out using counseling methods, education using videos and simulations of procedures for purifying and praying for patients. Of the 31 participants, 28 (90.3%) said they were satisfied with the material provided, and 23 (74.2%) participants had a high knowledge category. Most of the participants know and understand the procedures for purification and worship for patients. It is hoped that the hospital will facilitate the media for the need for purification for patients. Keywords: Spiritual, Worship, Post Surger