Portal Jurnal Malahayati (Universitas Malahayati)
Not a member yet
7304 research outputs found
Sort by
Upaya Pencegahan Diabetic Foot Ulcer pada Penyandang Diabetes Mellitus melalui Edukasi Kesehatan dengan Penerapan Teknologi Berbasis Website
ABSTRAK Posyandu Menur terletak di Desa Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Posyandu Menur memiliki anggota aktif sejumlah 152 orang, 62 orang diantaranya (40,78%) menderita penyakit Diabetes Mellitus, 17 dari 62 orang (27,42%) telah mengalami diabetic foot ulcer, bahkan sudah terjadi luka gangren dan infeksi dan 7 dari 62 orang (11,29%) sudah menjalani amputasi kaki. Diabetic foot ulcer yang tidak ditangani dengan tepat dan rutin dapat meningkatkan risiko amputasi. Amputasi berdampak buruk terhadap kualitas hidup penyandang Diabetes Mellitus dan meningkatkan ketergantungan terhadap keluarga dan pelayanan kesehatan. Amputasi dapat menyebabkan depresi, cemas, reaksi penolakan, berduka bahkan keinginan bunuh diri. Pemberdayaan berbasis masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan penyandang Diabetes Mellitus tentang diabetic foot self-care sebagai upaya pencegahan diabetic foot ulcer. Pelaksanaan pemberdayaan berbasis masyarakat ini diawali dengan kegiatan sosialisasi dan focus group discussion bersama dengan pengurus Posyandu Menur dan Puskesmas Kasihan 2 tentang Plan of Action (PoA) dan Tem of Reference (ToR) kegiatan serta pemaparan teknologi berbasis website. Tahap selanjutnya, pemberian edukasi kesehatan dengan metode pelatihan dan workshop melalui penerapan teknologi berbasis website, website tersebut dapat diakses dimanapun dan kapanpun, diakses berulang kali secara gratis melalui smartphone. Website tersebut berisi artikel, gambar dan video animasi 2D. Hasil:Kegiatan Pemberdayaan berbasis masyarakat ini diikuti oleh 35 orang penyandang Diabetes Mellitus, dan diselenggarakan di Posyandu Menur. Rata-rata usia responden adalah 52,08±2,35 tahun. Mayoritas penyandang Diabetes Mellitus, berjenis kelamin perempuan (97,14%), sebagian besar berlatar pendidikan SMA (74,29%) dan mempunyai pekerjaan wiraswasta (65,71%). Pengetahuan tentang diabetic foot self care sebagai upaya pencegahan diabetic foot ulcer sebelum intervensi pada kategori baik hanya 8,6%, sedangan pengetahuan setelah intervensi pada kategori baik meningkat mencapai 85,7%, dengan p-value 0,000 artinya terdapat perbedaan secara signifikan, pengetahuan antara sebelum dan sesudah intervensi. Ketrampilan tentang teknik/cara/prosedur diabetic foot self-care sebelum intervensi pada kategori baik hanya 8,6%, sedangan ketrampilan setelah intervensi pada kategori baik meningkat mencapai 85,7%, dengan p-value 0,000 artinya terdapat perbedaan secara signifikan, ketrampilan sebelum dan sesudah intervensi. Media edukasi kesehatan dengan penerapan teknologi berbasis website berdampak positif bagi pengetahuan dan ketrampilan penyandang Diabetes Mellitus dalam upaya pencegahan diabetic foot ulcer. Diharapkan keberlanjutan program kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan dari puskesmas setempat agar penderita Diabetes Mellitus dapat melakukan pencegahan diabetic foot ulcer secara mandiri dan berkelanjutan. Kata Kunci: Diabetic Foot Ulcer, Diabetic Foot Self-Care, Media Edukasi Kesehatan, Posyandu, Website ABSTRACT Posyandu Menur is located in Tirtonirmolo Village, Kasihan District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta Province. Out of the 152 active members of Posyandu Menur, 62 (40.78%) have diabetes mellitus, 17 out of 62 (27.42%) have diabetic foot ulcers, some of which have even resulted in infections and gangrene, and 7 out of 62 (11.29%) have had their feet amputated. Untreated diabetic foot ulcers can increase the risk of amputation. Diabetes mellitus patients' quality of life is adversely affected by amputation, which also makes them more reliant on family and medical assistance. Anxiety, sadness, suicide thoughts, denial responses, and despair can all be brought on by amputation. The goal of this community-based empowerment program is to help people with diabetes mellitus prevent diabetic foot ulcers by improving their knowledge and abilities about diabetic foot self-care. The implementation of this community-based empowerment began with socialization activities and focus group discussions with the Posyandu Menur and Puskesmas Kasihan 2 administrators about the Plan of Action (PoA) and Terms of Reference (ToR) of the activities, as well as a presentation on website-based technology. The next stage involves providing health education through training and workshops using website-based technology. The website can be accessed anywhere and anytime and can be accessed repeatedly for free via smartphone. The website contains articles, images, and 2D animated videos. This community-based empowerment activity was attended by 35 people with diabetes mellitus and was held at Posyandu Menur. The average age of the respondents is 52.08±2.35 years. The majority of diabetes mellitus patients are female (97.14%), most of whom have a high school education (74.29%) and are self-employed (65.71%). Knowledge about diabetic foot self-care as an effort to prevent diabetic foot ulcers before the intervention in the good category was only 8.6%, while knowledge after the intervention in the good category increased to 85.7%, with a p-value of 0.000, indicating a significant difference in knowledge before and after the intervention. Skills about the techniques, methods, and procedures of diabetic foot self-care before the intervention in the good category were only 8.6%, while skills after the intervention in the good category increased to 85.7%, with a p-value of 0.000, indicating a significant difference in skills before and after the intervention. Diabetes mellitus patients' knowledge and abilities in preventing diabetic foot ulcers are positively impacted by health education media that uses web-based technology. It is intended that this program will continue to be sustainable with the help of the neighborhood health center, enabling people with diabetes mellitus to avoid diabetic foot ulcers on their own and in a sustainable manner. Keywords: Diabetic Foot Ulcer, Diabetic Foot Self-Care, Health Education Media, Posyandu, Web
Edukasi tentang Manfaat Konsumsi Rutin Tablet FE dan Vitamin C Dalam Mencegah Anemia
ABSTRAK Prevalensi anemia mencapai 32% di kalangan remaja, anemia merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia. Di STIKes RSPAD Gatot Soebroto, penyuluhan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pencegahan anemia melalui konsumsi tablet besi dan vitamin C. Pretest dan posttest untuk mengukur pemahaman awal, konsumsi tablet besi dan vitamin C, dan sesi diskusi untuk menilai pemahaman peserta adalah semua metode yang digunakan. Diikuti oleh seratus peserta, evaluasi sebelum kegiatan menunjukkan bahwa banyak siswa belum tahu cara mencegah anemia, dan evaluasi setelah kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta melakukannya dengan baik. Diharapkan bahwa pelatihan ini dapat dilakukan secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang cara mencegah anemia dan meningkatkan konsumsi suplemen. Orang-orang di Amerika Serikat yang tidak sedang hamil disarankan untuk minum TTD dengan dosis 1 tablet setiap minggu sepanjang tahun. Batas nilai anemia ringan adalah 11.0 hingga 11.9 g/dL, anemia sedang adalah 8.0 hingga 10.9 g/dL, dan anemia berat adalah di bawah 8.0 g/dL. Kata Kunci: Anemia, Tablet Fe, vitamin C ABSTRACT The prevalence of anemia reaches 32% among adolescents, making anemia a significant health issue in Indonesia. At STIKes RSPAD Gatot Soebroto, health education is needed to increase students' knowledge about anemia prevention through the consumption of iron tablets and vitamin C. Pretest and posttest to measure initial understanding, consumption of iron tablets and vitamin C, and discussion sessions to assess participants' understanding are all methods used. Followed by one hundred participants, the pre-activity evaluation showed that many students did not know how to prevent anemia, and the post-activity evaluation showed that most participants did well. It is hoped that this training can be conducted periodically to enhance teenagers' knowledge about how to prevent anemia and increase supplement consumption. People in the United States who are not pregnant are advised to take TTD at a dose of 1 tablet per week throughout the year. The threshold for mild anemia is 11.0 to 11.9 g/dL, moderate anemia is 8.0 to 10.9 g/dL, and severe anemia is below 8.0 g/dL.Keywords: Anemia, Fe Tablets, Vitamin
Edukasi Kesehatan Diabetes Melitus di Apotek Pandjaitan Turen, Kabupaten Malang
ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi akibat resistensi insulin atau produksi insulin yang tidak cukup. DM 2 biasa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa menyerang anak-anak akibat gaya hidup tidak sehat. Gejala umum meliputi sering buang air kecil, haus berlebihan, dan lapar. Tujuan dari kegiatan ini yaitu mengetahui kadar gula darah dan memeberikan edukasi terkait Diabetes melitus. Metode penelitian berupa pelaksanaannya berupa pemberian materi dan cek gula darah sewaktu pada masyarakat di sekitar apotek pandjaitan farma. Hasil kegaiatan menunjukkan sebanyak 33 responden dari 52 responden berjenis kelamin laki-laki, 37 responen memiliki umur 60 tahun ke atas dan 36 responden memiliki gula darah sewaktu yang terkontrol. Kesimpulan dari kegiatan yaitu tingkat skor pengetahuan dari 52 responden adalah 13,37±3,85 dengan kategori sedang dan tidak ada hubungan yang signifikan antara skor tingkat pengetahuan dan outcome klinik control gula darah (p<0,05). Kata Kunci: Edukasi, Diabetes Mellitus, Tingkat Pengetahuan, Apotek ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease characterized by high blood sugar levels due to insulin resistance or insufficient insulin production. DM 2 usually occurs in adults, but can also attack children due to an unhealthy lifestyle. Common symptoms include frequent urination, excessive thirst, and hunger. The aim of this activity is to determine blood sugar levels and provide education regarding diabetes mellitus. implementation consisted of providing materials and checking blood sugar in the community around the Pandjaitan Farma pharmacy. The results showed that 33 respondents out of 52 respondents were male, 37 respondents were aged 60 years and over and 36 respondents had controlled blood sugar over time. the level of knowledge score of the 52 respondents was 13.37 ± 3.85 in the medium category and there was no significant relationship between the level of knowledge score and the outcome of the blood sugar control clinic (p <0.05). Keywords: Education, Diabetes Mellitus, Knowledge Level, Pharmac
Hubungan Minat Ibu dengan Edukasi Stimulasi Tumbuh Kembang Pada Bayi di Klinik Bidan Wanti Medan
ABSTRACT This study aims to analyze the relationship between mothers' interest and early childhood stimulation education for infants at Bidan Wanti Clinic in Medan. The background of this research is related to the low participation of mothers in providing stimulation for child development, despite receiving related education. This study uses an analytical quantitative research design with a cross-sectional approach. The sample used in this study consisted of 30 mothers with infants aged 0-24 months, selected using purposive sampling technique. Data was collected through a questionnaire measuring the mothers' interest in child development stimulation and the level of education they received. Data analysis was performed using Pearson's correlation test to determine the relationship between the two variables. The results showed a significant relationship between mothers' interest and stimulation education (p-value = 0.004), where mothers with higher interest were more likely to actively engage in receiving the education. These findings highlight the importance of increasing mothers' interest in early childhood stimulation education to optimize infant development. This study is expected to serve as a reference for improving the quality of early childhood stimulation education programs in the future. Keywords: Maternal Interest, Stimulation Education, Infant Development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara minat ibu dengan edukasi stimulasi tumbuh kembang pada bayi di Klinik Bidan Wanti Medan. Latar belakang penelitian ini berkaitan dengan rendahnya partisipasi ibu dalam memberikan stimulasi tumbuh kembang meskipun telah menerima edukasi terkait. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur minat ibu terhadap stimulasi tumbuh kembang dan tingkat edukasi yang diterima ibu. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara minat ibu dengan edukasi stimulasi tumbuh kembang (p-value = 0,004), di mana ibu dengan minat tinggi cenderung lebih aktif menerima edukasi tersebut. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan minat ibu dalam edukasi stimulasi tumbuh kembang agar dapat memaksimalkan perkembangan bayi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peningkatan kualitas program edukasi stimulasi tumbuh kembang di masa mendatang. Kata Kunci: Minat Ibu, Edukasi Stimulasi, Tumbuh Kembang Bayi
Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Pengelolaan Limbah Medis B3 di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung
ABSTRACT Hospitals have large and complex health service organizations and activities so they have a high potential risk of work-related accidents and occupational diseases. B3 medical waste can be a means of accidents and disease transmission to health workers, visitors and medical waste management officers. Therefore, efforts are needed to minimize accidents and disease transmission. The aim of this research is to carry out risk identification, risk assessment, risk evaluation and control efforts in the process of managing B3 medical waste at the Bhayangkara Regional Police Hospital in Lampung. The type of research used is descriptive analytical research with mixed methods. To determine the value and level of risk based on the AS/NZS 4360:2004 standard. Next, risk control efforts are based on the results of the risk assessment. The potential risks found in this research are 9 risks in B3 medical waste management activities, namely being punctured/scratched/cut by sharp objects (syringes, ampoules, pieces of equipment, other sharp objects), falls/slips/sprains, unpleasant odors, exposure to liquids. chemicals, exposure to blood fluids, exposure to infectious diseases, low back pain, musculosceletal disorders and fatigue due to workload. The risk level in B3 medical waste management is low risk level. Control over potential risks consists of engineering control, administrative control and PPE (Personal Protective Equipment) control. For hospitals to maintain a low potential risk rating for B3 medical waste management. Keywords : Risk Management, K3RS, Medical Waste, AS/NZS 4360:2004 ABSTRAK Rumah sakit memiliki organisasi dan aktivitas pelayanan kesehatan yang besar dan kompleks sehingga memiliki potensi risiko tinggi terhadap kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja. Limbah medis B3 dapat menjadi sarana kecelakaan dan penularan penyakit pada petugas kesehatan, pengunjung dan petugas pengelola limbah medis. Oleh karena itu, diperlukannya upaya untuk meminimalisir kecelakaan dan penularan penyakit. Tujuan dalam penelitian ini adalah melakukan identifikasi risiko, penilaian risiko, evaluasi risiko dan upaya pengendalian pada proses pengelolaan limbah medis B3 di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif analitik dengan mixed methods. Untuk mengetahui nilai dan level risiko berdasarkan standar AS/NZS 4360:2004. Selanjutnya, upaya pengendalian risiko dari hasil penilaian risiko. Potensi risiko yang ditemukan dalam penelitian ini terdapat 9 risiko pada kegiatan pengelolaan limbah medis B3 yaitu tertusuk/tergores/tersayat benda tajam (jarum suntik, ampul, pecahan alat, benda tajam lainnya), terjatuh/terpeleset/ terkilir, bau tidak sedap, terkena cairan kimia, terkena cairan darah, terpapar penyakit menular, low back pain, musculosceletal dicorders dan kelelahan akibat beban kerja. Tingkat risiko pada pengelolaan limbah medis B3 yaitu tingkat risiko rendah. Pengendalian terhadap potensi risiko terdiri dari pengendalian rekayasa teknik, pengendalian administratif dan pengendalian PPE (Personal Protective Equipment). Bagi pihak rumah sakit untuk mempertahankan peringkat potensi risiko pada posisi rendah terhadap pengelolaan limbah medis B3. Kata Kunci: Manajemen Risiko, K3RS, Limbah Medis, AS/NZS 4360:200
Stigmatisasi Keluarga Terhadap Skizofrenia Di Wilayah Pesisir: A Qualitative Study
ABSTRACT Lack of public understanding of schizophrenia, stigma about schizophrenia is growing in society. The bad moral status owned by a person refers to attributes that worsen the image of a person who has a sense of stigma. Stigma continues to grow in society can be detrimental to worsening for those who are affected by social labels. Exploring Family Stigmatization of schizophrenia. This study aims to explore the experience of stigma experienced by families in terms of types, components, processes, mechanisms, and impacts of stigma. The study used a qualitative study method with a phenomenological approach. The number of participants was 13 people who were in coastal areas. Data collection used in-depth interviews with interview guidelines, field notes, the results of data collection were analyzed using the Collaizzi technique. This study produced seven themes, namely: Injustice behavior obtained by mental patients, Economic differences that occur between mental patients, Positive and negative behavior towards mental patients, Family beliefs about the culture they have, Negative treatment and direct discrimination against mental patients, Mental patients have difficulty getting jobs after recovery, Impact received from inhumane behavior from society. Family stigma in society towards schizophrenia in coastal areas is still high compared to urban areas influenced by lack of knowledge. Keywords: Family, Stigmatization, Schizophrenia. ABSTRAK Pemahaman masyarakat kurang mengenai skizofrenia, stigma mengenai skizofrenia berkembang di masyarakat. Keburukan status moral yang dimiliki oleh seseorang mengacu kepada atribut yang memperburuk citra seseorang yang memiliki rasa stigma. Stigma terus tumbuh di masyarakat dapat merugikan memperburuk bagi yang terkena label sosial. Mengeksplorasi Stigmatisasi keluarga terhadap skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman stigma yang dialami kelaurga dari sisi jenis, komponen, proses, mekanisme, dan dampak stigma. Penelitian menggunakan metode penelitian study kualitatif pendekatan fenomenologi. Jumlah partisipan 13 orang yang berada didaerah wilayah pesisir. Pengumpulan data menggunakan in-depth interviews dengan pedoman wawancara, catatan lapangan, hasil pengumpulan data dianalisis menggunakan Collaizzi technique. Penelitian ini menghasilkan tujuh tema yaitu: Perilaku ketidak adilan yang didapatkan oleh pasien gangguan jiwa, Perbedaan ekonomi yang terjadi antara pasien ganggaun jiwa, Perilaku positif dan negatif terhadap pasien gangguan jiwa, Keyakinan keluarga tentang budaya yang dimiliki, Perlakuan negatif dan diskriminasi secara langsung terhadap pasien ganggaun jiwa, Pasien gangguan jiwa sulit mendapatkan pekerjaan pasca sembuh, Dampak yang diterima dari perilaku kurang manusiawi dari masyarakat. Stigmatisasi keluarga dimasyarakat terhadap skizofrenia diwilayah pesisir masi tinggi dibandingkan daerah perkotaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan. Kata Kunci Keluarga, Stigmatisasi, Skizofrenia
Pengaruh Pemberian Jus Wortel Berastagi (Daucus Carota L Berastagi) terhadap Intensitas Nyeri Haid (Dismenorea Primer) pada Siswi di SMP Ma’arif Kota Batu
ABSTRAK Dismenorea atau nyeri menstruasi adalah penyakit yang terjadi selama menstruasi, yang dapat merusak aktivitas dan membutuhkan pengobatan. Jenis -jenis dismenorea primer terdiri dari nyeri selama menstruasi dan jenis disfungsi sekunder dari infeksi uterus lama. Remaja memiliki berbagai metode, termasuk nyeri menstruasi dan dismenorea, yaitu perawatan farmakologis dan non-farmakologis. Nyeri menstruasi (dismenorea primer) juga dapat diatasi dengan terapi yang tanpa obat , termasuk pijat, kompres hangat, olahraga ringan, dan konsumsi buah-buahan dan sayuran seperti jus wortel. Penyediaan jus wortel berastagi adalah salah satu kemungkinan non-farmakologis untuk mengurangi intensitas nyeri menstruasi atau dismenorea. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan intensitas nyeri menstruasi atau dismenorea primer pada siswa dengan memberi jus wortel berastagi. Jenis-jenis studi yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan tes sebelum dan sesudah intervensi dengan teknik pengambilan purposive sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja usia muda antara 12 dan 15 tahun, dan yang mengalami dismenorea primer yang menggunakan hingga 53 siswa. Dalam penelitian ini, menggunakan metode sampel yang ditargetkan. Survei menggunakan NRS (skala angka) adalah alat yang digunakan dalam penelitian ini. Para peneliti menggunakan rasio nilai-p value = 0,05 untuk analisis univariat dan bivariat. Efek dari penelitian ini, yaitu, penunjukan administrasi jus wortel terhadap nyeri menstruasi siswa atau kekuatan sistem dismenorea primer dengan hasil akhir 0,000 < 0,05 dan H1 diterima. Kata Kunci: Dismenorea Primer, Intensitas Nyeri, Jus wortel, Menstruasi ABSTRACT Dysmenorrhea or menstrual pain is a disease that occurs during menstruation, which can disrupt activities and requires treatment. Types of primary dysmenorrhea consist of pain during menstruation and types of secondary dysfunction from old uterine infections. Adolescents have various methods, including menstrual pain and dysmenorrhea, namely pharmacological and non-pharmacological treatments. Menstrual pain (primary dysmenorrhea) can also be overcome with non-drug therapy, including massage, warm compression, light exercise, and consumption of fruits and vegetables such as carrot juice. Providing Berastagi carrot juice is one of the non-pharmacological possibilities to reduce the intensity of menstrual pain or dysmenorrhea. The purpose of this study was to determine the intensity of menstrual pain or primary dysmenorrhea in students by feeding Berastagi carrot juice. The types of studies used in this study were carried out quantitatively using a post-post test draft with a negative sampling technique. The sample in this study was a young age between 12 and 15 years, and primary dysmenorrhea, which used up to 53 students in this study, used a targeted sampling method. Survey using NRS (number scale) is the tool used in this study. The researchers used the ratio of p-value = 0.05 for univariate and bivariate analysis. The effect of this study, namely, the appointment of carrot juice administration on students' menstrual pain or primary menstrual system strength, can be 0.000 & LT. 0.05 and H1 is accepted Keywords: Primary Dysmenorrhea, Pain Intensity, Carrot Juice, Menstruatio
Systematic Review: Comparison of Telemedicine Consultation With Face-To-Face Consultation in High-Risk Pregnant Women in the Digital Era
ABSTRACT In the digital age, telemedicine has emerged as a promising approach to healthcare delivery, particularly for high-risk pregnant women who require regular monitoring and consultation. The shift from traditional face-to-face consultations to telemedicine consultations requires evaluation of its effectiveness and impact on maternal health.The aim of this systematic review was to compare the effectiveness and impact of telemedicine consultation with face-to-face consultation on the health of high-risk pregnant women. This comparison includes aspects such as patient satisfaction, quality of service, health outcomes, and implementation barriers. A systematic review was conducted using databases including PubMed, Sage Journal, Science Direct, Wiley, and Cochrane. The search was limited to articles published in the last five years (2019-2024). Additional references were identified through manual searches. Studies were selected based on predefined inclusion criteria with a focus on high-risk pregnant women and comparison of telemedicine and face-to-face consultations. The review included studies that provided data on patient satisfaction, quality of care, health outcomes, and implementation barriers. Telemedical consultations are generally well received by patients as they offer convenience and flexibility. However, challenges such as technological barriers, internet connectivity issues, and the need for emotional support were also noted. In terms of health outcomes, telemedicine proved to be as effective as face-to-face consultations for most measures, although some aspects of the service, particularly those that require direct physical assessment, are still a challenge. Telemedical consultations offer a viable alternative to face-to-face consultations for high-risk pregnant women, providing comparable quality of care and patient satisfaction. However, successful implementation of telemedicine requires addressing technological and emotional support challenges. Further studies with larger sample sizes and longer follow-up periods are needed to understand the long-term impact of telemedicine on maternal health. Keywords: Telemedicine, Face-to-face consultation, High-Risk Pregnant Women, Digital er
Upaya Preventif Kejaksaan Negeri Tanggamus Terhadap Tindak Pidana Korupsi Dana Desa Melalui Ruang Bina Pekon (RUBIKON)
Penelitian ini membahas implementasi ruang bina pekon oleh Kejaksaan Tanggamus dalam menekan kasus korupsi dana desa. Dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif dan empiris, penelitian ini melibatkan wawancara dengan narasumber terkait dan analisis data dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya preventif Kejaksaan Tanggamus melalui ruang bina pekon telah dilakukan dan dapat mengurangi kasus korupsi dana desa di wilayah Tanggamus. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman dan penanganan korupsi dana desa di Indonesia, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas pencegahan korupsi dana desa di masa mendatang
Penyuluhan Mengenai Makanan Laktogogue Dan Demonstrasi Pijat Oksitosin
Di Indonesia terdapat banyak tanaman yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI (Laktogogue) yang merupakan sumber makanan pada ibu menyusui yang meiliki kandungan beragam zat gizi seperti serat, protein, karbohidrat komplek, fosfor, zat besi, zinc, magnesium, tembaga, folat serta vitamin B3, B5, B6 dan vitamin C. bahan alam yang mengandung oksidan seperti asam fenolat, zexhantin dan lutein. Oleh karena kandungan protein dan karbohidrat komplek maka bahan alam dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Pijat oksitosin merupakan salah satu upaya memperlancar produksi ASI dengan mekanisme mampu memicu pengeluaran produksi oksitosin yang merupakan hormone yang diperlukan untuk mengeluarkan ASI.Tujuan: Kegiatan penyuluhan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil dan ibu menyusui mengenai tanaman laktogog dan teknik pijat oxitocin Metode: Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan dengan penyuluhan melalui tatap muka langsung. Peserta penyuluhan adalah Ibu hamil dan ibu menyusui, dengan jumlah peserta sebanyak 48 orang. Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah edukasi dan diskusi. Tempat kegiatan penyuluhan adalah Di Gedung Center of Excellent Laktasi . Evaluasi kegiatan dilakukan melalui tanya jawab peserta terkait materi sebelum maupun sesudah penyuluhanHasil: Peserta penyuluhan terbanyak adalah ibu Menyusui (70℅). Mayoritas peserta penyuluhan (10%) memiliki pengetahuan sedang pada saat sebelum penyuluhan. Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan, didapatkan bahwa seluruh peserta (95%), memiliki tingkat pengetahuan baik tentang Tanaman laktogog dan cara pijat oxitocin. Kesimpulan: Kegiatan penyuluhan mengenai tanaman laktogog dan cara pijat oxitocin berjalan dengan baik. Kegiatan penyuluhan memiliki dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta penyuluhan tentang cara menyusui yg baikKata Kunci: penyuluhan, tanaman, laktogog, pijat oxytoci