Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Not a member yet
294 research outputs found
Sort by
PENDEKATAN KONSELING NEW-FREUDIAN TERHADAP ANAK YANG KURANG KASIH SAYANG DI MASA KECIL
Karen Horney's theory of social psychoanalysis is based on the assumption that social and cultural conditions, especially childhood experiences, are very influential in shaping a person's personality. People who do not get enough need for love and affection during childhood develop basic hostility towards their parents and, as a result, experience basic anxiety. The subjects in this study were grade VII-students at MTs Negeri 1 MEDAN who felt that parents' concern for AK was lacking, which caused AK himself to be less free in expression, often ignorant, even AK himself tended not to appreciate others. The reason AK feels that way is because AK's parents often compare AK with his siblings. Unfulfilled love in childhood or lack of parental attention promotes the development of basic anxiety and hostility of each child. Parents' attitudes towards children who often dominate, ignore, overprotect, reject, or overindulge cause feelings of insecurity in a child. Teori psikoanalisis sosial dari Karen Horney dibentuk berdasarkan asumsi bahwa kondisi sosial dan kultural, terutama pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian seseorang. Orang-orang yang tidak mendapatkan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yang cukup selama masa kanak-kanak mengembangkan rasa permusuhan dasar (basic hostility) terhadap orang tua mereka dan, sebagai akibatnya, mengalami kecemasan dasar (basic anxiety). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-di MTs Negeri 1 MEDAN yang merasakan Kepedulian orang tua terhadap AK kurang, yang menyebabkan AK sendiri kurang leluasa dalam berekspresi, sering bersikap abai, bahkan AK sendiri cenderung tidak meghargai orang lain. Alasan AK merasakan seperti itu karena orang tua AK sering membanding-bandingkan AK dengan saudara nya. Rasa cinta yang tidak terpenuhi pada masa kanak-kanak atau Kurangnya perhatian orang tua mendorong berkembangnya kecemasan dan permusuhan dasar setiap anak. Sikap orang tua terhadap anak yang sering kali mendominasi, mengabaikan, terlalu melindungi, menolak, atau terlalu memanjakan menimbulkan perasaan tidak aman dalam diri seorang anak. Keywords: New-Freudian, lack of affection, childhoo
Pendidikan Karakter dalam Latar Tempat pada Novel Dru dan Kisah Lima Kerajaan
Dru dan Kisah Lima Kerajaan is a fantasy genre children's novel written by Clara Ng and illustrated by Renata Owen. This novel tells the story of Dru, a twelve-year-old girl who travels to the Negeri Lima Kerajaan. In her adventures, she meets several magical creatures and kings from every kingdom. These kings are Tanti Pala from Kerajaan Logam, Raja Aditsu from the Kota Pencuri, Raja Wrekodara from the Kerajaan Merah, Raja Parmadi from Desa Pahlawan, and Raja Nala from the Kota Hening. Apart from fantasy, the characterization of the five kings in the novel Dru dan Kisah Lima Kerjaan is adapted from the characters in the story of the Pandawa Lima. The five kingdoms in this novel have symbols that contain character education values, such as patience and determination in the Kerajaan Lima, honesty in the Kota Pencuri; sincerity and self-confidence in the Kerajaan Merah; kindness in the Desa Pahlawan; helpfulness, and second chances in Kampung Hening. Dru dan Kisah Lima Kerajaan adalah novel anak bergenre fantasi yang ditulis oleh Clara Ng dan diilustrasikan Renata Owen. Novel ini mengisahkan tokoh Dru, seorang gadis berusia dua belas tahun yang bertualang ke Negeri Lima Kerajaan. Dalam petualangannya, ia bertemu dengan makhluk-makhuk ajaib serta raja-raja dari setiap kerajaan. Raja-raja tersebut adalah Tanti Pala dari Kerajaan Logam, Raja Aditsu dari Kota Pencuri, Raja Wrekodara dari Kerajaan Merah, Raja Parmadi dari Desa Pahlawan, dan Raja Nala dari Kota Hening. Selain fantasi, karakterisasi dari kelima raja dalam novel Dru dan Kisah Lima Kerajaan ini diadaptasi dari tokoh-tokoh yang terdapat dalam kisah Pandawa Lima. Kelima kerajaan dalam novel ini memiliki simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter. Seperti sabar dan pantang menyerah di Kerajaan Logam; hati yang bersih di Kota Pencuri; ketulusan dan keyakinan diri di Kerajaan Merah; kebaikan hati di Desa Pahlawan; suka menolong dan kesempatan kedua di Kota Hening. Kata kunci: sastra anak, nilai pendidikan karakter, simbolisme latar tempat, Dru dan Kisah Lima Kerajaa
Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Tradisi Ittagh Segheba di Negeri Besar Way Kanan, Lampung
Ittagh Segheba is a procession of releasing the bride-to-be to the house of the prospective groom who has received approval from the clan balancer which is carried out traditionally in the Buway Pemuka Bangsa Raja Clan, Negeri Besar District, Way Kanan Regency. This research aims to find the implementation of Piil Pesenggiri values in the Ittagh Segheba tradition of Buway Pemuka Bangsa Raja Clan. The method used in this research is descriptive qualitative method. Data collection techniques in this study, namely observation, interviews and document studies. Data analysis techniques are done by reducing data, presenting data and drawing conclusions. Based on the results of the research conducted, the Piil Pesenggiri values implemented in the Ittagh Segheba tradition are contained in four Piil Pesenggiri values, namely Bejuluk Beadek, Sakai Sambayan, Nengah Nyappur, and Nemui Nyimah. Ittagh Segheba merupakan prosesi pelepasan calon pengantin wanita kerumah calon mempelai laki-laki yang sudah mendapatkan persetujuan dari penyimbang marga yang dilaksanakan secara adat di Marga Buway Pemuka Bangsa Raja, Negeri Besar Kabupaten Way Kanan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan implementasi nilai-nilai Piil Pesenggiri pada tradisi Ittagh Segheba Marga Buway Pemuka Bangsa Raja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, nilai-nilai Piil Pesenggiri yang diimplementasikan pada tradisi Ittagh Segheba tertuang ke dalam empat nilai Piil Pesenggiri, yaitu Bejuluk Beadek, Sakai Sambayan, Nengah Nyappur, dan Nemui Nyimah.Keywords: Ittagh Segheba, Values, Piil Pesenggiri
Analisis Istilah Khas dalam Wacana Politik Pemilu 2024 Implikasi Terhadap Pendidikan Politik Di Era Digital
Political education for youth today is very important. It is necessary to innovate in the current era of information technology openness to achieve optimal political education goals. This research was conducted with the aims of (1) describing the typical terms (registers) and the meanings of terms in the 2024 election political discourse, (2) describing the strategies and processes of political education in the digital era through social media from the results of identification of typical terms (registers) and the meanings of terms in political discourse on the 2024 election. This type of research is descriptive qualitative. The data source for this research is the Discourse rubric of ideas about elections contained in Koran Tempo's digital news page. The data in this study are typical terms in the field of politics or political registers. Data was collected through the observing and note-taking method, then analyzed using the referential equivalent method. The validity of the data was tested using theoretical triangulation. The results are (1) Typical terms or political registers on the Koran Tempo digital news page are dominated by types of nouns or nouns, for example Cabinet, Period, Parliament, Sympathizers, Politicians, Ministers, Camps, Parties, Candidates, Legislators, there are also types of verbs or verbs namely Polarization, Authoritarianism, Press Conference, Controversy, Democracy, Electability, Coalition, Credibility, Integrity. Democratic. Campaign, (2) The findings in the first problem formulation are then used as political education content through social media for teenagers, especially students as innovation in an era of openness and advances in information technology. Pendidikan politik bagi remaja saat ini sangat penting dilakukan. Perlu diadakan inovasi di era keterbukaan teknologi informasi saat ini untuk mencapai tujuan pendidikan politik yang optimal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) mendeskripsikan istilah khas (register) dan makna istilah dalam wacana politik pemilu 2024, (2) mendeskripsikan strategi dan proses pendidikan politik di era digital melalui media sosial dari hasil identifikasi istilah khas (register) dan makna istilah dalam wacana politik pemilu 2024. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah Wacana tentang pemilu yang terdapat dalam laman berita digital Koran Tempo. Data dalam penelitian ini adalah istilah khas dalam bidang politik atau register politik. Data dikumpulkan melalui metode simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan referensial. Keabsahan data diuji menggunakan trianggulasi teori. Hasilnya yaitu (1) Istilah khas atau register politik dalam laman berita digital Koran Tempo didominasi oleh jenis kata benda atau nomina, contoh Kabinet, Periode, Parlemen, Simpatisan, Politikus, Menteri, Kubu, Partai, Kandidat, Legislator, terdapat juga jenis kata kerja atau verba yaitu Polarisasi, Otoritarianisme, Konferensi Pers, Kontroversi, Demokrasi, Elektabilitas, Koalisi, Kredibilitas, Integritas. Demokratis. Kampanye, (2) Hasil temuan dalam rumusan masalah pertama, selanjutnya dijadikan konten pendidikan politik melalui media sosial bagi remaja khususnya pelajar sebagai inovasi di era keterbukaan dan kemajuan teknologi informasi. Keywords: Special terms, Politics, Education
ANALISIS KEBUTUHAN BUKU MULTISENSORI UNTUK PEMBELAJARAN LITERASI PAUD
This research aims to analyze the need for multisensory books in the context of early childhood literacy learning. The research method involved a survey and interviews with early childhood teachers. The results analysis showed that multisensory books play an important role in motivating children to learn to read, increasing their engagement, and accelerating the learning process. Factors such as sensory diversity, children's interest in the story, and positive responses to sensory stimuli affect the effectiveness of multisensory books. Although a small proportion of teachers experienced obstacles, the majority did not face obstacles in introducing children's reading literacy with multisensory books. Children's reading literacy with multisensory books. Awareness of the importance of variety in reading books is very important in supporting the development of early childhood literacy. Thus, awareness of the need for a variety of reading books is important in supporting early childhood literacy development Translated with DeepL.com (free version)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan buku multisensori dalam konteks pembelajaran literasi anak usia dini. Metode penelitian melibatkan survei dan wawancara dengan guru PAUD. Hasil analisis menunjukkan bahwa buku multisensori memainkan peran penting dalam memotivasi anak-anak untuk belajar membaca, meningkatkan keterlibatan mereka, dan mempercepat proses pembelajaran. Faktor-faktor seperti keberagaman sensori, ketertarikan anak terhadap cerita, dan respons positif terhadap stimulus sensori mempengaruhi efektivitas buku multisensori. Meskipun sebagian kecil guru mengalami kendala, mayoritas tidak menghadapi kendala dalam mengenalkan literasi baca anak dengan buku multisensori. Kesadaran akan pentingnya variasi dalam buku bacaan menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung pengembangan literasi anak usia dini. Dengan demikian, kesadaran akan kebutuhan akan beragam buku bacaan menjadi penting dalam mendukung pengembangan literasi anak usia dini. Keywords: sensory stimulation, multisensory, early childhood literacy
Anasir Poskolonial dalam Novel: Telaah Mimikri dan Implikasi sebagai Bahan Ajar
Globalization presents challenges in the form of decreasing values of nationalism and de-characterization among the younger generation. Education should be able to solve this problem. One way that this can be done is through Indonesian language subjects, especially material on literary analysis. Literary works contain various contents of advice that can be enjoyed as a means of strengthening the value of nationalism and character education. On that basis, this study intends to analyze the symptoms of hybridity, mimicry, and ambivalence in Iksaka Banu's novel Sang Raja. The results of the analysis of the three postcolonial phenomena in the novel are expected to be used as Indonesian language teaching materials oriented towards strengthening the national character. This research is a descriptive qualitative study with a sociological literature approach. The data of this research are symptoms of hybridity, mimicry, and ambivalence in the data source in the form of the Iksaka Banu's novel Sang Raja. The data was taken using reading and note-taking techniques. The data that has been collected were analyzed using interactive analysis techniques. The results showed that in the novel Sang Raja, there are symptoms of hybridity in the form of education and work; mimicry in the form of clothing, lifestyle, and property; ambivalence in the form of rejection of mimicry by the natives. The results of the study of postcolonial phenomena in the novel Sang Raja can be used as Indonesian language teaching materials. Globalisasi menghadirkan tantangan berupa menurunnya nilai nasionalisme dan dekarakterisasi di kalangan generasi muda. Pendidikan seyogyanya bisa mengatasi persoalan tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi tentang analisis karya sastra. Karya sastra menyimpan berbagai muatan nasihat yang bisa diteroka sebagai sarana penguatan nilai nasionalisme dan pendidikan karakter. Karya sastra yang bisa dimanfaatkan peranannya sebagai penguat nilai nasionalisme adalah karya sastra yang berlatarkan kehidupan kolonial. Karya sastra dengan latar kolonial banyak memua twacana-wacana yang merangsang peserta didik untuk berpikir kritis. Atas dasar itu, penelitian ini hendak menganalisis gejala mimikri sebagai gejala poskolonial dalam novel Sang Raja karya Iksaka Banu. Hasil analisis terhadap gejala poskolonial dalam novel tersebut selanjutnya bisa dipakai sebagai bahan ajar bahasa Indonesia yang berorientasi pada penguatan karakter kebangsaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data penelitian ini adalah gejala mimikri dalam sumber data berupa novel Sang Raja karya Iksaka Banu. Data tersebut diambil dengan teknik baca dan catat. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis interaktif. Sebagai bentuk pertanggungjawaban keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan dalam novel Sang Raja terdapat gejala mimikri berupa cara berpakaian, gaya hidup, dan properti. Hasil kajian terhadap gejala poskolonial dalam novel Sang Raja dapat digunakan sebagai bahan ajar bahasa Indonesia. Kata Kunci: bahan ajar, karya sastra, nasionalisme, poskolonia
Ethos, Pathos, Logos dalam Pidato Menlu di Sidang DK PBB Terkait Konflik Palestina-Israel
The research aims to look at the rhetoric used by Retno Marsudi, Minister of Foreign Affairs of Indonesia, in her speech at the UN session discussing the conflict between Palestine and Israel. This research uses descriptive qualitative method. The data source of this research is a video of Retno Marsudi's speech on the Kompas TV Sukabumi YouTube channel. The objects of this research are ethos, logos, and pathos in the rhetorical argumentation of Retno Marsudi's speech. The results of this study show that Retno Marsudi as a communicator who succeeded in creating good communication in front of the audience. The evidence of rhetoric in Retno Marsudi's speech, namely having (1) ethos (character); she has a good personal character so that her speech argumentation is accepted by some members of the Council present at the UN 2024 session, and a sense of empathy and concern for the Palestinian people, (2) pathos (emotional bond); He was able to create a good emotional bond by using affirmative sentences and empathetic sentences that he conveyed, and (3) logos (logical/reasonable); his argument was considered reasonable by some members of the Council because he emphasized that the threat of Israeli attacks on Palestinians who had lost the lives of 25 thousand people. Penelitian bertujuan untuk melihat retorika yang digunakan oleh Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Indonesia dalam pidatonya pada sidang PBB yang membahas konflik antara Palestina dan Israel. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa video pidato Retno Marsudi dalam kanal YouTube Kompas TV Sukabumi. Objek penelitian ini adalah ethos, logos, dan pathos pada argumentasi retorika berpidato Retno Marsudi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Retno Marsudi sebagai seorang komunikator yang berhasil menciptakan komunikasi yang baik di depan khalayak. Adapun bukti retorika dalam pidato Retno Marsudi, yaitu memiliki (1) ethos (karakter); ia memiliki karakter pribadi yang baik sehingga argumentasi pidatonya diterima oleh sebagian anggota Dewan yang hadir dalam sidang PBB 2024, dan rasa empati serta keprihatinan kepada rakyat Palestina, (2) pathos (ikatan emosional); ia mampu menciptakan ikatan emosional yang baik dengan menggunakan kalimat-kalimat penegasan serta kalimat empati yang disampaikannya, dan (3) logos (logis/masuk akal); argumentasinya dianggap masuk akal oleh sebagian anggota Dewan karena ia menegaskan bahwa ancaman serangan Israel kepada Palestina yang telah merenggang nyawa 25 ribu orang.Keywords: Ethos, logos, pathos, pidato Retno Marsudi, Konflik Palestina-Israe
Kohesi Gramatikal pada Detik.Com Edisi Detik Travel November 2023 (Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough)
The aim of this research is to explain the grammatical cohesion found in the online news article from detik.com, specifically the detik travel edition of November 2023. The research conducted is qualitative in nature, utilizing content analysis as the research method. The data used in this study consists of an online news article titled “Awas! Gunung Semeru Erupsi Keluarkan Awan Panas”. The data sources are divided into two types, namely primary data and secondary data. The primary data is the news text “Awas! Gunung Semeru Erupsi Keluarkan Awan Panas” published on detik travel, while the secondary data includes books, scientific journals, and relevant data related to this research. The findings of this study indicate that the grammatical cohesion found in the online news article includes conjunctions, pronouns, and references. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan kohesi gramatikal yang terdapat dalam berita daring detik.com edisi detik travel edisi November 2023. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis isi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berita daring berjudul “Awas! Gunung Semeru Erupsi Keluarkan Awan Panas”. Sumber data dibagi menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah teks berita “Awas! Gunung Semeru Erupsi Keluarkan Awan Panas” yang dimuat detik travel, sedangkan data sekunder adalah buku, artikel ilmiah, dan data terkait dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kohesi gramatikal yang terdapat dalam berita daring tersebut adalah konjungsi, kata ganti, dan referensi.Keywords: critical discourse analysis Fairclough, grammatical cohesion, online new
Pengawasan dan Evaluasi Program Bahasa Di Mayantara School Malang
The program that has been planned will run well in accordance with the objectives if during program implementation there is monitoring and evaluation. So far, many programs have not run well because the person in charge involved is less than optimal in implementing them, this is triggered by a lack of supervision and evaluation from the manager which leads to misappropriation/manipulation. Mayantara School is one of the non-formal institutions engaged in the language which in general has been fairly advanced because the applied programs have been implemented well, one of the programs at Mayantara School is the Foreign Language course. The purpose of the research is to identify supervision and evaluation at the Mayantara School. The method used is qualitative with the type of field research, to identify the Supervision and Evaluation of language programs at the Mayantara School. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. And the data were analysed using Miles and Huberman’s theory with data reducing steps, data display, and conclusion. From the research, it concluded that the supervision and evaluation of the language program at the Mayantara School course institution have been fully implemented, the language program was designed and written in the activity structure, a supervisory team within the institution was formed to directly monitor the course of activities, after that an evaluation consisting of three stages was carried out. Program yang telah direncanakan akan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan apabila pada saat pelaksanaan program terdapat monitoring dan evaluasi. Selama ini banyak program yang tidak berjalan dengan baik karena penanggung jawab yang terlibat kurang optimal dalam melaksanakannya, hal ini dipicu oleh kurangnya pengawasan dan evaluasi dari pengelola sehingga berujung pada penyelewengan/manipulasi. Sekolah Mayantara merupakan salah satu lembaga nonformal yang bergerak di bidang bahasa yang secara umum sudah terbilang maju karena program-program yang diterapkan telah dilaksanakan dengan baik, salah satu program yang ada di Sekolah Mayantara adalah kursus Bahasa Asing. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui supervisi dan evaluasi di Sekolah Mayantara. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian lapangan, untuk mengidentifikasi Supervisi dan Evaluasi program bahasa di Sekolah Mayantara. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dan data dianalisis menggunakan teori Miles dan Huberman dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari penelitian disimpulkan bahwa supervisi dan evaluasi program bahasa pada lembaga kursus Sekolah Mayantara telah dilaksanakan secara penuh, program bahasa dirancang dan dituangkan dalam struktur kegiatan, dibentuk tim pengawas di dalam lembaga yang memantau langsung jalannya program. jalannya kegiatan, setelah itu dilakukan evaluasi yang terdiri dari tiga tahap. Keywords: Monitoring, Evaluation, Language progra
ANALISIS STRUKTUR DAN NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT ASAL USUL SENDANG SANI PATI
This study aims to analyze the structure and moral values in the folklore Origin of Sendang Sani. Structural analysis using the theory of Alan Dundes. Analysis of moral values uses the types of moral values in literary works according to Nurgiyantoro. The research method uses descriptive qualitative. Data collection was carried out through observation, interviews, documentation, recording, and transcription of the results of the interviews. The validity of the data is done by triangulation of sources, techniques, and time. Data analysis techniques use the Miles and Huberman models. The results of the study show that the story of the Origin of Sendang Sani has a structure of a combination of six motifs and is categorized as a folk tale with a very complex structure. As for the moral values contained, namely the value of the human relationship with himself includes (1) trying hard and (2) being honest, the value of human relations with the social and natural spheres includes (1) devotion and (2) friendship ties, the value of human relations with God includes ( 1) performing worship, (2) being patient, and (3) regretting and asking forgiveness for the sins that have been committed. Keywords:Folklore, Moral Values, Structural Analysi