1,720,968 research outputs found

    Konsep Pendidikan Kemandirian Perspektif Pendidikan Agama Islam: Kajian Buku Teacherpreneurship Karya Hamidulloh Ibda

    No full text
    Latar belakang penelitian ini adalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, baik sarjana dan megister. Selain itu, problematika guru honorer yang tidak mendapat kejelasan nasib. Meskipun pekerjaan yang dilakukan sama beratnya dengan yang dilakukan oleh guru Aparatur Sipil Negara (ASN), namun upah yang didapat tidak sebanding. Maka dengan adanya pendidikan kemandirian diharapkan guru maupun calon guru tidak hanya bergantung pada upah honorer saja, namun mampu mengembangkan softskill yang dimilikinya sehingga kesejahteraaan psikologis guru dapat tercapai. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah kepustakaan yang menggunakan metode kualitatif dengan sifat penelitian analisis konten. Subjek yang diteliti yaitu buku Teacherpreneurship: Konsep dan Aplikasi karya Hamidulloh Ibda.  Peneliti mengumpulkan data-data yang terkait dengann konsep kemandirian dalam pendidikan Islam. Dari hasil penelitian menunjukkan: (1) konsep pendidikan kemandirian dalam buku Teacherpreneurship meliputi adanya sikap percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, berani mengambil risiko, kepemimpinan, menyukai keorisinilan, berorientasi pada masa depan, jujur dan tekun, motif berprestasi tinggi, mandiri dan tidak bergantungan, selalu mencari peluang, dan memiliki kemampuan manajerial. (2) Terdapat korelasi antara pendidikan kemandirian dan dengan pendidikan Islam, terdapat penerapan konsep pendidikan kemandirian dalam perspektif pendidikan Islam, serta terdapat pula implikasi konsep kemandirian perspektif agama Islam dalam bentuk etika praktik yang relevan

    Program kesejahteraan sosial melalui santunan pendidikan untuk anak yatim piatu dan fakir miskin di SMK japa pati

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program kesejahteraan sosial bagi siswa yatim dan yang membutuhkan melalui kompensasi pendidikan. Lokasi penelitian dipilih di Sekolah Menengah Kejuruan Jamaah Pasrah (JAPA) di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Alasan memilih sekolah ini karena menerapkan program kompensasi pendidikan untuk anak yatim dan yang membutuhkan dari masuk sekolah sampai lulus. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan tinjauan dokumen. Data dan informasi dikumpulkan, kemudian dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan menggunakan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kesejahteraan sosial melalui kompensasi pendidikan mampu meningkatkan kesejahteraan sosial anak yatim melalui bantuan produktif kepada anak yatim dan siswa yang membutuhkan yang mencakup semua biaya mulai dari penerimaan hingga kelulusan. Semua model penyediaan pendidikan untuk anak yatim adalah gratis, sedangkan yang membutuhkan hanya bebas dari biaya sumbangan pendidikan dan siswa kecuali mereka meminta bantuan. Kompensasi pendidikan SMK JAPA Pati mampu meningkatkan kesejahteraan sosial di bidang pendidikan. Kompensasi pendidikan ini mengurangi jumlah anak putus sekolah dalam setahun setidaknya 10-15 anak yatim dan yang membutuhkan. Pada tahun 2017, Sekolah Menengah Kejuruan JAPA memberikan bantuan pendidikan kepada 8 siswa yatim dan 12 siswa yang membutuhkan. Sedangkan pada 2018, memberikan kompensasi pendidikan kepada 17 siswa yatim

    Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung

    Full text link
    This study aims to describe the utterances of thelo, jidor, sikem, and sikak as typical curses of Temanggung Regency, Central Java. This study chose Temanggung Regency as the location for data collection aimed at revealing the meaning of thelo swear, jidor, sikem, sikak in citizens' communication behavior. This study uses qualitative methods to maximize data collection by interview and observation. From the results of the study, researchers found the form of swear in Temanggung, which is in the form of words and inscriptions in the form of phrases. There are two purposes for using the utterances of thelo, jidor, sikem, sikak. First, as a form of anger or resistance to crime, anomalies, or kazaliman that afflict the citizens of Temanggung. When someone commits a crime on one of the residents, the citizen spontaneously pronounces thelo, jidor, sikem, or sikak based on his crime rate. Second, as a cultural expression to express pleasure, admiration, surprise, and wonder. The thelo, jidor, sikem, or sikak speeches are not spoken for committing a crime, instead as a form of protest against crime. When someone steals, people usually say thelo, jidor, sikem or sikak for the incident. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan ujaran thelo, jidor, sikem, dan sikak sebagai umpatan khas Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini memilih Kabupaten Temanggung sebagai lokasi pengambilan data ini bertujuan untuk mengungkap makna umpatan thelo, jidor, sikem, sikak dalam perilaku komunikasi warga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memaksimalkan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bentuk umpatan di Temanggung, yaitu berupa kata dan makian berbentuk frasa. Ada dua tujuan penggunaan ujaran thelo, jidor, sikem, sikak. Pertama, sebagai bentuk marah atau perlawanan atas kejahatan, anomali, atau kazaliman yang menimpa warga Temanggung. Ketika ada orang melakukan kejahatan pada salah satu warga, maka warga secara spontanitas mengucapkan thelo, jidor, sikem, atau sikak berdasarkan tingkat kejahatannya. Kedua, sebagai ekpresi budaya untuk mengekspresikan rasa senang, kagum, terkejut, dan heran. Ujaran thelo, jidor, sikem, atau sikak tidak diucapkan untuk melakukan kejahatan, justru sebagai bentuk protes terhadap kejahatan. Ketika ada orang mencuri, maka warga biasa mengucap thelo, jidor, sikem, atau sikak atas kejadian tersebut

    Urgensi Pemertahanan Bahasa Ibu di Sekolah Dasar

    Full text link
    Mother tongue defense is an effort to preserve the language treasures in Nusantara. Mother tongue as part of Indonesian wealth must be kept early, especially in elementary school level. If elementary school children lose their native language, it will deprive their own culture and character. Damage to language in children is a clear proof that maintaining the mother tongue is very important. Mother tongue defense in addition to strengthening in language learning can also be done through cultural diversity, maintaining ethnic identity, social adaptability, enhancing children’s sense of security and enhancing linguistic sensitivity. In addition, it needs family support, language environment in schools, language celebrations and mass media support as forming the public language.</jats:p

    THE MA’ARIF LITERATION MOVEMENT PROGRAM IN IMPROVING RELIGIOUS MODERATION (WASATIYYAH ISLAM)

    No full text
    The purpose of this study is to describe religious moderation in Ma'arif Literacy Movement program, Nahdlatul Ulama Central Java in the period 2018-2023. This research method is descriptive qualitative by using the techniques of observation, documentation, and interviews to collect the data. The results show that religious moderation through Ma'arif Literacy Movement program was very effective in forming literate and moderate characters. The religious moderation characted instilled in Ma'arif Literacy Movement comes from Strengthening Character Education, basic principles of Aswaja Annahdliyah, Ukhuwah Nahdliyah, and Mabadi Khaira Ummah. The impact of the program makes teachers and students literate and moderat

    Kompetensi Digital Guru Sekolah Dasar di Kota Semarang: Analisis Multivariat

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis keterampilan literasi digital guru Sekolah Dasar (SD). Metode penelitian kuantitatif dengan populasi 35 guru SD Kota Semarang yang dipilih secara random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner 25 komponen tentang keterampilan digital. Data dianalisis dengan menggunakan MANOVA berbantuan aplikasi IBM SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara guru yang pernah mendapatkan pelatihan/ workshop pembelajaran digital/ TIK dengan yang belum mendapatkannya terhadap keterampilan teknis menggunakan teknologi digital, Sebaliknya, tidak terdapat perbedaan pada kompetensi digital guru pada aspek kemamapuan menggunakan dan menerapkan teknologi digital dalam situasi kerja berbeda dan pada aspek kemampuan mengevaluasi teknologi digital. Hasil uji MANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan antara guru sertifikasi maupun guru yang belum bersertifikasi ditinjau dari keterampilan teknis menggunakan teknologi digital, kemampuan menggunakan dan menerapkan teknologi digital dalam situasi kerja yang berbeda, kemampuan mengevaluasi teknologi digital secara kritis untuk masalah etika, keterbatasan, dan tantangannya, motivasi untuk berpartisipasi dan berkomitmen pada budaya digital. Penelitian berikutnya perlu mengekplorasi lebih dalam terkait kompetensi digital guru SD utamanya yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi pendidik.Abstract: This study aims to analyze the digital literacy skills of elementary school teachers. Quantitative research method with a population of 35 elementary school teachers in Semarang City selected by random sampling. The research data were collected through a 25-component questionnaire on digital skills. The results showed a difference between teachers who had received training/ workshops on digital learning/ ICT and those who had yet to receive it on the technical skills of using digital technology. In contrast, teachers' digital competence was the same in the aspect of the ability to use and apply digital technology in different work situations and the ability to evaluate digital technology. The Manova test results show no difference between certified teachers and uncertified teachers in terms of technical skills using digital technology, the ability to use and apply digital technology in different work situations, the ability to critically evaluate digital technology for ethical issues, limitations, and challenges, motivation to participate and commit to digital culture. Future research needs to explore the digital competencies of primary school teachers, especially those who have received educator training and certification.

    POLA ASUH PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH MENENGAH ISLAM TERPADU (SMIT) BINA AMAL SEMARANG

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh peserta didik Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMIT) Bina Amal Semarang. Pola asuh merupakan cara guru sebagai orang tua dalam melakukan pengawasan, bimbingan, disiplin, pemberian hadiah dan hukuman yang diterapkan kepada peserta didik. SMIT Bina Amal Semarang merupakan Sekolah Islam Terpadu yang dikelola dengan sistem asrama (boarding school) terdiri atas jenjang SMP dan SMA. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif temuan penelitian menunjukkan bahwa pola asuh peserta didik pada SMIT Bina Amal Semarang menerapkan pola demokratis model pesantren. Seluruh peserta didik SMIT Bina Amal otomatis adalah “santri” pada “pesantren” Bina Amal. Pengawasan, bimbingan, disiplin, pemberian hadiah dan hukuman yang diterapkan di Bina Amal Semarang dilakukan oleh pengasuh beserta organ struktur organisasi yang jelas: korbid budaya Islami dan kedisiplinan, korbid tahsin tahfiz, dan korbid akademik. Aturan diterapkan secara ketat melalui pedoman pengelolaan peserta didik yang berisi pedoman akademik dan tata kehidupan asrama. Pembelajaran peserta didik terintegrasi antara kegiatan pembelajaran sekolah dan kegiatan santri di asram

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore