1,720,985 research outputs found
NOVEL ULAR KEEMPAT KARYA GUS TF SAKAI (TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN)
The objectives of this research are to describe: (1) the background of the
story of Gus TF Sakai’s novel of Ular Keempat; (2) the relevance of Gus TF
Sakai’s novel of Ular Keempat to the sociological situation of the author in the
social element; (3) the sociological situations that are described in Gus TF Sakai’s
novel of Ular Keempat; and (4) the education value in Gus TF Sakai’s novel of
Ular Keempat.
This research used the descriptive qualitative method with the sociological
approach. The data of this research consisted of the words, the phrases, and the
sentences, which are found in Gus TF Sakai’s novel of Ular Keempat, which was
published by Kompas, Jakarta in 2005 in 196 pages. The data analysis test is
carried uot using data or source triangulation. The data were gathered through the
library research method. The data were then analyzed by using the heuristic and
hermeneutic and then the interactive analysis techniques.
The result of the research art: (1) the background of the story of Gus TF
Sakai’s novel of Ular Keempat consists of i) the main character of the novel, who
is a scholar, a man of letters and who uses the language with the high level of
meaning; ii) the residential background of the characters in this novel is the land
of Minangkabau; and iii) the cultural background of the story of the novel is the
culture of Minangkabau, which has many traditions that have been running
through generations, including the tradition of making a pilgrimage to Mecca of
the rich peole of Minangkabau; (2) the relevance between the story of the novel
and the sociological situation of the author is signified through the description on
the life of believing in God in the novel. The belief in God of an individual person
will be reflected in the behavior of the person in his/her daily life. Religion as the
form of the teaching of the belief in God teaches what its followers must do and
what they must not do. The teaching of the religion is explained in this novel to
influence people to conduct good deeds and to avoid bad deeds; (3) there are two
sociological situations that are described in the novel, those are: the genuineness
in living a life in accordance with the teaching of the religion and the genuineness
in the life of an individual person; and (4) the education value in Gus TF Sakai’s
novel of Ular Keempat includes the education value of religion, the education
value of science, the education value of social aspects, the education value of
economy, and the education value of politics.
Keywords: Art, sociological, education, and Novel Ular Keempat
Proses Kreatif Gus tf Sakai atas Novel Ular Keempat: Tinjauan Sosiologi Pengarang
ABSTRAK
Khairy Ra’if Thaib, 1110722003. Proses Kreatif Gus tf Sakai atas Novel Ular Keempat: Tinjauan Sosiologi Pengarang. Skripsi. Padang. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. 2017. Pembimbing I: Dr. Syafril, M.Si. Pembimbing II: Drs. M. Yusuf, M.Hum.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lahirnya karya sastra diciptakan oleh pengarang. Dalam menciptakan karya sastra pengarang melakukan serangkaian proses yang disebut dengan proses kreatif. Bertolak dari hal ini maka dipilihlah Gus tf Sakai dan novel Ular Keempat sebagai objek penelitian.
Penelitian ini dilakukan untuk menguraikan proses kreatif yang dilakukan oleh Gus tf Sakai dalam menciptakan novel Ular Keempat. Penelitian ini menggunakan analisis unsur intrinsik untuk mengetahui unsur-unsur yang membangun novel Ular Keempat. Unsur intrinsik ini dijadikan pedoman untuk membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Gus tf Sakai melalui teknik wawancara. Dari hasil wawancara tersebut kemudian dilakukan analisis proses kreatif.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Ada pun tahap-tahap dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian analisis data (simpulan).
Dari penelitian yang dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa dalam menciptakan novel Ular Keempat Gus tf Sakai melakukan proses kreatif dalam jangka waktu yang relatif lama, yakni dari tahun 1985-2005. Proses kreatif tersebut, meliputi: (1) tahap mendapatkan ide, (2) tahap studi, (3) tahap inkubasi, (4) tahap iluminasi, (5) tahap verifikasi, dan (6) tahap publikasi. Dari proses kreatif tersebut dapat disimpulkan bahwa Gus tf Sakai merupakan seorang sastrawan perajin karena ia terlebih dahulu mengumpulkan bahan sebelum menulis, mempunyai waktu khusus untuk menulis, dan ia menulis dengan penuh keterampilan, terlatih, dan bekerja dengan serius, serta penuh tanggung jawab.
Kata kunci: proses kreatif, Gus tf Sakai, Ular Keempat
ASPEK RELIGIUS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ULAR KEEMPAT KARYA GUS TF SAKAI: TINJAUAN SEMIOTIK
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) unsur-unsur yang
membangun novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dan (2) makna aspek
religius dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai.
Jenis penelitian menggunakan metode kualitatif, dengan objek penelitian
adalah aspek religius dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dengan
tinjauan semiotik. Data penelitian berupa kata-kata dalam rangkaian kalimat dan
sumber data primer adalah novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai, diterbitkan
oleh Yayasan kesejahteraan Fatayat Yogyakarta (2001). Teknik pengumpulan
data menggunakan metode pustaka. Teknik analisis data menggunakan teknik
hermenutik dan heuristik.
Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Totalitas makna
diperoleh dari hubungan antara tokoh, latar, alur, dan tema. Tema sebagai gagasan
dasar yang sifatnya mengikat unsur yang terdapat dalam karya sastra membatasi
gerak tokohnya, perkembangan alurnya serta latar cerita. Penokohan digambarkan
tokoh sentral yang dipegang Janir; (2) aspek religius dalam novel Ular Keempat
karya Gus TF Sakai yang ditinjau secara semiotik mengungkapkan (a) ketaatan
menjalankan syareat Islam yang kelima (naik haji), (b) Allah sandaran manusia
dalam menyelesaikan masalah, (c) keyakinan pada kematian adalah takdir Allah,
(d) agama sebagai dasar pembentukan moral yang baik, dan (e) keikhlasan dalam
menerima rejeki dari Allah
Representasi Lingkungan dalam Cerpen Ketam Batu Karya Gus TF Sakai
Abstrak
Cerpen Ketam Batu karya Gus TF Sakai bercerita tentang kondisi kampung tokoh
utama Fahmi yang telah berubah menjadi areal pertambangan. Penelitian ini
bertujuan mengeksplorasi fenomena lingkungan dalam cerpen Ketam Batu karya
Gus TF Sakai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
pemaparan secara deskriptif. Data adalah frasa atau kalimat yang berkaitan dengan
kerusakan lingkungan. Sumber data berasal dari cerpen karya Gus TF Sakai. Cerpen
berasal dari koran Tempo yang terbit 5 Juni tahun 2020 web ruang sastra.com.
Analisis data dilakukan dengan proses koding melalui bantuan perangkat lunak
nvivo dengan pendekatan ekokritik Garrard. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa
terdapat enam aspek fenomena lingkungan yang dinarasikan pengarang, yaitu:
hutan belantara, polusi, bencana alam, pemukiman, binatang, dan bumi.
Berdasarkan hasil analisis nvivo pengarang lebih dominan menarasikan pemukiman
sedangkan narasi yang paling sedikit ditampilkan pengarang mengenai polusi. Hal
tersebut membuktikan bahwa pengarang mengungkapkan keresahan mengenai
tempat tinggalnya yang sudah tidak seperti dulu yang banyak ditumbuhi pohon dan
ditinggali makhluk hidup. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
pembelajaran lingkungan di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi agar siswa dan
mahasiswa mencintai alam dan tidak melakukan eksploitasi secara.
Kata Kunci: cerpen, ekokritik, kerusakan lingkungan, pertambanga
UNSUR-UNSUR BUDAYA MINANGKABAU DALAM KUMPULAN CERPEN LABA-LABA KARYA GUS TF SAKAI
Mohammad Farizwan, 1510742017, skripsi dengan judul “Unsur-Unsur Budaya Minangkabau Dalam Cerpen Laba-Laba Karya Gus tf Sakai: Tinjauan Antropologi Sastra”. Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Padang, 2022.
Skripsi ini membahas tentang unsur-unsur budaya Minangkabau yang terdapat dalam kumpulan cerpen Laba-Laba karya Gus tf Sakai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur budaya yang terdapat dalam cerpen dan menjelaskan makna dari unsur budaya tersebut. Metode dan teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode antropologi sastra. Antropologi sastra merupakan perspektif teori yang berkaitan tentang kebudayaan yang terdapat pada masyarakat dalam sebuah karya sastra. Teknik yang digunakan adalah menentukan unsur-unsur budaya Minangkabau yang terdapat di dalam kumpulan cerpen Laba-Laba karya Gus tf Sakai. Hasil dari analisis data yang dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan cerpen juga dapat merefleksikan kebudayaan suatu daerah. Hal tersebut ditemukan pada penelitian ini, yaitu dalam kumpulan cerpen Laba-Laba karya Gus tf Sakai, yang merupakan refleksi dari kebudayaan di Minangkabau. Refleksi tersebut dihadirkan sebagai bentuk kearifan lokal yang ditonjolkan dengan kelokalitasan Minangkabau melalui cerpen-cerpen yang termaktub dalam kumpulan cerpen Laba-Laba karya Gus tf Sakai tersebut.
Kata kunci: Kebudayaan, Kumpulan Cerpen Laba-Laba, Antropologi Sastra, Unsur-Unsur Budaya Minangkabau
KAJIAN EKOLOGI SASTRA BERBASIS NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM CERPEN “ORANG BUNIAN” KARYA GUS TF SAKAI
Abstract: This research discusses the short story "Orang Bunian" by Gus TF Sakai as a material object and ecological studies related to local wisdom and myths in literary works as formal objects. The theory that used is ecocriticism. The method used is descriptive qualitative research analysis. The short story "Orang Bunian" is one of the short stories of Gus TF Sakai in the short story anthology of Kaki Yang Terhormat that contains narratives about myths and people who believe in them and relating to nature and the environment. This is research is to identificating and analizing the short story based on the ecology approach and what its relation with local wisdom. The result of analysis showed that this myth is the part of local wisdom of that area. The society\u27s believe on orang bunian indirectly affected them in their behavior on maintain and conserving the natural source around them. Besides the presents of orang bunian also affected in the development of culture and knowledge, the believed in orang bunian give the people the understanding about a proper time for hunting in the forest. so it makes orang bunian as the believe and forbidden thing in the society of that short storyAbstrak: Penelitian ini menjadikan cerpen “Orang Bunian” karya Gus TF Sakai sebagai objek material dan kajian ekologis yang berhubungan dengan kearifan lokal terkait dengan mitos dalam karya sastra sebagai objek formal. Teori yang digunakan adalah ekokritik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian analisis kualitatif deskriptif. Cerpen “Orang Bunian” merupakan salah satu cerpen Gus TF Sakai dalam kumpulan cerpen Kaki Yang Terhormat yang memuat narasi tentang mitos dan masyarakat yang memercayai berkaitan dengan alam dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis berdasarkan kajian ekologi sastra dalam cerpen tersebut dan hubungannya dengan kearifan lokal di daerah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran mitos urang bunian merupakan bentuk dari kearifan lokal masyarakat setempat. Kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran urang bunian secara tidak langsung berdampak terhadap perliku masyarakat dalam menjaga dan melestarikan sumber daya alam. Selain itu, keberadaan urang bunian juga berdampak terhadap pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, yaitu keberadaanya memberikan pemahaman akan waktu-waktu tertentu yang diperbolehkan untuk berburu di dalam hutan. Sehingga urang bunian dianggap sebagai petuah, kepercayaan dan pantangan bagi masyarakat dalam cerpen tersebut.
Kumpulan Cerpen Tiga Cinta Ibu Karya Gus Tf Sakai
Kumpulan Cerpen Tiga Cinta Ibu merupakan karya sastra yang ditulis oleh Gus Tf Sakai yang lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Kumpulan cerpen ini terdapat tiga judul cerpen yakni cerpen Lembah Berkabut, cerpen Riu dan cerpen Masih Bagai Butir. Ketiga cerpen ini menceritakan tentang perkawinan baik itu di Minangkabau, Sumatera Barat. Dan di salah satu cerpen ini ada yang berasal dari daerah Kalimantan yakni Riu, akan tetapi ketiga cerpen ini mengupas permasalahan perkawinan.
Skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan langkah kerja membaca dan memahami isi dari cerpen, memilih objek yang diteliti di dalam cerpen, melakukan analisis menggunakan tinjauan struktural dan membuat hasil penelitian. Tujuan digunakan tinjauan struktural ini adalah untuk melihat struktur-struktur yang ada serta kaitan salah satu tokoh dengan permasalahan yang ada pada cerpen tersebut.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa permasalahan pada cerpen adalah permasalahan perkawinan yang mana dilatarbelakangi oleh peran mamak dan ayah.
Kata Kunci : kumpulan cerpen tiga cinta ibu, struktural, perkawinan
Kepribadian Tokoh Jun Dalam Novel Tiga Cinta, Ibu Karya Gus Tf Sakai (Kajian Psycho-social Crisis Erikson)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat permasalahaan identitas yang terepresentasi melalui tokoh Jun dalam novel Tiga Cinta, Ibu karya Gus Tf Sakai dengan menggunakan teori psycho-crisis Erikson. Tokoh Jun merupakan representasi masyarakat Minangkabau yang mengalami kegamangan terhadap identitas sosialnya dikarenakan terjadinya benturan antara tradisi dan modernitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan konten analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Tiga Cinta, Ibu karya Gus Tf Sakai memperlihatkan permasalahan identitas berupa kebingungan identitas (identity confusion) yang dialami tokoh Jun sebagai orang Minangkabau yang telah lama hidup di luar Minangkabau. Identitasnya sebagai orang Minangkabau membuatnya harus berada dalam ikatan tradisi tersebut yang memaksanya untuk tidak menikahi calon istrinya karena silsilah adat. Kebingungan ini membuat tokoh Jun berada dalam dilema untuk menerima atau menolak dalam perbenturan tradisi dan modernitas yang dialaminya. Pada akhirnya ia memutuskan tidak mengikuti aturan tradisi. Pilihan yang diambil oleh tokoh Jun adalah bentuk krisis identitas yang dialami oleh sebagaian masyarakat dewasa ini
HEGEMONI DALAM CERPEN-CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN KAKI YANG TERHORMAT KARYA GUS TF SAKAI
Penelitian ini bertujuan mengetahui hegemoni dan mengungkap makna
hegemoni yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam dua cerpen pada kumpulan cerpen
Kaki yang Terhormat karya Gus Tf Sakai dengan memakai perspektif sosiologi
sastra hegemoni Antonio Gramsci. Artinya penelitian ini lebih menitikberatkan
pada praktik hegemoni yang terjadi pada tokoh-tokoh dan menggali makna yang
terdapat pada hubungan hegemonik tersebut dengan mengaitkannya pada faktor di
luar teks yaitu realitas sosial masyarakat yang bersinggungan dengan pemangku
kekuasaan.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap analisis. Pertama, analisis tekstual
cerpen dengan mengungkap identitas tokoh-tokoh dan bentuk hegemoni yang ada.
Kedua, hasil analisis tersebut diteruskan melalui proses pemaknaan dari hegemoni
yang telah ditemukan pada tahap sebelumnya. Melalui kedua tahap tersebut, dapat
diperoleh makna sosiologis hegemoni dua cerpen dalam kumpulan cerpen Kaki
yang Terhormat karya Gus Tf Sakai.
Berdasarkan analisis-analisis tersebut, ditemukan bentuk-bentuk hegemoni
yang terjadi di dalam teks yaitu hegemoni kapitalisme dan hegemoni patriarki
dengan kadar hegemoni kapitalisme yang lebih dominan daripada hegemoni
patriarki. Lebih lanjut, ditemukan makna yang relevan dengan strategi kuasa di
Indonesia saat ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa teks Kaki yang Terhormat
adalah teks yang memuat kritik sosial dan pesan realitas dari pengarang terhadap
kebusukan moral yang sering terjadi. Itu semua digambarkan dalam segala aspek
cerita yang terdapat pada cerpen-cerpen pada kumpulan cerpen Kaki yang
Terhormat
Nilai-Nilai Budaya dan Adat Minangkabau dalam Novel Tambo: Sebuah Pertemuan Karya Gus TF Sakai
Cultural value and custom can’t be separated because custom is part from a culture that inside it there are values that are reflected inside of the life of community or society. One of the novel that describing cultural value and custom is Tambo: Sebuah Pertemuan novel work of Gus Tf Sakai. The aim of this research is to describe Minangkabau cultural values and custom in Tambo: Sebuah Pertemuan novel work of Gus Tf Sakai. The cultural values and custom reviewed based on C.Kluckhohn’s Theory of Antrophology. Approach of this research is qualitative research with content analysis method. Result of the research shows that in novel there are sixteen cultural values from five cultural values orientation: (1) Cultural Values related to human and his life: life based on rules and truth, (2) Cultural values related to human and his works: independence, ingenuity, work by pace, active, and diligent, (3) Cultural Values related to human against time: think for the future, frugality, (4) Cultural values related to human view against nature: maintain harmony with nature and utilizing the nature, (5) Cultural value related to human and others: solidarity, respect, agreement, justice, and obedience. Minangkabau custom that has been found as much as 4 customs, that is (1) custom: custom that truly custom, custom customized, (2) Cupak nan duo: cupak usali (3) undang-undang nan ampek (4) kato nan ampek: kato pusako, kato mufakat, kato dahulu, kato kudian
- …
