183 research outputs found
Penerapan Pembelajaran Berbasis Multimedia dan Asesmen Portofolio pada Matakuliah Konstruksi Baja
Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan pembelajaran berbasis multimedia dan asesmen portofolio pada Matakuliah Konstruksi Baja, keaktifan maha-siswa, dan prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan ujian tulis. Hasil penelitian menunjukkan (1) penerapan pembelajaran berbasis multimedia dan asesmen portofolio pada Matakuliah Konstruksi Baja dengan langkah-langkah: penyajian materi oleh dosen, pendalaman materi oleh mahasiswa, pembagian menjadi kelompok penyaji dan pembanding, pengerjaan tugas kelompok secara terpisah, penyajian dan pembandingan hasil tugas, pembenaran oleh dosen, dan perbaikan tugas oleh mahasiswa; (2) penerapan pembelajaran ini meningkatkan keaktifan mahasiswa; dan (3) penerapan pembelajaran ini meningkatkan prestasi belajar mahasiswa secara tidak linear.Kata
Temuan satu abad (1900-1999): perjalanan sejarah kebudayaan Indonesia
Pengutamaan tulisan ini berkenaan dengan pameran temuan-temuan yang diperoleh selama saru abad yang baru silam, khususnya yang mempunyai makna dalam mengubah penglihatan dan interpretasi mengenai masa lalu budaya dan lingkungan di Indonesia, ataupun dalam menambah keluasan dan kedalaman pengetahuan mengenainya. Temuan-temuan peninggalan masa lalu ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan besar, yaitu sisa-sisa kehidupan hayati masa lalu; artefak tanpa tulisan; artefak yang memuat tulisan.
Masing-masing kelompok temuan itu dihadirkan dalam pameran, dan penempatannya disesuaikan dengan enam seksi yang dirancang untuk menampilkan tema Perkembangan Sejarah Kebudayaan ini
Studi Tentang Konsep Estetik dan Makna Simbolis Pada Ragam HiasWaluku di Sumbermanjingkulon Kecamatan Pagak Kabupaten Malang
ABSTRAK Sutrisno, Edi. 2014. Studi Tentang Konsep Estetik dan Makna Simbolis Pada Ragam HiasWaluku di Sumbermanjingkulon Kecamatan Pagak Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd, (II) Ike Ratnawati, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Konsep Estetik, Makna Simbolis, Ragam Hias Waluku, Sumbermanjingkulon, Malang Waluku adalah sejenis alat bercocok tanam yang digunakan sebagai pembajak sawah atau ladang, waluku biasanya dijalankan dengan cara ditarik oleh sapi atau kerbau. Waluku yang ada di Sumbermanjingkulon memiliki ornamen hias pada sambilan atau pasangannya dan ternyata setelah dilakukan pengkajian banyak ditemukan makna-maknasimbolisyang tersyirat di dalamnya. Namun dewasa ini keberadaan waluku sudah digusur oleh kemajuan tehnologi sehingga baik penggunaan maupun makna-makna simbolis yang ada didalamnya dikawatirkan akan hilang. Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan adanya penelitian untuk mengungkapkonsep estetik dan maknasimbolispada waluku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian yang berupa paparan tentang konsep estetik serta makna-maknasimbolispada ragam hias waluku yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, diadakan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, tahap penyajian data, sertapenarikan kesimpulan dan ferivikasi. Berdasarkan hasil anlisis data tersebut, diperoleh beberapa simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Terdapat konsep estetikyang melandasi penciptaan ragam hias waluku, ragam hias yang terdapat pada waluku diciptakan atas dasar pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan rohani karena masyarakat Desa Sumbermanjingkulon sebagian besar masing menganut kepercayaan kejawen sehingga pernak-pernik kebudayaan Jawa masih dipegang teguh oleh masyarakat Sumbermanjingkulon. Dalam waluku juga terdapat makna simbolispada setiap bagian waluku yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan, pada setiap bagian dari ragam hias waluku masing-masing memiliki maknasimbol dan falsafah tersendiri yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk kehidupan sosial yang dijalani manusia sehari-hari Sudah menjadi kewajiban bersama untuk melestarikan nilai-nilai budaya luhur yang diwariskan oleh nenek moyang, meskipun keberadaan waluku sudah tergeser oleh kemajuan jaman namun nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya harus tetap dilestarikan, baik dari konsep estetik maupun makna simbolis dari waluku tersebut guna untuk kemaslahatan hidup bersama
Cryptophasa watungi Sutrisno & Suwito 2015, sp. nov.
Cryptophasa watungi Sutrisno & Suwito, 2015 sp. nov. (Figs. 1–4) Diagnosis. The adult of C. watungi sp. nov. can be easily distinguished from other species based on the wing maculation. The characteristics of male forewing are black fuscous along the entire costa, white fuscous with brown-tinged from the discal cell towards dorsum and two black spots on the discal cell. The hindwing is predominantly white fuscous tinged with brown from the cubito-anal (CuA 1 and CuA 2) area towards dorsum, with an orange-tinged basal line of terminal cilia which becomes paler towards tornus. In the male genitalia, the distinguishing character of this species is a strongly sclerotised apex of the finger-shaped uncus. In the female, the forewings are white-ochreous tinged with brown, more pronouncedly so toward the margins, with a black reniform spot at discal cell, indistinct black dots at margin and a yellow-orange basal line of terminal cilia. Description. Male (Fig 1) : Wing length 14 mm. Head grey. Labial palpus grey, slender, about 2 times vertical diameter of eye, pointed last segment directed slightly forward. Antenna fasciculate-ciliated, extended to about half of length of forewing, dorsal surface covered with longitudinal rows of black scales along entire length. Thorax white, tegula dark grey. Legs black, with hind tibia externally covered greyish-white scales. Forewing oblong, costa slightly arched at base, thence nearly straight, apex obtuse, hind margin slightly oblique, rounded, along entire costa black, discal cell with two dark spots, from discal cell towards dorsum white, terminal cilia black. Hindwing black fuscous, except at 2 / 3 basal costa white, from cubito-anal (CuA 1 and CuA 2) area towards dorsum white-fuscous with brown tinge, terminal cilia grey with orange-tinged basal line at termen, basal line paler towards tornus. Abdomen slender with first segment white, second segment toward seventh segment brown to dark brown gradually, distal segment black with white tinge. Female (Fig. 2) : Wing length 24 mm. Head white. Labial palpus grey, slender, directed upward. Antenna fasciculate-ciliated (cilia less dense than those of male), dorsal surface covered with longitudinal rows of black scales along entire length. Thorax entirely white. Legs black, with last tibia partly covered with grey scales. Forewing white ochreous tinged with brown, denser towards margin; discal cell with a black reniform spot; margin with indistinct black dots; terminal cilia grey with yellow-orange basal line. Hindwing fuscous; hind margin with indistinct black dots; cilia yellow orange. Abdomen dark fuscous, except for first segment greyish white. Male genitalia (Figs 3 a, 3 b) : Uncus divided dorsally into two lobes, divided into two apical processes, slightly bent downward, strongly sclerotised at finger-shaped apex. Gnathos laterally fused with two sclerotised arms to base of uncus. Tegumen broad, gently arched, margins slightly sclerotised; articulated with vinculum. Vinculum Ushaped, with weakly developed saccus. Juxta weakly sclerotised, bottle-shaped, elongate and extended from tegumen to saccus. Anellus tubular, weakly sclerotised, broad towards distal end; apex bifid. Valva tapered with scattered short setae. Costa of valva strongly arched inwardly; apex blunt. Lower margin of supravalva gently curved, slightly sinuate towards base. Basis of valva elongate-triangular. Sacculus elongate, rounded towards base, scattered setae; apex sharply pointed. Claspers joined to upper saccular margin, extended up to apex of sacculus. Aedeagus tapered with a narrowed part near anterior end. Female genitalia (Fig. 4) : Ovipositor lobes tubular with scattered setae, anterior apophyses long, posterior apophyses shorter, about half of length anterior aphophyses. Antrum with rather narrow patch of strong sclerotisation; ductus bursae rather long, about 1.5 length of posterior apophyses, slender, membranous. Corpus bursae ovate, membranous, without signa. Holotype: 1 ♂; Indonesia, North Sulawesi, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, Lungkap. N 00° 27 ʹ 25.3 ʺ E 124 ° 11 ʹ 02. 6 ʺ. Alt. 552 m. Emerge on 05.X. 2014. Coll. J.F. Watung, Genitalia slide MZB. Lepi. 172. Paratypes: 1 ♂; Indonesia, North Sulawesi, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, Lungkap. N 00° 27 ʹ 25.3 ʺ E 124 ° 11 ʹ 02. 6 ʺ. Alt. 552 m. Emerge on 25.IX. 2014. Coll. J.F. Watung; 1 ♀; Indonesia, North Sulawesi, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, Lungkap. N 00° 27 ʹ 25.3 ʺ E 124 ° 11 ʹ 02. 6 ʺ. Alt. 552 m. Emerge on 16.X. 2014. Coll. J.F. Watung, Genitalia slide MZB. Lepi. 173. Etymology. This species is named after its collector, J.F. Watung (junior author) who has collected extensively larvae in clove plantation in North Sulawesi and reared them during two and half months to get the adults. Distribution and biology. This species is distributed across North Sulawesi following the presence of clove trees in that area. The species is recorded in the following five districts: Minahassa, South Minahassa, North Minahassa, Bolaang Mongondow and South Bolaang Mongondow. The larvae of this species feed in the bark and bore the stem of clove tree (Syzygium aromaticum: Myrtaceae) forming a shallow tunnel (2-3 cm in deep) for burrowing and pupation. The active larvae always build a shelter from the frass or a mix of frass and leaves to protect the burrow from water and predators. Remarks. This species is sexually dimorphic, the male is about half the size of the female. As in other species of Cryptophasa, the male antennal ciliae are also longer than those in the female. Most conspicuous is the different wing pattern between the sexes: the male has predominantly black forewings, whereas the female has predominantly white forewings.Published as part of Sutrisno, Hari & Suwito, Awit, 2015, Discovery of Cryptophasa Lewin, 1805 (Lepidoptera: Xyloryctidae) from Indonesia with the descriptions of three new species, pp. 122-132 in Zootaxa 3994 (1) on pages 123-127, DOI: 10.11646/zootaxa.3994.1.6, http://zenodo.org/record/23206
ANALISIS TINGKAT RESIKO PEMBIAYAAN PADA KSPPS BMT AMANAH RAY CABANG SUTRISNO MEDAN
The purpose of this study is to determine the level of financing risk on KSPPS BMT Amanah Ray Branch Sutrisno Medan. Medote that writer use in this research is quantitative descriptive method, that is by collecting and analyzing data related to problem faced. The author analyzed data in the form of financing data reports on KSPPS BMT Amanah Ray Branch Sutrisno from 2014 until 2016. The results showed based on the analysis that the Non Performing Loan (NPL) Financing in KSPPS BMT Amanah Ray Branch SutrisnoMedan from 2014 until 2016 fluctuate every year. Viewed from the average percentage of risk level KSPPS BMT Amanah Ray Branch Sutrisno set by Bank Indonesia (BI) is 5% below the percentage for low category loans with an average amount of 0,02%. This means that Non Performing Loans (NPLs) for three consecutive years from 2014 to 2016 is low
Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam Dan POC Batang Pisang Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Pepaya California (Carica papayaL.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam dan POC Batang Pisang Serta Interaksinya Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Pepaya California (Carica papayaL.)dan dilaksanakan di Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli SerdangSumatera Utarapada April sampai dengan Juli 2019.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu Pemberian Pupuk KandangAyam(K) dengan 4 taraf yaitu K0(kontrol), K1( 160 g/tanaman), K2(320 g/tanaman), K3( 480 g/tanaman) dan Pemberian POC Batang Pisang (P) dengan 4 taraf yaitu P0(kontrol), P1(25 ml POC + 475 ml air = 500 ml = 100 ml/tanaman), P2(50 ml POC + 450 ml air = 500 ml = 100 ml/tanaman), P3(75 ml POC + 425 ml air = 500 ml = 100 ml/tanaman). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan volume akar, luas daun, serta jumlah klorofil.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan dan pemberian POC batang pisang tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan
Efektivitas Mikroenkapsulasi Ekstrak Metanol Kulit Buah Manggis untuk Mencegah Kerusakan Fungsi Hati Tikus akibat Konsumsi Minyak Sawit Teroksidasi
Kebiasaan makan orang Indonesia yang menyukai makanan yang digoreng, memicu tingginya resiko menderita penyakit degeneratif. Resiko tersebut dapat diturunkan dengan konsumsi antioksidan eksogen yang mampu menghambat stres oksidatif. Salah satu sumber antioksidan kuat adalah antioksidan dalam kulit buah manggis (KBM). Sumber antioksidan potensial ini masih jarang dimanfaatkan dengan baik karena sifat sensori KBM yang pahit, sepat dan getir. Proses mikroenkapsulasi dapat melindungi dan mengontrol pelepasan senyawa bioaktif. Oleh karena itu, proses mikroenkapsulasi merupakan solusi terbaik untuk mengatasi masalah yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas daya antioksidan perlakuan mikroenkapsulasi terhadap ekstrak metanol KBM, serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mencegah kerusakan fungsi hati pada tikus akibat konsumsi minyak sawit teroksidasi. Proses mikroenkapsulasi penurunan kapasitas antioksidan dengan nilai IC50 ekstrak sebesar 0.0085 g/mL dan IC50 mikroenkapsulat sebesar 0.0125 g/mL. Rasa pahit dan getir dari kulit manggis dapat dihilangkan selama proses ekstraksi dan mikroenkapsulasi terbukti dari tidak terdapat pengaruh terhadap konsumsi pakan tikus. Penambahan antioksidan yang terkandung pada ekstrak dan mikroenkapsulat KBM terbukti mampu menurunkan kerusakan hati terlihat dari penurunan jaringan adiposa dan kadar MDA hati tikus. Penurunan berat adiposa pada KBM 1, KBM 2, dan KBM 3 secara berturut-turut adalah 54.20%, 60.37%, dan 51.41%, sedangkan kadar MDA mengalami penurunan sebesar 8.32%, 36.87%, dan 50.12%. Berdasarkan penurunan tersebut, KBM 3 dengan kandungan mikroenkapsulat 200 mg/kg merupakan konsentrasi terbaik
Job Training Implementation Report At PT. Latexindo Toba Perkasa North Sumatra
75 HalamanAdapun perusahaan yang dipilih adalah PT. Latexindo Toba Perkasa yang bergerak di bidang sarung tangan karet ini terletak di Jl. Medan - Binjai KM 11 kabupaten Deli Serdang. Setelah mengkonfirmasi maslaah dalam proses pembuatan sarung tangan dari hulu sampai hilir dengan pihak personalia, karena banyaknya maslaah dalam proses produksi yang harus segera di perbaiki. Ada beberapa masalah dalam proses produksi yseperti tingkat ketidakhadiran para karyawan yang sagta tinggi berdampak terganggunnya proses produksi dan meningkatnya reject atau mutu C di produksi dalam beberapa bulan terakhir. Untuk itu praktikan membantu personalia mengatasi masalah terlebih dahulu yang sangat tinggi karena mengganggu proses produksi sehingga menurunya jumlah produksi. The selected companies are PT. Latexindo Toba Perkasa which is engaged in rubber gloves is located on Jl. Medan - Binjai KM 11 Deli Serdang district. After confirming the problem in the process of making gloves from upstream to downstream with the personnel, because there are many problems in the production process that must be fixed immediately. There are several problems in the production process, such as a very high level of employee absenteeism which has an impact on the disruption of the production process and the increase in rejects or C quality in production in recent months. For this reason, the practitioner helps personnel to overcome the problem first, which is very high because it interferes with the production process so that the amount of production decreases
PROSES KREATIF ANTONIUS WAHYUDI SUTRISNO SEBAGAI KOMPOSER GAMELAN
The creativity of Antonius Wahyudi Sutrisno (Dedek) in creating the composition be an interesting thing for the author to be further investigated. This research was focused on the factors behind Dedek in finding creative ideas. Dedek works based on tradition reiterates that he uses the idiom of tradition in his works. The idioms used a series of structures, motifs or patterns, and techniques. From the idiom invention, the author observed the tradition one, of such pathet space, instruments (gamelan), and a model of the work, which all is associated with the science of Javanese gamelan. Through pathet space, the author assume that Dedek has a unique in terms of the selection range of tones, although, that is uncommonly performed in tradition karawitan. The exploration of the instruments and methods in use in Dedek works, gamelan instruments perceived authors have character and distinctive characteristics. While on the model of Dedek composition is not far from the tradition of serving space and schema structure that resembles a traditional convention. This research reviewed the more clearly about the characters of the existing tradition in Dedek works that came from the tradition idioms.
Keywords: creativity, karawitan composition, tradition idiom
- …
