23 research outputs found
Nilai–nilai pendidikan karakter dalam novel merdeka sejak hati karya Ahmad Fuadi dan relevansinya dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di MI
Latar belakang dalam penelitian ini adalah melihat nilai-nilai karakter yang dimiliki anak semakin menurun. Dimana kita melihat banyak sekali berbagai kasus yang dilakukan oleh anak seperti berani kepada guru, mencuri banyak sekali terjadi. Dalam hal ini perlunya penanaman pendidikan karakter sejak dini sangatlah penting salah satunya dengan bentuk membaca. novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi berisi kisah inspiratif dan motivasi bagi anak serta nilai-nilai karakter yang di dalamnya. Oleh karena itu, upaya peneliti dengan menganalisi nilai-nilai karakter yang terkandung dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Apa sajakah Nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi?, 2) Bagaimana Relevansi nilai pendidikan karakter yang terdapat pada novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi dengan materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas 6 Tema 7 tentang penerapan nilai-nilai pancasila. Jenis penelitian ini adalah penelitian Library Research dengan menggunakan teknik analisi isi. Langkah peneliti dalam pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi yang mengacu dengan indikator-indikator nilai karakter. Keabsahan data yang digunakan dengan kredibilitas yang menyangkut mengenai ketekunan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Nilai-nilai karakter dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi terdapat lima nilai karakter utama yaitu, religius 12 data, nasionalis 13 data, mandiri 9 data, gotong royong 10 data dan integritas 11 data. 2) Relevansi dari lima nilai karakter utama yang ditemukan dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Fuadi dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas 6 Tema 7 tentang penanaman nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari diantaranya pada sila pertama relevan dengan sub nilai karakter beriman dan bertaqwa, sila kedua relevan dengan sub nilai karakter melindungi yang tersisih, ketulusan, dan empati, sila ketiga relevan dengan sub nilai karakter sikap kerelawanan, kerja sama,dan cinta tanah air, sila keempat relevan dengan sub nilai karakter keberanian dan cinta tanah air, dan sila kelima ini relevan dengan sub nilai karakter keadilan. Kata Kunci : Nilai Pendidikan Karakter, Novel, Pendidikan Kewarganegaraan
Paulo Freire's View on Freedom to Learn Policy
The concept of freedom to learn is in line with the philosophy of humanism, which prioritizes human values and believes that humans have the right and freedom to think and act in whatever way they choose. Paulo Freire is a figure who initiated humanist education, which is famous for its liberating education concept. The educational philosophy of humanism and freedom to learn made by the Minister of Education and Culture has comfort. The purpose of this study is to present Paulo Freire's views on the concept of freedom to learn and the relevance of Paulo Freire's views on humanist philosophy to the concept of freedom to learn from the Ministry of Education and Culture. The article uses qualitative and descriptive research. A literature review is used to collect data, which comes from the scientific literature that is relevant to the research subject. The study produced the idea of freedom to learn as well as a humanist philosophy that emphasizes the freedom, independence, and adaptability of an educational institution in determining student needs. As learning subjects and controls, students play an important role in education. As a fundamental model for arousing student interest and cultivating a positive learning environment, this idea provides freedom, hands-on experience, creativity, and positive attitudes and perceptions
RANCANG BANGUN APLIKASI UNTUK MENGELOMPOKKAN TOPIK TWEET DARI TWITTER DENGAN MENGGUNAKAN PEMODELAN AUTHOR-TOPIC MODEL (STUDI KASUS: AKUN TWITTER POLITISI INDONESIA)
Twitter merupakan sebuah platform untuk berhubungan satu sama lain agar
tetap berkomunikasi dan tetap terhubung dengan mengirim pesan cepat dan daring.
Pada Twitter juga dapat membuat tweet yang berisi foto, video, tautan, atau teks.
Pada aplikasi Twitter pengguna cenderung lebih mengutarakan isi hati yang
sebenarnya dibandingkan dengan platform media sosial lainnya. Pada tahun 2020
ini telah terjadi wabah atau pandemi Covid-19 dan pada akhir tahun bulan
Desember akan diselenggarakan pilkada serentak seluruh Indonesia. Dari hal
tersebut dibutuhkannya sebuah platform yang mampu memberikan informasi visual
terhadap aktivitas politisi dalam hal mengutarakan isi hatinya di media sosial
Twitter dengan melakukan topic modelling terhadap aktivitas politisi tersebut
ketika membuat sebuah tulisan atau tweet menggunakan metode Author-Topic
Models. Penelitian ini dikhususkan untuk menganalisa data tweet akun Twitter
politisi di Indonesia, proses pengambilan data dilakukan dengan cara crawling data
pada user timeline aplikasi Twitter. Setelah data didapatkan kemudian akan
dianalisa dengan menggunakan Author-Topic Models dan dilakukan visualisasi
terhadap topik pembahasan berdasarkan tweet yang telah dibuat oleh masingmasing akun Twitter politisi. Melalui proses topic modelling, telah didapatkan hasil
terbaik berupa 3 topik. Model 3 topik tersebut dikatakan terbaik karena memiliki
nilai perplexity terendah diantara jumlah topik lain yang diuji. 3 topik yang
terbentuk dianalisis dan diterjemahkan ke dalam label kategori, yaitu “Rakyat Tolak
RUU Cipta Kerja”, “Ucapan Syukur saat Pandemi”, “Kondisi Ekonomi saat
Pandemi” dengan jumlah data tweet yang digunakan adalah 24846 data tweet dari
36 akun Twitter politisi.
Kata kunci: Twitter, Tweet, Politisi, Topic Modelling, Author-Topic Model
Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Al-Quran (Telaah Konsep Pendidikan Islam)
Muhammad Rifqi Fachrian: Toleransi Antar Umat Beragama dalam Al-Quran (Telaah Konsep Pendidikan Islam), di bawah bimbingan I: Dr.H.Burhanuddin Abdullah, M.Ag, dan II: Dr.H. Abdul Basir, M.Ag. Tesis, Program Studi Pendidikan Agama Islam, pada Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, (2017).
Kata kunci : Toleransi, Antar Umat Beragama, Al-Quran, Pendidikan Islam.
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan agama yang berbeda-beda. Melalui UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya". Dengan berbagai macam latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda seharusnya berbagai unsur ini memahami posisi dan porsinya masing-masing, akan tetapi pada kenyataannya sampai sekarang masih ada masyarakat pada umumnya, dan kaum muslimin pada khususnya, belum memahami batasan toleransi yang baik dan benar sesuai dengan UUD, dan bagi kaum muslimin tentunya yang sesuai dengan pedoman Al-Qurandan Sunnah. Dalam hal ini pendidik, guru/dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) yang tentunya bertanggung jawab terhadap pemahaman siswa/mahasiswa akan toleransi yang baik dan benar, sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Hal ini menjadi perhatian yang penting dalam dunia pendidikan, peserta didik yang dihadapi terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda, dengan adanya pemahaman tentang toleransi, seluruh komponan pendidikan mampu bersikap, baik sesama Muslim maupun non Muslim, baik dilingkungan sekolah, maupun masyarakat.
Fokus penelitian adalah membahas toleransi antar umat beragama dalam Al-Quran yang ditelaah melalui konsep Pendidikan Islam. Penelitian ini berbentuk penelitian kepustakaan (library research), yaitu mengumpulkan dan menelaah sejumlah data penelitian melalui bahan-bahan pustaka. Pembahasan penelitian ini ditelusuri dengan melakukan studi tafsir terhadap ayat-ayat Al-Quran tentang toleransi antar umat beragama melalui telaah konsep Pendidikan Islam. Untuk mendapatkan ayat-ayat tersebut, penulis menggunakan metedologi tafsir tematik (maudlû’i). Penulis pada penelitian ini menetapkan topik masalah terlebih dahulu dengan kata kunci “toleransi”, kemudian mencari dan mengklasifikasian ayat-ayat yang berhubungan dan membahas tentang toleransi, meskipun secara tersurat kata toleransi tidak terdapat di dalam teks ayat, akan tetapi isi maupun subtansi kontekstual daripada ayat tersebut apabila berkenan dengan toleransi, maka akan dimasukkan ke dalam kategori ayat yang akan di bahas. Dalam hal ini penulis menemukan kata-kata lainnya yang berkenaan dengan pembahasan toleransi/ tasâmuh, diantaranya Agama/Ad-Dîn, pemaksaan/Ikrâh, Adil, Nasrani dan Yahudi/ Ahlu Al-Kitâb, Tuhan/ Ilâh,Râb. Kemudian penulis menyusun urutan-urutan ayat tadi sesuai dengan masa turunnya dengan memisahkan periode Makkiyah dan Madaniyyah. Berikutnya penulis mencoba memahami kolerasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing, dilanjutkan dengan melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan masalah yang dimaksud. Langkah berikutnya penulis mencoba menyusun pembahasan dalam rangka yang
ii
sempurna, lalu melakukan studi tentang ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang ‘âm dengan yang khâsh , yang muthlaq dan muqayyad atau yang kelihatan bertentangan sehingga semuanya bersatu dalam satu muara tanpa perbedaan atau pemaksaan dalam pemberian arti, dan langkah terakhir yaitu menyusun kesimpulan-kesimpulan yang menggambarkan jawaban Al-Quran terhadap toleransi antar umat beragama melalui telaah konsep Pendidikan Islam, yang terdiri dari pengertian, tujuan, ruang lingkup dan implementasinya.
Hasil temuan tentang pembahasan toleransi antar umat beragama dalam Al-Quran adalah sebagai berikut.Terdapat beberapa ayat dalam Al-Quran mengenai toleransi diantaranya Al-Kâfirûn,109/18:1-6; Yûnus,10/51:99; Al-Baqarah,2/87:256;Al-An’âm,6/55:108; As-Syûrâ,42/62:15;Al-‘Ankabût,29/85: 46; dan Al-Mumtahanah,60/91: 7-9. Toleransi pada masa awal dakwah Rasulullah menegaskan tentang penguatan dan batasan nilai-nilai akidah, hal ini tercermin dari kronologi diturunkannya sûrat Al-Kâfirûn,109/18:1-6, Yûnus,10/51:99, Al-An’âm,6/55: 108, As-Syûrâ,42/62:15, dan Al-‘Ankabût,29/85:46 pada periode Makkiyyah. Kemudian pada periode selanjutnya yaitu Madaniyyah, ketika Islam sudah mulai berkembang dan kokoh, turunlah sûrat Al-Baqarah,2/87:256 dan Al-Mumtahanah,60/91: 7-9 yaitu tentang ancaman dan hubungan interaksi sosial antar umat beragama. Adapun keseluruhan daripada ayat-ayat toleransi diatas merupakan bagian dari ayat-ayat Muhkam. Melalui telaah Pendidikan Islam dapat disimpulkan pengertian toleransi antar umat beragama yang terkandung dalam Al-Quran yaitu Pertama,bertanggung jawab terhadap keyakinan dan pebuatan, Kedua, kebebasan memilih dan menjalankan keyakinan tanpa adanya paksaan, Ketiga, saling menghargai dan menghormati keyakinan, Keempat, berlaku adil dan berbuat baik sesama manusia. Pendidik dan peserta didik pada toleransi antar umat beragama dalam Al-Quran terdiri dari Allah sebagai sebenar-benarnya pendidik, Rasulullah sebagai peserta didik sekaligus juga sebagai pendidik, dan begitu juga seluruh manusia (orangtua, guru, dan masyarakat) sebagai umatnya. Toleransi antar umat beragama sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam Al-Quran merupakan jalan hidup untuk mencapai derajat Abdullah dan Khalifatullah. Allah menyeru dan membimbing toleransi kepada manusia melalui Al-Quran untuk Bertanggung jawab terhadap keyakinan dan pebuatan, kebebasan memilih dan menjalankan keyakinan tanpa adanya paksaan, saling menghargai dan menghormati keyakinan, berlaku adil dan berbuat baik sesama manusia. Semua hal tersebut merupakan kewajiban manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah yaitu untuk memelihara kerukunan dan perdamaian seluruh dinamika kehidupan di muka bumi.
iii
ABSTRACT
Muhammad Rifqi Fachrian: Inter-Religious Tolerance in the Koran (Assessing concept of Islamic Education), under the guidance I: Dr.H.Burhanuddin Abdullah, M.Ag and II: Dr.H. Abdul Basir, M.Ag. Thesis, Department of Islamic Religious Education, the Graduate IAIN Antasari Banjarmasin, (2017).
Keywords: Tolerance, Inter-Religious, The Koran, Islamic Education.
Indonesia is a country that consists of various ethnic, cultural and religious vary. Through the 1945 Constitution article 29, paragraph 2 has stated that "the State guarantees the freedom of each citizen to embrace their own religion and to worship according to his religion or belief". With a wide variety of ethnic backgrounds, cultures, and religions of different should the various elements is to understand the position and portions of each, but in fact, until now there are still people in general and Muslims in particular, do not understand the limits of tolerance good and right in accordance with the Constitution, and for the Muslims of course, that in accordance with the guidelines Koran and Sunnah. In this case educators, teachers / lecturers of Islamic Religious Education (PAI) which of course responsible for the understanding of the pupil / student for tolerance is good and right, according to Koran and Sunnah.
The focus of the research was to discuss religious tolerance in the Koran are analyzed through the concept of Islamic education. This research shaped library research (library research), which collects and examines a number of research data through library materials. Discussion This study traced by studying the interpretation of the verses of Koran about religious tolerance through the study of the concept of Islamic education. To obtain these verses, the author uses metedologi thematic interpretation (maudlû'i). Authors on the study establishes subject matter beforehand with the keyword "tolerance", then find and passages that relate and talk about tolerance, although it expressly said tolerance is not present in the text of the verse, but the content and substance of contextual than a paragraph the if pleased with tolerance, it will be put in the category of verse that will be discussed In this case I find other words with regard to the discussion of tolerance / tasâmuh, including; Religion / Ad-Dîn, coercion / Ikrâh, Fair, Christianity and Judaism / Ahlu Al-Kitâb, God / Ilâh,Râb.Then the writer compose sequences in accordance with the last paragraph with the decrease in future periods separating the Makkiyyah and Madaniyyah. Next the author tries to understand the correlation verses in surah respectively, followed by completing discussions with the traditions relevant to the issues in question. The next step the author tried to organize the discussion in order to perfect, then do a study of the verses as a whole by way of collecting verses that have the same understanding or compromise between the 'am (general) with the khâsh (specific), which mutlaq and muqayyad or that seem contradictory so that they come together in one estuary without distinction or coercion in the sense of giving, and the last step is compiling the conclusions that the answer to Koran against inter-religious
iv
tolerance through the study of the concept of Islamic education, which consists of understanding, purpose, scope and implementation.
The findings of the discussion of religious tolerance in the Koran are as follows. There are several verses in Koran about tolerance among Al-Kâfirûn, 109/18: 1-6; Yûnus 10/51: 99; Al-Baqarah, 2/87: 256; Al-An’âm, 6/55: 108; As-Syûrâ, 42/62: 15; Al-'Ankabut, 29/85: 46; and Al-Mumtahanah, 60/91: 7-9. Tolerance in the early days of the Prophet insists on strengthening propaganda and limit values of faith, which is reflected in the chronology of revelation of Al-Kâfirûn , 109/18: 1-6, Yûnus, 10/51: 99, Al-An'am, 6 / 55: 108, As-Shura, 42/62: 15, and Al-'Ankabut, 29/85: 46 in the period Makkiyyah. Then in the next period that is Madaniyyah, when Islam has begun to develop and sturdy, fell Surah Al-Baqarah, 2/87: 256 and Al-Mumtahanah, 60/91: 7-9 is about the threat of social interaction and relations between religious communities , As for the overall tolerance than the verses above are part of the verses Muhkam. Through the study of Islamic education can be inferred understanding of inter-religious tolerance embodied in Koran;First, responsible for the conviction and action;Second, freedom to choose and live their faith without coercion;Third, mutual respect and respect for beliefs;Fourth, to be fair and do good neighbor. Educators and students on inter-religious tolerance in the Koran consists of God as a true educator, Rasulullah as learners as well as educators, and so are all human beings (parents, teachers, and communities) as his own. Religious tolerance as God has described the Koran is a way of life to achieve the degree of Abdullah and Khalifatullah. Allah calls and guiding tolerance to humans through the Koran to take responsibility for and pebuatan beliefs, the freedom to choose and live their faith without coercion, mutual respect and respect beliefs, to be fair and do good neighbor. All of it is the responsibility of man as Abdullah and Khalifatullah is to maintain harmony and peace all over the dynamics of life on earth
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS IV MELALUI PENERAPAN STRATEGI GUIDED NOTE TAKING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI MI MATLA'UL ATFAL
This research was motivated by the low critical thinking skills of fourth-grade students at MI Matla'ul Atfal in Pancasila Education subject. The purpose of this study was to determine the difference in improvement of students' critical thinking skills between the experimental class applying Guided Note Taking strategy and the control class applying Cooperative Learning strategy. The research method used wae quasi-experimental with Nonequivalent Control Group Design. The population was all fourth-grade students at MI Matla'ul Atfal with samples of class IV A (15 students) as experimental class and class IV B (14 students) as control class using purposive sampling technique. Research instruments were pretest-posttest essay tests and learning activity observation sheets. Data analysis used Shapiro-Wilk normality test, homogeneity test, independent t-test, and Mann Whitney test. eesults showed the average pretest score of experimental class was 68.17 and control class 55.14, while the average posttest score of experimental class was 77.17 and control class 52.50. Mann Whitney test results showed sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05, thus H₀ was rejected. The N-Gain value of experimental class was 0.29 (low category) higher than control class -0.07 (decrease occurred). In conclusion, the implementation of Guided Note Taking strategy can improve the critical thinking skills of fourth-grade students in Pancasila Education subject at MI Matla'ul Atfal.
 
Pengembangan Media Video Animasi Berbantuan Games Wordwall untuk Meningkatkan Literasi dan Numerasi Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa
Pembelajaran matematika di sekolah dasar menjadi kajian penting dalam membekali siswa agar memiliki kemampuan menghitung dan mengolah data. Tujuan penelitian ini untuk menguraikan desain pengembangan, kevalidan, kepraktisan dan keefektifan media video animasi berbasis games wordwall untuk meningkatkan literasi dan numerasi itinjau dari gaya belajar siswa. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Research and Development model ADDIE melalui tahapan analysis, design, development, implementation dan evaluation. Subjek penelitian ini adalah 40 siswa kelas VI MI Nurul Huda Surabaya. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, tes dan angket. Analisis data menggunakan ANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan desain video animasi berbantu games wordwall dikembangkan berdasarkan kebutuhan, kurikulum dan karakteristik siswa. Kevalidasn media pembelajaran oleh ahli memperoleh rata-rata diatas 80% sehingga dinyatakan sangat valid. Kepraktisan media secara teori oleh ahli menyatakan praktis dengan sedikit revisi, sedangkan secara praktik oleh respon siswa memperoleh rata-rata 4,40 sehingga sangat praktis. Keefektifan media dengan mengontrol kemampuan awal melalui uji ancova memperoleh nilai signifikasi 0,005 lebih kecil 0,05 artinya Ho ditolak sehingga literasi numerasi siswa yang menerapkan media video animasi berbantu games wordwall lebih baik daripada siswa yang tidak menerapkan media video animasi berbantu games wordwall. Sementara itu, literasi numerasi siswa dengan gaya belajar visual lebih baik dibandingkan gaya belajar auditorial dan kinestetik, dengan rata-rata skor 78,00 yang lebih tinggi dibandingkan 73,71 untuk auditorial dan 58,67 untuk kinestetik
TINJAUAN YURIDIS NORMATIF PERLINDUNGAN HUKUM BAGI "CITIZEN JOURNALISM" DALAM PANDANGAN HUKUM POSITIF INDONESIA
Citizen Journalism is a journalistic activity carried out by non-journalists. The birth of Citizen Journalism activities is one of the influences of the development of the digital world which makes technology and information easily accessible to the public. In its activities, Citizen Journalism does not have a position, activity limitations and legal protection that causes legal consequences. This study aims to analyze and describe the indicators of Citizen Journalism that meet the aspects of positive Indonesian law and legal protection for Citizen Journalism in delivering news to the public. The research method used by the author is normative legal research or commonly known in English as normative legal research. The results of the study show that the indicators of Citizen Journalism in accordance with positive Indonesian law are to comply with the limitations given by the ITE Law, comply with the code of ethics made by PPWI, and follow the Terms and Conditions in the Cyber Media Reporting Guidelines. Legal protection for Citizen Journalism is also not yet regulated in the Law regarding its various activities, but the regulations that can be used by Citizen Journalism at this time are the Law on Freedom of Expression in Public, the Human Rights Law, and the 1945 Constitution
Analisis konten hadis dalam kitab Wawacan Panganten Tujuh
Manuscripts as cultural heritage and knowledge from ancestors are an object that must be continuously preserved in each generation. Likewise with Islamic sciences that continue to be maintained until now thanks to the culture of manuscript preservation from the golden age of Islam, both during the time of mutaqaddimin, mutaakhirin and contemporary. Cultural influences then gave rise to several new patterns in the study of Islamic manuscripts such as tafsir nusantara and many others. One of them is the object of this research, namely the Book of Wawacan Panganten Tujuh which is a collection from the Prabu Geusan Ulun Sumedang Library.
This study aims to analyze the content of hadith contained in the Book of Wawacan Panganten Seven. So researchers try to formulate hadiths in the Book of Wawacan Panganten Seven? And what is the authenticity of the hadith in the Book of Wawacan Panganten Seven? The purpose of this study is to determine the content of hadith, the quality of matan and the understanding of hadith in the Book of Wawacan Panganten Seven. This research is a qualitative research with a descriptive-analytical approach. To obtain results in accordance with research needs, philological theory and tahqiq hadith are used. Wawacan Panganten Tujuh was written by H. M, Husna and is a language transliteration combined with local literature from Kitab As-Sab'iyat fi Al-mawaidz Al-bariyat which was originally Arabic into Sundanese. From the inventory of redactions carried out, there are at least five indications of hadith content in the Book of Wawacan Panganten seven, two of which are not in accordance with any matan redaction. In total there are nineteen hadiths collected. With three hadiths of La Ashlaha, three hadiths of Saheeh, seven Hasan, two dha'if, and four maudhu'. Thus the author of Kitab Wawacan Panganten Tujuh contains the content of hadith in his work
Problematika penentuan awal waktu subuh di Indonesia: Kajian Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 187
ABSTRAK
Problematika penentuan awal waktu subuh mulai muncul ketika ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa waktu subuh di Indonesia terlalu cepat 15-23 menit. Sebagian dari mereka berargumen bahwa kondisi langit sekarang sudah berbeda dengan dulu, sementara sebagian yang lain berargumen dengan beracuan pada subuh yang berada di negara lain, diantaranya Maroko dan Mesir yang mana waktu subuh disana memang lebih lambat. Beberapa penelitian lapangan pun dilakukan oleh para ahli astronomi dan falak terkait kemunculan fajar Shâdiq ini, dengan harapan agar hal ini tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
selain itu perlu juga dilakukan kajian khusus terhadap ayat Al-Qur’an terkait fajar Shâdiq ini, sehingga nantinya bisa dilakukan kontekstualisasi ayat Al-Qur’an terhadap kondisi tempat dan waktu pada masa sekarang. Dari hal tersebut penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang problematika penentuan awal waktu subuh ditinjau dari segi tafsir ayat dengan rumusan masalah: Bagaimana interpretasi Mufassirin terhadap idiom fajar Shâdiq sebagai penanda awal waktu subuh? dan Bagaimana pandangan Ulama falak dan astronomi terhadap idiom fajar Shâdiq sebagai penanda awal waktu subuh?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka penulis menggunakan metode normatif-empiris yang ditinjau dari data kitab tafsir serta didukung dengan data hasil observasi secara astronomi oleh peneliti terdahulu. Penulis memilih Surah al-Baqarah ayat 187 yang menjadi acuan untuk analisis tafsir.
Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa 1) Jumhur Ulama Mufassirin sepakat bahwa waktu subuh dimulai pada waktu ghalas dan diakhiri dengan terbitnya Matahari, namun mereka berselisih pendapat dalam waktu fadhilah subuh, ada yang mengatakan waktu ghalas lebih utama, ada yang mengatakan waktu isfar lebih utama, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa akhir waktu subuh adalah waktu isfar. 2) Dalam penentuan waktu ghalas, ulama falak berbeda pendapat dalam penentuan ketinggian Matahari, berkisar antara 18o sampai 20o, dengan ini maka wacana terlalu cepatnya waktu subuh 15-23 menit dapat ditolak. Sementara waktu isfar jika ditentukan dalam nilai ketinggian matahari bernilai 6o atau 24 menit sebelum matahari terbit, hal ini diperlukan untuk kehati-hatian (ikhtiyat) karena ada ulama yang berpendapat bahwa akhir waktu subuh adalah waktu isfar.
مستخلص البحث
دأت مشكلة تحديد وقت الفجر المبكر في الظهور عندما كان هناك العديد من الأطراف الذين جادلوا بأن وقت الفجر في إندونيسيا كان ١٥-٢٣ دقيقة سريعًا جدًا. يجادل بعضهم بأن ظروف السماء الآن مختلفة عما كانت عليه من قبل ، بينما يجادل بعضهم بالإشارة إلى الفجر في بلدان أخرى ، بما في ذلك المغرب ومصر حيث يكون الفجر أبطأ بالفعل. كما أجرى علماء الفلك وعلماء الفلك العديد من الدراسات الميدانية فيما يتعلق بظهور فجر الصادق هذا ، على أمل ألا يسبب ذلك اضطرابات في المجتمع. إلى جانب ذلك ، من الضروري أيضًا إجراء دراسة خاصة لآيات القرآن المتعلقة بفجر صادق ، بحيث يمكن إجراء سياق لاحق لآيات القرآن على ظروف المكان والزمان في الوقت الحاضر. من هنا يريد الكاتب أن يتعمق أكثر في مشكلة تحديد وقت الفجر المبكر من حيث تفسير الآية مع صياغة المشكلة: كيف يمكن تفسير المفصرين لمصطلح فجر صادق كعلامة لبداية الفجر؟ فَجر؟ وما هي آراء علماء الفلك والفلك في اصطلاح فجر صادق كعلامة لبداية الفجر؟
للإجابة على السؤال أعلاه ، يستخدم الكاتب الطريقة المعيارية التجريبية التي يتم عرضها من بيانات كتاب التفسير والمدعومة ببيانات من الملاحظات الفلكية للباحثين السابقين. اختار المؤلف سورة البقرة الآية ١٨٧ وهي المرجع لتحليل التفسير.
يستنتج من هذه الورقة أن ١) يتفق جمهور العلماء المفسرين على أن وقت الفجر يبدأ على وقت الغلا وينتهي بزوغ الشمس ، لكنهم يختلفون في وقت الفضيلة عند الفجر ، والبعض يقول أن الوقت. الغلاس أهم ، والبعض يقول إن وقت العصف أهم ، والبعض يرى أن آخر الفجر هو وقت العصفار. ٢) عند تحديد وقت غلاس ، يكون لعلماء الفلك آراء مختلفة في تحديد ارتفاع الشمس ، والتي تتراوح من ١٨ درجة إلى ٢۰ درجة ، وبذلك يمكن رفض الخطاب القائل بأن وقت الفجر سريع جدًا لمدة ١٥-٢٣ دقيقة. وأما وقت العصفار إذا حُدِّد في قيمة ارتفاع الشمس قبل شروق الشمس بستة درجات أو أربع وعشرين دقيقة ، فهذا ضروري للخطية لأن هناك علماء يجادلون في أن آخر الفجر هو وقت عصفار.
ABSTRACT
The problem of determining the dawn, the beginning of ṣubḥ/fajar prayer time raises when there were several parties who argued that the dawn time in Indonesia was 15-23 minutes earlier. Some of them argue that the sky conditions are now different from before, while some of them argue with reference to dawn time in other countries, including Morocco and Egypt in which the dawn is somewhat later. Some astronomers and falak scholars conduct field studies to observe the appearance of the so-called fajar Shâdiq, with the hope that this would not cause confusion in the community.
On the other hand, it is also necessary to conduct a special study of the Quranic verses related to fajar Shâdiq, in a wider agenda to contextualize the verses in such an up-to-date way by considering the present conditions of place and time. Having this on mind, the author wants to examine more deeply about the problem of determining the beginning of dawn in the tafsīrs (interpretation) of some verses through questioning: the ways in which Muslim scholars interpret the idiom fajar Shâdiq being a marker of the beginning of dawn? And specifically the astronomers and scholars of falak?
In doing so, the author uses the normative-empirical method in delving the books of tafsīr and considers supporting data from astronomical observations by previous research. The author chooses Q. 2:187 as the limitation for the analysis of the tafsīrs.
This paper argues that 1) majority of the exegetes agree that the time of fajar begins at the time of ghalas and ends with the rising of the sun. Yet they disagree on the faḍīla time for fajar prayer. Some scholars state that the time of ghalas is more important, while others say that the time of isfar is more important. Some scholars even argue that the end of the dawn is the time of isfar. 2) In determining the time of ghalas, astronomers have different opinions in determining the height of the sun, ranging from 18o to 20o. This rejects the assumption that the dawn time is 15-23 minutes earlier. On the other hand, the height of the sun for isfar is of the altitude of 6o or 24 minutes before sunrise. This data is needed for caution (ikhtiyāṭ) for there are scholars who argue that the end of dawn is the time of isfar
