1,721,242 research outputs found
Studi Fenomenologi:Peran perawat Dalam Penetapan Level Triase
Triase adalah proses pengumpulan informasi dari pasien, mengkategorikan dan memprioritaskan kondisi pasien dan merupakan bagian dari upaya manajemen patient safety di rumah sakit khususnya di Instalasi gawat darurat. Model triase yang banyak di gunakan di Dunia termasuk di Indonesia adalah triase lima level yang menempatkan pasien pada lima prioritas yaitu Resucitation, Emergent, Urgent, Nonurgent, Referred. Triase secara otonomi dilakukan oleh perawat yang teregistrasi dan telah mengikuti pelatihan khusus triase. di Indonesia, triase lima level telah digunakan di Rumah sakit umum dan evaluasi terkait pelaksanaannya masih belum banyak terpublikasi. Peran perawat dalam proses triase termasuk hal yang baru dan memerlukan pegkajian lebih mendalam terkait pengalaman perawat terhadap penetapan level triase. Penelitian kuaitatif fenomenologi desktriptif dilakukan pada enam partisipan yang merupakan perawat instalasi gawat darurat yang bekerja di ruang Triase, wawancara mendalam dilakukan dan hasil wawancara di transkrip dan dinalisis menggunakan metode Miles and Huberman (1994). Hasil penelitian didapatkan tiga tema besar yaitu level triase berdasarkan pengkajian primer, perawat belum mandiri, kolaborasi dokter dan perawat. Pelaksanaan triase belum menjadi tindakan mandiri perawat dan merupakan bagian dari tim triase dimana keputusan triase masih bergantung pada dokter. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait efisiensi dan efektifitas pelaksanaan triase oleh perawat di intalasi gawat darurat
Abstract
Triage is the process of collecting information from patients, categorizing and prioritizing the patient's condition and is part of patient safety management efforts in hospitals, especially in emergency departments. The triage model widely used in the World including Indonesia is a five-level triage that places patients on five priorities: Resucitation, Emergent, Urgent, Nonurgent, Referred. Triage is autonomously performed by registered nurses and has attended special triage training. In Indonesia, a triage of five levels has been used in public hospitals and evaluations related to their implementation have not been widely publicized. The role of nurses in the triage process is novel and requires a more in-depth review of nurses' experience of establishing triage levels. A qualitative study of descriptive phenomenology was performed on six participants who were nurses who worked in the Triage room. Research was conducted by conducting in-depth interviews and the results were analyzed using Miles and hubermen (1997). The research results obtained three major themes namely the level of triage based on the primary assessment, nurses have not been independent, collaboration of doctors and nurses. Implementation of triage has not been a self-sustaining act of nurses and is part of the triage team where triage decisions are still dependent on physicians. Further research is needed regarding the efficiency and effectiveness of triage implementation by nurses in emergency departmen
Efektivitas Pembelajaran Triase Berbasis Simulasi terhadap Kompetensi Triase Mahasiswa Keperawatan pada Prodi D-III Keperawatan Aceh Tenggara Poltekkes Kemenkes Aceh
ABSTRACT Emergency services require timely access and appropriate competence in ensuring patient safety. Triage competency supports nursing task performance and nurse self-efficacy in the emergency department. However, the triage competence of nurses is still low in terms of the lack of knowledge of triage nurses, negative nurse practices, and attitudes. Clinical practice education programs must be developed to improve clinical reasoning competencies in order to improve the triage competence of nursing students. Simulation-based triage learning is a teaching method by designing triage concepts, discussing cases, and simulating triage actions into video media. The use of video in triage learning includes creative and innovative methods in increasing learning motivation. This study aims to analyze the effectiveness of simulation-based triage learning on the triage competence of nursing students in the D-III Nursing Study Program, Poltekkes Kemenkes Aceh. The research design is a quasi-experimental study with a pre and post-test approach without control. The population in this study were all students of the Southeast Aceh D-III Nursing study program, the Aceh Ministry of Health Polytechnic, totaling 76 people. Sampling using the total sampling technique must meet the inclusion criteria. The results of data analysis using the Wilcoxon test found that the average triage competence of nursing students before learning triage based on simulation was 118.43. The mean triage competence of nursing students after triage learning based on simulation was 162.97. There was a significant effect of nursing management e-learning collaboration on increasing the competence of nursing students. There is a significant effect of simulation-based triage competency learning on the improvement of nursing students' triage competence. Based on the results of this study, it is suggested to educators be able to design nursing action videos in applying simulation-based learning methods to achieve student triage competencies. Keywords: Competency, Nursing, Triage, Simulation. ABSTRAK Pelayanan gawat darurat membutuhkan akses tepat waktu dan kompetensi yang sesuai dalam menjamin keselamatan pasien. Kompetensi triase mendukung kinerja tugas keperawatan dan self-efficacy perawat di bagian gawat darurat. Namun, kompetensi triase perawat masih rendah dari aspek pengetahuan triase perawat yang kurang, praktik dan sikap perawat negatif. Program pendidikan praktek klinis harus dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi penalaran klinis dalam rangka meningkatan kompetensi triase mahasiswa perawat. Pembelajaran triase berbasis simulasi merupakan metode pengajaran dengan mendesain konsep triase, pembahasan kasus dan simulasi tindakan tiase ke dalam media video. Penggunaan video dalam pembelajaran triase termasuk metode yang bersifat kreatif dan inovatif dalam meningkatkan motivasi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pembelajaran triase berbasis simulasi terhadap kompetensi triase mahasiswa keperawatan pada Program Studi D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Aceh. Desain penelitian ini adalah penelitian quasi experimental dengan pendekatan pre and post test without control. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa program studi D-III Keperawatan Aceh Tenggara, Poltekkes Kemenkes Aceh yang berjumlah 76 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dan harus memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis data dengan menggunakan uji wilcoxon didapatkan bahwa rerata kompetensi triase mahasiswa keperawatan sebelum pembelajaran triase berbasis simulasi adalah 118,43. Rerata kompetensi triase mahasiswa keperawatan setelah pembelajaran triase berbasis simulasi yaitu 162,97. Terdapat pengaruh signifikan kolaborasi e-learning manajemen keperawatan terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa keperawatan. Terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran kompetensi triase berbasis simulasi terhadap peningkatan kompetensi triase mahasiswa keperawatan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada pendidik agar dapat mendesain video tindakan keperawatan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis simulasi untuk pencapaian kompetensi triase mahasiswa. Kata Kunci: Kompetensi, Keperawatan, Triase, Simulas
HKI Karpet Pembelajaran Triase START
Hak Karya Intelektual (HKI) Karpet Pembelajaran Triase STAR
Pengetahuan triase pada perawat di rumah sakit: A scoping review
Background: Triage knowledge is an important aspect of nursing practice, particularly in hospital emergency departments (EDs). Effective triage can improve the quality of patient care and optimize health resources. However, there is a gap between the triage knowledge that nurses have and the practice applied in the field. Various studies have shown that although nurses have an understanding of triage theory, implementation in the field is often not optimal. This can affect the quality of health services and patient safety.
Purpose: To explore the triage knowledge of nurses in hospitals and the challenges faced in its implementation.
Method: A scoping review was conducted by searching articles from three databases, namely CINAHL, PubMed, and Scopus. The keywords used included “triage knowledge,” “nurses”, “hospitals”, and “triage practice”. Inclusion criteria included articles published in English that addressed nurses' triage knowledge in a hospital context. Data were extracted using manual tables, and data analysis was performed in a qualitative descriptive manner.
Results: There were seven articles that met the inclusion criteria and addressed nurses' triage knowledge in hospitals. Results showed that although nurses have basic knowledge of triage, there are challenges in optimal implementation, such as the lack of use of standardized triage scales. Themes identified included improving knowledge through training, the influence of work experience, as well as the need for continuing education. Variables influencing triage knowledge included formal education, work experience, and type of training received.
Conclusion: Triage knowledge in hospital nurses requires more attention in terms of continuing education and training. Further research is needed to explore strategies that can improve effective triage implementation in clinical practice.
Suggestion: Future research could conduct more in-depth longitudinal studies to explore the impact of ongoing triage training on nurses' skills and practices in emergency situations, as well as to assess the effectiveness of using standardized triage scales across cultural contexts and health systems.
Keywords: Knowledge; Nurses; Triage.
Pendahuluan: Pengetahuan triase merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan, khususnya di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Triase yang efektif dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien dan mengoptimalkan sumber daya kesehatan. Namun, terdapat kesenjangan antara pengetahuan triase yang dimiliki perawat dan praktik yang diterapkan di lapangan. Berbagai studi menunjukkan bahwa meskipun perawat memiliki pemahaman tentang teori triase, penerapan di lapangan sering kali tidak optimal. Hal ini dapat berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengetahuan triase pada perawat di rumah sakit dan tantangan yang dihadapi dalam implementasinya.
Metode: Penelitian scoping review dilakukan dengan pencarian artikel dari tiga database, yaitu CINAHL, PubMed, dan Scopus. Kata kunci yang digunakan mencakup "pengetahuan triase", "perawat", "rumah sakit" dan "praktik triase". Kriteria inklusi meliputi artikel yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan membahas pengetahuan triase perawat dalam konteks rumah sakit. Data diekstraksi menggunakan tabel manual, dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif.
Hasil: Terdapat tujuh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan membahas pengetahuan triase perawat di rumah sakit. Hasil menunjukkan bahwa meskipun perawat memiliki pengetahuan dasar tentang triase, terdapat tantangan dalam penerapan yang optimal, seperti kurangnya penggunaan skala triase terstandarisasi. Tema yang diidentifikasi meliputi peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, pengaruh pengalaman kerja, serta kebutuhan akan pendidikan berkelanjutan. Variabel yang mempengaruhi pengetahuan triase termasuk pendidikan formal, pengalaman kerja, dan jenis pelatihan yang diterima.
Simpulan: Pengetahuan triase pada perawat rumah sakit memerlukan perhatian lebih dalam hal pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi strategi yang dapat meningkatkan penerapan triase yang efektif dalam praktik klinis.
Saran: Penelitian selanjutnya dapat melakukan studi longitudinal yang lebih mendalam untuk mengeksplorasi pengaruh pelatihan triase berkelanjutan terhadap keterampilan dan praktik perawat dalam situasi darurat, serta untuk menilai efektivitas penggunaan skala triase terstandarisasi di berbagai konteks budaya dan sistem kesehatan.
Kata Kunci: Pengetahuan; Perawat; Triase
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PERAWAT DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS TRIASE
Kemampuan triase yang optimal dapat diterapkan dengan baik oleh perawat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang adekuat. Ketidaktepatan triase mengakibatkan ketidaefektifan tenaga kesehatan dalam memberipelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi klisinya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat pengetahuan dan keterampilan perawat di Instalasi Gawat Darurat terhadap ketepatan penilaian triase. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Responden yang terlibat merupakan perawat pelaksana yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat dan berjumlah 54 orang, yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Pengambilan data menggunakan instrumen yaitu Triage Knowledge Questioner dan Triage Skill Questioner. Hasil penelitian didapatkan bahwa dalam aspek pengetahuan yang paling kurang dilakukan oleh perawat adalah aspek pemilihan kategori triase dengan persentase 96,3%, dan aspek keterampilan triase perawat dalam mengalokasikan pasien berada dalam kategori cukup yaitu sebanyak 83,3%.Tujuan dari penatalaksanaan triase adalah untuk meyakinkan bahwa pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan tingkat prioritasnya. Pelatihan triase dan penggunaan modul dan algoritma dapat membuat proses triase menjadi lebih praktis, optimal dan efisien sehingga meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PEMBERIAN LABEL TRIASE DENGAN TINDAKAN PERAWAT BERDASARKAN LABEL TRIASE DI IGD RUMAH SAKIT PETROKIMIA GRESIK
Triase adalah suatu sistem seleksi dan pemilihan pasien untuk menentukan tingkat kegawatan dan prioritas penanganan pasien. Masih ada kesalahan dalam pemilahan triase sehingga seharusnya bisa ditangani di poli rawat jalan dimasukkan di IGD yang akhirnya terdapat pasien yang membutuhkan penanganan yang segera tidak tertangani dengan maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan perawat tentang pemberian labeling triase dengan tindakan perawat berdasarkan labeling di IGD. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Populasi adalah Perawat IGD di Rumah Sakit Gresik. Sampel dalam penelitian ini adalah 12 perawat yang telah dikumpulkan dengan menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Spearman Rho dengan p<0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan yang sangat kuat antara pengetahuan dan tindakan perawat p=0,002; r=0,802. Rekomendasi dari penelitian ini digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan program-program untuk meningkatkan pengetahuan perawat dalam melakukan tindakan triase secara tepat sehingga bisa diterapkan dengan baik
APLIKASI DESKTOP SISTEM TRIASE UNTUK PENDUKUNG PRIORITAS TINGKAT KEGAWATAN
Pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) didasarkan pada tingkat kegawatan pasien. Pasien yang datang lebih awal belum tentu segera dilakukan tindakan medis. Kondisi seperti ini yang menyebabkan pelayanan seolah – olah terasa lambat. Triase adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawat - daruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada. Salah satu metode yang di gunakan pada Triase adalah metode Simple Triage and Rapid Treatment (START). Pelaksanaan metode ini adalah memilah pasien dengan memberi tanda warna berdasarkan prosedur – prosedur yang sudah ditetapkan. Dalam keadaan yang darurat, faktor psikis dapat menyebabkan potensi terjadinya kesalahan dalam memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatannya, teruma pada rumah sakit besar dengan jumlah pasien di UGD yang banyak.
Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, proses triase menggunakan metode START dapat dikembangkan secara terkomputerisasi dengan membuat aplikasi berbasis komputer. Tujuannya adalah dapat mempercepat dan mengurangi tingkat kesalahan pada saat melakukan proses triase karena faktor human error sering kali terjadi pada saat kondisi darurat. Fitur pada aplikasi ini selain menu untuk klasifikasi pasien, juga terdapat menu biodata dan label warna pasien sebagai tanda tingkat kegawatan. Pada penelitian ini dibuat aplikasi triase menggunakan metode START berbasis komputer.
Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa semua fitur aplikasi triase 100% dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hasil proses klasifikasi kegawatan pasien pada aplikasi Triase menggunakan metode START ini sudah sesuai dengan rule yang telah ditetapkan
HUBUNGAN PENGETAHUAN, PENGALAMAN BEKERJA, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN PELATIHAN TRIASE DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN TRIASE OLEH PERAWAT DI RSUD DR. RASIDIN TAHUN 2021
Peningkatan jumlah pasien yang datang ke IGD mengakibatkan terjadinya kepadatan kunjungan. Sehingga perawat diharuskan melakukan triase dengan cepat dan tepat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan pengetahuan, pengalaman bekerja, tingkat pendidikan, dan pelatihan triase dengan pengambilan keputusan triase oleh perawat di IGD RSUD dr. Rasidin tahun 2021. Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 17 orang perawat. Pengambilan data dilakukan menggunakan triage knowledge questionare (TKQ) dan lembar studi dokumentasi. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 64,7% perawatmemiliki pengetahuan yang baik mengenai triase. Perawat IGD yang memiliki pengalaman bekerja lebih dari lima tahun dengan presentase 76,5%, presentase perawat yang memiliki tingkat pendidikan Ners adalah 70,6%, dan sebanyak 88,2% perawat hanya memiliki satu pelatihan terkait triase. Jenis pelatihan terkait triase yang pernah diikuti oleh perawat IGD diantaranya pelatihan BTCLS, ENIL, dan ACLS. Terdapat hubungan pengetahuan dan pengalaman bekerja dengan pengambilan keputusan triase dengan P value 0,05. Dengan diadakannya pelatihan secara berkala dan berkelanjutan. diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan perawat. Pengurangan rotasi perawat dapat dilakukan agar perawat memiliki kemampuan yang baik terkait triase, sehingga dapat meningkatkan keakuratan dalam melakukan pengambilan keputusan triase.
Kata Kunci : pengambilan keputusan triase, pengetahuan, pengalaman bekerja, tingkat pendidikan, pelatihan triase
Daftar Pustaka : 100 (2000-2020
HUBUNGAN INTERUPSI DENGAN KETEPATAN TRIASE DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
Triase adalah salah satu tindakan penting di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penelitian terdahulu menyatakan bahwa 44,4% dari 1.091 proses triase menunjukkan ketidaktepatan triase. Interupsi triase meningkatkan lama waktu triage, mengganggu konsentrasi dan mengakibatkan ketidaktepatan triase. Rumah Sakit Islam Sultan Agung merupakan salah satu rumah sakit rujukan di Semarang yang memiliki rata-rata kunjungan pasien IGD yang tinggi. Hal ini menyebabkan multitasking pada perawat yang dapat meningkatkan interupsi triase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan interupsi dengan ketepatan triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian kuantitatif observasi dengan dengan cross-sectional study. Sampel yang diambil adalah 204 kejadian triase di IGD RSI Sultan Agung Semarang, dengan menggunakan teknik accidentally sampling. Interupsi dan ketepatan triase di ukur dengan menggunakan TIAT dan lembar observasi ketepatan triase. TIAT di uji validitas dengan menggunakan Content Validity Index (CVI) oleh tiga expert dan di uji reliabilitas dengan menggunakan Cohen Kappa. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas triase tepat (80, 4%), tingkat interupsi rendah (40,65%) dan p value< α (X2=42,56, p value=0,00, α=0.05). Hal ini menunnjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara interupsi dan ketepatan triase sehingga perawat IGD perlu mengantisipasi terjadinya interupsi pada saat triase. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan studi mengenai interupsi triase.
Kata kunci: Instalasi Gawat Darurat (IGD), triase, interupsi triase dan ketepatan triase
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Relawan Bencana Dengan Keterampilan Melakukan Triase Metode Start Di Kota Bukittinggi
Metode Triage START adalah sistem triase yang sederhana dan mudah digunakan atau diterapkan dalam pemilihan menggunakan warna merah, kuning, hijau, hitam. Triage adalah tindakan memilih korban sebelum ditangani dengan cepat berdasarkan berat luka yang harus diprioritaskan. Triase metode START sangat diperlukan sebelum petugas kesehatan datang untuk membantu. Relawan bencana memiliki fungsi yang sangat penting untuk menyelamatkan korban bencana, terutama di Kota Bukittinggi, harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan triase metode START. Pada kenyataannya masih ada banyak sukarelawan bencana yang tidak memiliki pengetahuan dan sikap dalam keterampilan untuk melakukan triase metode START. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan keterampilan dalam melaksanakan metode triase START di Kota Bukittinggi pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi cross-sectional. Hasil penelitian lebih dari separuh responden yang terampil memiliki pengetahuan tinggi 47 (52,8%) dan hasil penelitian lebih dari setengah responden memiliki sikap positif yaitu 48 (53,9%), sedangkan hasil keterampilan penelitian lebih dari setengah sukarelawan terampil adalah 55 (61,8%) dalam triase metode START, sehingga ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap relawan dengan keterampilan untuk melakukan triase metode START di kota. Bukittinggi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 89 sukarelawan di Kota Bukittinggi, penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel dengan stratified sampling. Analisis pengetahuan relawan diperoleh p = 0,001, dengan OR = 0,203, sedangkan sikap relawan diperoleh p = 0,3474, dengan OR = 3,474. Disimpulkan bahwa pengetahuan relawan dan sikap relawan secara statistik terkait dengan keterampilan relawan dalam melaksanakan metode triase START. Direkomendasikan bahwa BPBD Bukittinggi memberikan pelatihan tentang tanggap darurat bencana, terutama dengan triase metode START
- …
