Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
    9773 research outputs found

    Penggunaan Minyak Kelapa Murni sebagai Agen Deparafinisasi terhadap Kualitas Pewarnaan Hematoksilin Eosin pada Jaringan Hepar Mencit (Mus musculus)

    Full text link
    Latar Belakang: Deparafinisasi merupakan tahap penting dalam proses pewarnaan jaringan histologi untuk menghilangkan parafin sebelum pewarnaan. Xylol sebagai agen deparafinisasi standar diketahui memiliki efek toksik bagi kesehatan dan lingkungan. Minyak kelapa murni digunakan sebagai alternatif agen deparafinisasi yang lebih aman dan ramah lingkungan. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui kualitas pewarnaan hematoksilin eosin pada jaringan hepar mencit (Mus musculus) menggunakan minyak kelapa murni sebagai agen deparafinisasi dibandingkan dengan xylol. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional. Sampel berupa jaringan hepar mencit dibagi dalam dua kelompok: deparafinisasi menggunakan xylol dan minyak kelapa murni. Kualitas pewarnaan hematoksilin eosin dinilai berdasarkan kejelasan warna inti, kejelasan warna sitoplasma, keseragaman, dan kejernihan pewarnaan menggunakan sistem skoring dan dianalisis secara deskriptif. Hasil Penelitian: Hasil pengamatan menunjukkan bahwa preparat yang dideparafinisasi menggunakan minyak kelapa murni yang dipanaskan pada suhu 50°C selama 10 menit menghasilkan kualitas pewarnaan yang setara dengan xylol. Seluruh preparat pada kedua kelompok mendapatkan skor tertinggi yang menunjukkan hasil kejelasan warna inti dan sitoplasma baik, kejernihan pewarnaan baik serta keseragaman pewarnaan baik. Kesimpulan: Minyak kelapa murni pada suhu 50°C selama 10 menit sebagai pengganti xylol pada proses deparafinisasi menghasilkan kualitas pewarnaan hematoksilin eosin (HE) pada jaringan hepar mencit yang setara dengan xylol Kata Kunci: Minyak kelapa murni, xylol, deparafinisasi, pewarnaan hematoksilin eosin

    PERBEDAAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PENGAMBILAN DARAH VENA PENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN PEMBENDUNGAN 1 MENIT DAN 3 MENIT

    Full text link
    ABSTRAK Latar Belakang : Pemeriksaan jumlah trombosit merupakan bagian penting dalam penatalaksanaan penderita diabetes melitus. Tahap pra-analitik, khususnya lama pembendungan saat pengambilan darah vena yang tidak tepat, berpotensi mempengaruhi hasil akibat terjadinya hemokonsentrasi dan dapat menyebabkan adanya peningkatan atau penurunan pada hasil pemeriksaan trombosit. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah trombosit pada pengambilan darah vena penderita diabetes melitus dengan pembendungan selama 1 menit dan 3 menit. Metode : Penelitian ini menggunakan desain ekperimen dengan pendekatan Static group comparison. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium puskesmas Keraton Kota Yogyakarta. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien penderita diabetes melitus Puskesmas Keraton Kota Yogyakarta. Sampel pasien berjumlah 30 responden. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji normalitas data Shapiro-Wilk dan uji beda Paired Samples T Test. Hasil : Pada uji normalitas data, pembendungan vena selama 1 menit memiliki signifikan P sebesar 0,076 dan pada waktu pembendungan vena selama 3 menit memiliki hasil signifikan P sebesar 0,072 dan uji beda didapatkan hasil dengan nilai sebesar 0.032. Jumlah trombosit pada pembendungan 3 menit mengalami peningkatan sebesar 2,86 %. Kesimpulan : Ada perbedaan bermakna jumlah trombosit penderita diabetes melitus dengan pembendungan vena selama 1 menit dan 3 menit Kata Kunci : Pembendungan Vena, Trombosit, Pasien Diabetes Melitus

    PENERAPAN FOOT ELEVATION 30 DERAJAT TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN SIRKULASI PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI RUANG ICCU RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

    Full text link
    Latar Belakang : Congestive Heart Failure (CHF) atau sering dikenal dengan gagal jantung merupakan suatu kondisi kegagalan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh sehingga jaringan-jaringan dalam tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi untuk metabolism. Salah satu tanda dan gejala CHF adalah adanya edema pada ekstremitas atas, bawah, dan paru. Pentingnya pitting edema segera ditangani untuk mencegah komplikasi dari permasalahan edema.Salah satu penatalaksanaan untuk menurunkan derajat edema adalah dengan melakukan elevasi kaki 30 derajat. Tujuan : Mampu menerapkan elevasi kaki 30 derajat dalam asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan sirkulasi pada pasien CHF di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Metode : Studi kasus yang melibatkan 2 pasien dengan Congestive Hearth Failure (CHF). Instrument yang digunakan berupa SOP terapi elevasi kaki 30 derajat. Pengukuran derajat edema. Terapi elevasi kaki 30 derajat dilakukan 10 menit sebanyak 2 kali sehari selama 3 hari. Hasil : Masalah keperawatan pada kedua pasien adalah penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas. Setelah dilakukan terapi elevasi kaki 30 derajat selama 2 kali sehari dalam 3 hari berturut turut dengan rentang waktu 10 menit masalah keperawatan teratasi sebagian dengan menurunnya derajat edema pada kedua pasien. Pembahasan : Studi kasus ini sesuai dengan penlitian sebelumnya yang mengatakan penerapan elevasi kaki 30 derajat mampu menurunkan derajat pitting edema pada pasien CHF. Kesimpulan : Terapi foot elevation 30 derajat mampu menurunkan derajat pitting edema pada pasien Congestive Hearth Failure (CHF) Kata Kunci : Foot elevation 300 , Elevasi Kaki 300, Congestive Hearth Failure, Gagal Jantung Kongestif, CH

    PERBEDAAN PENDIDIKAN KESEHATAN ANTARA MEDIA LEMBAR BALIK DENGAN LEAFLET TERHADAP PENGETAHUAN PERAWATAN KAKI PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS GAMPING 2

    Full text link
    Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi serius yang sering dijumpai pada penderita diabetes mellitus, umumnya kondisi ini dijumpai pada pasien dengan gangguan neuropati perifer, gangguan pembuluh darah tepi, atau kombinasi keduanya. Komplikasi ulkus kaki diabetik menempati urutan pertama yang mengarah pada penyebab amputasi. Perawatan mandiri kaki sangat penting untuk dilakukan oleh semua orang terutama oleh pasien diabetes mellitus untuk mencegah komplikasi kaki. Hal ini dikarenakan pasien diabetes mellitus sangat rentan mengalami luka kaki, dimana proses penyembuhan luka tersebut memerlukan waktu yang lama. Namun, edukasi perawatan kaki masih minim, seperti yang ditemukan di Puskesmas Gamping 2, Sleman. Media edukasi seperti lembar balik dan leaflet dinilai efektif untuk meningkatkan pengetahuan pasien, terutama pada kelompok usia yang kurang akrab dengan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya pendidikan kesehatan melalui media yang tepat guna meningkatkan kesadaran pasien diabetes tipe 2 dalam melakukan perawatan kaki untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Tujuan Penelitian: mengetahui perbedaan pendidikan kesehatan antara media lembar balik dengan leaflet terhadap pengetahuan perawatan kaki pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Gamping 2. Metode: Jenis penelitian digunakalan metode quasy eksperiment dengan Metode pendekatan pretest-posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Gamping 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan Uji Wilcoxon dan Uji Mann Whitney. Hasil: Hasil Uji Wilcoxon pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan nilai p=0.001. Sehingga terdapat perbedaan tingkat pengetahuan pada masing-masing kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah diberikan intervensi. Hasil uji Man Whitney p= 0,001. Kesimpulan: Terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada pasien diabetes tipe 2 di Puskesmas Gamping 2. Kata Kunci: Diabetes Mellitus tipe 2, Perawatan Kaki Diabetik, Lembar Balik, Leafle

    PERBANDINGAN TEKNIK HOMOGENISASI DARAH EDTA DENGAN TEKNIK INVERSI DAN ANGKA DELAPAN TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT

    Full text link
    Latar Belakang: Laboratorium klinik berperan dalam pemeriksaan spesimen klinis untuk mendukung diagnosis dan pengobatan pasien, termasuk pemeriksaan hematologi seperti hitung jumlah trombosit. Homogenisasi darah dengan antikoagulan EDTA sebelum pemeriksaan merupakan tahap penting untuk mencegah agregasi dan pembekuan darah. Teknik homogenisasi manual yang umum digunakan adalah teknik inversi dan teknik angka delapan. Teknik inversi dinilai dapat meminimalisir lisis sel, namun berisiko pencampuran tidak merata, sedangkan teknik angka delapan lebih merata tetapi meningkatkan risiko lisis dan agregasi trombosit. Hingga saat ini, pengaruh kedua teknik tersebut terhadap hasil hitung jumlah trombosit belum banyak diteliti, padahal variasi teknik di laboratorium dapat mempengaruhi akurasi hasil. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil jumlah trombosit pada darah EDTA yang dihomogenkan dengan teknik inversi dan teknik angka delapan. Tujuan: Mengetahui apakah ada perbedaan jumlah trombosit teknik homogenisasi darah EDTA dengan teknik inversi dan teknik angka delapan. Metode: Jenis penelitian penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional. Instrumen penelitian menggunakan Sysmex XN 1000 (hematology analyzer). Hasil: Jumlah trombosit yang dihomogenisasikan dengan teknik inversi memiliki rerata 330.60 ribu/µl, standar devisiasi 96.779 dengan nilai terendah 160 dan nilai tertinggi 470 sedangkan jumlah trombosit yang dihomogenisasikan dengan teknik angka delapan memiliki rerata 314.50 ribu/µl, standar devisiasi 92.960 dengan nilai terendah 145 dan nilai tertinggi 445. Kesimpulan: Ada perbedaan pada jumlah trombosit darah EDTA yang dihomogenkan dengan teknik inversi dan teknik angka delapan. Kata Kunci: Jumlah Trombosit, Darah EDTA, Teknik Homogenisasi

    HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU PASCA PERSALINAN DENGAN PENGGUNAAN KB PASCA PERSALINAN DI WILAYAH PUSKESMAS SLEMAN

    Full text link
    Latar Belakang: Berdasarkan data Kesga tahun 2024, didapati bahwa capaian pengguna KB pasca persalinan sebanyak 38,04%, dan masih belum mencapai target sasaran. Pengetahuan menjadi salah satu sumber informasi yang dapat mengubah perilaku seseorang. Perubahan perilaku penggunaan KB pasca persalinan akan menunjang terpenuhinya target penggunaan KB pasca persalinan. Tujuan: menganalisis dan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu pasca persalinan terhadap penggunaan KB pasca persalinan di Puskesmas Sleman. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan April 2025 di wilayah kerja Puskesmas Sleman. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu pasca persalinan di Puskesmas Sleman tahun 2024 yang telah melakukan kunjungan Nifas (KF) ke IV sebanyak 731 orang dengan sampel sebanyak 88 orang. Teknik sampel menggunakan simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian: sebanyak 62 orang (100%) ibu berpengetahuan baik dan 1 orang (5.6%) ibu berpengetahuan cukup tentang KB pasca persalinan telah menggunakan KB pasca persalinan. Sebanyak 17 orang (94.4%) ibu berpengetahuan cukup dan 8 orang (100%) ibu berpengetahuan kurang tentang KB pasca persalinan tidak menggunakan KB pasca persalinan. Hasil uji chi square menunjukkan nilai p value = 0,000 < 0,05 maka dapat diartikan bahwa adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu pasca persalinan dengan penggunaan KB pasca persalinan. Kesimpulan: terdapat hubungan signifikan tingkat pengetahuan ibu pasca persalinan terhadap penggunaan KB pasca persalinan. Kata kunci: Tingkat Pengetahuan KB, KB Pasca Persalinan, Penggunaan KB Pasca Persalina

    PENGARUH PEMBERIAN PUDING “SEMATEL” BUAH SEMANGKA (CITRULLUS LANNATUS) DAN WORTEL (DAUCUS CAROTA L) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA PREHIPERTENSI DAN HIPERTENSI

    Full text link
    Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang banyak menyebabkan kematian, terutama di negara berkembang, dan sering tidak bergejala dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Selain obat, pengendalian hipertensi bisa dilakukan melalui konsumsi makanan tinggi kalium dan serat. Semangka dan wortel mengandung senyawa yang berpotensi menurunkan tekanan darah, dan puding sebagai olahan yang disukai banyak orang dapat menjadi media konsumsi yang tepat. Tujuan : Mengetahui pengaruh dari pemberian Puding “SEMATEL” (semangka dan wortel) terhadap perubahan tekanan darah pada penderita prehipertensi di Posbindu Assyifa Kramatan. Metode : Jenis Penelitian ini adalah ini menggunakan Quasy Eksperiment Design dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Postettest yaitu pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2025. Populasi penelitian ini ada seluruh orang dewasa dan lansia di Posbindu Assyifa Kramatan. Sampel penelitian berjumlah 23 orang yang mengalami prehipertensi dan hipertensi. Analisis data menggunakan Wilcoxon. Hasil : Rata- rata darah sistolik responden sebelum diberikan Puding “Sematel” yaitu 127,26±2,19 mmHg dan rata-rata tekanan darah sistolik responden setelah diberikan Puding “Sematel” yaitu 123,65±2,02 mmHg. Sedangkan Rata-rata tekanan darah diastolik responden sebelum diberikan Puding “Sematel” yaitu 80,35±0,98 mmHg. Rata-rata tekanan darah diastolik responden setelah diberikan Puding “Sematel” yaitu 78,83±1,12mmHg. Terdapat perbedaan pada tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah perlakuan (p = 0,000) dan tekanan darah diastolik (p= 0,000) setelah diberikan perlakuan puding Sematel. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian puding Sematel terhadap tekanan darah dewasa dan lansia pada penderita prehipertensi dan hipertensi. Kata Kunci : Prehipertensi, Hipertensi, Semangka, Worte

    PEMANFAATAN KONDENSAT AC (AIR CONDITIONER) DAN AIR MINUM KEMASAN SEBAGAI PELARUT MEDIA MALT EXTRACT AGAR (MEA) PADA PERTUMBUHAN JAMUR Trichophyton rubrum

    Full text link
    ABSTRAK Latar belakang:Kondensat Air Conditioner (AC) belum dimanfaatkar secara maksimal, padahal gedung dan beberapa rumah menggunakan AC sebagai pendingin ruangan. Kondensat AC bisa digunakan sebagai pengganti akuades berdasarkan kesamaan sifatnya. Alternatif lainnya yaitu air minum kemasan yang mudah ditemui di mana saja, relatif murah dan tidak bersifat toksik terhadap organisme sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pelarut media. Media Ma/t Extract Agar (MEA) merupakan media sintetik yang mengandung nutrisi dan memiliki pH 5.5 yang mendukung pertumbuhan jamur. Jamur Trichophyton rubrum merupakan masalah infeksi kulit yang sering dijumpai di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Tujuan :Untuk mengetahui bahwa kondensat AC dan air minum kemasan dapat dimanfaatkan sebagai media pelarut Malt Extract Agar (MEA) pada pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Metode: Metode pada penelitian ini adalah Intact-Group Comparison dengan subjek jamur Trichophyton rubrum. Objek penelitian adalah media MEA yang dilarutkan dengan tiga jenis pelarut: akuades, kondensat AC, dan air minum kemasan. Masing-masing perlakuan diulang sembilan kall. Analisis analitik dilakukan dengan menghitung selisih diameter pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Analisis statistilk dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk, uji homogenitas, dan One Way ANOVA dengan SPSS 16.0. Hasil: Rerata diameter jamur Trichophyton rubrum pelarut akuades sebesar 71,01 mm, kondensat AC 73,63 mm, dan air minum kemasan 67,54 mm. Kondensat AC menunjukkan efektivitas tertinggi sebesar 103,68%, sedangkan air minum kemasan 95,1 1%. Uji ANOVA menunjukkan ada perbedaan hasil pertumbuhan diameter jamur Trichophyton rubrum yang tumbuh pada media MEA akuades, kondensat AC dan air minum kemasan (p=0,00) Kesimpulan: Kondensat AC maupun air minum kemasan dapat dimanfaatkan sebagai pelarut media MEA untuk pertumbuhar Trichophyton rubrum. Kata kunci: Diameter, karakteristik jamur, kondensat AC, air minum kemasan, MEA, Trichophyton rubrum ABSTRACK Background: Air Conditioner (AC) condensate has not been maximally utilized, even though buildings and some homes use AC as air conditioning. AC condensate can be used as a substitute for distilled water based on its similarity. Another alternative is bottled drinking water which is easily found anywhere, relatively cheap and not toxic to organisms so that it can be used as a media solvent. Malt Extract Agar (MEA) media is a synthetic media that contains nutrients and has a pH of 5.5 which supports fungal growth. Trichophyton rubrum fungus is a skin infection problem that is often found in tropical climates such as Indonesia. Objective: To find out that air conditioner condensate and bottled drinking water can be utilized as mediasolvent Malt Extract Agar (MEA) on the growth of the fungus Trichophyton rubrum. Methods: The method in this study is Intact-Group Comparison with the subject of Trichophyton rubrum fungus, The object ofthe study was MEA media dissolved with three types of solvents: distilled water, AC condensate, and bottled drinking water. Each treatment was repeated nine times. Analytical analysis was performed by calculating the difference in the growth diameter of Trichophyton rubrum fungus. Statistical analysis was performed using Shapiro-Wilk test, homogeneity test, and One Way ANOVA with SPSS 16.0. Results: The mean diameter of Trichophyton rubrum fungus in distilled water solvent was 71.01 mm, AC condensate 73.63 mm, and bottled water 67.54 mm. AC condensate showed the highest effectiveness of 103.68%, while bottled water 95. 1 1 %. ANOVA test shows there is a difference in the results of the growth of the diameter of Trichophyton rubrum fungi that grow on MEA media distilled water, AC condensate and bottled drinking water (p = 0.00) Conclusion: AC condensate and bottled drinking water can be utilized as solvents for MEA media for Trichophyton rubrum growth. Keywords: Fungal diameter, characteristics, air conditioning condensate, bottled water, MEA, Trichophyton rubrum

    PERBEDAAN JUMLAH ERITROSIT PADA PENGAMBILAN DARAH VENA PENDERITA DIABETES MELITUS DENGAN PEMBENDUNGAN 1 MENIT DAN 3 MENIT

    Full text link
    Latar Belakang : Salah satu faktor pra-analitik yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan jumlah eritrosit adalah lama pembendungan vena saat pengambilan darah. Pembendungan yang terlalu lama dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga meningkatkan jumlah eritrosit yang terukur. Tujuan : Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui adanya perbedaan, rerata dan selisih jumlah eritrosit pada pengambilan darah vena penderita diabetes melitus dengan lama pembendungan selama 1 menit dan 3 menit. Metode : Penelitian ini menggunakan desain ekperimen dengan pendekatan Static group comparison. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium puskesmas Keraton kota Yogyakarta. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien penderita diabetes melitus puskesmas keraton kota yogyakarta. Sampel pasien berjumlah 30 responden. Data yang diperoleh dianalisis secara statitik menggunakan uji normalitas data Shapiro-Wilk dan uji beda Paired Samples T Test. Hasil : Pada uji normalitas data, pembendungan vena selama 1 menit memiliki hasil signifikan P sebesar 2.43 dan pada waktu pembendungan vena selama 3 menit memiliki hasil signifikan P sebesar 0.155 dan uji beda didapatkan hasil dengan nilai sebesar 0.031 yang berati signifikan. Jumlah eritrosit pada pembendungan 3 menit hanya mengalami peningkatan sebesar 1,313%. Kesimpulan : Adanya perbedaan bermakna waktu pembendungan vena selama 1 menit dan 3 menit terhadap jumlah eritrosit. Kata Kunci : Pembendungan Vena, Eritrosit, Pasien Diabetes Melitus

    GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG KARIES GIGI DAN MOTIVASI MEMERIKSAKAN GIGI KE FASILITAS KESEHATAN PADA ANAK REMAJA

    Full text link
    GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG KARIES GIGI DAN MOTIVASI MEMERIKSAKAN GIGI KE FASILITAS KESEHATAN PADA ANAK REMAJA Siti Mawaddatul Halimah1, Taadi2, Hari Wibowo3 1,2,3Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Kyai Mojo No 56, Pingit, Yogyakarta 55243 email : [email protected] ABSTRAK Latar Belakang : Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukan bahwa 56,9% masyarakat yang mengaku mempunyai masalah kesehatan gigi hanya 11,2% yang berobat ke tenaga medis untuk mengatasi masalah tersebut. Kesadaran masyarakat untuk pemeriksaan dan pemeliharaan gigi masih tergolong rendah. Rata-rata yang datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi gigi sudah bermasalah dan rasa sakit yang sangat mengganggu sehingga dapat menimbulkan komplikasi dan penyakit lain. Tujuan : Diketahuinya pengetahuan karies gigi dan motivasi memeriksakan gigi ke fasilitas kesehatan pada anak remaja. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah anak remaja di Dusun Pancas sebanyak 40 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampel jenuh menggunakan kriteria inklusi dan eklusi. Aspek yang di teliti yaitu pengetahuan tentang karies gigi dan motivasi memeriksakan gigi ke fasilitas kesehatan pada anak remaja penelitian dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan data menggunakan distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Hasil : Tingkat pengetahuan anak remaja tentang karies gigi termasuk kriteria baik (70%), pengetahuan kurang (12,5%). Motivasi memeriksakan gigi kriteria sedang (47,5%). Kesimpulan : Tingkat pengetahuan anak remaja tentang karies gigi termasuk kriteria baik dan motivasi memeriksakan gigi termasuk dalam kriteria sedang. Kata Kunci : Pengetahuan, karies gigi, motivasi, fasilitas kesehatan, anak remaj

    8,142

    full texts

    9,773

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇