Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
9773 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 1 SLEMAN
Latar Belakang: Keputihan merupakan masalah ginekologi umum pada remaja putri. Persentase wanita Indonesia yang mengalami keputihan cukup besar yaitu sekitar 75% dari 118 juta wanita yang berada di Indonesia pernah mengalami keputihan paling tidak satu kali. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kebersihan organ genital, psikologis, asupan makanan, lingkungan fisik, dan aktivitas fisik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keputihan pada remaja putri di SMAN 1 Sleman tahun 2025
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah siswi kelas X dan XI SMAN 1 Sleman sebanyak 343 orang dengan sampel 190 orang. Sampel diambil dengan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat, bivariat (chi-square) dengan α=0,05, dan multivariat (regresi logistik).
Hasil: Hasil menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan keputihan pada remaja putri adalah perilaku genital hygiene (p=0,000), keadaan psikologis (p=0,023), pola konsumsi makanan (p=0,027), dan aktivitas fisik (0,041). Perilaku genital hygiene merupakan faktor paling dominan berhubungan dengan keputihan (OR = 5,2, p-value < 0.001)
Kesimpulan: Perilaku genital hygiene, keadaan psikologis, pola konsumsi makanan, dan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan keputihan pada remaja putri. Perilaku genital hygiene menjadi faktor paling berpengaruh. Disarankan untuk meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi dan promosi perilaku genital hygiene yang baik.
Kata Kunci: Keputihan, Genital Hygiene, Psikologis, Pola Makan, Aktivitas Fisi
PENERAPAN EFFLEURAGE MASSAGE UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA NYAMAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI SECTIO CAESARIA DI RST DR. SOEDJONO MAGELANG
Latar Belakang: Nyeri pasca operasi Sectio Caesarea (SC) merupakan salah satu masalah utama yang dapat mengganggu kenyamanan, proses pemulihan, dan aktivitas ibu setelah melahirkan. Penatalaksanaan nyeri umumnya dilakukan dengan terapi farmakologis, namun penggunaan obat-obatan seringkali belum memadai dan dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, terapi non farmakologis seperti effleurage massage menjadi alternatif yang penting untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Effleurage massage adalah teknik pijat lembut dengan gerakan mengusap secara ritmis pada permukaan kulit, bertujuan
memberikan efek relaksasi, meningkatkan sirkulasi darah, serta menurunkan persepsi nyeri.
Tujuan: Studi ini bertujuan menerapkan effleurage massage sebagai upaya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman nyeri pada pasien Pasca operasi SC di Rumah Sakit Tk II dr. Soedjono Magelang.
Metode: Studi kasus pada dua ibu pasca SC di RS Dr. Soedjono Magelang. Instrumen menggunakan lembar observasi modifikasi dan SOP Effleurage Massage yang dilakukan selama 15-20 menit sehari dua kali selama 3 hari.
Hasil: Hasil penerapan menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri dan peningkatan kenyamanan pada pasien setelah diberikan effleurage massage selama 4 sesi dengan durasi waktu 15-20 menit, sebelum diberikan pemijatan skala nyeri berada direntang nyeri sedang ke berat (6-7), setelah diberikan pemijatan menurun berada direntang nyeri ringan (1-3). Terapi ini juga dapat mengurangi kecemasan dan mendukung proses bonding ibu dan bayi. Effleurage massage direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan komplementer untuk mengurangi nyeri pada pasien Pasca operasi SC, serta dapat diterapkan secara mandiri oleh pasien dengan bimbingan perawat, sehingga diharapkan mampu
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan maternitas secara holistik.
Keywords: Sectio Caesarea, Effleurage Massage, Nyer
EFEKTIVITAS BABY BLANKET THERMAL (BBT) TERHADAP STABILITAS SUHU TUBUH BBLR DI RSUP dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
Latar Belakang: Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sangat rentan mengalami hipotermia akibat belum matangnya sistem termoregulasi. Metode perawatan seperti nesting bedong kain belum sepenuhnya efektif menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil, sehingga diperlukan intervensi yang lebih praktis dan efisien. Baby Blanket Thermal (BBT) merupakan inovasi dengan bahan isolasi aluminium foil yang dirancang menyerupai posisi fleksi fisiologis bayi, berpotensi memberikan kehangatan lebih optimal
Tujuan: Mengetahui efektivitas Baby Blanket Thermal (BBT) terhadap stabilitas suhu tubuh BBLR di ruang NICU RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain Experiment Pretest–Posttest Control Group Design with Serial Measurement. Subjek penelitian berjumlah 34 BBLR yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan (BBT) dan kelompok pembanding (nesting bedong kain). Pemilihan kelompok dilakukan dengan randomisasi sederhana. Data dikumpulkan melalui pengukuran suhu tubuh secara serial sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji McNemar dan uji Chi Square.
Hasil: Terjadi peningkatan suhu signifikan pada kedua kelompok setelah diberikan intervensi. Proporsi subjek dengan suhu stabil pada kelompok BBT menunjukkan peningkatan dari 52,9% menjadi 94,1% (p = 0.016), sementara pada kelompok nesting bedong kain meningkat dari 47,1% menjadi 82,4% (p = 0.031). Tidak ada perbedaan peningkatan signifikan antar kelompok (p =0,601), namun secara deskriptif BBT lebih unggul.
Kesimpulan: BBT maupun nesting bedong kain efektif dalam menjaga stabilitas suhu tubuh BBLR. Secara klinis (data empiris) BBT menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi namun tidak signifikan secara statistik. Intervensi ini dapat menjadi pilihan alternatif perawatan non-inkubator di ruang NICU.
Kata Kunci: BBLR, hipotermia, Baby Blanket Thermal, nesting, suhu tubu
PENGELOLAAN BANK SAMPAH BERKAH ALAM DUKUH KIRINGAN, PONGGOK, KECAMATAN POLANHARJO, KABUPATEN KLATEN
Latar Belakang : Jumlah sampah di Kabupaten Klaten mencapai 160 ton per hari. Untuk mengatasinya, didirikan Bank Sampah Berkah Alam pada 1 Oktober 2021 di RT 01 Dukuh Kiringan, Kecamatan Polanharjo. Bank sampah ini mendorong warga memilah dan menabung sampah, sehingga meningkatkan kesadaran lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Tujuan : Untuk mengetahui pengelolaan Bank Sampah Berkah Alam Dukuh Kiringan, Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.
Metode : Metode yang diguakan dalam penelitian ini deskriptif. Data diperoleh dengan observasi dan wawancara menggunakan formulir Permen LH No. 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan 3R melalui bank sampah.
Hasil : Alur pengelolaan sampah anorganik dilakukan dengan tahap pemilahan, penyetoran, penimbangan, pencatatan, dan penjualan. Jenis sampah paling banyak ditabung yaitu sampah kardus. Keaktifan nasabah bulan Januari-Maret 2025 terdapat 7 nasabah aktif. Penilaian standar manajemen bank sampah mendapatkan skor 20 dari skor maksimal 28 yang berarti standar manajemen Bank Sampah Berkah Alam memenuhi persyaratan.
Kesimpulan : Pengelolaan sampah di Bank Sampah Berkah alam memenuhi persyaratan pada Permen LH No. 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan 3R.
Kata Kunci : Bank Sampah, Sampah Anorganik, Manajemen Bank Sampa
KONSELING GIZI DENGAN MEDIA TELEHEALTH BERKIAT (BERSAMA KITA SEHAT) UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN DIET DASH PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS GAMPING I
ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu masalah utama di Puskesmas Gamping I yang menempati urutan pertama dalam 10 besar penyakit pada pasien rawat jalan dengan jumlah estimasi penderita hipertensi yaitu 5.089 orang. Kejadian hipertensi dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan kepatuhan diet DASH. Konseling gizi merupakan salah astu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan diet DASH.
Tujuan: Mengetahui perbedaan konseling gizi dengan media telehealth BERKIAT (Bersama Kita Sehat) dibandingkan media leaflet untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan diet DASH pasien hipertensi di Puskesmas Gamping I.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifat eksperimen semu atau quasi experiment dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group with pretest – posttest. Penemitian dilaksanakan pada bulan Januari dan Februari di Desa Ambarketawang dan Balecatur. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow dengan jumlah minimal adalah 30 orang. Variabel bebas yaitu media Telehealth BERKIAT (intervensi) dan Leafleat (kontrol). Sedangkan variabel terikat yaitu pengetahuan dan kepatuhan diet DASH yang diukur sebelum dan setelah intervensi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney pada program SPSS.
Hasil: Terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan diet DASH pasien hipertensi dengan delta mean konseling gizi menggunakan media Telehealth BERKIAT 15,94 (p 0,001) dan media Leafleat dengan delta mean 10,00 (p 0,001). Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan peningkatan pengetahuan antar media bermakna p 0,002. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan kepatuhan diet DASH pasien hipertensi dengan delta mean konseling gizi menggunakan media Telehealth BERKIAT 0,42 (p 0,001) dan media Leafleat dengan delta mean 0,48 (p 0,000) Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan peningkatan kepatuhan diet DASH antar media bermakna p 0,022.
Kesimpulan: Media Telehealth BERKIAT dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan diet DASH lebih baik dibandingkan media Leaflet
GAMBARAN PENGETAHUAN KARIES GIGI DI PONDOK PESANTREN MAHASISWA (PPM)
Latar Belakang: Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai di masyarakat, termasuk di lingkungan pondok pesantren. Prevalensi masalah karies gigi di wilayah Yogyakarta mencapai 41,7%. Tingginya prevalensi karies gigi dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai penyebab, pencegahan, dan perawatan karies gigi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di pondok pesantren mahasiswa tentang pengetahuan karies gigi pada Oktober 2024, didapatkan 90% santri tidak mengetahui penyebab karies gigi serta cara mencegahnya. Tujuan: Diketahuinya gambaran pengetahuan karies gigi di pondok pesantren mahasiswa. Metode: Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara sampel jenuh dari seluruh santri yang berjumlah 250 responden. Pengukuran pengetahuan karies gigi menggunakan kuesioner dengan 20 butir soal. Penelitian dianalisis dengan distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 76.8% santri memiliki pengetahuan karies gigi dengan kriteria baik, 16% memiliki pengetahuan karies gigi dengan kriteria sedang, dan 7.2% memiliki pengetahuan karies gigi dengan kriteria buruk. Kesimpulan: Pengetahuan karies gigi santri pondok pesantren mahasiswa berada dalam kriteria baik.
Kata Kunci: Karies gigi, Pengetahuan, Santri, Pondok Pesantren Mahasisw
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Hemoglobin Menggunakan Alat Point Of Care Testing (POCT) Dengan Alat Hematologi Analyzer Pada Remaja Putri di Puskesmas Mergangsan
Latar Belakang : Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah dan berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh serta membawa karbondioksida dari jaringan tubuh kembali ke paru-paru. Anemia merupakan masalah kesehatan karena kekurangan hemoglobin yang sering terjadi terutama dikalangan remaja putri. Ada beberapa alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan hemoglobin di laboratorium. Alat yang sering kita temui adalah Point Of Care Testing (POCT) dan hematologi analyzer.
Tujuan: Menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan hemoglobin pada remaja putri antara alat POCT dengan alat hematologi analyzer.
Metode: Jenis penelitian komparatif dengan desain penelitian cross sectional. Metode pengambilan sampel adalah incidental sampling, sampel berupa darah vena dari 40 responden. Instrumen penelitian menggunakan POCT Easy Touch GCHb dan hematologi analyzer Sismex XP-100.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan rerata kadar hemoglobin menggunakan POCT 12,21 g/dl. Dan menggunakan hematologi analyzer 12,66 g/dl. Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk menunjukan untuk POCT nilai p sebesar 0,391 (≥0,05) dan untuk hematologi analyzer 0, 121 (≥0,05) berarti data berdistribusi normal dan hasil analisis data statistik Paired sampel t test didapatkan nilai sig.(2- tailed) = 0,000 (<0,05).
Kesimpulan : Ada perbedaan secara statistic yang signifikan hasil pemeriksaan hemoglobin pada remaja putri menggunakan alat POCT dengan alat hematologi analyzer namun secara klinis tidak ada pengaruh yang signifikan.
Kata Kunci: Hemoglobin, Remaja Putri, POCT dan Hematologi Analyze
GAMBARAN KELAIKAN HIGIENE SANITASI PADA MAKANAN DIET BIASA DI INSTALASI GIZI RST dr. SOEDJONO MAGELANG
Makanan yang aman dan bergizi merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi, terutama di rumah sakit yang menyelenggarakan makanan untuk pasien dan karyawan. Hasil observasi di Instalasi Gizi RST dr. Soedjono Magelang menunjukkan masih adanya ketidaksesuaian pada fasilitas dapur dan perilaku petugas, seperti tempat sampah terbuka dan penggunaan APD yang tidak lengkap.Oleh karena itu, penerapan prinsip Higiene dan Sanitasi Makanan (HSM) menjadi langkah penting dalam mencegah risiko kontaminasi dan memastikan makanan yang disajikan layak serta aman dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelaikan higiene sanitasi makanan di Instalasi Gizi RST dr. Soedjono Magelang. Metode penelitian ini yaitu observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 3-4 Februari 2025 dengan 1x wawancara bersama kepala unit gizi dan 3 orang pemasak, serta dilakukan pengamatan sebanyak 2x ditinjau dari 13 komponen uji kelaikan higiene sanitasi makanan yang diterapkan di Instalasi Gizi RST dr. Soedjono Magelang dengan penilaian menggunakan formulir uji kelaikan higiene sanitasi jasaboga menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1096/Menkes/Per/VI/2011. Berdasarkan hasil penelitian, aspek penilaian kelaikan higiene sanitasi makanan yang terpenuhi yaitu sebesar 82,5%, sedangkan 17,5% belum terpenuhi. Total skor penilaian kelaikan higiene sanitasi makanan di Instalasi Gizi RST dr. Soedjono Magelang yaitu sebesar 84. Dapat disimpulkan bahwa kriteria kelaikan higiene sanitasi makanan di Instalasi Instalasi Gizi RST dr. Soedjono Magelang termasuk dalam kategori laik, karena sudah melampaui skor minimal yaitu 83. Kata Kunci: Higiene sanitasi makanan, Skor kelaikan higiene sanitasi makanan, kriteria higiene sanitasi makana
ANALISIS HUBUNGAN SKRINING MEAN ARTERIAL PRESSURE (MAP) DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS TEMPEL 1 SLEMAN
Latar belakang: Preeklamsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang dapat berdampak serius bagi kesehatan ibu dan janin. Deteksi dini melalui metode skrining seperti Mean Arterial Pressure (MAP) menjadi penting untuk mengidentifikasi risiko secara lebih cepat dan tepat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hasil skrining MAP dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di Puskesmas Tempel 1 Sleman.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik kuantitatif menggunakan data sekunder dari catatan medis. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tempel 1 Sleman dan dilakukan pada bulan Februari 2025 dengan mencatat data ANC bulan Januari 2024 hingga Juni 2024.
Populasi terdiri dari 151 ibu hamil yang sekaligus dijadikan sampel (total sampling). Analisis data dilakukan dengan uji Fisher’s Exact Test untuk mengevaluasi hubungan antara status MAP (positif atau negatif) dengan kejadian preeklamsia. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tempel 1 Sleman dan dilakukan pada bulan Februari 2025 dengan mencatat data ANC bulan Januari 2024 hingga Juni 2024.
Hasil: Dari total 151 ibu hamil, 76 orang (50,3%) memiliki hasil MAP positif, dan 75 orang (49,7%) MAP negatif. Terdapat 4 kasus preeklamsia (2,7%) yang seluruhnya berasal dari kelompok MAP positif. Uji Fisher’s Exact Test menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara status MAP dan kejadian preeklamsia (p = 0,120). Hal tersebut bisa terjadi karena jumlah sampel terlalu kecil atau karena adanya kontribusi variabel lain, diantaranya adalah umur ibu, paritas dan Indeks Masa Tubuh.
Simpulan: Meskipun hasil analisis statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara MAP dan preeklamsia, secara klinis terdapat indikasi bahwa MAP tinggi dapat berkaitan dengan peningkatan risiko preeklamsi. Oleh karena itu, MAP tetap relevan untuk digunakan sebagai indikator awal dalam skrining risiko preeklamsia.
Kata kunci: Mean Arterial Pressure (MAP), preeklamsia, ibu hamil, skrinin
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NEONATAL JAUNDICE DI RUMAH SAKIT DR. SOETARTO YOGYAKARTA TAHUN 2023
Latar Belakang: Neonatal Jaundice bisa menyebabkan kematian bayi. Prevalensi
Neonatal jaundice cukup tinggi. Di Indonesia sebesar 51,47%, di RS Dr Soetarto
dari 249 kelahiran, 147 bayi mengalami neonatal jaundice (59%).
Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi neonatal jaundice di
RS Dr Soetarto Yogyakarta tahun 2023.
Metode: Dengan analitik observasional, pendekatan case control. Sampel diambil
dengan simple random sampling dari populasi bayi usia 2-7 hari dengan derajat
kramer ≥4. Menggunakan data sekunder. Variabel independen meliputi usia ibu,
usia kehamilan, jenis kelamin bayi, jenis persalinan dan berat badan lahir bayi.
Analisis data dengan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-
Square dan analisis multivariat dengan analisis regresi logistic.
Hasil: Dalam kelompok kasus, mayoritas usia ibu 20-35 tahun (76%), jenis kelamin
bayi laki-laki (53%), usia kehamilan >37 minggu (87%), jenis persalinan SC (59%)
dan berat badan lahir bayi normal (>2500gr). Usia ibu tidak ada hubungan (p
value=0,581). Jenis kelamin ada hubungan (p value=0,000). Usia kehamilan tidak
ada hubungan (p value=0,083). Jenis persalinan tidak ada hubungan (p
value=0,724). Berat badan lahir bayi ada hubungan (p value=0,005).Variabel
paling dominan adalah berat badan lahir bayi odd ratio (OR) sebesar 6,444.
Kesimpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi neonatal jaundice di RS Dr
Soetarto adalah jenis kelamin dan berat badan lahir. Yang paling dominan adalah
berat badan lahir.
Kata Kunci: Neonatal Jaundice, Hiperbilirubinemia, Faktor Risiko, Bayi Baru
Lahi