1,723,289 research outputs found
PLANET HARMONIK KARYA ALOYSIUS SUWARDI
PLANET HARMONIK karya Aloysius Suwardi. Bermula imajinasi, menjadi bunyi. Planet Harmonik berpijak dari pandangan Pythagoras, bahwa pergerakan semesta, termasuk perputaran planet-planet, memiliki dengung suara. Hanya saja, telinga manusia tak mampu menjangkaunya. Aloysius Suwardi, seorang pengrawit Jawa tulen, mencoba menerjemahkan suara-suara itu lewat komposisi musiknya. Ia berada di garis demarkasi tradisi, berusaha menemukan formulasi instrumen baru, disertai kejanggalan dalam pembunyian dan teknik penyuaraan yang memukau. Dipentaskan di Teter Kecil ISI SURAKARTA, Pada hari Sabtu Tanggal 16 Juli 2016 Pukul 14.00 WIB
PEMIKIRAN PENDIDIKAN SUWARDI SURYANINGRAT (1911-1934)
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemikiran Suwardi Suryaningrat
mengenai pendidikan pada periode 1911-1934. Penelitian ini berusaha menganalisis
dinamika pemikiran Suwardi Suryaningrat mengenai pendidikan berdasarkan konteks
sosial, politik dan kebudayaan di mana Suwardi berada dan senantiasa berubah dari
waktu ke waktu.
Penelitian ini menggunakan metode historis dengan teknik penulisan
deskriptif naratif untuk menjelaskan perkembangan pemikiran Suwardi Suryaningrat.
Sumber yang digunakan berupa sumber pustaka dan sumber lisan. Sumber pustaka
yang digunakan adalah karya-karya Suwardi Suryaningrat yang sudah dibukukan.
Sumber lisan diperoleh melalui wawancara degan anggota Majelis Taman Siswa
Jakarta yakni Ki Sunarno.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Suwardi Suryaningrat
mengenai pendidikan merefleksi dan aksi atas kondisi masyarakat Hindia yang
sedang mengalami penjajahan. Suwardi kemudian tidak sekadar menjadikan Taman
Siswa sebagai pusat pendidikan saja, melainkan juga sebagai pusat kebudayaan
masyarakat sekitarnya dan pusat gerakan sosial-masyarakat.Ia meletakkan dasar
kemerdekaan sebagai azas pendidikan anak-anak, karena dia mengetahui bahwa
model pendidikan seperti ini dapat mengisi jiwa dan pikiran merdeka pada anak-anak
di negeri jajahan, dengan itu akan memunculkan keberanian pada diri mereka untuk
berjuang.
This research made to explain the educational idea of Suwardi Suryaningrat
1911-1934. Through the research, the author trying to analyzed the struggle in
educational idea of Suwardi Suryaningrat based on social, politics, and cultural
context according to Suwardi existence through the times.
This research used historical method with descriptive-narrative technical
writing in order to explain the progress of Suwardi Suryaningrat’s idea. The sources
had been used in this research was earned by literature sources and oral information.
Literature sources that the author used was books written by Suwardi Suryaningrat.
The oral information earned by interviewing Ki Sunarno, a member of Majelis Taman
Siswa Jakarta.
Result of the research showed that the ideas of Suwardi Suryaningrat about
education reflects the condition of Indisch people who suffered through colonialism.
Suwardi builts Taman Siswa not only for education center but also as cultural center
for the people around and as a social movement. He puts the independence spirit as
fundamental of the education because he understand that the fundamental might bring
independence spirit and idea to the children in colonized country, so the children
might have courage to face the struggle or even fight the colonialis
Suwardi : Tokoh Pengembang Wayang Beberdi Pacitan
Tokoh adalah seseorang yang terkemuka atau mendapat pengakuan, dan berhasil dibidangnya, atau seseorang yang memegang peranan penting dalam suatu bidang atau mempunyai pengaruh dalam aspek kehidupan tertentu di masyarakat. Seseorang tersebut berasal, dibesarkan, dan hidup dalam lingkungan masyarakat tertentu, salah satunya adalah tokoh sebagai seniman. Latar belakang sosial dan kultural berpengaruh terhadap Suwardi untuk menjadikan alam di Pacitan sebagai inspirasi dalam kehidupannya, menuangkan ide kreatif terhadap karya yang diciptakan. Karya wayang beber tradisi hasil pengembangannya merupakan sebuah karya yang bermakna. Melalui berbagai pameran seni rupa yang diikuti di nasional maupun Internasional menjadikan posisi Suwardi sebagai seniman dan mempunyai kontribusi dalam seni rupa masa kini di Pacitan. Apresiasi dan penghargaan, merupakan pengakuan publik terhadap Suwardi sebagai tokoh seniman pengembang wayang beber.
Kata kunci : Tokoh, Suwardi, Wayang beber,
Is one of the leading figures or recognition, and successful in their field, or someone who plays an important role in the field or have influence in certain aspects of life in the community. Someone came, raised, and living in a particular community, one of which is the figure as an artist. Social and cultural backgrounds influence the Suwardi to make Pacitan nature as inspiration in his life, creative ideas to the work created. Tradition of wayang beber works investment results is a meaningful work. Through various art exhibitions followed in national and International make Suwardi position as an artist and has contributed to contemporary art in Pacitan. Appreciation and awards, the public recognition of the artist as a character developer Suwardi wayang beber
Keywords: Figures, Suwardi, Wayang beber
Tari berthema"Geger"
Tari berthema"Geger"
Karya: Suwardi, Ujian penyajian Tari, Pendapa ISI Surakart
Swara gentha karya Al Suwardi
Dalam tulisan ini disebutkan bahwa latar belakang yang menarik tentang Gamelan Kyai Genthana dan Swara Gentha seolah menghadirkan keselarasan bentuk dan keberadaan diantara keduanya. Gamelan Kyai Gamelan merupakan salah satu hasil dari manifestasi politik Keraton Surakarta untuk berinteraksi dengan orang-orang Belanda, sedangkan Swara Gentha menjadi hasil dari manfistesai kreatif yang dilakukan oleh Al Suwardi dalam usahanya menghadrikan interaksi antara budaya lama dengan budaya modern. Dengan demikian, Gamelan Kyai Genthana maupun Swara Gentha ciptaan Al Suwardi masing-masing memiliki fungsi penting di masanya sebagai salah satu elemen proses perkembangan budaya yang sejatinya memeng harus terjadi seiring dengan pergerakan jaman
VISUALISASI PROSES KREATIF ALOYSIUS SUWARDI MELALUI PAMERAN KOLABORATIF “DARI IMAJINASI MENJADI BUNYI”
Sosok Al Suwardi sebagai seorang komposer, pengrawit, dan
organolog gamelan kontemporer layak untuk diangkat menjadi sebuah
karya kolaboratif yang artistik. Melalui fotografi feature, pembuatan
instalasi musik, dan pertunjukan musik menjadi wadah untuk memuat
kisah perjalanan Al Suwardi dalam berproses menciptakan instrumen
musik inovatif. Karya kolaboratif fotografi feature, pembuatan instalasi
musik, dan pementasan musik tersebut kemudian diwujudkan melalui
bentuk pameran dengan format sajian visual fotografi, instalasi, dan
pertunjukan musik. Berdasarkan alasan tersebut, beberapa poin persoalan
yang dirumuskan dalam karya Tugas Akhir (TA) pameran kolaboratif
yaitu bagaimana pengelolaan urutan bentuk pameran kolaboratif “Dari
Imajinasi Menjadi Bunyi” untuk mengungkapkan sosok Al Suwardi dan
bagaimana bentuk pengungkapan fotografi feature tentang sosok Al
Suwardi “Dari Imajinasi Menjadi Bunyi”.
Tujuan dalam pembuatan Tugas Akhir berjudul Visualisasi Proses
Kreatif Aloysius Suwardi Melalui Pameran Kolaboratif: Dari Imajinasi Menjadi
Bunyi adalah mengungkapkan dan mengenalkan sosok Al Suwardi
melalui urutan bentuk pameran yang dikemas secara kolaboratif dan
mengenalkan secara visual tentang aktivitas proses berkesenian dari sosok
komposer dan organolog, Al Suwardi kepada masyarakat luas melalui
karya fotografi. Pengerjaan karya Tugas Akhir (TA) pameran kolaboratif
ini, pada bagian fotografi menggunakan genre feature biografi. Kedalaman
informasi foto yang ditunjang dengan hasil wawancara kepada
narasumber ini bertujuan agar informasi tentang sosok kesenimanan Al
Suwardi ini lebih mendalam dan memperkuat kesan humanis dari visual
foto. Adanya bangunan instalasi musik dan pertunjukan musik dapat
menjadi alternatif untuk menunjang advokasi etnomusikologi tentang
gambaran sosok kesenimanan Al Suwardi.
Kata kunci: pameran, kolaboratif, fotografi, instalasi, instrumen, musik, Al Suwardi
Suwardi Suryaningrat's Version of the Song L'internationale Based on History, Song Interpretation, and Song Structure
L'internationale is a poem written by Eugène Edine Pottier in 1873. In 1888, the poem was converted into a song by Pierre Chrétien De Geyter and since then L'internationale has been rendered into multiple languages globally, including Indonesian. Suwardi Suryaningrat translated the song L'internationale into Indonesian in 1920. This study aims to find out Suwardi Suryaningrat's cause for translated the song into Indonesian as well as the interpretation and analysis of Suwardi Suryaningrat's version of the L'internationale song. The methods used in this study are musicological analysis and historical methods with a qualitative approach. Suwardi Suryaningrat's reason for translating the song L'internationale into Indonesian is related to his habit of writing and translating foreign languages into Indonesian. The song L'internationale version of Suwardi Suryaningrat conveys a message about liberation from oppression carried out by the colonizers. The song consists of three parts that are organized by following a strophic pattern and a 4/4-time signature.L'internationale is a poem written by Eugène Edine Pottier in 1873. In 1888, the poem was converted into a song by Pierre Chrétien De Geyter and since then L'internationale has been rendered into multiple languages globally, including Indonesian. Suwardi Suryaningrat translated the song L'internationale into Indonesian in 1920. This study aims to find out Suwardi Suryaningrat's cause for translated the song into Indonesian as well as the interpretation and analysis of Suwardi Suryaningrat's version of the L'internationale song. The methods used in this study are musicological analysis and historical methods with a qualitative approach. Suwardi Suryaningrat's reason for translating the song L'internationale into Indonesian is related to his habit of writing and translating foreign languages into Indonesian. The song L'internationale version of Suwardi Suryaningrat conveys a message about liberation from oppression carried out by the colonizers. The song consists of three parts that are organized by following a strophic pattern and a 4/4-time signature
- …
