77 research outputs found

    ANALISIS PENATAAN ARSIP PADA DIREKTORAT KESATUAN PENJAGAAN LAUT DAPANTAI, KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

    Get PDF
    CHYNTIA RAVINO SUWALDI. 2012. 8143097531. Analysis of Archival Arrangement At Coast Guard Directorate, Ministry of Transportation. Program Studi D-III Sekretari. Jurusan Ekonomi dan Administrasi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Jakarta. This paper is intended to know about the implementation analysis of archival arrangement at Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai. The method used in this research is descriptive analysis by collecting the data through literature review and observation. From writing result can concluded that in the implementation of the arrangement of archives necessary knowledge and expertise in the process of filing equipment and supplies that support. In order to reach a good implementation of archival arrangement and in accordance with existing guidelines. Key Words : archives, arrangement of archive

    PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA TERHADAP STABILITAS ASETOSAL DALAM DAPAR FOSFAT

    No full text
    ABSTRACTAsetil salisilat acid or known as acetosal or aspirin is a class of analgetic and antipyretic medicine that used widely. In this research we used acetosal to know it stability for sucrose effect. Acetosal stability examination of temperature effect and pH that done in several sucrose concentration, they are 5,0 %; 10,0 %; and 15,0 % which pH 7,0; 8,0; 9,0 and 10,0 in the 40 0C, 50 0C and 60 0C. The result of research showed that acetosal degradation reaction the sucrose fluid in pH 7,0; 8,0; 9,0 and 10,0 at the 40 0C can speedyacetosal degradation where the speed degradation with sucrose effect has more higher value than the degradation without sucrose effect, while in the 50 0C and 60 0C sucrose made stability of acetosal where degradation value with sucrose effect that smaller than degradation speed without sucrose effect. Key words : asetosal, stability, sucros

    Kinetika dan mekanisme disolusi sulfadiazina dalam: media natrium lauril sulfat

    Get PDF
    ABSTRAK Suatu obat yang praktis tidak larut dalam air seringkali memberikarr bioavailabilitas yang terbatas karena proses absorpsl obat alarn saluran cema dibatasi oleh kecepatan disolusi obat. Percobaan disolusi yang dilakukan dalanr media air kadang-kadang tidak memberikan hash! yang balk untuk memprediksi perilaku obat dalam saluran coma. Penambahan surfaktan dalam media disolusi adalah hal yang lebih balk untuk memprediksi perilaku obat dalam saluran coma terutama tentang disolusinya. Penelitian int ingin mempelajari kinetika dan mekanisme disolusi obat tidak larut yaitu sulfadiazina di dalam medium disolusi larutan natrium lauril sulfat 0.04 M. Disolsi yang dilakukanadalatr disolusi inisial dengan tujuan agar kondisi "sink" selama percobaan tetap berlaku. Selaindisolusi dalam media natrium laud/ sulfat, disolusi dalam media air dikerjakan pula sebagal kontrol. Percobaan dilakukan dengan menggunakan metode °beaker". Penentuan konsentrasi sulfidiazina dalam sampel media dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 259 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disolusi sulfadiazina mengikuti kinetika orde no/ darn kecepatan disolusinya dikontrol oleh kecepatan difusi sulfadiazina dalam lapisan difusi. kecepatan disolusi sulfadiazina dalam larutan natrium laud! sulfat /ebb besar dibandingkan dengan kecepatan disolusinya dalam air. Hukum Fick I memprediksi kecepathn disolusi sulfadiazina yang lebih besar claripada kecepatan disolusi eksperimentalnya dalam larutan natrium laud/ sulfat. Kata kuncl: Disolusi, sulfadiazina, Natrium lauril sulfat. ABSTRACT Drug which has low-water solubility often gives limited bioavailability due to rate of absorption of the drug in the intestine is limited by its dissolution rate. Dissolution study using water as a medium sometimes does not predict drug behavior in the intestine well Dissolution medium with surfactant would predict better the drug dissolution behavior in the gut. The kinetics and mechanisms of dissolution of sulphadiazine in the dissolution medium of sodium lauryl sulphate (0.04M) would be studied. The dissolution initial was performed with the aim of maintaining sink conditions throughout the experiment. The media used were sodium lauryt sulphate solution and waterthe dissolution in water was used as a contra Beaker method was used in this study and the concentrations of sulphadiazine in the samples were determined by using spectrophotometer at wave length of 259 nm. This study shows that the disolutions of sulphadiazine followed zero- order kinetics and the dissolution rates were controlled by diffusion of the drug in the diffusion layer_ The dissolutio

    Hidrolisis redroksimetilfenitoin dan asetoiloksimetilfenttoin pada berbagai p11

    Get PDF
    ABSTRAK Hidroksimetilfenitoin dan asetoiloksimetijenitoin merupakan turunan fenitoin. Turunan ini diperoleh dengan menstubstitusikan gugus hidroksimetil dan asetoiloksimetil pada N3 dari molekul fenitoin. Pengaruh pH terhadap hidrolisis kedua serryawa menunjukkan bahwa dehidroksimetilasi dari hidroksimetilfenitoin dan hidrolisis asetoiloksimetilfenitoin menjadi fenitoin mengikuti kinetika orde pertama. Dekomposisi hidroksimetilfenitoin menjadi fenitoin menunjukkan adanya reaksi yang dikatalisis oleh basa spesifik. Hidrolisis asetoiloksimetilfenitoin dalam suasana alkali menghasilkan suatu profil pHkecepatan yang linear. Hal ini menandakan adanya reaksi yang dikatalisis oleh ion hidroksida. Kata kunci : IlidroksimeWeniioist, asetoiloksimetilfenitoin, hidrolisis ABSTRACT Hydroxymethylphenytoin and acetoyloxymethylphenytoin are phenytoin darivatives. These derivatives were obtained by substitution of hydroxymethyl and acetoyloxymethyl groups for hydrogen atoms at N3 of the phenytoin molecules. Hydrolysis of the two phenytoin derivatives in various pH conditions showed that dehydroxymethylation of hydroxymethylpheny-toin and degradation of acecoyloxrnethylphenytoin to phenytoin follow the pseudo-first orde kinetics. Specific-base catalyzed degradation of the decomposition of hydroxymetkrylphenytoin to phenytoin was observed. Hydrolysis of acetoyloxymethylphenytoin in alkalin solution gave a linear pH-rate profile and this is an indication of degradation reaction which is catalyzed by hydroxide ion. Keywords : Hydroxymethylphenitoin, acetoyloxymethylphenytoin, hydrolysis

    Penyelesaian Analitik dan Numerik Metode Euler pada Bola Jatuh Bebas Dengan Hambatan Udara

    No full text
    Bola jatuh merupakan fenomena alamiah yang dapat dijelaskan oleh hukum-hukum fisika. Salah satu aspek penting dalam pemahaman pergerakan bola jatuh adalah adanya hambatan udara. Hambatan udara muncul ketika sebuah benda bergerak melalui medium udara, dan efeknya dapat dirasakan secara signifikan terutama pada benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Pada penelitian ini menghasilkan model komputasi gerak benda bulat yang dijatuhkan dari gedung yang tinggi dan menghasilkan grafik analisis dalam mengeksplorasi keakuratan suatu algoritma komputasi dengan membandingkan hasil komputasi dengan solusi eksak yang diperoleh sacara analitis. Akurasi kecepatan terhadap waktu dan posisi akan dilakukan dengan menggunakan tiga jenis bola yaitu bola boling, bola basket dan bola golf yang dijatuhkan dari ketinggian 440 meter diatas permukaan tanah. Hasil analisis ketiga bola menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara luas penampang bola, massa bola dengan kecepatan bola saat di udara. Bola bowling dengan luas penampang 0,037 m2 dan massa 7,26 kg, tidak mengalami kecepatan konstan saat jatuh di udara. Pada t = ± 11 sekon bola bowling sudah sampai di tanah dengan kecepatan ± 69 m/s. Bola basket dengan luas penampang 0,046 m2 dan massa 0,625 kg, mengalami kecepatan konstan saat t = ±7,5 s dan mencapai tanah saat t = ± 23 sekon dengan kecepatan ± 20,32 m/s. Bola bisbol dengan luas penampang 0,0043 m2 dan massa 0,145 kg, mengalami kecepatan konstan saat t = ± 8 sekon dan mencapai tanah saat t = ± 16 sekon dengan kecepatan ± 32 m/s

    Pemanfaatan MVC Pattern Untuk Pembuatan Software Aplikasi Administrasi Desa (Studi Kasus Desa Sukapura)

    Get PDF
    Pelayanan Masyarakat merupakan kegiatan yang diperuntukkan untuk melayani masyarakat untuk mempermudah dan membantu masyarakat. Pada era reformasi saat ini masyarakat terbuka dalam memberikan kritikan pada pemerintah dalam pelayan publik dan juga pada saat ini pelayanan publik desa banyak mendapat sorotan dari masyarakat. Penelitian secara langsung di lapangan kelurahan Desa Sukapura, penggunaan sistem administrasi secara manual yang saat ini digunakan membuat waktu pelayanan relatif lama, ketergantungan terhadap kemampuan komputer tenaga administratif tertentu cukup besar, format surat tidak standar, pencatatan administratif yang kurang baik.Penerapan sistem informasi dan konsep E-Government menjadi pertimbangan utama bagi organisasi sektor publik (pemerintah desa) yang melakukan proses penyusunan perencanaan dan pemantuan dan evaluasi hasil pembangunan. Salah satu sistem informasi yang sudah ada yaitu aplikasi desa sundawenang yang akan diterapkan didesa sukapura berbasis web dengan menggunakan metode CBSE (Component-Based Software Engineering). CBSE adalah pendekatan untuk pengembangan perangkat lunak dan penggunaan kembali komponen-komponen perangkat lunak untuk menggantikan teknik pengembangan dari awal seperti yang dipakai selama ini. Reusable code pada web desa sundawenang ke desa sukapura memiliki framework yang berbeda yaitu dari framework laravel ke framework codeigniter. Hasil analisis yang didapatkan berupa nilai rata-rata persenan untuk penggunaan ulang code pada web desa sundawenang ke desa sukapura dengan model sebesar 0%, view 31.9%, controller 0%, database 100%. Sehingga penggunaan ulang code pada web desa sundawenang ke web desa sukapura tidak dapat digunakan ulang code secara penuh

    Piper Betle Leaves Extract Patch: Evaluation of Antibacterial Activity, Release Profile of Eugenol, and Local Tolerance

    Get PDF
    Piper betle leaf in extract form is more effective than crude drug. Eugenol is a component in the extract that has antibacterial activity but irritate. Patch of piper betle leaf extract was used on the mucosa to make oral cavity hygiene. Antibacterial activity was influenced by the release of eugenol from the patch. Release enhancer substances (RES) such as glycerin, propylen glicol and tween 80 were added in patch formulation to increase the release of active substances. The aim of the research was to investigate the physicochemical properties, eugenol release profiles, and local tolerance test of the patch. Extract of piper betle leaf was made using infundation method. Patch was made according to the variation concentration of extract (1, 2 and 4%) and RES (glycerine, propylen glycol and tween 80) using chitosan as vehicle. Patch produced solvent casting method. Patch obtained was tested for swelling index, folding endurance, surface pH, antibacterial activity, release of eugenol, and local tolerance. Data obtained were analyzed descriptively. The result showed that the addition of RES did not affect the surface pH but increase the water absorption with in inconsistent way except patch with tween 80. The flexibility (folding endurance value) increased, and the highest amount of eugenol released was achieved by patch using propylen glicol. Patch with tween 80 and glycerin for all extract concentration and patch with 1% extract concentration using propylen glycol showed medium sensation (local tolerance), and patch with 2 and 4% extract using propylen glycol showed severe sensation

    Pelepasan parasetamol dari matriks etilselulosa = Paracetamol release from ethyl cellulose matrix

    Get PDF
    ABSTRACT: Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuat sediaan lepas terkontrol adalah penggunaan matrik turunan selulosa. Dalam penelitian ini parasetamol digunakan sebagai model obat dan etilselulosa dipakai sebagai bahan matriks. Pelepasan parasetamol dari matriks etilselulosa ditentukan dalam medium dapar fosfat pH 7,0 dan suhu 37°C. Hasll penelitian menunjukkan bahwa pelepasan parasetamol dad matriks etilselulosa berlangsung secara terkontrol dan mempunyai hubungan yang linear dengan waktu dan semakin banyak etilselulosa yang digunakan semakin lambat parasetamol dilepaskan. Erosi merupakan mekanisme yang dominan dalam pelepasan parasetamol dari matriks. Kecepatan pelepasan parasetamol dad formula I adalah 0,673 mg/menit dan dafi formula II adalah 0,944 mg/menit. Kata kunci: pelepasan parasetamol, matriks etilselulosa, pelepasan dalam dapar fosfat pH 7,
    corecore