1,720,965 research outputs found

    Ketoprak Dor: Jejak Para Kuli Kontrak di Deli Serdang hingga Aceh Tengah

    Full text link
    This article explores how contract laborers in Deli, North Sumatra, amidst the repression they received, played a role in developing the Mataraman ketoprak art into a new style of ketoprak called ketoprak dor, a staging style that was born by accident or without planning. Nevertheless, this art was still favored by overseas Javanese contract laborers until the performance was held in the village of Paya Tumpi, Central Aceh, marked by the emergence of several ketoprak dor groups there. This paper also describes how the form of ketoprak dor is in the two regions so that the differences or similarities in the staging styles can be read. This research approach is qualitative with descriptive analysis method. The techniques applied are in-depth interviews, literature studies, observation, documentation (videos, photos/pictures, audio during interviews), video searches on various YouTube accounts and other sources deemed relevant. The results obtained are ketoprak dor in Central Aceh originating from Deli, North Sumatra. The development of the Mataraman ketoprak art into ketoprak dor clearly took place there due to the limited transportation capacity that existed during the Dutch colonial period. This lack of power has encouraged contract workers to play ketoprak bang with makeshift musical instruments. Meanwhile, the existence of ketoprak dor in Central Aceh was encouraged by the existence of the Ketoprak Dor art group from Deli performing in Central Aceh, to be precise in Bies District in the decade of the 1950s. Another view is that Medan people moved to Bies and brought some Ketoprak Dor musical instruments and wanted to sell them when they got there. Because none of the Bies residents were able to redeem them, the Paya Tumpi residents agreed to this and the Ketoprak Dor arts group was formed named Sanggar Ketoprak Rahayu Cipto Rukun in the following decadeKeywords: Ketoprak Dor; Traces Of Contract Laborers ABSTRAKArtikel ini mengemukakan bagaimana para kuli kontrak di Deli, Sumatra Utara, di tengah represi yang diterima turut berperan mengembangkan kesenian ketoprak Mataram-an menjadi ketoprak gaya baru yang disebut ketoprak dor, suatu gaya pementasan yang lahir dari ketidaksengajaan atau tanpa direncanakan. Kendati demikian, kesenian tersebut tetap saja disukai oleh para kuli kontrak beretnis Jawa perantauan hingga pertunjukannya digelar di gampong (kampung) Paya Tumpi, Aceh Tengah, ditandai dengan bermunculannya beberapa grup ketoprak dor di sana. Tulisan ini juga mendeskripsikan bagaimana bentuk kesenian ketoprak dor di kedua wilayah tersebut sehingga dapat terbaca perbedaan atau persamaan gaya pementasannya. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Teknik yang diterapkan ialah wawancara mendalam, studi kepustakaan, observasi, dokumentasi (video, foto/gambar, audio saat wawancara), penelusuran video di berbagai akun youtube dan sumber lainnya yang dianggap relevan. Hasil yang didapat ialah ketoprak dor yang ada di Aceh Tengah berasal dari Deli, Sumatra Utara. Perkembangan kesenian ketoprak Mataraman menjadi ketoprak dor jelas terjadi di sana bersebab keterbatasan daya transportasi yang ada di masa kolonial Belanda. Minimnya daya tersebut mendorong para kuli kontrak untuk bermain ketoprak dor dengan alat musik yang seadanya. Sedangkan keberadaan ketoprak dor di Aceh Tengah didorong adanya kelompok kesenian Ketoprak Dor asal Deli berpentas ke Aceh Tengah, tepatnya di Kecamatan Bies di kisaran dekade 50-an. Pandangan lainnya ialah adanya orang Medan yang pindah ke Bies sekaligus membawa beberapa alat musik Ketoprak Dor lalu ingin menjualnya sesampai di sana. Karena warga Bies tidak ada yang mampu menebus, maka warga Paya Tumpi menyanggupinya hingga terbentuklah kelompok kesenian Ketoprak Dor bernama Sanggar Ketoprak Rahayu Cipto Rukun pada dekade berikutnyaKata Kunci : Ketoprak Dor; Jejak Kuli Kontrak

    DRAMATIC ART OF SI DALUPA DATOK RIMBA ART STUDIES IN WEST ACEH

    Full text link
     The traditional art of Si Dalupa produced by the Datok Rimba Art Studio can be categorized as theatrical art based on the form of the work and especially because of its supporting elements; scriptwriter, director, actor, and musician. Apart from that, the art is also worked out cinematically. This article aims to analyze the drama of Si Dalupa's art in cinematic form based on the ideas of George R. Kernodle called 'structure' and 'texture'. The structure consists of themes, plots, characterizations. Meanwhile, texture covers dialogue, atmosphere, and spectacle. This research approach is qualitative with literature study techniques, observation, in-depth interviews, and documentation. As a result, in terms of structure, Si Dalupa's art has the theme of the arrival of Islam to Aceh, the storyline is linear. Each character has a diverse physique, character, and social background. Whereas in terms of texture, each actor uses the Acehnese language, the atmosphere is built with serune and rapa'i musical instruments. Meanwhile, the spectacle is set in a forest and residential areasKeywords: Si Dalupa; Dramatic Elements; Cinematic DRAMATIKA KESENIAN SI DALUPA SANGGAR SENI DATOK RIMBA DI ACEH BARATAbstrakKesenian tradisional Si Dalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba dapat dikategorikan sebagai seni teater berdasarkan bentuk karya dan terutama karena unsur pendukungnya; penulis naskah, sutradara, aktor, dan pemusik. Selain itu, kesenian tersebut juga digarap secara sinematik. Artikel ini bertujuan menganalisis dramatika kesenian Si Dalupa dalam bentuk sinematik berlandaskan pada gagasan George R. Kernodle yang disebut ‘struktur’ dan ‘tekstur’. Struktur terdiri dari tema, alur, penokohan. Sedangkan tekstur melingkupi dialog, suasana, dan spektakel. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan teknik studi pustaka, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasilnya, pada struktur, kesenian Si Dalupa bertemakan ikhwal masuknya Islam ke Aceh, alur ceritanya linear. Setiap tokoh memiliki fisik, watak, dan latar sosial yang beragam. Sedangkan pada tekstur, setiap pemeran menggunakan bahasa Aceh, suasana dibangun dengan alat musik serune dan rapa’i. Sedangkan spektakelnya berlatar hutan dan pemukiman warga.Kata Kunci: Si Dalupa; Unsur Dramatik; Sinematik

    DANIEL DAY-LEWIS: AKTOR PSIKO-FISIKAL YANG MENGHIDUPKAN TOKOH MELALUI SUARA DAN AKSEN

    Full text link
    Perlahan seni peran tidak lagi menjadi teka-teki yang terbilang rumit untuk dipahami, namun tidak pula mudah untuk dilakukan. Artikel ini bertujuan menelisik bagaimana “sistem” - metode akting yang dirumuskan Stanislavski - berfungsi bagi aktor film, khususnya bagaimana aktor membangun atau menubuhkan kejiwaan dan ketubuhan tokoh. Aktor yang dibahas ialah satu-satunya hingga sekarang mendapatkan tiga Piala Oscar sebagai Aktor Pemeran Utama Terbaik di layar Hollywood, bernama Daniel Day-Lewis. Ketiga penghargaan tersebut didapatnya saat berperan sebagai Christy Brown dalam film berjudul My Left Foot (1989), sebagai Daniel Plainview dalam film berjudul There Will Be Blood (2007), sebagai Abraham Lincoln dalam film berjudul Lincoln (2012). Metode yang diterapkan ialah metode penelitian kualitatif dengan langkah studi pustaka, mengamati, menganalisis, dan memahami film di atas berdasarkan rumusan konsep-konsep yang terangkum dalam istilah “sistem”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “sistem” yang capaiannya ialah aktor psiko-fisikal, mampu melenturkan gerak tubuh, ekspresi, serta membuat artikulasi dan intonasi dialog terasa dinamis, tidak histrionik. Bagi Daniel Day-Lewis, suara menjadi cerminan pribadi yang mendalam dari karakter. Karena itu, tokoh menjadi hidup disebabkan pembawaan suara dan aksen yang berbeda di setiap tokoh yang diperankannya

    Alur Dramatik Kesenian Tradisional Sidalupa di Aceh Barat

    Full text link
    Kesenian Sidalupa, di satu sisi, ialah sebentuk tarian tanpa pola atau teknik tertentu yang diiringi musik serunee dan rapa'i. Di lain sisi, terkadang juga digarap menjadi sebentuk pertunjukan teater, ditandai dengan adanya aktor, pemusik, pembuat kostum, dan sutradara dalam proses garapannya. Dewasa ini, kesenian Sidalupa dikemas pula dengan teknik sinematik. Artikel ini bertujuan memaparkan alur dramatik kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba dan Buraq Lam Tapa di Aceh Barat yang digarap secara sinematik berlandaskan pada gagasan Gustav Freytag; eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan konklusi. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik yang diterapkan adalah video-analisis, observasi, konten-analisis, studi pustaka, dan wawancara. Hasil yang didapati ialah garapan kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba memuat unsur dramatik yang cukup kompleks, sebagaimana gagasan Freytag. Begitu pula dengan jalinan peristiwa yang dihadirkan, menunjukkan rangkaian sebab-akibat yang runtut. Sedangkan garapan kelompok Buraq Lam Tapa, terkesan cenderung menyamarkan cerita dan tokoh sebagai unsur penggerak peristiwa. Dengan kata lain, tidak memuat unsur dramatik yang kompleks sebagaimana dikemukakan Freytag

    BENTUK DAN MAKNA LUKISAN BERTEMAKAN EKSPRESI WAJAH NEGERIKU

    Full text link
    AbstrakSetiap wajah menggambarkan rupa yang beragam seperti sedih, gembira, takut, marah dan sebagainya. Namun ekspresi demikian tidaklah menampak di atas kanvas sebagaimana wajarnya dalam bentuk rupa ekspresionis. Bentuk yang telah terdistorsi itupun mendapat berbagai pemaknaan dari penikmatnya yang dapat mengisi ruang kosong dari karya. Artikel ini bertujuan memaparkan bentuk serta makna yang digagas oleh senimannya. Metode yang digunakan yaitu berlandaskan pada ingatan, menyelisik catatan-catatan sepanjang proses serta mengamati karya secara langsung. Proses pemaknaan bersandar pada teori interpretasi Paul Riceour yang bersandar pada tanda dan simbol yang dianggap sebagai teks. Hasil penelitian ini ialah makna-makna yang terbaca masih pada karya menunjukkan kondisi sebagaimana realitanya, meski tidak lagi disajikan dengan rupa sebagaimana realitasnya.AbstractEach face depicts various forms such as sad, happy, afraid, angry, and so on. However, such an expression does not appear on the canvas as it usually would in an expressionist form. Instead, the distorted form gets various meanings from the audience, filling the space of the work. This article aims to describe the structure and to mean that the artist-initiated. The method used is based on memory, examining notes throughout the process, and observing the work directly. The meaning process relies on Paul Riceour's interpretation theory which relies on signs and symbols considered texts. This research shows that the meanings that are read in the works show the conditions as they are in reality, even though they are no longer presented in the form of existence

    PERAN PENONTON ATAS PERTUNJUKAN TEATER “RUMAH JANTAN†KARYA/SUTRADARA SYUHENDRI

    Full text link
    Dewasa ini, diskursus seputar seni teater yang dilakukan cenderung menyoroti seniman, bagaimana prosesnya, dan karyanya. Setelah itu pembahasan seolah selesai, tidak terlihat upaya untuk mengetahui apa yang dirasakan penonton saat menyaksikan pertunjukan, makna apa yang terpikirkan, apakah mungkin pemaknaan yang dilakukan penonton dapat memberi gagasan-gagasan baru pada seniman untuk menggarap karyanya di lain kesempatan. Jika boleh dibilang, sangat jarang pembicaraan menyoroti penonton yang mungkin saja berperan penting dalam memengaruhi estetika seorang seniman. Artikel ini bertujuan menyelisik peran atau kemungkinan adanya pengaruh penonton pertunjukan berpijak pada teori resepsi yang diajukan oleh Wolfgang Iser. Adapun karya yang akan dibahas yaitu pertunjukan teater “Rumah Jantan†karya/sutradara Syuhendri merujuk pada beberapa kritik yang diajukan oleh Fadillah malin Sutan Kayo, Ganda Cipta, Romi Zarman, S. Metron, yang terbit dalam surat kabar. Metode penilitian yang dilakukan ialah kualitatif dengan jalan penelaahan dokumen, video pertunjukan yang terdapat di youtube, melakukan tinjauan kepustakaan – baik yang terdapat di buku-buku cetak maupun jurnal yang terbit secara digital. Hasil yang didapati ialah meski tidak memiliki pengetahuan, keilmuan, bahkan pengalaman terkait seni teater, penonton mampu merasakan tempo pertunjukan yang terkadang terkesan lambat dan menawarkan bagaimana seyogyianya tempo pertunjukan berjalan. Selain itu, penonton juga mampu memaknai simbol yang dihadirkan, bahkan lebih relevan dibanding seniman itu sendiri

    KETOPRAK DOR: AWAL MULA KEBERADAANNYA DI ACEH TENGAH

    Full text link
    This article presents how the origin of the Ketoprak Dor art in Central Aceh. This topic is interesting because the change or development of an art scene does not only occur from within the artist's creative process alone, but perhaps by the surrounding factors that influence it. So, a qualitative research approach with descriptive analysis method is the choice to investigate this phenomenon. As a result, the Ketoprak Dor art in Central Aceh, to be precise in the gampong (village) of Paya Tumpi - Kebayakan, originates from Deli, North Sumatra. There were two events that prompted its emergence: 1) in the decade of the '50s, the Ketoprak Dor group in Deli performed in Central Aceh, to be precise in Bies District. 2) still in the same decade, there were people from Medan who moved to Bies and brought the Ketoprak Dor musical instrument and wanted to sell it when they got there. Because the Bies residents were unable to make up for it, the Paya Tumpi residents agreed to it and a Ketoprak Dor arts group was formed named Langeng Madio Utomo which later changed its name to Sanggar Ketoprak Rahayu Cipto Rukun in the following decade. Even though they had been on hiatus for three decades (starting in the 1990s), in the past few years the group has been on the mend again. It can be concluded that external factors can change the motive (cause), form or style, to the meaning of the performance

    Postdramatik: Dramaturgi Teater Indonesia Kontemporer

    Full text link
    Postdramatic: The Dramaturgy of Contemporary Indonesian Theater. The research attempts to explain a new possibility in theatre practice in Indonesia, which was initially formed through the power of words in the form of dialogue depicted in drama scripts. Since then, there was another tendency which was a matter of fact, in the early 1920s, for which Antonin Artaud initiated. Various terms have been used to describe new trends in the dramaturgy of Indonesian theatre since the 1970s up to now, such as cutting-edge theatre, avant-garde theatre, experimental theatre, body theatre, visual/visual theatre, postmodern theatre, contemporary theatre, and so on. Therefore, the appearing terms show doubts in determining the identity of the currently developing Indonesian theatre. This study aims to explain the potential for postdramatic theatre works that have been performed by Indonesian theatre directors, such as WS Rendra, Putu Wijaya, Boedi S. Otong, Dindon WS, Rahman Sabur, Yudi A Tajudin, including Yusril with a Postdramatic theatre approach. This research method is dominated by literature studies that take references such as books, journal-based articles, and online and printed media. The results of the study indicate that postdramatic dramaturgy in the practice of theatre in Indonesia is necessary from the spirit of the times that formed it, including the possibility of creating a new form of post-dramatic theatre developing in the current era of the Covid-19 pandemic.Keywords: postdramatic; dramaturgy; theatre; Indonesia; contemporar

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore