1,721,280 research outputs found
KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS
Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980). In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology. In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little. He put God as absolute ruler, do as His Will. Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God. Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason. In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.
Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.H. Siradjuddin Abbas (1905-1980). Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional. Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran. Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya. Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal. Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif
MUSIK IRINGAN TARI PEPE-PEPE BAINE DI SANGGAR SIRADJUDDIN KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA
Musik iringan tari adalah elemen pendukung suatu tarian sebagai pelengkap
dalam sebuah proses tari. Umumnya yang menjadi elemen pendukung atau
pelengkap dari tarian adalah musik, sebagai pengiring sebuah tarian, musik bisa
berfungsi sebagai pengatur tempo atau keserampakan bila berkelompok. Masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian musik iringan tari Pepe�pepe Baine di Sanggar Siradjuddin Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa,
bagaimana fungsi musik iringan tari Pepe-pepe Baine Di Sanggar Siradjuddin
Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana bentuk penyajian musik iringan tari Pepe-pepe Baine Di
Sanggar Siradjuddin Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dan untuk
mengetahui bagaimana fungsi musik iringan tari Pepe-pepe Baine di Sanggar
Siradjuddin Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Penelitian ini dilaksanakan
di Sanggar Siradjuddin di jalan Kacong Daeng Lalang lorong 1, Kelurahan
Tombolo, Sungguminasa Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa pada bulan
November 2020, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tekhnik
pengumpulan data yang digunakan adalah: wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Bentuk penyajian musik
iringan tari Pepe-pepe Baine dapat dilihat dalam, (a). Setting pertunjukan, (b). Alat
musik yang terdiri dari: Gendang, Rebana, Gambus dan Gong. (c). Kostum dan
Properti. 2). Fungsi musik iringan tari Pepe-pepe Baine dapat ditemukan dalam, (a).
Fungsi sebagai pengiring, (b). Fungsi sebagai hiburan
The contribution of Sanggar Siradjuddin Gowa as a Developer of Traditional Dance Arts in the Context of Community-Based Arts Education
Abstract This research is motivated by the activities of members of the siradjuddin studio in gowa district, who have made various contributions as developers of traditional dance arts in the context of community-based arts education. This research was carried out to support arts and culture education and the inheritance of cultural traditions in a district . This type of research uses an interdisciplinary approach consisting of the disciplines of Ethnochoreology and Arts Education using qualitative methods based on case studies. The results of the research show that the contribution of the Gowa Siradjuddin Studio as a developer of traditional dance arts in the context of community-based arts education consists of three, namely (1) the contribution of the Siradjuddin Gowa Studio as a manager of non-formal arts education (educational contribution), (2) the contribution of the Siradjuddin Gowa Studio as an arts developer. traditional dance (conservative contribution), (3) contribution of the Siradjuddin Gowa studio as a creative industry player.
Keywords: Contribution , Traditional Art , Community Based Arts Education .
ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kegiatan anggota Sanggar Siradjuddin Kabupaten Gowa yang telah memberikan berbagai kontribusinya sebagai pengembang seni tari tradisional dalam rangka pendidikan seni berbasis masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mendukung pendidikan seni budaya dan pewarisan tradisi budaya di kabupaten Gowa. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan interdisiplin yang terdiri dari disiplin ilmu Etnokoreologi dan Pendidikan Seni dengan menggunakan metode kualitatif berdasarkan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Sanggar Siradjuddin Gowa sebagai pengembang seni tari tradisional dalam rangka pendidikan seni berbasis masyarakat terdiri dari tiga, yaitu (1) kontribusi Sanggar Siradjuddin Gowa sebagai pengelola pendidikan seni non formal (Kontribusi Edukatif), (2) kontribusi Sanggar Siradjuddin Gowa sebagai pengembang seni tari tradisional (kontribusi konservatif), (3) kontribusi sanggar Siradjuddin Gowa sebagai pelaku industri kreatif.Kata Kunci : Kontribusi, Seni Tari Tradisional, Pendidikan Seni Berbasis Masyarakat
THE ARGUMENT OF AHAD HADITH IMPLEMENTATION IN INTERPRETING THE DEATH OF PROPHET ISA ACCORDING TO MAHMUD SYALTUT AND SIRADJUDDIN ABBAS
Polemik Penggunaan Hadis Ahad Dalam Menafsirkan Kewafatan Nabi Isa Menurut Mahmud Syaltut
Dan Siradjuddin Abbas. Artikel ini bertujuan untuk membahas beberapa perbedaan antara Mahmud Shaltut
dan Siradjuddin Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat tentang wafatnya Nabi Isa. Tulisan ini bertujuan untuk
mengungkapkan bagaimana mereka menginterpretasikan, metode apa yang mereka gunakan, dan faktor-faktor
apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Mahmud Shaltut
menafsirkan istilah tawaffa (Q.S. Imrân [3] ayat 55) dan tawaffaitanî (Q.S. al-Maidah [5] ayat 117) sesuai dengan
makna asli, yaitu “wafat”. Sebaliknya, Siradjuddin Abbas menafsirkan istilah tawaffa dengan “menggenggam”.
Perbedaan-perbedaan ini disebabkan karena Siradjuddin Abbas menggunakan metode tafsir bi al-riwayah dan
memahaminya dengan hadis-hadis sahih. Sedangkan Mahmud Syaltut menggunakan metode tafsir bi al-ra’yi
dan tidak menggunakan hadis.Sebagai tokoh reformis di Mesir, penafsiran Mahmud Syaltut dipengaruhi oleh
pendapat Muhammad Abduh yang menolak penggunaan hadis ahad dalam pembahasan keyakinan/ akidah.
Sementara Siradjuddin Abbas, sebagai tokoh Islam tradisional di Indonesia, berupaya menolak pemikiran
Muhammad Abduh karena itu bertentangan dengan paham ahl al-sunnah wa al-jamaah yang dia ikuti
Struktur Musik Iringan Tari Pakarena Jangang Lea-lea karya H. M. Siradjuddin Bantang di Kabupaten Gowa
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi yang jelas, lengkap dan benar tentang: 1) bagaimana bentuk pertunjukan tari pakarena jangang lea-lea karya H. M. Siradjuddin Bantang di kabupaten Gowa, 2) bagaimana struktur music iringan tari pakarena jangang lea-lea karya H. M. Siradjuddin Bantang di kabupaten Gowa. Penelitian ini bersifat kualitatif, adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka, wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini bersifat deskriptif karena menggunakan sampel dan populasi sebagai obyek penelitian. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis non statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) bentuk pertunjukan tari pakarena jangang lea-lea karya H. M. Siradjuddin Bantang saat ini sering dipentaskan pada acara-acara penjemputan tamu-tamu agung dan acara hiburan lainnya. 2) susunan musik iringan tari pakarena jangang lea-lea karya H. M. Siradjuddin Bantang ini telah mengalami perkembangan dari pengiring generasi pertama sampai generasi sekarang, dalam penyusunan komposisi pola tabuhan gendang Makassar yang merupakan komposisi iringan tari pakarena jangang lea-lea sekarang ini terdiri dari tabuhan-tabuhan yang sering kita dengar pada iringan tari pakarena lainnya yaitu: a. tunrung pakanjara, b. tumbu appa’, c. tunrung pappadang(tunrung appa’, tunrung tallu, tumbu pangallakkang, tunrung pakarena dan tunrung se’re). Berdasarkan analisis ilmu bentuk musik, iringan tari pakarena jangang lea-lea terdiri dari beberapa bagian yaitu bagian awal, pertengahan dan akhir
The Polemic of Ahad Hadith Use in Interpreting the Death of Prophet Isa According to Mahmud Syaltut and Siradjuddin Abbas
This article aims to discuss some differences between Mahmud Shaltut and Siradjuddin Abbas in interpreting the verses about the death of prophet Isa. This paper also seeks to investigating of how they interpret, what methods they use, and what factors influence these differences. The results of the study reveal that Mahmud Shaltut interpretes the term of the tawaffa (Q.S Âli ´Imrân [3] verse 55) and tawaffaitanî (Q.S. al-Maidah [5] verse 117) in accordance with the original meaning of “death”. On the contrary, Siradjuddin Abbas exegetes the term of tawaffa by “grasp”. These differences are because Siradjuddin Abbas uses the method of tafsir bi al-riwayah and consideres them as hadith[s] sahih. On the contrary, Mahmud Shaltut uses the method of tafsir bi al-ra’yi and does not use such hadith[s]. As a figure of reformer in Egypt, the interpretation of Mahmud Shaltut is affected by Muhammad Abduh’s opinion who refuses the use of Ahad Hadith in belief/akidah discussion while Siradjuddin Abbas, as a traditional Islamic figure in Indonesia, attempts to counter Muhammad Abduh’s opinion because it contradicts to the understanding of ahl al-sunnah wa al-jamaah that he followed
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
