67 research outputs found

    Perwitasari

    No full text
    Siraman merupakan upacara simbolis yang melambangkan penyucian diri sebelum kedua calon mempelai memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Adat Jawa telah mengatur peralatan, tata cara dan siapa saja yang harus terlibat dalam upacara ini. Upacara siraman adalah salah satu ritual adat Jawa yang dilaksanakan menjelang pernikahan seseorang. Orang Jawa melihat bahwa siraman mengandung nilai pendidikan yang luhur bagi pengantin khususnya, dan masyarakat umumnya, salah satunya adalah mendidik untuk menjaga kesucian diri baik secara lahir maupun batin. Nilai ini tercermin dari tujuan siraman itu sendiri, yakni untuk menyucikan diri secara jasmani dan rohani karena calon mempelai akan melaksanakan salah satu tugas suci dalam hidup di dunia, yaitu akad nikah. Karya tari ini menggambarkan suatu wujud simbolisasi beberapa prosesi yang ada dalam upacara siraman. Beberapa prosesi yang diambil di antaranya adalah prosesi sungkem atau ngabekten, prosesi ngracik toya dan prosesi siraman. Hal ini diwujudkan melalui gerak-gerak yang mendapatkan motivasi dengan motif gerak sembah sungkem dengan level rendah, motif air, juga pengolahan motifmotif gerak dengan desain lingkaran dan memutar. Gerak-gerak tersebut digarap ke dalam bentuk komposisi tari kelompok dengan jumlah sepuluh orang penari. Melalui karya tari yang berjudul “Perwitasari” ini penata mencoba untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali orang Jawa tentang bagaimana pentingnya upacara siraman dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya. Melalui simbolisasi beberapa prosesi yang terdapat dalam prosesi siraman, penata berusaha menyampaikan makna-makna yang terkandung di dalamnya

    Struktur Naratif dalam Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Tirta Perwitasari Perspektif Maranda

    Get PDF
    Wayang kulit, as a part of the oral tradition, presents dimensions of spirituality and cultural aesthetics through storytelling, dialogue, and traditional musical accompaniment. The Tirta Perwitasari play tells the story of Bratasena, whom Durna orders to search for Tirta Perwitasari, or the sacred water symbolizing life. During his quest, Bratasena encounters Dewaruci, who symbolizes his true self according to Javanese philosophical exploration. This study employs a qualitative approach with a descriptive method, collecting data from a 7-hour, 27-minute, and 45-second performance video uploaded on the KUNTADI Channel on YouTube. This study aims to describe the narrative structure of Maranda in the shadow puppet performance Tirta Perwitasari, performed by the puppeteer Ki Cahyo Kuntadi. The findings indicate that in the Tirta Perwitasari shadow puppet performance: (1) there is an interrelation of term elements within the play, consisting of 52 terms, categorized as a(3): b: c(4): d(4): e: f(3): g(5): h(2): i(1): j(1): k(4): l(6): m(4): n(1): o, and featuring 31 characters in the play; (2) there is an interrelation of functional elements in the performance, with 74 functions identified, consisting of (x36 + y32 + z6), where positive functions outweigh negative ones; and (3) the storytelling structure includes theme, characters, plot, and setting.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur naratif Maranda pada pertunjukan wayang kulit lakon Tirta Perwitasari oleh dalang Ki Cahyo Kuntadi. Wayang kulit, sebagai salah satu warisan tradisi lisan, menghadirkan dimensi spiritualitas dan estetika budaya melalui penceritaan, dialog, serta iringan musik tradisional. Lakon Tirta Perwitasari merupakan lakon yang mengisahkan Bratasena diperintahkan Durna untuk mencari Tirta Perwitasari atau air suci simbol kehidupan. Dalam usaha pencarian itulah Bratasena kemudian bertemu dengan Dewaruci, yang menurut eksplorasi falsafah Jawa ialah simbol diri pribadinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, mengumpulkan data dari video pergelaran berdurasi 7 jam 27 menit 45 detik yang diunggah di kanal Youtube KUNTADI Channel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertunjukan wayang kulit lakon Tirta Perwitasari ditemukan 1) adanya keterkaitan unsur-unsur terem yang terdapat dalam pertunjukan wayang kulit lakon Tirta Perwitasari. Terdapat 52 terem yang terdiri dari a(3): b: c (4): d(4): e: f(3): g(5): h(2): i(1): j(1): k(4): l(6): m(4): n(1): o dan ada 31 tokoh pada dalam lakon tersebut; 2) adanya keterkaitan unsur-unsur fungsi yang terdapat pada pertunjukan wayang kulit lakon Tirta Perwitasari ditemukan 74 fungsi yang terdiri dari (x36 + y32 + z6) dengan komposisi fungsi kebaikan lebih besar dibandingkan dengan keburukan; (3) struktur penceritaan berupa tema, tokoh, alur, dan latar

    Peran BUMDes perwitasari dalam pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal

    Get PDF
    Pemerintah Desa Tambaksari membentuk BUMDes berdasarkan kebutuhan dan potensi yang ada di desa tersebut. Pengelolaan ikan tambak dan UMKM produk olahan perikanan merupakan merupakan potensi pengembangan di Desa Tambaksari. Penelitian ini mengidentifikasi upaya-upaya yang dilakukan BUMDes Perwitasari dalam memberdayakan UMKM serta faktor penghambat dan pendukung dalam pemberdayaan tersebut. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif ini mencoba memahami fenomena yang ditemui oleh penulis dan informan di lapangan. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis data induktif, seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori pemberdayaan masyarakat dari Jim Ife diterapkan dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan penelitian, bahwa BUMDes Perwitasari dalam pemberdayaan UMKM berperan dalam pembangunan dan pengembangan potensi kapasitas ekonomi pelaku UMKM Desa Tambaksari untuk meningkatkan kesejahteraan sosial serta berperan aktif dalam peningkatan kualitas manusia. BUMDes Perwitasari dan masyarakat berperan dalam meningkatkan perekonomian rakyat sebagai tumpuan kekuatan dan mengembangkan perekonomian pelaku UMKM dengan melalui tiga tahapan yaitu enabling, empowering, dan protecting. Pertama, tahap enabling yaitu menciptakan suasana iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang, BUMDes Perwitasari memberikan motivasi dan pendampingan dengan sistem personal to personal kepada para pelaku UMKM. Kedua, tahap empowering yaitu memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, BUMDes Perwitasari mengadakan pelatihan untuk pelaku UMKM. Ketiga, protecting yaitu melindungi masyarakat, BUMDes Perwitasari melindungi pelaku UMKM dengan AD/ART BUMDes melalui peraturan-peraturan yang mendukung dalam pengembangan potensi desa serta melindungi usaha-usaha di dalamnya. Terdapat faktor internal dan eksternal yang berkontribusi dalam mendukung dan menghambat pemberdayaan UMKM. Faktor pendukung internalnya yaitu pelayanan, memudahkan dan tersedianya sumber daya alam, sedangkan faktor pendukung eksternal yaitu dukungan pemerintah terhadap BUMDes Perwitasari dan keterlibatan pelaku UMKM dalam penyelenggaraan program-program. Selain itu terdapat faktor penghambat internal yaitu pemasaran dan keterbatasan sumber daya manusia pengelola, sedangkan faktor penghambat eksternal yaitu meningkatnya pesaing dalam perekonomian dan kurangnya sosialisasi pada masyarakat. ABSTRACT: The Tambaksari Village Government formed BUMDes based on the needs and potential of the village. The management of fish ponds and MSMEs of processed fishery products is a potential development in Tambaksari Village. This research identifies the efforts made by BUMDes Perwitasari in empowering MSMEs as well as the inhibiting and supporting factors in the empowerment. This research, which uses qualitative methods, tries to understand the phenomena encountered by the author and informants in the field. This research data collection uses observation, interview, and documentation methods. This research uses inductive data analysis methods, such as data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Jim Ife's theory of community empowerment is applied in this research. Based on the research findings, BUMDes Perwitasari in empowering MSMEs plays a role in the development and development of the potential economic capacity of MSME players in Tambaksari Village to improve social welfare and play an active role in improving human quality. BUMDes Perwitasari and the community play a role in improving the people's economy as the foundation of strength and developing the economy of MSME actors through three stages, namely enabling, empowering, and protecting. First, the enabling stage is to create a climate that allows community potential to develop, BUMDes Perwitasari provides motivation and assistance with a personal to personal system to MSME actors. Second, the empowering stage is to strengthen the potential or power of the community, BUMDes Perwitasari conducts training for MSME actors. Third, protecting, namely protecting the community, BUMDes Perwitasari protects MSME actors with BUMDes bylaws through regulations that support the development of village potential and protect businesses in it. There are internal and external factors that contribute to supporting and hindering MSME empowerment. The internal supporting factors are services, convenience and availability of natural resources, while the external supporting factors are government support for BUMDes Perwitasari and the involvement of MSME actors in organizing programs. In addition, there are internal inhibiting factors, namely marketing and limited human resource managers, while external inhibiting factors are increasing competitors in the economy and lack of socialization to the community

    KOMUNITAS ILMU KEBATINAN BIMO SUCI SEBAGAI RUANG KATARSIS WONG CILIK STUDI RUANG KATARSIS DAN TAHAPAN KEILMUAN PERGURUAN ILMU KEBATINAN BIMO SUCI DI GIRIREJO IMOGIRI BANTUL YOGYAKARTA

    Get PDF
    Perguruan Ilmu kebatinan Bimo Suci merupakan salah satu dari keberagaman budaya lokal suku Jawa yang spesifikasinya pada pengolahan batin. Didirikan oleh Trikuncoro Hendarwanto di Yogyakarta pada tahun 2011. Yang bertujuan untuk melestariakan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia terutama pada aspek kebatinan dan beladiri (pencak silat). Perguruan ini perpedoman pada ajaran leluhurnya kanjeng Sunan Kalijaga melalui kisah pewayangan lakon Bimasena mencari banyu perwitasari. Perguruan Bimo Suci Menarik untuk di teliti karena ada pola hubungan antara tradisi Islam dengan nilai budaya Jawa. keduanya saling mewarnai dan bersikap akomodatif menunjukan ada dialog di antara keduanya. Sehingga dapat menerima keyakinan lain. Hubungan antara perguruan Bimo Suci di Desa Girirejo Imogiri dengan masyarakat sekitarnya berjalan dengan baik. Keberadaanya telah menjadi rumah dan pelarian bagi wong cilik. Sehingga menjadi tujuan penelitian penulis dengan rumusan masalah yang telah di tetapkan yaitu: Bagaimana Perguruan Ilmu Kebatinan Bimo Suci dapat menjadi ruang katarsis sosial wong cilik? Dan Bagaimana tahapan-tahapan keilmuan dalam Perguruan Bimo Suci? Peneliti mengunakan teori tentang dari Auguste comte tentang hukum tiga tahap. Kemudian di dalam pengumpulan data serta analisa. Penggunaan metode wawancara, dan observasi dengan tujuan untuk mendapatkan data yang bersifat kualitatif fan kuantitatif. Hasilnya Bimo suci sebagai katarsis pikiran dan ruh wong cilik dari himpitan sosial dan ekonomi. Hal ini disebabkan karena Bimo Suci bersifat menolak atau non politik dan sangat menawarkan kemasyarakatan seperti bimbingan, pelayanan dan membangun keselamatan bersama berdasarkan nilainilai luhur Budaya Jawa terutama ajaran dari Sunan Kalijaga, indikasinya wong cilik meminta bimbingan dan solusi dari setiap kesumpekan permasalahan hidupnya. Dan sampai saat ini telah banyak yang bergabung menjadi anggota dan mendukung Bimo Suci

    Daerah Jelajah Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii, TIEDEMANN 1808) Remaja Berdasarkan Ketersediaan Tumbuhan Berbuah di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan Kalimantan Tengah

    No full text
    Orangutan merupakan primata frugivora, yaitu primata yang memiliki proporsi jenis pakan terbesar berupa buah. Buah memiliki ketersediaan yang tidak sama pada setiap waktu. Orangutan merespon ketersediaan tumbuhan berbuah dengan mengubah strategi penjelajahan dan komposisi pakan. Orangutan remaja yang sudah mulai mandiri akan menjadi kompetitor bagi induk yang sudah memiliki anak baru. Kondisi ini membuat orangutan remaja harus menyesuaikan penjelahannya dengan individu lain untuk mencari buah sebagai pakan. Respon orangutan terhadap pengaruh fluktuasi tumbuhan buah tidak hanya tercermin berdasarkan ukuran daerah jelajah, melainkan kisaran area yang dimanfaatkan pada daerah jelajah tersebut. Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan (SPOT) merupakan hutan rawa gambut sebagai habitat orangutan. Kawasan ini pernah mengalami aktivitas selective logging oleh perusahaan dan juga pembalakan liar oleh masyarakat setempat. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya banyak gap di kanopi hutan yang menyebabkan pertumbuhan tanaman pionir, seperti liana. Dampak lainnya dari penebangan di SPOT yaitu hilangnya air dari gambut melalui kanal yang dibuat dan digunakan untuk mengangkut kayu ke arah Sungai Kapuas. Seluruh kondisi ini bisa mengubah pola produksi tumbuhan berbuah yang mempengaruhi penggunaan penjelajahan orangutan remaja. Penelitian ini bertujuan; (1) mengidentifikasi ketersediaan tumbuhan berbuah dari pohon dan liana sebagai pakan orangutan serta (2) mengidentifikasi jelajah orangutan remaja serta responnya terhadap ketersediaan tumbuhan berbuah. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus 2013 hingga Juli 2014 di SPOT, Desa Tumbang Mangkutub, Kecamatan Mentangai, Kalimantan Tengah. Metode fruit trail digunakan untuk pengamatan ketersediaan tumbuhan berbuah (golongan pohon dan liana). Analisis yang dilakukan meliputi perhitungan komposisi dan kelimpahan jenis serta distribusi spasial kelimpahan tumbuhan berbuah. Sementara, metode focal animal sampling digunakan untuk mengestimasi jelajah orangutan dengan membuat waypoint di GPS setiap 30 menit selama mengikuti orangutan. Jelajah orangutan dianalisis menggunakan progam ArcGIS ver.9.3. Pengaruh tumbuhan berbuah terhadap daerh jelajah orangutan dianalisis dengan melakukan tumpang tindih antara peta ketersediaan kelimpahan tumbuhan berbuah dengan daerah jelajah orangutan remaja. Penelitian ini mencatat total ada 62 jenis pohon dan 15 jenis liana yang menjadi pakan orangutan selama pengamatan. Pola kelimpahan tumbuhan berbuah di SPOT tidak menunjukan fluktuasi yang besar di sepanjang tahun. Tumbuhan berbuah sebagai pakan orangutan dari golongan pohon memiliki kelimpahan yang lebih tinggi dibandingkan liana pada setiap bulannya. Namun, periode kelimpahan tertinggi dari tumbuhan berbuah golongan pohon terjadi hanya satu kali, yaitu bulan November hingga Januari. Sementara itu, tumbuhan berbuah golongan liana memiliki pola yang berbeda, dengan periode kelimpahan tertinggi terjadi dua kali, dari bulan November hingga Januari dan April hingga Juni. Selain itu, pola distribusi spasial kelimpahan tumbuhan berbuah antara liana dan pohon menunjukan perbedaan. Kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon memiliki distribusi kelimpahan buah yang merata, sedangkan liana mengelompok di daerah barat dan selatan. Orangutan remaja merespon periode ketersediaan buah tinggi dengan meningkatkan jelajah harian dan bulanan mereka serta mengecilkannya ketika periode ketersediaan buah dalam kondisi rendah. Selain itu, orangutan remaja sering menggunakan area di daerah jelajah dengan kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon pada tingkat sedang hingga tinggi. Kondisi ini menunjukan bahwa tumbuhan berbuah golongan pohon menjadi pilihan utama dibandingkan liana. Jika kelimpahan tumbuhan berbuah golongan pohon mengalami penurunan (periode rendah), maka orangutan remaja mengubah jelajah bulanan mereka ke area yang memiliki kelimpahan tumbuhan berbuah golongan liana pada tingkat sedang hinggi tinggi. Perilaku penjelajahan ini merupakan adaptasi orangutan untuk mengoptimalkan penggunaan habitat yang berkualitas rendah agar bisa bertahan dalam lanskap hutan yang terdegradasi

    Kepadatan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan Hubungan Fluktuasi Kelimpahan Tumbuhan Berbuah dengan Sarang Baru di IUPHHK-HA Hulu Belantikan Kalimantan Tengah

    No full text
    Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan primata arboreal pemakan buah (frugivora) yang hidup semi soliter. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap populasi yaitu nilai kepadatan orangutan pada suatu wilayah. Kepadatan dan pergerakan orangutan dipengaruhi oleh ketersediaan buah. Penebangan hutan menyebabkan penurunan kualitas habitat orangutan yang berdampak pada berkurangnya tumbuhan buah pakan orangutan seperti Ficus spp. dan liana. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hilangnya habitat tersebut diantaranya adalah penebangan kayu, kebakaran hutan, perambahan dan konversi untuk perkebunan serta pemukiman manusia. Hulu Belantikan merupakan satu-satunya blok kawasan hutan dataran rendah di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dengan status areal Hutan Produksi Terbatas (HPT). Bentang alam Belantikan dimulai dari daerah Arut Belantikan hingga Bukit Rangga dan Bukit Perai di Provinsi Kalimantan Barat. Arut dan Belantikan diketahui memiliki populasi orangutan P. p. wurmbii terbesar di luar kawasan konservasi. Kepadatan populasi P.p. wurmbii di Arut-Belantikan, berjumlah 6000 individu pada habitat seluas 5100 km2. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai habitat penting bagi konservasi orangutan. Sampai saat ini kegiatan pemanenan kayu dengan sistem tebang pilih/selective logging dan penambangan bijih besi masih berlangsung pada kawasan Belantikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepadatan populasi orangutan dan hubungan antara fluktuasi kelimpahan tumbuhan berbuah dengan sarang baru orangutan pada tiga blok penebangan (2009-2010, 2012-2013, 2013-2014) dan hutan lindung (eks tebangan tahun 1970-an) di Hulu Belantikan. Penelitian dilaksanakan pada periode Bulan Desember 2013-Oktober 2014, di Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Hulu Belantikan. Transek pengamatan dibuat di wilayah konsesi PT. Karda Traders, yang terdiri dari : 1. blok tebangan 2009-2010, 2. blok 2012-2013, 3. blok 2013-2014 dan kawasan Hutan Lindung (HL) bekas tebangan tahun 1970-an, Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pengamatan kepadatan orangutan dan sarang baru dilakukan dengan metode jalur (line transect), berdasarkan perhitungan sarang (nest count). Di setiap lokasi masing-masing dibuat 4 jalur pengamatan dengan panjang 1 km per jalur dengan jarak antar jalurnya 500 meter. Khusus untuk sarang baru pengamatan dilakukan secara berkala setiap bulan pada setiap jalur. Setiap sarang baru yang ditemukan diberi pita penanda untuk mencegah pengulangan pencatatan pada bulan selanjutnya. Untuk melihat hubungan kualitas habitat orang-utan dan sarang baru, dilakukan pengamatan secara berkala ketersediaan tumbuhan berbuah dengan metode fruit trail. Penggunaan metode tersebut menghasilkan data kelimpahan tumbuhan berbuah per km sepanjang jalur pengamatan. Untuk mengetahui perbandingan kepadatan populasi orangutan di setiap lokasi pengamatan blok penebangan 2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014 serta HL dilakukan uji ANOVA. Korelasi atau hubungan antara kelimpahan tumbuhan berbuah setiap transek dan sarang baru orangutan dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Analisis statistik ini menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistic Programme for Scientific and Social Science) versi 23. Penelitian ini mencatat, jumlah sarang terbanyak dijumpai di hutan lindung (n= 98) dan jumlah sarang terendah dijumpai di blok tebangan 2013-2014 (n= 25). Nilai kepadatan orangutan pengamatan, di HL adalah yang tertinggi 4,8 ind/km2 dan terendah di blok 2013-2014 sebesar 0,4 ind/km2. Hasil ini mengindikasikan bahwa penebangan kayu yang sedang berlangsung sangat berpengaruh terhadap populasi orangutan. Berdasarkan hasil Fruit trail tumbuhan berbuah pada lokasi survei di HL dan Blok penebangan (2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014), diperoleh 130 spesies tumbuhan berbuah yang terbagi menjadi 43 famili. Kelimpahan tumbuhan berbuah bulanan tertinggi diperoleh pada lokasi blok HL dan blok tebangan 2009-2010 (59 dan 49,25 tumbuhan berbuah/km). Hasil uji korelasi Spearman antara jumlah sarang baru orangutan (A dan B) dengan kelimpahan tumbuhan berbuah pada keempat lokasi penelitian tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0,05). Kondisi ini berhubungan dengan kondisi kelimpahan tumbuhan berbuah yang merata pada areal penelitian

    Kepadatan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan Hubungan Fluktuasi Kelimpahan Tumbuhan Berbuah dengan Sarang Baru di IUPHHK-HA Hulu Belantikan Kalimantan Tengah

    No full text
    Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan primata arboreal pemakan buah (frugivora) yang hidup semi soliter. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap populasi yaitu nilai kepadatan orangutan pada suatu wilayah. Kepadatan dan pergerakan orangutan dipengaruhi oleh ketersediaan buah. Penebangan hutan menyebabkan penurunan kualitas habitat orangutan yang berdampak pada berkurangnya tumbuhan buah pakan orangutan seperti Ficus spp. dan liana. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hilangnya habitat tersebut diantaranya adalah penebangan kayu, kebakaran hutan, perambahan dan konversi untuk perkebunan serta pemukiman manusia. Hulu Belantikan merupakan satu-satunya blok kawasan hutan dataran rendah di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dengan status areal Hutan Produksi Terbatas (HPT). Bentang alam Belantikan dimulai dari daerah Arut Belantikan hingga Bukit Rangga dan Bukit Perai di Provinsi Kalimantan Barat. Arut dan Belantikan diketahui memiliki populasi orangutan P. p. wurmbii terbesar di luar kawasan konservasi. Kepadatan populasi P.p. wurmbii di Arut-Belantikan, berjumlah 6000 individu pada habitat seluas 5100 km2. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai habitat penting bagi konservasi orangutan. Sampai saat ini kegiatan pemanenan kayu dengan sistem tebang pilih/selective logging dan penambangan bijih besi masih berlangsung pada kawasan Belantikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepadatan populasi orangutan dan hubungan antara fluktuasi kelimpahan tumbuhan berbuah dengan sarang baru orangutan pada tiga blok penebangan (2009-2010, 2012-2013, 2013-2014) dan hutan lindung (eks tebangan tahun 1970-an) di Hulu Belantikan. Penelitian dilaksanakan pada periode Bulan Desember 2013-Oktober 2014, di Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Hulu Belantikan. Transek pengamatan dibuat di wilayah konsesi PT. Karda Traders, yang terdiri dari : 1. blok tebangan 2009-2010, 2. blok 2012-2013, 3. blok 2013-2014 dan kawasan Hutan Lindung (HL) bekas tebangan tahun 1970-an, Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pengamatan kepadatan orangutan dan sarang baru dilakukan dengan metode jalur (line transect), berdasarkan perhitungan sarang (nest count). Di setiap lokasi masing-masing dibuat 4 jalur pengamatan dengan panjang 1 km per jalur dengan jarak antar jalurnya 500 meter. Khusus untuk sarang baru pengamatan dilakukan secara berkala setiap bulan pada setiap jalur. Setiap sarang baru yang ditemukan diberi pita penanda untuk mencegah pengulangan pencatatan pada bulan selanjutnya. Untuk melihat hubungan kualitas habitat orang-utan dan sarang baru, dilakukan pengamatan secara berkala ketersediaan tumbuhan berbuah dengan metode fruit trail. Penggunaan metode tersebut menghasilkan data kelimpahan tumbuhan berbuah per km sepanjang jalur pengamatan. Untuk mengetahui perbandingan kepadatan populasi orangutan di setiap lokasi pengamatan blok penebangan 2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014 serta HL dilakukan uji ANOVA. Korelasi atau hubungan antara kelimpahan tumbuhan berbuah setiap transek dan sarang baru orangutan dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Analisis statistik ini menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistic Programme for Scientific and Social Science) versi 23. Penelitian ini mencatat, jumlah sarang terbanyak dijumpai di hutan lindung (n= 98) dan jumlah sarang terendah dijumpai di blok tebangan 2013-2014 (n= 25). Nilai kepadatan orangutan pengamatan, di HL adalah yang tertinggi 4,8 ind/km2 dan terendah di blok 2013-2014 sebesar 0,4 ind/km2. Hasil ini mengindikasikan bahwa penebangan kayu yang sedang berlangsung sangat berpengaruh terhadap populasi orangutan. Berdasarkan hasil Fruit trail tumbuhan berbuah pada lokasi survei di HL dan Blok penebangan (2009-2010, 2012-2013 dan 2013-2014), diperoleh 130 spesies tumbuhan berbuah yang terbagi menjadi 43 famili. Kelimpahan tumbuhan berbuah bulanan tertinggi diperoleh pada lokasi blok HL dan blok tebangan 2009-2010 (59 dan 49,25 tumbuhan berbuah/km). Hasil uji korelasi Spearman antara jumlah sarang baru orangutan (A dan B) dengan kelimpahan tumbuhan berbuah pada keempat lokasi penelitian tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0,05). Kondisi ini berhubungan dengan kondisi kelimpahan tumbuhan berbuah yang merata pada areal penelitian

    Fluktuasi Bersarang Orang utan Sumatera (Pongo Abelii Lesson 1827) Di Areal Restorasi Dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

    No full text
    Jumlah populasi orangutan saat ini semakin menurun akibat semakin berkurangnya habitat orangutan. Kelangsungan hidup orangutan sangat bergantung kepada habitatnya. Idealnya hutan sebagai habitat menyediakan vegetasi yang mampu menyediakan sumber pakan (buah) dan tempat membuat sarang bagi orangutan. Penurunan populasi disebabkan oleh berkurangnya areal hutan yang merupakan habitat alami bagi orangutan akibat penebangan dan konversi hutan menjadi lahan perkebunan. Salah satu upaya untuk memulihkan habitat orangutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser resort Sei Betung yang hilang akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan adalah dengan program restorasi. Areal restorasi masih tergolong kategori hutan baru atau sekunder, namun orangutan sudah menempati kawasan tersebut untuk bersarang dan beraktivitas, hal ini terbukti ditemukan beberapa sarang orangutan di areal restorasi Beberapa sarang orangutan ditemukan di areal restorasi menjadi indikasi bahwa program tersebut mulai berhasil mengembalikan fungsi hutan sebagai habitat alami satwa liar khususnya orangutan. Data ilmiah lebih lanjut diperlukan untuk tetap menjaga kelestarian orangutan pada areal restorasi yang masih berbatasan langsung dengan hutan primer. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kondisi habitat, kelimpahan tumbuhan berbuah, kepadatan sarang baru orangutan dan menganalisis hubungan fluktuasi kepadatan sarang baru dengan kelimpahan tumbuhan berbuah di areal restorasi dan hutan primer. Penelitian ini dilakukan di hutan primer dan hutan restorasi resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Koleksi data dilakukan dengan metode line transect selama bulan September 2014 hingga Februari 2015. Sarang orangutan dan tumbuhan berbuah diamati di beberapa transek (enam transek di hutan primer dan lima transek di hutan restorasi. Data kondisi habitat dikumpulkan dengan metode rapid assessment. Kepadatan sarang dianalisis dengan menggunakan persamaan dasar dari van Schaik et al (1995). Data kondisi habitat disajikan secara kuantitatif dengan parameter kerapatan, frekuensi, dan dominansi dalam bentuk Nilai Penting Jenis (NPJ), Indeks Kesamaan Jenis Sorensen (ISS), Indeks Kenakeragaman jenis (H’), dan indeks kenakeragaman komunitas (Var H’). Uji Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan kelimpahan tumbuhan berbuah dan Uji Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan kepadatan sarang orangutan dengan kelimpahan tumbuhan berbuah. Hasil penelitian menunjukkan hutan primer memiliki kekayaan jenis pohon yang lebih tinggi daripada hutan restorasi. Hutan primer memiliki pohon-pohon yang berdiameter lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan hutan restorasi. Kelimpahan sarang baru di hutan restorasi dan hutan primer resort Sei Betung menunjukkan nilai yang berfluktuasi setiap bulan. Di hutan primer kelimpahan tanaman berbuah berkolerasi postitif dengan kepadatan sarang baru orangutan sedangkan di areal hutan restorasi berkolerasi positif. Beberapa sarang ditemukan di areal restorasi menjadi hal yang menarik mengingat struktur diameter pohon di areal restorasi belum cukup mendukung orangutan untuk membuat sarang. Orangutan diduga menggunakan areal restorasi sebagai tempat untuk mencari pakan alternatif. Dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang diduga orangutan akan semakin banyak bersarang di areal restorasi karena keberadaan pohon pakan dan struktur pohon di areal restorasi akan semakin mendukung kenyamanan orangutan membuat sarang seperti pada areal hutan primer

    Measuring And Predicting Success Of Reintroduction Orangutans

    No full text
    Genus Pongo, orangutan, merupakan satu-satunya kera besar di Asia. Saat ini, orangutan diketahui ada 2 jenis yaitu Pongo abelii yang dijumpai hampir diseluruh Pulau Sumatera bagian utara dan Pongo pygmaeus di Pulau Kalimantan. Orangutan terancam dengan adanya kerusakan hutan sebagai habitat karena pembalakan, pengalihfungsian hutan menjadi perkebunan, tambang, perburuan baik untuk di konsumsi ataupun diperjualbelikan secara illegal. Penyitaan orangutan dilakukan untuk menegakkan hukum terhadap perdagangan, lalu melepasliarkan kembali orangutan tersebut ke habitat yang aman dan dilindungi mengikuti international guidelines (Guidelines for Non human Primate Re-Introduction of the IUCN/SSC Re-Introduction Specialist Group; Baker 2002). Suksesnya re-introduksi merupakan tujuan akhir dari proses rehabilitasi tetapi pelaksanaan re-introduksi sebelumnya terkadang belum optimal. Meskipun merupakan bagian penting dari penegakan hukum, re-introduksi masih relatif sedikit diketahui kesuksesannya (Russon 2009). Karena ex-captive orangutan harus beradaptasi pada kemampuan hidup di hutan (Russon 2002), post-release monitoring menjadi alat yang penting untuk mengevaluasi proses reintroduksi. Pada rencana aksi orangutan Indonesia yang di luncurkan oleh Presiden Indonesia pada Desember 2007 menyatakan bahwa program reintroduksi akan ditutup pada tahun 2015 dan semua eks-captive orangutan yang sehat harus dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Penelitian ini dilakukan di hutan Kehje Sewen – Kalimantan Timur selama satu tahun sejak April 2012 dan Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera, Jantho – Provinsi Aceh pada April 2011 hingga Desember 2012. Penelitian ini membantu untuk mengamati setiap tahapan dari penyesuaian orangutan eks-rehabilitan terhadap lingkungan yang baru dan membantu mengevaluasi prosedur dari program reintroduksi. Saya mengamati kemampuan hidup di hutan (aktivitas harian, pola diet, penggunaan ketinggian, perilaku bersarang, asosiasi, home range dan food patch) dari ke-16 eks-rehabilitan orangutan, dengan estimasi umur berkisar 4-13 tahun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua individu eksrehabilitan mampu bertahan hidup pada tahun pertama pelepasliaran di kedua lokasi tersebut. Disertasi ini terdiri dari enam bab, yaitu: (1) latar belakang histori kehidupan orangutan, ekologi, ancaman, dan konservasi yang berkaitan dengan studi ini (2) sebuah kajian literatur dari proses reintroduksi dalam penyesuaian pada kehidupan liar (3) pengamatan aktivitas harian, diet, pemanfaatan ketinggian, bersarang dan asosiasi pada 6 eks-rehabilitan orangutan selama satu tahun dilepasliarkan di Kehje Sewen, Kalimantan Timur (4) hasil awal study pada penjelajahan 10 orangutan eks-rehabilitan di Stasiun Reintroduksi Orangutan Jantho Sumatera, Provinsi Aceh. Berdasarkan pengamatan di Kehje Sewen, eks-rehabilitan orangutan menghabiskan banyak waktu hariannya untuk aktivitas makan dan proporsi terbesarnya mengkonsumsi buah, serupa dengan proporsi orangutan liar. Eksrehabilitan mampu membuat sarang baru, dan sering menggunakan sarang lama atau memperbaiki sarang yang lama sebelum digunakan kembali. Orangutan eksrehabilitan juga banyak menghabiskan waktunya untuk beraktifitas di tanah disbanding dengan orangutan liar yang seusianya. Asosiasi antara jantan-betina dan betina-betina terlihat sering terjalin dan hampir sama pada jarak <50m disetiap periodnya, namun sedikit persentasenya pada jarak yang dekat (<10m). Home range (daerah jelajah) dari orangutan eks-rehabilitan di Jantho berkisar antara 0.61 – 78 Ha, dengan rata-rata panjang jelajah harian 428-1280 meter. Daerah jelajah orangutan eks-rehabilitan tersebut terlihat saling tumpang tindih, terutama pada sekitar kandang aklimitasi (titik pelepasliaran). Keberadaan kandang aklimitasi dan pemberian pakan serta human oriented mungkin memengaruhi dalam perilaku penjelajahan individu-individu tersebut. Pengaruh sumber pakan pada daerah jelajah eks-rehabiltan orangutan terlihat dalam penggunaan pohon (1.7-10.7 patch/km), Ficus (0-4.2 patch/km) dan liana (0.5- 12.3 patch/km) yang dikonsumsi sebagai pohon pakan. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mengukur kesuksesan orangutan eks-rehabilitan yang dilepasliarkan di Jantho tanpa adanya tahapan sekolah hutan sebelum dilepasliarkan, dan di Kehje Sewen yang menggunakan tahapan sekolah hutan. Penelitian ini berkontribusi dalam prosedur seleksi yang optimal dan proses pelepasliaran orangutan eks-rehabilitan kembali ke habitatnya. Penyesuaian pada orangutan terhadap lingkungan yang baru dapat dipengaruhi beberapa factor, seperti umur, durasi keberadaan di karantina atau kandang aklimitasi juga ekologi lokalnya (phenology and produksi keseluruhan). Salah satu indicator penting untuk suksesnya reintroduksi ke habitat baru adalah kemampuan orangutan untuk membuat sarang tidurnya sendiri
    corecore