31 research outputs found

    KELIMPAHAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI KAWASAN CAGAR ALAM GUNUNG AMBANG SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Gunung Ambang Nature Reserve is one of the preserved areas which serve to protect the flora and fauna that live in it. This study aimed to analyze the abundance of butterflies (Lepidoptera) on various types of habitat in the area of the Gunung Ambang Nature Reserve, North Sulawesi. Sampling of habitat include primary forest, secondary forest, plantation and scrub. Sampling used a sweeping technique that follows the line transect which applied at random along the 1000 meters in each habitat type. The result obtained 5 families of insect, that Nymphalidae, Papilionidae, Pieridae, Riodinidae, and Satyridae, including 37 species and 560 individuals. The most Family found are Nymphalidae (72.50%), while the majority of species is Lohara dexaminus (24.64). The highest abundance of butterflies found in scrub habitat and the lowest on the plantation. Results of this research are expected to be the data base about the abundance of butterflies in North Sulawesi

    Bioekologi dan Konservasi Kumbang Lucanid (Coleoptera: Lucanidae) di Hutan Gunung Salak, Jawa Barat

    No full text
    Kumbang lucanid berperanan penting dalam ekosistem hutan dan merupakan elemen penting dari keanekaragaman hayati. Keberadaan kumbang lucanid di hutan Gunung Salak saat ini mulai terancam punah karena perburuan dan kerusakan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh perburuan dan gangguan hutan terhadap komunitas dan fluktuasi populasi kumbang lucanid, selain itu juga mengkaji biologinya di laboratorium. Penelitian dilakukan dari bulan Mei 2004 sampai Desember 2005 di Gunung Salak, Jawa Barat. Pengambilan sampel kumbang lucanid dilakukan dengan tiga cara, yaitu 1) menggunakan perangkap lampu buatan yang dilaksanakan pada tiga tingkat gangguan hutan, 2) memanfaatkan lampu penerangan yang sudah terpasang di lapangan panas bumi Unocal pada lima ketinggian tempat berbeda, dan 3) mencatat jumlah kumbang lucanid yang dijual oleh pedagang kumbang. Pengambilan data kumbang lucanid dilakukan setiap bulan selama satu tahun. Analisis vegetasi menggunakan metode plot dan ditempatkan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe habitat berpengaruh nyata terhadap struktur vegetasi dan komunitas kumbang lucanid. Jumlah spesies, nilai keanekaragaman spesies, kemerataan spesies dan kerapatan tumbuhan bawah lebih tinggi pada hutan terganggu, sedangkan penutupan kanopi pohon, kerapatan pohon, dan luas bidang dasar pohon nilainya lebih rendah. Total kumbang lucanid yang terkumpul sebanyak 10.987 individu yang meliputi 12 spesies. Ratarata kekayaan, kelimpahan dan nilai keanekaragaman spesies kumbang lucanid lebih tinggi pada hutan tidak terganggu daripada hutan kurang terganggu dan hutan sangat terganggu. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap komunitas kumbang lucanid. Kekayaan, kelimpahan dan nilai keanekaragaman spesies kumbang lucanid berkurang dengan semakin tingginya lokasi penelitian. Hasil redundancy analysis menunjukkan bahwa volume total kayu lapuk sebagai faktor lingkungan yang paling mempengaruhi struktur komunitas kumbang lucanid pada semua tipe habitat. Analisis faktor lingkungan utama yang sangat mempengaruhi distribusi spesies kumbang lucanid pada tiga tingkat gangguan hutan dari canonical correspondence analysis adalah tebal serasah, sedangkan pada hutan Unocal dengan lima ketinggian tempat dipengaruhi oleh volume kayu lapuk kelas 2. Fluktuasi kelimpahan populasi kumbang lucanid hasil perangkap lampu buatan dan Unocal tertinggi muncul pada bulan April dan Mei, sedangkan yang diperdagangkan tertinggi terjadi pada bulan Oktober dan Nopember. Hasil pemeliharaan kumbang lucanid di laboratorium menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan oleh O. bellicosa mulai dari pertemuan jantan dan betina sampai bertelur 26,20 hari dengan keperidian 24,20 butir perbetina. Telur menetas menjadi larva 5,80 hari, perkembangan larva menjadi kepompong 12 bulan dan imago muncul dari kepompong selama satu bulan. Laju reproduksi kotor sebesar 91,70 individu/induk/generasi, laju reproduksi bersih = 6,78 individu/induk/generasi,laju pertambahan intrinsik = 0,09 individu/induk/generasi dan waktu generasi = 21,37. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa laju pemanenan kumbang lucanid lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhannya. Hal ini akan menyebabkan kumbang lucanid terancam kepunahan, untuk itu diperlukan usaha-usaha konservasi kumbang lucanid supaya kelestariannya tetap terjaga

    Penelitian, Bioprospeksi, dan Pemanfaatan Berkelanjutan dari Keanekaragaman Hayati

    Get PDF
    Nata de coco adalah selulosa yang diproduksi oleh bakteri menggunakan substrat air kelapa dan memiliki karakteristik struktural dan mekanik yang unik sehingga berpotensi diaplikasikan untuk berbagai industri seperti medis, plastik, kulit buatan dan kertas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi nata de coco untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku plastik. Produksi nata de coco dilakukan dengan kondisi statis (diam) selama 14 hari pada suhu kamar menggunakan strain bakteri Acetobacter xylinum lokal LKN6. Karakter mekanik yang diukur meliputi kekuatan tarik (tensile strength), elastisitas (modulus young), perpanjangan putus (elongation at break) dan daya serap air (water uptake), serta pengamatan morfologi permukaan nata de coco menggunakan SEM. Karakteristik mekanik nata de coco yang dihasilkan oleh A. xylinum LKN6 adalah kekuatan tarik 38,75 MPa, elastisitas 134,55 MPa, perpanjangan putus 28,8% dan daya serap air 72,75%. Dengan demikian, nata de coco memiliki karakteristik yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku plastik

    Struktur komunitas laba-laba (Arachnida: Araneae) di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara

    Get PDF
    Bogani Nani Wartabone National Park is a tropical low land rain forest. This region has high diversity of arthropods, i.e. spider. The aims of this study was to analyze the Community structure of spiders of spiders (Arachnida: Araneae) in various types of habitat at Bogani Nani Wartabone National Park North Sulawesi. Sampling was carried out at three habitat types, namely primary, secondary, and farm. The research was conducted from March to May 2014 by using pitfall trap (to collect spiders that move on the ground) and sweep net (to collect the spideron vegetation canopy). The number of spiders obtained during the study of was 1267 speciments. The specimens collected are consists 15 families, 71 genera, and 129 morphospecies. The Family which most individual abundance is family Tetragnathidae and the least was Ctenizidae. Salticidae were the most common family of species (30 species), while the least were Agelenidae, Ctenidae and Ctenizidae where each family has one species. Abundance, richness, diversity and evenness of species was higher in the farm, while the lowest in the secondary forest. The highest similarity index of spider communities was between primary forests and secondary forests. The results of this research can be used as a diversity database of spiders for conservation strategies in North Sulawesi.</p

    Pemetaan Distribusi dan Densitas Monyet Hitam Sulawesi (Macaca Nigra) di Sulawesi Utara

    Get PDF
    A study on mapping of distribution and population of Sulawesi crested black macaques (Macaca nigra) has been carried out to evaluate the current condition of distribution and density. This research was conducted from January to November 2009 at 24 locations in North Sulawesi Province. Determination of  M. nigra distribution was based on the information provided by people surrounding the sites and field observation. Line transect was used to evaluate the density of the monkey with the length based on the habitat condition and the width was 100 m. The results showed that monkeys were not found at all of the locations and based on categories, high density of monkey was only found at Tangkoko-Batuangus Nature Reserve  Two serious problems responsible to monkey population decreasing were hunting for consumption and habitat destruction. It can be concluded that distribution of M. nigra in North Sulawesi is meta-population and the current status of the species as critically endangered is accepted; the conservation of this species depends on the active management and terminating the factors of population decreasing

    Keanekaragaman Kupu-Kupu (Lepidoptera) pada Empat Tipe Habitat di Hutan Lindung Gunung Klabat, Sulawesi Utara

    Get PDF
    The objective of the research was to study the diversity of butterfly (Lepidoptera) in four habitat types  in  Mt Klabat protection forest, North Sulawesi. This research had been conducted over three months using a sweeping technique applied to follow the line transect length of 1000 meters at random in each habitat type (primary forest, secondary forest, gardens and shrubs). The results showed that there were 3 families namely Papilionidae, Nymphalidae and Pieridae, with the number of 29 species and 1014 individuals. The value of diversity based on Shannon and  Wienner diversity index and the highest was found in the garden (H = 2,24) followed by shrubs  (H = 2,12) and the lowest in secondary forests (H = 1,97). Based on the index Sorensen similarity (Cn) the composition of butterfly species found in primary forest has a high similarity value with secondary forest ((IS = 0,86), while the lowest among primary forest with garden (IS = 0,71). The result of This research is expected to be the basic data on butterfly diversity and effects of habitat changes on the diversity and distribution of butterfly in North Sulawes

    Pemberdayaan Siswa Melalui Pengelolaan Sampah Berbasis Reduce, Reuse, Recycle di Kecamatan Bunaken, Sulawesi Utara

    Get PDF
    Sampah yang dihasilkan akibat aktivitas manusia berdampak terhadap manusia dan ekosistem sekitar. Pada saat ini banyak tumpukan sampah organik dan anorganik yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat di Kecamatan Bunaken baik yang ada di sekitar pemukiman, sungai dan pesisir pantai. Permasalahan bagi mitra adalah belum memiliki pengetahuan, pemahaman dan keterampilan pengelolaan sampah dengan konsep 3R. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan siswa dalam pengelolaan sampah dengan konsep 3R. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yaitu melalui ceramah, diskusi, pelatihan, pembinaan, evaluasi, pendampingan dan monitoring. Hasil menunjukkan secara umum kegiatan pelatihan pengelolaan sampah dengan konsep 3R berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan tentang sampah serta kesadaran peserta dalam pengelolaan sampah sebelum dan sesudah kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan benar-benar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa SD terhadap pengelolaan sampah melalui konsep 3R.Kata kunci: Bunaken, penyuluhan, siswa SD, manajemen, konsep 3R, sampa

    UJI EKSTRAK BIJI MAHONI (Swietenia macrophylla) TERHADAP LARVA Aedes aegypti VEKTOR PENYAKIT DEMAN BERDARAH

    Get PDF
    Demam berdarah merupakan salah satu penyakit di daerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penggunaan biji mahoni sebagai larvasida Aedes aegypty karena biji tumbuhan tersebut mudah didapatkan dan ramah lingkungan jika dibandingkan larvasida yang mengandung bahan kimia. Penelitian ini bertujuan menguji daya larvasida ekstrak biji mahoni (Swietenia macrophylla) terhadap larva nyamuk Aedes aegypty sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue. Metode yang digunakan adalah biji mahoni diekstrak secara maserasiperkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 95%. Uji toksisitas terhadap larva dilakukan dengan cara mencampurkan lima konsentrasi (0 ppm, 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm dan 800 ppm) ekstrak etanol pekat biji mahoni kedalam wadah larva. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentarasi yang diberikan, maka mortalitas larva akan meningkat. Uji Anova didapatkan nilai signifikasi &lt;0,05, hal ini menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata jumlah kematian larva antar perlakuan. Nilai LC 50 pada 6, 12, 18 dan 24 jam setelah aplikasi masing-masing sebesar 921,55 ppm, 358,09 ppm, 221,60 ppm dan 142,14 ppm. Hal ini berarti nilai LC 50 di bawah 1000 ppm, sehingga dapat dinyatakan bahwa senyawa allelokimia yang terkandung dalam ekstrak etanol biji mahoni bersifat bioaktif. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji mahoni positif mengandung flavanoid, alkoloid, saponin, steroid dan terpenoid

    Keanekaragaman Capung (Odonata) Di Tepi Sungai Kali Desa Kali Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara

    Get PDF
    Capung merupakan komponen keanekaragaman hayati yang memiliki peran sebagai bioindikator pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies dan menganalisis keanekaragaman capung di Sungai Kali Desa Kali, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengunakan metode purposive random sampiling. Penelitian ini dilaksanakan pada tepi sungai kali  yang terletak pada tiga  tipe habitat yaitu di tepi sungai hutan sekunder, tepi sungai perkebunan dan tepi sungai permukiman. Masing-masing habitat dibuat tiga garis transek dengan panjang 300 Meter. Komposisi capung yang diperoleh terdiri dari 6 famili, 19 spesies dan 1.785 individu. Famili yang paling banyak ditemukan jumlah spesiesnya adalah Libellulidae. Spesies yang memiliki kelimpahan yang tertinggi Neurothemis ramburii dan Ortetrum pruinosum. Indeks kekayaan spesies di Sungai Desa Kali di kategorikan rendah, indeks keanekargaman di kategorikan sedang dan indeks kemerataan spesies tergolong dalam ketegori tinggiDragonfly is a biodiversity component that has a role as a bioindicator of environmental pollution. This study aims to identify species and analyze the diversity of dragonflies in Kali River Kali Village, Minahasa Regency, North Sulawesi. Sampling is done by using purposive random sampling method. This research was carried out on the river banks which are located in three habitat types, namely on the banks of secondary forest rivers, plantation banks, and residential riverbanks. Three transect lines were made on each habitat with a length of 300 meters. The dragonfly composition obtained consisted of 6 families, 19 species and 1,785 individuals. Most of the species are from family Libellulidae. Species with the highest abundance are Neurothemis ramburii and Ortetrum pruinosum. The species richness index in the Kali River River was categorized as low, the economic index was categorized as moderate, and the species evenness index was classified as hig

    Distribusi Dan Diversitas Serangga Tanah Di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa Sulawesi Utara

    Get PDF
    Serangga tanah merupakan jenis dari serangga yang seluruh atau sebagian hidupnya berada di tanah. Serangga tanah berperan penting dalam ekosistem yaitu membantu proses pelapukan bahan organik dan keberadaan serta aktivitasnya berpengaruh positif terhadap sifat kimia fisik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi dan diversitas serangga tanah di Gunung Tumpa, Sulawesi Utara. Lokasi pengambilan sampel terdiri dari tiga tipe habitat yaitu, hutan primer, hutan sekunder dan lahan perkebunan. Teknik pengambilan sampel menggunakan perangkap sumuran (Pitfall trap). Hasil penelitian ditemukan serangga tanah sebanyak 10 ordo, 23 famili, 28 genus, 33 morfospesies dan 21100 individu. Ordo Hymenoptera didominasi oleh famili Formicidae. Pola distribusi serangga tanah di Gunung Tumpa berkelompok. Indeks diversitas spesies di Gunung Tumpa tergolong sedang (H = 2,62). Kelimpahan spesies dan indeks diversitas spesies serangga tanah tertinggi ditemukan pada hutan primer, sedangkan yang terendah pada lahan perkebunan dan hutan sekunder.Soil Insects is a type of insect that all or part of his life was on the ground. Soil insects plays an important role in the ecosystem that is helping the process of weathering and the presence of organic matter as well as its activities towards the positive effect of physical chemical properties of the soil. This research aims to identify, examine the distribution and diversity of insects land on Mount Tumpa, North Sulawesi. Location of sampling consists of three types of habitat i.e., primary forest, secondary forest and plantations. The technique of sampling using Pitfall trap. Results of the study found as many as 10 soil insect orders, 23 families, 28 genera, 33 morfospesies and 21100 individuals. The order of Hymenoptera is dominated by the Formicidae. The pattern of soil insect distribution in Gunung Tumpa is clumped. Index of species diversity in Mt. Tumpa belongs to moderate (H = 2.62). The highest abudance and diversity index of soil insect species were found in primary forest, while the lowest was on plantation and secondary forest
    corecore