Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Not a member yet
275 research outputs found
Sort by
Deteksi Senyawa Psikotropika pada Jamur Koprofil yang Ditemukan di Wilayah Eks Karesidenan Banyumas Provinsi Jawa Tengah
Penelitian sebelumnya pada tahun 2018 di wilayah Eks Karesidenan Banyumas (Kabupaten: Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap) mendapatkan adanya 12 genera jamur koprofil yang yaitu Panaeolus, Coprinopsis, Stropharia, Tricholoma, Lycoperdon, Ascobolus, Rhodocybe, Conocybe, Bolbitius, Leucocoprinus, Mycena, dan Hypholoma; Indeks dominansi genera jamur koprofil di wilayah eks Karesidenan Banyumas adalah sebesar 0,329; dan Jamur koprofil yang diperoleh dengan frekuensi kemunculan paling banyak adalah Coprinopsis (34,4%) dan Panaeolus (30,1%). Sebagai langkah awal dari pengenalan potensi psikotropika yang terkandung dalam jamur-jamur koprofil yang diperoleh di lingkungan sekitar, maka telah dilaksanakan penelitian mengenai deteksi keberadaan senyawa tersebut pada jamur-jamur koprofil yang telah didapatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kandungan senyawa psikotropika pada jamur-jamur koprofil yang diperoleh di wilayah Eks Karesidenan Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental-kualitatip dengan teknik analisis Chemical Spot Test/Uji Warna terhadap keberadaan kandungan senyawa psikotropika pada jamur-jamur yang diperoleh menggunakan Reagen Ehrlich dan Reagen Marquis. Data hasil deteksi senyawa psikotropika pada jamur koprofil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Dari ke 12 genera tersebut, 3 spesies dari masing-masing genus yaitu Panaeolus sp., Conocybe sp., dan Stropharia sp. terdeteksi sebagai spesies jamur psikotropika dengan memberikan reaksi warna yang positip pada kedua maupun salah satu reagen uji
Keefektifan Pemberian Konsentrasi Limbah pada Akar Wangi (Vetiveria zizanoides ) Berbasis Sistem Constructed Wetland terhadap Limbah Cair Batik
Industri skala kecil atau skala besar dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah cair dan padat. industri batik memberikan kontribusi dalam menghasilkan limbah cair. Indikator kimia merupakan salah satu cara untuk pengujian kualitas perairan dengan analisis BOD, COD. Salah satu solusi untuk mengatasi pencemaran dengan melakukan pengolahan limbah sebelum dibuang yaitu menggunakan tanaman akar wangi berbasis sistem rawa buatan (Constructed Wetland). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan pemberian konsentrasi limbah berbeda menggunakan tanaman akar wangi berbasis sistem rawa buatan (Constructed Wetland) terhadap kadar BOD, COD. Penelitian ini menggunakan metode menggunakan metode eksperimen dengan degsain RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 kali perlakuan dan 3 kali ulangan dengan tanaman sebanyak 6 anakan akar wangi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, tanaman akar wangi memiliki keefektifan terhadap kadar BOD, COD limbah cair industri batik. Pemberian konsentrasi limbah cair batik terbaik yaitu 75% dengan penurunan kada BOD 68% dan penurunan kadar COD 66%
Inventarisasi Keanekaragaman Bambu (Bambusoideae) di Pulau Rupat, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis
Pulau Rupat adalah pulau kecil di wilayah Sumatra yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu flora di Pulau Rupat adalah bambu. Bambu memiliki kemampuan beradaptasi tinggi terhadap kondisi asam pada lahan gambut, tetapi informasi tentang spesies bambu di Pulau Rupat belum pernah dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman spesies dengan mengidentifikasi dan memeriksa berdasarkan kunci identifikasi karakter morfologi. Metode penelitian yang digunakan adalah survey eksploratif. Hasil inventarisasi mengidentifikasi total sembilan spesies dari empat genus (Bambusa vulgaris, Bambusa vulgaris var. striata, Bambusa heterostachya, Bambusa multiplex, Gigantochloa sp., Gigantochloa cf. velutina, Gigantochloa hasskarliana, Schizostachyum brachycladum, Schizostachyum zollingeri, Thyrsostachys siaminensis). Sebanyak sepuluh aksesi bambu diamati karakter vegetatifnya. Hasil skoring 53 karakter tersebut dianalisis menggunakan program NTSYSPC 2.02 untuk mengetahui pengelompokkannya. Hasil penelitian menunjukkan koefisien kemiripan berkisar 48%-77%
Hubungan Panjang-Bobot dan Sebaran Kelompok Umur Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) dan Rasbora spp. di Sungai Banjaran, Banyumas
Sungai Banjaran mendapat masukan limbah organik dari berbagai aktifitas penduduk di sekitarnya yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan populasi ikan, khususnya ikan Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842) dan Rasbora spp. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan panjang dan bobot, struktur umur, serta mengevaluasi kualitas air yang mempengaruhi kemelimpahan ikan nilem dan lunjar hasil tangkapan pada tahun 2013 dan 2018 di Sungai Banjaran. Hasil penelitian menunjukan pada tahun 2013 diperoleh ikan Nilem sebanyak 81 individu dan ikan Lunjar sebanyak 79 individu, sedangkan pada tahun 2018 didapatkan Ikan Nilem sebanyak 55 individu dan Ikan Lunjar sebanyak 24 individu. Kemelimpahan Ikan paling banyak pada tahun 2013, Ikan Nilem ditemukan pada stasiun 3 (22 individu) dan 4 (35 individu) dan tahun 2018 pada stasiun 3 (21 individu), sedangkan Ikan Lunjar pada tahun 2013 stasiun 1 (32 individu), stasiun 2 (22 individu), dan stasiu 4 (22 individu) dan tahun 2018 kelimpahan paling banyak pada stasiun 2 (10 individu). Ikan Nilem pada kedua tahun tersebut memiliki pola pertumbuhan yang sama yaitu Allometrik negatif. Namun Ikan Lunjar tahun 2013 dengan pola pertumbuhan Allometrik negatif dan pada tahun 2018 dengan pola pertumbuhan Allometrik positif. Populasi Ikan Nilem dan Ikan Lunjar pada tahun 2013 dan 2018 di dominasi oleh ikan berumur remaja. Ikan Nilem sebanyak 21 dan 20 individu sementara Ikan Lunjar 46 dan 10 individu. Hasil analisis komponen PCA menunjukan bahwa DO, BOD, dan COD merupakan faktor penentu kemelimapahan Ikan Nilem dan Ikan
KARAKTERISTIK MORFOLOGI LEBAH TANPA SENGAT (APIDAE: MELIPONINAE) ASAL PANDEGLANG, BANTEN
Lebah tanpa sengat (stingless bees) (Apidae: Meliponinae) merupakan lebah sosial, berukuran tubuh kecil dan berperan besar dalam penyerbukan tanaman. Pada penelitian ini dideskripsikan morfologi dan morfometri dan arsitektur sarang lebah tanpa sengat asal Pandeglang, Banten. Lebah tanpa sengat tersebut berukuran kecil, berwarna hitam, dan pintu masuk sarang yang berukuran lebar, tidak seperti pintu masuk sarang pada umumnya. Pengamatan morfologi meliputi warna tubuh, antena, tungkai, mandibula, dan sayap. Pengukuran morfometri dilakukan terhadap 35 karakter tubuh dari 30 individu lebah pekerja sebagai ulangan. Berdasarkan karakter morfologi dan morfometri, lebah yang diamati termasuk Tetragonula cf. laeviceps. Warna tubuh dominan hitam, malar space sempit, mesoscutum tanpa hairbands, sayap monoton dan transparan. Panjang tubuh 3,77-4,39 mm, dan jumlah hamuli 5-6. Pintu masuk sarang berbentuk bulat-lonjong dengan diameter 3,6-4,3 cm dengan panjang pintu masuk 6,9 cm. Tekstur pintu masuk sarang keras dan berwarna hitam pada pangkalnya dan lembut dan berwarna coklat pada ujungnya. Arsitektur sarang dari pintu masuk ke arah belaknag, terdiri atas sel-sel polen, sel-sel anakan, dan sel-sel madu
Dampak Kerusakan Ekosistem Mangrove terhadap Keanekaragaman dan Populasi Perikanan di Teluk Youtefa Kota Jayapura Provinsi Papua
The mangrove ecosystem on the coast of Youtefa Bay is very beneficial for the survival of the Indigenous people in Enggros, Tobati and Nafri villages, as well as residents of Jayapura City and its surroundings. The purpose of this study was to calculate the diversity and population of fisheries in a polluted mangrove ecosystem. The research was conducted in the waters of mangrove ecosystem in Youtefa Bay, Jayapura City, Papua. Fish data were collected at 10 locations, using gill nets with a mesh size of 1.5 inches with a length of 150 meters and 2 inches with a length of 150 meters. Physical and chemical parameters of the waters were also measured in each location. Data analysis used the Shannon-Wiener diversity index, dominance index, fish abundance, and fish species composition. This study only found 12 species and 10 fish families, with an abundance of 188 individuals/ hectare living and associated with the waters of mangrove ecosystem. There is a reduction in the level of diversity and abundance of fish in the waters of the mangrove ecosystem in Youtefa Bay, due to damage to the ecosystem, conversion of ecosystems, and pollution that occurs in the decomposition of the mangrove ecosystem. These fishery resources will recover if the mangrove ecosystem is restored by increasing the area of the mangrove ecosystem and controlling waste
TOTAL MIKROBA DAN BAKTERI ASAM LAKTAT TEH FERMENTASI KOMBUCHA
Teh kombucha merupakan minuman fermentasi dengan bahan dasar teh dan gula. Dalam proses pembuatannya melibatkan konsorsium mikroorganisme (mikroba) bakteri dan khamir. Disamping itu, keberadaan Bakteri Asam Laktat (BAL) menjadi salah satu kriteria pangan dikategorikan mengandung probiotik. Tujuan penelitian ini untuk menghitung total mikroba, total BAL dan melihat kesesuaian dengan syarat angka probiotik yang diterima di Indonesia. Adapun parameter yang diujikan yaitu total mikroba, total BAL dan pH selama waktu fermentasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk menghitung total mikroba dan total BAL yaitu Angka Lempeng Total (ALT). Pengujian terhadap sampel dilakukan pada rentang waktu fermentasi 0, 8, 11 dan 14 hari selama empat kali masa produksi berulang. Hasil penelitian menunjukkan total mikroba tertinggi pada hari ke-14 yaitu 3.8 x 106 koloni/mL dan total BAL sebesar 3.4 x 106 koloni/mL. Teh kombucha yang diujikan memenuhi syarat menjadi minuman probiotik dengan syarat total BAL > 106 koloni/mL yang diterima di Indonesia dan total mikroba dengan nilai total > 106 koloni/mL
ANALISIS VEGETASI KAWASAN POS LABUHAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI
Kawasan Hutan Gunung Merapi merupakan kawasan hutan negara yang bernilai penting dan strategis karena berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang bermanfaat bagi wilayah sekitarnya dan merupakan tipe hutan tropis dengan kondisi gunung api yang sangat aktif. Dalam sejarahnya kawasan hutan Gunung Merapi dilindungi untuk fungsi pelestarian alam (menjaga fungsi hidrologis, botani dan estetika serta pengelolaan kawasan secara khusus sebagai daerah rawan bencana). Penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi dengan tujuan untuk mengertahui keanekaragaman Indeks Shannon dan Indeks Nilai Penting vegetasi di kawasan Pos Labuhan Taman Nasional Gunung Merapi dengan lokasi titik bujur 7°34’26.3’ dan titik lintang 110°26’3.2’’ pada keitinggian 1288 mdpl. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2019 dengan metode kuadrat sampling yang bertujuan khusus untuk mengetahui jumlah dominansi habitus, indeks shannon, dan nilai penting. Penelitian dilakukan dengan membuat plot berukuran 16 m x16 m sebanyak 3 plot. Strata atas didominasi oleh pohon, sedangkan strata bawah diisi oleh semak, herba, dan lumut. Hasil pengamatan menunjukkan habitus pohon spesies Casuarina junghulhiana memiliki INP tertinggi yaitu 113.73% dan Frangula sp. memiliki nilai INP terendah yaitu 11.52%; semak dengan INP tertinggi adalah Ageratina riparia yaitu 107.48% dan yang terendah adalah Achyranthes sp. sebesar 17.95%; herba dengan INP tertinggi adalah Echinochtea sp. sebesar 122.70% dan yang terendah adalah Gomphrena serrate sebesar 50.33%; sedangkan pada lumut INP tertinggi adalah Bryopsida sp. 195.47% dan yang terendah adalah Diphasiastrum sp. sebesar 35.69%. tingginya INP menunjukkan bahwa spesies tersebut dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar diabanding spesies lain
Aktivitas Protease, Amilase dan Lipase Digesti Ikan Medaka (Oryzias javanicus) yang Tertangkap di Segara Anakan Cilacap
Medaka fish (Oryzias javanicus) originating from Segara Anakan, Cilacap Regency has the potential as a bio-indicator of brackish water. The study of the physiological character of this species has not been done before, so that there needs to be basic information for domestication. The purpose of this study was to determine changes in protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish from Segara Anakan at different body sizes and salinity. The study was conducted by survey method. A sample of 567 medaka fish taken from three locations with different salinities (10 ± 1, 15 ± 1 and 20 ± 1 ppt) at the time of sampling, were used in this study. Medaka fish is grouped into three different sizes, namely (1) 0.063±0.01g (small), (2) 0.153±0.03 g (medium), and (3) 0.287±0.03 g (large). Measurements of enzyme activity were carried out by spectrophotometric methods. The results showed that body size and salinity were significantly different (P<0.05) on protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish. Large medaka fish shows higher digestive enzyme activity compared to the small body size in each salinity. However, amylase and lipase show same activity between different body sizes at 15±1 ppt. The higher the salinity, the lower the activity of protease, amylase and lipase. However, the salinity of 10±1-20±1 ppt shows the same amylase activity (small and medium size) and lipase (small size). Conclusion from the results of this study is the protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish that originating from Segara Anakan, Cilacap has been increased with increasing body size and decreasing environmental salinity. The results of this study are expected to contribute to the enrichment of fish biology, especially medaka fish.Ikan medaka (Oryzias javanicus) yang berasal dari Segara Anakan Cilacap memiliki potensi sebagai biondikator perairan payau. Kajian karakter fisiologi O javanicus belum banyak dilakukan sehingga perlu ada informasi dasar untuk domestikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan aktivitas protease, amilase dan lipase digesti ikan medaka pada ukuran tubuh berbeda yang ditangkap dari Segara Anakan, Kabupaten Cilacap pada salinitas yang berbeda. Penelitian dilakukan dengan metode survey. Sampel ikan medaka diambil dari 3 stasiun dengan salinitas yang berbeda (10, 15 dan 20 ppt) dan diulang sebanyak 3 kali. Ikan medaka dikelompokkan menjadi 3 ukuran berbeda, yaitu (1) 0,063±0.01g (kecil), (2) 0,153±0.03 g (sedang), serta (3) 0,287±0.03 g (besar). Pengukuran aktivitas enzim dilakukan dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran tubuh dan salinitas yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aktivitas protease, amilase dan lipase digesti ikan medaka. Ikan medaka berukuran besar menghasilkan aktivitas enzim digesti lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran tubuh kecil pada masing-masing salinitas. Namun pada salinitas 15 ppt, amilase dan lipase menunjukkan aktivitas yang seragam di antara ukuran tubuh berbeda. Semakin tinggi salinitas maka aktivitas protease, amilase dan lipase menjadi semakin rendah. Namun, pada salinitas 10-20 ppt menunjukkan aktivitas amilase (ukuran kecil dan sedang) dan lipase (ukuran kecil) yang sama. Simpulan dari hasil penelitian ini adalah aktivitas protease, amilase dan lipase organ digesti ikan medaka yang berasal dari Segara Anakan, Cilacap mengalami peningkatan seiring dengan semakin meningkatnya ukuran tubuh dan menurunnya salinitas lingkungan
Karakterisasi dan Produksi Biosurfaktan oleh Bakteri Diazotrof Indigenous Riau pada Substrat Crude Palm Oil
Tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di perairan menimbulkan dampak negatif seperti turunnya kualitas perairan dan membunuh beberapa organisme. Salah satu alternatif proses penanggulangannya dengan penanganan secara biologi melalui metode bioremediasi menggunakan mikroorganisme penghasil biosurfaktan yang tidak bersifat toksik serta ramah lingkun gan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri diazotof indigenous Riau NR22, NR28 dan NR30 dalam menghasilkan biosurfaktan dan mengetahui aktivitas emulsifikasinya. Uji kualitatif bakteri penghasil biosurfaktan menggunakan oil spreading technique dan aktivitas emulsifikasi. Uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur tegangan permukaan pada Minimal Salt Medium (MSM) inkubasi 5 hari. Hasil dari ketiga isolat bakteri NR22, NR28 dan NR30 dalam uji oil spreading technique diperoleh zona bening berturut-turut serbesar 4,39 cm, 3,14 cm dan 4,15 cm dan dapat mengemulsi sebesar 90,78%, 91,75%, dan 93,33%. Isolat bakteri NR 22, NR 28 dan NR 30 dapat menurunkan tegangan permukaan sebesar 11.2 dyne/cm, 9.6 dyne/cm, 10 dyne/cm. Tiga isolat bakteri diazotrof indigenous Riau dapat dikembangkan untuk produksi biosurfaktan yang dapat dimanfaatkan untuk bioremediasi, oil recovery, industri makanan dan farmasi