Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Not a member yet
275 research outputs found
Sort by
Distribution Of Eel Fish (Anguilla bicolor) In Cibeureum River, Cilacap District
Fish resources in the waters are very dependent on fish larvae resources. Catching eel from the size of the seed (glass eel) to the size of the adult eel has decreased in nature indicating that in the management of eel the economic aspect is more dominant than its conservation aspects. The purpose of this study was to design the management pattern of eel fish in Cibeureum River, Sidareja District, Cilacap Regency based on their ecology, water quality, and rate of exploitation. The research method used is explanatory research and sampling techniques using purposive sampling method in five sampling stations from upstream to downstream of the Cibeureum River. The research data were analyzed using descriptive analysis. The results of the study of the water quality of the Cibeureum River meet the water quality requirements as eel living areas in accordance with GR No.82 of 2001. The abundance of eel species has an Abundance Index (KR) 72.73 - 93.75%, Yellow Eel types have KR = 6,25 - 27.27%, Glass Eel and Silver Eel have abundance, KR = 0%. The distribution pattern of eel fish species of Elver and Yellow Eel has a random distribution pattern (Id = 0.95 and Id = 0.99). Glass Eel and Silver Eel do not have a distribution pattern (Id = 0). Growth rate of eel fish = 120.23 (1-. Total mortality rate (Z) of 2.88 per year that eel fish mortality in the Cibeureum River, mostly caused by fishing activities with exploitation rate (E) of 0.84 per year and it is thought to have exceeded the optimum value (overfishing) The management pattern of eel fish (Anguila bicolor) by limiting the time and area of capture as well as the important role of TPI, cooperatives and Pokmaswas (Community Watch Group) in the eel catchment area.
Pertumbuhan Lamun Enhalus acoroides pada Berbagai Kondisi Lingkungan di Perairan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan serta tingkat kerapatan dan laju pertumbuhan daun lamun Enhalus acoroides di perairan Pulau Penyengat Provinsi Kepulauan Riau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–Maret 2019 di perairan Pulau Penyengat. Penentuan stasiun penelitian berdasarkan metode purposive sampling. Sebanyak 5 stasiun pengambilan sampel yaitu: wilayah yang dekat dengan pelabuhan, pemukiman penduduk, pembangunan taman di wilayah pesisir (reklamasi), ekosistem mangrove dan tempat pembuangan sampah sementara (TPSS). Pengamatan laju pertumbuhan daun lamun melalui metode penandaan pada daun yang muda dan tidak rusak menggunakan kabel ties disetiap titik pada tiap stasiun. Pengamatan pertumbuhan daun selama 30 hari dengan interval waktu 15 hari sekali. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kualitas perairan di Pulau Penyengat memenuhi baku mutu kecuali pada nitrat dan fosfat. Nilai kerapatan lamun E. acoroides tertinggi berada pada tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) sebesar 50,33 ind/m². Laju pertumbuhan tertinggi setelah 30 hari pada daun lamun E. acoroides yaitu pada wilayah yang dekat dengan pelabuhan sebesar 5,74 mm/hari.
Studi Histologi Tingkat Kematangan Gonad Jantan dan Betina Bulu Babi Diadema setosum di Pulau Panjang Jepara
The gonads maturity level (TKG) is a particular stage gonadal development before and after the spawning biota. This research aims to determine the gonads index of the Diadema setosum and the gonads maturity level of Diadema setosum found on Panjang Island, Jepara. The research method used was the observation method. The gonads histology was made by using paraffin method and hematoxylin-eosin staining. The measured parameters were the diameter of the shell, the Gonads Maturity Index (GI) and the Gonads Maturity Level, and environmental parameters such as temperature, pH, DO, and salinity of the water. The Gonads Maturity Level was determined on the histology of gonads. The result shows average Diadema setosum GI value of 7,334 % with an optimum maturity in December. Based on the height of individual the sea urchin (Diadema setosum) found in the category TKG III, which is 11 out of 30 Individuals and two individuals in the TKG IV category are observed histology of the gonadal showing in that phase
Distribusi Kandungan Ion dan Klorofil Kedelai Kultivar Mahameru (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam di Pantai Sodong Cilacap
Penelitian dilakukan untuk mengetahui distribusi kandungan ion dan klorofil pada kedelai kultivar Mahameru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana distribusi dari ion-ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun kedelai kultivar Mahameru yang ditanam dipantai Sodong Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan RCBD (Randomized Completely Block Design) dengan tiga ulangan. Data dianalisis menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Kedelai ditanam pada lahan pesisir pantai dengan jarak lima puluh meter dari tepi pantai, dibuat blok-blok ukuran satu meter panjang dan dua meter lebar. Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Kandungan ion diamati menggunakan AAS dan kandungan klorofil diamati menggunakan spektrofotometer. Variabel yang diamati adalah kandungan klorofil a, b dan klorofil total; kandungan ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kandungan klorofil a, b dan klorofil total. Terjadi peningkatan kandungan ion Na+ pada bagian daun dan peningkatan ion Cl- pada bagian batang. Ketiga ion yang lain K+, Ca2+ dan Mg2+ terjadi penurunan. Kandungan ion yang paling rendah pada akar, batang dan daun adalah ion Mg2
PENGARUH ASAM ASKORBAT TERHADAP PERTUMBUHAN Colletotrichum acutatum Simmonds
The anthracnose caused by the Colletotrichum acutatum Simmonds fungus is one of the limiting factors for the production of red chilli. The occurrence of anthracnose determined by the success of pathogenesis by C. acutatum. Also, red chilli which is resistant to anthracnose has a higher ascorbic acid content than vulnerable red chili. This paper presents scientific information about the ability to grow three C.acutatum isolates (Kulonprogo, Temanggung, and Pandeglang) on a culture medium given ascorbic acid. The three C. acutatum isolates have high pathogenicity. The results showed that administration of ascorbic acid in the culture medium only affected the dry weight of mycelium and did not affect the diameter length of the colony of C. acutatum
Identifikasi Keanekaragaman Tanaman Bunga sebagai Sumber Pakan Lebah Madu di Kawasan Hutan Desa Batu Dulang, Kecamatan Batu Lanteh, Sumbawa
Ketersedian tanaman bunga menjadi kunci penting untuk sumber pakan lebah dan madu yang dihasilkan di masyarakat Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jenis tumbuhan bunga yang berpotensi menjadi sumber pakan lebah madu di kawasan hutan, Desa Batu Dulang, Sumbawa. Metode penelitian menggunakan analisis vegetasi dengan petak ukur kuadran yang berukuran 1 m x 1 m. Data tanaman yang diperoleh dianalisis dengan indeks keanaekaragaman Shanon-Wienner (H’), indeks kemerataan Shanon (E’) dan indeks dominansi Simpson (D). Hasil penelitian diperoleh data sebanyak 216 individu tanaman bunga dari 28 spesies tanaman dan terbagi dalam 12 famili. Sebanyak 23 spesies berhasil diidentifikasi, sedangkan 4 spesies belum bisa diidentifikasi. Jenis tanaman bunga terbanyak >10 individu tanaman ditemukan pada 8 spesies dengan tanaman Kirinyuh (Chromolaena odorata) sebagai spesies terbanyak dan 4 spesies tanaman dengan jumlah paling sedikit. Hasil analisis indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E’) dan dominansi (D) tanaman berturut turut yaitu 2.97, 0.89, dan 0.067. Nilai tersebut menunjukkan tingkat keanekaragaman tanaman yang sedang melimpah, kemerataan yang tinggi dan dominansi tanaman yang rendah. Tingginya keanaekaragaman tanaman akan memberikan dampak positif pada ketersediaan sumber pakan lebah madu yang cukup melimpah. Tentu pula harus dengan didukung oleh kondisi hutan yang terjaga kelestariannya dengan melibatkan masyarakat lokal. Penelitian selanjutnya akan difokuskan pada waktu berbunga dari tanaman sumber pakan lebah melalui kalender pembungaan sehingga diketahui tingkat kecukupan pakan bagi lebah dan kuantitas madu yang dihasilkan dalam setahun
Keanekaragaman dan Morfologi Semut Yang Berasosiasi Dengan Kutu Tempurung Pada Karet di Pembibitan
Tanaman karet merupakan sumber utama bahan karet alam dan komoditas perkebunan yang mempunyai peran penting di Indonesia. Hampir 20.000 Ha perkebunan karet di Indonesia sudah berumur lebih dari 30 tahun. Proses replanting perkebunan tua dengan menggunakan beberapa klon unggul yang diharapkan dapat meningkatkan produksi karet, disisi lain menimbulkan permasalahan baru yakni tingginya serangan hama dan penyakit. Salah satu hama yang menyerang adalah hama kutu tempurung. Kutu tempurung merupakan hama dari golongan serangga ordo Hemiptera dan famili Coccidae. Kutu tempurung menjadi hama yang lebih berbahaya dengan kehadiran semut. Beberapa spesies semut memiliki hubungan simbiosis dengan kutu tempurung. Untuk mengetahui spesies semut maka dilakukan penelitian keanekaragaman dan morfologi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april sampai bulan Juni 2018 di Nagari Sungai Dareh dan Kurnia Selatan. Lokasi pengamatan berupa pembibitan karet dengan klon PB 260 yang berumur 5 bulan. Pada hamparan pembibitan dipilih 3 blok dengan jumlah bibit 300 batang. Pada blok yang sudah ditentukan dipilih tanamn sampel secara langsung. Penentuan tanaman sampel digunakan untuk mengoleksi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung. Berdasarkan pengamatan semut yang terkoleksi sebaanyak 5 subfamili dan 13 spesies. Kelimpahan semut yang paling banyak berasosiasi dengan kutu tempurung yakni D. affinis (1018) dengan indeks keanekaragaman (0.18), indeks kemerataan (0.07) dan indeks nilai penting (0.98). Selain itu diketahui terdapat hubungan antara kelimpahan semut dengan kelimpahan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan
Implikasi Pemanfaatan Lahan terhadap Tingkat Keanekaragaman Jenis Tanaman di Kawasan Kabupaten Kuningan Jawa Barat
The plant diversity has become of one indicated maintained, preserved and it has impact to environmental quality, and of course has value to human wellbeing dimension, which it has used to a demand of living the human. Beside of plant diversity has key a role of important in preserving of natural system condition by sustainable. Therefore aim this study to know how the plant diversity (H’), therefor methods which is used to vegetation analyses, by the plotting of sample area is 20x20 m, which are 3 subdistrict in Kuningan district area as representative of research samples methods. This result of research has inventories at least ±43 plants species in all area research, in which every area has had difference of index plant diversity level, in which Kadugede subdistrict area has highest level, than one the other subdistrict area, which is value H’= 2.30, and the lower of diversity index value is Cimahi H’= 1.49 and Ciawegebang H’= 1.14 level. Preserving and maintaining of plant diversity is one of all ways or strategies to increasing of quality ecosystem or carrying capacity and its conservation goals of sustainable developing in urban or rural area
PENGARUH BEBERAPA MEDIA KULTUR TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI SIMBION LARVA Oryctes rhinoceros L.
Bacillus sp. Dan Achromobachter sp. merupakan salah satu bakteri yang dapat ditemukan diusus larva dari O. rhinoceros, enzim selulase yang dihasilkan bakteri simbion pada serangga herbivor bekerja dalan mendegadasi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa media kultur terhadap pertumbuhan bakteri simbion larva O. rhinoceros. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial yang terdiri dari 10 perlakuan dan 3 ulangan. Jenis media yang digunakan yaitu ekstrak dari daging sapi lokal, ayam kampung, ayam broiler dan kambing gibas. Hasil penelitian menunjukan bahwa media buatan yang terbaik yaitu media dari ekstrak daging sapi lokal dengan rataan populasi sebesar 9,4 x 107 Cfu/ml kemudian ekstak daging ayam kampung dengan rataan 8,5 x 107, lalu ekstrak daging ayam broiler dengan rataan 7,5 x 107 dan populasi bakteri terendah terdapat pada media dari ekstrak daging kambing gibas dengan rataan sebesar 5,8 x 107 Cfu/ml. Media buatan dengan bahan dari ekstrak daging sapi lokal merupakan media yang paling efektif untuk digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri simbion larva O. rhinoceros.
Potensi Ancaman Invasive Aliens Species (IAS) Terhadap Biodiversitas Vegetasi Di Kebun Raya Baturraden Jawa Tengah
The Invasive Aliens Species (IAS) has become an ecologically distinctive threat to the conservation area which is a biodiversity sanctuary, the Baturraden Botanical Garden (KRB). This research aims to know the IAS that can affect the biodiversity of vegetation in KRB. The KRB is divided into 10 plots, and then observes the existing IAS vegetation along with environmental factors such as temperature, humidity, soil pH and canopy cover. Introductory process information and conservation strategic recommendations are obtained through literature studies and interviews with resource persons. The data then analyzed using the Importance Value Index (INP), the Shannon-Winner Diversity Index, the individual spatial distribution pattern of a species at each growth rate is calculated based on the Morishita Index. The results showed that the IAS introduction process began in 1952 through the utilization of Protected Forest (HL) and Limited Production Forest (HPT) in KRB; The vegetation community structure in the KRB is dominated by spikes (saplings), seedlings, trees and poles. There were 13 IAS species consisting of 9 families; Seedling and saplings Calliandra houstoniana var. calothyrsus (Meissner) Barneby and Agathis dammara (Lamb). Rich. while at Agathis dammara (Lamb) tree level. Rich. and Schima wallichii Choisy. potential as a special IAS in the KRB; Controlling can be done through mitigation, periodic maintenance and eradication. In situ and ex situ conservation strategy plans in KRB are the creation of forest pharmacy conservation villages