100 research outputs found
KONSTRUKSI PASANGAN CALON DALAM PILGUB JATENG 2008 OLEH MEDIA MASSA (KASUS PEMBERITAAN JAWA POS RADAR SEMARANG DAN SUARA MERDEKA)
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable.
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable
KEBIJAKAN BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI) TIONGKOK PADA MASA PEMERINTAHAN XI JINPING. AUTHOR: Syaiful Anam, Ristiyani Ristiyani
KEBIJAKAN BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI) TIONGKOK PADA MASA PEMERINTAHAN XI JINPING
Syaiful Anam, Ristiyani Ristiyan
Cell and tissue culture: an overview
Introduction
This book, Cell/Tissue Culture Research and Technology from Islamic Perspective, deals and discusses on issues pertaining to the applications of cell and tissue culture in the light of the advancements made in modern technology, particularly in biotechnology and nanotechnology. To dissect the many topics pertaining to this matter, the book is divided into 10 chapters.
In Chapter 1, which is entitled, “Integration of Islamic Principles in Modern Science: Its Philosophy and Method”, Ibrahim A. Shogar, the writer, gives an in depth explanation of the approaches used by scholars, jurists and scientists of this modernized world in order to integrate Islamic principles in science and technology. He explains the many challenges that have, and will, be faced by Muslims in order to achieve Islamic integration in modern science, taking into account the opinions of old and new Muslim scholars. Through the philosophies and methods presented, the aim of showing the steady progression of Islamic integration in the promising field of science and technology is achieved.
In Chapter 2, “Cell and Tissue Culture: An Overview”, Mohammad Syaiful Bahari Abdull Rasad and his co-author, focuses upon the basic requirements and arrangements that are necessary for the purpose of setting up, or working, in a cell/tissue culture laboratory. Brief explanations of protocols, equipment handling and maintenance are also incorporated into this chapter with the aim of exposing readers on the various regulations and equipment needed in a culture laboratory. A concise elucidation on a collection of cell lines is provided as an introductory towards the types of cells/tissues that can be found cultured in a normal cell/tissue culture laboratory. Overall, readers should have a fundamental understanding of the setup and requirements of a cell/tissue culture laboratory.
Rahmatul Wahida Ahmad, in Chapter 3, which is entitled “Risk Assessment and Regulatory Aspects of Cell Culture”, stresses that safety and health of the occupants of the cell/tissue culture laboratory is to be the focal point of any cell/tissue culture research as the risks one is exposed to are aplenty. The level of risks, and the regulations that are established in most cell/tissue culture laboratory in order to counter and reduce the amount of exposure towards those risks, are highlighted in this chapter, with the hopes of putting cautions in readers who are involved with cell/tissue culture research. As Islam prioritizes safety and wellbeing of mankind, this chapter is of great significance before going further with other aspects of integrated science and Islamic principles.
In Chapter 4, “Basic Techniques and Research in Cell Culture: Integration of Islamic Approach”, Mohammad Syaiful Bahari Abdull Rasad provides an explanation on how Islamic laws and regulations (shariah) could be applied in cell culture research with proper usage of alternative resources and materials. Discussions and suggestions in utilizing alternative approaches for cell culture research are stressed upon, with the aim of exposing readers with the possibilities of making modern science and technology more acceptable for Muslims, as well as other, communities. As a result, a perceptive on how to approach and integrate Islam into cell culture research is accomplished.
The focus of Chapter 5 is on the “Diagnostic and Therapeutic Application of Cell and Tissue Culture from Islamic Perspective”. The writer, Mohammad Syaiful Bahari Abdull Rasad and his co-writer, Nur Aizura Mat Alewi, writes at great length on the various dilemmas as well as ethical and social issues posed by the utilization of cell and tissue culture in the field of diagnostic and therapeutic research. The writers emphasize that with the advancement in cell/tissue culture application in an assortment of researches, many issues, of old and new, have also arisen. Thus, it is the duty of Muslim scholars and scientists to search for knowledge and ascertain proper regulations that are in accordance to Islamic shariah as this would assist in safeguarding the interest of the Muslim ummah and at the same time, promote its progression in modern science.
In Chapter 6, “New Era of Regenerative Medicine: An Islamic Perspective”, Ahmad Sukari Halim and his co-authors highlight the headway made by scientists and researches of this century on regenerative medicine. Diverse methods and approaches applied in modern science are stated thoroughly, keeping in mind on how Islam perceives and accepts advancement in life, as long as they are within the bound of Islamic rules and regulations (shariah).
In Chapter 7, Mohd. Arifin Kaderi explains the various aspects of genetic engineering and how cells are utilized in this advancing field of biotechnology, taking into deliberation the issues that may arise based on Islamic perspective. Hence, this chapter entitled, “Applications of Cultured Cells in Genetic Engineering: An Islamic Perspective”, discusses topics such as gene/genome applications in genetic engineering, vaccines and antibodies productions and so forth.
Elaborating further on the matter which have a degree of association, Munirah Sha’ban and her co-author, in Chapter 8, under the title, “Tissue Engineering: An Islamic Perspective”, write on a variety of aspects that need to be understood by Muslims concerning the utilization of tissue engineering from medical and scientific perspectives, with religious (Islamic) perspective playing a focal role in the discussions. It is indicated in the chapter that although the issues surrounding tissue engineering are continuously being reviewed and debated, Muslims should move forward with researches concerning tissue engineering while keeping in adherence to the shariah.
Meanwhile, Muhammad Lokman Md. Isa in Chapter 9, “Stem Cells Research: Value, Ethical and Religious Views”, draws attention to several other religions, including Islam, and their opinions and views on the subject of stem cell research. It is interesting to note that the religions which have strong traditions of legal and religious laws, namely Judaism and Islam, support most forms of stem cell research.
Finally, in the last chapter (Chapter 10) which was written by Shaharum Shamsuddin, entitled, “Nanobiotechnology and Nanomedicine: The Impact, Implication and The Unknown”, the writer puts forward a lengthy elaboration on a topic that has piqued the attention of many researchers and scientists of this era, which is the topic of nanotechnology. With in-depth input on different applications of nanotechnology, readers are able to further immerse themselves in the many prospects of nanotechnology, both known and unknown, that could benefit mankind in the future
PERANCANGAN SISTEM PAKAR UNTUK MENGIDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN BAWANG MERAH MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR BERBASIS WEB
Negara Indonesia khususnya di daerah Jawa tengah merupakan salah satu penghasil bawang merah terbesar. Sebagian para petani mengandalkan hasil budidaya bawang merah sebagai tumpuan ekonomi keluarga karena hasil dari panen bawang merah cukup menjanjikan. Namun, pada musim-musim tertentu tanaman bawang merah sering terserang berbagai macam gangguan hama dan penyakit. Sehingga dapat menurunkan hasil panen atau bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu tindakan yang cepat dan tepat agar tanaman bawang merah terhindar dari berbagai macam hama dan penyakit. Metode pengembangan sistem pakar identifikasi gangguan pada tanaman bawang merah merupakan solusi yang terbaik agar dapat mengidentifikasi gangguan tanaman bawang merah sedini mungkin. Metode yang digunakan dalam sistem pakar ini adalah dengan metode certainty factor. Dengan metode tersebut diperlukan beberapa pakar untuk memberikan data-data yang berkaitan dengan gangguan pada tanaman bawang merah. Sistem pakar identifikasi gangguan tanaman bawang merah di rancang menggunakan bahasa pemrograman php berbasis web. Dalam perancangan basis pengetahuan yang sebagai inti dari sistem ini, dibuat secara dinamis agar memudahkan dalam menambah data- data yang baru. Dengan adanya sistem pakar ini bisa membantu para petani untuk memudahkan dalam penanganan masalah bawang merah.
Kata Kunci : Sistem Pakar, Certainty Factor, Bawang Merah, Diagnosa Hama dan Penyaki
Sistem informasi pengelolaan operasional peternakan kambing Pada al-hadi farm milik bapak syamsul hadi berbasis web
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang pengelolaan operasional peternakan hewan kambing yang diperjualbelikan oleh peternak bidang peternakan yang meliputi biaya makanan, kebersihan, perawatan dan pembelian hewan kambing yang ada di Al-Hadi Farm. Selain itu juga Owner dapat mendata dan mengetahui kategori apa saja yang diperlukan dan biaya apa saja untuk operasional peternakan. Sebelumnya biaya dan operasional peternakan sehari-hari tidak ditangani dan dicatat. Dengan dibuatnya penelitian tentang Sistem Pengelolaan Operasional Peternakan Kambing ini diharapkan dapat membantu Pemilik Usaha dalam menghitung biaya operasional peternakan secara rinci serta melakukan transaksi yang saling menguntungkan
PENERAPAN NILAI KEADILAN GENDER DALAM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
AbstrakBanyaknya tindak pidana yang dilakukan oleh anak mengakibatkan adanya upaya guna mencegah dan menanggulanginya, salah satunya adalah penyelenggaraan Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Criminal Justice System). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU-SPPA) memberikan definisi berupa keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. UU-SPPA merumuskan diversi sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana keproses diluar peradilan pidana. Penuntut Umum Anak sebagai aparat fungsional dari Lembaga Kejaksaan Republik Indonesia merupakan salah satu bagian pelaksana sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa diversi di tingkat penuntutan dikatakan berhasil apabila para pihak mencapai kesepakatan, dan hasil kesepakatan tersebut dituangkan dalam bentuk kesepakatan diversi. Namun diversi ditingkat penuntutan dikatakan gagal apabila tidak terjadi kesepakatan bersama antara pelaku dan korban. Implementasi Diversi Sebagai Suatu Perlindungan Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Pada Tingkat Penuntutan dilakukan oleh Penuntut Umum Anak yang bertindak sebagai fasilitator dan dilakukan dengan memanggil para pihak yaitu terdakwa, orang tua terdakwa, para korban (keluarga korban yang meninggal serta korban yang mengalami luka berat), perwakilan dari BAPAS, Penasihat Hukum yang mendampingi terdakwa. Kendala dalam pelaksanaan upaya diversi pada tingkat penuntutan antara lain : Kurangnya keahlian yang dimiliki seorang jaksa untuk menjadi fasilitator, belum tersedianya Ruang Khusus Anak, kurangnya pemahaman para pihak tentang pelaksanaan diversi, serta pengiriman berkas perkara dari penyidik ke kejaksaan terlalu dekat dengan habisnya masa penahanan
Relative Expression of CMyc MRNA in Human Glioma Cells and Its Relationship with the Degree of Malignancy
Relative Expression of cMyc85Vol. 5, No. 2, Agustus 2017RESEARCH ARTICLERelative Expression of cMyc mRNA in Human Glioma Cells and its Relationship with the Degree of Malignancy Fidinny I. Hamid,1 Novi S. Hardiany,2* Febrial Hikmah,3 Syaiful Ichwan41Undergraduate Program FM Universitas Indonesia2Department of Biochemistry and Molecular Biology, FM Universitas Indonesia3Biomedical Sciences Program FM Universitas Indonesia4Department of Neurosurgery FM Universitas Indonesia -Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital*Corresponding author: [email protected] 10 April 2016; Accepted 23 Agustus 2017DOI: 10.23886/ejki.5.7467AbstractPluripotency of cMyc genes may be one factor for the high glial cell differentiation in glioma thus it can become an alternative therapeutic target. The objective of the study is toanalyze the cMyc mRNA expression and its relationship with the degrees of glioma Malignancy. This is a cross-sectional study from 20 glioma samples with different degree of Malignancy from Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta during the period of October 2014 until February 2015. The mRNA obtained from glioma samples are converted to cDNA and then amplified. Relative quantification of cMyc mRNA expression is measured by calculating the cycle threshold values of Real Time RT PCR and normalized towards 18s rRNA to predict the relationship between the expression of cMyc and the degree of Malignancy. The cMyc expression is increased in accordance with the tumor grade. The cMyc expressions in high grade glioma are 17424.23 folds higher when calibrated to the normal cell, whereas the genes in lower grade tumors are expressed with the rate of 6167.35. Although the values obtained are not statistically significant, this research has strengthened molecular diagnosis, specifically pluripotency as the factor that gives a greater prognostic relevance than the histopathologic diagnosis. As a conclusion, there is a clinical tendency where the relative mRNA expression was higher in in glioma cMyc high degrees compared with low-grade glioma, however it is not statistically significant
Estetika Seni Lukis Kaligrafi Karya Syaiful Adnan
This research is a descriptive qualitative research. The object under study is the aesthetic value of the art of calligraphy Saiful Adnan. The author uses the techniques of data collection through literature review, observation, and interviews. The validity of the data using triangulation of data by utilizing the data sources and review interviews that have been conducted.Analysis of the data used are data reduction, data presentation, inference, and interpretation of data. To explain the aesthetics of painting calligraphy Saiful Adnan using interpretation approach Susanne K. Langer's aesthetic theory. The results of the study explained that, the character of the Arabic calligraphy art kaligarfi Adnan Saiful different from raw calligraphy character has evolved over the years. The character is known as khatkaligarfiSyaifuly. Calligraphy character formation through several internal and external factors. Internal factors include environmental factors Adnan Saiful place of origin, education factors, and spiritual factors. The external factors include factors phenomena that occur in the community and form factors of artistic calligraphy. The process has led to the formation of the character of the aesthetic value of the art of calligraphy Saiful Adnan symbolic color, shape, composition, and verses from the Qur'an with the meaning of the beauty of Islamic values in each painting calligraphy Saiful Adnan.
Keywords: Aesthetics, painting calligraphy, Saiful Adna
Penjatuhan Hukuman Tindak Pidana Pencurian Berdasarkan Pasal 363 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pencurian merupakan suatu perbuatan tercela dan melawan hukum yang mana akibat dari perbuatannya telah merugikan banyak orang terbukti dengan terdapatnya 86 jumlah kasus pencurian dengan pemberatan di lingkungan masyarakat. Masyarakat merasa pelaku tindak pidana pencurian harus lebih di tindak tegas lagi agar dapat memberikan efek jera terlebih bagi pelaku yang telah berulang kali keluar masuk penjara dengan kasus yang sama. Karena masyarakat menilai pengaturan hukum yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur tentang pencurian pada Pasal 363 masih kurang efisien sehingga pelaku pencurian masih dapat melakukan tindak pidana yang sama lagi ketika keluar penjara.
Adapun permasalahan dalam penelitian ini mengenai Bagaimana penjatuhan hukuman dalam tindak pidana pencurian berdasarkan Pasal 363 KUHPidana. Bagaimana pertimbangan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan putusan tentang tindak pidana pencurian yang dikaitkan dalam Pasal 363 KUHPidana.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian adalah metode penelitian normatif yang mencari dan mengumpulkan data dengan cara penelitian kepustakaan terhadap peraturan Undang-Undang, buku-buku hukum, artikel hukum, jurnal hukum, putusan hakim, media massa, yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas penulis di dalam skripsi ini.
Hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian ini adalah pertimbangan hukum oleh hakim dalam memberikan penjatuhan hukuman terhadap pelaku tindak pidana pencurian berdasarkan Pasal 363 ayat (1) ke-4e, 5e jo Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan melihat bukti-bukti yang terdapat di dalam persidangan maupun tempat kejadian perkara dan melihat berdasarkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan yang dilakukan oleh terdakwa Suheri Als Heri bersama rekannya telah melakukan pencurian spare pats mobil Avanza, maka hakim menjerat pelaku karena perbuatannya telah melawan hukum dengan pidana penjara 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan sesuai dengan putusan nomor:963/Pid.B/2016/PN.LbpTheft is a shameful act against the law which result from his actions have hurt many people as evidenced by the presence of 86 the number of cases of theft by weighting in the community. The public feels that the perpetrators of criminal acts of theft must be more firmly acted in order to provide a deterrent effect especially for perpetrators who have been repeatedly in and out of prison in the same case. Because the people perceive the legal arrangements contained in the Criminal Code regulating theft in Article 363 are still inefficient so that the perpetrators of theft can still commit the same crime again when out of jail.The problems in this research about what factors cause the occurrence of criminal acts of theft. How is the judge's judicial consideration in deciding the judgment of the criminal act of theft attributed in Article 363 of the Criminal Code. The research method used in research writing is a normative research method that searches and collects data by way of literature research on the law, law books, legal articles, legal journals, judges verdict, mass media, related to the issues discussed by the author in this essay. The results of research and discussion of this research is the legal considerations by judges in providing penalty of perpetrators of criminal acts of theft under article 363 paragraph (1) ke-4e, 5e jo article 64 paraghraph (1) The book of law Criminal by looking at the most dense evidence in the court and seeing based on the lightening and incriminating matters committed by the defendant, the judge ensnares the perpetrator with imprisonment of 2 (two) years 6 (six) month
- …
