1,721,616 research outputs found
Peninggalan Arkeologis Kerajaan Demak: Dualisme Situs Sejarah Makam Sunan Prawoto
Abstract: This article discusses the archaeological remains of the Demak Kingdom by focusing on the dualism of the grave site of Sunan Prawoto as the Last King of Demak in Prawoto Village, Sukolilo District, Pati Regency. This research aims to reconstruct the process of dualism at the Sunan Prawoto grave site. This type of research is qualitative research through four stages of historical research methods. This research uses a multidimensional approach to enrich the sources of the studies studied and realistic conflict theory as an analytical tool. The results of this research found that the discovery of Sunan Prawoto\u27s tomb in Prawoto Village in 1976 and the Ancient burial complex area which had been researched by the Archeology Center could not yet be stated that Sunan Prawoto\u27s tomb was actually in Prawoto Village. Other research actually states that the grave of Sunan Prawoto which makes this possible is actually located in the cemetery complex of the Great Mosque of Demak. The dualism of Sunan Prawoto\u27s grave occurred because of a conflict between the foundations that manage Sunan Prawoto\u27s grave. The efforts made by the managers to gain recognition from well-known scholars such as Mbah Sya`roni Lutfi and Habib Lutfi as well as Kraton elders are a form of proof that the tomb they manage is the original Sunan Prawoto Tomb. Apart from that, there is another form of business, namely competition to attract the interest of pilgrims.
Abstrak: Artikel ini membahasa tentang peninggalan arkeologis Kerajaan Demak dengan berfokus pada pembahasan mengenai dualisme situs makam Sunan Prawoto sebagai Raja Demak Terakhir di Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi proses terjadinya dualisme situs makam sunan Prawoto. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui empat tahap metode penelitian Sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan multidimensional untuk memperkaya sumber kajian yang diteliti dan Teori realistis konflik (realistic conflict theory) sebagai alat analisisnya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penemuan makam Sunan Prawoto di Desa Prawoto pada tahun 1976 dan area Komplek pemakaman Kuno yang sudah diteliti oleh balai Arkeologi belum dapat dinyatakan bahwa Makam Sunan Prawoto benar terdapat di Desa Prawoto. Penelitian lain justru menyebutkan bahwa Makam Sunan Prawoto yang memungkinkan kebenarannya justru berada di komplek pemakaman Masjid Agung Demak. Dualisme makam Sunan Prawoto terjadi karena adanya konflik antar Yayasan pengelola makam Sunan Prawoto. Usaha-usaha yang dilakukan para pengelola untuk mendapatkan pengakuan dari para ulama terkenal seperti Mbah Sya`roni Lutfi dan Habib Lutfi serta para tokoh sesepuh Kraton adalah sebagai bentuk pembuktian bahwa makam yang mereka Kelola adalah Makam Sunan Prawoto yang asli. Selain itu, terdapat bentuk usaha lain yaitu adanya persaingan untuk menarik minat para peziarah.
Kata kunci: Arkeologis, Dualisme, Kerajaan Demak, Situs Makam, Sunan Prawoto
Peranan prawoto mangkusasmito dalam partai masyumi (1945-1970)
Penelitian ini dilator belakangi karena sosok Prawoto Mangkusasmito adalah pemimpin umat yang mengedepankan nurani dan memiliki kepekaan sosial, patriot sejati yang berjuang keras menegakan supermasi hukum dan konstitusi untuk melawan hegemoni kekuasaan dalam berbangsa dan bernegara. Berdasarkan uraian tersebut, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berkut: pertama, bagaimana riwayat hidup Prawoto Mangkusasmito? Kedua, bagaimana peranan Prawoto Mangkusasmito dalam Partai Masyumi 1945-1970. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biografi Prawoto Mangkusasmito dan peranan Prawoto Mangkusasmito dalam Partai Masyumi 1945-1970.
Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, yaitu model penelitian yang mempelajari peristiwa atau kejadian di masalampau berdasarkan jejak – jejak yang ditinggalkan. Metode penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa: pertama, Prawoto Mangkusasmito dilahirkan di Tirto, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 4 Januari 1910 sebagai putra pertama daripasangan suami istri Supardjo Mangkusasmito dan Suendah. Prawoto Mangkusasmito adalah sosok yang dibesarkan di lingkunganMuhammadiyah. Ia berasal dari keluarga sederhana. Bahkan sejak kecil, Prawoto Mangkusasmito sudah hidup mandiri, mencari uang dan membiayai sekolahnya sendiri. Ayahanda Prawoto Mangkusasmito adalah seorang Lurah.
Prawoto Mangkusasmito bersekolah di HIS(Holands Inlandsce School), kemudian dilanjutkan sekolahnya menengah pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwij) kemudian melanjutkan kembali di AMS (Algemene Middelbare School) sampai ke RHS (RechHoge School) atau sekolah tinggi hukum di Batavia walau tidak sampai tamat. Kedua, Prawoto Mangkusasmito duduk dalam Pimpinan Pusat Partai Masyumi semenjak partai ini didirikan, Prawoto Mangkusasmito menjabat sebagai Pengurus Besar pada tahun 1945. Prawoto Mangkusasmito adalah tokoh politik berhaluan keras, dalam riwayat kehidupannya, Prawoto Mangkusasmito tidak dapat dipisahkan dari Partai Masyumi. Dalam susunan Pimpinan Pusat Masyumi 1951 yang dipimpin Moh. Natsir sebagai Ketua, Prawoto di beri amanah sebaga WakilKetua I. Dalam susunan Pimpinan Pusat Masyumi 1954 hasil Muktamar VII di Surabaya, Prawoto diberi amanah menjadi Sekertaris Umum. Dalam susunan Pimpinan Pusat Masyumi 1956, hasil Muktamar VIII di Bandung, Prawoto duduk sebagai Wakil Ketua II. Dalam Muktamar IX, 1959, di Yogyakarta, Prawoto terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Masyumi
KONTESTASI DRUMBAND DALAM KARNAVAL HAUL SUNAN PRAWOTO
Penelitian yang berjudul “Kontestasi Drumband dalam Karnaval Haul Sunan Prawoto” berfokus pada kelompok-kelompok drumband tingkat sekolah dasar SD atau MI (madrasah Ibtidaiyah). Kelompok drumband merupakan persembahan dari instansi yang ada di Desa Prawoto, Pati untuk merayakan haul Sunan Prawoto. Mengacu pada konsep kontestasi menurut Horton dan Hunt ( dalam Retnaningsih 2016: 8), kelompok-kelompok drumband dalam karnaval haul Sunan Prawoto menunjukkan persaingan yang menarik demi meraih juara di hati masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif, guna mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, sikap secara individual ataupun kelompok, karena kontestasi dalam haul Sunan Prawoto terjadi secara terselubung tanpa ada aturan layaknya kompetisi atau perlombaan. Kontestasi yang terjadi meliputi kontestasi instrumen kontestasi aransemen, kontestasi kostum dan kontestasi mayoret. Pembentuk kontestasi adalah kepribadian siswa (faktor intern) dan sikap masyarakat (faktor ekstern). Kontestasi yang terjadi berdampak pada siswa, masyarakat dan instansi sekolah terkait meliputi Dampak Ekonomi, Sosial dan Budaya.
Kata Kunci: Kontestasi, Drumband, Sunan Prawot
SIKAP PRAWOTO MANGKUSASMITO TERHADAP KEBIJAKAN POLITIK SOEKARNO 1957-1962 M
Prawoto Mangkusasmito dikenal sebagai salah seorang pemimpin, negarawan, dan ketua terakhir partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Karir politik Prawoto mencapai puncaknya ketika ia diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Wilopo-Prawoto (2 April-31 Juli1953) dan
menjadi ketua umum terakhir partai Masyumi tahun 1959. Selama menjabat sebagai ketua, Prawoto dihadapkan dua kebijakan besar politik yang diputuskan oleh Soekarno, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan pembubaran partai Masyumi. Berdasarkan fakta sejarah tersebut, penulis perlu membahas lebih dalam mengenai latar belakang kebijakan politik Soekarno dan sikap yang diambil oleh Prawoto atas kebijakan politik Soekarno. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang sikap yang diambil Prawoto atas kebijakan politik Soekarno dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan politik. Teori yang digunakan adalah teori challenge and response yang dikemukakan oleh Arnold Toynbee yang berpendapat bahwa ketika individu atau kelompok
mampu merespon tantangan-tangtangan kehidupan dan menyesuaikan diri atau mengendalikan tantangan, maka individu atau kelompok tersebut akan mengalami perkembangan dan kemajuan. Tetapi sebaliknya jika individu atau kelompok tidak memiliki kemampuan merespon (mengendalikan) tantangan, maka individu atau kelompok ini akan mengalami kemunduran bahkan mengalami kehancuran. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan penelusuran buku yang berkaitan.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat hal: heuristic (pengumpulan data), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Prawoto Mangkusasmito mengambil sikap menolak atas dua kebijakan politik Soekarno. Menurut Prawoto Dekrit Presiden Soekarno akan memunculkan “maha pemimpin” dan menempatkan pemimpin itu di atas hukum dengan sentralisasi kekuasaan yang berujung pada mach-staat. Akibat penolakan Prawoto terhadap Dekrit, Soekarno mengirim surat perintah pembubaran partai Masyumi yang diketuai Prawoto. Mengenai pembubaran Masyumi, Prawoto memenuhi keputusan Soekarno untuk menghindari status Masyumi sebagai partai terlarang. Selanjutnya ia memperjuangkan hak Masyumi melalui jalur hukum namun gagal. Akhirnya Prawoto dijebloskan ke penjara oleh Soekarno pada tahun 1962
PRAWOTO MANGKUSASMITO DALAM PERJUANGAN POLITIK DI INDONESIA (1945-1970)
Penelitian ini berusaha merekonstruksi sosok Prawoto Mangkusasmito
dalam bingkai perjuangan politik di Indonesia. Ia terlibat dan tersingkir bahkan
tidak boleh aktif dalam politik Indonesia hingga meninggal dunia pada tahun
1970. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang disajikan
menggunakan model deskriptif naratif. Sumber bahan yang digunakan adalah
arsip-arsip Prawoto yang terdapat dalam buku S.U.Bajasut, Alam Fikiran dan
Djejak Perdjuangan Prawoto Mangkusasmito dan ada buku Prawoto
Mangkusasmito, Surat2 Almarhum dari Pendjara kepada Puteri(A)nja. Peneliti
juga melakukan wawancara dengan Nuruddin Ahmad (Putera Prawoto), Ramlan
Mardjonet (Asisten Pribadi Prawoto) dan Hardi M.Arifin yang sering ditugaskan
untuk menjenguk tokoh-tokoh Masyumi selama di penjara.
Prawoto berasal dari keluarga priyayi dan menempuh pendidikan kolonial
Belanda. Perkenalannya dengan Islam terjadi ketika terlibat dalam Jong
Islamieten Bond (JIB) dan mulai terlibat dalam politik praktis ketika bergabung
dengan Partai Islam Indonesia (PII). Perjuangannya untuk menjadikan Islam
sebagai entitas negara diimplementasikan dalam Partai Masyumi, anggota KNIP
hingga menjadi anggota parlemen dan Badan Konstituante. Keteguhan sikap yang
dilakukan oleh Prawoto dalam memperjuangkan prinsip-prinsip yang diyakininya
membuat Prawoto di penjara pada masa Orde Lama. Bahkan ketika keluar dari
penjara pada masa Orde Baru, Prawoto tidak boleh aktif dalam politik Indonesia
sampai akhirnya Prawoto meninggal dunia pada tahun 1970.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan Prawoto merupakan seorang sosok
muslim negarawan. Aktivitas politiknya didasari sebuah keinginan menjadi Islam
sebagai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bukan hanya
ritual ibadah semata. Perjuangannya dalam bingkai Indonesia dan koridor
konstitusi yang berasaskan hukum. Keteguhan sikap untuk memperjuangkan apa
yang diyakini inilah yang menjadikan sebuah pembelajaran yang berharga yang
dapat diperoleh dari sosok Prawoto Mangkusasmito
Pengembangan masyarakat berbasis desa wisata religi : studi pada Yayasan Badan Wakaf Makam Sunan Prawoto Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati
Pengembangan spritual masyarakat bisa melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengunjungi wisata religi, adanya wisata religi dapat mengembangkan psikologi peziarah.
Desa Prawoto mempunyai begitu banyak potensi wisata, yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, sehingga menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Salah satunya yaitu wisata religi. Wisata religi memuat aspek-aspek spiritual dalam objek wisatanya. Pengembangan masyarakat berbasis desa wisata religi merupakan upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Yayasan Badan Wakaf Makam Sunan Prawoto adalah pengelola Makam Sunan Prawoto, dari adanya Yayasan Badan Wakaf Makam Sunan Prawoto diharapkan dapat memaksimalkan potensi dari masyarakat untuk menujang proses pemberdayaan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses pengembangan masyarakat oleh yayasan badan wakaf makam sunan prawoto melalui desa wisata religi; (2) Bagaimana hasil pengembangan masyarakat oleh yayasan badan wakaf makam sunan prawoto melalui desa wisata religi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang lebih menekankan analisis terhadap suatu kondisi dan berorientasi untuk menjawab pertanyaan penelitian melalui cara berfikir formal dan argumentatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setalah data terkumpul, penulis menggunakan teknik analisa Miles-Huberman seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
Hasil dari pengembangan masyarakat berbasis desa wisata religi oleh yayasan badan wakaf makam sunan prawoto sebagai berikut: (1) bahwa terdapat empat tahap pengembangan yaitu, identifikasi masalah dan potensi, perencanaan sosial, pembangunan masyarakat, rekayasa sosial, dan pengendalian sosial (2) Hasil pengembangan masyarakat diantaranya, peningkatan ekonomi masyarakat, semangat kebersamaan masyarakat, melesatriakan budaya leluhur dan sarana meningkatkan seperitual masyarakat
Nqibikan Village Reconstruction
exterior, house terrace under the canopy roof, made of wooden beams and panel
KEPEMIMPINAN PRAWOTO MANGKUSASMITO DALAM YAYASAN ASRAMA PELAJAR ISLAM (1952-1962)
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pendirian Yayasan Asrama
Pelajar Islam dan perkembangan Yayasan Asrama Pelajar Islam di bawah
kepemimpinan Prawoto Mangkusasmito pada tahun 1952-1962. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah historis dengan pendekatan deskriptif-
naratif. Sumber data diperoleh dari dokumen-dokumen yang didapatkan di
Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta, Perpustakaan Universitas Indonesia,
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Arsip Nasional, Perpustakaan Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia, wawancara sumber dengan tokoh yang dekat
dengan Prawoto Mangkusasmito dan terlibat aktif dalam Yayasan Asrama Pelajar
Islam.
Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pendirian Yayasan Asrama
Pelajar Islam tidak lepas dari adanya program pembenahan kesatuan-kesatuan
tentara pelajar/ pelajar pejuang yang dikenal dengan istilah demobilisasi.
Demobilisasi terhadap kesatuan-kesatuan tentara pelajar/ pelajar pejuang
dilakukan setelah terjadinya penyerahan kedaulatan pemerintah Belanda kepada
Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Setelah diadakan demobilisasi, pelajar
dan mahasiswa yang tergabung dalam kesatuan-kesatuan tentara pelajar/ pelajar
pejuang memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Namun, ketika dalam
melanjutkan pendidikan tentara pelajar/ pelajar pejuang yang didemobilisasi
memiliki beberapa masalah. Salah satu masalah yang dihadapi tentara pelajar/
pelajar pejuang adalah permasalahan tempat tinggal untuk melanjutkan
pendidikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Prawoto Mangkusasmito
mendirikan Yayasan Asrama Pelajar Islam atau YAPI pada tanggal 26 Mei 1952. Setelah Yayasan Asrama Pelajar Islam didirikan pada tanggal 26 Mei
1952, Prawoto Mangkusasmito terpilih menjadi Ketua Umum Pertama YAPI.
Jabatan Ketua Umum diduduki Prawoto Mangkusasmito pada 26 Mei 1952- 16
Januari 1962. Selama menjadi Ketua Umum Yayasan Asrama Pelajar Islam,
Prawoto Mangkusasmito memiliki perhatian besar terhadap proses pendidikan
kaderisasi pelajar dan mahasiswa Islam sebagai alat untuk mendidik dan mencetak
para calon pemimpin berpengaruh suatu umat dan bangsa di masa depan.
Pendidikan kaderisasi dilakukan Prawoto Mangkusasmito melalui pendirian
asrama-asrama pelajar dan mahasiswa Islam. Pendirian asrama pertama yang
dibangun oleh Prawoto Mangkusasmito adalah Asrama Jalan Bunga atau Asrama
Gunung Jati pada 26 Mei 1952. Kemudian, pada tahun 1953 dibeli tanah di daerah
Rawamangun yang kemudian didirikan pula Asrama Sunan Giri yang diresmikan
pada tanggal 7 April 1962, sebagai asrama kedua yang didirikan di bawah
kepemimpinan Prawoto Mangkusasmito.
Selain bertujuan untuk mendidik dan mencetak para calon pemimpin
berpengaruh suatu umat dan bangsa di masa depan, YAPI yang didirikan Prawoto
Mangkusasmito memiliki tujuan politik lain yang tidak dimuat dalam Anggaran
Dasar YAPI. Tujuan tersebut adalah untuk membentengi diri umat Islam,
khususnya pelajar dan mahasiswa dari pengaruh gerakan komunis dan membantu
Partai Masjumi dalam usaha pemenangan pemilihan umum tahun 1955 di Jakarta.
Kepemimpinan Prawoto Mangkusasmito dalam Yayasan Asrama Pelajar
Islam berakhir pada tanggal 16 Januari 1962. Berakhirnya kepemimpinan Prawoto
Mangkusasmito dalam Yayasan Asrama Pelajar Islam bertepatan dengan surat
perintah penangkapan dan penahanan dari Presiden Soekarno. Presiden Soekarno
memerintahkan Jendral Abdul Harris Nasution untuk melakukan penangkapan
dan penahanan terhadap tokoh-tokoh politik yang menentang jalannya demokrasi
terpimpin.
This study aims to to explain the establishment of foundation dormitory
students Islam and the development of foundation dormitory students Islamic
under the leadership of Prawoto Mangkusasmito in the 1952-1962.
The results of the study show that the process of the establishment of the
foundation Islamic boarding students can not be separated from the fact that the
improvement program soldiers student/ student fighters known as the term the
demobilisation. The demobilisation against soldiers student/ student fighters
conducted after the occurrence of the surrender of sovereignty the governments of
the Netherlands to Indonesia on the 27th of December 1949. After held
demobilisation, students and college students who joined in soldiers student/
student fighters have a desire to continue their studies. But, when in continuing
education soldiers student/ students fighter who in demobilisation have a few
problems. One of the problems facing soldiers students/ students fighters is the
problem a residence for the former army fighters students/ students fighter who
was continuing education. To overcome the problems, Prawoto Mangkusasmito
establish foundation dormitory students Islamic practices or YAPI on the 26 May
in 1952.
After foundation dormitory students Islamic founded in on 26 May in
1952, Prawoto Mangkusasmito was elected to the chairman of first YAPI.
Chairman common occupied Prawoto Mangkusasmito on 26 May 16 1952- 16
January 1962. During their the chairman of foundation dormitory students
Islamic, Prawoto Mangkusasmito having the attention of crimes against the
process of education regeneration students and muslim students as a means to
educate and scored potential leaders influential a community and the people in the
future. Education regeneration done Prawoto Mangkusasmito through the
establishment of dormitorys student and muslim students. The establishment of dormitory first built by Prawoto Mangkusasmito is dormitory the way of flowers
or boarding Gunung Jati on 26 May in 1952. Then, in 1953 bought land in the
Rawamangun who then established also dormitory Sunan Giri who consecrated on
the april 7 1962, as dormitory second established under the leadership of Prawoto
Mangkusasmito.
Besides aimed at to educate and scored potential leaders influential a
community and the people in the future, YAPI founded Prawoto Mangkusasmito
having political ends other not contained in the articles of association YAPI. The
purpose is to fortify ourselves muslims, especially students and college students
from the influence of movement communist and assist the party masjumi in an
effort to winning elections 1955 in Jakarta.
Leadership Prawoto Mangkusasmito in foundation dormitory students
Islamic ended in january 16 1962. The end of leadership Prawoto Mangkusasmito
in foundation dormitory students Islamic coinciding with a warrant arrest and
detention of of President Soekarno. President Soekarno ordered general Abdul
Harris Nasution to make the arrest and detention of to political figures who
oppose the way guided democracy
Tradisi buka lurup makam Sunan Prawoto dan kaitannya dengan aqidah Islamiyah (kajian fenomenologi agama) studi kasus di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo
Skripsi ini dilatar belakangi tradisi buka lurup Sunan Prawoto, di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati, menjadi sebuah tradisi yang selalu menyedot perhatian masyarakat Pati, selain tradisi Meron. Buka lurup Sunan Prawoto merupakan acara Haul Sunan Prawoto yang sangat dipercaya oleh masyarakat di Desa Prawoto. Dan buka lurup Sunan Prawoto pun diperingati agar selalu bisa mengingat akan peranan Sunan Prawoto dulu dengan Kirab Budaya Prawoto. Sehingga skripsi ini membahas tentang pelaksanaan tradisi buka lurup, makna tradisi buka lurup dan kaitannya dengan Aqidah Islamiyah di makam Sunan Prawoto Sukolilo Pati.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dalam bentuk studi kasus di lapangan (field Research) yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung kekancah penelitian untuk mendapatkan data yang konkrit. Sedangkan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi agama yang menjadi kajian langsung terhadap praktek keagamaan yang dilakukan dalam sebuah agama.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi buka lurup dan kaitannya dengan Aqidah Islamiyah di makam Sunan Prawoto Sukolilo Pati Rangkaian pelaksanaan upacara tradisi buka lurup ini diawali dan diakhiri dengan tahlil. Upacara ini mengalami perkembangan, yakni sebelum acara dimulai diadakan kirab budaya yakni arak-arakan (kirab) keliling desa oleh warga masyarakat Desa Prawoto dengan mengiring kain mori (lurup). Relevansi kegiatan buka lurup dengan Aqidah Islamiyah adalah pada keyakinan warga masyarakat terhadap kain mori (lurup) yang dijadikan sebuah media perantara dimana mereka meyakini bahwa secara filosofik Tuhan mengarahkan kebijaksanaan dan kecerdasan berfikir kepada manusia untuk mengenal adanya tuhan dengan cara memperhatikan fenomena alam sebagai bukti adanya Tuhan malalui perenungan (kontemplasi) yang mendalam dan tetap menjadikan tauhid sebagai dasar utama dalam mengesakan Allah dari segala dominasi yang lain. Relevansi budaya buka lurup dengan Aqidah Islamiyah terdapat pada; a) terjalinnya Ukhuwah Islamiyah dan tetap terjalinnya tali silaturrohim antar warga, b) tetap terjaganya komitmen utuh kepada Tuhan dan menjalankan pesan Tuhan dalam Al-Qur’an yang diperjelas dalam Hadits Rasulullah, c) terwujudnya sikap progresif dengan selalu menekan penilaian kualitas hidup, adat-istiadat, tradisi, faham hidup. d) terjaganya tujuan hidup warga sangat jelas, yaitu semua aktifitas hanya Allah semata (mengabdi pada Allah) dan mensyi’arkan agama-Nya, dan e) tetap tertanamnya visi yang jelas dengan manusia lain, sehingga terjalin keharmonisan antara manusia dan Tuhannya, dengan linkungan sekitarnya
Pemikiran dan Geraakan Prawoto Mangkusasmito terhadap Islam dan Negara
Skripsi ini berjudul “Pemikiran dan Gerakan Prawoto Mangkusasmito terhadap Islam dan Negara. Skripsi ini terfokus pada: 1. Bagaimana riwayat hidup Prawoto Mangkusasmito? 2. Bagaimana pemikiran Prawoto Mangkusasmito terhadap Islam dan Negara? 3. Bagaimana gerakan Prawoto Mangkusasmito terkait Islam dan Negara?. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode Sejarah. Langkah-langkah dalam penulisan metode sejarah meliput: Heuristik (pengumpulan sumber); Verifikasi (kritik sumber); Interpretasi (penafsiran sumber); dan Historiografi (penulisan sejarah). Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan pendekatan sosiologis. Pendekaan historis, digunakan untuk menganalisis dan memberi kerangka penulisan terhadap obyek yang akan diulas secara diakronis. Pendekatan sosiologi, digunakan untuk menganalisis pola pemikiran dan tindakan-tindakanya di ruang-ruang publik. Sedangkan teori yang diimplementasikan yakni teori peran menurut Biddle serta Thomas. Hasil skripsi ini menyimpulkan bahwasannya: 1). Prawoto hidup sebagai aktivis Islam dari masa mudanya hingga akhir hayatnya, baik di bidang pendidikan, politik, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. 2). Prawoto memiliki pemikiran bahwa nilai-nilai Islam harus masuk dalam konstitusi dan undang-undang negara. Untuk itulah umat Muslim di segala bidang harus turut aktif dalam sistem dan partisipasi kenegaraan. 3). Prawoto menjalankan gerakan dan peranannya yang terbagi menjadi 3 bidang, yaitu pendidikan, politik, serta dakwah-kemasyarakatan. Dalam bidang politik bergerak melalui Masyumi, di bidang pendidikan bergerak melalui STI dan YAPI, dan dalam bidang dakwah kemasyarakatan bergerak melalui DDII, KBIM, dan STII
- …
