31 research outputs found

    Tindak Pidana Kepemilikan Senjata Api Dan Senjata Tajam Tanpa Ijin Untuk Melakukan Pencurian Dengan Kekerasan Secara Bersama-Sama (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor : 1212/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr)

    No full text
    Kejahatan yang berkaitan dengan kepemilikan senjata api dan senjata tajam tanpa ijin untuk melakukan pencurian dengan kekerasan secara bersama-sama. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor. 1212/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr telah menyatakan bahwa para perbuatan telah terbukti secara sah dan meyakinkan perbuatannya telah memenuhi rumusan delik Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Kedua Pasal 2 Ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Ketiga Primair Pasal 365 Ayat (2) ke-2 KUHP. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan unsur-unsur Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke1 KUHP, Kedua Pasal 2 Ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Ketiga Primair Pasal 365 Ayat (2) ke-2 KUHP dan dasar pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian hukum secara yuridis normatif, dengan metode pendekatan kasus (case approach) Spesifikasi penelitian ini adalah perskriptif, dengan jenis dan sumber data sekunder dan analisis data deskrtiptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Majelis Hakim kurang tepat menerapkan dengan Pasal 365 Ayat (2) ke-2 KUHP. Perbuatan para terdakwa justru terbukti memenuhi unsur pengancaman sebagaimana diatur Pasal 368 KUHP dalam dakwaan subsidiar. Hakim dalam memutus telah mempertimbangkan baik dari aspek perbuatan maupun orangnya, kekuatan alat bukti, alasan penghapus pidana dan hal-hal meringankan dan memberatkakan terdakw

    DIAGNOSIS DAN INTERPRETASI BUDAYA ORGANISASI PADA CREDIT UNION WILAYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan melakukan diagnosis budaya organisasi serta menginterpretasikan intensi perubahan budaya organisasi pada Credit Union wilayah DIY. Penelitian ini menggunakan konsep Competing Values Framework (Cameron dan Quinn, 2011) dengan kuesioner Organization Culture Assessment Instrument. Penelitian ini dilakukan pada 13 Credit Union wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, adapun subjek dalam penelitian ini berjumlah 237 individu yang terdiri dari penasehat 6, pengawas 30, pengurus 63 staf 138 dan dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe budaya organisasi saat ini didominasi oleh Clan Culture dan Hierarchy Culture, sementara budaya organisasi yang diharapkan tetap dominasi oleh Clan Culture dan Market Culture. Diagnosis budaya organisasi Credit Union menunjukan bahwa organisasi lebih berfokus pada kebutuhan internal organisasi. Fokus pada kebutuhan internal lantas tidak membuat organisasi mengabaikan tuntutan eksternal organisasi, sehingga untuk beralih ke budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya yang lama, namun lebih memberikan penekanan pada budaya tertentu. Untuk mengatasi kesenjangan antara budaya organisasi saat ini dan budaya organisasi yang diharapkan Credit Union juga akan senantiasa mengulangi kegiatan-kegiatan yang mengandung nilai-nilai kunci budaya organisasi, seperti: pendampingan, sosialilasi, dan pendidikan dasar bagi anggota

    Analisa Perbandingan Kinerja Cross Platform Mobile Framework React Native dan FLutter

    No full text
    Dalam membuat aplikasi mobile, developer aplikasi harus membuat aplikasi untuk android dan ios, akan tetapi aplikasi yang dibuat untuk kedua sistem operasi tersebut memiliki bahasa dan logika pemrograman yang berbeda, sehingga developer memerlukan waktu, usaha, dan biaya dua kali untuk mengembangkan aplikasi yang sama. Kemudian, pada tahun 2015, facebook menyelesaikan permasalahan ini dengan mengembangkan suatu framework bernama react native, framework react native ini sehingga memungkinkan developer untuk mengembangkan aplikasi dalam single code base yang kemudian dapat berjalan di ios dan android, hingga kini framework react native merupakan mobile framework yang paling sering digunakan berdasarkan data survei dari website stackoverflow. Kemudian pada tahun 2018, google mengembangkan framework bernama flutter, sama halnya dengan react native, aplikasi yang dibuat menggunakan framework ini dapat berjalan pada ios dan android, perbedaannya adalah flutter memiliki engine buatan mereka sendiri bernama skia sementara react native menggunakan bridge untuk mengcompile code yang telah dibuat menggunakan bahasa pemrograman javascript menjadi Bahasa pemrograman swift dan c# untuk ios dan java/ kotlin untuk android. Penelitian ini menguji kinerja kedua framework pada 3 aplikasi yang telah dibuat dengan tampilan, dan fungsi yang sama lalu melihat penggunaan cpu, dan memori. Hasil akhir yang diperoleh react native unggul dalam penggunaan memori yang lebih rendah, sementara flutter unggul dalam penggunaan cpu yang lebih rendah

    ANALISIS PERANAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME KINERJA DAN KOMUNIKASI ASN BKPSDM KABUPATEN BANYUMAS

    No full text
    Dalam suatu organisasi atau instansi, kegiatan komunikasi merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat penting dan berperan dalam menentukan sejauh mana orang dapat bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Salah satu jenis komunikasi yang frekuensinya cukup tinggi adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi interpersonal. Komunikasi antara Kepala BKPSDM Kabupaten Banyumas dan staf, merupakan faktor penting dalam menciptakan organisasi yang efektif

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK

    No full text
    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri Serut, Gedangsari Tahun Ajaran 2018/2019 dengan menggunakan  Pembelajaran Matematik Realistik (PMR). Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Serut, Gedangsari, Gunungkidul. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Serut sebanyak 12 siswa yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Hasil penelitian dengan menerapkan Pembelajaran Matematik Realistik (PMR). dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri Serut. Pada pratindakan siswa yang mencapai KKM sebanyak 1 siswa (8,33%). Siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 8 siswa (66,67%) dan presentase aktivitas siswa mencapai 81,94% kategori sangat baik. Pada siklus II siswa yang mencapai nilai KKM meningkat menjadi 11 siswa (100%) dan presentase aktivitas siswa meningkat menjadi 92,4% kategori sangat baik. Peningkatan hasil belajar pratindakan ke siklus I sebesar 58,33%. Peningkatan siklus I ke siklus II sebesar 33,33%.Kata kunci: hasil belajar matematika, Pembelajaran Matematik Realistik (PMR). AbstractThis research aims at improving the fourth-grade students’ mathematics achievement applying realistic mathematics education approach in SDN Serut, Gedangsari school year 2018/2019. This research was conducted in Serut elementary school, Gedangsari, Gunungkidul. The subjects of this research were 12 students the fourth-graders of SDN Serut which were consisted of 5 male students and 7 female students. The outcomes of research with implementation of realistic mathematics education approach can improve the mathematics learning result in fourth grade SDN Serut. In pre-action, there are 1 student (8,33%) who achieve the KKM. In first cycle, there are 8 students (66,67%) who achieve KKM and the percentage of students’ activity is 81,94% good category. In second cycle, KKM achievement increase to 11 students (100%) and the percentage of students’ activity increase to 92,4% very good category. The pre-action improvement of the learning result in first cycle was 58,34%. While the improvement of learning result from first cycle to second cycle was 33,33%.Key words: Mathematics learning outcomes, realistic mathematics education approach

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DI SDN SERUT TAHUN AJARAN 2018/2019

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri Serut, Gedangsari Tahun Ajaran 2018/2019 dengan menggunakan Pembelajaran Matematik Realistik (PMR). Penerapan PMR dengan langkah pemberian dan penyelesaian masalah, penalaran, komunikasi, kepercayaan diri, dan representasi. Peneletian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Serut, Gedangsari, Gunungkidul. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Serut sebanyak 12 siswa yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan observasi. Instrumen yang digunakan adalah soal tes dan lembar observasi. Data penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah 80% dari total keseluruhan siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 75. Hasil penelitian dengan menerapkan Pembelajaran Matematik Realistik (PMR). dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri Serut. Pada pratindakan siswa yang mencapai KKM sebanyak 1 siswa (8,33%). Siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 8 siswa (66,67%) dan presentase aktivitas siswa mencapai 81,94% kategori sangat baik. Pada siklus II ada satu siswa yang tidak masuk sehingga jumlah siswa hanya 11. Siswa yang mencapai nilai KKM meningkat menjadi 11 siswa (100%) dan presentase aktivitas siswa meningkat menjadi 92,4% kategori sangat baik. Peningkatan hasil belajar pratindakan ke siklus I sebesar 58,33%. Peningkatan siklus I ke siklus II sebesar 33,33%. Kata kunci: hasil belajar matematika, Pembelajaran Matematik Realistik (PMR)

    Machine Vision-based Obstacle Avoidance for Mobile Robot

    No full text
    Obstacle avoidance for mobile robots, especially humanoid robot, is an essential ability for the robot to perform in its environment. This ability based on the colour recognition capability of the barrier or obstacle and the field, as well as the ability to perform movements avoiding the barrier, detected when the robot detects an obstacle in its path. This research develops a detection system of barrier objects and a field with a colour range in HSV format and extracts the edges of barrier objects with the FindContoure method at a threshold filter value. The filter results are then processed using the Bounding Rect method so that the results are obtained from the object detection coordinate extraction. The test results detect the colour of the barrier object with OpenCV is 100%, the movement test uses the processing of the object's colour image and robot direction based on the contour area value> 12500 Pixels, the percentage of the robot making edging motion through the red barrier object is 80% and the contour area testing <12500 pixel is 70% of the movement of the robot forward approaching the barrier object

    KETERWAKILAN KEPENTINGAN MASYARAKAT OLEH DPRD KOTA SURAKARTA DALAM PERUMUSAN PERDA YANG PARTISIPATIF (Studi Kasus Terhadap Perumusan Perda Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Sampah di Kota Surakarta)

    No full text
    The aim of this research is to find out: (1) City Council of Surakarta performance in arranging Local Regulation No. 3 in the year of 2010 about rubbish management which has not been able to represent people importance can be seen from the content of Clause 36 about prohibition and Clause 46 about Criminal Provision, (2) implementation of the content of Clause 36 about prohibition and Clause 46 about Criminal Provision of the Local Regulation No. 3 in the year of 2010 about Rubbish Management toward people importance.This research used qualitative research with study case method. Research strategy used in this research is single established strategy. Data sources are an informant, place and phenomenon, archive and document. The writer took the sample using purposive sampling. Techniques collecting the data used are interview, observation and document analysis. The writer uses triangulation data and method.  The analysis data uses interactive model such as data collection, data reduction, data presentation, drawing conclusion and verification. Research procedures are preparation, data collection, data analysis, research report arrangement.Based on this research, it can be concluded that: (1) City Council of  Surakarta performance in arranging Local Regulation has not been able to represent people. (2) Impact of the content of Clause 36 and Clause 46 in the Local Regulation toward people importance is there will be people restlessness, people impoverishment, and for City Council Surakarta members, it can make people reduce the trust to them and also can make moral condemnation from the people

    perkembangan batik gajah oling banyuwangi 1980-2013

    No full text
    ABSTRAK   Sasmita, Anggit Gita. 2014. Perkembangan Batik Gajah Oling Banyuwangi 1980-2013. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Drs. Irawan, M.Hum. (2) Drs. Mashuri, M. Hum.   Kata Kunci: Batik Gajah Oling, Perkembangan, Banyuwangi Batik Banyuwangi merupakan salah satu batik pesisiran yang banyak mengambil motif flora dan fauna sebagai ungkapan simbolis daerah setempat. Batik Banyuwangi mampu menunjukan kemajuannya di industri batik dengan ciri khas batiknya sendiri, meskipun Banyuwangi bukan daerah penghasil batik yang besar seperti Pekalongan, Jogja dan Solo. Industri batik di Banyuwangi terus berkembang sejak diketahui keberadaannya pada 1980. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut, seperti peran dari pengrajin itu sendiri dan juga tidak lepas dari campur tangan pemerintah daerah. Batik yang menjadi andalan dari Kabupaten Banyuwangi adalah batik Gajah Oling yang memiliki filosofi mendalam bagi masyarakat Banyuwangi, namun ada banyak versi yang berkembang terkait dasar filosofi yang terkandung dalam batik Gajah Oling, dan sampai saat ini masih belum ada kesepakatan final mengenai dasar filosofi batik Gajah Oling tersebut. Hal inilah yang menyebabkan dari masing-masing pengusaha batik maupun budayawan memiliki keyakinan sendiri-sendiri tentang keberadaan trade mark batik Banyuwangi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap filosofi yang terkandung di dalam Batik Gajah Oling Banyuwangi, mengetahui bagaimana perkembangan yang terjadi pada Batik Gajah Oling Banyuwangi di tahun 1980 hingga 2013, dan seberapa jauh dampak dari perkembangan batik Gajah Oling Banyuwangi pada bidang ekonomi dan sosial bagi pembatik di Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik mendapatkan sumber penulis lakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka.  Berdasarkan pada eviden dan hasil analisis penulis peroleh, bahwa setiap motif batik mempunyai makna filosofi masing-masing. Makna-makna tersebut menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal dan sampai sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan. Begitu pula dengan batik Gajah Oling Banyuwangi, yang memiliki dasar filosofi yang tidak lepas dari latar belakang sejarah Kerajaan Blambangan pada masa Raja Tawangalun. Batik Gajah Oling memiliki kisah yang panjang bagi masyarakat Banyuwangi. Nama Gajah Oling memiliki arti dan karakteristik tersendiri yang dapat dijadikan contoh dalam berkehidupan. Ketika kita memakai batik Gajah Oling didalamnya terdapat pesan yang tinggi bagi pemakainya yaitu layaknya seekor Gajah yang memiliki kekuatan yang besar untuk melawan kebatilan dan kesemena-menaan dan seperti seekor Oling yang memiliki kegigihan dan keuletan agar kita tidak pantang menyerah dalam menghadapi keadaan apapun. Pada penelitian ini juga diperoleh kesimpulan bahwa perkembangan batik Gajah Oling sejak 1980 hingga 2013 tidak lepas dari peran pengrajin yang terus melakukan inovasi dari segi desain maupun teknik membatik. Pemerintah pun juga turut andil dalam kemajuan batik Banyuwangi dengan mengeluarkan beberapa kebijakan khusus untuk meninggkatkan daya jual batik Banyuwangi, seperti melakukan pelatihan untuk pembatik yang diadakan satu tahun sekali, pengadaan event-event khusus batik seperti Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang diadakan pada 2013 dan juga pengeluaran himbauan atas usulan dari pembatik yang berisi himbauan kepada seluruh pegawai pemerintahan untuk menggunakan batik Banyuwangi di hari kerja yaitu pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Jadi, jika diamati pada penelitian batik Gajah Oling Banyuwangi ini terjadi kerjasama yang harmonis antara pengusaha batik dengan pemerintah daerah dalam upaya memajukan industri batik Gajah Oling Banyuwangi dari yang awalnya bersifat komersil personal menjadi industri sehingga timbul ekspansi penjualan batik yang bisa diterima pasar nasional bahkan internasional. Kondisi ini juga membawa dampak pada bidang ekonomi dan sosial. Berkembangnya batik Banyuwangi juga mempengaruhi jumlah tenaga kerja wanita yang bekerja di industri batik. Melalui tangan para pembatik, maka batik masih ada sampai saat ini dan dikenal para penerus budaya.   ABSTRACT   Sasmita, Anggit Gita. 2014. Development of Batik Gajah Oling Banyuwangi 1980-2013. Thesis, Programme of Study History Education, History Department, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: (1) Drs. Irawan, M.Hum. (2) Drs. Mashuri, M.Hum   Key Words: Batik Gajah Oling, Development, Banyuwangi Batik Banyuwangi is a coastal batik taking motives of fauna and flora as local symbolic language. However Banyuwangi is not a centre area of batik as like Pekalongan, Jogja, and Solo but it influences batik industry in general. It develops around 1980 and there are a lot of factors constructing its development. Those are the role of craftsman and the local government policy. Batik Gajah Oling as a main commodity of Banyuwangi has meaning and values for Banyuwangi society. Philosophically, there are some interpretations behind batik Gajah Oling; nevertheless there is no convention between entrepreneur and cultural observer on the philosophy of batik Gajah Oling. Therefore, they believe by themselves on the batik trade mark. This study aims to reveal the philosophy of batik Gajah Oling Banyuwangi; to know how batik Gajah Oling develops between 1980 and 2013; and how batik Gajah Oling influences social-economy aspect of Banyuwangi society. Historical method used for this study consisting of heuristic, critics, interpretation, and historiography. Moreover, the author compiles the sources from observation, interview, enumeration, and library research. Accordance with evidence and the author analysis result, that every batik has a motif and every motif has a philosophy itself. The meaning shows understanding of local value and that value still exist. Batik Gajah Oling Banyuwangi has a philosophy that according to historical background of kingdom of Blambangan in King Tawangalun period. Batik Gajah Oling has a long story for Banyuwangi society. The name of Gajah Oling has a special meaning and characteristic that as role for human race. When we are wearing batik Gajah Oling, there is a message for usage that like an elephant has a big power against a wickedness and a yoke and  also Oling has persistence and tenacity  so that we never give up to face a any situation. This study concludes that the development of batik Gajah Oling from 1980 to 2013 depends on the role of innovative craftsman not only on the design or the batik work. In addition, the government issues some specific policy to support batik Banyuwangi development, for instance training of doing batik work once a year, organizing batik events or Banyuwangi batik festival in 2013, and proposing all civil servants to wear batik Banyuwangi in work days between Thursday and Friday. It could be clearly seen that there is a good cooperation between government and entrepreneur to develop industry of batik Gajah Oling Banyuwangi from hold house industry to national and international industry. This influences social-economic aspect. Batik industry needs many workers especially women to do batik work. They are really known as a conservationist
    corecore