SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    PENGEMBANGAN BUKU SUPLEMEN BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI BANYUWANGI PADA MATERI PENJAJAHAN PEMERINTAH BELANDA DI KELAS XI IPS MAN 2 BANYUWANGI

    No full text
    PENGEMBANGAN BUKU SUPLEMEN BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI BANYUWANGI PADA MATERI PENJAJAHAN PEMERINTAH BELANDA DI KELAS XI IPS MAN 2 BANYUWANGI Dinar Utami Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang [email protected]   Abstrak: Penelitian yang dilakukan berdasarkan pengembangan materi sejarah lokal yang merujuk pada topik sejarah lokal kolonial. Pengambilan topik didasarkan pada banyaknya bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi yang perlu disampaikan kepada siswa. Dari potensi tersebut maka peneliti menyusun materi peninggalan kolonial di Banyuwangi yang dikemas dalam bentuk bahan ajar cetak yaitu buku suplemen. Penelitian dan pengembangan untuk produk mengadopsi langkah-langkah adaptasi dari Sugiyono yang disesuaikan dengan penelitian. Berdasarkan hasil penilaian dari validator memperoleh hasil dari validasi materi 77,5% dan validasi media 97,5%, dengan hasil tersebut buku suplemen dikategorikan sangat valid. Dalam uji coba lapangan kelompok kecil memperoleh hasil 88,25% dan kelompok besar 89,8% yang termasuk kategori efektif. Buku suplemen yang dikembangka dengan judul “Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi” setelah diuji cobakan valid adan efektif digunakan untuk bahan ajar kepada siswa.   Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, buku suplemen, sejarah lokal kolonial, dan peninggalan kolonial Pembelajaran sejarah penting dilakukan sebagai identitas nasional yang perlu diketahui dan dipahami oleh siswa. Materi sejarah yang diajarkan kepada siswa termasuk sejarah nasional yang meliputi (a) pertumbuhan sifat kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia, (b) perjuangan bangsa kita untuk menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka, (c) orang-orang besar serta aliran-aliran paham yang mempengaruhi perjuangan itu, gerakan massa yang menjadi dasar perjuangan, (d) perjangan untuk mewujudkan cita-cita kehidupan sebagai bangsa yang bebas, adil, makmur, dan bahagia (Ali, 2012:360). Dari itu semua dapat ditarik kesimpulan perjuangan meliputi hal kebudayaan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Pemahaman sejarah selain dari perspektif nasional dapat dilakukan dengan pemahaman sejarah lokal. Dalam penyusunan sejarah lokal terdapat beberapa acuan yakni tujuan penulisan sejarah lokal, latar belakang pendidikan penyusunnya, sifat-sifat pendekatan metodologis yang digunakan, dan aspek kehidupan yang dijadikan penyususnan sejarah Lokal (Widja, 1989:39). Dengan penyusunan materi sejarah lokal di Banyuwangi dapat memperkaya kekayaan wawasan sejarah. Berdasarkan potensi peninggalan kolonial yang banyak di Banyuwangi maka dapat disusun materi untuk pengembangan materi bangunan peninggalan kolonial. Penyusunan materi peninggalan kolonial tersebut termasuk dalam ranah sejarah lokal kolonial. Sejarah lokal kolonial yang dimaksud adalah laporan kegiatan dari penjabat-penjabat kolonial di daerah-daerah (Widja, 1989:47-48). Laporan tersebut termasuk arsip kolonial yang valid digunakan karena memuat tanggal sesuai waktu disertai catatan sesuai kondisi dimana laporan tersebut dibuat. Banyaknya peninggalan kolonial di Banyuwangi belum banyak disampaikan kepada siswa. Selain itu guru juga tidak memiliki sumber materi lokal yang akan disampaikan kepada siswa.  Maka atas permasalahan tersebut peneliti menyusun bahan ajar yang memuat peninggalan kolonial yang terdapat di Banyuwangi. Materi ini terimplementasi pada KD 3.7 mata pelajaran sejarah peminatan kelas XI. Bahan ajar yang disusun memuat materi sejarah lokal yang sesuai dengan pendidikan Indonesia berpihak pada ideologi bangsa dan negara, karena dengan sejarah lokal dapat mendukung kesadaran sejarah dilingkungan sekitar kita (Sa’dun, 2013:25). Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku suplemen dengan judul “Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi” sebagai pelengkap dan memperdalam bahasan materi Penjajahan Pemerintah Belanda. Produk diujicobakan di sekolah MAN 2 Banyuwangi yang terletak di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 06 Maron Genteng Banyuwangi. Sedangkan kelas yang dipilih untuk uji coba adalah kelas XI IPS 1 dan XI IPS 3 sesuai kordinasi dengan guru mata pelajaran sejarah pengampu. Alasan pemilihan sekolah dikarenakan letak sekolah yang jauh dari tempat peninggalan kolonial yang banyak ditemui di pusat kota Banyuwangi. Dengan keterbatasan jarak tersebut setelah penggunaan buku suplemen diharapkan siswa mendapatkan wawasan baru tentang sejarah lokal kolonial yang terdapat di Banyuwangi   Metode Penelitian Penelitian dan pengembangan yang dilakukan menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Sugiyono (2016:409). Langkah pengembangan yang dilakukan terdapat beberapa penyesuaian sesuai dengan kebutuhan dan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti. Langkah-langkah tersebut meliputi 9 langkah yaitu: (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Ujicoba Produk, (7) Revisi Produk, (8) Ujicoba Pemakaian, dan (9) Produksi Akhir (Sugiyono, 2016:409). Berdasarkan langkah awal pengembangan maka potensi dan masalah penelitian ini adalah banyaknya bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi yang belum disusun dalam materi bahan ajar dan disampaikan kepada siswa. Materi yang disusun termasuk materi sejarah lokal kolonial mengenai peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi dimana termasuk dalam Kompetensi Dasar 3.7. Langkah selanjutnya yakni pengumpulan data, data yang dimaksudkan bahan untuk menyusun materi buku suplemen. Data diperoleh melalui studi pustaka seperti buku, koran, skripsi, foto dan sumber internet. Untuk mendukung data dari studi pustaka maka dilakukan studi lapangan dengan peneliti mendatangi tempat peninggalan Belanda seperti Asrama Inggrisan, Kantor Pos, dan Gedung Juang 45. Dengan ketersediaan data yang memadai maka desain produk dan penyusunan materi dapat dilakukan. Langkah selanjutnya dengan melakukan validasi produk menggunakan instrumen penilaian dengan ahli materi Bapak Dr. Reza Hudiyanto, M.Hum dan validasi media Bapak Wahyu Djoko S., S.Pd, M.Pd. Setelah validasi produk maka diperoleh data kualitatidf dan kuantitatif yang mana juga diperoleh dalam penilaian angket yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok besar dan kecil. Teknik analisis data kualitatif dari validator dan siswa berupa saran dan catatan untuk perbaikan produk. Perbaikan dilakukan agar produk efektif digunakan untuk siswa. Kemudian pengolahan data kuantitatif terdapat dua penghitungan yaitu data per-item dan data keseluruhan yang akan dijabarkan sebagai berikut:   Pengolahan data per-item P = X/Xi x 100% Keterangan: P : Persentase X : Jumlah skor dalam 1 item Xi : Jumlah skor ideal dalam 1 item 100% : Konstanta   Pengolahan data keseluruhan P = (∑X)/(∑Xi) x 100% Keterangan: P : Persentase ∑X : Jumlah skor jawaban responden ∑Xi : Jumlah skor jawaban ideal responden 100% : Konstanta Berdasarkan penghitungan yang dilakukan dengan sesuai pada rumus maka nilai yang diperoleh untuk mengukur kelayakan produk, berikut kriteria kelayakan produk: Tabel 1 Kriteria Kelayakan Produk Persentase Kualifikasi Kriteria 76%-100% Sangat Valid Tidak Revisi 51%-75,99% Cukup Valid Dapat Digunakan Dengan Revisi Kecil 26%-50,99% Tidak Valid Kurang Layak Digunakan 0%-25,99% Sangat Tidak Valid Revisi Sumber: Arikunto (2012:312)   Hasil Produk yang dikembangkan merupakan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk buku suplemen cetak dengan materi bangunan peninggalan kolonial Belanda di Banyuwangi. Buku suplemen dicetak berwarna dengan dilengkapi peta, gambar serta foto untuk menambah pemahaman dan interpretasi siswa dalam mempelajari materi. Materi peninggalan kolonial ini termasuk dalam dalam ranah kompetensi dasar 3.7 untuk siswa kelas XI mata pelajaran sejarah peminatan. Kemudian ditambahkan pula glosarium yang memuat kata-kata sulit atau asing agar mudah dipahami siswa. Spesifikasi produk buku suplemen yakni pada materi sebelumnya disusun menggunakan software Microsoft Word 2013 dan menggunakan font Times New Roman dengan ukuran font 11 dan spasi 1,5. Untuk desain baik cover dan isi buku menggunakan Ms Publisher 2013. Ukuran kertas yang digunakan A5 ukuran 14,8 cm x 21 cm dengan berat 70 gram, untuk cover menggunakan kertas Art Paper dan terdiri dari 36 halaman. Buku suplemen dilengkapi dengan identitas penyusun buku, kemudian kata pengantar, serta daftar isi dan daftar gambar untuk memudahkan pembaca menemukan informasi yang diinginkan. Isis materi buku suplemen terbagi dalm dua bab, bab pertama membahas tentang bagaimana masuknya Belanda ke Banyuwangi. Bab kedua diawali peta tematik persebaran peninggalan kolonial dan dilanjutkan penjabaran materi bangunan peninggalan kolonial Belanda. pada bagian penutup berisikan rangkuman materi, glosarium, daftar pustaka, dan profil penyusun. Berikut tampilan produk: Gambar 1 Cover Produk                Gambar 2 Back Cover Produk Sumber: Screnshot Buku Suplemen Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi Gambar 3 Bentuk Desain Materi Pada Buku Suplemen Sumber: Screnshot Buku Suplemen Peninggalan Kolonial Belanda  di Banyuwangi Gambar 4 Glosarium Gambar 5 daftar Pustaka Sumber: Screnshot Buku Suplemen Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi   PEMBAHASAN Produk yang dihasilkan merupakan bahan ajar buku suplemen dengan bentuk cetak. Bahan ajar yang disusun disesuaikan dengan prinsip-prinsip intruksional. Bahan ajar juga harus dilengkapi dengan berbagai macam ilustrasi sebagai pendukung penguatan materi (Panem&Purwanto, 2001:2). Ilustrasi dapat berupa foto, gambar, tabel, peta dan lain sebagainya yang sesuai dengan topik dan mendukung pembelajaran.   Buku Suplemen disebut juga dengan buku pelengkap atau pengayaan. Buku suplemen diartikan sebagai buku yang memberikan informasi tentang pokok bahasan tertentu yang ada dalam kurikulum secara lebih luas atau lebih dalam (Sitepu, 2015: 8&16). Selain itu alam permendikbud nomor 2 tahun 2008 bahwa buku pengayaan atau buku suplemen adalah buku yang memuat materi yang dapat memperkaya buku teks pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Produk buku suplemen yang sudah dikembangkan ini selanjutnya divalidasi pada ahli materi dan ahli media kemudian dilakukan uji coba lapangan pada kelompok kecil dan besar. Validator materi produk adalah Bapak Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum proses validasi dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2018 di ruang LAB Historiografi. Berdasarkan penilaian memperoleh hasil 77,5% yang termasuk kualifikasi sangat valid dan tidak revisi. Proses selanjutnya validasi media dengan validator Bapak Wahyu Djok S., S.Pd, M.Pd. proses validasi dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2018 di kantor jurusan Sejarah. Berdasarkan hasil penilaian media produk memperoleh hasil 97,5% yang termasuk kualifikasi sangat valid dan tidak revisi. Meskipun termasuk dalam kategori valid revisi tetap dilakukan sesuai dengan saran dan catatan yang diberikan oleh validator. Setelah revisi produk tahapan selanjutnya uji coba lapangan yang dilakukan dua kali pada kelompok kecil dan kelompok besar dengan kelas yang berbeda. Uji coba kelompok kecil dilakukan di sekolah MAN 2 Banyuwang kelas XI IPS 3 pada tanggal 26 Juli 2018. Produk dinilai oleh 10 orang responden yang dipilih secara acak. Berdasarkan hasil penilaian kelompok kecil diperoleh hasil 88,25%. Berdasarkan penilaian tersebut produk sangat valid. Uji coba produk selanjutnya pada kelompok besar di kelas XI IPS 1 pada tanggal 1 Agustus 2018. Penilaian produk dilakukan oleh 38 orang responden dengan memperoleh hasil penilaian yakni 89,8%, jadi produk termasuk sangat valid. Berdasarkan hasil kedua uji coba lapangan terdapat selisih penilaian 1,65%, selisih tersebut berdasarkan situasi dan kondisi di dalam kelas sehingga mempengaruhi penilaian dari siswa. Setelah uji coba kelompok kecil dan besar hasil kuantitatif diperoleh sangat valid, tetapi perlu dilakukan beberapa revisi sesuai catatan dan saran yang yang diberikan oleh siswa. Produk yang dikembangkan berbentuk buku suplemen cetak menyuguhkan materi bangunan peninggalan kolonial untuk siswa. Dengan penggunaan produk maka siswa dapat mengetahui alternatif sejarah lainnya di Kabupaten Banyuwangi. Dengan diajarkan didalam kelas diharapkan setelah mempelajari buku suplemen siswa dapat ikut serta menjaga atau melestarikan peninggalan sejarah dilingkungan mereka.   PENUTUP Pengembangan produk yang dilakukan setelah melalui proses validasi memperoleh hasill sangat valid begitu pula pada uji coba lapangan dalam kelompok kecil dan kelompok besar. Maka produk yang dikembangkan valid dan layak digunakan oleh siswa. Walaupun produk termasuk kategori valid masih terdapat beberapa kelemahan, yang dapat diperbaiki lagi kedepannya untuk perbaikan produk. Saran pemanfaatan bagi peserta didik setelah penggunaan buku suplemen diharapkan mampu memberikan wawasan kesadaran sejarah disekitar lingkungan siswa. Meski pengembangan yang dilakukan terbatas pada materi kolonial setidaknya meteri yang disajikan memberikan wawasan baru dalam pemahaman sejarah Banyuwangi. Kemudian untuk guru dengan adanya bahan ajar dimungkinkan dapat membantu proses belajar mengajar agar mencapai tujuan yang diinginkan dengan guru terlebih dahulu mempelajari buku suplemen yang akan disampaikan kepada siswa. Produk yang dikembangkan dapat disebarkan secara luas yang disebut dengan diseminasi. Setelah melalui langkah-langkah pengembangan dan dilakukan validasi dengan hasil layak untuk pembelajaran siswa maka keberadaan dan pengadaan produk layak dipertimbangkan. Penyebaran produk dilakukan secara terbatas oleh peneliti karena keterbatasan dana. Produk disebarkan pada guru mata pelajaran sejarah disekolah dimana dilakukan uji coba. Kemudian langkah yang lebih luas dengan menerbitkan buku suplemen secara masal untuk siswa kelas XI attau masyarakat umum yang tertarik dalam  bahasan sejarah kolonial. Mengenai pengembangan produk lebih lanjut yang sudah termasuk dalam kategori valid digunakan, masih terdapat beberapa kekurangan yang membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan.     DAFTAR RUJUKAN Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ali, M. R. 2012. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta. Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Panem, Paulina & Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta PAU-PPAI-UT Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 2. 2008. Buku. Jakarta: Menteri Pendidikan Nasional. Prastowo, Andi. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press. Sitepu, B.P. 2015. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Widja, I Gede. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

    PENGEMBANGAN MEDIA (HISLINE) HISTORY TIMELINE BERBASIS MOBILE LEARNING MATERI PERGERAKAN NASIONAL BAGI SISWA KELAS X SMK NEGERI 3 BOYOLANGU TULUNGAGUNG

    No full text
    PENGEMBANGAN MEDIA (HISLINE) HISTORY TIMELINE BERBASIS MOBILE LEARNING MATERI PERGERAKAN NASIONAL BAGI SISWA KELAS X SMK NEGERI 3 BOYOLANGU TULUNGAGUNGMei Eka Anggraini Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang 65145Email: [email protected] Abstrak: Tujuan dari pengembangan dan penelitian ini adalah menghasilkan produk media pembelajaran berbasis mobile learning dalam bentuk aplikasi berupa timeline dengan materi pergerakan nasional. Metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan media pembelajaran history timeline berbasis mobile learning dari Sugiyono. Berdasarkan hasil validasi ahli media dan ahli materi diperoleh hasil persentase dari ahli materi 90% dan ahli media 90%. Dari uji coba produk di kelas X SMKN 3 Boyolangu Tulungagung, kelompok kecil diperoleh persentase 95,8%. Sedangkan uji coba kelompok besar diperoleh persentase 93,15%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan media (hisline) history timeline berbasis mobile learning materi pergerakan nasional ini layak digunakan sebagai media pembelajaran sejarah di dalam maupun diluar kelas. Kata Kunci: media pembelajaran, history timeline, mobile learning, pergerakan nasional.Abstract: The purpose of this research and development is to create an application mobile-based learning media product with the topic of Indonesia national movement. Method used in this research and development of mobile-based history timeline learning media is taken from Sugiyono. Result obtained from material expert validation is 90% and media expert validation is also 90%. From the test done in SMKN 3 Boyolangu, Tulungagung, small group obtained percentage of 95.8%, while large group obtained percentage of 93.15%. Therefore it can be concluded that mobile-based hisline (history timeline) learning media: Indonesia national movement is valid to be used as learning media in and outside classes. Keywords: learning media, history timeline, mobile learning, and national movement.Pendidikan mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini terlihat dengan pendidikan, manusia mampu mempersiapkan suatu aktivitas untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter. Hasil pendidikan dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kehidupan manusia, sehingga manusia menjadi lebih bermartabat (Soemanto, 2006:165). Melalui pendidikan berbagai aspek kehidupan dapat dikembangkan melalui proses belajar dan pembelajaran. Pendidikan di sekolah akan dinilai baik ketika dapat dilihat dari proses pembelajaranya. Dalam proses pembelajaran diharapkan supaya tercapainya indikator belajar yang menyeluruh. Untuk tercapainya indikator secara menyeluruh, dapat dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran oleh para guru (Gafur, 2012:107). Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan menyiapkan media yang sesuai dengan karakteristik siswa. Seorang guru supaya mampu memilih media pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas, sehingga kegiatan pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Dalam penggunaan media   pembelajaran, guru supaya bisa menarik perhatian siswa sehingga siswa bisa menerima pembelajaran dengan baik. Menurut Sudjana & Rivai (2010:2) media pembelajaran dapat mempertinggi proses pembelajaran siswa, yang kemudian dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 1 Agustus 2018, diperoleh gambaran bahwa guru matapelajaran sejarah di SMKN 3 Boyolangu masih menggunakan pendekatan ekspositori dengan metode ceramah. Observasi ini dilakukan di kelas X TEI 2 dan X TIT 3 dengan guru pengampu matapelajaran sejarah yaitu Ibu Nita Ismawati, S.Pd. Pada observasi ini peneliti mengamati pembelajaran dengan melihat media apa saja yang pernah digunakan dalam pembelajaran sejarah. Berdasarkan hasil observasi ini diketahui bahwa guru tidak menggunakan media apapun. Dalam penyampaian materi Ibu Nita Ismawati, S.Pd hanya memanfaatkan papan tulis dan LKS. Namun pemanfaatan papan tulis dan penggunaan LKS secara terus-menerus memiliki dampak dan kekurangan yaitu banyak dari siswa yang merasa bosan dan kurang menarik perhatian siswa. Hal inilah yang menyebabkan sebagian siswa kurang antusias bahkan mengobrol dan ramai ketika pembelajaran sejarah sedang berjalan. Pemanfaatan atau penggunaan media pembelajaran sebagai alat komunikasi untuk memotivasi belajar siswa, serta memperjelas informasi pengajaran dengan memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting dan memberikan variasi dalam mengajar agar kemauan siswa dalam menerima materi pelajaran dapat terserap dengan baik. Permasalah diatas dapat diatasi dengan penggunaan media yang tepat. Media pembelajaran dapat membantu siswa lebih bersemangat dalam menerima materi pelajaran. Selain itu penggunaan media yang tepat dapat memperjelas pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Oleh karena itu, peneliti bekerja sama dengan guru untuk melakukan tindakan dalam mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media yang tepat dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran dalam bentuk timeline. Penggunaan media timeline diharapakn dapat menimbulkan daya tarik sehingga dapat memotivasi siswa untuk senang belajar dan untuk memberikan hasil pembelajaran yang lebih baik. Media timeline ini diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk memperjelas konsep-konsep abstrak serta mempertinggi daya serap belajar sehingga diharapkan materi dapat dengan mudah diterima oleh siswa. Pengembangan media timeline ini menggunakan program Appy Pie dengan alasan program ini memiliki fitur-fitur yang menarik. Pengembangan ini berupa media pembelajaran timeline dalam bentuk aplikasi yang bisa digunakan di smarthphone atau yang biasa disebut dengan mobile learning. Mobile learning atau m-learning adalah model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dan konsep pembelajaran menggunakan m-learning memiliki manfaat yaitu ketersediaan materi ajar yang dapat diakses setiap saat dimana saja dan kapan saja (Ally, 2009:10). Media pembelajaran sejarah berupa History Timeline ini dikembangkan untuk mempermudah pembelajaran sejarah di SMKN 3 Boyolangu. Pengembangan media ini diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk membantu proses pembelajaran sejarah di kelas. Alasan pengembangan  media (Hisline) History Timeline berbasis mobile learning adalah daya tarik yang disampaikan, sehingga akan memudahkan pemahaman siswa dalam belajar sejarah. Pengembangan media pembelajaran ini diperuntukkan bagi siswa kelas X SMK dengan materi Pergerakan Nasional sesuai dengan K.D. 3.6 menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa, lahirnya pergerakan nasional dan peristiwa sumpah pemuda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk pengembangan media History Timeline berbasis mobile learning pada matapelajaran sejarah dan untuk mengetahui bagaimana media History Timeline berbasis mobile learning dalam pembelajaran sejarah materi Pergerakan Nasional kelas X SMKN 3 Boyolangu Tulungagung. Manfaat yang dapat diperoleh dari pengembangan media History Timeline berbasis mobile learning ini bagi siswa adalah dapat memperoleh hasil belajar yang baik dengan menggunakan media ini, selain itu diharapkan dapat meningkatkan daya Tarik dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih bervariasi. Sedangkan bagi guru penelitian ini diharapkan mampu memberikan inspirasi baru bagi pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran sejarah. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan profesionalitas guru sejarah dalam memperkaya pengetahuan dan inovasi dalam proses pembelajaran sejarah di kelas, terlebih lagi dalam penggunaan media History Timeline berbasis mobile learning pada matapelajaran sejarah. METODEPenelitian ini menggunakan model penelitian menurut Sugiyono. Menurut Sugiyono (2015:407) metode penelitian dan pengembangan atau research and development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Metode penelitian dan pengembangan adalah cara ilmiah untuk meneliti, merancang, memproduksi dan menguji validitas produk yang telah dihasilkan. Adapun langkah-langkah pelaksanaan model pengembangan ini meliputi(1) potensi dan masalah,(2) pengumpulan data,(3) desain produk,(4) validasi desain,(5) uji coba pemakaian,(6) revisi produk,(7) uji coba produk,(8) revisi desain,(9) revisi produk, dan(10) produk massal.Penelitian ini menerapkan 9 tahap tanpa menggunakan produk massal. Uji coba produk pengembangan dilakukan kepada ahli materi, ahli media, dan siswa. Setelah diujikan lalu dilakukan revisi. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan wawancara dan angket. Wawancara digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan karakteristik siswa sebagai pengguna media. Wawancara dilakukan kepada guru pengampu matapelajaran Sejarah dan siswa. Instrumen penelitian dan pengembangan ini menggunakan angket untuk penyempurnaan media pembelajaran. Angket terdiri dari data verbal dan data numerik. Angket berisi pernyataan tentang aspek-aspek yang berada dalam media pembelajaran Hisline. Setelah tahap uji coba produk berhasil dilakukan selanjutnya yaitu tahapan uji coba pemakaian. Tahapan uji coba dilakukan ketika tahap uji coba peoduk berhasil, baik dengan adanya revisi ataupun tidak. Uji coba pemakian “Media Pembelajaran (Hisline) History Timeline Berbasis Mobile Learning Materi Pergerakan Nasional” dilakukan pada lingkup yang lebih kecil atau kelompok  kecil dan lingkup yang lebih luas atau kelompok besar. Tujuan uji coba pemakaian ini untuk mengetahui respon peserta didik terhadap media pembelajaran yang dikembangkan dan untuk mengetahui respon peserta didik terhadap produk melalui instrumen berupa angket. Adapun pengujian dalam kelompok kecil cukup menggunakan instrumen berupa angket sedangkan untuk pengujian pada kelompok besar ini dilakukan dengan membandingkan sebelum dan sesudah menggunakan media (Hisline) History Timeline berbasis Mobile Learning dengan menggunakan pre test dan post test. Adapun model penelitian dan pengembangan ini berpedoman dari Sugiono, yaitu sebagai berikut:x(Sugiono, 2014:303)Keterangan:O1 = Nilai pret-estO2 = Nilai post-testX = PerbandinganPenilaian ini digunakan dengan membandingkan hasil tes O1 dan O2. Apabila O2 bernilai lebih besar dari pada O1, maka media pembelajaran tersebut efektif. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab kemudian diisi dengan lengkap dikembalikan kepada peneliti. Instumen angket berupa lembar angket validasi yang diberikan kepada validator ahli materi, validator ahli media serta diberikan kepada siswa. Angket yang digunakan terdiri dari penilaian berupa pernyataan, kritik dan saran mengenai produk yang dikembangkan. Penilaian tersebut dianalisis melalui kriteria dan skor perhitungan sebagai berikut: Tabel 1. Skor Perhitungan Angket Kriteria Kode Skor Jika sangat setuju SS 5 Jika setuju ST 4 Jika ragu-ragu RG 3 Jika tidak setuju TS 2 Jika sangat tidak setuju STS 1 Sumber: Sugiyono (2016:166) Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui validitas produk pengembangan yaitu metode kuesioner atau angket. Dalam penelitian ini kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban sehingga responden tinggal memberi tanda (√) pada kolom yang telah disediakan. Pengumpulan data dari tes berupa pemberian soal pre test dan post test kepada peserta didik bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan produk media (Hisline) History Timeline berbasis Mobile Learning Soal pre test terdiri dari 20 soal pilihan ganda dan soal post test yang terdiri dari 10 pilihan ganda dan 5 soal essay atau uraian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah teknik analisis data secara kualitatif dan teknik analisis data secara kuantitatif. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data verbal berupa catatan, komentar, kritik dan saran dari ahli materi dan media, O1 O2 menyeleksi data verbal dan menganalisis data dan merumuskan kesimpulan analisis sebagai dasar revisi. Teknik analisis data kuantitatif menggunakan skor yang didapat dari angket validasi ahli materi dan ahli media serta angket dari peserta didik. Adapun rumus yang digunakan dalam teknik analisis data kuantitatif dalam produk media (Hisline) History Timeline berbasis Mobile Learning menurut Arikunto (2004:19) dalam mengolah data angket dibagi menjadi dua, mengolah data per item dan mengolah data secara keseluruhan dirumuskan sebagai berikut.a. Rumus mengolah data per itemKeterangan:P : PresentaseX : Jawaban dalam 1 itemX1 : Jawaban ideal dalam 1 item100% : Konstantab. Rumus mengolah data keseluruhanKeterangan:P : PresentaseX : Jawaban keseluruhanX1 : Jawaban keseluruhan skor dalam satu item 100% : KonstantaSetelah dihitung hasil validasinya, selanjutnya adalah meilihat kriteria tingkat validitas produk dengan suatu strandar kriteria yang telah dibuat. Adapun tabel kriterian dalam menentukan tingkat validitas produk dengan bepedoman pada kriteria yang dibuat Arikunto (2004:19) adalah sebagai berikut: Tabel 2 Kriteria Kelayakan Media Pembelajaran Rentangan Tingkat Persentase Kriteria Keterangan81% -100% Valid Tidak Revisi61% - 80 % Cukup Valid Tidak Revisi41% - 60% Kurang Valid Revisi≤ 40% Tidak Valid Revisi(Sumber: Arikunto, 2004:19)Berdasarkan tabel 2 di atas, maka dapat diperoleh keterangan bahwa produk dinyatakan valid dan tidak memerlukan revisi apabila nilai validasi ≥ 61%, sedangkan apabila nilai validasi ≤61% maka produk memerlukan revisi sebelum digunakan dalam pembelajaran. Hasil tes digunakan untuk menganalisis efektivitas produk, yaitu mengenai hasil pre test dan post test dari materi pergerakan nasional pada saat sebelum dan sesudah menggunakan media (Hisline) History Timeline berbasis Mobile Learning. Adapun cara menghitungnya, peneliti  menghitung hasil rata-rata dari pre test dan post test kemudian menghitung selisihnya. HASILPenyajian Data Uji CobaPenyajian data hasil uji coba produk ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap penyajian data hasil uji coba ahli, uji coba kelompok kecil, dan uji coba kelompok besar. Hasil uji coba ahli diperoleh dari ahli validasi materi dan validasi media. Kemudian hasil uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar diperoleh dari siswa kelas X SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung. Media yang dikembangkan adalah media hisline berbasis mobile learning dengan materi K.D. 3.6 menganalisis dampak politik, budaya, politik, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa, lahirnya pergerakan nasional dan peristiwa sumpah pemuda. Materi pokok yang dikemas adalah lahirnya pergerakan nasional di Indonesia. Untuk mengembangkan produk hisline sebagai media pembelajaran ini subjek uji coba adalah siswa SMK Negeri 3 Boyolangu kelas X TEI 2 sebagai kelompok kecil dan X TIT 3 sebagai kelompok besar dengan alokasi waktu 3x45 menit. Uji coba yang dilakukan oleh peneliti adalah menyebar angket kepada siswa tentang keefektififan penggunaan produk media pembelajaran, menyebar soal pre test dan post test untuk mengukur hasil belajar siswa. Data yang disajikan adalah hasil data angket validasi ahli materi, angket validasi ahli media, angket uji coba kelompok kecil, angket uji coba kelompok besar, hasil nilai pre test dan post test. Adapun data yang disajikan sebagai berikut: Tabel 3 Data Hasil Uji Validasi Materi (Sumber: Hasil Validasi Ahli Materi, 2018) No Indikator Penilaian X Xi % Kriteria Kelayakan1. Materi relevan dengan kompetensi dasar (KD) 4 5 80% Cukup Valid2. Isi materi mencakup pengetahuan yang diperlukan siswa 5 5 100% Valid3. Penyajian materi dalam media pembelajaran cukup jelas 4 5 80% Cukup Valid4. Susunan materi disajikan secara sistematis dan urut 5 5 100% Valid5. Materi sesuai dengan tingkatan siswa 4 5 80% Cukup Valid6. Teknis penulisan kalimat pada materi mudah dipahami 5 5 100% Valid7. Materi yang disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa 5 5 100% Valid8. Materi yang disampaikan menggunakan bahasa yang komunikatif 5 5 100% Valid9. Gambar yang disajikan relevan dengan materi 4 5 80% Cukup Valid10. Gambar yang disajikan memiliki kebermanfaatan dalam menambah pengetahuan siswa 4 5 80% Cukup Valid Jumlah 45 50 90% Valid Tabel 4 Data Hasil Uji Validasi Media (Sumber: Hasil Validasi Ahli Media, 2018) Tabel 5 Data Hasil Uji Coba Produk Kelompok Kecil No Indikator Penilaian X Xi %1. Saya dapat memahami petunjuk dalam menggunakan media pembelajaran Hisline 49 50 98%2. Saya mudah memahami bahasa yang ada pada media pembelajaran 49 50 98%3. Saya suka desain dalam media pembelajaran Hisline 44 50 88%4. Saya merasa media ini membantu dalam memperoleh informasi tentang Pergerakan Nasional Indonesia 50 50 100%5. Saya dapat menggunakan media pembelajaran ini untuk belajar secara mandiri 50 50 100%6. Saya merasa mudah dalam pengoperasian Hisline sebagai media pembelajaran 50 50 100%7. Saya dapat memahami isi materi yang ada dalam media pembelajaran 47 50 94%8. Saya merasa jelas dengan tampilan gambar yang disajikan 47 50 94%9. Saya suka dengan font yang digunakan dalam media pembelajaran Hisline 45 50 90%10. Hisline memberikan motivasi bagi saya untuk lebih tertarik belajar Sejarah Indonesia 48 50 96%Jumlah 479 500 95,8% (Sumber: Hasil Uji Coba Produk Kelompok Kecil, 2019) No Indikator Penilaian X Xi % Kriteria Kelayakan1. Media pembelajaran Hisline menarik dan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran sejarah 4 5 80% Cukup Valid2. Petunjuk penggunaan dalam media pembelajaran jelas dan mudah untuk dipahami 5 5 100% Valid3. Jenis dan ukuran font pada media pembelajaran sudah baik dan jelas 4 5 80% Cukup Valid4. Pengoperasian media pembelajaran Hisline tidak terjadi error 4 5 80% Cukup Valid5. Button menu dalam media pembelajaran tidak ada yang bermasalah 5 5 100% Valid6. Konsep penyajian gambar dalam media pembelajaran mudah dipahami 5 5 100% Valid7. Media pembelajaran Hisline memiliki variasi warna dalam desain tampilan 4 5 80% Cukup Valid8. Media pembelajaran dapat digunakan untuk belajar secara mandiri 5 5 100% Valid9. Media pembelajaran Hisline yang ditampilkan memiliki kebermanfaatan dalam menambah pengetahuan siswa 4 5 80% Cukup Valid10. Tampilan media pembelajaran Hisline menarik secara keseluruhan 5 5 100% Valid Jumlah 45 50 90% ValidTabel 6 Data Hasil Uji Coba Produk Kelompok Besar No Indikator Penilaian X Xi %1. Saya dapat memahami petunjuk dalam menggunakan media pembelajaran Hisline 157 165 95,15%2. Saya mudah memahami bahasa yang ada pada media pembelajaran 158 165 95,75%3. Saya suka desain dalam media pembelajaran Hisline 149 165 90.30%4. Saya merasa media ini membantu dalam memperoleh informasi tentang Pergerakan Nasional Indonesia 157 165 95,15%5. Saya dapat menggunakan media pembelajaran ini untuk belajar secara mandiri 159 165 96,36%6. Saya merasa mudah dalam pengoperasian Hisline sebagai media pembelajaran 149 165 90.30%7. Saya dapat memahami isi materi yang ada dalam media pembelajaran 156 165 94,54%8. Saya merasa jelas dengan tampilan gambar yang disajikan 153 165 92,72%9. Saya suka dengan font yang digunakan dalam media pembelajaran Hisline 149 165 90.30%10. Hisline memberikan motivasi bagi saya untuk lebih tertarik belajar Sejarah Indonesia 150 165 90,90% Jumlah 1537 1650 93,15% (Sumber: Hasil Uji Coba Produk Kelompok Besar, 2019) Tabel 7 Data Hasil Angket Uji Coba Produk Kelompok Kecil No Nama Siswa Nilai Aspek X Xi % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101. Muhammad Chusnul 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 47 50 94%2. Muhammad Khoirul 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%3. Muhammad Fadhil 5 4 3 5 5 5 4 5 3 3 42 50 84%4. Fuad Yusuf Efendi 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 47 50 94%5. Jarot Tri Atmaja 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 49 50 98%6. Hafiz Yohan Rifa’i 5 5 4 5 5 5 4 4 4 5 46 50 92%7. Irhamsyah Maulana 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%8. Joko Prasetyo 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%9. Muhammad Jevry 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%10. Muhamad Ainun 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5 48 50 96%Jumlah 479 500 958% Rata-rata 95,8 (Sumber: Hasil Angket Uji Coba Produk Kelompok Kecil, 2019) Tabel 8 Data Hasil Angket Uji Coba Produk Kelompok Besar No Nama Siswa Nilai Aspek X Xi % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101. Muhammad Arjun 5 5 4 5 5 5 4 4 4 4 45 50 90%2. Muhammad Hisyam 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 47 50 94%3. Muhammad K. 4 4 4 5 5 4 4 4 4 5 43 50 86%4. Muhammad Rivaldo 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%5. Muhammad Rizky 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 50 80%6. Muhammad Zakin 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 49 50 98%7. Muhammad Zamzami 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 48 50 96%8. Najwa Tanya Nurul 5 5 4 5 5 4 5 5 4 5 47 50 94%9. Nur Wahyudhi 5 5 4 5 4 4 5 4 4 4 44 50 88%10. Nydia Nathasya 5 5 4 4 5 5 5 4 4 4 45 50 90%11. Pipo Kandaka 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%12. Pratama Fadhil 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%13. Raden Deny Abdul 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%14. Rahul Agus Setyawan 5 4 5 5 4 4 5 5 5 5 47 50 94%15. Ricotryno Denta 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%16. Ridho Dirgantara 4 4 5 4 5 5 5 5 4 4 45 50 90%17. Riko Hermawan 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 46 50 92%18. Risky Ramadani 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%19. Rizdatul Qomariyah 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%20. Rizki Dwi Kurniawan 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%21. Rizky Arsya Ananda 5 5 4 4 5 5 4 4 4 4 44 50 88%22. Ruhan Restu Gusti 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%23. Ryan Reynald Wijaya 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 50 80%24. Satria Afif Fahmi 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 46 50 92%25. Satriya Dewantoro 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%26. Shafa`Ul Janan 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50 50 100%27. Soni De

    Pengembangan Bahan AjarInteraktif Berbasis Appy Pie Tentang Situs Makam Sunan Prapen Untuk Pembelajaran Siswa Kelas X MAN 1 Gresik

    No full text
    Pengembangan bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie ini dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa yang sudah menggunakan smartphone dalam pembelajaran di sekolah, pemanfaatan smartphone yang sangat baik oleh siswa bisa memudahkan siswa dalam belajar dengan hasil siswa semakin semangat dalam proses pembelajaran. Pengembangan bahan ajar interaktif berbasis Appy pie dengan mengangkat materi situs makam Sunan Prapen ini juga dilatarbelakangi oleh ketidak tahuan siswa pada sejarah lokal yang ada di daerahnya sendiri khusunya pada situs makam Sunan Prapen dan juga letak sekolah yang jauh dengan lokasi obyek sejarah. Hal tersebut yang kemudian menjadi alasan peneliti dalam mengembangkan bahan ajar interaktif berbasis Android (Appy Pie).Adapun tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk pengembangan berupa bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie tentang Situs Makam Sunan Prapen Untuk Pembelajaran Sejarah Siswa Kelas X MAN 1 Gresik. Pengembangan bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie tentang situs makam Sunan Prapen ini disesuaikan dengan KD 3.7 yakni tentang menganalisis berbagai teori tentang masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia.Metode yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie ini yaitu menggunakan model penelitian dan pengembangan Sugiyono (2016) yaitumeliputi(1) potensidanmasalah,(2) pengumpulan data,(3) desainproduk,(4) validasidesain,(5) revisidesain,(6) ujicobaproduk,(7) revisiproduk,(8) ujicobapemakaian,(9) revisiproduk, dan(10) produksiakhir.Sebelum diuji cobakan kelapangan, produk yang telah dikembangkan terlebih dahulu divalidasi oleh ahli materi dan ahli bahan ajar.Pada tahap validasi media mendapatkan hasil 88% sehingga bahan ajar dinyatakan layak dan tidak revisi, hanya saja terdapat beberapa saran dari validator untuk menyempurnakan produk. Sedangkan pada validasi materi mendapatkan hasil 96,6% dengan kategori sangat layak dan tidak revisi, hanya ada beberapa masukan untuk penambahan denah lokasi pada situs makam Sunan Prapen agar lebih baik.Pada tahap selanjutnya yakni uji coba produk yang dilakukan di kelas X IPS 1 MAN 1 Gresik, tahap uji coba produk ini dilakukan melalui dua tahap yakni pre test dan post test dan juga angket kelayakan. Hasil pre test dan post test mendapatkan hasil meningkat dengan nilai pre test sebesar 50% dan nilai post test 89% dengan selisih hasil sebesar 39% dan pada uji kelayakan mendapatkan hasil 93% dari kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar ini sangat efektif dan layak untuk pembelajaran sejarah. Tahap selanjutnya yakni uji coba pemakaian yang dilakukan di kelas X IPS 2 MAN 1 Gresik, tahap uji coba produk ini dilakukan melalui dua tahap yakni pre test dan post test dan juga angket kelayakan. Hasil pre test dan post test mengalami peningkatan sebesar 25% dan pada uji kelayakan mendapatkan hasil 90% dari kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar ini sangat efektif dan layak untuk dijadikan bahan ajar. Bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie pada materi situs makam Sunan Prapen ini diperuntukkan bagi semua kalangan khusunya pada kelas X MAN 1 Gresik sebagai bahan ajar yang bisa menunjang pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas sekaligus memperkenalkan dan memperkaya siswa akan pengetahuan tentang sejarah lokal yang ada di Gresik. Langkah disimenasi yang dapat dilakukan yakni dapat mengenalkan dan menyebarluaskan produk bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie dalam lingkup pendidikan yang lebih luas melalui aplikasi shareit dan juga whatsapp karena bentuk dari produk ini juga soft file sehingga lebih memudahkan produk ini untuk disebarluaskan. Selain itu bahan ajar interaktif berbasis Appy Pie ini juga bisa disebarluaskan oleh peneliti melalui jurnal penelitian, agar mahasiswa pendidikan, guru atau pihak lainnya yang ingin mengmbangkan bahan ajar bisa mendapatkan informasi mengenai bahan ajar yang inovatif

    KETERLIBATAN SOE HOK GIE DALAM GERAKAN MAHASISWA SOSIALIS DI INDONESIA 1961-1966

    No full text
    KETERLIBATAN SOE HOK GIE DALAM GERAKAN MAHASISWA SOSIALIS DI INDONESIA 1961-1966 Faris Fathoni Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang [email protected]   Abstrak Pergerakan pemuda merupakan salah satu bagian dari sejarah penting di Indonesia. Salah satunya ialah pergerakan pemuda tahun 1966. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh kunci dari pergerakan ini. Sebagai seorang sosialis, Soe Hok Gie semasa perkuliahannya mengikuti salah satu organisasi gerakan bawah tanah ayng berafiliasi dengan PSI, yaitu gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis). Melalui koneksinya dengan gemsos lah Soe Hok Gie dengan mudah dapat bekerja sama dengan pihak militer untuk meruntuhkan rezim Soekarno. Soe Hok Gie juga dengan mudah dapat memperoleh informasi-informasi penting dari salah satu rekan gemsosnya yang bekerja di bidang politik. Pergerakan mahasiswa tahun 1966 akhirnya membuahkan hasil dengan berhasil diruntuhkannya rezim Soekarno dan berganti menjadi orde baru rezim Soeharto.   Kata Kunci: Soe Hok Gie, Sosialisme, Gemsos.   Abstract The youth movement is one of the important parts of history in Indonesia. One of them was the youth movement in 1966. Soe Hok Gie was one of the key figures in this movement. As a socialist, Soe Hok Gie during his lecture participated in one of the underground movement organizations affiliated with PSI, namely gemsos (Socialist Student Movement). Through his connection with gemsos Soe Hok Gie could easily work with the military to undermine the Soekarno regime. Soe Hok Gie can also easily obtain important information from one of his gemsos colleagues who work in the political field. The student movement in 1966 finally paid off with the successful collapse of the Soekarno’s regime and changed into the new order of the Suharto regime. Salah satu pelaku utama sejarah di Indonesia adalah para pemuda. Toer dalam Kusuma (2015:1) bahkan menyatakan bahwa “sejarah Indonesia adalah sejarah para pemuda Indonesia”. Hal ini tidak dapat dipungkiri, mengingat bahwa sejak zaman penjajahan para pemuda telah memiliki andil yang cukup besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang Indonesia diharapkan mampu menikmati kemerdekaan dengan gemilang. Akan tetapi baik saat Orde Lama maupun Orde Baru, Indonesia kembali bergelut dengan masalahnya sendiri.Pada saat pemerintahan Soekarno Indonesia mengalami hyper inflasi yang menyentuh angka 650%. Inflasi ini menyebabkan harga – harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan menyebabkan rakyat semakin kesusahan. Pemerintahan Orde Baru dibawah rezim Soeharto yang otoriter juga menyebabkan banyak keresahan, rakyat kehilangan haknya dalam mengutarakan aspirasinya. Pemerintahan ini juga dinilai penuh dengan KKN. Melihat keadaan yang seperti inilah golongan para pemuda akhirnya kembali mengambil peranan yang sangat besar bahkan dapat dikatakan lebih besar dari sebelumnya. Golongan pemuda yang paling menonjol pergerakannya adalah dari kalangan mahasiswa. Dalam kurun waktu 1965 -1998 mahasiswa banyak melakukan kritik, koreksi bahkan hingga mengatakan demonstrasi kepada sistem pemerintahan yang ada. Tidak lepas dari sejarah diatas, salah satu mahasiswa yang menjadi tokohkunci angkatan ’66 dan ikut serta menjadi arsitek dari aksi yang dilakukan oleh mahasiswa pada Maret 1966 adalah Soe Hok Gie.  Soe Hok Gie mengotaki semacam Long Marh (istilahnya sendiri) untuk gerak jalan yang menuntut penurunan harga bensin, penurunan harga karcis bis kota (LP3ES, 2011:12). Soe Hok Gie bukan hanya aktivis turun kejalanan namun Soe Hok Gie juga adalah seorang cendekia yang mengkritik melalui tulisan yang dimuat dalam surat kabar pada masa itu.Soe Hok Gie memprotes setiap ketidak-adilan bukan untuk dirinya pribadi namun semata karena Soe Hok Gie peduli pada penderitaan rakyat kecil. Kepedulian yang tinggi terhadap kaum bawah dan kebenciannya pada ketidak-adilan tersebut membuat Soe Hok Gie pada akhirnya mengambil sikap tegas dan ingin meruntuhkan rezim Soekarno yang saat itu dipandangnya banyak melakukan penyelewengan dan semakin otoriter. Oleh karena itu, Soe Hok Gie tidak ragu-ragu mengambil jalur kekuasaan untuk mewujudkan keinginan anti kekuasaan tersebut. Soe Hok Gie memutuskan untuk rmemecahkan dilemanya tentang kekuasaan dengan benar-benar melibatkan diri ke dalam suatu pergerakan bawah tanah yang sampai sekarang tidak banyak diketahui orang, yaitu melalui Gerakan Mahasiswa Sosialis (gemsos). Permasalahan yang muncul dapat dijadikan rumusan masalah sebagai berikut, yaitu: (1) bagaimana latar belakang kehidupan Soe Hok Gie? (2) bagaimana pemetaan ideologi organisasi pemuda indonesia tahun 1961-1969? (3) bagaimana keterlibatan soe hok gie dalam gerakan mahasiswa sosialis?   Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang menggunakan lima tahapan yang harus dilaksanakan dalam sebuah penelitian. Tahapan-tahapan tersebut antara lain penentuan topik, heuristik (pengumpulan sumber data), kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Berikut tahapan-tahapan tersebut, antara lain: 1. Pemilihan Topik Pemilihan topik ini berkaitan dengan minat peneliti secara pribadi terhadap tokoh Soe Hok Gie. Peneliti membaca buku-buku terkait dengan Soe Hok Gie seperti “Catatan Seorang Demonstran” (2014), “Soe Hok Gie : Sekali lagi” (2009), maupun “Soe Hok Gie Biografi Sang Demonstran” (2010), dalam buku tersebut banyak dijelaskan bagaimana perjalanan Soe Hok Gie selama menjadi aktivis saat mahasiswa.Selain ketertarikan penulis pada tokoh Soe Hok Gie, pemilihan topik ini berdasarkan tidak banyaknya orang yang mengetahui keterlibatan Soe Hok Gie dalam GemSos. Dari hal inilah peneliti merasa bahwa perjalanan Soe Hok Gie selama menjadi aktivis sangat menarik untuk dikaji secara lebih dalam terutama berfokus pada keikut-sertaan Soe Hok Gie dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis di Indonesia. 2. Heuristik Heuristik merupakan kegiatan yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan pencarian dan pengumpulan data serta sumber yang terkait dengan penelitian (Syamsuddin, 2008:86). Dalam hal ini penulis mengumpulkan berbagai sumber yang nantinya dikumpulakan dan dibagi menjadi beberapa bagian seperti sumber Primer dan Sumber Sekunder. a. Sumber Primer Sumber primer merupakan sumber paling utama dalam penelitian ini yang dikemukakan oleh pelaku sejarah, yaitu Soe Hok Gie. 1) 2011. Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran.. Jakarta : LP3ES. Merupakan buku yang berisi tentang catatan harian dari Soe Hok Gie dari masa kecil sampai masa bujangnya. Lebih tepatnya dari 4 Maret 1957 – 8 Desember 1969. 2) Koran-Koran yang memuat tulisan Soe Hok Gie. Seperti Harian Rakyat, Indonesia raya, dan Sinar Harapan b. Sumber Sekunder Sumber sekunder adalah sumber yang berasal dari bukan pelaku sejarah, akan tetapi sumber yang ditulis oleh sejarawan atau penulis terdahulu. Sumber Sekunder bisa berupa buku, jurnal, dan skripsi. 1) Badil, R,  Luntungan, R. N & Sutrisno, L.B (Ed). 2009. Soe Hok Gie : Sekali Lagi (Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya). Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia. Merupakan buku yang berisi tentang saksi hidup dari kehidupan Soe Hok Gie. Saksi tersebut merupakan sahabat-sahabat dari Soe Hok Gie semasa hidup. 2) Sarwono, S.W. 1978. Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivis Dalam Gerakan Protes Mahasiswa. Jakarta : Bulan Bintang. Merupakan buku yang berisi tentang konsep dasar mengenai gerakan mahasiswa. 3) Feith, H& Castles, L (Ed). 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta : LP3ES. Merupakan buku yang berisi tentang tokoh pemikir politik indonesia. 4) Sarwono, S.W. 2002. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Merupakan buku yang berisi tentang teori-teori psikologi, salah satunya adalah teori peran yang dibutuhkan penulis untuk penulisan ini. 5) Supriyatna. 2007. Peranan Soe Hok Gie dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia Tahun 1960-1968. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: FKIP Universita Sebelas Maret. Merupakan skripsi dari Supriyatna mahasiswa Universitas Sebelas Maret. c. Sumber Lisan Sumber Lisan adalah sumber yang diperoleh penulis dari wawancara dari informan-informan yang telah terpilih. Peniliti berencana untuk mewawancarai sahabat dari Soe Hok Gie yang masih hidup, seperti : Aristides Katoppo : sahabat dari Soe Hok Gie 3. Kritik Sumber Kritik Sumber merupakan langkah selanjutnya setelah melakukan Heuristik. Kritik Sumber sendiri bertujuan untuk menguji serta mengenali kebenaran atau ketajama dari sumber-sumber yang diperoleh dari penulis. Kritik Sumber terbagi menjadi Kritik Ekstern dan Kritik Intern. Kritik Ekstern merupakan penilaian dari sebuah sumber untuk memastikan kesejatian bahan dari sumber tersebut. Penulis mengidentifikasi dari buku terbitan LP3ES yang berjudul Soe Hok Gie :Catatan Seorang Demonstran cetakan kesepuluh tahun 2011. Buku tersebut merupakan buku yang diterbitkan oleh lembaga swada masyarakat terbesar di indonesia yang sangat ahli dalam bidang penerbitan dan penelitian. Jadi buku yang diterbitkan oleh LP3ES merupakan buku yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Kritik intern adalah kritik yang dilakukan untuk mengetahui fakta dan pernyataan pada isi dari sumber yang didapat oleh penulis. Penulis mengidentifikasi Buku nyang diterbitkan dari LP3ES yang berjudul Soe Hok Gie Catan Seorang Demonstran. Didalam buku ini terdapat catatan asli dari tokoh Soe Hok Gie yang menceritakan kisahnya semasa hidupnya. Penulis meyakini kesejatian dari buku ini dalam hal bahan sudah dianggap memadai untuk dijadikan sumber. 4. Interpretasi Interpretasi adalah langkah selanjutnya setelah melakukan kritik sumber. Interpretasi merupakan sebuah langkah dengan menafsirkan data dan fakta yang diperoleh untuk mendapatkan makna yang saling terhubung. Berdasarkan penjelasan diatas penulis menafsirkan bahwa Soe Hok Gie merupakan anggota GemSos yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Hal ini diperoleh peneliti setelah membandingkan buku Catatan Seorang Demonstran (2011) yang merupakan kumpulan dari catatan harian Soe Hok Gie dengan buku Soe Hok Gie.. Sekali Lagi (2009) yang berisi tentang kesaksian dari rekan-rekan selama menjadi mahasiswa. 5. Historiografi Soe Hok Gie merupakan sosok mahasiswa Universitas Indonesia yang ikut memiliki sejarah penting di angkatan ’66. Tidak banyak orang tahu tentang perannya dalam salah satu pelengseran era Orde Lama yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, Soe Hok Gie bukan hanya turun ke jalan bersama rekan-rekannya, namun Soe Hok Gie juga banyak mengkritik sistem pemerintahan era Soekarno dengan menulis dan menerbitkannya di surat kabar seperti Kompas, Indonesia Raya, Mahasiswa Indonesia ,dan Sinar Harapan, selain melalui media masa Soe Hok Gie juga manyampaikan kritik terhadap pemerintah melalui Radio UI. Meskipun Soe Hok Gie diyakini dan dikatakan terlibat dalam GemSos namun selama Soe Hok Gie menjadi aktivis dan mahasiswa Soe Hok Gie selalu bersifat netral kepada seluruh organisasi lain di dalam kampusnya. Bukan hanya pernah mendamaikan konflik HMI dan GMNI di fakultasnya, namun lebih dari itu Soe Hok Gie juga menjadi salah satu mahasiswa yang mengkoordinir seluruh elemen mahasiswa, termasuk HMI, PMII, KAMI, dan lainnya untuk ikut bersama – sama turun ke jalan pada maret 1966 dan menyuarakan keadilan. Dalam melakukan aksi – aksinya Soe Hok Gie dapat dikatakan sebagai seorang yang nekad, bahkan saat harus berhadapan dengan petugas polisi/tentara pun Soe Hok Gie tidak pernah memilih untuk mundur. Terlepas dari itu semua, sisi lain yang tidak banyak diketahui oleh orang lain adalah keterlibatan Soe Hok Gie dalam GemSos. Hal ini dapat di mengerti mengingat bahwa GemSos pada saat itu adalah suatu gerakan underground dan tidak banyak diketahui orang. Keikut sertaan Soe Hok Gie dalam gerakan ini memiliki kemungkinan besar akibat persamaan visi dan tujuan yang dimiliki keduanya. Baik Soe Hok Gie maupun GemSos sama – sama memiliki tujuan untuk menyuarakan keadilan dan memperjuangkan rakyat kecil. Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa gerakan yang diikuti oleh Soe Hok Gie tersebut merupakan gerakan dari sayap kiri, namun sifat Soe Hok Gie yang sangat idealis mungkin saat itu merasa memiliki kecocokan dengan pemikirannya sehingga akhirnya Soe Hok Gie memilih untuk ikut bergabung, apalagi Soe Hok Gie juga mengagumi salah satu tokoh dari sayap kiri yaitu Sutan Syahrir.   Hasil a. Latar Belakang Kehidupan Soe Hok gie 1. Kehidupan Masa Kecil Soe Hok Gie Soe Hok Gie adalah putra ke empat dari Salam Sutrawan yang merupakan seorang sastrawan dan juga wartawan pada zaman Pergerakan Nasional dan zaman Jepang. Ayah Soe Hok Gie adalah seorang penulis, redaktur berbagai surat kabar dan majalah seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kung Yung Pao, Min Pao, dan terakhir pada tahun 1950 menjadi redaktur harian Sadar di Jakarta (LP3ES,2011:20).  Lingkungan keluarga Soe Hok Gie bisa dikatakan adalah keluarga yang dekat dengan buku –buku. Dari segi ekonomi mereka (keluarga Soe Hok Gie) memang serba sederhana, tetapi tidak dalam penjelajahan intelektual (Stanley&Santoso, 2017:vii). Bakat menulis Soe Hok Gie dapat dikatakan adalah warisan dari ayahnya. Soe Hok Gie mulai memiliki hobi menulis sejak usia belia, selain itu sejak kecil Soe Hok Gie juga memiliki hobi membaca berbagai macam buku mulai dari sejarah hingga politik. Latar belakang seperti inilah yang akhirnya membentuk Soe Hok Gie menjadi aktivis yang berpengetahuan luas. Soe Hok Gie juga memiliki kepribadian yang sensitif, namun pemberani. Sejak Soe Hok Gie  masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, sudah mulai terlihat kebenciannya pada kesewenang - wenangan. Saat di Sekolah Menengah Atas perlawanan Soe Hok Gie bukan hanya terhadap guru namun justru semakin meluas. Soe Hok Gie juga mulai mengkritik pastor dan teman – teman sekolahnya yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Soe Hok Gie memberi julukan mereka masyarakat borjouis.Soe Hok Gie merasa di sekolahnya semua orang dinilai berdasarkan strata sosial, orang kaya bisa bertindak sewenang-wenang, sedangkan pastor dimata Soe Hok Gie hanyalah orang memonopoli sebuah kebenaran. Sejak kecil Soe Hok Gie sudah menulis buku hariannya sejak SMP sedangkan ayahnya sendiri merupakan seorang wartawan yang banyak menulis di berbagai surat kabar. Kakanya sendiri juga memiliki kebiasaan yang tidak jauh dari kebiasaan Soe Hok Gie, yaitu menulis. Tulisan – tulisannya yang selalu tajam, berani dan jujur. Soe Hok Gie berani mengkritik dan tidak pernah ragu untuk menyebut nama. Soe Hok Gie mengkritik Presiden Soekarno, para Menteri, pejabat, hingga rekan – rekan seperjuangannya sendiri dari KAMI yang ikut turun di jalanan bersamanya saat upaya meruntuhkan rezim Soekarno. 2. Kehidupan Soe Hok Gie Saat Menjadi Mahasiswa Soe Hok Gie mulai memasuki masa perkuliahan pada akhir tahun 1961. Soe Hok Gie diterima sebagai mahasiswa jurusan sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih fakultas sastra sebagai pilihannya bukan karena tidak ada alasan, fakultas sastra merupakan wadah bagi mahasiswa-mahasiswi tempat untuk saling menukar pikiran terutama masalah politik. Pada awal masa perkuliahan Soe Hok Gie juga berkenalan dengan Zakse (Zainal Abidin) yang merupakan kakak tingkat Soe Hok Gie dijurusan Sejarah. Zakse merupakan anggota Gerakan Mahasiswa Sosialis (gemsos), dalam catatan hariannya Soe Hok Gie biasa menyebutnya dengan GMS. Melalui Zakse, Soe Hok Gie akhirnya diperkenalkan dengan aktivis PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan bergabung dalam gemsos. Soe Hok Gie juga bergabung dengan GP atau Gerakan Pembaruan yakni sebuah gerakan bawah tanah yang dibina oleh Soemitro Djojohadikusumo dari tempat pengasingan di Eropa (Suastiani &Liana, 2014). Pada tahun 1964 Soe Hok Gie beserta rekan-rekannya mengusung Herman Lantang untuk menjadi ketua Senat Mahasiswa (SM) FS-UI. Herman Lantang pada akhirnya meraih kemenangan dan berhasil menjadi ketua SM FS-UI pada periode 1964-1966. Akan tetapi peran Soe Hok Gie tidak selesai hanya sampai Herman Lantang menang. Saat Herman menjadi Ketua Senat FS-UI, Gie menjabat sebagai pembantu staf SM FS-UI. Di tahun yang sama dengan terpilihnya Herman Lantang menjadi ketua SM FS-UI, Soe Hok Gie juga memprakarsai berdirinya MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) UI. Soe Hok Gie mendirikan MAPALA UI bukan tanpa alasan ,karena banyaknya ekstra kampus yang mayoritas berbau politik, MAPALA didirikan untuk golongan netral yang bertujuan agar mahasiswa serta mahasiswi bisa mencintai negara Republik Indonesia dengan mencintai alam yang ada disekitarnya. Pada tahun 1966 situasi kampus UI menjadi kacau dikarenankan kenaikan harga naik kendaraan bus dari Rp. 200 menjadi Rp. 1000. Banyak kalangan mahasiswa dari berbagai jurusan ingin segera memprotes pemerintahan karena semena-menanya menaikan harga . Menurut mahasiswa kenaikan harga ini dsengaja dilakukan karena pemerintah ingin mengalihkan isu Gestapu/PKI dengan menaikan harga bahan-bhan pokok supaya rakyat beralih mementingkan perut daripada memikirkan gestapu/PKI. Akibat dari kejadian terebut akhirnya Soe Hok Gie melakukan perencananaan terhadap turun kejalan untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Itulah awal dari terbentuknya agenda long march dari kalangan mahasiswa untuk memprotes pemerintah karena telah menaikan bahan-bahan pokok dan tarif kendaraan umum. Akhirnya pada tanggal 10 januari 1969 mahasiswa turun kejalan untuk menuju ke SEKNEG (Sekretariat Negara) yang saat itu berada di sebelah istana negara. Mahasiswa meminta agar dapat bertemu dan berdialog dengan Chairul Shaleh yang dianggap sebagai “otak” dibalik kenaikan harga. Setelah berbagai upaya dilakukan oleh mahasiswa akhirnya  PKI berhasil dibubarkan serta Soekarno yang diturunkan dari jabatan Presiden RI dengan digantikan oleh Soeharto. Soe Hok Gie sempat menjabat sebagai ketua SM-FSUI selama periode 1967-1968. Selama menjadi ketua SM-FSUI Soe Hok Gie menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Berbagai kegiatan intra berjalan dengan baik, ada olahraga renang dan bola basket, ada klub buku, film, dan musik. (Badil, dkk, 2009:193) b. Pemetaan Ideologi Organisasi Pemuda Indonesia 1. Ideologi Pemuda Indonesia Ideologi merupakan sebuah pegangan dasar dalam sebuah negara yang mempunyai peran penting sebagai jati diri suatu negara . Secara garis besar terdapat dua aliran ideologi yaitu ideologi kanan dan ideologi kiri. Ideologi kanan merupakan sebuah ideologi yang banyak mengarah ke nasionalis sedangkan ideologi kiri mengarah ke sosialis. Di indonesia banyak sekali cabang ideologi yang berkembang banyak dalam masyarakat . Hal tersebut dipengaruhi karena adanya faktor ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem yang sedang berkembang. di Indonesia telah banyak organisasi-organisasi pemuda dengan berbagai ideologi.  sejak munculnya organisasi Budi Utomo sampai dengan organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GemSos), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan masih banyak lagi. Banyaknya organisasi pemuda dalam kalangan mahasiswa dikarenakan karena dalam forum universitas aatau kampus kaum pemuda bisa lebihmengutarakan atau mengeluarkan aspirasi mereka karena kurang puasnya mereka dalam pemerintah yang mereka anggap tidak pro rakyat. Kemerdekaan indonesia tidak lepas dari berbagai peran organisasi para pemuda. Pada kurun waktu 1961-1969 terdapat beberapa oragnisasi pemuda dengan berbagai macam ideologi, diantaranya : 1) Nasionalisme, yang merupakan ideologi yang mengedepankan kepentingan negara dan bangsa. 2) Sosialisme, yang merupakan ideologi yang menjunjung tinggi kesetaraan dan kesejahteraan sosial. 3) Marhaenisme, marhaenisme dicetuskan oleh Soekarno. Ideologi menghendaki hilangnya liberalisme dan imperialisme dari indonesia. 4) Komunisme, merupakan ideologi yang sebenarnya juga ingin kesetaraan dalam bernegara namun komunisme cenderung menggunakan cara-cara kiri yang terkenal keras. 5) Islam, ideologi ini mengedepankan nilai-nilai Islam yang sarat dengan Ke-Tuhanan. 2. Organisasi Pemuda 1961-1969 Pada kurun waktu 1961-1969 terdapat banyak organisasi pemuda seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berideologi Islam tradisional, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berideologi marhaenisme, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berideologi komunis, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berideologi Islam modern, Gerakan Mahasiswa Sosialis (GemSos) yang berideologi sosialisme, dan Permimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang berdasarkan nilai-nilai agama Katolik. c. Keterlibatan Soe Hok Gie Dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis 1. Pandangan-Pandangan Sosialis Soe Hok Gie Sejak masih muda Soe Hok Gie telah tumbuh sebagai sosialis. Dengan segala pengaruh dari lingkungan serta buku-buku bacaannya menjadikan Soe Hok Gie sosok yang memimpikan kehidupan masyarakat yang sejahtera, setara dan penuh keadilan. Soe Hok Gie mengecam segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan dalam pemerintahan. Soe Hok Gie bersikap keras terhadap ketidak adilan yang ia lihat. Akan tetapi disisi lain meskipun Soe Hok Gie adalah seseorang dengan idealisme yang tinggi, Soe Hok Gie adalah sosok yang berhati lembut dan mudah terenyuh jika melihat penderitaan rakyat kecil. Pandangan-pandangan sosialis Soe Hok Gie dapata terlihat dalam tulisan-tulisannya, baik dalam catatan hariannya maupun dalam artikel-artikelnya yang telah dimuat oleh banyak redaksi koran. Tulisan-tulisan Soe Hok Gie rata-rata berisi tentang kritik terhadap pemerintah maupun isu-isu tentang kemanusiaan dan politik yang sedang terjadi. Tulisan Soe Hok Gie selalu tajam dan tidak jarang dengan gamblang menyebut nama tokoh yang ia kritik. Soe Hok Gie secara jujur dan berani menulis apa yang dirasakannya mulai dari pemerintahan presiden Soekarno, hingga kasus pembantaian massal PKI pada tahun 1968. Padahal tidak banyak orang yang berani bers

    Pengembangan Media Pembelajaran Digital Scrapbook Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Relief Cerita Ramayana Candi Induk Penataran Untuk Siswa Kelas X SMKN 1 Nglegok Blitar

    No full text
    Produk yang akan dihasilkan dalam penelitian ini adalah digital scrapbook dengan materi Cerita Ramayana pada Candi Induk Penataran berbasis pendidikan karakter untuk siswa kelas X SMKN 1 Nglegok Blitar. Menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (RnD) dengan model Triagarajan yang terbagi kedalam empat tahap yaitu define, design, develop, dan desseminate. Hasil uji coba produk menyatakan kelayakan produk sebesar 92,30% dengan hasil tersebut maka media ini layak digunakan dalam pembelajaran sejarah

    PENGGUNAAN MEDIA FILM “SANG PENCERAH” UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS XI MATEMATIKA ILMU ALAM (MIA) 2 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH di SMA N 6 MALANG

    No full text
    Abstrak Di awal perubahan paradigma kurikulum 2013 tentunya banyak adaptasi yang dilakukan dalam proses pembelajaran baik dari segi guru, siswa maupun sarana prasarana yang dimiliki. Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah. Yang banyak mempelajari kisah masa lalu sehingga dalam proses pembelajarannya memerlukan sebuah inovasi dalam pembelajaran supaya siswa tidak terkesan bosan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui minat belajar siswa kelas XI Matematika Ilmu Alam (MIA) 2 pada mata pelajaran sejarah dan untuk mengetahui penggunaan media film “Sang Pencerah” dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XI Matematika Ilmu Alam(MIA) 2 pada mata pelajaran sejarah. Analisis Data yang digunakan adalah kualitatif yang menggunakan teori Miles and Huberman (Sugiyono, 2011:246) mengemumakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif  dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing atau verification. Hasil penelitian penerapan media Film “Sang Pencerah” dapat meningkatkan minat belajar Siswa Kelas XI Matematika Ilmu Alam (MIA) 2 Pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA N 6 Malang. Siswa menjadi lebih aktif bertanya pada guru terkait materi yang dipelajari. Kegiatan belajar siswa lebih komunikatif dan menyenangkan. Siswa nampak lebih yakin dan bersemangat saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MOBILE LEARNING TENTANG PERAN SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA PADA PEMERINTAHAN DARURAT REPUBLIK INDONESIA 1948 – 1949 UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS X MULTIMEDIA SMK MUHAMMADIYAH 3 SINGOSARI

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis Mobile Learning untuk siswa kelas X Multimedia SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Sadiman. Media pembelajaran berbasis Mobile Learning ini telah melalui tahap validasi materi yang menunjukkan hasil sebesar 87,5% termasuk dalam kategori valid. Tahap selanjutnya yaitu validasi media dengan presentase sebesar 82,5% dan masuk kategori valid. Kemudian pada tahap uji coba kelompok kecil mendapat presentase 85,4% termasuk dlaam kategori valid, dan pada tahapan terakhir uji coba kelompok besar mendapatkan presentase 83,03% masuk dalam kategori valid. Berdasarkan hasil yang diperoleh, disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis Mobile Learning tentang peran Syafruddin Prawiranegara pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia 1948-1949 telah valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran sejarah

    Pengembangan Modul Lift The Flap Peran Ki Ageng Suryomentaram dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia untuk Kelas XI SMAN Senduro Kabupaten Lumajang

    No full text
    Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk bahan ajar pembelajaran sejarah tentang peran Ki Ageng Suryomentaram yang berguna untuk menambah pengetahuan siswa. Dan untuk mengetahui kelayakan produk modul lift the flap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Research and Development (R&D) Sugiyono (2013). Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar validasi ahli media dan ahli materi serta angket respon siswa

    Persepsi Siswa SMAN 1 Singosari terhadap Peristiwa Rengasdengklok Tahun 1945

    No full text
    Choirudin, Yongky. 2019. Persepsi Siswa SMAN I Singosari terhadap Peristiwa Rengasdengklok Tahun 1945. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Najib Jauhary, S.Pd., M.Hum, Indah Wahyu Puji Utami, S.Hum, S.Pd, M.PdPersepsi siswa kelas XI di SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok masih menyisakan banyak salah pemahaman terhadap kejadian sebenarnya pada peristiwa Rengasdengklok. Siswa mempunya pendapat yang berbeda mengenai peristiwa Rengasdengklok, seperti peristiwa Rengasdengklok merupakan peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Muh. Hatta, atau peristiwa Rengasdengklok merupakan upaya pengamanan terhadap Ir. Soekarno dan Muh. Hatta dari pengaruh Jepang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahaui kondisi umum pembelajaran sejarah di SMAN 1 Singosari, dan untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan latar alamiah. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Adapun teknik dalam pengumpulan data tersebut peneliti mangambil cara dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Singosari telah menerapkan K 13. Pembelajaran sejarah juga telah dilakukan dengan baik oleh guru sesuai dengan Rancangan program pembelajaran. Siswa juga telah bisa menjelaskan dengan baik tentang peristiwa Rengasdengklok walaupun tak semua siswa bisa menjelaskan dengan benar sesuai fakta yang ada. Choirudin, Yongky. 2019 Perception of Students of SMAN I Singosari towards the 1945 Rengasdengklok Event, History Departmen, Faculty Of Social Sciences, State University of Malang. Advisor: Najib Jauhary, S.Pd., M.Hum, Indah Wahyu Puji Utami, S.Hum, S.Pd, M.PdThe perception of class XI students at SMAN 1 Singosari on the Rengasdengklok incident still leaves a lot of misunderstanding of the actual events in the Rengasdengklok incident. Students have different opinions regarding the Rengasdengklok incident, such as the Rengasdengklok incident which was the kidnapping of Ir. Soekarno and Muh. Hatta, or the Rengasdengklok incident is a security effort against Ir. Soekarno and Muh. Hatta from Japanese influence.This study aims to know the general conditions of historical learning at SMAN 1 Singosari, and to determine the perceptions of class XI students of SMAN 1 Singosari towards the Rengasdengklok event.This study uses a qualitative research approach using natural settings. This type of research is qualitative descriptive. As for the technique in collecting data, the researcher takes the method by observing, interviewing, and documenting techniques.The results of the study show that SMAN 1 Singosari has applied K 13. Learning history has also been done well by the teacher in accordance with the design of the learning program. Students have also been able to explain well about the Rengasdengklok event even though not all students can explain correctly according to the facts

    Persepsi Siswa SMAN 1 Singosari terhadap Peristiwa Rengasdengklok Tahun 1945

    No full text
    Abstrak Persepsi siswa kelas XI di SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok masih menyisakan banyak salah pemahaman terhadap kejadian sebenarnya pada peristiwa Rengasdengklok. Penelitian ini bertujuan untuk megetahaui kondisi umum pembelajaran sejarah di SMAN 1 Singosari, dan untuk mengetahui persepsi siswa kelas XI SMAN 1 Singosari terhadap peristiwa Rengasdengklok. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Singosari telah menerapkan K 13 dan para siswa juga telah bisa menjelaskan dengan baik tentang peristiwa Rengasdengklok walaupun tak semua siswa bisa menjelaskan dengan benar sesuai fakta yang ada. Kata-kata kunci:persepsi siswa, peristiwa Rengasdengklo

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇