SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1821 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS DI SMA SHALAHUDDIN MALANG TAHUN AJARAN 2018/2019
ABSTRAKImam, Machbub. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament Untuk Meningkatkan Minat Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS di SMA Shalahuddin Malang Tahun Ajaran 2018/2019. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum.Kata Kunci: model pembelajaran, teams games tournament, minat belajar sejarahMatapelajaran sejarah adalah matapelajaran yang mempelajari tentang masa lalu. Sejarah merupakan matapelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan dengan matapelajaran lainya yang diajarkan di sekolah, karena dengan mempelajari sejarah akan memperkaya wawasan dan pengetahuan mengenai kehidupan manusia dari masa ke masa. Namun pada saat ini matapelajaran sejarah di sekolah mendapat kesan negatif dari siswa. Matapelajaran sejarah terkesan membosankan dan tidak penting untuk dipelajari. Untuk menyampaikan materi pelajaran sejarah yang terdapat di sekolah, sebagai seorang guru harus memperhatikan siswanya dalam memahami peristiwa-peristiwa yang disampaikan pada matapelajaran sejarah, sehingga tata cara, media ataupun strategi untuk menyampaikan materi sejarah harus dikemas dengan cara yang sesuai pada kemampuan siswa untuk dapat menarik minat belajar siswa dan untuk dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Solusi yang tepat untuk meningkatkan minat belajar sejarah siswa adalah dengan memberikan variasi model pembelajaran dalam proses belajar sejarah di kelas. Model pembelajaran yang akan dijadikan solusi adalah model pembelajaran Teams Games Tournament yang dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap matapelajaran sejarah karena proses belajar dalam model pembelajaran ini menekankan pada permainan dalam grup.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini terdapat dua fokus utama pembahasan yaitu terkait bagaimana penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament di Kelas XI IPS di SMA Shalahudin Malang dan bagaimana minat belajar sejarah siswa setelah menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament di Kelas XI IPS di SMA Shalahudin Malang. Sedangkan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran sejarah.Penelitian ini menggunakan Classroom Action Research (PTK) untuk mengetahui bagaimana keadaan kelas sebelum model pembelajaran TGT digunakan. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan melalui pendekatan naturalistik. Peneliti mengharapkan agar model pembelajaran kooperatif TGT bisa diterapkan pada matapelajaran sejarah di SMA Shalahudin Kota Malang. Khususnya siswa kelas XI IPS yang kurang aktif dalam pembelajaran sejarah sebelum model TGT digunakan. Penelitian ini menggunakan 2 siklus untuk mencapai target. Penelitian PTK ini bersifat kolaboratif dengan guru sejarah. Dalam melakukan penelitian tersebut peneliti memperoleh informasi dari awal sampai akhir melalui observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dilokasi yaitu di SMA Shalahudin Kota Malang, dapat diketahui bahwa di SMA Shalahudin Kota Malang terdapat dua orang guru mata pelajaran sejarah, diantaranya yaitu Bapak Fatkhur Roji dan Ibu Asvin mengajar sejarah dikelas X dan XI di SMA Shalahudin Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti memusatkan subjek penelitian pada kelas XI IPS SMA Shalahudin Kota Malang dengan jumlah sampel sebanyak 17 orang siswa dengan rincian 15 orang siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan. Adapun pengumpulan datanya dengan teknik observasi, wawancara, angket dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Model pembelajaran TGT diterapkan di kelas XI IPS SMA Shalahudin Kota Malang, membuat siswa lebih mudah untuk mempelajari dan mengingat materi sejarah yang sulit dan dikemas secara menarik. Karena model pembelajaran sejarah sebelumnya masih menggunakan metode klasik dalam penyampaian materi. Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan TGT menggunakan turnamen akademik, menggunakan kuis-kuis, sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Permainan ini dimainkan oleh 5-6 anak dalam setiap kelompok, dengan kompetisi yang seimbang dan anggota kelompok yang heterogen. Memungkinkan siswa berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka, jika mereka melakukan yang terbaik. (2) Berdasarkan hasil observasi yang sudah di lakukan, diketahui bahwa penerapan model pembelajaran TGT dalam matapelajaran sejarah dikelas XI IPS 1 dapat diterapkan dengan baik. Karena, dari adanya penerapan model pembelajaran TGT pada matapelajaran sejarah, siswa aktif dalam menerima pelajaran di kelas. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil minat siswa pada siklus I pertemuan 1 menunjukkan hasil rata-rata minat siswa 62,02% dan pertemuan 2 rata-rata minat siswa 63,50%. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 menunjukkan hasil rata-rata 67,85% dan pertemuan 2 rata-rata minat siswa 73,46%.ABSTRACTImam, Machbub. 2019. Application of Teams Games Tournament Learning Model To Improve History Learning Interest in Class XI IPS Students at SMA Shalahuddin Malang in 2018/2019 Academic Year. Thesis, Department of History, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Supervisor: Dr. Ari Sapto, M.Hum.Keywords: learning model, teams games tournament, interest in learning historyHistory courses are subjects that learn about the past. History is a subject that is no less important than other subjects taught at school, because studying history will enrich insights and knowledge about human life from time to time. But at this time history lessons at school get a negative impression from students. History courses seem boring and not important to learn. To convey the subject matter contained in the school’s history, as a teacher must pay attention to their students in understanding the events presented in the course from history, so that the system the way, media or strategies for delivering historical material must be packaged in a way that is appropriate to the ability of students to be able to attract student learning interest and to be easily understood by students. The right solution to increase students' interest in learning history is to provide a variety of learning models in the process of learning history in class. The learning model that will be used as solution is the Teams Games Tournament learning model that can increase student learning interest in historical subjects because the learning process in this learning model emphasizes playing in groups.The formulation of the problem in this research there are two main focus of the discussion is related to how application of Teams Games Tournament learning model in Class XI IPS student in SMA Shalahudin Malang and how students’ interest in learning after using Teams Games Tournament in Class XI IPS at Shalahudin High School Malang. While the purpose of this research is to increase students' interest in learning history subjects.This study uses Classroom Action Research (CAR) to find out how the classroom is before the TGT learning model is used. This research approach uses a qualitative approach and through a naturalistic approach. Researchers hope that the TGT cooperative learning model can be applied to history lessons at Malang City's Shalahudin High School. Especially students of class XI IPS who were less active in learning history before the TGT model was used. This study uses 2 cycles to achieve the target. This CAR research is collaborative with history teachers. In conducting this research the researcher obtained information from beginning to end through observation and interviews. Based on observations and interviews at the location in Malang City Shalahudin High School, it can be seen that in Malang City Shalahudin High School there are two history subjects, including Mr. Fatkhur Roji and Mrs. Asvin teaching history in class X and XI at Shalahudin High School in Malang. In this study, researchers focused the subject studies in class XI IPS students at SMA Shalahudin Malang with a total sample of 17 students with details of 15 male students and 2 female students. The data collection using observation, interviews, questionnaires and documentation.The TGT learning model is applied in the XI IPS class at Shalahudin High School in Malang, making it easier for students to learn and remember the difficult and interestingly packaged historical material. Because the previous history learning model still uses the classical method in the delivery of material. Cooperative learning model is a series of Activities n study conducted by students in certain groups to achieve learning objectives have been formulated TGT using the tournament academic, using quizzes, the system scores the progress of individuals, where students compete as representatives of their team members other teams whose previous academic performance is equivalent to theirs. Game is played by 5-6 students in each group, with balanced competition and heterogeneous group members. Enables students to contribute maximally to their team's score, if they do their best. Based on the results of observations that have been made, it is known that the application of the TGT learning model in history lessons in class XI IPS 1 can be applied properly. Because, from the implementation of the TGT learning model in history lessons, students are active in receiving lessons in class. This is evidenced by the results of student interest in the first cycle of meeting 1 showing the average results of student interest 62, 02 % and meeting 2 the average interest of students 63, 5 0%. Whereas in the second cycle meeting 1 shows the average results of 67, 85 % and meeting 2 the average interest of students is 73, 46 %
DAMPAK PERUBAHAN EKOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI DI KOTA PASURUAN TAHUN 1982 – 2012
Abstrak Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikandampak perubahan ekologiterhadap kehidupan sosial dan ekonomi KotaPasuruan sejaktahun 1982hingga 2012. Penulis juga menggambarkansejarah dan beberapafaktor yang menentukanmempengaruhi perubahan ekologi kota di Pasuruan. Metode pada penelitianiniadalahPenelitianHistoris (pemilihantopik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi). Kesimpulan berdasarkanhasilpenelitianini, pertumbuhan perkembangan Kota Pasuruan adalahprodukhistoris di masa laludengan proses pengembangandalam model sejajar. KataKunci : Ekologi, Kehidupan Sosial dan Ekonomi, Kota, Pasurua
Pengembangan E-Modul Tentang Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya Untuk Pembelajaran Sejarah Siswa Kelas X Boga di SMK Muhammadiyah 3 Singosari
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN E-MODUL TENTANG PERJUANGAN KEMERDEKAAN DI MALANG RAYA UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAHMuhammad Haris Akbar , Ari Sapto , Yuliati Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jln. Semarang 5 Malang 65145e-mail: [email protected] ABSTRAK: Penelitian pengembangan ini didasari oleh terbatasnya sumber belajar pada mata pelajaran sejarah. Media pembelajaran sejarah e-modul ini merupakan suatu hasil dari pengembangan yang berdasarkan dari potensi masalah yang ada sehingga dikembangkanlah media pembelajaran tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah menghasilkan produk pengembangan media pembelajaran e-modul tentang Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya untuk kelas X Boga di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Produk ini telah melalui tahap validasi ahli materi, ahli media, dan uji coba produk kelompok kecil, serta uji coba pemakaian kelompok besar. Berdasarkan hasil validasi, media pembelajaran e-modul ini dinyatakan sangat valid atau sangat baik digunakan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci: E-modul, Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya, Pembelajaran Sejarah ABSTRACT: This research development is based on limited learning resources on historical subjects. This E-module is a result of development based on the potential problems that exist so that the learning media is developed. The purpose of this research is to produce E-module learning media development products about the struggle of Independence in Malang Raya for the Boga X class at the Muhammadiyah 3 Singosari Vocational School. This product has gone through the validation stage of material experts, media experts, and small group product trials, as well as large group usage trials. Based on the results of validation, E-module learning media is stated to be very valid or very well used in historical learning. Keywords: E-module, Struggle of Independence in Malang Raya, History LearningPembelajaran menurut Rusman (2017: 84) pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Perubahan dinamika dalam pembelajaran di era sekarang sangat berbeda jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar mengajar sekarang sedikit banyak harus melibatkan media pembelajaran di dalam kelas. Pembelajaran sejarah merupakan suatu aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dengan cara menjelaskan pada siswa tentang gambaran kehidupan masyarakat masa lampau yang menyangkut peristiwa-peristiwa penting dan memiliki arti khusus (Latief, 2006: 99).Sumber belajar berupa media pembelajaran e-modul dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam proses belajar mengajar (Mulyasa, 2004: 48). Upaya yang dilakukan untuk memenuhi sumber belajar siswa yakni dengan menggunakan media pembelajaran yang sederhana, agar siswa dapat mengaksesnya secara mudah. Untuk itu perlu adanya alternatif baru dalam pembelajaran yang dapat memotivasi siswa agar lebih bersemangat dalam belajar sejarah. Alternatif yang ditawarkan yakni berupa e-modul. Menurut Fausih (2014: 4) bahwa e-modul memiliki karakteristik dapat dipelajari dimanapun dan kapanpun oleh siswa, siswa tidak bergantung pada orang lain (self instructional), e-modul memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar.Media pembelajaran berupa e-modul ini berbasis pada android. Jadi hanya handphone yang menggunakan sistem android yang dapat mendownload aplikasi yang telah disediakan. Selain hanya berbasis android, e-modul ini menggunakan sistem offline untuk memudahkan siswa yang tidak memiliki jaringan internet (tidak memiliki paket internet). Alasan peneliti menggunakan media pembelajaran e-modul hanya terbatas hanya di sistem android ialah, sesuai observasi awal yang dilakukan oleh peneliti yakni siswa SMK Muhammadiyah 3 Singosari banyak menggunakan handphone yang berbasis android. Alasan lainnya mengapa e-modul ini tidak menggunakan sistem online adalah karena di SMK Muhammadiyah 3 Singosari khususnya di dalam kelas signal masih sangat susah ditangkap oleh handphone, oleh karena itu peneliti lebih memilih media pembelajaran ini digunakan secara offline.Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yakni penelitian milik Eka Triya Agustina tahun 2014. Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang “Pengembangan Media Pembelajaran E-modul Sejarah Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Srengat Pada Awal Perkembangan Islam di Indonesia”. Penelitian Eka Triyana ini gunanya untuk mengetahui efektif tidaknya pembelajaran E-modul dalam pembelajaran Sejarah. Selanjutnya penelitian terdahulu yang lain ialah milik Irma Erfiana Tahun 2017. Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang “Pengembangan Modul Sejarah Islam di Malang Sebagai Sumber Pembelajaran Siswa Pada Matapelajaran Sejarah Kelas X di SMK Negeri 7 Malang”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul layak digunakan sebagai salah satu bahan ajar untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran dengan hasil dari validasi para ahli diperoleh presentase sebesar 88,56%. Penelitian terdahulu yang diambil ialah penelitian milik Anita Sari tahun 2017. Mahasiswa jurusan Sejarah yang membahas tentang “Pengembangan Media E-Book Sejarah Berbasis 3D Pageflip Pada Materi Kehidupan Masyarakat Indonesia Masa Pendudukan Jepang di SMAN Kabuh”. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan diatas yaitu terletak pada struktur penyusunan e-modul, materi yang dilampirkan serta aplikasi yang digunakan untuk pengembangan e-modul tersebut. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk pengembangan berupa media pembelajaran e-modul tentang materi sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya. METODEModel Penelitian dan PengembanganPenelitian ini nantinya akan mengarah pada penelitian pengembangan. Model yang digunakan dalam pengembangan e-modul sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya adalah Research and Development (R&D). Menurut Sukamdinata (2013: 164) penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau penyempurnaan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya penelitian ini dapat, dikatakan bahwa tujuan penyusunan produk ini untuk memberi kemudahan pada siswa khususnya dalam pembelajaran sejarah. Model pengembangan ini secara khsusus membahas tentang pengembangan media pembelajaran khusunya e-modul yang masih sangat minim pada tempat yang akan diteliti.Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan seperti dijelaskan Sugiyono (2016: 409) adalah sebagai berikut:1) Potensi dan masalah,2) Pengumpulan data,3) Desain produk,4) Validasi desain,5) Revisi Desain,6) Uji coba produk,7) Revisi produk,8) Uji coba pemakaian,9) Revisi produk, dan10) Produksi missal.Akan tetapi, dalam melakukan penelitian pengembangan ini, peneliti memodifikasi model pengembangan yang dipaparkan oleh Sugiyono dengan menghapus satu langkah, yaitu produksi missal. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti karena menurut peneliti, langkah-langkah hasil modifikasi sudah mencakup keseluruhan tujuan dari penelitian. Selain itu, keterbatasan waktu dan biaya juga menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memodifikasi langkah-langkah tersebut. Langkah-langkah yang telah dimodifikasi ialah sebagai berikutL1) Potensi dan masalah,2) Pengumpulan data,3) Desain produk,4) Validasi desain,5) Revisi Produk,6) Uji coba produk kelompok kecil,7) Revisi produk,8) Uji coba pemakaian kelompok besar, dan9) Revisi produk akhir.Media pembelajaran e-modul ini terdapat dua tahapan validasi. Yang pertama yakni validasi materi yang dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A, sedangkan validasi media dilakukan oleh Bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim S.Pd., M.Pd. Setelah melalui tahap validasi, selanjutnya dilaksanakan uji coba produk kelompok kecil yang dilakukan pada 8 siswa atau responden di kelas X Boga. Setelah melakukan uji coba produk kelompok kecil, berikutnya uji coba pemakaian kelompok besar, dengan jumlah 30 siswa atau responden.Instrumen pada pengumpulan data dalam penelitian dan pengembangan ini ialah dengan menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan pada saat validasi ahli dan juga saat uji coba lapangan, dimana peniliti mendapat masukan dari validator, guru pengajar serta siswa yang di uji coba. Sedangkan observasi dilakukan pada saat uji coba lapangan dengan melihat penggunaan produk sebagai media pembelajaran oleh siswa. Angket tersebut berisi tentang seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada para siswa untuk dijawab. Hasil dari angket yang telah diberikan nantinya digunakan untuk mengetahui kevalidan dari media pembelajaran e-modul.Analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Setelah pembuatan bahan ajar berupa e-modul selesai, maka selanjutnya akan dilakukan proses validasi kepada ahli materi dan ahli media. Tujuan untuk dilakukannya validasi ialah untuk mengukur kesesuaian materi atau kelayakan media yang digunakan serta mengetahui tingkat validitas media pembelajaran sebelum diujicobakan di lapangan dengan menggunakan isntrumen berupa angket. Berikut rumus untuk mengolah data kuantitatif subjek uji coba yakni, (Arikunto, 2006: 246):P=(∑▒x)/(∑▒x_1 ) × 100%Keterangan:P = Presentase rata-rata∑ = Jumlah jawaban skor oleh responden∑x1 = Jumlah jawaban ideal suatu item100% = KonstantaUntuk menentukan ketercapaian dalam penelitian dan pengembangan ini maka digunakan ketentuan sebagai berikut:Tabel 1.1 Kriteria Validitas Ahli Materi, Media, Uji Coba Produk, dan Uji Coba PemakaianTingkat Kriteria85% - 100% Sangat valid (tanpa revisi)70% - 84% Valid (tanpa revisi)55% - 69% Cukup valid (revisi)50% - 54% Kurang valid (revisi)0% - 49% Tidak valid (revisi)Sumber: Arikunto (2009: 245)Pengembangan bahan ajar berupa e-modul sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya ini akan dinyatakan berhasil atau sesuai jika tingkat ketercapaian tersebut minimal 70%. Apabila sudah mencapai 70%, maka e-modul dapat dikatakan layak dan siap untuk diterapkan atau dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah. HASILHasil Uji Coba Media Pembelajaran E-modulPada tahapan validasi media pembelajaran ini dilakukan oleh orang yang ahli pada bidangnya. Validasi bertujuan untuk mengetahui data berupa kevalidan dari media pembelajaran e-modul. Setelah divalidasi, maka e-modul dapat diujicobakan pada kelompok kecil dan uji coba pemakaian kelompok besar.Validasi Ahli MateriValidasi ahli materi dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A. pada lembar validasi materi, terdapat 12 item penilaian serta dilengkapi kolom kritik dan saran. Hasil yang di dapat dari validator materi yakni diperoleh prsentase sebesar 92% dengan kriteria sangat valid atau sangat baik digunakanValidasi Ahli MediaValidasi ahli media dilakukan oleh Bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim S.Pd., M.Pd. pada lembar validasi media, terdapat 17 item penilaian serta dilengkapi dengan kolom kritik dan saran. Hasil yang di dapat dari validator media yakni diperoleh presentase sebesar 97% dan masuk ke dalam kriteria sangat valid atau sangat baik untuk digunakan pada uji coba produk kelompok kecil.Uji Coba Produk Kelompok KecilUji coba produk kelompok kecil dilakukan dengan mengambil sample siswa kelas X Boga sebanyak 8 orang untuk diberikan angket yang telah berisi item penilaian serta juga dilengapi dengan komentar dan saran terhadap media pembelajaran e-modul. Hasil yang di dapat dari uji coba produk kelompok kecil yakni diperoleh presentasi sebesar 88,9%, sehingga dapat dikategorikan atau masuk kriteria sangat valida atau sangat baik digunakan pada tahap uji coba pemakaian kelompok besar.Uji Coba Pemakaian Kelompok BesarUji coba pemakaian kelompok besar dilakukan di dalam kelas X Boga SMK Muhammadiyah 3 Singosari dengan melibatkan siswa sebanyak 30 siswa. Seluruh siswa diberikan angket penilaian yang berisi item penilaian serta terdapat komentar dan saran guna memberi masukan terhadap media e-modul. Hasil yang di dapat dari uji coba pemakaian kelompok besar yakni diperoleh presentase sebesar 89,2%, sehingga media pembelajaran e-modul masuk dalam kriteria sangat valid atau sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran sejarah.Revisi ProdukPada tahap revisi produk, bertujuan untuk memperbaiki kualitas media pembelajaran e-modul agar layak untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Kritik dan saran yang pertama diberikan oleh ahli materi, sebagai berikut: 1) Mengubah Judul dan Sub Judul, serta menambahkan rujukuan di materi dan memperbaiki kata-kata yang tidak sesuai. Pada Judul disarankan untuk mengganti kata “Kabupaten/Kota” dengan “Raya” di belakang kata Malang. Kemudian membenahi Sub Judul yang awalnya “Sejarah Kota Malang” menjadi “Latar Hastoris Malang” serta memperbaiki kata dan juga menambahkan rujukan pada materi, 2) memperjelas maksud “kata kedua belah pihak” dengan menambahkan objek yang dituju “(Indonesia dan Belanda)”, 3) Pemberian keterangan pada gambar yang dicantumkan pada materi, serta mengganti gambar yang kurang jelas.Revisi produk yang berikutnya yakni mendapat kritik dan saran dari ahli media, yaitu: 1) Terdapat beberapa kata yang masih salah ketik, serta penggunaan (.) titik (,) koma yang tidak presisi. Salah satu contoh kesalahan ketik pada materi ialah “tahuncaka” kemudia diperbaiki menjadi “tahun caka”. 2) Pada bagian akhir, khususnya pada sub judul Perlawanan Brigade IV Pada Saat Agresi Militer II tidak didapati gambar yang melengkapi pernyataan pada materi. PEMBAHASANValidasi MateriHasil yang telah diberikan oleh validator materi, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 44 dari total skor ideal 48. Jadi hasil dari validasi materi menunjukkan presentase sebesar 92%. Hasil tersebut dapat dikategorikan masuk dalam kriteria sangat valid atau sangat baik untuk digunakan. Akan tetapi, walaupun sudah mendapat hasil sangat valid, proses revisi masih tetap dilakukan sesuai dengan kritik dan saran yang diberikan oleh validator materi.Validasi MediaHasil yang telah diberikan oleh validator media, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 66 total skor ideal 68. Jadi hasil dari validasi media menunjukkan presentase sebesar 97%. Hasil tersebut dapat dikategorikan masuk dalam kriteria sangat valid atau sangat baik untuk digunakan pada tahap selanjutnya. Meskipun demikian, proses revisi masih tetap dilakukan sesuai dengan kritik dan saran yang telah diberikan.Uji Coba Produk Kelompok KecilPada tahap uji coba produk kelompok kecil yang dilakukan pada 8 siwa kelas X Boga, berdasarkan data kuantitatif mendapatkan skor keseluruhan 427 dari total skor ideal 480. Jadi hasil dari uji coba produk kelompok kecil menunjukkan presentase sebesar 88,9%. Hasil tersebut termasuk ke dalam kategori sangat valid atau sangat baik untuk digunakan pada tahap uji coba pemakaian kelompok besar.Uji Coba Pemakaian Kelompok BesarUji coba pemakaian kelompok besar dilakukan pada 30 siswa kelas X Boga. Berdasarkan dari data kuantitatif produk yang diujicobakan mendapatkan skor keseluruhan 1606 dari total skor ideal 1800. Dengan demikian, hasil dari uji coba pemakaian kelompok besar menunjukkan presentase sebesar 89,2%. Hasil tersebut menempatkan pada kriteria sangat valid atau sangat baik untuk digunakan sebagai sumber belajar alternatif bagi pembelajaran sejarah. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanProduk yang telah dikembanngkan oleh peneliti pada penelitian dan pengebangan ini berupa produk media pembelajaran dengan konsep aplikasi e-modul via handphone android yang berisi tentang materi Perjuangan Kemerdekaan di Malang Raya. Materi yang diambil berdasarkan pada KD 3.8 yakni, Strategi dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari Ancaman Sekutu dan Belanda. Produk ini ditujukan pada siswa kelas X Boga SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Media pembelajaran ini dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi handphone ialah untuk memudahkan siswa dalam belajar secara mandiri. Selain materi, pada media e-modul juga dilengkapi dengan foto-foto atau gambar yang mendukung pernyataan atau memperkuat pernyataan pada materi. Adapun dalam e-modul juga terdapat soal-soal latihan dan juga uji kompetensi, sehingga siswa dapat mengisi pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan pada produk tersebut.Alasan yang menjadi dasar dari penelitian dan pengembangan ini ialah pada pembelajaran sejarah seringkali kurang melibatkan penggunaan atau memanfaatkan media pembelajaran yang aplikatif ataupun inovatif dalam prosesnya. Hal tersebut diperkuat dengan observasi awal serta wawancara yang dilakukan peneliti di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, pada proses pembelajaran sejarah kebanyakan pembelajaran hanya bersifat satu arah, selain itu siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Hal-hal demikian dikarenakan guru masih menggunakan metode ceramah pada siswa. Menurut beberapa siswa, pembelajaran sejarah sudah cukup baik, akan tetapi lama kelamaan bosan karena terus mendengarkan, terkadang juga waktu guru menjelaskan juga tidak terdengar sampai belakang. Selain itu yang menjadi permasalahan ialah minimnya sumber belajar yang digunakan di dalam kelas, sehingga siswa yang ingin belajar mengenai sejarah menjadi terhambat akan permasalahan tersebut.Pada penelitian dan pengembangan ini, peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian milik Sugiyono yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan peneliti. Media pembelajaran e-modul ini telah melalui tahapan uji validasi yang dilakukan oleh ahli materi, yaitu Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A serta hali media yaitu, Bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim S.Pd., M.Pd. Adapun hasil dari validasi materi yang dilakukan oleh Bapak Ronal Ridho’i S.Hum., M.A, menunjukkan hasil presentase sebesar 92%. Sedangkan hasil validasi media yang dilakukan oleh Bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim S.Pd., M.Pd, menunjukkan hasil presentase sebesar 97%. Hasil yang didapatkan dari uji coba produk kelompok kecil dengan 8 siswa menunjukkan hasil presentase sebesar 88,9%. Sedangkan pada tahap uji coba pemakaian kelompok besar dengan 30 siswa, menunjukkan hasil presentase sebesar 89,2% yang masuk ke dalam kriteria sangat valid atau sangat baik digunakan sebagai sumber belajar pada proses pembelajaran sejarah. SaranSaran PemanfaatanPemanfaatan media pembelajaran e-modul pada implementasiannya sebaiknya tetap dibawah pengawasan guru, karena siswa terlibat langsung dalam penggunaan handphone. Dengan demikikan, guru selain berperan sebagai fasilitator juga dapat membantu siswa dalam memahami isi materi yang terdapat pada e-modul. Selain itu, tempat penelitian juga harus diperhatikan, karena setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing terhadap penggunaan handphone pada siswa. Media pembelajaran e-modul ini diharapkan mampu menjadi perantara antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal.Saran PenyebaranLangkah penyebaran yang dapat dilakukan ialah dengan cara disebarluaskan dengan cara mengunggah link yang berkaitan dengan aplikasi e-modul pada sosial media seperti Instagram, Twitter, Facebook dan sebagainya sehingga masyarakat juga dapat mengunduh dan selanjutnya dapat memanfaatkannya.Saran Pengembangan Produk Lebih LanjutMedia pembelajaran e-modul dapat dimanfaatkan tidak hanya terbatas pada pengguna android saja, akan tetapi nantinya diharapkan dapat mencakup pengguna selain android, misalnya seperti IOS yang dijalankan pada program Iphona, Ipad atau yang lainnya DAFTAR RUJUKANArikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Arikuno, S. 2009. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi 6. Jakarta: Rineka Cipta.Fausih, M. 2014. Pengembangan Media E-modul Matapelajaran Produktif Pokok Bahasan “Instalasi Jaringan LAN (Local Area Network)” Untuk Siswa Kelas XI Jurusan Teknik Komputer di SMK Negeri 1 Labang Bangkalan Madura. (Online). Diakses dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jmtp/article/view/10375 pada tanggal 12 Desember 2018.Latief, J.A. 2006. Manusia, Filsafat dan Sejarah. Palu Selatan: Bumi Aksara. Mulyasa, E. 2004. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Remaja Rosdakarya. Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukamdinata, N.S. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
PENGEMBANGAN MEDIA MOTION GRAPHIC PADA MATERI SEJARAH LOKAL "PENJARAHAN KAYU JATI DAN TERBENTUKNYA LEMBAGA MASYARAKAT DESA HUTAN DI BOJONEGORO TAHUN 2000-2004" UNTUK SISWA KELAS XII IIS 3 SMAN 2 BOJONEGORO
AbstractThis research aims to produce media motion graphic products on local historical material looting teak wood and the establishment of the Forest Village Society Institute in Bojonegoro in 2000-2004 and to find out the feasibility of the media from the five assessment indicators. This research and development uses data collection instruments in the form of observations, interviews, questionnaires validation and feasibility. The results of the study indicate that this media is very valid of being used as a learning medium to facilitate understanding the material with 86% feasibility in the use trial. Keywords: Bojonegoro, learning media, motion graphic, looting AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk media motion graphic pada materi sejarah lokal penjarahan kayu jati dan terbentuknya Lembaga Masyarakat Desa Hutan di Bojonegoro tahun 2000-2004 dan mengetahui kelayakan media dari lima indikator penilaian. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan instrumen pengumpulan data berupa observasi, wawancara, angket validasi dan kelayakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ini sangat valid digunakan sebagai media pembelajaran untuk mempermudah dalam memahami materi dengan kelayakan 86% dalam uji coba pemakaian. Kata kunci: Bojonegoro, media pembelajaran, motion graphic, penjaraha
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL BERBASIS SEJARAH LOKAL MELALUI PERISTIWA KEPET TUBAN: KONTRIBUSI PEJUANG LOKAL DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN 1948-1949 UNTUK SISWA KELAS XI IPS 4 MAN 2 TUBAN
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL BERBASIS SEJARAH LOKAL MELALUI PERISTIWA KEPET TUBAN: KONTRIBUSI PEJUANG LOKAL DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN 1948-1949 UNTUK SISWA KELAS XI IPS 4 MAN 2 TUBANNiki Astria Sahara, Yuliati Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Univeristas Negeri MalangJl. Semarang, Malang 65145, Jawa Timur, IndonesiaEmail: [email protected] Abstrakpengembangan bahan ajar berupa modul berbasis sejarah lokal dengan alasan dapat digunakan sebagai sumber belajar pendukung yang praktis, efektif serta efisien, untuk lebih memfokuskan pengembangan bahan ajar disesuaikan berdasarkan analisis kebutuhan siswa. Penelitian ini memiliki tujuan jangka panjang yakni supaya pembelajaran sejarah Indonesia lebih bermakna kepada siswa. Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini yakni dapat menghasilkan sebuah produk bahan ajar modul yang dapat digunakan untuk melengkapi pembelajaran sejarah Indonesia pada MAN 2 Tuban.Kata kunci: sejarah lokal, bahan ajar modul, peristiwa kepet tuban.Pendidikan yang bermutu akan mencetak sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing di era global. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam menghadapi tantangan globalisasi yakni diterbitkannya kurikulum 2013. Salah satu aspek yang dapat menentukan keberhasilan mutu pendidikan adalah pembelajaran. Dalam artian guru harus berupaya semaksimal mungkin mengondisikan pembelajaran agar menjadi suatu proses yang bermakna dalam membentuk pengalaman dan kemampuan siswa. Pembelajaran sejarah merupakan salah satu pendidikan yang masuk dalam K-13 yang harus ada dalam satuan pendidikan baik pada tingkatan SMA, MA dan SMK. Sejarah dianggap penting untuk di masukan ke dalam K-13 karena dengan belajar sejarah dapat membangkitkan rasa nasionalisme siswa. Mata pelajaran sejarah mengajarkan kepada siswa untuk membentuk sikap bijaksana dalam bertindak dengan melihat kesalahan dan kejayaan pada masa lalu, karena dengan belajar sejarah peserta didik diharapkan bisa mengambil hal-hal positif yang ada di masa lalu. Kejadian di dalam sejarah mengandung nilai-nilai sehingga kita semua selalu menjadi bijaksana dalam menghadapi masa yang akan datang. Suatu pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Untuk mengatur proses pembelajaran pentingnya guru menggunakan bahan ajar penunjang untuk memperoleh hasil pembelajaran yang baik.Pembelajaran akan menjadi bermakna jika dalam pembelajaran terdapat kesinambungan antara guru dan siswa. Sejalan dengan pendapat Agung (2013: 3) bahwa, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada. Terwujudnya kerja sama yang baik diawali dengan interaksi yang baik. Interaksi utama dalam pembelajaran yakni guru, siswa dan bahan ajar. Pada pembelajaran bahan ajar merupakan sarana terjadinya interaksi antara guru dan siswa.Pada pembelajaran sejarah Indonesia diperlukan bahan pembelajaran yang jelas sebab terkait dengan periodisasi atau pembabakan waktu sejarah. Jika dalam pembelajaran tersebut guru tidak memiliki bahan ajar maka pembelajaran menjadi tidak sitematis. Selain itu perlu dilakukan pengembangan bahan ajar supaya pelajaran sejarah Indonesia lebih menarik dan tidak membosankan. Pembelajaran sejarah di sekolah juga memiliki anggapan yang negatif yakni memiliki daya tarik yang rendah pada siswa bahkan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan serta tidak memiliki manfaat dan kegunaan. Bahan ajar merupakan bagian yang sangat penting dari suatu proses pembelajaran secara keseluruhan (Ramdani 2012: 50). Bahan ajar merupakan unsur yang penting dalam kegiatan pembelajaran karena mengandung rambu-rambu materi yang akan diajarkan. Tanpa adanya bahan ajar guru tidak dapat berinteraksi dengan siswa dalam memberikan materi pembelajaran. Bahan pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru tidak hanya bahan inti sebab pembelajaran akan menjadi kaku. Agar pembelajaran sejarah Indonesia tidak kaku, terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa, serta mampu menumbuhkan kesadaran sejarah di era globalisasi maka guru dapat mengembangkan bahan ajar berupa modul berbasis sejarah lokal yang berupa objek-objek sejarah di daerah siswa. Bahan ajar modul yang dikembangkan lebih mempermudah siswa mehami materi. Peserta didik bisa menganalisis objek-objek sejarah dengan dikaitkan pada materi pelajaran yang ada di sekolah.Menurut Nilasari dkk. (2016: 1399) Modul pada dasarnya bahan ajar yang secara sistematis dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya agar mereka dapat belajar mandiri atau tanpa bimbingan yang minimal dari guru. Berdasarkan data yang telah diperoleh bahwa siswa dapat memahami dengan baik bahan ajar modul yang dikembangkan dalam penelitian ini. Karena modul telah disusun sesuai dengan bahasa yang mudah dipahami siswa tingkat Madrasah Aliyah. Selain bahasa yang mudah dipahami juga disusun berdasarkan usia siswa.Modul yang akan dikembangkan dalam penelitian ini yakni modul berbasis sejarah lokal . Objek sejarah di pusatkan pada Peristiwa kepet Tuban: kontribusi pejuang lokal dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tahun 1948-1949 sebab siswa sangat minim pengetahuan tentang hal tersebut. Pengembangan bahan ajar modul sejarah Indonesia berbasis objek sejarah lokal di Kabupaten Tuban akan membantu dalam proses pembelajaran.Peristiwa kepet tahun 1948-1949 merupakan sismbol Semangat Nasionalisme Revolusioner yang timbul dalam diri rakyat dan dengan semakin bertambahnya kekuatan Militer karena memakai persenjataan jepang rakyat indonesia semakin bersemangat untuk melawan belanda. Perlawanan terhadap belanda adalah upaya untuk menguasai kembali wilayah-wilayah indonesia yang dilakukan sampai pada wilayah tingkat daerah salah satunya adalah perlawanan yang dilakukan rakyat indonesia terhadap belanda dilakukan di wilayah Tuban. Selanjutnya, dari hasil penyebaran angket kepada Siswa MAN 2 Tuban khususnya kelas XI IPS 4 melalui peristiwa sejarah lokal yang ada di Tuban khususnya mengenai materi Peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, mereka hanya mengetahui monumen dan jembatan yang ada di daerah tersebut. hampir seluruh Siswa mengaku tidak mengetahui Tokoh pejuang lokal pada masa Revolusi fisik selain itu siswa juga mengaku bosan dengan cara guru mengajar yang hanya menggunakan LKS atau handout, selain itu juga Siswa tidak diperbolehkan untuk membawa HP, Laptop di Sekolah sehingga untuk mencari informasi sejarah sangat sulit. Kondisi di atas tidak terlepas dari penggunaan Handout dan LKS yang dirasa kurang merangsang berfikir historis siswa. Padahal dalam pembelajaran sejarah siswa diharapkan mampu memahami peristiwa masa lalu secara kronologis dan kritis. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa sebagian besar dari mereka kurang antusias dalam belajar sejarah. Sehingga, untuk membantu siswa dalam pembelajaran sejarah dibutuhkan sebuah bahan ajar yang inovatif untuk bisa mengetahui gambaran peristiwa masa lalu.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu dengan menggunakan bahan ajar pembelajaran yang inovatif dan menarik supaya proses pembelajaran tidak berlangsung monoton.Dari kesimpulan permasalahan diatas, beberapa permasalahan terkait pembelajaran sejarah Indonesia yaitu (1) pada proses pembelajaran yang sudah menerapkan kurikulum 2013 guru hanya menggunakan buku paket dan Lembar Kerja Siswa (LKS) (2) kurangnya sarana pembelajaran yang berupa media pembelajaran (3) siswa menganggap pembelajaran sejarah menjenuhkan dan susah dipahami (4) siswa tidak memahami peninggalan-peninggalan sejarah di Kabupaten Blitar sehingga kesadaran sejarah tidak muncul pada individu. Berdasarkan fenomena tersebut, untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu dan bermakna pada MAN 2 Tuban perlu adanya pengembangan dalam proses pembelajaran yakni pengembangan bagan ajar. Harapannya mampu melengkapi informasi utama yang hanya didapatkan dari buku paket dan LKS.Agar siswa mudah untuk mempelajari dan memaham sejarah lokal dan mengaitkannya dengan sejarah nasional, maka diperlukan bahan ajar yang mendukung. Bahan ajar yang akan saya gagas adalah bahan ajar yang berupa modul tentang Peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, Modul ini bukanlah Modul biasa yang hanya akan menjemukan Siswa yang tidak suka membaca materi yang terlalu panjang, sehingga peneliti berusaha mengembangkan modul agar Siswa memilki motivasi dan lebih tertarik untuk mempelajari dan Dalam kurikulum 2013 revisi 2016, yaitu pada KD 3.6 Menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia dan KD 4.6 Menulis sejarah tentang satu tokoh nasional dan tokoh dari daerahnya yang berjuang melawan penjajahan Untuk itu, Siswa seharusnya mmpelajari dan memahami sejarah lokalnya seperti sejarah perjuangan pejuang lokal dalam mempertahankan kemerdekaan. MetodeModel Penelitian dan PengembanganPengembangan media pembelajaran ini menggunakan model Sugiyono. Penggunaan model pengembangan Sugiyono dikarenakan sederhana, terstruktur sehingga memudahkan pengembang dalam memahami langkah-langkah pengembangan serta telah mencakup keseluruhan proses yang sistematis dalam suatu pengembangan produk yang tidak membingungkan pengembang dalammeracang media pembelajaran. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2016:407).Langkah-langkah dari model pengembangan Sugiyono yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan bahan ajar modul adalah sebagai berikut: (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk dan Materi, (4) Validasi Desain dan Materi, (5) Revisi Desain dan Materi (6) Uji Coba Produk (7) Revisi Produk (8) Uji Coba Pemakaian Produk, (9) Revisi Produk, (10) Produksi Akhir (Sugiyono, 2016:409).Prosedur Penelitian dan PengembanganPada Tahap Pertama: Pada saat peneliti melakukan observasi di MAN 2 Tuban peneliti melihat adanya potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan dalam proses pembelajaran sejarah di MAN 2 Tuban. MAN 2 Tuban ini merupakan salah satu sekolah yang berada di pinggiran Kecamatan dengan kondisi sekolah yang memiliki fasilitas sekolah yang kurang lengkap seperti tidak adanya LCD, tidak adanya internet Akses untuk siswa, tidak diperbolehkannya membawa Alat elektronik seperti HP, Leptop. Permasalahan kedua yang ditemukan oleh peneliti dari hasil observasi dan wawancara di MAN 2 Tuban peneliti menemukan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran sejarah. Permasalahan yaitu kurangnya variasi bahan ajar yang digunakan gurupada saat proses pembelajaran sejarah di kelas, selain itu, banyaknya siswa yang tidak mengetahui sejarah lokalnya atau sejarah daerahnya sendiri seperti Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949. Berdasarkan potensi dan masalah yang telah peniliti jelaskan di atas, peneliti melihat bahwa pengembangan bahan ajar modul dengan tampilan yang sederhana namun dengan materi yang sangat mendalam dapat mengatasi permasalahn-permasalahan yang ada di MAN 2 Tuban pemilihan materi mengenai Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, maka pengetahuan siswa mengenai tokoh-tokoh pejuang lokal di Indonesia akan bertambah.Pada Tahap Kedua: pengumpulan Informasi Data yang meliputi kajian pustaka, pengamatan atau observasi kelas, wawancara kepada pejuang veteran badroen dan meminta arsip-arsip yang masihtersimpan, wawancara purnawirawan bungkil, wawancara bapak heri kepala sekoah smp 2 soko tentang peristiwa kepet tuban dan persiapan laporan awal. Penelitian awal ini sangat dianjurkan guna untuk memperoleh informasi awal untuk melakukan sebuah pengembangan.Misalnya melalui sebuah pengamatan atau observasi dikelas untuk melihat kondisi yang sebenarnya di lapangan.Pada tahap pemilihan topik, peneliti memilih topik tentang sejarah lokal.Tahap pengumpulan data merupakan tahap untuk mengumpulkan informasi sebagai bahan untuk merencanakan produk yang akan dikembangkan. Proses pengumpulan informasi yang peneliti lakukan yaitu dengan studi lapangan dan studi literatur.Studi lapangan dilakukan dengan melakukan observasi di Kelas XII IPS 4 1 yang dilakukan pada kurun waktu tanggal 20 September 2018 hingga 29 November 2018.Pada tahap ketiga Desain produk yang akan peneliti kembangkan ini berbasis sejarah lokal meliputi Pengembangan Bahan ajar Modul Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, di mana produk ini berbentuk modul cetak.Pada Tahap Keempat: Tahap validasi ini merupakan tahap penentu kelayakan produk bahan modul untuk digunakan dalam proses uji coba kepada peserta didik. Adapun validator produk bahan ajarmodul ini ialah sebagai berikut:a. Validator ahli materi yang akan memvalidasi materi dalam produk bahan ajar modul ini adalah Bapak Arif Subekti, S.Pd, M.A, dosen jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang memahami materi sejarah Indonesia seputar revolusi fisik (1945-1949). Ahli materi ini merupakan lulusan Strata 2 (S2) yang sudah berpengalaman sebagai dosen pengampu matakuliah Sejarah Indonesia Modern.b. Validator ahli media yang akan memvalidasi produk bahan ajar modul ini adalah Bapak Moch. Nurfahrul L. Khakim, S.Pd, M.Pddosen jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berpengalaman dalam bidang sejarah dan teknologi. Ahli media ini merupakan lulusan Strata 2 (S2) yang sudah berpengalaman sebagai dosen dam validator Pengembangan Bahan Ajar.Pada Tahap Kelima: revisi desain. Revisi desain peneliti lakukan dengan mendapat arahan dari dosen ahli yaitu bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, S.Pd., M.Pd selaku dosen ahli media.Pada Tahap Keenam uji coba produk. Pada tahap ini peneliti melakukan tahap uji coba pada siswa kelas XI. Pada uji coba awal/ kelompok kecil peneliti menggunakan kelas IPS MAN 2 Tuban sebanyak 6 orang. Uji coba awal/ kelompok kecil digunakna untuk mengetahui seberapa efektif media pembelajaran. Dari tahap tersebut dapat digunakan untuk meminimalisir kesalahan. Pada Tahap ketujuh adalah revisi produk. Media pembelajaran yang telah diuji cobakan pada tahap uji coba awal akan memperoeh kritik dan saran. Kritik dan saran tersebut peneliti gunakan untuk merevisi produk agar dapat diuji cobakan pada uji coba kelompok besar. Pada Tahap Kedelapan adalah uji coba pemakaian/uji coba kelompok besar. Uji coba kelompok besar peneliti menggunakan kelas IPS 4 MAN 2 Tuban sebanyak 23 orang. Pada uji coba kelompok besar peneliti juga menyebarkan angket untuk melihat seberapa efektif media pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Peneliti juga memberikan soal pretest dan postest.Pada Tahap kesembilan adalah revisi produk. Revisi produk peneliti lakukan untuk mencapai kesempurnaan bahan ajar modul sejarah berbasis sejarah lokal. Revisi produk disesuaikan dengan angket yang berisi kritik dan saran siswa pada tahap uji coba pemakaian/ uji coba kelompok besar.Pada Tahap kesepuluh adalah produksi masal mengunggah bahan ajar tersebut dalam bentuk soft file ke media sosial seperti instagram dan facebook. Selain itu alternatif lain yang dapat dilakukan ialah dengan membagikan soft file bahan ajar modul melaluiwhatsapp ataupun e-mail.Uji Coba ProdukUji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat kelayakan dan daya tarik dari produk yang dihasilkan. Dalam tahap ini secara berurutan yang dikemukakan adalah desain uji coba, subjek uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data. Hasil dan PembahasanAnalisis data berupa menganalisis data dalam uji coba produk yang telah digunakan. Data tersebut penting karena dapat mengetahui seberapa efektif media pembelajaran selama proses pembelajaran. menurut Akbar (2017:82)sebagai berikut:P = 100%Adapun keterangan dari rumus tersebut adalah P : Presentase : Jumlah Jawaban validator dalam satu komponen : Jumlah Skor maksimum dalam satu komponen100 % : KonstantaAnalisis data angket validasi digunakan untuk megetahui kelayakan dari media pembelajaran. Sedangkan Validalitas Menurut Ahli Tingkat Kriteria Keterangan:86%-100% Sangat Valid Sangat Baik digunakan71%-85% Valid Boleh digunakan dengan revisi kecil56%-70% Cukup Valid Boleh digunakan setelah direvisi besar41%-55% Kurang Valid Tidak boleh digunakan25%-40% Tidak Valid Tidak boleh digunakan(Sumber: Akbar, 2017: 78)Dan Efektifitas Produk Menurut Siswa Tingkat Kriteria81,00% - 100,00% Sangat Efektif61,00% - 80,00% Cukup Efektif41,00% - 60,00% Kurang Efektif21,00% - 40,00% Tidak Efektif00,00% - 20,00% Sangat Tidak Efektif(Sumber: Akbar, 2017: 78) Hasil ValidasiBerdasarkan penyajian data hasil validasi oleh ahli materi yaitu Bapak Arif Subekti, S.Pd., M.A seperti yang tertera pada tabel 4.1 diketahui rata-rata presentase hasil evaluasi untuk mengetahui tingkat kevalidan bahan ajar pembelajaran ahli materi yakni 87,6 %. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa bahan ajar modul berbasis sejarah lokal ini dapat dikatan valid dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah.Berdasarkan penyajian data hasil validasi oleh ahli bahan ajar yaitu Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, S.pd, M.Pd seperti yang tertera pada tabel 4.2 diketahui rata-rata presentase hasil evaluasi untuk mengetahui tingkat kevalidan bahan ajar pembelajaran ahli materi yakni 96,3 %. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa bahan ajar modul berbasis sejarah lokal ini dapat dikatan valid dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah.Hasil uji coba kelompok kecil/terbatas diperoleh tingkat kevalidan produk bahan ajar pembelajaran sebasar 94%. Perolehan persentase tersebut jika disesuaikan dengan kriteria bahan ajar modul pembelajaran dapat dikatan sangat valid dan dapat diimplementasikan dalam uji coba kelompok besar.hasil uji coba kelompok besar diperoleh tingkat kevalidan produk bahan ajar modul pembelajaran sejarah sebasar 96,8%. Perolehan persentase tersebut jika disesuaikan dengan kriteria bahan ajar modul pembelajaran dapat dikatan sangat valid. SIMPULAN DAN SARANSimpulanBahan ajar pembelajaran ini meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pelajaran. Bahan ajar modul pembelajaran sejarah berisi tentang peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi pejuang lokal dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1948-1949. Bahan ajar pembelajaran sejarah berbasis sejarah lokal ini ini telah melalui uji validasi dari ahli materi, ahli media dan peserta didik selaku responden. Adapun hasil validasi dari ahli materi menunjukan persentase sebesar 87,6 % dan ahli media dengan persentase sebesar 96,3 %. Hasil validasi dari ahli materi dan ahli media tersebut termasuk ke dalam kategori sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Selanjutnya hasil uji coba yang dilakukan kepada kelompok kecil menunjukkan persentase sebesar 94 % dan hasil uij coba lapangan menunjukkan persentase sebesar 96,8 %, sehingga dari hasil uji coba kelompok kecil dan uji lapangan masuk ke dalam kategori sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Meskipun dari hasil-hasil validasi yang masuk kategori sangat valid, tetapi ada beberapa saran dari ahli materi, media, dan peserta didik untuk diperbaiki demi kesempurnaan media pembelajaran tersebut. Bahan ajar modul pembelajaran sejarah berbasis lokal yang dikembangkan oleh peneliti dapat dijadikan alternatif bahan ajar pembelajaran yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Peneliti dalam membuat bahan ajar modul pembelajaran sejarah menggunakan Microsoft office word, edit photoshop yang memiliki kemampuan untuk membuat modul secara mudah dan dengan desain yang menarik.SaranSaran untuk peneliti lebih lanjut yaitu: Meskipun presntase dan keefektifan produk bahan ajar modul berbasis sejarah lokal tergolong sebagai produk media pembelajaran yang sangat efektif dan sangat vilid, bukan berarti produk ini dikatakan sempurna tanpa perbaikan,namun tidak menutup kemungkinan memiliki kekurangan. Hal demikian dikarenakan terus berkembangnya teknologi dan bahan ajar yang lain. Adanya perkembangan teknologi dan bahan ajar yang lain juga menuntut untuk lebih semangat lagi mendidik anak bangsa terutama dalam bidang pembelajaran. Oleh karena itu, untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan bahan ajar modul berbasis sejarah lokal atau berbasis yang lainnya sehingga dapat mengatasi problem pembelajaran Se
WACANA NASIONALISME DALAM BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS KURIKULUM 2013
AbstrakKehadiran buku teks di lembaga pendidikan memiliki nilai ataupun ideologi tertentu yang ingin dipertahankan oleh negara. Terjadi pengintegrasian nilai-nilai dan ideologi dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah melalui buku teks pelajaran. Salah satu nilai yang ingin dipertahankan dalam buku teks Sejarah Indonesia adalah nilai nasionalisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengunakan pendekatan metode analisi media, yakni analisi Framing yang dikembangkan oleh Robert Entman. Tujuan penelitian ini, mengetahui bagaimana negara menanamkan rasa nasionalisme melalui buku teks Sejarah Indonesia. Kata kunci : Buku Teks Sejarah Kelas XI, Nasionalisme, Framin
PERBEDAAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK YANG MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN CAI (COMPUTER ASSISTED INSTRUCTION) MODEL SIMULASI BERBASIS POWERPOINT AUDIO VISUAL DIBANDINGKAN YANG MENGGUNAKAN POWERPOINT DI KELAS X IIS DI SMA NEGERI BARENG JOMBANG
ABSTRACT The application of technology in Education is a step in facing the era of globalization. One example is the using of more interactive and innovative learning media. The use of interactive learning media encourages teachers to be more creative in designing learning media. One learning media that used by teacher is Powerpoint. The use of effective and innovative Powerpoint media will have significant impact on student learning outcomes. One of the learning media used in this research is CAI (computer assisted instruction) media based on audio-visual Powerpoint simulation models. The purpose of this research was to determine differences in learning outcomes of students using CAI learning media based on audio-visual Powerpoint simulation models compared to those using Powerpoint in SMA Bareng Jombang District. This research is an experimental research that uses experimental class and control class. The subjects in this research were class X IIS 1 as the experimental class and X IIS 3 as the control class. The instruments used in this research were 5 essay posttest questions. The calculation of tests techniques is adjusted to the guidelines for scoring. Data analysis techniques using the SPSS 16.0 for Windows application. Hypothesis testing used is t-test (analysis of variance). The results of research indicate that there are differences in learning outcomes from students using CAI learning media based audio-visual powerpoint with those using powerpoint in SMA Bareng Jombang. The results of research show that the learning outcomes of students using CAI media in audio-visual powerpoint-based simulation models have an average value (76.94) higher than the class using powerpoint has an average value (68.12). This means that in this research there are differences in learning outcomes between students who use CAI media on audio-visual powerpoint-based simulation models compare to those using powerpoint in X IIS Class SMA Bareng Jombang. Abstrak Pengaplikasian teknologi dalam Pendidikan merupakan sebuah langkah dalam menghadapi era globalisasi. Salah satu contohnya adalah penggunaan media pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif. Pengunaan media pembelajaran interaktif mendorong guru untuk lebih kreatif dalam mendesain media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah powerpoint. Penggunaan media powerpoint yang efektif dan inovatif akan memberikan dampak yang signifikan kepada hasil belajar peserta didik. Salah satu media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah media CAI (computer assisted instruction) model simulasi berbasis powerpoint audio visual. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar peserta didik yang menggunakan media pembelajaran CAI model simulasi berbasis powerpoint audio visual dibandingkan yang menggunakan powerpoint di SMA Negeri Bareng Kabupaten Jombang. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas X IIS 1 sebagai kelas eksperimen dan X IIS 3 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal posttest sebanyak 5 butir soal essai. Perhitungan tes yang digunakan disesuaikan dengan pedoman penskoran butir soal. Teknik analisis data menggunakan aplikasi SPSS 16.0 for windows. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t (analysis of variance). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dari peserta didik yang menggunakan media pembelajaran CAI model simulasi berbasis powerpoint audio visual dengan yang menggunakan powerpoint di SMA Negeri Bareng Kabupaten Jombang. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil belajar peserta didik yang menggunakan media CAI model simulasi berbasis powerpoint audio visual memiliki nilai rata-rata (76,94) lebih tinggi dari kelas yang menggunakan powerpoint memiliki nilai rata-rata (68,12). Artinya dalam penelitian ini terdapat perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang menggunakan media CAI model simulasi berbasis powerpoint audio visual dengan yang menggunakan powerpoint di kelas X IIS SMA Negeri Bareng Kabupaten Jombang.
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN AKTIF CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH
Abstrak: Pelajaran Sejarah dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang membosankan oleh sebagian besar siswa. Hal tersebut menurut para siswa dikarenakan metode pembelajaran yang dipakai oleh para Guru dalam mata pelajaran Sejarah sebagian besar hanya berupa ceramah saja, sehingga pada saat proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung lebih pasif. Kurangnya antusiasme siswa terhadap mata pelajaran Sejarah serta kurang adanya variasi metode pembelajaran menjadi pemicu rendahnya nilai Sejarah siswa, sehingga dibutuhkan sebuah metode pembelajaran yang baru dan menarik bagi siswa. Metode pembelajaran aktif tipe Card Sort dirasa menjadi solusi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Card Sort merupakan sebuah metode pembelajaran aktif yang memanfaatkan media kartu yang berisi kata tertentu dari materi yang dibahas
PENGEMBANGAN HISTORICAL MODULE AND POP UP (MOS UP) DALAM MATERI PAHLAWAN NASIONAL PADA MASA KOLONIALISME KELAS XI IIS MA SUMBER BUNGUR PAKONG
r6tyu7hik
Pengembangan Modul Tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1948 di Ngantang Untuk Pembelajaran Sejarah Kelas XI IPS SMAN 1 Ngantang Kabupaten Malang
Sejarah merupakan mata pelajaran yang sering dianggap pelajaran yang kurang diminati karena begitu banyak cerita tentang peristiwa. Semacam peristiwa bersejarah tentang kemerdekaan dan terus berkembang menerus hingga peristiwa saat ini. Pembelajaran sejarah yang terkesan terlalu banyak cerita akan membuat siswa merasa kejenuhan dalam memahami pelajaran tersebut. Tujuan peneliti yakni dengan menggunakan bahan ajar modul tentang mempertahankan kemerdekaan dapat menciptakan minat siswa terhadap pembelajaran sejarah