SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
1821 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR E-BOOKLET TENTANG GAGASAN R.A KARTINI UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS X DESAIN DAN FASHION DI SMK NEGERI 3 MALANG
ABSTRAKPenelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk bahan ajar E-Booklet tentang gagasan R.A Kartini dengan penyajian materi mengenani perjalanan hidup kartini serta nilai-nilai pendidikan karakter dalam kartini sehingga bisa menginspirasi siswi. Metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan bahan ajar E-Booklet tentang gagasan R.A Kartini ini, yaitu : Kata Kunci: Bahan Ajar , Gagasan R.A. Kartini, Pendidikan Karakter, E-Booklet.(1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Ujicoba Produk, (6) Revisi, (7) Ujicoba, (8) Revisi Desain, (9) Revisi Produk,(10) Deseminasi. Pengembangan media yang dikembangkan ini setela melalui uji validitas yang dilakukan oleh ahli materi mendapat presentase nilai 77.5% dan dari ahli media mendapat presentase nilai 90%, dari kedua nilai tersebut media ini masuk dalam kategori valid dan sangat valid. Uji coba lapangan yang di lakukan di SMKN 3 Malang mendapatkan presentase nilai sebesar 81.6% dari uji coba kelas kecil dan mendapat presentase nilai 84.28% dari uji coba kelas besar. Berdasarkan hasil yang didapat baik dari uji validitas maupun uji lapangan bahan ajar E-Booklet tentang gagasan R.A Kartini raya layak digunakan sebagai media pembelajaran di dalam kelas.
Pengaruh Panca Usaha Tani Terhadap Sistem Pertanian Masyarakat Di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang (1969-2010)
ABSTRAK Pertanian merupakan sarana penting untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Peningkatan penduduk di Indonesia yang semakin tinggi menyebabkan keterbatasan pada ketersediaan hasil pangan. Pemerintah mengupayakan peningkatan produksi melalui intensifikasi yang terdapat pada Rencana Pembangunan Lima Tahun 1969. Intensifikasi pertanian dilakukan dengan menerapkan Panca Usaha Tani, dengan bantuan petugas penyuluh lapangan yang mengenalkan pada petani. Pada pelaksanaannya, Panca Usaha Tani terus berjalan dengan baik. Dampak baiknya pertanian semakin mudah karena penggunaan peralatan modern. Di sisi lain muncul permasalahan baru, peningkatan konsumsi pestisida dan bahan kimia buatan oleh petani meningkat. Sehingga memunculkan gerakan pertanian ramah lingkungan tahun 2010. Kata Kunci : Pengaruh, Intensifikasi, Panca Usaha Tani, Pertanian, Masyarakat. ABSTRACT Agriculture is an important means to fulfill human food needs. The increasing population in Indonesia has caused limitations on the availability of food products. The government attempts to increase production through the intensification in Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) 1969. The intensification of agriculture was done by implementing Panca Usaha Tani, with assistance by BPP (Balai Penyuluh Pertanian) each district. In the implementation, Panca Usaha Tani continued to go well. The good impact of agriculture was easier to achieve by farmers, cause they use the modern equipment. In other side, appears a new problems appears which was consumtion of pestisides and chemical fertilizer by farmers is increased. Following that, the government had spread a movement of environmentally by green food and organic agriculture in 2010. Keywords: Impact, Intensification, Panca Usaha Tani, Agriculture, Community
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARANINFOGRAFIS TENTANG CANDI SONGGORITI TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS X MIPA 1 DI SMA NEGERI 1 BATU
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar siswa yang berada dibawah KKM yakni 70,75 pada materi Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Hasil belajar merupakan pencapaian siswa atas proses belajar, maka peneliti bermaksud menggunakan media pembelajaran infografis tentang Candi Songgoriti sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil wawancara media infografis belum pernah digunakan dalam pembelajaran. Jadi dapat diuji pengaruhnya terhadap hasil belajar sejarah siswa. Berdasarkan hasil tes siswa di kelas eksperimen dengan sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran infografis tentang Candi Songgoriti terhadap pengaruh yang signifikan (positif). Rata-rata pretest menunjukkan nilai sebesar 55,97 yang kemudian meningkat sebesar 27,86 menjadi 83,83 pada rata-rata nilai posttest. Hal tersebut dibuktikan dengan uji hipotesis nilai tes memiliki sebesar 21,682 dengan sebesar 1,692 yang menunjukkan bahwa 21,682 () ≥ 1,692 () dengan nilai signifikansi 0,00 < 0,05. Maka hasil uji hipotesis dalam penelitian ini disimpulkan bahwa H₁ diterima dan H0 ditolak.Kata Kunci: media pembelajaran, Infografis, hasil belajar, pembelajaran sejarahAbstractThis research is motivated by the learning outcomes of students who are under the KKM namely 70.75 on material on Hindu-Buddhist kingdoms in Indonesia. Learning outcomes are student achievement of the learning process, so the researchers intend to use infographic learning media about Songgoriti Temple as an effort to improve student learning outcomes. Based on the results of infographic media interviews, it has never been used in learning. So it can be tested for its effect on students' historical learning outcomes. Based on the test results of students in the experimental class with before and after using infographic learning media about Songgoriti Temple on a significant (positive) effect. The average pretest shows a value of 55.97 which then increases by 27.86 to 83.83 on the averagevalue posttest. This is evidenced by the hypothesis test of the test value has a of 21.682 with of 1.692 which indicates that 21.682 () ≥ 1.692 () with a significance value of 0.00 <0.05. Then the results of hypothesis testing in this study concluded that H₁ is accepted and H0 is rejected.Keywords: learning media, infographics, learning outcomes, learning histor
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN GO-BLINK MATERI BUDI UTOMO MASA PERGERAKAN NASIONAL DI KELAS X PRODUKSI E SMKN 4 MALANG
RINGKASAN Kurikulum 2013 mengharuskan siswa untuk aktif sehingga dibutuhkan media untuk memudahkan pemahaman konsep yang abstrak bagi siswa. Tujuan penelitian dan pengembangan ini yakni menghasilkan produk sebagai pendukung pembelajaran sejarah untuk siswa SMA/SMK kelas X yang valid serta layak digunakan dalam pembelajaran. Produk yang dikembangkan berupa media pembelajaran berbasis website pada salah satu materi sejarah pergerakan nasional yaitu Boedi Oetomo. Metode yang diterapkan pada pengembangan media ini yaitu Brog dan Gall. (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal, (4) uji coba lapangan, (5) revisi produk akhir, (6) deseminasi dan implementasi. Subjek uji coba keterbacaan dilakukan oleh guru dan siswa SMKN 4 Malang kelas X Jurusan Produksi-E. Teknik analisis data yang dihasilkan yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari penskoran hasil validasi media pembelajaran dan data kualitatif diperoleh dari saran validator dan siswa. Hasil skor validasi media 81% dan materi 93% serta uji coba kelompok kecil 90% dan uji coba kelompok besar 89%. Kesimpulan yang diperoleh yaitu media mempunyai kriteria yang sangat valid dan layak digunakan
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU SUPLEMEN PERANAN PERS TIONGHOA DI INDONESIA PADA TAHUN 1920-1940 BERBASIS E-BOOK UNTUK SISWA KELAS XI MIPA DI SMA NEGERI 4 MALANG
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU SUPLEMEN PERANAN PERS TIONGHOA DI INDONESIA PADA TAHUN 1920-1940 BERBASIS E-BOOK UNTUK SISWA KELAS XI MIPA DI SMA NEGERI 4 MALANG Annisaa Khansa Labibah Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-book suplemen peranan pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940 dan mengetahui kelayakan bahan ajar dari aspek fisik atau tampilan, pendahuluan, teknis aplikasi, isi, dan tugas atau evaluasi. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode pengumpulan data observasi wawancara, angket validasi dan kelayakan, serta lembar tes yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan ajar ini layak digunakan sebagai sumber belajar dengan kelayakan 91% pada uji coba pemakaian. Kata kunci: bahan ajar, buku suplemen, peranan pers tionghoa, berbasis e-book Pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran wajib yang terdapat pada Kurikulum 2013 untuk SMA/MA dan SMK. Pelajaran sejarah pada kurikulum SMA terbagi menjadi dua Sejarah Indonesia dan Sejarah. Pembagian mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah tidak ada dalam kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Pemisahan mata pelajaran tersebut barulah dilakukan dalam Kurikulum 2013. Berdasarkan kelompoknya, Sejarah Indonesia merupakan pelajaran yang diberikan kepada seluruh siswa, maka seringkali disebut sebagai sejarah wajib. Sedangkan mata pelajaran sejarah, hanya diberikan kepada para siswa yang berada pada penjurusan IIS di SMA, atau diberikan kepada jurusan lain (MIPA atau IBB) sebagai mata pelajaran lintas minat. Berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sedangkan di dalam pasal 3 tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan ditegaskan bahwa dasar pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari tujuan pembelajaran sejarah tersebut guru sejarah harus berinovasi dan meningkatkan proses pembelajaran sehingga siswa tidak hanya mengetahui materi dan peristiwa sejarah yang ada namun juga dapat memaknai nilai- nilai penting yang terdapat dalam pembelajaran sejarah. Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada 30 Juli 2018 di SMA Negeri 4 Malang, ditemukan permasalah dimana peserta didik sering mengalami kebosanan dalam pembelajaran sejarah, hal itu disebabkan oleh materi yang hanya itu-itu saja sehingga guru sering menyelipkan materi tambahan saat mengajar agar peserta didik lebih tertarik saat pembelajaran sejarah. Cara tersebut sangat efektif, karena dari hasil wawancara dengan siswa mereka tertarik dengan materi sejarah yang tidak ada di buku teks. Selain itu saat melakukan observasi ditemukan permasalahan dimana siswa lebih tertarik membaca materi melalui smart phone dari pada pada buku teks. Dari hasil wawancara dengan guru disampaikan bahwa isi buku teks yang ada kurang lengkap dan kurang jelas sehingga kurang menunjang pembelajaran hal tersebut membuat siswa lebih tertarik untuk membuka smart phone dan mencari materi melalui internet. Melalui permasalahan tersebut peneliti mengembangkan bahan ajar buku suplemen berbasis e-book. Materi yang diangkat berkaitan dengan peranan Pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940. Pengambilan materi tersebut berkaitan dengan K.D 3.4. Menghargai nilai-nilai Sumpah Pemuda dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan di Indonesia pada masa kini. Bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber ajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran (Mulyasa, 2006:96). Tujuan utama pembelajaran adalah agar supaya peserta didik mampu mempelajari materi dengan baik dan mendapatkan nilai-nilai penting dari peristiwa sejarah tersebut. Pengetahuan siswa terhadap materi atau peristiwa sejarah dapat dikembangkan melalui buku suplemen/ pelengkap/ pengayaan. Melalui buku tersebut siswa dapat menambah wawasan diluar materi yang terdapat dalam buku pegangan siswa. Menurut departemen pendidikan Nasional, buku suplementer adalah buku yang tujuannya untuk memperkaya, menambah, ataupun memperdalam keilmuan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008:8). E-Book atau electronic book dalam bahasa Indonesia diartikan buku elektronik, merupakan buku yang dapat dibuka atau diakses dengan media elektronik, seperti smart phone, leptop ataupun Komputer/PC. Buku elektronik ini merupakan inovasi baru untuk mempermudah pembaca mengakses buku dan membaca buku dimana saja tanpa membawa buku kemana-mana, karena e-book ini bisa dibuka di smart phone yang sudah dimiliki hampir semua orang. Dikarenakan siswa lebih tertarik membaca matari melalui smart phone pengembangan bahan ajar berbasis e-book ini dirasa tepat dan efektif untuk meningkatkan minat baca siswa. Peranan Pers Tionghoa dipilih sebagai materi yang dikembangkan dikarenakan pada buku teks Sejarah Indonesia kelompok wajib Kelas XI Semester 1 disebutkan salah satu dampak adanya politik etis adalah munculnya surat kabar atau pers dari golongan terpelajar, selain itu dalam buku teks hanya dijelaskan peranan kaum bumi putera pada masa pergerakan, sedangkan pada masa pergerakan sekitar tahun 1920-1940 terdapat golongan non bumi putera yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Melalui wawasan baru tersebut diharapkan peserta didik dapat meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran sejarah, serta menambah wawasan mereka mengenai sejarah pergerakan di Indonesia. Disamping itu siswa diharapkan dapat mengambil dan menerapkan nilai-nilai penting dari peristiwa sejarah tersebut. METODE Penelitian dan pengembangan bahan ajar e-book Suplemen Peranan Pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940 menjadikan siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri 4 Malang menjadi subjek penelitian. Metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa inggrisnya Reseach and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji kefektifan produk tersebut (Sugiono, 2015:407). Prosedur penelitian Sugiyono (2015), dimulai dari penemuan potensi dan masalah, lalu diakhiri dengan produksi masala. Untuk menyesuaikan dengan penelitian yang dilakukan maka prosedur penelitan diakhiri dengan produk akhir tidak samapai produksi masal, modifikasi prosedur penelitian pada bagan berikut: Bagan 1. Prosedur Penelitian dan Pengembangan Bahan Ajar e-book Suplemen Sumber: Revisi prosedur penelitian sesuai kebutuhan peneliti. Pada tahap validasi desain dilakukan validasi materi kepada dosen ahli materi peranan pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940. Lalu validasi bahan ajar dilakukan kepada dosen ahli bahan ajar e-book suplemen. Setelah tahap validasi materi dan bahan ajar dikatakan valid dan layak maka dilanjutkan pada tahap revisi jika ada masukan dari validator, setelah itu melakukan uji coba produk atau disebut uji kelompok kecil dengan mengambil responden 15 peserta didik dari kelas XI MIPA 2, uji coba ini menggunakan metode pengumpulan data dengan pre tes dan pos tes serta diberikan angket untuk mengukur kelayakan bahan ajar. Selanjutnya revisi produk tahap dua jika terdapat masukan dari responden uji coba produk kelompok kecil. Selanjutnya dilakukan uji coba pemakaian atau uji coba kelompok besar dengan responden yang lebih banyak yaitu peserta didik kelas XI MIPA 1 yang berjumlah 33 peserta didik, metode pengumpulan data yang digunakan sama dengan uji coba produk pada kelompok kecil. Setelah data terkumpul dan dilakukan revisi produk tahap akhir dan bahan ajar dinyatakan layak proses selanjutnya produk akhir bahan ajar dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Validasi Materi Validasi materi dilakukan kepada dosen ahli yaitu Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum. Presentase keseluruhan item dari hasil validasi materi 93 %, hal ini mengindikasikan bahwa materi pada e-book Suplemen peranan Pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940 yang dikembangkan termasuk dalam kategori Valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Namun dalam validasi ini, validator materi memberikan beberpa saran untuk menyempurnakan media yang dikembangkan. Adapun saran yang diberikan yaitu tambahkan peta persebaran organisasi pergerakan untuk keterangan where?, dan lampirkan kisi-kisi untuk evaluasi. Tabel 1. Paparan Data Validasi Materi Produk e-book Suplemen dari berbagai Aspek Aspek Total Skor Skor Maksimal Presentase (%) Pendahuluan 12 12 100 % Pembelajaran 11 12 92 % Isi 42 44 95% Kualitas Tugas dan Evaluasi 6 8 75% Total 71 76 93% Sumber: Pengelolaan data hasil validasi materi, 2019 Validasi Bahan Ajar Validasi bahan ajar dilakukan kepada dosen ahli yaitu Wahyu Djoko Sulistyo, S.Pd., M.Pd. Presentase keseluruhan item dari hasil validasi bahan ajar 94 %, hal ini mengindikasikan bahwa bahan ajar e-book Suplemen peranan Pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940 yang dikembangkan termasuk dalam kategori Valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Namun dalam validasi ini, validator bahan ajar memberikan beberpa saran untuk menyempurnakan media yang dikembangkan. Adapun saran yang diberikan yaitu, melengkapi daftar pustaka pada materi dan melengkapi petunjuk penggunaan, agar memudahkan penggunan, serta pemberian logo UM pada bahan ajar. Tabel 2. Paparan Data Validasi Bahan Ajar Produk e-book Suplemen dari berbagai aspek Aspek Total Skor Skor Maksimal Presentase (%) Fisik atau Tampilan 27 28 96% Pendahuluan 11 12 92% Pemanfaatan 7 8 88% Kualitas Teknis Aplikasi 24 24 100% Total 68 72 94% Sumber: Pengelolaan data hasil validasi bahan ajar Hasil Uji Coba Uji Coba Produk (Kelompok Kecil) Pada tahap uji coba produk ini menggunakan responden 15 peserta didik pada kelas XI MIPA 2. Uji coba produk ini disebut juga uji coba kelompok kecil, karena skala responden hanya 10-15 peserta didik. Tahap uji coba produk ini melalui pre tes dan pos tes serta uji kelayakan menggunakan angket yang diisi oleh peserta didik. Melalui pre tes dan pos tes yang dilakukan terhadap kelompok kelompok kecil menunjukan adanya kenaikan. Semua peserta didik mengalamai peningkatan nilai yang signifikan sebelum dan sesudah menggunakan produk bahan ajar e-book suplemen peranan pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920- 1940, rata- rata kenaikan nilai siswa adalah 63%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Grafik 1. Perbandingan Nilai Hasil Pre Tes dan Pos Tes Kelompok Kecil Sumber: Analisis hasil pre tes dan pos tes pada uji coba kelompok kecil Pada uji kelayakan terdapat 21 Soal pada instrumen angket yang terbagi menjadi 6 aspek kriteria penilaian yang diharapkan. Hasil perhitungan tersebut yakni, aspek fisik atau tampilan terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 300 dan memperoleh skor 265 , aspek pendahuluan terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 120 dan memperoleh skor 110, aspek pemanfaatan terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 120 dan memperoleh skor 110, aspek kualitas teknis aplikasi terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 300 dan memperoleh skor 260, aspek isi terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 300 dan memperoleh skor 279 terakhir apek tugas dan evaluasi terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 120 dan memperoleh skor 111. Dari hasil uji kelayakan kelompok kecil persentase yang didapatkan sebesar 90%, dari hasil tersbut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini layak untuk digunakan. Ada beberapa masukan dari peserta didik yaitu ukuran aplikasi yang terlalu besar membutuhkan ruang penyimpanan yang banyak pada smart phone sehingga bisa membuat lambat atau lag pada saat pengoprasiannya. Tabel 3. Paparan Data Hasil Uji Kelayakan Kelompok Kecil dari berbagai aspek Aspek Fisik atau Tampilan Aspek Pendahuluan Aspek Pemanfaatan P=265/300×100% P = 88 % P=110/120×100% P = 92 % P=110/120×100% P = 92 % Kualitas Teknis Aplikasi Aspek Isi Aspek Tugas atau Evaluasi P=260/300×100% P = 87 % P=279/300×100% P = 93 % P=111/120×100% P = 93 % Sumber: Hasil analisis uji kelayakan kelompok kecil Uji Coba Pemakaian (Uji Coba Kelompok Besar) Setelah dilakukan revisi dari hasil uji coba produk maka dilanjutkan uji coba pemakaian. Pada tahap uji coba pemakaian ini menggunakan responden 33 peserta didik pada kelas XI MIPA 1. Uji coba pemakaian ini disebut juga uji coba kelompok besar, karena skala responden lebih dari 15 peserta didik. Tahap uji coba produk ini melalui pre tes dan pos tes serta uji kelayakan menggunakan angket yang diisi oleh peserta didik. Melalui pre tes dan pos tes yang dilakukan terhadap kelompok kelompok besar menunjukan adanya kenaikan. Hampir emua peserta didik mengalamai peningkatan nilai yang signifikan sebelum dan sesudah menggunakan produk bahan ajar e-book suplemen peranan pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920- 1940, rata- rata kenaikan nilai siswa adalah 51%, ada satu peserta didik bernama Eno Shafira Ramadanti yang tidak mengalami peningkatan nilai, dari hasil angket smart phone yang digunakan kurang support untuk penggunaan aplikasi tersebut sehingga sangat lambat saat proses pada menu materi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Grafik 2. Perbandingan Nilai Hasil Pre Tes dan Pos Tes Kelompok Besar Sumber: Analisis hasil pre tes dan pos tes pada uji coba kelompok besar Pada uji kelayakan terdapat 21 Soal pada instrument angket yang terbagi menjadi 6 aspek kriteria penilaian yang diharapkan. Hasil perhitungan tersebut yakni, aspek fisik atau tampilan terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 660 dan memperoleh skor 595 , aspek pendahuluan terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 264 dan memperoleh skor 239, aspek pemanfaatan terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 264 dan memperoleh skor 239, aspek kualitas teknis aplikasi terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 660 dan memperoleh skor 583, aspek isi terdiri dari 5 soal dengan skor maksimal 660 dan memperoleh skor 620 terakhir apek tugas dan evaluasi terdiri dari 2 soal dengan skor maksimal 264 dan memperoleh skor 242. Dari hasil uji kelayakan kelompok kecil persentase yang didapatkan sebesar 91%, dari hasil tersbut dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini layak untuk digunakan. Ada masukan dari peserta didik uji kelompok besar yakni kurang sensitif pada saat dilakukan zooming, sehingga peserta didik merasa kesulitan saat akan zooming pada media tersebut. Tabel 4. Paparan Data Hasil Uji Kelayakan Kelompok Kecil dari berbagai aspek Aspek Fisik atau Tampilan Aspek Pendahuluan Aspek Pemanfaatan P=595/660×100% P = 90 % P=239/264×100% P = 91 % P=239/264×100% P = 91 % Kualitas Teknis Aplikasi Aspek Isi Aspek Tugas atau Evaluasi P=583/660×100% P = 88 % P=620/660×100% P = 94 % P=242/264×100% P = 92 % Sumber: Hasil analisis uji kelayakan kelompok kecil PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 4 Malang mengenai pengembangan bahan ajar e-book Suplemen Peranan Pers Tionghoa di Indonesia pada tahun 1920-1940 dapat disimpulkan bahawa bahan ajar tersebut masuk layak dijadikan bahan ajar, dapat dilihat dari hasil pre tes dan pos tes yang mengalami peningkatan lebih dari 50%. Hanya satu peserta didik bernama Eno Shafira Ramadanti yang tidak mengalami peningkatan nilai, dari hasil angket smart phone yang digunakan kurang support untuk penggunaan aplikasi tersebut sehingga sangat lambat saat proses pada menu materi. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas saran mengenai bahan ajar ini perlu dikembangkan lebih lanjut agar lebih sempurna. Ukuran aplikasi yang terlalu besar cukup mamakan ruang penyimpanan yang banyak pada smart phone, sehingga perlu dikecilkan sehingga bisa support di seluruh jenis android. Selain itu juga disarankan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk IOS agar dapat digunakan dalam perangkat IOS pada I-Phone. DAFTAR RUJUKAN Mulyasa. E. 2006. Kurikulum yang di Sempurnakan. Bandung: PT. Remaja Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Pasal 1, Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional
Pengaruh Media Pictorial Riddle Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS 1 SMAN 10 Malang Tahun Ajaran 2018/2019
RINGKASANSa’adah, Mutimmatus. 2019. Pengaruh Media Pictorial Riddle Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS 1 SMAN 10 Malang Tahun Ajaran 2018/2019. Skripsi. Jurusan Sejarah, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. JokoSayono, M.Pd, M.Hum. (2) Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum. Kata Kunci: media pembelajaran, Pictorial Riddle, hasilbelajar, pembelajaransejarahPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar siswa yang berada di bawah rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75 dan siswa kurang aktif dalam pelajaran sejarah. Siswa cenderung lebih cepat bosan dan kurang aktif disebabkan karena kurangnya media sehingga hasil belajar siswa tidak sesuai dengan standar kriteria minimal nilai. Maka peneliti bermaksud menggunakan media Pictorial Riddle sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Terdapat satu rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini yaitu “bagaimana pengaruh hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 1 SMAN 10 Malang yang sebelum dan sesudah diajar menggunakan media Pictorial Riddle?”.Model penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian one-group experiment dengan rancangan model one-group pre-test and post-test design model ini hanya menggunakan satu kelompok kelas saja tanpa adanya kelompok kontrol. Populasi dari penelitian ini yaitu seluruh kelas XI IPS SMAN 10 Malang, untuk sampel yaitu kelas XI IPS 1 SMAN 10 Malang. Pemilihan sampel berdasarkan dengan teknik pursposive sampling yaitu dengan pertimbangan yang ahli dibidangnya, dimana adalah guru sejarah SMAN 10 Malang. Data dari penelitian ini yaitu hasil belajar yang diperoleh dari nilai pre-test dan post-test. Teknik analisis menggunakan uji t (paired sample t-test) dengan bantuan software SPSS for Windows 16.0.Berdasarkan analisis hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media Pictorial Riddle berpengaruh positif, yaitu karena media ini dapat memvisualisasi pembelajaran sejarah dengan menghadirkan fakta, konsep, dan narasi sejarah sehingga siswa lebih memahami pembelajaran sejarah yang berdampak juga dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Rata-rata pre-test 59,11 meningkat 27,89 pada nilai post-test yaitu menjadi 89,00. Hasil ini dbuktikan dengan hitungan thitung 21,750while ttable 1,690, dari hasil tersebut maka 21,750(thitung) ≥ 1,690(ttabel) dengan niali signifikasi 0,005. Oleh karena itu maka H1 diterima dan H0 ditolak.Saran untuk penelitian in iadalah:(1) Media Pictorial Riddle dapat digunakan pada materi sejarah lainnya. Selain itu, guru juga dapat menggunakan media tersebut sebagai inovasi untuk mengajarkan materi sejarah yang lainnya agar siswa lebih aktif dan mengembangkan pengetahuan barunya, sehingga siswa menjadi lebih banyak menggalimateri yang dipelajarinya,(2) Media Pictorial Riddle dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XI IPS 1 SMAN 10 Malang. Oleh sebab itu, media pembelajaran ini baik dan layak untuk diterapkan pada pembelajaran sejarah di SMA/SMK/MA
Perubahan Perilaku Politik Masyarakat Desa Dawuhan Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Pasca Reformasi1998.
ABSTRAKYuliono,Chuchun.2009.PerubahanPerilaku PolitikMasyarakatDesaDawuhanKecamatanPurwoasri KabupatenKediriPascaReformasi1998. Skripsi.JurusanSejarah.ProgramStudiPendidikanSejarah.Fakultas Sastra.Universitas NegeriMalang.Pembimbing(1) Dra.SriSumartini, M.Si,(2)Drs.Marsudi,M.Hum,KataKunci : Perubahan, PerilakuPolitik, PascaReformasi1998.DesaDawuhan,KecamatanPurwoasri,KabupatenKediripemahterjadi demonstrasipadalingkupDesayangmerekasebutdengan"Reformasi".ReformasitingkatDesa,pertama,reformasimembahastentanggajiyangditerima olehPlh,kedua,reformasi membahaspengembalianuangkhasDesadarihasil pengolahanbengkokkepalaDesaolehPlh,sertamembahastentangPjskepalaDesaDawuhan.Berdasarkan haldiatas,alasanpemilihanjuduldalamskripsiini, bahwasuatuperistiwaapabilatidakdituangkandalambentuktulisan,lambatlaun peristiwaituakanterlupakanatauhilangterkikisolehwaktu.Untukitu,peristiwa yangterjadipadatingkatlokaltetapimenunjukkansebuahdemokrasisuatu masyarakatdanmemunculkan perjuangankekuasaan(powerstruggle)perlu dituangkandalambentuktulisansecarailmiah.Adapunhal-halyangperluditelitilebihdalammengenaiperubahan perilakupolitikmasyarakatDesaDawuhanpascareformasi 1998adalah(1) Perilakupolitikmasyarakat DesaDawuhansebelumreformasi 1998,(2) TerjadinyaperubahanperilakupolitikmasyarakatDesaDawuhanmasaReformasi1998,(3)Perilakupolitikmasyarakat DesaDawuhanpascareformasi1998.Metodepenelitian menggunakanpendekatankualitatifdanberbentukdeskriptifanalitik.yaitupenelitianyangmenghasilkandatadeskriptifberupakata- katatertulis, lisan,danperilakudariorang-orangyangdiamatidanmenganalisanya.Penelitian yangdilakukanmerupakanusahamemperoleh informasideskriptifyaitu melukiskan sesuatuapaadanya.Sumberdataadalah kata-katadantindakan,dandidukungolehdata-databerupadokumen.Tehnikpengumpulandatayangdipakaiyaituobservasi,wawancara,dandokumentasi sumbertertulis.Prosesanalisisdatayangdilakukanyaitu,reduksidata,penyajian data,danmenarikkesimpulan.Penelitianinimemperoleh kesimpulanbahwasebelumtahun1998,perilakupolitikmasyarakat masaordebarn,Merekamemikirkankebutuhan perekonomiannyasehari-hari.Sosial,didasarkanpadasifatkekeluargaandan gotongroyong.Masyarakat lebihtundukpadaperangkatdesa.Perubahanperilakupolitikerareformasiadalahberubahnyainteraksiantarapemerintahdanmasyarakatdalamrangkaprosespembuatan,pelaksanaan,danpenegakan keputusanpolitik,masyarakatyangsemulapasifatas keputusanitumenjadiaktif sehinggamunculpowerstruggle.PerilakupolitikmasyarakatDesaDawuhan pascareformasi,diperoleh temuanbahwaperilakupolitikmasyarakatDesa tercerminkandarikegiatanatauperistiwapemilihankepalaDesadanpemilihanumum1999.Perilakumasyarakat,elitpemerintahan,tokohmasyarakatmengalamiperkembanganpesat.Mereka lebihaktiflagidalampolitik.sertasalingbekerja samaantaraelemenmasyarakatDesaDawuhan,KecamatanPurwoasri,KabupatenKediri
PENGEMBANGAN MEDIA SCRAPBOOK MATERI PERJUANGAN MAYOR SOEMADI DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN (1948-1949) UNTUK SISWA KELAS XI DI SMAN 1 KUTOREJO MOJOKERTO
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media scrapbook perjuangan Mayor Soemadi dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengetahui kelayakan media dari aspek pendahuluan, materi, bahasa dan gambar, penyajian, fisik dan tampilan. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode pengumpulan data observasi, wawancara, angket validasi dan kelayakan, serta lembar tes yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa media ini layak digunakan sebagai sumber belajar dengan kelayakan 89,38% pada uji coba pemakaian
PENERAPAN MODEL DEBAT RAPAT DEWAN KOTA UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI IIS 2 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BLITAR
ABSTRAK Penerapan model pembelajaran debat rapat dewan kota dilatarbelakangi rendahnya minat belajar siswa kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar dalam mata pelajaran sejarah. Penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru belum melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki masalah rendahnya minat siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar dengan menerapkan debat rapat dewan kota dalam mata pelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan debat rapat dewan kota dapat meningkatkan minat belajar siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar pada mata pelajaran sejarah. Dari hasil analisis minat siswa XI IIS 2 menunjukkan peningkatan siklus I sebesar 49% dan siklus II sebesar 77%
KETERLIBATAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 1955-1958 DI SURABAYA
KETERLIBATAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 1955-1958 DI SURABAYA Ahmad Fatkhur Rozak Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang E-Mail : [email protected] Abstract This thesis discusses the political dynamics that occurred in the Nahdlatul Ulama party in the years 1952-1958. This research was motivated by the problem of the extent to which NU was able to achieve success in the competitive political constellation that occurred at the national level and at the City level which was focused on Surabaya. The research method used in this study is the historical method. Historical methods used in the research process include topic selection, heuristics, criticism (internal and external), interpretation, and historiography. This research resulted in an analysis of the background of the formation of the Nahdlatul Ulama party, as well as its political journey since leaving the Masyumi party until the 1958 general election. In this study also produced an analysis of mass participation supporting the Nahdlatul Ulama party at the national level and at the Surabaya City level. Keywords: General Election, Nahdlatul Ulama, Surabaya City, 1955-1958 Abstrak Skripsi ini membahas mengenai dinamika politik yang terjadi pada partai Nahdlatul Ulama pada kisaran tahun 1952-1958. Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan tentang sejauh mana NU mampu meraih keberhasilan dalam persaingan konstelasi politik yang terjadi pada tingkat nasional maupun pada tingkat Kota yang difokuskan di Surabaya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah yang digunakan dalam proses penelitian ini meliputi pemilihan topik, heuristik, Kritik (interen dan eksteren), intepretasi, dan historiografi. Penelitian ini menghasilkan analisis tentang latar belakang pembentukan partai Nahdlatul Ulama, serta perjalanan politiknya sejak keluar dari partai Masyumi hingga pemilihan umum 1958. Dalam penelitian ini juga menghasilkan analisi mengenai partisipasi masa yang mendukung partai Nahdlatul Ulama di tingkat nasional maupun di tingkat Kota Surabaya. Kata Kunci: Pemilihan Umum, Nahdlatul Ulama, Kota Surabaya, 1955-1958 Perkembangan sistem demokrasi di Indonesia dapat dilihat pada masa pra-kemerdekaan dimana pada masa ini masyarakat memiliki peran yang cukup besar dipemerintahan. Budihardjo, (1988:69) menjelaskan bahwa perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surutnya. Dipandang dari sudut perkembangnya demokrasi di Indonesia dalam sejarahnya dapat dibagi kedalam tiga masa yaitu (1). Masa Republik Indonesia I adalah masa demokrasi (konstitusional) yang menonjolkan peranan parlemen serta partai-partai dan karena itu dapat dikatakan sebagai masa demokrasi parlementer. Masa ini berjalan sejak tahun 1945-1959; (2) Masa Republik Indonesia II yaitu masa demokrasi terpimpin yang dalam banyak aspek telah mengalami banyak penyimpangan dari demokrasi konstitusional yang secara formal merupakan landasanya. Masa ini berlaku dari tahun 1959-1965; (3). Masa Republik Indonesia III yaitu masa demokrasi Pancasila yang merupakan demokrasi konstutisional yang menonjolkan sistem presidensial. Masa ini berlaku dari tahun 1965 hingga saat ini. Keluarnya NU dari Partai Masyumi merupakan sebuah penanda babak baru yang dimulai oleh NU dalam perannya di kanca politik nasional. Karena dengan keluarnya NU dari partai Masyumi maka NU sudah tidak lagi menjalankan langkah politiknya dibawah partai lain melainkan berjalan lewat partainya sendiri. NU melakukan penarikan diri dari partai Masyumi pada bulan Oktober 1952. Langkah ini diambil dan dikukuhkan dalam kongres NU yang dilakukan di Kota Palembang (Noer, 1987:81). Terdapat berbagai alasan yang melatarbelakangi penarikan diri yang dilakukan oleh NU dari partai Masyumi. Salah satu alasan kuat adalah mengenai kursi Menteri Agama dalam kabinet. Bruinessen (2008:57) menjelaskan bahwa Departemen Agama merupakan satu-satunya bidang pemerintahan yang dapat diakui NU sebagai haknya. Namun pada proses pergantian kabinet NU tidak mendapatkan hak yang sudah menjadi lahanya di dalam kabinet. Lebih jauh lagi Ali Haidar menjelaskan bahwa sebagian besar anggota DPP Masyumi menghendaki agar NU melepaskan jabatan Menteri Agama yang sudah didapatkan oleh NU sebanyak tiga kali berturut-turut mulai periode 1949-1950, 1950-1951, hingga periode 1951-1952. Dilain pihak NU tetap menghendaki agar jabatan Menteri Agama tetap diberikan kepada NU, karena dengan cara itu eksistensi NU dalam pentas politik nasional dapat tetap berlanjut. Selain itu dengan adanya issue tentang akan dibentuknya zaken kabinet semakin memperbesar kekhawatiran NU karena kurangnya tenaga terampil dan ahli untuk memimpin suatu kementrian, maka NU memberikan harapan yang begitu besar akan tempatnya di kursi Menteri Agama karena NU merasa memiliki tenaga dibidang itu. Menanggapi sikap NU yang tetap ingin mendapatkan kursi Menteri Agama, kubu Muhammadiyah memiliki pendapat lain dimana Muhammadiyah juga menghendaki jabatan Menteri Agama dengan alasan karena NU telah memimpin Menteri Agama selama tiga kali berturut-turut maka sudah sepantasnya Muhammadiyah mendapatkan gilirannya memegang jabatan Menteri Agama (Haidar, 1998:109). Setelah dengan resmi NU melakukan penarikan diri dari partai Masyumi dan berkeinginan untuk melanjutkan kiprah politiknya di kancah nasional, NU dihadapkan dengan masalah pembentukan partai dan penyusunan kembali anggota yang akan dibutuhkan untuk membentuk sebuah partai baru. Selain itu NU juga dihadapkan dengan ketidakpastian mengenai bagaimana jalan dan perilaku yang harus diambil sebagai partai politik. Pada awal berdirinya, NU belum memiliki program kebijakan yang rinci dan posisinya belum jelas dalam kanca politik nasional. Salah satu yang menjadi sorotan mengenai ketidakjelasan posisi NU, adalah menyangkut sikap politiknya terhadap dua partai besar pada masa ini yaitu PNI dan Masyumi. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh NU, menyatakan akan memelihara solidaritas Islam melalui kerjasama dengan Masyumi dan partai-partai Islam lainya. Namum disisi lain NU memiliki kecenderungan kurang serasi dengan Masyumi dimana banyak perselisihan-perselisihan tajam antara kedua partai ini. Dengan posisi ini maka banyak kemungkinan NU akan cenderung condong untuk berkoalisi dengan PNI dengan asumsi bahwa NU dapat menguatkan kedudukan PNI sebagai partai besar dan memberikan kerugian kepada Masyumi (Fealy, 2009:129-130). Perselisihan yang terjadi antara NU dengan Masyumi terus berlanjut meskipun NU telah resmi manarik diri dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri. Kemelut yang terjadi antara kedua pihak terus terjadi bahkan dibeberapa daerah cukup intens. Muncul isu dan tuduhan dari pihak Masyumi bahwa NU keluar dari Masyumi memiliki tujuan untuk mendirikan darul-Islam dengan alasan bahwa Kartosuwirjo pada masa sebelumnya keluar dari Masyumi dan mendirikan DI (darul-Islam). Provokasi yang timbul dan bersifat menyudutkan NU mengakibatkan NU mengambil jalan untuk menghentikan provokasi ini lewat Jaksa Agung. Provokasi yang timbul dari Masyumi ini dapat dikatakan sebagai penyebab adanya kekhawatiran Masyumi tentang perkembangan dari NU yang dapat menjadi pesaing Masyumi di pemerintahan (Haidar,1998:147). Pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang merupakan inti dari kehidupan demokratis (Jurdi, 2014:139). Dengan dasar konsep ini maka pembahasan mengenai pemilihan umum mutlak diperlukan untuk mengetahuai sejauh mana keberhasilan partai NU dapat mewakili kepentingan masyarakat pendukungnya untuk mencapai tujuan di dalam pemerintahan Indonesia. Selain itu pembahasan mengenai pemilihan umum juga diperlukan untuk mengetahui dinamika politik yang terjadi dalam partai NU. Pemilihan umum 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sekala nasional yang diselenggarakan di Indonesai. Hal ini menciptkan suasana kehawatiran tidak hanya bagi NU yang baru berdiri menjadi sebuah partai independen namun juga menjadi kehawatiran bagi partai-partai besar yang sudah lebih dulu berdiri namun belum pernah menghadapi pemilihan umum secara nasional. Meskipun NU hanya memiliki persipan sekitar tiga tahun setelah berdiri menjadi partai politik NU berhasil meraih prestasi yang cukup gemilang pada pemilihan umum 1955. Dalam pemilihan umum ini akan terlihat bagaimana NU dalam waktu yang singkat mampu memberikan pengaruh yang besar dalam pemilihan umum. Selain itu juga dapat terlihat bagaimana dinamika politik yang terjadi dalam NU dari masa awal menjelang pemilihan umum hingga munculnya hasil pemilihan umum (Haidar, 1998:169). Hasil pemilihan umum 1955 juga memiliki peranan penting yang dapat digunakan sebagai alat untuk melihat perkembangan politik aliran di Indonesia. pasca kemerdekaan hinggatahun 1950 terdapat tiga aliran politik di Indonesia, pertama adalah aliran politik dengan dasar ketuhanan seperti Masyumi, PSII, Partai Katolik Republik Indonesia, Parkindo, kedua adalah aliran partai yang memiliki dasar Kebangsaan, yang termasuk dalam aliran ini antara lain PNI, PIR, Parindra, Partai Wanita Rakyat, ketiga adalah aliran partai yang memiliki dasar Marxisme, antara lain PKI, Partai Sosialis, PSI, Partai Murba, Partai Buruh Indonesia, Partai Buruh. NU sebagai partai politik baru masuk pada tahun 1953 yang termasuk dalam aliran yang berlandaskan ketuhanan. Dan perkembangan aliran politik selanjutnya dapat dilihat setelah munculnya hasil pemilihan umum 1955 (Maulida, 2018:90). Selain itu penggambaran aliran politik partai di Indonesia juga dapat dilakukan dengan dasar agama sebagai pembeda aliran seperti dalam tabel berikut : Tabel 1 Aliran dan Identifikasi Partai Di Indonesia (sumber:Sanit,2012:26) Agama Partai Tradisional Partai Moderen Santri NU Masyumi Kristen Parkindo, Partai Katolik Sekuler/Islam non Santri PNI PKI,PSI Menghadapi pemilihan umum yang tidak lama lagi akan diselenggarakan NU mengambil langkah untuk mendapat simpati sebanyak-banyaknya dari masyarakat dengan melakukan kampanye. Untuk itu NU pada tanggal 16 Mei 1953 membentuk sebuah dewan yang diberi tugas khusus untuk menangani masalah pemilihan umum, dewan khusus yang dibentuk oleh NU diberi nama Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatul Ulama yang disingkat Lapunu. Dalam tugasnya Lapunu memiliki tanggung jawab untuk mengatur segala permasalahan yang menyangkut pemilihan umum meliputi, pengaturan logistik, pelatihan juru kampanye, perumusan strategi, penyusunan dan pemeriksaan daftar para calon, pengumpulan dana, mengatur hubungan dengan pejabat yang berwenang, serta pengumpulan hasil surat suara yang diperoleh dalam pemilihan umum. Lapunu pada awal pendirianya diketuai oleh Surjaningprodjo, Bachdim sebagai Wakil Ketu, dan H. Idham Chalid sebagai Sekertarisnya anamun kemudian mengalami pergantian pada tahun 1954 dengan menjadikan Idham Chalid sebagai ketuanya (Fealy, 2009:178). Gambaran hasil pemilihan umum 1955 secara nasional sudah dapat terlihat pada 8 Oktober 1955. Hasil yang paling menarik untuk dicermati dari perolehan suara setiap partai adalah perolehan suara dari partai NU yang secara mengejutkan mampu mendongkrak jumlah wakilnya di parlemen yang sebelumnya hanya berjumlah 8 menjadi 45 kursi. Disisi lain hasil yang juga mengejutkan juga diperoleh partai Masyumi yng memperoleh hasil kurang memuaskan pada pemilihan umum 1955, khususnya diwilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur (Feith, 1971:83). Berikut adalah hasil pemilihan umum 1955 yang dipaparkan dalam bentuk tabel: Tabel 2 Hasil Pemilihan Umum Parlemen (sumber:Feith,1971:84) No PARTAI Jumlah Suara Sah Presentase Seluruh Suara Jumlah kursi Jumlah Kursi Dalam Parlemen Sementara 1 PNI (Partai Nasional Indonesia) 8.434.653 22,3 57 42 2 Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) 7.903.886 20,9 57 44 3 Nahdlatul Ulama 6.955.141 18,4 45 8 4 PKI (Partai komunis Indonesia) 6.179.914 16,4 39 17 5 PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) 1.091.160 2,9 8 4 6 Parkindo (Partai Kristen Indonesia) 1.003.325 2,6 8 5 7 Partai Katolik 770.740 2,0 6 8 8 PSI (Partai Sosialis Indonesia) 753.191 2,0 6 14 9 IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) 541.306 1,4 4 10 Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 483.014 1,3 4 1 11 PRN (Prtai Rakyat Nasional) 242.125 0,6 2 13 12 Partai Buruh 224.167 0,6 2 6 13 GPPS (Gerakan Pembela Panca Sila) 219.985 0,6 2 14 PRI (Partai Rakyat Indonesia) 206.261 0,5 2 15 PPPRI (Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia) 200.419 0,5 2 16 Partai Murba 199.588 0,5 2 4 17 Baperki (Badan Permusyawarata Kewarganegaraan Indonesia) 178.887 0,5 1 18 PIR (Partai Indonesia Raya)- Wongsonegoro 178.481 0,5 1 1 19 Gerinda 154.792 0,4 1 20 Permai (Persatuan Marhaen) 149.287 0,4 1 21 Partai Persatuan Daya 1 22 PIR (partai Indonesia Raya) Hazairin 114.644 0,3 1 18 23 PPTI (Partai Persatuan Tarikah Islam) 85.131 0,2 1 24 AKUI 81.454 0,2 1 25 PRD (Partai Rakyat Desa) 77.919 0,2 1 26 PRIM (Partai Rakyat Indonesia Merdeka) 72.523 0,2 1 27 Acoma (Angkatan Communis Muda) 64.514 0,2 1 28 R. Soedjono Prawirosoedarso dan kawan-kawan 53.305 0,1 1 29 Partai-partai, organisasi-organisasi, dan Calon-calon Perorangan 1.022.433 2,7 46 Total 37.785.299 100,00 257 233 Dari tabel ini dapat dilihat bahwa NU sebagai partai baru mampu meraih suara yang cukup besar dengan duduk pada peringkat ke tiga dengan meraih suara sebesar 18,4% dan berhasil mendapatkan 45 kursi diparlemen sebelumnya hanya memiliki 8 kursi di parlemen. Keberhasilan yang didapat NU kemudian berlanjut pada pemilihan anggota konstituante pada 15 Desember 1955. Tabel 3 Suara Keseluruhan Partai-partai pada Pemilihan Umum Parlemen dan Konstituante (sumber:Feith, 1971:94). No Partai Suara dalam Parlemen Suara dalam Konstituante Perbedaan 1 PNI (Partai Nasional Indonesia) 8.434.653 9.070.218 +63.565 2 Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) 7.903.886 7.789.619 114.267 3 Nahdlatul Ulama 6.955.141 6.989.333 +34.192 4 PKI (Partai komunis Indonesia) 6.179.914 6.232.512 +55.598 5 PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) 1.091.160 1.059.922 31.238 6 Parkindo (Partai Kristen Indonesia) 1.003.325 988.810 14.515 7 Partai Katolik 770.740 748.591 22.149 8 PSI (Partai Sosialis Indonesia) 753.191 695.932 57.259 9 IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) 541.306 544.803 +4.979 10 Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 483.014 465.359 17.655 11 GPPS (Gerakan Pembela Panca Sila) 219.985 152.892 67.093 12 PRN (Prtai Rakyat Nasional) 242.125 220.652 21.473 13 PPPRI (Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia) 200.419 179.346 21.073 14 Partai Murba 199.588 248.633 49.045 15 Partai Buruh 224.167 332.047 +107.880 16 PRI (Partai Rakyat Indonesia) 206.261 134.011 72.250 17 PIR (Partai Indonesia Raya)- Wongsonegoro 178.481 162.420 16.061 18 PIR (partai Indonesia Raya)Hazairin 114.644 101.509 13.135 19 Permai (Persatuan Marhaen) 149.287 164.386 +15.099 20 Baperki (Badan Permusyawarata Kewarganegaraan Indonesia) 178..887 160.456 18.431 21 Gerinda 154792 157.976 +3.184 22 Partai Persatuan Daya 146.054 169.222 +23.168 23 PRIM (Partai Rakyat Indonesia Merdeka) 72.523 143.907 +71.375 24 AKUI 81.454 143.907 +71.375 25 Acoma (Angkatan Communis Muda) 64.514 55.844 8.670 26 PPTI (Partai Persatuan Tarikah Islam) 85.131 74.913 10.218 27 PRD (Partai Rakyat Desa) 77.919 39.278 38.641 28 R. Soedjono Prawirosoedarso dan kawan-kawan 53.305 38.356 14.949 Dari tabel hasil pemilihan umum parlemen dan konstituante memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda. Pola dari hasil pemilihan anggota parleman berlanjut ke pemilihan anggota konstituante dengan memperlihatkan sedikit perubahan. Secara umum empat partai besar yang mendapatkan suara terbanyak pada pemilihan parlemen kembali menjadi partai pemenang pada pemilihan konstituante dengan mendapatkan sedikit tambahan suara. Sedangkan partai partai lainya mengalami penurunan jumlah suara yang di dapat. Salah satu yang menarik dari hasil pemilihan konstituante adalah jumlah suara yang didapat oleh Masyumi yang mengalami penurunan sebanyak 114.267 suara. Hasil yang cukub baik didapat oleh NU dengan berhasil menambah perolehan suarnya sebanyak 34.192 suara, meskipun kenaikan suara yang diperoleh NU tidak lebih besar dari perolehan kenaikan suara yang didapat oleh PNI dan PKI yang masing-masing mendapat kenaikan suara sebasar 638.565 dan 55.598 suara (Feith, 1971:94). Dinamika politik yang terjadi secara makro atau nasional dalam pemilihan umum 1955 memiliki perbedaan dengan dinamika yang terjadi dalam sekala yang lebih kecil dalam hal ini lingkup Kota Surabaya. Perbedaan dinamika yang ada pada lingkup Kota Surabaya dapat dilihat dari hasil pemilihan umum 1955 yang diadakan di Surabaya. Keberhasilan NU meraih peringkat ke tiga perolehan suara di tingkat nasional belum tentu dapat diraih di tingkat Kota Surabaya. Berbagai faktor mulai dari sosial, ekonomi, politik, serta agama dapat mempengaruhi NU sebagai partai politik untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Surabaya. Berikut tampilan dalam bentuk tabel hasil pemilihan umum di Kota Surabaya. Tabel 4 Perolehan Suara Pemilihan Umum 1955 di Masing-masing Lingkungan di Kota Surabaya (sumber:koran Perdamaian, 3 Oktober 1955) No Lingkungan PKI NU PNI Masyumi PSI 1 Tambaksari 3.878 842 741 159 76 2 Rangkah 4.361 803 1.342 234 41 3 Jagalan 2.347 1.523 910 268 121 4 Peneleh 828 617 100 273 470 5 Ketabang 1.355 463 565 108 90 6 Pacarkembang 3.696 1.211 1.209 356 59 7 Tegalsari 7.292 1.536 1.933 389 151 8 Genteng 2.058 804 1.074 3421 124 9 Sawahan 3.009 691 1.327 385 234 10 Eembong Kaliasin 4.542 1.226 1.283 368 176 11 Kedungdoro 6.173 1.512 1.960 514 115 12 Simo 5.881 905 1.839 281 47 13 Wonokromo 4.451 1.965 509 641 174 14 Ngagel 5.565 2.205 1.103 336 68 15 Darmo I 2.982 444 1.321 251 283 16 Darmo II 3.532 1.224 858 233 69 17 Darmo III 5.857 505 3.051 631 262 18 Gubeng 6.870 1.113 2.360 414 362 19 Bongkaran 298 637 180 100 29 20 Pabean Cantian 148 479 56 63 14 21 Ampel 553 1.607 274 2.102 15 22 Nyamplungan 1.115 3.551 517 1.081 8 23 Kampung Baru 3.534 1.677 755 359 37 24 Semampir 2.415 3.524 692 323 8 25 Ujung 788 433 966 338 55 26 Kapasan 1.984 652 496 119 138 27 Srengganan 1.317 3.208 394 206 6 28 Simokerto 2.658 940 729 288 101 29 Sidodadi 1.280 1.922 306 389 31 30 Kapasari 2.415 1.305 699 176 122 31 Sidokapasan 2.479 3.223 527 299 47 32 Tembokdukuh 3.879 1.862 1.169 406 50 33 Krembangan Utara 3.534 1.677 755 359 37 34 Krembangan Selatan 2.649 1.223 1.064 340 120 35 Tanjung Perak 2.451 960 590 167 67 36 Bubutan 1.430 1.118 765 279 128 37 Aloon-Aloon Contong 640 980 477 231 168 Jumlah 109.092 50.567 32.772 16.887 4.103 Dari hasil yang suda di tampilkan secara rinci dalam tabel sebelumnya memperlihatkan NU hanya dapat meraih tempat ke dua perolehan suara terbanyak di Surabaya dibawah PKI. NU tidak mampu mengungguli PKI yang mendapatkan suara dengan jumlah 109.092 dan hanya mampu mendapat suara setengah dari jumlah suara yang diperoleh PKI sejumlah 50.567. Dari hasil ini memperlihatkan keberhasilan PKI dalam merebut hati dari masyarakat Surabaya. PKI lewat usaha kampanye yang dilakukan dengan strategi jemput bola lewat usaha membantu buruh yang bermasalah dengan atasannya terbukti mampu meraih simpati dari masyarakat. Selain itu PKI juga memantapkan strateginya dengan melakukan gerakan ditingkat bawah dengan membentuk struktur partai ditingkat ranting dan grup (Margana, 2010:278). Sumber lain yang menyajikan hasil dari pemilihan umum 1955 di Surabaya dapat dilihat dalam koran De Tijd edisi 30 Juli 1957 yang memberikan hasil kemenangan bagi PKI dan menempatkan NU diposisi ke dua serta PNI diposisi ke tiga. PKI berhasil meraih kemenangan dengan jumlah suara 23.000 yang dibuntuti NU diperingkat ke dua dengan perolehan 9.000 (De Tijd,1957). Jika dibandingkan dengan sumber sebelumnya maka jumlah suara yang didapatkan oleh setiap partai terdapat perbedaan yang cukup besar namun secara keseluruhan urutan pemenang pemilihan umum 1955 di Sur