SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    1821 research outputs found

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN EXPLOSION BOX PADA MATERI PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA KELAS X AK 1 SMK NEGERI 12 MALANG

    No full text
    Pembelajaran sejarah di SMK dianggap kurang penting karena siswa SMK lebih memprioritaskan pelajaran yang sesuai dengan jurusan  sehingga motivasi belajar sejarah sangat kurang. Kebutuhan dunia pendidikan akan adanya media pembelajaran semakin lama semakin tinggi dan semakin beragam. Kurangnya media pembelajaran menyebabkan pembelajaran sejarah dinilai sangat membosankan, oleh sebab itu peran media pembelajaran dalam pembelajaran sejarah sangat penting. Materi sejarah dapat disampaikan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan inovatif. Salah satu media pembelajaran yang menarik dan inovatif adalah explosion box. Media pembelajaran ini berbentuk box yang dapat terbelah menjadi empat bagian dan setiap bagian terdapat materi Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Penelitian pengembangan ini sudah melalui tahap validasi dan uji coba untuk menguji keefektifitasan produk

    IMPLEMENTASI PELAKSANAAN KECAKAPAN HIDUP ABAD 21 PADA MATA PELAJARAN SEJARAHINDONESIA KELOMPOK WAJIBDI SMA NEGERI 5 MALANGSEMESTER GENAPTAHUN AJARAN 2018/2019

    No full text
    IMPLEMENTASI PELAKSANAAN KECAKAPAN HIDUP ABAD 21 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELOMPOK WAJIB DI SMA NEGERI 5 MALANG SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2018/2019 Harbatul Ahkam Arrozy, Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]   ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat mengenai pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang. Penelitian didasarkan pada masalah yang ditemukan peneliti saat melakukan observasi dan wawancara. Peneliti ingin melihat bagaimana menerapkan dan melaksanakan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah sebagai salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi kurangnya kualitas SDM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualititatif deskriptif. Metode yang digunakkan yaitu metode penelitian oleh Moeloeng yang dimaksudkan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah..   Kata Kunci: Kecakapan Hidup Abad 21, Sejarah, Implementasi. ABSTRACT: The purpose of this study is to see about the implementation of 21st century life skills growth in history subjects in Malang 5 Public High School. Research is based on problems found by researchers when conducting observations and interviews. The researcher wants to see how to implement and implement 21st century life skills in history subjects as one of the government's steps to overcome the lack of quality human resources in Indonesia. This study uses descriptive qualitative research methods. The method used is the method of research by Moeloeng which means that qualitative research intends to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects, such as behavior, perceptions, views, motivations, daily actions, holistically and with methods of description in the form of words and languages (narrative) in a special context that is natural by utilizing various natural methods.   Key Word: 21’st Century Life Skill, History, Implementation. Pendidikan nasional di Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membangun watak peserta didik seperti yang dituangkan pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi:”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017). Pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (SMA Negeri 5 Malang, 2018) Demi mewujudkan kepentingan nasional, pendidikan di Indonesia mempersiapkan peserta didiknya untuk bisa survive di abad 21 ini yang mengedepankan informasi dan teknologi. Untuk itu pemerintah memberikan solusi dalam pendidikan dengan menerapkan kecakapan hidup abad 21 di sekolah. Penumbuhana kecakapan hidup abad 21 disiapkan untuk peserta didik agar bisa survive di abad 21. Adapun 4 komponen kecakapan hidup abad 21 adalah berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Implementasi kecakapan hidup abad 21 juga dilakukan pada pembelajaran sejarah. Menarik untuk diteliti mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Khususnya Sejarah Indonesia. Terkait bagaimana perencanaan dan pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 ini pada pembelajaran sejarah Indonesia oleh guru sejarah. Terkait dengan penelitian yang akan dilakukan di SMA Negeri 5 Malang, peneliti telah melakukan observasi di kelas E2. Dipilihnya kelas E2 disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya kelas E2 merupakan salah satu kelas X yang baru saja masuk SMA dan cocok menjadi obyek dalam penelitian ini. Saat melakukan observasi pendahuluan pada tanggal 15-19 Maret 2019, peneliti telah melakukan pengamatan pada proses pembelajaran di kelas E2. Hasil yang ditemukan adalah guru membuat kelompok dan memberi tugas pada peserta didik untuk mencari penjelasan mengenai gambar yang ditampilkan di proyektor. Disini ditemukan salah satu cara guru untuk menerapkan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Selain itu peneliti juga mendokumentasikan fasilitas penunjang kecakapan hidup abad 21, seperti proyektor, LCD, dan fasilitas penunjang lainnya. Pada 21 maret 2019, peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui implementasi kecakapan hidup abad 21. Peneliti melakukan wawancara dengan Dedi Pambela, S.Pd selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Dalam wawancara itu peneliti mendapatkan beberapa fakta mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 seperti kesiapan sekolah dalam menghadapi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang, faktor penghambat dan faktor pendukung penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Pada tanggal 25 maret 2019, peneliti kembali melakukan wawancara dengan dua narasumber. Pertama dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku kepala sekolah. Peneliti mendapat beberapa fakta penting mengenai implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang seperti SMA Negeri 5 Malang yang menjadi sekolah rujukan dan diadakan workshop untuk menyiapkan para staf pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Wawancara yang kedua, peneliti lakukan dengan Hariati, SH selaku guru sejarah. Peneliti mendapat beberapa fakta dan data mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang. Data dan fakta yang didapat seperti cara mengimplementasikan 4 kecakapan dalam pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan data lainnya. Tidak berhenti sampai disitu, peneliti juga melakukan wawancara kepada peserta didik selaku obyek dari penumbuhan kecakapan hidup abad 21 ini. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 26 maret 2019. Disini peneliti mendapat fakta bahwa peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran dan kegiatan literasi di sekolah dilakukan 2 minggu sekali. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, peneliti ingin menyatukannya dalam sebuah penelitian. Untuk itu penelitian ini dibuat. Penelitian ini penting, karena implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang pada pembelajaran sejarah Indonesia merupakan salah satu solusi yang dihadirkan pemerintah untuk menganggulangi rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Terdapat beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1. Bagi Sekolah Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan sebagai salah satu bahan untuk evaluasi pembelajaran, mengembangkan perangkat kurikulum yang baik untuk menunjang profesionanlisme sekolah.   2. Bagi Guru Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat memberikan inovasi baru bagi pembelajaran dalam menciptakan perangkat pembelajaran yang kreatif dan kritis. Sehingga guru dapat menyampaikan pembelajaran sejarah dengan lebih menarik.   3. Bagi Siswa Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan siswa untuk mengembangkan kreatifitas dan pengetahuannya secara kritis dan mandiri. Berkaitan dengan pembelajaran sejarah siswa dapat merekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau yang sampai sekarang masih ada dalam kehidupan sekitar melalui pengalaman belajar baru.   METODE Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Menurut Moleong dalam Arifin, (2010:26) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Peneliti memakai metode ini dengan menjadikan diri peneliti menjadi insturmen kunci dalam penelitian ini. Peneliti hanya melihat pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dengan mengamati dan menjadikan peserta didik, guru dan pelaksanaan pembelajaran sebagai obyek penelitian. Nasution (dalam Sugiyono, 2012 : 306) mengemukakan : “Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrument utama. Alasannya ialah bahwa segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakkan, bahkan hasil yang diharapkan, tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”. Dengan demikian peneliti menentukan pada penelitian ini. Peneliti bertindak sebagai instrument dan segala aspek pembelajaran serta peserta didik dan guru adalah obyek penelitian. Penelitian ini juga membutuhkan sumber primer sebagai penunjang pada penelitian ini. Adapun sumber primer menurut Sugiyono (2012 : 308-309) “sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen”. Sumber primer yang didapat dari penelitian ini terdapat dari wawancara dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku kepala sekolah, Dedi Pambela, S.Pd selaku wakakur, Hariyati, SH selaku guru sejarah dan beberapa peserta didik. Adapun data sekunder penelitian berupa dokumen. Dokumen tersebut berupa Pedoman Pelaksanaan Panduan Implementasi Kecakapan Hidup Abad 21, Buku sejarah buku guru sejarah, buku siswa sejarah dan foto sekolah. Setelah mendapatkan data dari sumber primer dan sumber sekunder dilakukan analisis. Karena tidak semua data dapat dimasukkan dalam penelitian. Analisis data penelitian Menurut Arifin (2010:31) dibagi menjadi 3 yaitu : 1.Jenis datanya berupa uraian kalimat (deskriptif), dokumen pribadi, catatan lapangan hasil observasi partisipatif, catatan ucapan dari hasil wawancara mendalam, dan beragam tindakan responden atau obyek penelitian, serta dokumen dokumen lainnya 2. Analisis data penelitian bersifat interaktif, siklus dan induktif 3. Proses analisis data berlangsung secara terus menerus, dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Adapun langkah langkah proses analisis data menurut Miles dan Huberman (2009:34) adalah sebagai berikut : a. Mereduksi data, yaitu peneliti menelaah kembali seluruh catatan yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumen dokumen. Reduksi data adalah kegiatan mengabstraksi atau merangkum data dalam suatu laporan yang sistematis dan difokuskan kepada hal hal yang inti. Dalam penelitian ini, seluruh data baik dari sumber primer maupun sumber sekunder sudah dirangkum dan dijadikan satu menjadi laporan yang sistematis. Data-data seperti wawancara dan dokumentasi serta data seperti RPP, Prota dan Promes sudah dijadikan satu. b. Display data, yakni merangkum hal-hal pokok dan kemudian disusun dalam bentuk deskripsi yang naratif dan sistematis sehingga dapat memudahkan untuk mencari tema sentral sesuai dengan fokus atau rumusan unsur-unsur dan mempermudah memberi makna. Pada penelitian ini, semua data yang telah dijadikan satu dipilah-pilah yang mengenai data dan fakta yang cocok untuk dimasukkan dalam penelitian ini. Dari wawancara dan dokumentasi pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang sudah di pilah-pilah dengan baik dan diambil data-data yang diperlukan saja sesuai tema. c. Penarikan kesimpulan adalah kegiatan terakhir yang dilakukan dan merupakan pokok dari hasil penelitian. Penarikan kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal dan diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Setelah mendapatkan rangkuman, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang berjalan dengan baik. Sebagai salah satu solusi yang dihadirkan oleh pemerintah, masih terdapat kekurangan dalam implementasinya. Namun, untuk menutupi kekurangan itu SMA Negeri 5 Malang menggunakan faktor-faktor pendukung untuk menutupinya.   HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi kecakapan hidup abd 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dibagi menjadi 3 tahapan dalam pelaksanaannya yakni :   A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mengenai format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pelajaran sejarah tidak ada format khusus dari Dinas Pendidikan. RPP harus mencakup factual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Dan pada tujun pembelajarannya harus menyebutkan komponen 4c. Pembuatan RPP dilakukan sendiri oleh guru kemudian dimusyawarahkan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota. Komponen-komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 5 Malang sudah mencakup komponen-komponen yang harus ada seperti yang disebutkan sebelumnya. Berikut komponen-komponen yang ada pada RPP yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri 5 Malang. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh Ibu Hariyati sedikit tidak sesuai dengan RPP yang diharapkan dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21. Karena dalam RPP yang dibuat oleh Ibu Hariyati pada kolom tujuan tidak menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran untuk menumbuhkan 4 kecakapan yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Selebihnya sudah sesuai dan rinci karena disetiap langkah-langkah pembelajaran diperinci dengan alokasi waktu untuk penumbuhan salah satu kecakapan.    B. Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, guru sejarah SMA Negeri 5 Malang memiliki tekad untuk menubuhkan kecakapan hidup abad 21 pada peserta didik. Hal ini terlihat melalui rangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan hingga kegiatan penutup. Guru sejarah menunmbuhkan kecakapan hidup abad 21 yang memiliki 4 poin penting yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreatif kepada peserta didik dengan berbagai cara.   1) Kegiatan Pendahuluan Peneliti menemukan fakta pada saat melakukan observasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran, yang dilakukan oleh guru sejarah adalah mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Guru sejarah menanyakan kabar kepada peserta didik agar terjalin komunikasi diantara guru dan peserta didik. Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik dapat menerima dengan baik pelajaran yang akan disampaikan. Dan dapat terjalin keakraban antara guru dan murid. Ini merupakan salah satu penumbuhan poin dari kecakapan hidup abad 21 yakni komunikasi. Setelah keakraban antara guru dan peserta didik terjalin baik, kemudian guru mulai menjelaskan mengenai pelajaran/materi yang akan disampaikan. Guru memulainya dengan menyambungkan materi yang lalu dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini penting agar peserta didik dapat mengikuti jalannya pelajaran sejarah secara kronologis. Dan tidak menghilangkan materi yang lalu dengan materi yang akan diajarkan. Secara keseluruhan dari guru sejarah, peneliti memberikan kesimpulan bahwa guru sejarah melakukan apersepsi selama 5-10 menit setiap pertemuan dengan tujuan menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik guna mengikuti proses pembelajaran. Guru sejarah melakukan beberapa kegiatan seperti ini salam, berbincang-bincang dengan peserta didik, dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar serta absensi.   2) Kegiatan Inti Berdasarkan obeservasi yang dilakukan oleh peneliti, guru sejarah menjelaskan materi dengan santai dan menbuat peserta didik terbawa akan sejarah yang dijelaskan. Peserta didik seolah masuk kedalam situasi sejarah yang dijelaskan oleh guru sejarah. Di sela-sela penjelasan, guru sejarah juga memberikan ruang pada peserta didik untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengerti. Tidak hanya itu penjelasan guru sejarah pun terkesan menyenangkan karena diisi dengan beberapa guyonan yang membuat suasana menjadi hangat. Pada kegiatan inti, guru mengimplementasikan berbagai kecakapan hidup abad 21 dengan melakukan berbagai cara. Contohnya, guru menumbuhkan kecakapan berpikir kritis peserta didik dengan cara memberikan soal-soal HOTS (High Order Thingking Skills). Soal-soal dalam HOTS merupakan soal-soal yang memerlukan cara berpikir yang lebih tinggi. Soal-soal HOTS adalah soal-soal yang susah untuk diselesaikan, soal HOTS adalah soal yang melebihi tingkat berpikir pada kelasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan ceramah sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan kelompok untuk mencari dan mendiskusikan mengenai gambar yang diberikan oleh guru sejarah. Dari kegiatan ini, guru sejarah menumbuhkan poin komunikasi. Karena dalam sebuah kelompok dibutuhkan komunikasi yang baik antar individu untuk menghadirkan sebuah karya yang baik. Tidak hanya komunikasi yang terdapat didalamnya, poin kreatif juga muncul didalamnya. Kreatifitas dibutuhkan oleh kelompok untuk menyusun berbagai sumber/fakta menjadi sebuah karya yang baik dan dapat dimengerti.   3) Kegiatan Penutup Pada kegiatan penutup peserta didik diberikan pertanyaan terkait materi maupun peserta didik diberi kesempatan bertanya tentang permasalahan yang belum dipahami. Hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan oleh peniliti. Namun, faktanya masih sedikit sekali peserta didik yang aktif bertanya pada guru. Peneliti dapat memberikan kesimpulan dalam proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah sudah sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran yang sudah sangat baik dilakukan oleh Ibu Hariati didasarkan pada observasi pelaksanaan pembelajaran dan keseuaian dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan. Proses penumbuhan kecakapan hidup abad 21 sudah terlaksana denga cukup baik 4 poin 4c yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif sudah terlaksana dengan cukup baik berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian.   C. Evaluasi Penilaian hasil belajar pada pembelajaran dalam rangka mengembangkan kecakapan abad 21 pada dasarnya sama dengan penilaian hasil belajar pada umumnya sesuai dengan peraturan yang diberlakukan. Namun, selain harus memenuhi prinsip-prinsip dasar penilaian, dalam rangka memenuhi tuntutan kecakapan Abad 21, maka penilaian hasil belajar juga harus dapat  mengukur penguasaan peserta didik terhadap kualitas karakter, kompetensi, dan pengauasaan literasi, serta dapat mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi / Higher Order Thinking Skills (HOTS) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017 : 25). Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Penilaian hasil belajar oleh pendidik di SMA dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester. Penilaian tengah semester merupakan penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang cakupan materinya terdiri atas beberapa KD dan pelaksanaannya tidak dikoordinasikan oleh satuan pendidikan. Penilaian harian dapat berupa ulangan, pengamatan,penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan yang digunakan untuk: 1. mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik; 2. menetapkan program perbaikan dan/atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi; 3. memperbaiki proses pembelajaran; dan 4. menyusun laporan kemajuan hasil belajar. Laporan penilaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat (sangat baik, baik, cukup, atau kurang) dan dilengkapi dengan deskripsi. Laporan penilaian pengetahuan dan keterampilan berupa angka (0-100), predikat (A, B, C, atau D), dan deskripsi (Direktorat Pembinaan Sekolah Atas, 2017: 12-13). Dalam proses penilailan yang dilakukan oleh ibu Hariati sudah menggunakan penialian yang berbasis kecakapan hidup abad 21. Penilaian yang dilakukan terintegrasi dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21 terdapat 3 aspek yang dinilai yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian yang dilakukan guru sejarah sesuai dengan prinsip penilaian dalam 4c. Penilaian sikap mempunyai beberapa teknik sebagai berikut : 1. observasi, 2. Penilaian diri,  dan 3. Penilaian antar teman. Penilaian pengetahuan memiliki teknik sebagai berikut : 1. tes tulis, dan 2. Tes lisan . sementara penilaian keterampilan memiliki teknik sebagai berikut : 1. Penilalian unjuk kerja, 2. Penilaian proyek, 3. Produk, 4. Penilaian portofolio.   PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia kelompok wajib di SMA Negeri 5 Malang semester genap tahun ajaran 2018/2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang berjalan dengan baik. Alasan diberlakukan

    Persepsi Siswa Kelas XI MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Terhadap Mata Pelajaran Sejarah dan Tarikh Bilingual

    No full text
    PERSEPSI SISWA KELAS XI MA AL ISHLAH SENDANGAGUNG PACIRAN LAMONGAN TERHADAP MATA PELAJARAN SEJARAH DAN TARIKH BILINGUALArif Shobirin1 , Najib Jauhari2 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang ABSTRAK: Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan persepsi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran sejarah, dan (2) mendeskripsikan perpsepsi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran tarikh bilingual.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitiannya adalah menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai persepsi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh terdapat temuan penelitian berupa pengklasifikasian persepsi menjadi 4 bagian, yaitu menarik, manfaat, nilai, dan penting. Hasil dari wawancara yang dilakukan terhadap 17 narasumber terdapat 3 faktor yang mempengaruhi perspesi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh. Ketiga faktor tersebut adalah faktor pembelajaran, faktor mata pelajaran, dan faktor guru. Kata Kunci: Persepsi, Mata Pelajaran Sejarah, Mata Pelajaran Tarikh, Bilingual PERCEPTION OF THE STUDENT OF XI CLASS OF AL ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL SENDANGAGUNG PACIRAN LAMONGAN ON HISTORY SUBJECT AND BILINGUAL TARIKH ABSTRACT: The purpose of this research are (1) to describe the perception of student of XI class of Al Ishlah Senior High School Sendangagung Paciran Lamongan on history subject, and (2) to describe the perception of student  of XI class of Al Ishlah Senior High School Sendangagung Paciran Lamongan on bilingual tarikh subject. This research uses a descriptive qualitative approach with the research method is to use interview, observation, and documentation. From the results of the research that has been carried out regarding student’s perceptions of historical subject and tarikh there are research finding in the form of classifying perceptions into 4 parts, namely interesting, benefit, value, and importance. The result of the interviews conducted with 17 informant included 3 factors that influenced the perspectives student of XI class of Al Ishlah Senior High School on history subject and tarikh. These three factors are learning factor, subject factor, and teacher factor. Key Words: Perception, History Subject, Tarikh Subject, Bilingual PendahuluanPada umumnya kurikulum yang dianut oleh lembaga pendidikan di Indonesia menganut kebijakan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Seperti yang terjadi saat ini, pemerintah di Indonesia memberlakukan kurikulum terbaru menggantikan kurikulum KTSP yaitu Kurikulum 2013 atau yang dikenal dengan K13. Namun, penerapan kurikulum pada lembaga pendidikan tidak selamanya mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lembaga tersebut tidak mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah salah satunya adalah belum ada kesiapan untuk menerapkan kurikulum sesuai yang sudah diterapkan oleh pemeritah. Bahkan ada pula lembaga pendidikan yang menerapkan dua kurikulum dalam proses pembelajarannya. Bahkan ada pula yang memiliki kurikulum sendiri, hal ini terjadi pada lembaga pendidikan di pesantren misalnya. MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan pondok pesantren Al Ishlah yang memiliki sistem pendidikan yang unik. MA Al Ishlah Sendangagung menerapkan kurikulum yang berbeda dari sekolah-sekolah lain pada umumnya. Kurikulum yang digunakan di MA Al Ishlah Sendangagung adalah kurikulum yang menganut kebijakan pemerintah yaitu kurikulum 2013 dan kurikulum yang menganut kebijakan  pondok yaitu kurikulum ma’hadiyyah yang semua mata pelajarannya menggunakan bahasa Arab. Konsekuensi dari digunakannya dua kurikulum di MA Al Ishlah Sendangagung tersebut adalah adanya dua mata pelajaran berbeda yang diajarkan kepada siswa, dua mata pelajaran berbeda tersebut ialah mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran sejarah pertama adalah sejarah nasional sesuai dengan kurikulum 2013 dengan berisi materi-materi sejarah Indonesia serta metode pembelajarannya yang menggunakan bahasa Indonesia seperti pada mata pelajaran sejarah pada umumnya. Mata pelajaran sejarah yang kedua adalah mata pelajaran tarikh. Tarikh merupakan mata pelajaran yang hanya membahas sejarah Islam mulai dari budaya, politik serta kondisi sosial ekonominya. Tarikh sama dengan mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam seperti yang lumrah terdapat pada lembaga pendidikan lainnya khususnya Madrasah Aliyah. Akan tetapi yang menarik pada mata pelajaran tarikh di MA Al Ishlah Sendangagung adalah metode pembelajarannya menggunakan bahasa Arab atau bisa disebut pembelajaran sejarah bilingual. Siswa diberi dua mata pelajaran sejarah yang berbeda dengan metode pembelajaran sejarah yang berbeda memungkinkan terdapat dinamika dalam pembelajaran. Perbedaan strategi pembelajaran yang digunakan guru mengakibatkan siswa akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap pembelajaran sejarah itu sendiri. Strategi sendiri menurut Hamdani (2010:18) dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Persepsi sendiri adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium (Slameto, 2010:102). Perpsepsi juga memiliki ciri-ciri umum, menurut Shaleh & Muhbib (2005:89) terdapat empat ciri-ciri umum dari persepsi, yaitu: 1. ModalitasRangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiaptiap indera, yaitu sifat sensosris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk  penglihatan, bau untuk penciuman,suhu bagi perasa, bunyi bagi pendengaran, sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).2. Dimensi ruangDunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang), kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, latar depan-latar belakang, dan lain-lain.3. Dimensi waktuDunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat-lambat, tuamuda, dan lain-lain.4. Struktur konteksKeseluruhan yang menyatu: objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu. Sedangkan mata pelajaran sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang termuat dalam setiap satuan kurikulum pendidikan. Menurut Ulhaq, dkk (2017:1-2) mata pelajaran sejarah Indonesia pada tingkat SMA merupakan sebuah mata pelajaran kelompok wajib A, yang berarti mata pelajaran tersebut wajib diambil oleh seluruh jenis sekolah menengah tingkat atas yang berada di lingkup Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementrian Agama. Mata pelajaran sejarah juga merupakan mata pelajaran yang penting untuk dipelajari. Selanjutnya pelajaran sejarah menurut Kasmadi (1996:13) pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh, pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antar bangsa dan Negara. Secara etimologis, sejarah dalam bahasa Arab diartikan sebagai tarikh yang artinya pengetahuan tentang waktu atau waktu terjadinya dan sebab-sebab terjadinya. Sedangkan mata pelajaran tarikh sama halnya dengan mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Karena secara isi materi, baik tarikh maupun sejarah kebudayaan Islam sama-sama merupakan mata pelajaran yang hanya memfokuskan pada satu bahasan saja, yaitu Islam. Baik itu sejarah kebudayaannya, maupun sejarah politik yang terkandung dalam sejarah Islam itu sendiri. Umunya, sejarah kebudayaan ini lebih membahas tentang sejarah  kebudayaan Islam yang ada di Arab. Mulai dari zaman Rasulullah SAW sampai pada zaman dinasti-dinasti seperti dinasti Abbasiyah, Ustmaniyah, dll. Model pembelajaran bilingual merupakan suatu model dimana dalam praktek pembelajarannya menggunakan bahasa asing. Mengingat secara namanya pun berasal dari bahasa Inggris, jadi bilingual adalah pembelajaran yang dalam prakteknya menggunakan bahasa Inggris. Ada beberapa macam model pembelajaran bilingual, menurut Sofyan & Supriyono (2013:213) banyak pendekatan pembelajaran bilingual yang telah dikenal, tiga di antaranya adalah concurrent aproach, preview-review aproach, dan alternate-language approach. Adapun pembelajaran bilingual yang sering digunakan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran bilingual concurrent aproach. Dalam pendekatan concurrent aproach ini meggunakan gabungan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian dengan porsi yang khusus ataupun dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan bahasa Arab secara bergantian dengan penggunaan porsi bahasa yang dominan antara dua bahasa. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan didapat temuan awal bahwa pada mata pelajaran sejarah, guru telah menggunakan metode pembelajaran yang variatif. Guru pada mata pelajaran tersebut menggunakan media film sejarah serta power point dalam proses pembelajarannya, akan tetapi siswa masih kurang tertarik terhadap mata pelajaran sejarah sehingga siswa di kelas cenderung pasif dan ditemukan pula siswa yang tidur ketika proses pembelajaran sejarah berlangsung. Sedangkan pada mata pelajaran tarikh, guru menerapkan metode pembelajaran konvensional. Guru cenderung menerapkan metode pembelajaran seperti yang diterapkan pada pesantren salafi. Dimana guru menunjuk salah satu siswa untuk membacakan materi setelah itu dibahas oleh guru, intinya guru lebih banyak menggunakan metode ceramah pada saat pembelajaran berlangsung. Namun siswa di kelas cenderung lebih aktif ketika mengikuti pelajaran tarikh. PembahasanBerdasarkan paparan data yang telah dijabarkan, diketahui siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah memiliki persepsi yang berbeda pada mata pelajaran  sejarah dan tarikh. Peneliti mengklasifikasikan hasil temuan dari hasil wawancara menjadi 4 bagian, yaitu menarik, manfaat, nilai, dan penting. Peneliti melakukan wawancara kepada siswa kelas XI dengan memilih narasumber secara acak. Seperti diketahui jumlah kelas XI di Madrasah Aliyah berjumlah 9 kelas dengan rincian 5 kelas dengan jurusan IPA dan 4 kelas jurusan IPS. Peneliti melakukan wawancara dengan total 17 narasumber yang terdiri dari 4 siswa kelas XI IPA 1, 1 siswa kelas XI IPA 2, 3 siswi kelas XI IPA 3, 2 siswa kelas XI IPS 1, 3 siswa kelas XI IPS 2, 3 siswi kelas XI IPS 3, dan 1 siswi kelas XI IPS 4. Selanjutnya dari hasil persepsi yang telah diutarakan oleh siswa kelas XI terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh, ditemukan temuan yang terangkum dalam tanel berikut ini:Hasil Temuan Sejarah TarikhManfaat 2 6Menarik 6 11Penting 8 5Nilai 4 2Gambar 4.8: Tabel Pernyataan Siswa Terhadap Mata Pelajaran Sejarah dan TarikhDari hasil tabel di atas disimpulkan bahwa terdapat 6 siswa yang mengaggap mata pelajaran tarikh lebih mempunyai manfaat daripada mata pelajaran sejarah. Sedangkan 2 siswa menganggap mata pelajaran sejarah lebih mempunyai manfaat daripada mata pelajaran sejarah. Selanjutnya terdapat 11 siswa yang berargumen mata pelajaran tarikh lebih menarik daripada mata pelajaran sejarah. Sedangkan 6 siswa lainnya lebih tertarik pada mata pelajaran sejarah. Lalu terdapat 8 siswa yang menyatakan bahwa mata pelajaran sejarah lebih penting daripada mata pelajaran tarikh. Sedangkan 5 siswa memilih mata pelajaran tarikh lebih penting. Terakhir, terdapat 4 siswa yang berpendapat bahwa mata pelajaran sejarah lebih mempunyai nilai daripada mata pelajaran tarikh. Sedangkan 2 lainnya memilih mata pelajaran tarikh lebih mempunyai nilai daripada mata pelajaran sejarah. Dari hasil tabel di atas juga hanya kolom menarik yang memiliki jumlah akumulasi sama dengan jumlah total narasumber yaitu 17. Sedangkan pada kolom penting, nilai, dan manfaat jumlah akumulasinya tidak  sama dengan jumlah narasumber. Hal ini dikarenakan sebagian siswa tidak memberikan argumen yang berkaitan dengan penting, nilai, dan manfaat dari mata pelajaran sejarah dan tarikh. Selanjutnya dari hasil paparan data di atas, peneliti menyimpulkan 3 faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh. Tiga faktor tersebut adalah faktor mata pelajaran, proses pembelajaran, dan guru. Penjelasan lebih singkatnya dapat dilihat pada peta konsep di bawah ini:Gambar 4.9: Peta Konsep Persepsi Siswa Terhadap Mata Pelajaran Sejaran dan TarikhPenjabaran dari tiga faktor yang mempengaruhi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh adalah sebagai berikut: 1. Faktor Mata PelajaranSiswa menganggap mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang penting karena memuat nilai terhadap perjuangan para pahlawan selain itu juga mata pelajaran sejarah dianggap penting karena membahas kejadian masa lalu Sejarah Tarikh Faktor yang Mempengaruhi:1. Mata Pelajaran2. Proses Pembelajaran3. Guru Nilai Manfaat Penting Menarik Persepsi Siswa yang penting. Sedangkan mata pelajaran tarikh merupakan mata pelajaran yang berbahasa Arab dengan materi sejarah kebudayaan Islam. Bahasa Arab yang merupakan bahasa yang digunakan oleh siswa sebagai komunikasi sehari-hari selama di pondok pesantren. Mengingat mayoritas siswa Madrasah Aliyah Al Ishlah adalah santri di Pondok Pesantren Al Ishlah. Mata pelajaran tarikh sendiri secara materi memang tidak sebanyak materi yang ada di mata pelajaran sejarah. 2. Faktor Proses PembelajaranPembelajaran sejarah di kelas XI IPA dan IPS berbeda. Hal tersebut dikarenakan guru yang mengajar sejarah di kelas IPA dan IPS berbeda. Selain itu di kelas XI IPS juga terdapat dua mata pelajaran sejarah yaitu sejarah wajib dan peminatan dengan guru yang berbeda pula. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara, siswa menggagap proses pembelajaran sejarah terkadang membosankan sehingga siswa kurang antusias terhadap pembelajaran tersebut. Walaupun guru sudah menggunakan metode pembelajaran yang variatif seperti menayangkan video atau film sejarah serta melakukan tanya jawab, namun tidak siswa masih kurang antusias pada saat pembelajaran sejarah. Bahkan pada saat guru menayangkan video atau film sejarah terlihat siswa justru dengan lelap tertidur di kelas. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil dokumentasi pada saat observasi yang dilakukan peneliti. Temuan siswa yang tertidur pada saat guru menayangkan video sejarah terjadi di kelas XI IPA 4. Sedangkan pada pembelajaran tarikh dari hasil wawancara yang telah dilakukan, siswa berpendapat bahwa pembelajaran tarikh lebih menarik. Meskipun mata pelajaran tarikh menggunakan bahasa Arab, tetapi siswa justru beranggapan lebih tertantang dalm belajar tarikh. Karena bagi siswa selain mempelajari sejarah kebudayaan Islam, siswa juga belajar tentang bahasa Arab lebih dalam. Siswa dapat memperkaya mufrodat atau kosakata yang belum diketahui menjadi tahu setelah mempelajari tarikh. Sehingga dapat meningkatkan kemahiran siswa terhadap bahasa Arab juga. Selain itu, materi pada mata pelajaran tarikh yang tidak terlalu banyak menjadikan siswa lebih senang pada saat belajar tarikh di kelas. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti juga terlihat siswa lebih antusias pada saat pembelajaran berlangsung. 3. Faktor GuruGuru sejarah wajib di kelas XI IPA adalah Bapak Ali Efendi, sedangkan guru sejarah wajib di kelas XI IPS adalah Bapak Sekargondo dan guru sejarah peminatan kelas XI IPS adalah Bapak Robithoh Islami. Adapun guru mata pelajaran tarikh kelas XI adalah Ust. Farid As Siddiqi. Bapak Ali Efendi merupakan guru sejarah sejak tahun 2007 serta mempunyai latar belakang pendidikan sejarah juga. Sedangkan Bapak Sekargondo mengajar sejarah sejak tahun 2012 dan Bapak Robithoh Islami mengajar sejarah sejak tahun 2017. Bapak Sekargondo dan Robithoh Islami sama-sama tidak memiliki latar belakangan pendidikan sejarah. Adapun Ust. Farid As Siddiqi mengajar tarikh sejak tahun 2012. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh siswa, Bapak Ali Efendi sering menayangkan film atau video sejarah pada saat pembelajaran. Serta dalam menjelaskan materi juga sering menggunakan media power point. Terdapat siswa yang antusias pada saat guru menayangkan video atau film juga terdapat pula siswa yang kurang antusias. Selain itu, metode pembelajaran Bapak Ali Efendi lainnya adalah tanya jawab dan diskusi. Selanjutnya metode pembelajaran Bapak Sekargondo lebih banyak menggunakan metode ceramah. Selain ceramah, sesekali Bapak Sekargondo juga menayangkan video atau film yang berkaitan dengan materi sejarah juga metode tanya jawab dan diskusi. Menurut siswa, Bapak Sekargondo juga orangnya suka melucu pada saat pembelajaran berlangsung namun terkadang hanya sedikit yang tertawa. Bapak Sekargondo juga orangnya santai bahkan saking santainya terkadang siswa yang tertidur di kelas dibiarkan saja. Tetapi terkadang pula Bapak Sekargondo mengintruksikan siswa untuk berdiri dan melakukan peregangan agar kembali fresh dalam mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, Bapak Robithoh Islami yang mengajar sejarah peminatan merupakan guru yang terbilang masih baru. Bapak Robithoh Islami baru mengajar sejarah sejak tahun 2017. Menurut siswa, Bapak Robithoh Islami merupakan guru yang tegas tapi tetap santai. Namun terkadang pula tidak memperhatikan siswa yang tertidur di kelas. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh Bapak Robithoh Islami hampir sama dengan metode yang digunakan oleh guru sejarah kelas XI lainnya. Metode ceramah tetap menjadi pilihan pertama selanjutnya yaitu  penayangan video atau film sejarah, tanya jawab, serta presentasi. Dapat dikatakan, meskipun pengalaman mengajar Bapak Robithoh Islami belum lama namun sudah dirasa cukup dalam mengajar sejarah. Kekurangnnya menurut siswa adalah Bapak Robithoh kurang bisa melucu sehingga proses pembelajaran di kelas terkesan agak kaku. Guru mata pelajaran tarikh adalah Ust. Farid As Siddiqi yang telah mengajar sejak tahun 2012. Mata pelajaran tarikh sendiri menitikberatkan pada kemampuan berbahasa Arab bagi siswa. Sehingga siswa banyak yang beranggapan jika mata pelajaran tarikh akan mudah difahami apabila mahir dalam berbahasa Arab. Meskipun terdapat siswa yang kurang mahir dalam berbahasa Arab, namun mata pelajaran tarikh tetap banyak diminati. Salah satunya yaitu karena faktor guru yang mengajar. Guru mata pelajaran tarikh di mata siswa cukup menyenangkan. Terdapat kedekatan pula antara guru dengan siswa karena guru tarikh menjadi staff pengasuhan santri di pondok pesantren Al Ishlah. Sehingga seringkali juga berinteraksi di luar jam sekolah. Metode pengajaran yang digunakan guru tarikh memang lebih banyak menggunakan metode ceramah. Selain ceramah, metode tanya jawab juga digunakan untuk mengukur tingkat pemahan siswa terhadap materi yang telah di jelaskan. PenutupKesimpulanSiswa menganggap mata pelajaran sejarah merupakan mata pelajaran yang penting karena membahas kejadian atau peristiwa penting yang terjadi di masa lalu. Siswa juga beranggapan bahwa dengan belajar sejarah dapat mengambil makna serta nilai. Proses pembelajaran sejarah di kelas XI juga bervariasi, hal tersebut dikarenakan terdapat tiga guru yang mengajar sejarah. Tanggapan pembelajaran sejarah dari ketiga guru tersebut juga beragam. Persepsi siswa kelas XI MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran tarikh bilingual juga beragam. Siswa berpendapat bahwa mata pelajaran tarikh adalah mata pelajaran yang menarik karena membahas sejarah Islam pada zaman Khulafaur Rasyidin. Saran1. Bagi guru sejarah dan tarikh di MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan untuk lebih memperhatikan kondisi siswa di kelas pada saat pembelajaran.2. Bagi Kepala Sekolah MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan dihaharapkan menambah fasilitas penunjang pembelajaran di kelas.3. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama baik bagi guru, kepala sekolah, dan siswa sehingga pembelajaran sejarah dan tarikh dapat berjalan lebih baik lagi di masa yang akan datang.4. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat lebih dalam lagi menggali referensi terkait mata pelajaran sejarah, tarikh, serta pembelajaranya sehingga dapat dijadikan pembanding karya lain. Daftar Rujukan Hamdani. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Kasmadi, H. 1996. Model-model Dalam Pengajaran Sejarah. Semarang: Semarang Press. Shaleh & Muhbib. 2005. Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada Media. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruinya. Jakarta: Rineka Cipta. Ulhaq, dkk. 2017. Pembelajaran Sejarah Berbasis Kurikulum 2013 di SMA Kotamadya Jakarta Timur. Jurnal Pendidikan Sejarah, (Online), Vol. 6 No.02 Juli 2017, (https://media.neliti.com/media/publications/209919- pembelajaran-sejarah-berbasis-kurikulum.pdf) diakses 31 Januari 2019. Sofyan, M. A. & Supriyono. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Bilingual Preview Review Berbasis Inquiry 5E Dalam Pembelajaran Fisika di SMA Negeri 2 Kediri. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika, (Online), Vol. 02 No. 03 Tahun 2013, 212-216, (http://ejournal.unesa.ac.id/article/6762/32/article.pdf), diakses 23 Oktober 2016

    PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017

    No full text
     PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017) Hermin Dwi Purwaningsih  llmu Sejarah,Universitas Negeri Malang Email : [email protected]   ABSTRAK: Desa Paju merupakan desa yang terletak di Kabupaten Ponorogo yang sudah terkenal sebagai desa pengrajin gamelan sejak tahun1970. Munculnya industri gamelan di Desa Paju telah membawa banyak perubahandari segi sosial dan ekonomi para tenaga kerja serta pemilik industri itu sendiri. Selain itu sejak didirikanya industri gamelan di desa Paju perkembangan peningkatan hasil produksi semakin meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui perkembangan industri gamelan Desa Paju tahun 1998-2017 (2) mengetahui pengaruh industri gamelan Desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1988-2017. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi pemilihan topik,heuristik,verifikasi meliputi kritik ekstern sejak tahun 1973-an kritik intern, interpretasi dan historiografi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sejarah berdirinya industri gamelan Desa Paju telah ada sejak tahun 1970an. Perkembangan industri gamelan pada 1998-2017 mengalami peningkatan produksi yang berjalan dengan adanya kebijakan pemerintah mengadakan Festival Reog Nasional setiap tahunya. Peningkatan produksi juga sering terjadi saat dinas-dinas mengadakan kebijakan pemberian alat musik tradisional pada tahun 2013 di Yogyakarta yang dipesan di Ponorogo. Pada tahun 2014 saat kunjungan SBY ke Desa Paju membawa dampak positif dengan semakin dikenalnya industri ke luar daerah. pengaruh industri gamelan ini semakin terasa pada bidang sosial dan ekonomi.   Kata Kunci :industri gamelan Paju, perkembangan, sosial-ekonomi Sejarah industri gamelan di Kabupaten Ponorogo yang pada awalnya merupakan suatu usaha yang dikembangkan secara turun-temurun yang awalnya berdiri karena ketidaksengajaan para grup karawitan Desa Paju. Salah satu industri gamelan adalah milik Bapak Goiman yang terletak di Jl. KH.Sholikin nomor 8 Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo. Industri gamelan di desa Paju telah berdiri sejak tahun 1970-an. Masyarakat Desa Paju dulunya ada tergabung dalam grup karawitan yang memiliki anggota sekitar 10-20 orang salah satunya Pak Goiman. Mereka biasanya hadir pada acara-acara hajatan dan perayaan agustusan. Perkembangan industri gamelan mulai mengalami perkembangan hingga mulai merekrut tenaga kerja yang berasal dari golongan petani dengan pendapatan yang tidak bisa diprediksi.Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 1998-2017 (2) Mengetahui pengaruh industri gamelan desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1998-2017.   METODE Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis dan jenis penelitian historis. Menurut Sjamsuddin (2007 :17) metode historis adalah suatu proses pengkajian, penjelasan, dan penganalisaan secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau. Kuntowijoyo (2013 : 69 )menjelaskan bahwa dalam melaksanakan penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu : pemilihan topik, Pengumpulan data dan sumber (Heuristik), Verifikasi( kritik sumber), Intepretasi, Historiografi. Dalam penelitian sejarah terdapat sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini berupa dokumen dan informan yang terlibat langsung dalam kajian yang diteliti. Dari penelitianya diperoleh sumber dari pihak-pihak yang terlibat langsung menggunakan metode atau tehnik wawancara. Beberapa pihak yang terlibat dalam penelitian diantaranya Goiman (Pemilik industri),Kusnan (Pemilik industri),Sutrisno (Tenaga kerja), Bambang Nurcahyo Aji (Kepala Desa Paju),Budi Suhartana (Pemilik Industri). Sumber primer berupa data yang diperoleh oleh peneliti dari dinas  berupa data profil desa Paju dari kantor kelurahan tahun 2017 serta data jumlah industridari dinas INDAGKOP. Sumber sekunder yang digunakan peneliti berupa sumber pendukung terkait dengan penelitian. Beberapa sumber sekunder diantaranya artikel atau jurnal yang terkai dengan penelitian serta data Kabupaten Ponorogo yang diakses secara online dari BPS.   A. Perkembangan Industri Gamelan Desa Paju Ponorogo Tahun 1998-2017 Perkembangan industri gamelan desa Paju pasti memiliki berbagai faktor yang dapat mempengaruhi yang berasal dari lingkungan desa Paju. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan industri gamelan desa Paju yaitu adanya keinginan masyarakat untuk beralih dari sektor pertanian yang dianggap kurang memberikan kontribusi terhadap kehidupan khususnya dalam bidang ekonomi. Sebelum adanya industri gamelan ini desa Paju merupakan daerah pertanian yang memiliki lahan subur namun, pada sektor pertanian ini memiliki berbagai kelemahan khususnya sektor peratanian yang masih mengandalkan musim. Hal ini menjadi salah satu kendala untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari bidang pertanian dianggap kurang memberi kontribusi terhadap kehidupan petani. Menurut Majalah Republika (2010:4) pada tahum 1973 dijelaskan bahwa sejarah perkembangan gamelan di Ponorogo berawal dari beberapa seniman yang ingin memproduksi sendiri alat musik gamelan dengan memanfaatkan barang-barang bekas seperti drum bekas. Kehidupan masyarakat yang mayoritas merupakan seorang petani ingin membuat inovasi sehingga masyarakat berinisiatif membuat gamelan untuk di jual. Masa keemasan industri gamelan ini berada pada puncakya di tahun 1980 sampai sekarang dimana pemasaran produksinya di beli oleh jajaran perkantoran di Jawa Timur serta beberapa daerah di luar Jawa. Selain dapat menguntungkan industri gamelan di daerah tersebut juga memiliki tujuan yang berkaitan dengan kelestarian alat musik tradisional karena seiring dengan perkembangan jaman semua yang hal yang berbau tradisional mulai di tinggalkan. Pemerintah dengan segala kebijakanya telah berusaha agar dengan adanya industri gamelan di desa Paju akan semakin lebih baik. Pembangunan industri di daerah pedesaan seperti Ponorogo disamping memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil produksi barang-barang industri juga untuk merencanakan pembangunan ekonomi daerah. Beberapa kebijakan pemerintah yang telah diterapakan diantaranya program pembinaan yang dilaksanakan pada tahun 1973 dan 2000.Selain pembinaan pemerintah juga ikut andil dalam memberikan alat-alat pembuatan gamelan untuk meningkatkan produksi gamelan di desa Paju. Peningkatan produksi gamelan semakin tinggi yang ditandai dengan tinggi permintaan gamelan dari jajaran perkantoran di Jawa Timur yang selalu mempercayakan gamelan di Industri gamelan desa Paju. Pada masa keemasanya ini industri gamelan di desa Paju semakin berkembang dan semakin dikenal oleh para seniman (Kabar Jatim,2010:23). Permintaan produksi yang melonjak naik ini diakibatkan masih minimnya pengrajin gamelan di Jawa Timur sehingga tidak seimbangnya antara permintaan dan produksi barang. Perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 2000 hingga 2017 terjadi karena adanya Festival Reog Nasional yang diadakan setiap tahunya. Festivial Reog Nasional ini meningkatkan produksi gamelan yang yang mendorong pemilik industri gamelan mulai menggunakan alat produksi yang lebih meringankan tenaga kerja. Peningkatan kualitas alat-alat pembuatan gamelan semakin ditingkatkan dengan adanya alat-alat yang menggunakan listrik sebagai sumbernya. Menurut Suparlan dalam (Paeni,2009:25) Teknologi pada dasarnya merupakan sarana dalam kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sebagai mahluk hidup yang berada di suatu lingkungan tertentu. Teknologi merupakan hasil pemikiran manusia sebagai anggota suatu masyarakat yang dipakai dalam kerangka untuk memahami lingkungan yang dihadapinya sebagai suatu strategi dalam beadaptasi Di tahun 2013 menjadi salah satu puncak kebangkitan industri gamelan Paju karena pada tahun tersebut, indutri gamelan mendapatkan pesanan sebanyak 100 unit gamelan yang akan dibagikan ke sekolah-sekolah di Yogyakarta. Hal ini menjadi salah satu pemicu tumbuhnya semangat para pemilik serta pengrajin gamelan desa Paju. Industri yang berdiri sejak 1970an ini bisa membuat satu unit gamelan yang terdiri dari bonang, kenong, kempul, gong suwuk, gong gedhe, kethuk kempyang, demung, saron, gender, peking, slenthem, gambang, kendang, rebab, siter bolak-balik dan suling. Selain membuat gamelan lengkap industri gamelan Paju juga menerima permintaan yang memesan gamelan berlanggam pelog dan slendro yang memerlukan waktu sekitar 3 minggu (Surya Jatim,2013: hal 5).   B. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten PonorogoTahun 1998-2017 1. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo Industri yang telah berdiri sejak tahun 1973-an ini telah memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajinnya khususnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, menciptakan saling keuntungan antara pengrajin dan pemilik industri. Menurut Tambunan (2012:35) apabila dilihat dari banyaknya jumlah pengrajin maka industri kerajinan tangan atau indutri tradisional menempati kedudukan utama. Hal tersebut sifatnya masih menggunakan bantuan tangan manusia. Keuntungan yang diperoleh dua pihak ini menandakan berjalannya suatu usaha yang dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Selain kemajuan para pekerjanya, para pemilik industri juga meraup keuntungan sebagai modal pengembangan usaha agar lebih maju. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Goiman pengrajin industri gamelan pada 22 Desember 2017 menjelaskan bahwa: “Awal-awal pendirian industri ini memang butuh perjuangan yang tidak mudah mbak karena membutuhkan modal besar dalam membuat gamelan lengkap. Dulu saya pernah mbak menjual sapi karena kekurangan modal setelah saya pikir hal tersebut bukan masalah selagi usaha gamelan ini masih berjalan pasti akan berkembang. Setelah itu memang banyak orderan perbulanya kisaran dari 50 juta kadang lebih. Jika dihitung angka tersebut cukup untuk memenuhi upah pengrajin dan kebutuhan rumah tangga keluarga ” Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendirian industri gamelan di Desa Paju telah memberikan keuntungan ekonomis bagi pemilik usaha. Pekerjaan yang telah digeluti oleh Bapak Goiman sebagai pengrajin industri gamelan bukan sekedar pekerjaan sampingan, melainkan sudah menjadi pekerjaan utama yaitu sebagai pengusaha sekaligus sebagai pengrajin. Berkat pendirian industri Bapak Goiman telah mampu memenuhi kebutuhan keluarga serta memberikan gaji yang pantas bagi para pengrajin agar terbebas dari kemiskinan.. Adanya industri gamelan di Desa Paju telah memenuhi kebutuhan para pengrajin mulai dari kebutuhan yang sifatnya pokok maupun untuk memenuhi keinginan semata. Hal ini sesuai dengan pemenuhan kebutuhan manusia sangat bergantung dengan tingkat sosial serta profesi seseorang tersebut. Dilihat dari kelasnya biasanya para golongan bawah hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok saja. Golongan menengah dapat memenuhi kebutuhan pokok dan tambahan sebagai kebutuhan pelengkap dalam kehidupan sehari-hari. Golongan atas dapat memenuhi kebutuhan yang sifatnya pokok, pelengkap dan yang sifatnya mewah. Hal ini juga berlaku pada pengrajin gamelan di Desa Paju yang termasuk dalam golongan menegah yang telah dapat memenuhi kebutuhan pokok serta pelengkap yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa kebutuhan ekonomi yang telah terpenuhi dari bekerja sebagai pengrajin gamelan di Desa Paju:   1. Kebutuhan Primer Meneurut Arfida (2013:15) kbutuhan primer merupakan sebuah kebutuhan pokok atau yang utama dan harus dipenuhi oleh setiap orang untuk dapat menjalani hidup yang layak sebagai manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan pertama yang harus dipenuhi seseorang demi keberlangsungan hidupnya. Sama halnya dengan pengrajin Desa Paju yang bekerja sebagai pengrajin gamelan seperti terpenuhinya akan sandang, pangan dan papan. Salah satu cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan pokonya mereka bekerja sebagai pengrajin gamelan.  Para pengrajin gamelan harus memenuhi kebutuhan pokoknya agar bisa melangsungkan kehidupanya. Kebutuhan pokok sendiri terdiri dari 3 aspek yaitu:   a) Sandang Arfida (2013:15) menjelaskan bahwa kebutuhan sandang adalah kebutuhan pakaian yang diperlukan manusia untuk kehidupan sehari-hari. Pakaian diperlukan untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin. Hal ini menjadi salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan demikian halnya dengan pengrajin di Desa Paju salah satu yang harus terpenuhi adalah sandang guna menunjang kehidupan sebagai seorang manusia. Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia namun, pada jaman modern seperti saat ini pakaian juga tidak lepas dari status sosial suatu orang. Seperti halnya pengrajin gamelan Desa Paju dalam berpakaian mereka lebih cenderung mengenakan pakaian yang biasa saja yang menyesuaikan dengan status sosialnya yang termasuk dalam golongan menengah ke bawah.   b) Pangan Kebutuhan pangan atau biasa yang disebut dengan makan adalah kebutuhan paling utama bagi makhluk hidup. Definisi pangan yaitu bahan-bahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja dan penggantian jaringan tubuh yang rusak (Suhardjo, 1996:40). Makanan dan minuman bertujuan untuk menghasilkan tenaga dan nutrisi. Tenaga dan nutrisi yang diperoleh berguna untuk melalukan berbagai aktifitas sehari-hari. Makanan yang sehat dan bergizi membantu pertumbuhan manusia baik otak maupun badan. Hal ini menjadi salah satu pemicu semangat pengrajin gamelan guna mencukupi kebutuhan akan pangan sehari-hari. Pangan menjadi suatu hal yang penting bagi keberlangsungan hidup. Pengrajin Desa Paju yang mulanya hanya menggantungkan hidup sebagai petani dengan penghasilan yang pas-pasan, saat ini mulai mengalami kemajuan dengan mulai bekerja di industri gamelan. Beberapa kebutuhan lain juga tercukupi dengan mengandalkan pekerjaan yang ditekuni saat ini. Para pengrajin gamelan yang mulanya bekerja sebagai petani merasa bahwa dalam pemenuhan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari jika mengandalkan pertanian akan sulit terpenuhi. Hal ini berkaitan dengan musim panen yang tidak menentu. Saat para petani menanam padi mereka harus menunggu hingga 3 sampai 4 bulan lamanya untuk bisa merasakan hasilnya. Selama menunggu panen, biasanya para petani masih mengandalkan pinjaman dari warung yang menyediakan bahan pangan. Setelah panen mereka bisa menutup pinjaman tersebut dengan hasil panen ataupun uang hasil penjualan panenan.   c) Papan Papan merupakan tempat tinggal seseorang atau yang biasa disebut dengan rumah. Rumah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi untuk bisa tetap bertahan hidup. Selain itu fungsi rumah sendiri bagi manusia adalah untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Bukti industri berpengaruh bagi kehidupan pengrajin khususnya pemenuhan kebutuhan akan papan adalah berdasarkan pernyataan dari Bapak Sutrisno yang menjadi pengrajin gamelan di Desa Paju lewat wawancara pada tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan: “Banyak mbak yang berubah sejak saya kerja jadi pengrajin gamelan. Sekarang sudah punya penghasilan yang setiap bulan bisa ditunggu. Rumah saya ini dulu lantainya masih tanah liat. Sekarang alhamdullilah sudah bisa di plester ini dari hasil nabung sedikit demi sedikit. Bagian tiangnya ini dulu masih kayu dindingnya”. Setelah terpenuhinya kebutuhan akan sandang dan pangan pengrajin Desa Paju mulai mengalami perubahan pada rumahnya meskipun  tidak pada keseluruhanya. Meskipun rumah telah dimiliki  sebelum bekerja sebagai pengrajin namun, terjadi beberapa perubahan meskipun sejak bekerja di industri gamelan. Para pengrajin bisa memperbaiki beberapa bagian rumah yang sudah rusak dengan menyisihkan sedikit uang upahnya. Rata-rata kondisi rumah pengrajin gamelan sudah mengalami perubahan. Pada umumnya rumah yang ditinggali sudah beralaskan semen. Sebelum adanya industri gamelan rumah para pengrajin Desa Paju masih beralaskan tanah liat. Perubahan tersebut dirasa cukup signifikan karena membawa dampak positif bagi pengrajin. Seiring berjalanya waktu, rumah sebagai sarana berlindung juga mengedepankan estetikanya. Beberapa pengrajin gamelan berusaha menyisihkan upah bulanannya untuk merenovasi bagian yang rusak pada rumahnya. Kondisi rumah para pengrajin telah berhasil mengubah pandangan orang terhadap pekerjaan sebagai pengrajin gamelan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan. Dari hasil kerja sebagai pengrajin mereka dapat membuktikan bahwa pekerjaan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun itu merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Para pengrajin dapat membuktikan pada orang-orang yang memandang pekerjaan sebelah mata.   2. Kebutuhan Sekunder Menurut Arfida (2013:15) kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang harus terpenuhi setelah tercukupinya kebutuhan primer. Pengrajin Desa Paju yang saat ini bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi adalah wujud terpenuhinya kebutuhan sekunder. Dilihat dari penghasilan yang diperoleh pengrajin gamelan termasuk dalam golongan pendapatan yang rendah, Namun beberapa dari para pengrajin telah menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Selain itu mayoritas anak pengrajin di Desa Paju pada tahun 2017  minimal sudah mengenyam pendidikan SMA. Para pengrajin tersebut sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi lanjutan. Terpenuhinya kebutuhan pokok pengrajin gamelan di Desa Paju sedikit meringankan.  Menjadi seorang pengrajin gamelan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun tidaklah mudah mereka harus benar-benar tekun dalam menjalani pekerjaan tersebut. Selain meningkatkan perekonomian para pengrajin keberadaan industri ini juga meningkatkan kesejahteraan sosial bagi pengrajin yang telah menekuni pekerjaan ini. Dengan adanya pengaruh bagi kehidupan pengrajin yang menyangkut aspek sandang, pangan dan papan  maka secara otomatis status sosial para pengrajin yang bekerja di industri gamelan juga tinggi. Pengaruh ekonomi yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan masa depan anak-anak pengrajin Desa Paju yaitu meningkatnya kesadaran pendidikan. Masyarakat mulai sadar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hal ini diungkapkan oleh Bapak Sutrisno pada wawancara tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan: “Alhamdulillah dengan berdirinya industri gamelan Desa Paju telah membantu saya membiayai anak-anak saya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu anak saya saat ini juga sedang berkuliah di Yogyakarta. Salah satu yang memacu semangat saya untuk terus bekerja dan memperbaiki kehidupan” Dari wawancara di atas diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh industri gamelan membawa pengaruh positif terhadap kondisi ekonomi pengrajin Desa Paju. Kesejahteraan pendidikan anak-anak pengrajin gamelan mulai mengalami perkembangan. Hal ini menunjukkan keberadaan industri ini telah mengubah kehidupan ekonomi pengrajin Desa Paju. Dari tingginya kesadaran akan pendidikan di Desa Paju yang semakin meningkat akan membuat anak-anak pengrajin gamelan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian serta pendidikan yang ditempuhnya. Dari sini maka status sosial keluarga pengrajin gamelan di Desa Paju mengalami perubahan yang lebih baik.   2. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo. Menurut Soekanto (1999:34) kehidupan sosial dalam suatu masyarakat merupakan hubungan antara kelompok manusia maupun perorangan apabila dua orang bertemu dan saling berinteraksi. Interaksi yang muncul antar kedua orang dengan cara bergotong royong maupun berbicara. Merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak saling mengenal satu sama lain. Adanya interaksi yang terjalin dalam industri rumahan di Desa Paju yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Pada umumnya semakin lama interaksi yang terjalin antar pengrajin maka hubungan sosial yang dimiliki juga akan semakin tinggi. Keadaan masyarakat akan arti pentingnya pendidikan dalam pembangunan didasari bahwa pendidikan hakekatnya perlu untuk mencapai kemajuan teknologi dan ekonomi. Pendidikan untuk memelihara sistem intelektual tradisional dan untuk memajukan berbagai aspek modernisasi baik yang bersifat material maupun non material. Sumbangan lainnya adalah terciptanya suatu kelas menengah dalam masyarakat di Desa Paju yang terdiri dari golongan kelas atas, menengah dan bawah. Lahirnya kelas menengah ini diharapkan mampu mendorong tingkat kesejahteraan secara cepat. Keberadaan kelas menengah dalam masyarakat secara tidak langsung telah melahirkan pelapisan sosial secara nyata. Menurut Murtolo (1996:112) pelapisan sosial merupakan sesuatu kedudukan seseorang berdasarkan derajat yang ditentukan oleh hubunganya dengan orang-orang lain di dalam masyarakat. Akibat dari adanya perkembangan industri gamelan menunjukkan peningkatan pendapatan pengrajin di Desa Paju yang cukup tinggi. Industri gamelan  ini dapat menekan angka pengangguran dan menghambat laju urbanisasi masyarakat Desa Paju khususnya bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang gamelan untuk tidak mencari pekerjaan di kota-kota besar di Indonesia. Secara tidak langsung warisan usaha industri gamelan dari nenek moyang tersebut dapat bertambah keberadaanya. Ada pengaruh lain dari adanya industri gamelan Desa Paju yaitu sistem kekerabatan yang semakin meningkat. Sebelum adanya industri gamelan sebagian pengrajin adalah petani yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Waktu tersebut digunakan untuk bekerja di sawah mengolah tanah dan berbagai aktifivitas yang bisa menghasilkan pendapatan. Hubungan mereka sangat kuat dan erat setelah berkembangnya industri gamelan.   DAFTAR RUJUKAN Arfida BR.2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia Kuntowidjoyo.

    PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017

    No full text
    PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017) Hermin Dwi Purwaningsih llmu Sejarah,Universitas Negeri Malang Email : [email protected]   ABSTRAK: Desa Paju merupakan desa yang terletak di Kabupaten Ponorogo yang sudah terkenal sebagai desa pengrajin gamelan sejak tahun1970. Munculnya industri gamelan di Desa Paju telah membawa banyak perubahandari segi sosial dan ekonomi para tenaga kerja serta pemilik industri itu sendiri. Selain itu sejak didirikanya industri gamelan di desa Paju perkembangan peningkatan hasil produksi semakin meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui perkembangan industri gamelan Desa Paju tahun 1998-2017 (2) mengetahui pengaruh industri gamelan Desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1988-2017. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi pemilihan topik,heuristik,verifikasi meliputi kritik ekstern sejak tahun 1973-an kritik intern, interpretasi dan historiografi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sejarah berdirinya industri gamelan Desa Paju telah ada sejak tahun 1970an. Perkembangan industri gamelan pada 1998-2017 mengalami peningkatan produksi yang berjalan dengan adanya kebijakan pemerintah mengadakan Festival Reog Nasional setiap tahunya. Peningkatan produksi juga sering terjadi saat dinas-dinas mengadakan kebijakan pemberian alat musik tradisional pada tahun 2013 di Yogyakarta yang dipesan di Ponorogo. Pada tahun 2014 saat kunjungan SBY ke Desa Paju membawa dampak positif dengan semakin dikenalnya industri ke luar daerah. pengaruh industri gamelan ini semakin terasa pada bidang sosial dan ekonomi.   Kata Kunci :industri gamelan Paju, perkembangan, sosial-ekonomi Sejarah industri gamelan di Kabupaten Ponorogo yang pada awalnya merupakan suatu usaha yang dikembangkan secara turun-temurun yang awalnya berdiri karena ketidaksengajaan para grup karawitan Desa Paju. Salah satu industri gamelan adalah milik Bapak Goiman yang terletak di Jl. KH.Sholikin nomor 8 Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo. Industri gamelan di desa Paju telah berdiri sejak tahun 1970-an. Masyarakat Desa Paju dulunya ada tergabung dalam grup karawitan yang memiliki anggota sekitar 10-20 orang salah satunya Pak Goiman. Mereka biasanya hadir pada acara-acara hajatan dan perayaan agustusan. Perkembangan industri gamelan mulai mengalami perkembangan hingga mulai merekrut tenaga kerja yang berasal dari golongan petani dengan pendapatan yang tidak bisa diprediksi.Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 1998-2017 (2) Mengetahui pengaruh industri gamelan desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1998-2017.   METODE Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis dan jenis penelitian historis. Menurut Sjamsuddin (2007 :17) metode historis adalah suatu proses pengkajian, penjelasan, dan penganalisaan secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau. Kuntowijoyo (2013 : 69 )menjelaskan bahwa dalam melaksanakan penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu : pemilihan topik, Pengumpulan data dan sumber (Heuristik), Verifikasi( kritik sumber), Intepretasi, Historiografi. Dalam penelitian sejarah terdapat sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini berupa dokumen dan informan yang terlibat langsung dalam kajian yang diteliti. Dari penelitianya diperoleh sumber dari pihak-pihak yang terlibat langsung menggunakan metode atau tehnik wawancara. Beberapa pihak yang terlibat dalam penelitian diantaranya Goiman (Pemilik industri),Kusnan (Pemilik industri),Sutrisno (Tenaga kerja), Bambang Nurcahyo Aji (Kepala Desa Paju),Budi Suhartana (Pemilik Industri). Sumber primer berupa data yang diperoleh oleh peneliti dari dinas  berupa data profil desa Paju dari kantor kelurahan tahun 2017 serta data jumlah industridari dinas INDAGKOP. Sumber sekunder yang digunakan peneliti berupa sumber pendukung terkait dengan penelitian. Beberapa sumber sekunder diantaranya artikel atau jurnal yang terkai dengan penelitian serta data Kabupaten Ponorogo yang diakses secara online dari BPS.   A. Perkembangan Industri Gamelan Desa Paju Ponorogo Tahun 1998-2017 Perkembangan industri gamelan desa Paju pasti memiliki berbagai faktor yang dapat mempengaruhi yang berasal dari lingkungan desa Paju. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan industri gamelan desa Paju yaitu adanya keinginan masyarakat untuk beralih dari sektor pertanian yang dianggap kurang memberikan kontribusi terhadap kehidupan khususnya dalam bidang ekonomi. Sebelum adanya industri gamelan ini desa Paju merupakan daerah pertanian yang memiliki lahan subur namun, pada sektor pertanian ini memiliki berbagai kelemahan khususnya sektor peratanian yang masih mengandalkan musim. Hal ini menjadi salah satu kendala untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari bidang pertanian dianggap kurang memberi kontribusi terhadap kehidupan petani. Menurut Majalah Republika (2010:4) pada tahum 1973 dijelaskan bahwa sejarah perkembangan gamelan di Ponorogo berawal dari beberapa seniman yang ingin memproduksi sendiri alat musik gamelan dengan memanfaatkan barang-barang bekas seperti drum bekas. Kehidupan masyarakat yang mayoritas merupakan seorang petani ingin membuat inovasi sehingga masyarakat berinisiatif membuat gamelan untuk di jual. Masa keemasan industri gamelan ini berada pada puncakya di tahun 1980 sampai sekarang dimana pemasaran produksinya di beli oleh jajaran perkantoran di Jawa Timur serta beberapa daerah di luar Jawa. Selain dapat menguntungkan industri gamelan di daerah tersebut juga memiliki tujuan yang berkaitan dengan kelestarian alat musik tradisional karena seiring dengan perkembangan jaman semua yang hal yang berbau tradisional mulai di tinggalkan. Pemerintah dengan segala kebijakanya telah berusaha agar dengan adanya industri gamelan di desa Paju akan semakin lebih baik. Pembangunan industri di daerah pedesaan seperti Ponorogo disamping memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil produksi barang-barang industri juga untuk merencanakan pembangunan ekonomi daerah. Beberapa kebijakan pemerintah yang telah diterapakan diantaranya program pembinaan yang dilaksanakan pada tahun 1973 dan 2000.Selain pembinaan pemerintah juga ikut andil dalam memberikan alat-alat pembuatan gamelan untuk meningkatkan produksi gamelan di desa Paju. Peningkatan produksi gamelan semakin tinggi yang ditandai dengan tinggi permintaan gamelan dari jajaran perkantoran di Jawa Timur yang selalu mempercayakan gamelan di Industri gamelan desa Paju. Pada masa keemasanya ini industri gamelan di desa Paju semakin berkembang dan semakin dikenal oleh para seniman (Kabar Jatim,2010:23). Permintaan produksi yang melonjak naik ini diakibatkan masih minimnya pengrajin gamelan di Jawa Timur sehingga tidak seimbangnya antara permintaan dan produksi barang. Perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 2000 hingga 2017 terjadi karena adanya Festival Reog Nasional yang diadakan setiap tahunya. Festivial Reog Nasional ini meningkatkan produksi gamelan yang yang mendorong pemilik industri gamelan mulai menggunakan alat produksi yang lebih meringankan tenaga kerja. Peningkatan kualitas alat-alat pembuatan gamelan semakin ditingkatkan dengan adanya alat-alat yang menggunakan listrik sebagai sumbernya. Menurut Suparlan dalam (Paeni,2009:25) Teknologi pada dasarnya merupakan sarana dalam kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sebagai mahluk hidup yang berada di suatu lingkungan tertentu. Teknologi merupakan hasil pemikiran manusia sebagai anggota suatu masyarakat yang dipakai dalam kerangka untuk memahami lingkungan yang dihadapinya sebagai suatu strategi dalam beadaptasi Di tahun 2013 menjadi salah satu puncak kebangkitan industri gamelan Paju karena pada tahun tersebut, indutri gamelan mendapatkan pesanan sebanyak 100 unit gamelan yang akan dibagikan ke sekolah-sekolah di Yogyakarta. Hal ini menjadi salah satu pemicu tumbuhnya semangat para pemilik serta pengrajin gamelan desa Paju. Industri yang berdiri sejak 1970an ini bisa membuat satu unit gamelan yang terdiri dari bonang, kenong, kempul, gong suwuk, gong gedhe, kethuk kempyang, demung, saron, gender, peking, slenthem, gambang, kendang, rebab, siter bolak-balik dan suling. Selain membuat gamelan lengkap industri gamelan Paju juga menerima permintaan yang memesan gamelan berlanggam pelog dan slendro yang memerlukan waktu sekitar 3 minggu (Surya Jatim,2013: hal 5).   B. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten PonorogoTahun 1998-2017 1. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo Industri yang telah berdiri sejak tahun 1973-an ini telah memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajinnya khususnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, menciptakan saling keuntungan antara pengrajin dan pemilik industri. Menurut Tambunan (2012:35) apabila dilihat dari banyaknya jumlah pengrajin maka industri kerajinan tangan atau indutri tradisional menempati kedudukan utama. Hal tersebut sifatnya masih menggunakan bantuan tangan manusia. Keuntungan yang diperoleh dua pihak ini menandakan berjalannya suatu usaha yang dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Selain kemajuan para pekerjanya, para pemilik industri juga meraup keuntungan sebagai modal pengembangan usaha agar lebih maju. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Goiman pengrajin industri gamelan pada 22 Desember 2017 menjelaskan bahwa: “Awal-awal pendirian industri ini memang butuh perjuangan yang tidak mudah mbak karena membutuhkan modal besar dalam membuat gamelan lengkap. Dulu saya pernah mbak menjual sapi karena kekurangan modal setelah saya pikir hal tersebut bukan masalah selagi usaha gamelan ini masih berjalan pasti akan berkembang. Setelah itu memang banyak orderan perbulanya kisaran dari 50 juta kadang lebih. Jika dihitung angka tersebut cukup untuk memenuhi upah pengrajin dan kebutuhan rumah tangga keluarga ” Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendirian industri gamelan di Desa Paju telah memberikan keuntungan ekonomis bagi pemilik usaha. Pekerjaan yang telah digeluti oleh Bapak Goiman sebagai pengrajin industri gamelan bukan sekedar pekerjaan sampingan, melainkan sudah menjadi pekerjaan utama yaitu sebagai pengusaha sekaligus sebagai pengrajin. Berkat pendirian industri Bapak Goiman telah mampu memenuhi kebutuhan keluarga serta memberikan gaji yang pantas bagi para pengrajin agar terbebas dari kemiskinan.. Adanya industri gamelan di Desa Paju telah memenuhi kebutuhan para pengrajin mulai dari kebutuhan yang sifatnya pokok maupun untuk memenuhi keinginan semata. Hal ini sesuai dengan pemenuhan kebutuhan manusia sangat bergantung dengan tingkat sosial serta profesi seseorang tersebut. Dilihat dari kelasnya biasanya para golongan bawah hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok saja. Golongan menengah dapat memenuhi kebutuhan pokok dan tambahan sebagai kebutuhan pelengkap dalam kehidupan sehari-hari. Golongan atas dapat memenuhi kebutuhan yang sifatnya pokok, pelengkap dan yang sifatnya mewah. Hal ini juga berlaku pada pengrajin gamelan di Desa Paju yang termasuk dalam golongan menegah yang telah dapat memenuhi kebutuhan pokok serta pelengkap yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa kebutuhan ekonomi yang telah terpenuhi dari bekerja sebagai pengrajin gamelan di Desa Paju:   1. Kebutuhan Primer Meneurut Arfida (2013:15) kbutuhan primer merupakan sebuah kebutuhan pokok atau yang utama dan harus dipenuhi oleh setiap orang untuk dapat menjalani hidup yang layak sebagai manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan pertama yang harus dipenuhi seseorang demi keberlangsungan hidupnya. Sama halnya dengan pengrajin Desa Paju yang bekerja sebagai pengrajin gamelan seperti terpenuhinya akan sandang, pangan dan papan. Salah satu cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan pokonya mereka bekerja sebagai pengrajin gamelan.  Para pengrajin gamelan harus memenuhi kebutuhan pokoknya agar bisa melangsungkan kehidupanya. Kebutuhan pokok sendiri terdiri dari 3 aspek yaitu:   a) Sandang Arfida (2013:15) menjelaskan bahwa kebutuhan sandang adalah kebutuhan pakaian yang diperlukan manusia untuk kehidupan sehari-hari. Pakaian diperlukan untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin. Hal ini menjadi salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan demikian halnya dengan pengrajin di Desa Paju salah satu yang harus terpenuhi adalah sandang guna menunjang kehidupan sebagai seorang manusia. Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia namun, pada jaman modern seperti saat ini pakaian juga tidak lepas dari status sosial suatu orang. Seperti halnya pengrajin gamelan Desa Paju dalam berpakaian mereka lebih cenderung mengenakan pakaian yang biasa saja yang menyesuaikan dengan status sosialnya yang termasuk dalam golongan menengah ke bawah.   b) Pangan Kebutuhan pangan atau biasa yang disebut dengan makan adalah kebutuhan paling utama bagi makhluk hidup. Definisi pangan yaitu bahan-bahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja dan penggantian jaringan tubuh yang rusak (Suhardjo, 1996:40). Makanan dan minuman bertujuan untuk menghasilkan tenaga dan nutrisi. Tenaga dan nutrisi yang diperoleh berguna untuk melalukan berbagai aktifitas sehari-hari. Makanan yang sehat dan bergizi membantu pertumbuhan manusia baik otak maupun badan. Hal ini menjadi salah satu pemicu semangat pengrajin gamelan guna mencukupi kebutuhan akan pangan sehari-hari. Pangan menjadi suatu hal yang penting bagi keberlangsungan hidup. Pengrajin Desa Paju yang mulanya hanya menggantungkan hidup sebagai petani dengan penghasilan yang pas-pasan, saat ini mulai mengalami kemajuan dengan mulai bekerja di industri gamelan. Beberapa kebutuhan lain juga tercukupi dengan mengandalkan pekerjaan yang ditekuni saat ini. Para pengrajin gamelan yang mulanya bekerja sebagai petani merasa bahwa dalam pemenuhan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari jika mengandalkan pertanian akan sulit terpenuhi. Hal ini berkaitan dengan musim panen yang tidak menentu. Saat para petani menanam padi mereka harus menunggu hingga 3 sampai 4 bulan lamanya untuk bisa merasakan hasilnya. Selama menunggu panen, biasanya para petani masih mengandalkan pinjaman dari warung yang menyediakan bahan pangan. Setelah panen mereka bisa menutup pinjaman tersebut dengan hasil panen ataupun uang hasil penjualan panenan.   c) Papan Papan merupakan tempat tinggal seseorang atau yang biasa disebut dengan rumah. Rumah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi untuk bisa tetap bertahan hidup. Selain itu fungsi rumah sendiri bagi manusia adalah untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Bukti industri berpengaruh bagi kehidupan pengrajin khususnya pemenuhan kebutuhan akan papan adalah berdasarkan pernyataan dari Bapak Sutrisno yang menjadi pengrajin gamelan di Desa Paju lewat wawancara pada tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan: “Banyak mbak yang berubah sejak saya kerja jadi pengrajin gamelan. Sekarang sudah punya penghasilan yang setiap bulan bisa ditunggu. Rumah saya ini dulu lantainya masih tanah liat. Sekarang alhamdullilah sudah bisa di plester ini dari hasil nabung sedikit demi sedikit. Bagian tiangnya ini dulu masih kayu dindingnya”. Setelah terpenuhinya kebutuhan akan sandang dan pangan pengrajin Desa Paju mulai mengalami perubahan pada rumahnya meskipun  tidak pada keseluruhanya. Meskipun rumah telah dimiliki  sebelum bekerja sebagai pengrajin namun, terjadi beberapa perubahan meskipun sejak bekerja di industri gamelan. Para pengrajin bisa memperbaiki beberapa bagian rumah yang sudah rusak dengan menyisihkan sedikit uang upahnya. Rata-rata kondisi rumah pengrajin gamelan sudah mengalami perubahan. Pada umumnya rumah yang ditinggali sudah beralaskan semen. Sebelum adanya industri gamelan rumah para pengrajin Desa Paju masih beralaskan tanah liat. Perubahan tersebut dirasa cukup signifikan karena membawa dampak positif bagi pengrajin. Seiring berjalanya waktu, rumah sebagai sarana berlindung juga mengedepankan estetikanya. Beberapa pengrajin gamelan berusaha menyisihkan upah bulanannya untuk merenovasi bagian yang rusak pada rumahnya. Kondisi rumah para pengrajin telah berhasil mengubah pandangan orang terhadap pekerjaan sebagai pengrajin gamelan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan. Dari hasil kerja sebagai pengrajin mereka dapat membuktikan bahwa pekerjaan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun itu merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Para pengrajin dapat membuktikan pada orang-orang yang memandang pekerjaan sebelah mata.   2. Kebutuhan Sekunder Menurut Arfida (2013:15) kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang harus terpenuhi setelah tercukupinya kebutuhan primer. Pengrajin Desa Paju yang saat ini bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi adalah wujud terpenuhinya kebutuhan sekunder. Dilihat dari penghasilan yang diperoleh pengrajin gamelan termasuk dalam golongan pendapatan yang rendah, Namun beberapa dari para pengrajin telah menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Selain itu mayoritas anak pengrajin di Desa Paju pada tahun 2017  minimal sudah mengenyam pendidikan SMA. Para pengrajin tersebut sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi lanjutan. Terpenuhinya kebutuhan pokok pengrajin gamelan di Desa Paju sedikit meringankan.  Menjadi seorang pengrajin gamelan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun tidaklah mudah mereka harus benar-benar tekun dalam menjalani pekerjaan tersebut. Selain meningkatkan perekonomian para pengrajin keberadaan industri ini juga meningkatkan kesejahteraan sosial bagi pengrajin yang telah menekuni pekerjaan ini. Dengan adanya pengaruh bagi kehidupan pengrajin yang menyangkut aspek sandang, pangan dan papan  maka secara otomatis status sosial para pengrajin yang bekerja di industri gamelan juga tinggi. Pengaruh ekonomi yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan masa depan anak-anak pengrajin Desa Paju yaitu meningkatnya kesadaran pendidikan. Masyarakat mulai sadar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hal ini diungkapkan oleh Bapak Sutrisno pada wawancara tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan: “Alhamdulillah dengan berdirinya industri gamelan Desa Paju telah membantu saya membiayai anak-anak saya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu anak saya saat ini juga sedang berkuliah di Yogyakarta. Salah satu yang memacu semangat saya untuk terus bekerja dan memperbaiki kehidupan” Dari wawancara di atas diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh industri gamelan membawa pengaruh positif terhadap kondisi ekonomi pengrajin Desa Paju. Kesejahteraan pendidikan anak-anak pengrajin gamelan mulai mengalami perkembangan. Hal ini menunjukkan keberadaan industri ini telah mengubah kehidupan ekonomi pengrajin Desa Paju. Dari tingginya kesadaran akan pendidikan di Desa Paju yang semakin meningkat akan membuat anak-anak pengrajin gamelan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian serta pendidikan yang ditempuhnya. Dari sini maka status sosial keluarga pengrajin gamelan di Desa Paju mengalami perubahan yang lebih baik.   2. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo. Menurut Soekanto (1999:34) kehidupan sosial dalam suatu masyarakat merupakan hubungan antara kelompok manusia maupun perorangan apabila dua orang bertemu dan saling berinteraksi. Interaksi yang muncul antar kedua orang dengan cara bergotong royong maupun berbicara. Merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak saling mengenal satu sama lain. Adanya interaksi yang terjalin dalam industri rumahan di Desa Paju yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Pada umumnya semakin lama interaksi yang terjalin antar pengrajin maka hubungan sosial yang dimiliki juga akan semakin tinggi. Keadaan masyarakat akan arti pentingnya pendidikan dalam pembangunan didasari bahwa pendidikan hakekatnya perlu untuk mencapai kemajuan teknologi dan ekonomi. Pendidikan untuk memelihara sistem intelektual tradisional dan untuk memajukan berbagai aspek modernisasi baik yang bersifat material maupun non material. Sumbangan lainnya adalah terciptanya suatu kelas menengah dalam masyarakat di Desa Paju yang terdiri dari golongan kelas atas, menengah dan bawah. Lahirnya kelas menengah ini diharapkan mampu mendorong tingkat kesejahteraan secara cepat. Keberadaan kelas menengah dalam masyarakat secara tidak langsung telah melahirkan pelapisan sosial secara nyata. Menurut Murtolo (1996:112) pelapisan sosial merupakan sesuatu kedudukan seseorang berdasarkan derajat yang ditentukan oleh hubunganya dengan orang-orang lain di dalam masyarakat. Akibat dari adanya perkembangan industri gamelan menunjukkan peningkatan pendapatan pengrajin di Desa Paju yang cukup tinggi. Industri gamelan  ini dapat menekan angka pengangguran dan menghambat laju urbanisasi masyarakat Desa Paju khususnya bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang gamelan untuk tidak mencari pekerjaan di kota-kota besar di Indonesia. Secara tidak langsung warisan usaha industri gamelan dari nenek moyang tersebut dapat bertambah keberadaanya. Ada pengaruh lain dari adanya industri gamelan Desa Paju yaitu sistem kekerabatan yang semakin meningkat. Sebelum adanya industri gamelan sebagian pengrajin adalah petani yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Waktu tersebut digunakan untuk bekerja di sawah mengolah tanah dan berbagai aktifivitas yang bisa menghasilkan pendapatan. Hubungan mereka sangat kuat dan erat setelah berkembangnya industri gamelan.   DAFTAR RUJUKAN Arfida BR.2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia Kuntowidjoyo.20

    KETERLIBATAN NAHDLATUL ULAMA DALAM PEMILIHAN UMUM 1955-1958 DI SURABAYA

    No full text
    Kata Kunci: Pemilihan Umum, Nahdlatul Ulama, Kota Surabaya, 1955-1958Kajian ini didasarkan pada perjalanan politik Nahdlatul Ulama mulai dari keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan membentuk partai sendiri hingga tahun 1958 pada pemilihan umum anggota DPRD Kota Surabaya. Hasil dari pemilihan umum yang diselenggarakan pada tingkat Nasional, regional, dan lokal kemudian digunakan sebagai acuan untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang didapat oleh Partai Nahdlatul Ulama.Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana konstelasi politik yang terjadi pada tingkat nasional, regional, dan pada tingkat Kota yang difokuskan di Surabaya. Penelitian ini menggunakan konsep partai politik untuk digunakan sebagai landasan analisis untuk mengetahui bagaimana kiprah Nahdlatul Ulama sebagai partai politik pada pemilihan umum tahun 1955-1958. Selain itu konsep pemilihan umum juga digunakan untuk melihat sejauh mana keberhasilan Nahdlatul Ulama menarik dukungan dari masyarakat sebagai sebuah partai politik.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah yang digunakan dalam proses penelitian ini meliputi pemilihan topik, heuristik, Kritik (interen dan eksteren), intepretasi, dan historiografi. Proses pengumpulan sumber akan ditekankan pada sumber arsip organisasi NU, arsip pemilihan umum 1955 dan surat kabar sejaman yang memuat mengenai permasalahan yang diambil. Selanjutnya hasil penelitian yang sudah didapat akan di susun dengan sitematika yang mengacu pada suplemen penulisan skripsi bidang Ilmu Sejarah.Penelitian ini menghasilkan gambaran tentang keberhasilan Nahdlatul Ulama dalam pemilihan umum yang diselenggarakan pada tingkat nasional, regional (Jawa Timur), dan lokal (Kota Surabaya). Selain itu juga akan menghasilkan gambaran tentang faktor pendukung yang mempengaruhi perolehan suara partai Nahdlatul Ulama dalam setiap pemilihan umum yang diadakan dari tahun 1955-1958, meliputi basisi massa pendukung partai, organisasi pendukung, dan adanya benturan dengan partai politik lain

    MODERNISASI DENG XIAOPING DI REPUBLIK RAKYAT CINA (RRC) & PENGARUHNYA DI KAWASAN ASIA TIMUR (1976-1991)

    No full text
    Skripsi sarjana ini membahas bagaimana modernisasi Deng Xiaoping di Republik Rakyat Cina (RRC) membawa pengaruh di Asia Timur sebagai geopolitik wilayah pembangunan dan pertahanan militer dalam menegakkan kedaulatan, membangun keperluan sumber daya di dalam negeri dan persatuan tanah air menghadapi ancaman dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea Selatan dan Uni Sovyet. Tujuan penelitian:(1). Untuk menjelaskan latar belakang modernisasi oleh Deng Xiaoping di Republik Rakyat Cina,(2). Untuk menganalisis proses modernisasi yang dilakukan oleh Deng Xiaoping di Republik Rakyat Cina, dan(3). Untuk menganalisis pengaruh modernisasi oleh Deng Xiaoping di Republik Rakyat Cina di Kawasan Asia Timur.Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan. Di samping itu, digunakan dokumen elektronik pemerintah tentang Hasil Keputusan Sidang Pleno ke-3 Komite Sentral Partai Komunis Cina ke-11 tahun 1978 dan Kongres Nasional tahun 1982 sebagai dokumen sezaman untuk memperjelas modernisasi Deng Xiaoping. Di dalam 2 dokumen tersebut menyiratkan arti penting Asia Timur ke depannya bagi Cina. Hasil penelitian ini adalah(1). latar belakang modernisasi Deng Xiaoping di RRC berkaitan perbedaan perspektif antara kubu konservatif-dogmatis Mao Zedong dan kubu revisionis-moderat Deng Xiaoping mengenai pembangunan negara yang berorientasi pertanian atau industri seperti negara AS dan Eropa. Selain itu, pembangunan RRC setelah merdeka selama tahun 1950-1960an didanai Uni Soviet dan dikerjakan ilmuwan Sovyet, sehingga muncul peristiwa Great Leap Forward & Revolusi Kebudayaan, yang merupakan bentuk protes kubu Mao atas intervensi Sovyet di dalam pembangunan dalam negeri,(2). proses modernisasi Deng Xiaoping berupaya membangun kekuatan produktif negara pasca Mao, sebagai penyelesaian masalah dalam negeri dengan konsolidasi internal Partai Komunis Cina dan menjalin hubungan dengan AS, Korea Selatan, Jepang, dan Sovyet. Strategi politik internasional Deng Xiaoping tersebut memperoleh investasi asing yang diperuntukkan untuk pembangunan seperti infrastruktur, sosial-ekonomi, dan pertahanan militer. (3). pengaruh dari proses modernisasi ini berimbas pada Asia Timur sebagai geopolitik Republik Rakyat Cina selama masa Perang Dingin dalam rangka memperkuat dan menegakkan supremasi politik-militer RRC di Asia Timur. Selain itu, modernisasi Deng Xiaoping telah menyatukan tanah air yang hilang dan berjuang melawan imperialisme dan hegemonisme AS (Amerika Serikat) serta membela perdamaian dunia

    PENERAPAN OUTDOOR LEARNING BUS MACYTO UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI STRATEGI PERLAWANAN RAKYAT LOKAL MALANG UNTUK KELAS XI IPS 2 DI SMA NEGERI 4 MALANG

    No full text
    PENERAPAN OUTDOOR LEARNING BUS MACYTO UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI STRATEGI PERLAWANAN RAKYAT LOKAL MALANG UNTUK KELAS XI IPS 2 DI SMA NEGERI 4 MALANGAfifah Rahmatika Furzaen, Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri MalangE-mail: [email protected], [email protected] ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan outdoor learning Bus MACYTO dan mengukur peningkatan pemahaman materi sejarah lokal Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan satu siklus. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan dari hasil rata-rata kelas 57 menjadi 86 dan presentase ketuntasan klasikal pada pra siklus adalah 3% kemudian meningkat menjadi 88,23%. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan Outdoor Learning Bus MACYTO dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemahaman materi sejarah lokal Malang. Kata Kunci: Outdoor Learning, Bus MACYTO, Pemahaman, Sejarah Lokal, Malang. ABSTRACT: This study aims to determine the implementation of outdoor learning MACYTO Bus and to measure the increase in understanding of Malang's local history material. This study uses a classroom action research approach with one cycle. The results of the conducted research show an increase from the average grade 57 results to 86 and the classical completeness percentage in the pre cycle is 3% then increases to 88.23%. Based on these results, the application of outdoor learning MACYTO Bus can be a solution to increase understanding of Malang's local history material. Keyword: Outdoor Learning, MACYTO Bus, Understanding, Local History, Malang.Pendidikan merupakan hal yang penting. Pendidikan menjadi sesuatu yang penting karena adannya suatu bimbingan untuk mencapai suatu kemampuan yang utuh (Mardiatmadja, 1986:40). Pernyataan tersebut artinya manusia memerlukan suatu bimbingan untuk mencapai suatu kemampuan sempurna sehingga manusia harus berkembang. Dalam dunia pendidikan juga erat kaitanya dengan yang namanya  proses pembelajaran. Proses pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik (dosen, guru pamong belajar, tutor instruktur dan sebagainya) dan lingkungannya sehingga terjadi suatu perubahan perilaku yang lebih baik (Kurniadi, 2007:419).Pendidikan juga sering dikaitkan dengan pembelajaran salah satunya pada pembelajaran sejarah. Menurut Widja (1989:23) pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Pembelajaran sejarah harapannya dapat mengaitkan suatu peristiwa di masa lampau dengan masa kini dan peserta didik dapat mengambil pembelajaran berharga atau memaknai sesuatu hal dengan baik.Pada kenyataanya, pembelajaran sejarah di sekolah terutama pada proses pembelajaran sejarah masih terdapat banyak permasalahan. Hal ini dibuktikan dengan yang disampaikan (Widja, 1989) yang mengemukakan jika diperhatikan pada praktek pengajaran di sekolah, terutama pembelajaran sejarah sering mendapat kesan bahwa sejarah itu tidak menarik dan sangat membosankan. Guru sejarah hanya menunjukkan fakta-fakta kering berupa urutan tahun dan peristiwa. Pembelajaran sejarah bagi peserta didik hanya mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Model dan teknik yang digunakan guru terkesan monoton dikarenakan guru memulai pelajaran dengan bercerita atau lebih tepat membacakan apa yang ada dalam buku ajar, dan akhirnya menutup pelajaran ketika bel akhir telah berbunyi.Permasalahan dalam pembelajaran sejarah juga terjadi di SMA Negeri 4 Malang. Sekolah ini menerapkan sistem moving class atau kelasnya berpindahpindah. Berdasarkan eksplorasi awal pada tanggal 26 November 2018, pihak Tata Usaha di SMA Negeri 4 Malang menyampaikan bahwa SMA Negeri 4 Malang memiliki keterbatasan ruangan. Artinnya, pembelajaran dilakukan ada yang di Gazebo, Lapangan, dan sebagainya. Berdasarkan eksplorasi awal tersebut, peneliti mendalami permasalahan dengan cara wawancara kepada salah satu guru sejarah yaitu Ibu Intan. Beliau juga mengemukakan bahwa SMA Negeri 4 Malang mengalami keterbatasan ruangan yakni ada ruangan kelas yang sempit dan luas.  Ukuran ruangan kelas yang tidak sama tersebut menimbulkan permasalahan yang kompleks terkait sistem moving class diantaranya(1) Peserta didik kurang fokus jika menempati ruangan sempit sehingga mudah bosan dalam proses pembelajaran,(2) Kondisi yang tidak nyaman membuat peserta didik lebih memilih mengobrol dengan teman daripada mendengarkan penjelasan materi pembelajaran sejarah.Berdasarkan berbagai materi yang ada dalam pelajaran sejarah (kelas XI), materi dalam KD 3.10 mengenai strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda merupakan materi yang menuntut peserta didik untuk mampu menganalisis strategi perlawanan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman Sekutu dan Belanda. Kompetensi dasar yang menyeluruh ini kemudian diturunkan dalam indikator pencapaian mengenai materi strategi dan bentuk perlawanan masyarakat lokal (Kota Malang) terhadap penjajahan Belanda. Hal ini didukung bukti bahwa masih banyak peserta didik di kelas XI IPS 2 yang tidak paham mengenai strategi dan bentuk perjuangan masyarakat kotanya sendiri.Alasan peneliti menggunakan materi sejarah lokal Malang yaitu(1) Peserta didik yang ada di Kota Malang dapat memahami mengenai sejarah lokal yang dibuktikan melalui aksi atau perlawanan rakyat Malang terhadap penjajahan Belanda,(2) Sejarah lokal juga dekat dengan lingkungan sehari-hari peserta didik (bersekolah dan tinggal di Kota Malang),(3) Peneliti juga memiliki ketertarikan pada materi sejarah lokal Malang karena Kota Malang merupakan kota kelahiran bagi peneliti.Salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menggunaan Bus Malang City Tour (MACYTO) sebagai wahana transportasi wisata sejarah di Kota Malang. Harapanya agar model pembelajaran outdoor learning terus berinovasi kedepannya. Pemilihan lokasi penelitian di SMA Negeri 4 Malang yaitu(1) Terdapat permasalahan yang sesuai dengan arah penelitian skripsi,(2) SMA Negeri 4 Malang merupakan SMA yang punya akreditasi dan favorit di Malang,(3) Lokasi SMA Negeri 4 Malang juga dekat dengan monumen perjuangan Tugu Malang atau kompleks Balai Kota yang termasuk materi penting dalam materi strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda,(4) Lokasi SMA Negeri 4 Malang juga dekat dengan lokasi start dari Bus MACYTO.Bus MACYTO (Malang City Tour) yang ada di Kota Malang sudah terkenal sejak peresmianya di tahun 2015 hingga tahun sekarang (2019). Bus MACYTO ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (Disbudpar). Lokasi start Bus MACYTO yang berada di Taman Rekreasi Kota Malang (TAREKOT) tidak jauh dari Balai Kota Malang yaitu di Jalan Simpang Majapahit. Bus Malang City Tour (MACYTO) memiliki jalur-jalur tertentu sehingga wisata sejarah tidak hanya terpaku dalam satu tempat saja atau semacam mini tour keliling.Alasan peneliti menerapkan model outdoor learning dengan menggunakan Bus MACYTO ini adalah(1) belum ada yang meneliti tentang pembelajaran sejarah dengan mini tour keliling yang melibatkan peserta didik di jenjang SMA untuk melakukan pembelajaran di luar ruang kelas,(2) peneliti melihat kenyataan bahwa yang menaiki Bus MACYTO ini rata-rata adalah peserta didik TK (Taman KanakKanak) dan SD (Sekolah Dasar),(3) Warga Malang sendiri banyak yang menaiki Bus MACYTO namun ada yang belum pernah menaiki bus tersebut disebabkan tidak mengetahui prosedur untuk menaiki bus ini ataupun hanya sekadar mengetahui keberadaan Bus MACYTO saja,(4) Berdasarkan hasil eksplorasi awal di SMA Negeri 4 Malang tepatnya di kelas XI IPS 2, hanya sebagian peserta didik pernah naik Bus MACYTO. METODEPenelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas atau biasa disebut PTK. PTK adalah suatu kegiatan ilmiah yang berorientasi pada memecakan masalah-masalah pembelajaran melalui tindakan yang disengaja dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran (Ningrum, 2014:22). Wiriaatmadja (2005) dalam (Ningrum, 2014:23) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran dan belajar dari pengalaman tersebut.Penelitian ini menggunakan model PTK dengan model spiral dari Kemmis dan Taggart (1988). Model Kemmis dan Taggart ini dipilih oleh peneliti dikarenakan mudah dipahami dari segi fokus langkah-langkahnya. Model Kemmis dan Taggart menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan langkah diantaranya:1) rencana,2) tindakan,3) pengamatan,4) refleksi, kemudian perencanaan kembali(Ningrum, 2014:49). Akan tetapi, penelitian ini menggunakan satu siklus, dan setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Dua kali pertemuan berlangsung di dalam kelas dan satu kali pertemuan dilaksanakan di luar ruangan. Pembelajaran yang diterapkan dalam pertemuan ketiga ini yaitu Outdoor Learning dengan Bus MACYTO sebagai wahana transportasi sejarah yang ada di Kota Malang. Penelitian ini hanya menggunakan satu siklus dikarenakan hasil penelitian sudah mengalami peningkatan secara signifikan namun juga terkait pertimbangan administrasi dan waktu yang terbatas.Peneliti juga merupakan instrumen utama peneliti bertindak sebagai perencana tindakan, pelaksana tindakan, pengumpulan data, dan pelapor hasil penelitian (Daryanto, 2011:80). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran peneliti sangat penting dan diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian. Peneliti akan meminta bantuan kepada teman yang membantu dalam penelitian untuk menjadi observer. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 4 Malang. Kelas XI IPS 2 ini merupakan kelas dengan proporsi 12 peserta didik lakilaki dan 22 peserta didik perempuan.Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui empat hal yakni observasi dengan menggunakan catatan lapangan, wawancara, dokumentasi, dan tes. Teknik pengumpulan data yang keempat adalah tes yang pada umumnya bersifat mengukur dan dalam dunia pendidikan tes dibedakan menjadi dua hal yaitu tes hasil belajar dan tes psikologis (Sukmadinata, 2015:223). Peserta didik diberikan diberikan beberapa soal yang berlangsung di awal setiap siklus berupa pretest dan pada akhir setiap siklus diberikan soal berupa postest. Tes dalam penelitian ini berupa 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan pemahaman materi sejarah lokal Kota Malang terutama  strategi perlawanan rakyat lokal Malang pada peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang. HASIL DAN PEMBAHASANPelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 MalangProses pembelajaran sejarah masih terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah sistem moving class atau perpindahan kelas pada saat pergantian jam pelajaran berdampak pada proses pembelajaran, secara khusus berdampak pada kondisi peserta didik yang kurang fokus saat berada di ruangan yang sempit, kondisi yang kurang nyaman sehingga membuat peserta didik lebih memilih mengobrol dengan teman daripada mendengarkan penjelasan materi pembelajaran. Permasalahan lainnya juga terletak pada materi sejarah yang kompleks dengan model pembelajaran hanya di dalam kelas membuat peserta didik merasa bosan dan mengantuk terbukti dari wawancara peneliti dengan salah satu peserta didik XI IPS 2 (NW) (transkrip wawancara terlampir). NW menjelaskan sebagai berikut.“Kalau di dalam itu lebih ngantuk, Bu soalnya cerita terus. Kita cuma ndengerin doang. Malah kadang anak-anak itu gak nonton filmnya, Bu. Yaa banyak yang tidur”Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran yang cenderung berada di dalam kelas membuat peserta didik merasa bosan walaupun sudah menggunakan cara-cara tertentu seperti bercerita dan menonton film di ruang kelas. Peneliti juga mendapatkan informasi dari peserta didik lainya bahwa kegiatan di dalam kelas cenderung monoton disebabkan hanya mengerjakan UKBM secara terus menerus. Tidak hanya mengerjakan UKBM namun peserta didik harus mampu mencapai beberapa pencapaian kompetensi yang didalamnya terdapat materi pembelajaran sejarah.Suyadi dalam (Husamah, 2013:25) menjelaskan kekuatan dari pembelajaran luar kelas yaitu dengan pembelajaran variatif peserta didik akan segar dalam berpikir karena suasana yang berganti, inkuiri lebih produktif, akselerasi lebih terpadu dan  spontan, kemampuan eksplorasi lebih runtut, dan menumbuhkan penguatan konsep. Penguatan konsep ini menjadi hal yang sesuai dengan usaha peneliti untuk meningkatkan pemahaman sejarah lokal Malang. Hasil dari pemahaman yang semakin meningkat dapat dilihat di akhir siklus.Perencanaan dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga kali pertemuan yakni pada tanggal 14 Februari 2019, 21 Februari 2019, dan 8 Maret 2019. Pada tanggal 14 dan 21 Februari 2019 berlangsung di dalam kelas. Peneliti menggali data melalui beberapa pertemuan baik di dalam kelas maupun di luar kelas (outdoor learning Bus MACYTO).Berdasarkan hasil observasi pada pertemuan I (tanggal 14 Februari 2019), proses pembelajaran awalnya berlangsung kondusif terutama saat berdo’a dan pemberian apersepsi. Pertemuan ini membahas mengenai KD 3.10 yakni menganalisis strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancama Sekutu dan Belanda. Kegiatan pada pertemuan I ini adalah pemberian pretest kemudian pembelajaran berlangsung sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada saat proses mengerjakan pretest, semua peserta didik berusaha mengerjakan dengan baik walaupun banyak peserta didik yang bingung dengan istilah yang baru didapatkan seperti “Malang Bumihangus”.Peserta didik XI IPS 2 juga rata-rata tidak mengetahui gedung penting yang ada di area Kota Malang yakni Gedung Societeid Concordia atau sekarang dikenal dengan nama Sarinah. Rata-rata menjawab gedung Societeid Concordia adalah gedung Kantor Pos. Hal ini merupakan kesalahan konsep atau kurangnya pengetahuan peserta didik terhadap sejarah lokal Malang. Akan tetapi, antusias peserta didik kelas XI IPS 2 cukup tinggi saat proses pembelajaran terutama saat diskusi kelompok. Proses pembelajaran pada pertemuan ini tidak hanya diskusi kelompok namun juga presentasi kelompok yang bertujuan memaparkan hasil temuan untuk dibagikan kepada seluruh peserta didik. Presentasi dilakukan dengan baik, walaupun masih terdapat peserta didik yang tidak terlalu antusias bahkan ada yang tidak memperhatikan penjelasan teman yang ada di depan dikarenakan lebih tertarik bergurau dengan anggota kelompoknya.Pelaksanaan pada pertemuan selanjutnya atau pertemuan II dilaksanakan pada 21 Februari 2019. Peneliti tetap bertindak sebagai guru pengajar dan proses pembelajaran dimulai dari pengucapan salam, do’a, pengecekan kehadiran. Peneliti menggunakan apersepsi peristiwa Bandung Lautan Api dikaitkan dengan Peristiwa Malang Bumihangus. Alasan peneliti menggunakan apersepsi ini dikarenakan peristiwa Bandung Lautan Api telah dikenal peserta didik terbukti dari lagu HaloHalo Bandung yang liriknya juga terkait dengan peristiwa penting. Peristiwa penting tersebut yakni Bandung pernah juga dibakar atau dibumihanguskan oleh para pejuang dan gerilyawan kota agar tidak dapat dikuasahi oleh Sekutu dan Belanda. Hal ini juga sesuai dengan peristiwa yang ada di Kota Malang yakni Malang Bumihangus. Malang Bumihangus merupakan peristiwa yang jarang diketahui oleh banyak orang. Kota Malang juga pernah menjadi medan pertempuran dalam menghadapi ancaman Sekutu dan Belanda bahkan Kota Malang pernah menjadi kota mati yang ditinggalkan oleh warganya.Kegiatan pada pertemuan II ini adalah guru menjelaskan materi Malang Bumihangus melalui media Power Point (PPT) dan mengadakan kuis Ranking 1 untuk mengecek pemahaman peserta didik mengenai materi Sejarah Lokal Malang. Kuis ini menggunakan media kertas A4 warna putih yang dibagikan kepada seluruh peserta didik XI IPS 2. Fungsi kertas ini adalah lembar jawaban bagi peserta didik. Pada saat kuis, peserta didik kelas XI IPS 2 bersemangat dan menyimak pertanyaan dengan baik. Ranking 1 diraih oleh Reza Kumalasari, salah satu peserta didik kelas XI IPS 2. Berdasarkan catatan lapangan yang telah dituliskan oleh observer, seluruh peserta didik XI IPS 2, 80% paham dengan materi yang sudah dibahas selama proses pembelajaran. Peneliti juga mulai mengenal lebih mendalam lingkungan belajar peserta didik kelas XI IPS 2. Pertemuan II ini adalah pertemuan terakhir pembelajaran di dalam kelas sebelum dilakukan tindakan Outdoor Learning Bus MACYTO.Pertemuan III atau Pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO dilaksanakan pada Jum’at, 8 Maret 2019 pada pukul 06.00 – 11.00 WIB. Ini merupakan tindakan outdoor learning Bus MACYTO. Pelaksanaan Outdoor  Learning ini perlu direncanakan dengan matang termasuk keperluan yang dibawa saat Outdoor Learning Bus MACYTO diantaranya nametag atau tanda pengenal (nomor absen peserta didik), sticker, lembar temuan bagi peserta didik XI IPS 2, materi untuk panduan dalam penyampaian selama perjalanan di bus, lembar catatan lapangan untuk observer, dan sebagainya. Pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO ini dimulai dari jam pertama, seluruh peserta didik meletakkan tas di kelas dan dihimbau untuk membawa alat tulis serta langsung menuju area halaman SMA Negeri 4 Malang. Pengumpulan semua peserta didik ini bertujuan agar memudahkan peneliti dalam membagikan nametag, sticker, dan lembar temuan serta air mineral. Pembarisan berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan, peneliti dibantu oleh Ibu Intan untuk mengkondisikan seluruh peserta didik. Lokasi start Bus MACYTO terletak di Taman Rekreasi Kota (TAREKOT) Malang, namun untuk penelitian ini peneliti dan Ibu Intan berkoordinasi agar Bus MACYTO yang menuju ke depan SMA Negeri 4 Malang untuk keefektifan waktu.Bus Malang City Tour (MACYTO) ini memiliki bentuk yang unik dan siapapun yang melihat bus ini akan tertarik untuk menambah pengalamannya menaiki bus tersebut. Berdasarkan penjelasan Bapak Agung Harjaya Buana selaku Kepala Seksi Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kota Malang, Bus MACYTO ini merupakan bus yang memberikan fasilitas gratis kepada masyarakat (tidak dipungut biaya apapun). Bus MACYTO ini hanya satu-satunya di Jawa Timur dan di Indonesia yang modelnya double decker atau bertumpuk, bertingkat, tetapi yang belakangnya top-off itu hanya di Malang saja. Jadwal pemberangkatan terkait Bus MACYTO ada dua yakni sistem booking dan umum. Fasilitas yang ada di Bus MACYTO ini juga lengkap mulai dari kenyamanan tempat duduknya hingga pemandu wisata (guide).Penelitian Outdoor Learning Bus MACYTO ini menggunakan jadwal keberangkatan dengan sistem booking untuk mempermudah peneliti dalam mempersiapkan segala keperluannya. Fasilitas yang ada dalam Bus MACYTO adalah guide, yang artinya seorang pemandu wisata atau pramuwisata yang langsung berhubungan dan berkomunikasi serta melakukan kontak pribadi dengan anggota rombongan yang dibawanya (Yoeti,1985:25). Pemandu wisata dalam pembelajaran  ini adalah peneliti sendiri dibantu oleh Ibu Intan (Guru Sejarah SMA Negeri 4 Malang).Pada awal pembelajaran peserta didik sangat antusias mendengarkan penjelasan dari peneliti dan guru. Peneliti dan guru saling berkolaborasi dalam menyampaikan materi sesuai rute yang dilalui Bus MACYTO. Penyampaian materi ini menggunakan alat yakni microfon yang bisa menjangkau penumpang yang ada di bawah dan di bagian atas (tingkatan atas bus). Pada saat berada di dalam bus, peneliti dan guru harus benar-benar teliti dalam melihat sekeliling dikarenakan rute yang dilalui harus sesuai dengan penjelasan materi. Rute yang digunakan adalah rute panjang dikarenakan sistem booking dalam Bus MACYTO mencakup keseluruhan jelajah Kota Malang.Keseluruhan jelajah kota juga tidak dapat dilepaskan dalam lingkup penting sejarah lokal tersebut. Tjahaja Timoer (dalam Hudiyanto, 2007:217) menjelaskan pada tahun 1878, Kota Malang mulai terbuka dengan terhubungnya jalan kereta api Malang dengan Surabaya. Pada tahun 1897, Kota Malang mulai kedatangan penduduk dalam jumlah besar setelah Departemen van Oorlong memindahkan beberapa batalyon dari Surabaya ke Malang. Fase terakhir pembentukan kota adalah pada tahun 1914 ketika secara resmi onderdistrik Malang berubah menjadi gemeente. Berbagai sekolah, instansi pemerintah, tempat hiburan, dan lembaga swasta telah membentuk sebuah masyarakat yang dituntut paham membaca dan menulis (Hudiyanto, 2007:217). Berdasarkan sejarah lokal Malang secara umum tersebut diperlukan rute jelajah kota yang dapat menjadi potensi keunggulan Malang.Rute yang digunakan pada saat Outdoor Learning Bus MACYTO adalah SMA Negeri 4 Malang – Jalan Tugu atau Monumen Tugu – Stasiun Kota Baru – Taman Trunojoyo – Perempatan Rampal (Jalan Panglima Sudirman) – Jalan W.R. Supratman (Rumah Sakit Lavalette) – Perempatan Kaliurang ke Jalan Jaksa Agung Suprapto (Celaket) – Gedung Sekolah Cor Jesu – Rumah Sakit Umum Saiful Anwar – Kampung Putih – Kompleks Pertokoan AVIA – PLN Area Malang – Perempatan Kayu Tangan – Patung Khairil Anwar – Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus – Toko Oen – Pertokoan Sarinah – Bank Indonesia – Kompleks Alun-Alun Malang – Kantor Pos Indonesia – Hotel Pelangi – Jalan Kauman – Jalan K.H. Hasyim Asyhari (daerah Talun) – Jalan Kawi – Ijen Boulevard – Museum Brawijaya – Patung TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) – Politeknik Kesehatan Malang – Simpang Balapan – Jalan Besar Ijen – Gereja Katedral Ijen – Monumen Melati atau Kadet Suropati – Perpustakaan Umum Kota Malang – Jalan Arief Rahman Hakim – GPIB Imamanuel – Masjid Agung Jami’ Kota Malang – Jalan Ade Irma Suryani – Perempatan Embong Arab – Jalan Pasar Besar atau Pecinan – Klenteng Eng An Kiong – Jalan Gatot Subroto

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN UNITY MOBILE LEARN-LINE DALAM MATERI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA UNTUK KELAS X SMKN 1 KOTA KEDIRI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media Unity Mobile Learn-line berbasis Android. Metode menggunakan  penelitian R&D. Penelitian dilakukan di SMKN 1 Kediri. Proses dilaksanakan dengan peneltian model ADDIE. Media ini layak digunakan  karena hasil validasi materi 96,46%. Sedangkan validasi media memperoleh dengan pesertase 95,34%. Hasil ujicoba terhadap praktisi pendidikan praktisi pendidikan memeperoleh 87,72 %. Kemudian uji coba pada peserta didik kelompok kecil memperoleh pesertase 82,75%. Sedangkan uji coba pada peserta didik kelompok besar memperoleh pesertase 83,62%

    PENGEMBANGAN HISTORICAL MODULE AND POP UP (MOS UP) DALAM MATERI PAHLAWAN NASIONAL PADA MASA KOLONIALISME KELAS XI IIS MA SUMBER BUNGUR PAKONG

    No full text
    Abstrak Penelitian ini membahas mengenai kurangnya penggunaan bahan ajar yang kreatif dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar Historical Module and Pop Up. Model penelitian pengembangan yang digunakan oleh peneliti adalah model dari Sugiyono, langkah langkah model ini dimulai dari potensi masalah, pengumpulan data, desain  produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, dan revisi produk, namun produk yang akan dikembangkan oleh peneliti tidak diproduksi masal dikarenakan kendala dalam pembiyaan. Instrumen pengumpulan data yang diperoleh oleh peneliti berupa lembar validasi ahli materi, validasi ahli bahan ajar, dan  uji coba produk atau angket validasi peserta didik di MA Sumber Bungur Pakong Pamekasan dikelas XI IIS 2. Hasil uji validasi ahli bahan aja mendapatkan nilai persentase sebesar 85%, hasil uji validasi ahli bahan ajar mendapatkan nilai persentase 82,14%, hasil uji coba angket validasi peserta didik pada kelompok kecil mendapatkan nilai persentase 79,7%, dan hasil uji coba angket validasi peserta didik pada kelompok besar mendapatkan nilai persentase 88,8%. Dapat disimpulkan bahwa dengan perolehan nilai persentase dari validasi ahli materi, validasi ahli bahan ajar, dan uji coba kelompok kecil dan besar menunjukan produk yang dikembangkan oleh peneliti termasuk kategori sangat sesuai/layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran sejarah. Kata Kunci: pengembangan, Historical Module and Pop Up, pahlawan nasional, kolonialisme Abstract This study discussed the lack of use of creative teaching materials in learning history. This study aimed to develop the Historical Module and Pop Up teaching materials. The development research model used by researchers was a model from Sugiyono, the steps of this model begun from potential problems, data collections, product designs, design validations, design revisions, product trials, product revisions, usage trials, and product revisions, but products that will be developed by researchers are not mass produced due to financing constraints. The instruments of data collection obtained by researchers were material expert validation sheets, validation of teaching material experts, and product trials or validation questionnaires of students in MA Sumber Bungur Pakong Pamekasan in class XI IIS 2. The validation test results of teaching materials experts got a percentage value of 85%, the results of the validation test of teaching materials experts got a percentage value of 82.14%, the results of questionnaire validation trials in small groups got a percentage value of 79.7%, and the results of questionnaire trials validation of students in large groups got a percentage value of 88.8%. It can be concluded that the acquisition of percentage values ​​from material expert validation, teaching material validation, and small and large group trials showed that the product developed by the researcher was very suitable/ appropriate to be used as teaching material in the process of learning history. Keywords: development, Historical Module and Pop Up, national hero, coloniali

    0

    full texts

    1,821

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇