259 research outputs found

    Kontribusi K.H. Muhammad Amin Azhari dalam Menyebarkan Agama Islam melalui Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Najahiyah Palembang

    No full text
    This research was motivated by the author\u27s desire to know the contribution of K.H. Muhammad Amin Azhari in spreading Islam through education at Madrasah Ibtidaiyah Najahiyah. This research method is a qualitative research method. The type of research is descriptive qualitative with a historical approach. The data collection process is observation, interviews, documentation and literature study. The data analysis technique is using data reduction, data presentation, and conclusions (1) The history of the founding of the Najahiyah Ibtidaiyah Madrasah is that this madrasah was a madrasah endowed by the Palembang cleric, namely K.H. Muhammad Amin Azhari to spread Islam through education (2) Contribution of K.H. Muhammad Amin Azhari in spreading Islam through education, namely after he donated his land to build the Najahiyah madrasah, after the establishment of this madrasah, he participated in teaching religious sciences, such as Tauhid and Fiqh (3) The existence of the Najahiyah Madrasah had a positive impact on the people of Palembang, especially in the upper 3-4 regions in the socio-religious, socio-cultural and socio-economic fields, it is still around.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk mengetahui Kontribusi K.H. Muhammad Amin Azhari dalam menyebarkan agama Islam melalui Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Najahiyah. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Jenis penelitiannya adalah deskritif kualitatif dengan pendekatan historis. Proses pengumpulan data ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yaitu menggunakan reduksi data, sajian data, dan kesimpulan (1) Sejarah berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Najahiyah adalah madrasah ini merupakan madrasah yang diwakafkan oleh ulama Palembang yaitu K.H. Muhammad Amin Azhari untuk menyebarkan agama Islam melalui bidang pendidikan (2) Kontribusi K.H. Muhammad Amin Azhari dalam menyebarkan Islam melalui bidang pendidikan, yaitu setelah beliau mewakafkan tanahnya untuk membangun madrasah Najahiyah, setelah berdirinya madrasah ini, maka beliau ikutserta mengajarkan ilmu-ilmu agama, seperti Tauhid dan Fikih (3) Keberadaan Madrasah Najahiyah berdampak positif bagi masyarakat Palembang, khususnya wilayah 3-4 ulu dalam bidang sosial agama, sosial budaya dan sosial ekonomi masih sekitar

    EFEKTIVITAS METODE MENGHAFAL KOSA KATA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA SISWA KELASVIIIDIPONDOKPESANTRENALAMINKAB.SIAK.

    No full text
    ABSTRAK Muhammad Sholeh Nasution, (2022): Efektivitas Metode menghafal kosa kata untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Pada Siswa KelasVIIIdiPondokPesantrenAlAminKab.Siak. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu bert ujuan untuk mengetahui Penggunaan Met odemenghafalkosakatauntukMeningkatkanKeterampilanBerbicaraPadasiswakelasVIII Pondok PesantrenAl Amin Siak, dengan melihat efektifatautidaknya Metode Menghafal Kosa Katauntukmeningkatkanketerampilan Berbicara.Rumusan masalahdalampenelitianiniadalah Apakah penggunaan metode Menghafal Kosa kata ini efektif untuk meningkatkan keterapila n berbicara pada pelajaran Bahasa Arab siswa di Pondok Pesantren Al Amin Siak?". Objek dari penelitian ini adalah keterampilan berbicara. Subjek dari penelitian ini a dalah siswa kelas VIII Pondok Pesantren Al Amin Kab. Siak tahun ajaran 2021/2022. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa PondokPesantrenAl Amindansampelnya adalah siswakelasVIII yangberjumlah 70siswa.Instrumenyangdigunakanpenelitiuntukmengumpulkandataadalahobservasidantes. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai To = 77,6 lebih besar dari Tt pada taraf signifikansi 1%= 2.65 dan taraf signifikansi 5% = 2,00 sehingga Ho ditolak dan Ha diteri ma, yang berarti bahwa penggunaan metode Menghafal kosa kata efektif untuk meningkatkan keterampilan berbica ra pada pelajaranbahasaarab siswa Pondok PesantrenAlAminKab.Sia k. To lebih besar dari Tt pada derajat signifikansi 5% dan derajat signifikansi 1% Dan pada tabel observasiNilai96,66%berarti“sangatbaik”karenaberadapadaderajat81-100%. Katakunci:PenguasaanKosaKata,KeterampilanBerbicar

    Studi kritis pemikiran Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasution tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah

    No full text
    Fokus penelitian ini, yaitu: (1) Pemikiran dan metode istinbāṭ Siti Musdah Mulia tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah, (2) Pemikiran dan metode istinbāṭ Khoiruddin Nasution tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah, (3) Relevansi pemikiran Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasution tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah pada konteks sekarang. Jenis penelitian adalah penelitian kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Pendekatan yang digunakan pendekatan fikih, pendekatan filsafat hukum Islam (uṣūl al-fiqh) dan pendekatan komparatif (comparative approach). Penyajian data menggunakan metode deskriptif dan deduktif. Analisis data menggunakan metode deskriptif-analitik dan content analysis. Hasil penelitian ini, yakni: (1) Pemikiran Siti Musdah Mulia tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah adalah karena banyak dampak mudarat yang ditimbulkan akibat pernikahan siri/bawah tangan. Metode istinbāṭ yang digunakan Siti Musdah Mulia dalam menetapkan pencatatan nikah sebagai rukun nikah adalah surah al-Baqarah ayat 282 dengan metode qiyas aulawi, dilalah al-maqāṣid sejumlah hadis tentang pengumuman nikah dan metode maṣlaḥah mursalah, (2) Pemikiran Khoiruddin Nasution tentang urgensi pencatatan nikah masuk dalam rukun nikah adalah karena adanya perubahan konteks pengakuan dan penjaminan hak yang pada masa Rasul SAW cukup dengan walimah, pengumuman dan saksi, sedangkan pengakuan dan penjaminan hak konteks sekarang adalah dengan pencatatan nikah. Khoiruddin Nasution menggunakan metode kombinasi tematik-holistik dalam menetapkan pencatatan nikah sebagai rukun nikah, (3) Melihat kondisi masyarakat, hukum, norma-norma dan sosial-kultural yang berkembang pada masyarakat Indonesia saat ini, pemikiran Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasution tentang pencatatan nikah sebagai rukun nikah yang ditinjau secara filosofis, yuridis dan sosiologis dapat dikatakan tidak relevan. Sebab, keberlakuan pencatatan nikah baik secara filosofis, yuridis dan sosiologis hanyalah sebagai alat bukti autentik dan agar pernikahan tertib, sehingga bukanlah penentu keabsahan dalam pernikahan

    URGENSI PENCATATAN NIKAH SEBAGAI RUKUN NIKAH (STUDI KRITIS PEMIKIRAN SITI MUSDAH MULIA DAN KHOIRUDDIN NASUTION)

    No full text
    Fokus dari penelitian ini adalah tentang pemikiran Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasutionserta metode istinbā tentang urgensi pendaftaran pernikahan sebagai pilar pernikahan. Penelitianini merupakan penelitian kepustakaan. Teknik pengumpulan data menggunakan metodedokumentasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan pendekatan yurisprudensi, pendekatanfilsafat hukum Islam (uṣūlal-fiqh), dan pendekatan komparatif. Presentasi data menggunakanmetode deskriptif dan deduktif. Menganalisis data menggunakan metode analisis deskriptifanalitikdan konten. Hasil dari penelitian ini, adalah: (1) Pemikiran Siti Musdah Mulia tentangpentingnya pendaftaran pernikahan sebagai pilar pernikahan adalah karena ada banyak dampaknegatif yang disebabkan oleh perkawinan yang tidak terdaftar atau pernikahan informal. MetodeIstinbāṭ yang digunakan oleh Siti Musdah Mulia untuk menentukan pendaftaran nikah sebagaipilar pernikahan adalah surah al-Baqarah ayat 282 dengan metode qiyas aulawi, dilalah al-maqāṣid beberapa hadis tentang pengumuman perkawinan dan metode ma mlaḥah mursalah, (2)pemikiran Khoiruddin Nasution tentang urgensi pencatatan perkawinan sebagai pilar pernikahan adalah karena perubahan pengakuan dan jaminan konteks hak pada zaman Nabi SAW sudahcukup dengan walimah, pengumuman dan saksi, sementara sekarang pengakuan dan jaminanyang benar adalah pendaftaran nikah. Khoiruddin Nasution menggunakan metode kombinasitematik-holistik untuk menentukan pendaftaran pernikahan sebagai pilar pernikahan. (3)Mempertimbangkan kondisi masyarakat, hukum, norma dan sosial budaya yang berkembangpada masyarakat Indonesia saat ini maka Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasution tentangpendaftaran pernikahan sebagai pilar perkawinan yang ditinjau secara filosofis, yuridis dansosiologis , bisa dikatakan sudah tidak relevan lagi. Karena, keabsahan pendaftaran pernikahanbaik secara filosofis, yuridis dan sosiologis hanya sebagai bukti otentik dan ketertibanpernikahan orde nikah yang tertib, sehingga bukan penentu legitimasi dalam perkawinan

    PEMBAGIAN HARTA WARIS KHUNTSA MUSYKIL (BANCI): Komparasi Abū Ḥanīfah dan ‘Ali Al-Ṣabūnī

    No full text
    This article is result of library research with a normative legal approach. Legal materials and data were obtained from Islamic legal norms regarding inheritance and khuntsa obtained from the texts of the Qur'an and Hadith, as well as the opinions of the jurists. This thesis discusses the distribution of khuntsa inheritance based on the opinion of Imam Ali As-Shobuni and Imam Abu Hanifah. People who do not have a clear gender status, not male and not female, are called khuntsa in Islamic law. One of the problems of khuntsa is in determining the right of inheritance. The Qur'an does not clearly state the portion of khuntha inheritance. This study concludes that in the unclear gender of khuntsa, it can be determined by two things, namely first, signs of maturity and second, where does urine come from. This argument is put forward using the istidlal theory used by Imam Ali As-Shobuni and Imam Abu Hanifah. If a khuntsa has a clear gender status, then this status follows the law of inheritance Keyword : Khuntha mushkil, gender, inheritance.   DAFTAR PUSTAKA Amin, H. A., Masrokhin, M., & Anwar, K. (2021). GUARDIANS CONCEPT IN QUR’AN PERSPECTIVE . SHAKHSIYAH BURHANIYAH: Jurnal Penelitian Hukum Islam , 6(1), 95 - 114. https://doi.org/10.33752/sbjphi.v6i1.1642 al-Jurjany,  Ali  bin  Muhammad.  Syarhus  Sayyid  Syarif  „ala Sirajiyah,  Kairo: Farjallahu Zaky al-Kurdy al-Khatib, Muhammad Asy-Syarbiny. 1958. Mughni al-Mukhtaj, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halaby. al-Lahim, Abdul Karim bin Muhammad. 2000. Al Faraidl. Riyadh: Al-Mamlakah Al-Arabiyah al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib. 1994. Al-Hawi Al- Kabir, Beirut: Daar al-Kutub al-„Ilmiyyah al-Qazuni, Muhammad bin Yazid, 2000. Sunan Ibn Majah, Beirut: Darul Fikr al-Shabuni, Muhammad Ali. 1985. al-Mawarits fi al-Syari‟ah al-Islamiyyah fi Dhaui al-Kitab wa al-Sunnah, Beirut: Alim al-Kitab Basyir, Ahmad Azar. 2004. Hukum Waris Islam, Yogyakarta: UII Pres Hamid, Muhammad Muhyiddin Abdul. 2009. Panduan Waris Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait. 1983. Al-Mausu'ah Al-FiqhiyahAl-Kuwaitiyah, Kuwait: Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait, Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Mesir. 2004. Hukum Waris, Penerjemah Addys Al-Dizar dan Fathurrahman, Jakarta: Senayan Abadi Publishing Nasution, Amin Husein. 2012. Hukum Kewarisan Suatu Analisis Komaratif Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Qudamah.Al-Imam Muwaffiquddin Abi Muhammad, Abdullah bin Ahmad. 1985. Al-Mughni  fi  Fiqhi  Al-Imam  Ahmad  ibn  Hanbal  Asy-Syaibani.  Beirut: Daar al-Fikr Thaha,  Muhammad.  2007.  Hukum  Waris,  Pembagian  Warisan  Berdasarkan Syariat Islam. Solo: Tiga Serangkai Wizarah At Tarbiyah wa At Ta'allum. 1996. Ilmu Al-Faraidl wa Al-Mawarits. (Riyadh: Al-Mamlakah Al-ArabiyahArtikel ini adalah hasil dari penelitian kepustakaan dengan pendekatan hukum normatif. Bahan hukum dan data diperoleh dari norma- norma hukum Islam tentang kewarisan dan khuntsa yang diperoleh dari nash al-Qur‟an dan Hadits, serta pendapat para fuqaha‟.  Tesis   ini   mendiskusikan pembagian  warisan  khuntsa  berdasarkan  pendapat  Imam Ali  As-Shobuni  dan     Imam  Abu  Hanifah.  orang  yang  tidak mempunyai status jenis kelamin yang jelas, bukan laki-laki dan bukan perempuan disebut dengan istilah khuntsa dalam hukum islam. Salah satu dari permasalahan  khuntsa  adalah dalam hal menentukan hak kewarisannya.  Al-Qur‟an  tidak menyebutkan secara jelas bagian waris khuntha. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam ketidak jelasan jenis kelamin khuntsa, dapat ditentukan dengan dua hal, yaitu pertama, tanda-tanda kedewasaannya dan kedua, darimana ia mengeluarkan air kencing. Argumen ini diajukan dengan menggunakan teori istidlal yang digunakan oleh  Imam Ali  As-Shobuni  dan     Imam  Abu  Hanifah. Bila seorang khuntsa telah jelas status jenis kelaminnya, maka status ini mengikuti pada hukum kewarisannya. Kata Kunci : Khuntha mushkil, jenis kelamin, pembagian waris   DAFTAR PUSTAKA Amin, H. A., Masrokhin, M., & Anwar, K. (2021). GUARDIANS CONCEPT IN QUR’AN PERSPECTIVE . SHAKHSIYAH BURHANIYAH: Jurnal Penelitian Hukum Islam , 6(1), 95 - 114. https://doi.org/10.33752/sbjphi.v6i1.1642 al-Jurjany,  Ali  bin  Muhammad.  Syarhus  Sayyid  Syarif  „ala Sirajiyah,  Kairo: Farjallahu Zaky al-Kurdy al-Khatib, Muhammad Asy-Syarbiny. 1958. Mughni al-Mukhtaj, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halaby. al-Lahim, Abdul Karim bin Muhammad. 2000. Al Faraidl. Riyadh: Al-Mamlakah Al-Arabiyah al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib. 1994. Al-Hawi Al- Kabir, Beirut: Daar al-Kutub al-„Ilmiyyah al-Qazuni, Muhammad bin Yazid, 2000. Sunan Ibn Majah, Beirut: Darul Fikr al-Shabuni, Muhammad Ali. 1985. al-Mawarits fi al-Syari‟ah al-Islamiyyah fi Dhaui al-Kitab wa al-Sunnah, Beirut: Alim al-Kitab Basyir, Ahmad Azar. 2004. Hukum Waris Islam, Yogyakarta: UII Pres Hamid, Muhammad Muhyiddin Abdul. 2009. Panduan Waris Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait. 1983. Al-Mausu'ah Al-FiqhiyahAl-Kuwaitiyah, Kuwait: Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait, Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Mesir. 2004. Hukum Waris, Penerjemah Addys Al-Dizar dan Fathurrahman, Jakarta: Senayan Abadi Publishing Nasution, Amin Husein. 2012. Hukum Kewarisan Suatu Analisis Komaratif Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Qudamah.Al-Imam Muwaffiquddin Abi Muhammad, Abdullah bin Ahmad. 1985. Al-Mughni  fi  Fiqhi  Al-Imam  Ahmad  ibn  Hanbal  Asy-Syaibani.  Beirut: Daar al-Fikr Thaha,  Muhammad.  2007.  Hukum  Waris,  Pembagian  Warisan  Berdasarkan Syariat Islam. Solo: Tiga Serangkai Wizarah At Tarbiyah wa At Ta'allum. 1996. Ilmu Al-Faraidl wa Al-Mawarits. (Riyadh: Al-Mamlakah Al-Arabiya

    Peran shalawat untuk memperoleh ketenangan jiwa : Penelitian kualitatif PPQ Al Amin III Banyumas

    No full text
    Shalawat Nabi merupakan cara berkomunikasi antara pembaca shalawat dengan Nabi Muhammad Saw. dan Allah Swt. sehingga pembacanya merasa dekat dan tenang, lebih mudah mengendalikan diri dari hawa nafsu, dan mendapatkan manfaat-manfaat lain dari shalawat tersebut. Latar belakang penelitian dikarenakan dua hal. Pertama, sebab adanya pengajian shalawat di Indonesia dan khususnya di PPQ Al Amin III. Kedua, penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil survei tingkat kekhawatiran orang Indonesia yang lumayan tinggi, namun banyak pula orang-orang Indonesia yang memiliki ketenangan jiwa tinggi. Kemudian, diketahui bahwa manfaat shalawat salah satunya adalah untuk mencapai ketenangan jiwa yang mana manfaat ini dapat ditemukan pada ketenangan jiwa santri PPQ Al Amin III. Metodologi pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu dengan kekuatan analisis data pada sumber-sumber data yang ada, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah menggunakan teknik lapangan dengan menggunakan kualitatif deskriptif yang merupakan penelitian tentang individu, organisasi, atau kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa santri PPQ Al Amin III berada dalam ketenangan jiwa yang baik (dari tingkat rata-rata sampai sangat tenang) dengan mengamalkan shalawat secara rutin

    Muhammad-Amin (Khazakhilav) ar-Ruchi. The study of the biography of Dagestan medieval scientist

    No full text
    This article explores the life of a medieval Dagestani scholar Muhammadamin (Khazakhilav). He is known as a scientist in natural sciences and astronomy. It has been established that he was a teacher of the most prominent scholars of Dagestan of the 17th and 18th centuries (Muhammad al-Kuduki, Damadan al-Mukhi et al.). The object of this study is the origin and the main stages of the life of the scientist. We studied the following issues involving his teachers, students and research interests. The article describes the epitaph on the tombstone of Khazakhilav. The author was also able to detect the poetic work of the scientist. In his poems Muhammad-Amin ar-Ruchi speaks of the impermanence of life and calls one to turn to Islam as a means for a person to save his soul. To recreate the biography of the scientist and the author we used oral tradition, preserved in the villages of Risor and Tlenserukh (now Charodinsky District, Republic of Dagestan). Refs 12

    Penentuan Kadar Metana pada Aliran Gas ke Dietanol Amin, Karbonat, Plant, dan Train Menggunakan Kromatografi Gas

    No full text
    Metana is one of the hydrokarbon component which present in natural gas. Natural gas consists of 60-90 % methane that depends on natural resource. The higher methane content, the better quality of the natural gas. And the lower methane content, the worse the quality of that natural gas. The content of methane can be observed with Gas Chromatography. The content of methane in natural gas is Feed gas to DIETANOL AMIN (DEA) 92,870 %, Feed gas to TRAIN 82,541 %, Feed gas to Carbonate 82,541 %, Feed gas to PLANT 70,277 %. Based on the result, the highest content of methane is in the feed gas to DEA 92,870 %.46 HalamanKertas Karya Diplom

    Shining Gold in Praise of Prophet Muhammad (P.B.U.H.)

    No full text
    As explained by the manuscript holder, the original author wrote the manuscript during one of his many stays in northern Nigeria where he had Sufi followers and friends. He used paper provided to him by the Directopr's office at the Alfa Umaru Ibrahim Institute (Northern Nigeria). The manuscript is the original handwritten by Sheikh Muhammad Al-Ghāli Ibn Sheikh Al-Hajj Muhammad Al-Amin Ba of Pate Galo (Senegal). It is a praise poem on the life of Prophet Muhammad (SWA). The manuscript is subdivided in seven parts. Part one deals with the birth, upbringing and unique character of Muhammad. Part two addresses how Muhammad obtained and carried his call of prophethood, and his exile to Madina (today's Saoudi Arabia). This part ends with the prophet’s stay at Mount of Hirā. Part 3 starts with Prophet Mohammad’s journey towards Madina from Mount Hira. His entrance to Madina and how the people of Madina welcomed him and how he established a Muslim community. Part 4 touches on Muslim wars against the non-Muslims up to their victory over Makka and its surrounding areas. This part also talks of the messages that prophet Muhammad sent to the various kings in the Arabian Peninsula. Part five is the Prophet's final pilgrimage and his Farewell Sermon. Part 6 describes the prophet as a person with miracles. Part 7 and 8 praise the prophet and provide guidance on how to connect with him.Comme l'explique le gardien du manuscrit, l'auteur original l'a écrit au cours de l'un de ses nombreux séjours dans le nord du Nigéria où il avait des adeptes et des amis soufis. Il a utilisé du papier qui lui avait été fourni par le bureau du directeur général de l'Institut Alfa Umaru Ibrahim (nord du Nigéria). Le manuscrit est l'original redigé par Cheikh Muhammad al-Ghāli Ibn Cheikh Al-Hajj Muhammad Al-Amin Ba de Pate Galo (Sénégal). C'est un poème de louange sur la vie du prophète Muhammad (SWA). Le manuscrit est subdivisé en sept parties. La première traite de la naissance, de l'éducation et du caractère unique de Muhammad. La deuxième partie explique comment Mohammed a obtenu et réalisé son appel à la prophétie et son exil à Madina (aujourd'hui en Arabie saoudienne). Cette partie se termine par le séjour du prophète au mont Hirā. La troisième partie commence par le voyage du prophète Muhammad vers Madina depuis le mont Hira. Son entrée à Madina et comment les gens de Madina l'ont accueilli et comment il y a créé une communauté musulmane. La quatrième partie traite des guerres saintes contre les non-musulmans jusqu'à leur victoire sur Makka et ses environs. Cette partie parle également des messages que le prophète Muhammad a envoyés aux différents rois de la péninsule arabique. La cinquième partie traite du dernier pèlerinage du prophète et de son sermon d'adieu. La partie 6 décrit le prophète et ses grand miracles. Les parties 7 et 8 louent le prophète et expliquent comment entrer en contact avec lui
    corecore