6024 research outputs found
Sort by
Dayak Ngaju Customary Sanctions as a Rehabilitation Mechanism for Drug Addicts in Central Kalimantan
The high number of drug addicts who have been successfully rehabilitated in Central Kalimantan (2,982 people) in the last 7 years always relates to the role of Dayak tribal
leaders. Drug abuse is a significant threat to social cohesion and the sustainability of Dayak culture. The research aimed to analyze how Dayak Ngaju customary sanctions are applied in the rehabilitation of drug addicts and their impact on preserving cultural values. The study was a qualitative approach and used in-depth interviews and
participant observations to collect the data from traditional figures and Dayak communities. The findings showed that Customary Sanctions function not only as a
form of punishment but also as an effective rehabilitation tool, fostering a sense of accountability and strong social bonds. The study’s implications underscore the importance of integrating local wisdom into drug abuse prevention efforts as a means to reinforce the community’s social and cultural networks. Future research is recommended to explore the long-term effectiveness of these sanctions in preventing
relapse and to compare similar practices across Indigenous communities.
Abstract
Tingginya jumlah pecandu narkoba yang berhasil direhabilitasi di Kalimantan Tengah (2.982 orang) dalam 7 Tahun terakhir tidak terlepas dari peran tokoh adat suku,Dayak.Penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman signifikan terhadap kohesi sosial dan keberlanjutan budaya masyarakat Dayak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sanksi adat Dayak Ngaju diterapkan dalam rehabilitasi pecandu narkoba dan dampaknya terhadap pelestarian nilai-nilai budaya. Dengan menggunakan pendekatan
kualitatif, penelitian ini memanfaatkan wawancara mendalam dan observasi partisipan untuk mengumpulkan data dari tokoh adat dan masyarakat Dayak. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa sanksi adat berfungsi tidak hanya sebagai bentuk hukuman
tetapi juga sebagai alat rehabilitasi yang efektif, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan ikatan sosial yang kuat. Implikasi penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba
sebagai sarana untuk memperkuat jaringan sosial dan budaya masyarakat. Penelitian di masa mendatang direkomendasikan untuk mengeksplorasi efektivitas jangka panjang sanksi ini dalam mencegah kekambuhan dan membandingkan praktik serupa di seluruh
masyarakat adat
Transformasi Pendidikan Islam dalam Mendorong Self-Regulated Learning Siswa Madrasah : Studi Empiris di MTs Mumtaz Palangka Raya
Most students struggle with independent learning due to low motivation, which typically arises only when completing homework or preparing for exams. This issue is closely
related to the concept of self-regulated learning (SRL). This study aims to explore how Islamic education at MTs Mumtaz fosters the development of SRL among students. A
qualitative approach was employed, with 16 eighth-grade students as research subjects. Data were collected through structured interviews, direct observation, and documentation. Data analysis followed four stages: data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing or verification. The findings reveal that Islamic education at MTs Mumtaz Palangka Raya effectively promotes SRL through the internalization of Islamic values, which serve as the foundation for self-regulation. These values include sincerity (ikhlas), discipline, and responsibility. The internalization. process strengthens students’ awareness and independence in managing their learning actively and continuously. These findings align with the theory of Islamic value-based education as a foundation for the development of self-regulation in learners. This study offers important insights for schools in designing value-based learning strategies that
support SRL and opens opportunities for further research on the role of Islamic values in promoting autonomous learning.
Abstract
Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam belajar mandiri akibat rendahnya motivasi belajar, yang umumnya hanya muncul saat mengerjakan tugas rumah atau menjelang ujian. Masalah ini berkaitan erat dengan konsep self-regulated learning (SRL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana transformasi pendidikan Islam di MTs Mumtaz mampu mendorong terbentuknya SRL pada siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak 16 siswa kelas VIII. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara terstruktur, observasi langsung, dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam di MTs Mumtaz Palangka Raya berhasil mendorong SRL melalui internalisasi nilai-
nilai keislaman yang dijadikan dasar regulasi diri. Nilai-nilai tersebut meliputi ikhlas, disiplin, dan tanggung jawab. Proses internalisasi ini memperkuat kesadaran dan kemandirian siswa dalam mengatur proses belajarnya secara aktif dan berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan teori
pendidikan nilai Islam sebagai landasan pembentukan regulasi diri siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi sekolah dalam merancang strategi pembelajaran berbasis nilai yangmendorong SRL, serta membuka peluang untuk penelitian lanjutan mengenai peran nilai-nilai Islam
dalam mendukung pembelajaran mandiri
Self-Regulated Learning Sebagai Prediktor Kemandirian Belajar Siswa di Era Digital : Studi Kasus di MTs Hidayatul Muhajirin Palangka Raya
This study aims to analyze the role of Self-Regulated Learning (SRL) as a predictor of student learning
independence in the digital era, with a case study focus at Mts Hidayadul Muhajirin Palangka Raya. The digital
era requires students to be able to learn independently, adaptively, and be responsible for their learning process.
SRL, which includes aspects of motivation, cognitive strategies, and self-management, is one of the important
factors that can affect the level of student learning independence. This research uses a qualitative approach with
data collection techniques using observation and interviews. The data were analyzed to obtain research findings.The subjects in this study were Hidayatul Muhajirin Palangka Raya Mts students who had low SRL, but there were also some students who had high SRL. Self-Regulates Learning in these students is independently influenced by several factors, namely 1) self-confidence, 2) internal motivation, 3) direct support from the family while the inhibiting factors are 1) the absence of encouragement from parents to tell their children to study, 2) getting used to the comfort zone
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Self-Regulated Learning (SRL) sebagai prediktor kemandirian belajar siswa di era digital, dengan fokus studi kasus di Mts Hidayadul Muhajirin Palangka Raya.Era digital menuntut siswa untuk mampu belajar secara mandiri, adaptif, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. SRL, yang mencakup aspek motivasi, strategi kognitif, dan pengelolaan diri, menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi tingkat kemandirian belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Data-data tersebut dianalisis untuk mendapatkan temuan-temuan penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Mts Hidayatul Muhajirin Palangka Raya memiliki SRL yang rendah, namun
ada juga beberapa siswa yang memiliki SRL yang tinggi. Self-Regulates Learning pada siswa ini secara mandiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu 1) kepercayaan diri, 2) motivasi yang ada dalam diri, 3) dukungan langsung dari keluarga sedangkan faktor penghambatnya adalah 1) tidak adanya dorongan dari orangtua untuk menyuruh anaknya belajar, 2) terbiasa di zona nyama
Ushul Fiqh:Menginspirasi atau Diinspirasi?,Pidato dan Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Fakultas Syariah UIN Palangka Raya Kalimanatan Tengah
Buku ini hadir sebagai refleksi terhadap sikap masyarakat muslim yang sepertinya kurang menyadari kedudukan dan peran ushul fiqh. Akibatnya ushul fiqh pun dipandang seperti ilmu pendukung dan bukan sebagai ilmu utama. Misalnya dalam kurikulum PTKIN, penempatan ushul fiqh terkadang berbeda, ada yang di semester I ada juga di semester III dan IV. Begitu juga penamaan ilmu ini ada yang menyebutnya ushul fiqh I dan II, ada juga tidak menambah embel-embel lain sehingga hanya disebut ushul fiqh begitu saja, bahkan ada yang menggabungkannya dengan ilmu yang lain seperti fiqh dan ushul fiqh.
Permasalahan lainnya bahwa ushul fiqh berbahasa Arab sehingga menjadi problem tersendiri bagi penstudi. Kendatipun terdapat terjemahan atau buku-buku ushul fiqh yang ditulis dengan bahasa Indonesia, tetapi tetap saja mengandung problem seperti kurang jelasnya redaksi bahasa yang digunakan.
Perlakuan dan permasalahan di atas sepertinya berpotensi berkurangnya minat untuk mempelajari ushul fiqh. Bahkan ada yang bertanya, “apa sich ushul fiqh?”, “ilmu apa’an dia?”. Ada juga yang sepertinya memandang ushul fiqh adalah ilmu kolot atau ushul fiqh hanya untuk orang yang bersarung. Bahkan ada yang menyatakan “ngapain belajar ushul fiqh, mau diapain al-Qur’an dan hadis itu?” atau “apakah Islam kurang lengkap, sehingga harus belajar ushul fiqh?”.
Itulah beberapa permasalahan terkait ushul fiqh. Untungnya belum ditemukan ada orang menyatakan “belajar ushul fiqh adalah bid‘ah karena tidak pernah diajarkan Nabi”. Padahal jika dipelajari dengan baik, sepanjang yang saya ketahui ushul fiqh adalah ilmu yang sangat penting, bukan ilmu kolot atau hanya dipelajari oleh orang yang memakai sarung alias kalangan tradisional, tetapi dipelajari juga oleh semua orang karena ushul fiqh adalah kebutuhan setiap orang, termasuk orang-orang berdasi. Alasannya karena hukum Islam lahir dari ushul fiqh dan ushul fiqh lah yang memproduksi hukum Islam. Oleh karena itu hukum Islam tidak dapat dipelajari dengan baik tanpa ushul fiqh. Bahkan tidak hanya seperti yang digambarkan di atas, di sini saya berasumsi bahwa ushul fiqh berkontribusi positif terhadap perkembangan keilmuan lainnya. Dalam redaksi lain bahwa ushul fiqh adalah salah satu ilmu yang menginspirasi perkembangan teori-teori keilmuan lainnya. Apakah benar ushul fiqh menginspirasi?. Jawabannya dapat dilihat dalam buku ini
Building an Academic Writing Culture As a Medium to Improve Students’Self-Efficacy
Purpose of the study: This study aims to analyze the relationship between academic writing culture and students' self-efficacy. Academic writing is a crucial skill in higher education, yet many students struggle to develop effective
writing habits. Low interest, lack of academic support, and limited foundational writing skills are key factors affecting the students' self-efficacy in performing
academic tasks.
Methodology: This study employed a quantitative approach with a correlational method. A purposive sampling technique was used to select 26 students who were actively engaged in academic writing. Data were collected through a Likert-scale closed questionnaire and analyzed using the Pearson productmoment correlation to determine the strength and direction of the relationship between academic writing culture and self-efficacy.
Main Findings: The results indicate a very strong relationship between academic writing culture and students' self-efficacy, with a correlation coefficient (r) of 0.994. The coefficient of determination (R²) of 98.8% demonstrates that academic writing culture makes a significant contribution to improving students' self-efficacy, while other factors influence 1.2%. This finding suggests that fostering a strong academic writing culture enhances students' confidence in facing academic challenges.
Novelty/Originality of this Study: This study provides novel insights by highlighting the essential role of academic writing culture as a dominant factor influencing students' self-efficacy. While previous research has examined writing difficulties and self-efficacy separately, this study establishes a direct and strong correlation between them. The findings underscore the importance of institutional support in promoting academic writing habits that boost students'
confidence and academic success
Islamic Education in the Contemporary Era:Initiating a Method Format that is Enjoyable and Fun
This research aims to initiate an enjoyable and fun format of Islamic education methods as a solution in improving the effectiveness of learning in the contemporary era. The importance of this research lies in the need for innovation in learning methods that not only emphasize the transfer of
religious knowledge, but also develop 21st century skills such as critical thinking, creativity, collaboration, and communication (4C). With interactive and fun learning methods, it is expected that students can be more active, enthusiastic, and have a deeper understanding of Islamic
teachings. This research uses library research method by collecting and analyzing data from various relevant sources, such as books, scientific journals, and articles that discuss the concept of Joyful Learning in Islamic
education. The results show that the application of the Joyful Learning method in Islamic education can increase students' learning motivation, reduce boredom in understanding religious material, and create a more conducive and interactive learning environment. Some of the strategies that can be applied in joyful Islamic learning include the use of digital technology, game-based learning, project-based learning, as well as based approach. By applying these methods, Islamic education does not only focus on the cognitive aspect, but also shapes the character of learners
who are creative, communicative, and collaboratio
Kepemimpinan Pendidikan Islam: Menjaga Tradisi Menuju Kualitas Global
Buku ini memberikan gambaran yang jelas tentang peran
penting seorang pemimpin dalam dunia pendidikan Islam. Buku
ini dengan cermat menguraikan bagaimana seorang pemimpin
pendidikan Islam dapat menjaga warisan tradisional yang telah
terbukti bermanfaat, sambil mengakomodasi kemajuan zaman dan
tuntutan kualitas global
Problematika & Solusi Pengembangan Ekonomi Syariah (Editor : Atina Shofawati)
Buku ini berisi tentang pemahaman yang lebih mendalam mengenai ekonomi syariah, tantangan yang dihadapi dalam perkembangannya, serta solusi yang dapat diterapkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di berbagai sektor
Pluralism and Interreligious Dialogue: An Islamic Perspective on Socio-Religious Relations
Religious diversity is an unavoidable social reality. However, this diversity often leads to tension and conflict between religious communities. The concept of
pluralism comes as a solution to create a harmonious life by emphasizing mutual respect and understanding of differences. This research aims to examine the Islamic perspective in building harmonious socio-religious relations in the midst of pluralism by using the literature study method, this
research analyzes the concept of pluralism and interfaith dialogue in the Islamic perspective through a qualitative approach. The data used comes from various academic literatures, including books, scientific journals, and relevant official documents. The results show that the concept of Tri Kerukunan (internal religious harmony, inter-religious harmony, and harmony between religious communities and the government) is the main asset in building harmonious religious pluralism in Indonesia. In addition, social dynamics in religious pluralism in contemporary society face various challenges, such as differences in theological views and the spread of information that can worsen inter-religious relations. Therefore, the active involvement of various parties, including religious leaders and the government, is needed to manage moreinclusive social interactions and build a civilized societ
Ramadhan & Siklus Ekonomi (Editor : Khalish Khairina dan Lisnawati)
Buku ini menguraikan bagaimana Ramadhan menjadi momentum
kebangkitan ekonomi umat, memperkuat ekosistem ekonomi berbasis syariah, serta membangun pola konsumsi yang lebih etis dan berkelanjutan.
Buku ini juga menyoroti peran teknologi digital, khususnya dalam e-commerce dan penyebaran produk halal, yang semakin berkembang di bulan Ramadhan. Tidak hanya membahas fenomena yang terjadi selama bulan suci, beberapa kajian dalam buku ini juga menggali urgensi penguatan ekonomi syariah pasca,Ramadhan, agar keberkahan dan dampak positif yang dihasilkan tetap berlanjut dalam kehidupan umat