6024 research outputs found
Sort by
The Impact of the “Certificate of Marriage Readiness” Policy on the Prevention of Early Marriage in Kotawaringin Barat District, Indonesia
This study analyzes the impact of the Ready to Marry Certificate policy on reducing early marriage rates in West Kotawaringin. Using a quantitative method with a case study
approach, this research involved prospective couples and Religious Affairs Office (KUA) officials. Data were collected through questionnaires and documentation to obtain a comprehensive picture of the effectiveness of this policy. The results showed a significant decrease in the number of marriage dispensation applications after the implementation of the policy. In addition, the policy played a role in raising public awareness of the importance of delaying marriage to a more mature age. However, policy implementation still faces a number of challenges, including a lack of coordination between relevant institutions and
community resistance in some areas. This study concludes that the Surat Keterangan Siap Nikah policy has great potential to reduce the number of early marriages, but needs further improvement and adjustment to overcome the existing obstacles. The findings are expected to serve as a foundation for the development of more effective policies in the future
Anak dalam Kecepatan: Eksplorasi Syndrome Velocity dan Pengaruhnya terhadap Siswa SD Islam Nahdlatul Ulama
Dalam era digital yang serba cepat, anak-anak sekolah dasar semakin terpapar tren media sosial seperti velocity sebuah teknik penyuntingan video yang menciptakan efek percepatan
ritmis. Artikel ini mengkaji fenomena syndrome velocity, yakni kondisi psiko-sosial akibat tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan paparan digital intens yang menyebabkan percepatan
emosional dan gangguan fokus belajar pada anak. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif,penulis menggabungkan studi literatur dan wawancara dengan guru serta tenaga pendidik di SD Islam Nahdlatul Ulama Palangka Raya. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun hanya sebagian siswa yang terlibat langsung dalam tren velocity, dampak sosial dan psikologisnya meluas ke
seluruh kelas. Fenomena ini memengaruhi motivasi belajar, konsentrasi, serta perkembangan emosional anak-anak. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang seimbang, serta meningkatkan literasi digital agar anak dapat mengelola paparan media sosial dengan bijak.
Abstract
In the rapidly evolving digital era, elementary school children are increasingly exposed to social media trends such as velocity a video editing technique that creates rhythmic acceleration effects. This article explores the phenomenon of syndrome velocity, a psychosocial condition
arising from academic pressure, social expectations, and intense digital exposure, which leads to emotional acceleration and diminished learning focus in children. Using a descriptive qualitative approach, the study combines literature review with interviews conducted with teachers and education staff at Nahdlatul Ulama Islamic Elementary School in Palangka Raya. The findings reveal that although only a portion of students actively participate in the velocity trend, its social and psychological impact extends across the classroom. This phenomenon affects students’learning motivation, concentration, and emotional development. The study underscores the crucial role of families and schools in creating a balanced learning environment and promoting digital literacy so that children can manage social media exposure wisely
Pendidikan Agama Islam Sebagai Pendekatan Psikoedukatif dalam Menangani Isu Kesehatan Mental Remaja di SMA
Adolescence is a complex developmental stage marked by heightened vulnerability to psychosocial stress, necessitating an educational approach that addresses not only cognitive but also emotional and spiritual dimensions. Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam/PAI) plays a strategic role in fostering adolescent mental
resilience through a psychoeducational approach integrated with spiritual, moral, and social values. This article aims to analyze the contribution of PAI to adolescent mental health at the senior high school level using a qualitative case study approach. The focus of the study includes three main aspects: stress management, confidence building, and the development of social support through religious communities. The findings show that PAI effectively assists adolescents in managing stress through the internalization of Islamic values such as sabar (patience) and tawakal (trust in God), enhances self-confidence through an understanding of individual potential as God's creation, and strengthens social support through participation in collective religious activities. These results are supported by previous studies indicating that active involvement in religious practices positively impacts emotional stability, inner peace, and identity formation.Therefore, PAI should be positioned not merely as a normative subject, but as a transformative educational instrument that holistically supports the psychological well-being of adolescents.
Abstract
Remaja merupakan fase perkembangan yang kompleks dan rentan terhadap tekanan psikososial, sehingga memerlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya kognitif, tetapi juga emosional dan spiritual. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk ketahanan mental remaja melalui pendekatan psikoedukatif yang terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi PAI terhadap kesehatan mental remaja di tingkat sekolah menengah atas dengan menggunakan pendekatan
kualitatif studi kasus. Fokus kajian mencakup tiga aspek utama, yaitu pengelolaan stres, penguatan kepercayaan diri, dan pembangunan dukungan sosial melalui komunitas keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAI efektif membantu remaja dalam mengelola stres melalui penginternalisasian nilai-nilai Islam seperti sabar dan tawakal, meningkatkan kepercayaan diri melalui pemahaman akan potensi diri sebagai makhluk Tuhan, serta memperkuat dukungan sosial melalui keterlibatan dalam aktivitas religius kolektif. Temuan ini diperkuat oleh studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam praktik keagamaan berdampak positif terhadap kestabilan emosi, ketenangan batin, dan penguatan identitas diri. Oleh karena itu, PAI perlu diposisikan tidak hanya sebagai mata pelajaran normatif, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan transformatif yang mendukung kesejahteraan psikologis remaja secara menyeluruh
Manajemen Madrasah Berbasis Kearifan Lokal(Editor : M. Redha Anshari,Syahmidi)
Penerapan kearifanlokal di madrasah diyakini mampu memperkuat jati diri budaya, membentuk karakter peserta didik, serta memberikan jawaban atas tantangan global tanpa harus kehilangan akar tradisi bangsa.
Isi buku ini menguraikan berbagai konsep, prinsip,
dan penerapan manajemen madrasah berbasis kearifan
lokal. Penulis berharap karya ini dapat menjadi inspirasi
sekaligus rujukan bagi para pendidik, kepala madrasah,
pengelola lembaga pendidikan, mahasiswa, maupun
pemerhati pendidikan dalam merancang manajemen
madrasah yang kontekstual, humanis, dan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat
Regulasi Emosi dan Keputusan Impulsif di Era Media Sosial: Studi tentang Pengaruh TikTok dan TikTok Shop
Artikel ini membahas tentang pengaruh penggunaan TikTok dan fenomena TikTok shoop terhadap perilaku pembelian impulsif di kalangan remaja di Palangkaraya, dengan regulasi emosi sebagai variabel yang memediasi hubungan tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan melibatkan 35 responden berusia antara 18 hingga 25 tahun yang merupakan pengguna aktif TikTok. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling, dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring
yang menggunakan skala Likert. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan TikTok dan TikTok shock terhadap kecenderungan melakukan pembelian impulsif (dengan nilai signifikansi p < 0,05). Selain itu, regulasi emosi berperan sebagai mediator dalam hubungan ini, di mana remaja dengan kemampuan mengelola emosi yang rendah lebih rentan terpengaruh untuk melakukan pembelian secara impulsif. Temuan ini menegaskan bahwa platform digital seperti TikTok tidak hanya membentuk pola konsumsi remaja, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu, khususnya dalam hal pengendalian emosi. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperdalam pemahaman mengenai perilaku konsumtif impulsif di era digital, serta menekankan pentingnya penguatan literasi emosi dan kesadaran konsumsi di kalangan generasi muda.
Abstract
This article discusses the influence of the use of TikTok and the TikTok shoop phenomenon on impulse buying behavior among teenagers in Palangkaraya, with emotion regulation as a variable that mediates the relationship. The approach used in this study is quantitative, involving 35 respondents aged between 18 to 25
years old who are active TikTok users. The sampling technique was carried out by accidental sampling, and data were collected through an online questionnaire using a Likert scale. The data obtained was then analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The results of the analysis showed a significant relationship between the intensity of TikTok use and TikTok shock on the tendency to make impulse purchases
(with a significance value of p < 0.05). In addition, emotion regulation acts as a mediator in this relationship, where adolescents with low emotion management skills are more prone to be influenced to make impulse purchases. These findings confirm that digital platforms such as TikTok not only shape adolescents'
consumption patterns, but are also influenced by individuals' psychological state, particularly in terms of emotion control. This study contributes to deepening the understanding of impulsive consumptive behavior in the digital era, and emphasizes the importance of strengthening emotional literacy and consumption awareness among the younger generation
Fiqh Edukatif: Memahami Syari'at & Hikmahnya di Era Kontemporer
Buku "Fiqh Edukatif: Memahami Syari'at & Hikmahnya di
Era Kontemporer" hadir sebagai upaya untuk menjembatani
kesenjangan antara pemahaman klasik dan kebutuhan modern.
Karya ini tidak hanya menyajikan hukum-hukum fiqh secara
normatif, tetapi juga mengungkap hikmah dan filosofi di balik setiap ketentuan syari'at, sehingga pembaca dapat memahami esensi dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan edukatif yang digunakan dalam buku ini
bertujuan untuk memberikan pemahaman yang holistik dan
aplikatif. Setiap pembahasan dilengkapi dengan contoh-contoh
praktis, analisis mendalam terhadap hikmah di balik hukum, serta panduan implementasi di era modern. Penulis berusaha
menyajikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa
mengurangi substansi keilmuan yang mendala
Teologi Islam Kontemporer :Menggagas Pluralisme dan Multikulturalisme Menuju Masyarakat yang Humanis
Buku ini berisi tentang perspektif teologis yang moderat dan inklusif, serta memberikan solusi untuk menciptakan dunia yang lebih damai. Konsep pluralisme dan multikulturalisme yang diangkat di dalamnya sangat penting, karena dengan
memahami dan menghargai perbedaan, kita akan mampu mengurangi ketegangan dan membangun kedamaian yang
berkelanjutan.Melalui buku ini pembaca, baik
dari kalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat
umum, dapat memahami pentingnya menghadirkan teologi
Islam yang berorientasi pada toleransi dan saling
menghormati, serta mewujudkan cita-cita bersama dalam
menciptakan masyarakat yang berkeadilan dan bermartabat
Spiritualitas dan Media Sosial: Eksplorasi Peran Konten Agama di Instagram dalam Meningkatkan Ketenangan Batin Remaja
This study aims to explore the role of religious content on Instagram in improving adolescents' inner peace, with a focus on how social media platforms can be a means of
spirituality in the digital era. Based on a survey conducted on 28 adolescents aged 18–22 years, the majority of respondents stated that religious content on Instagram, such as quotes from holy verses, short sermons, and Islamic motivational videos, had a positive impact on their inner peace. As many as 82% of respondents felt calmer after consuming the content, while 71% admitted to reading religious content on Instagram more often than other sources. This study uses a literature study approach to analyze how religious content affects adolescent psychology, with theories of spirituality and social media as the basis. The results show that Instagram does not only function as an entertainment platform, but also as a spiritual space that supports adolescents in dealing with life's pressures. This study contributes to the understanding of how social media can be utilized to improve mental well-being through a spiritual approach.
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran konten agama di Instagram dalam meningkatkan ketenangan batin remaja, dengan fokus pada bagaimana platform media
sosial dapat menjadi sarana spiritualitas di era digital. Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 28 remaja berusia 18–22 tahun, mayoritas responden menyatakan bahwa konten
agama di Instagram, seperti kutipan ayat suci, ceramah singkat, dan video motivasi Islami,memberikan dampak positif terhadap ketenangan batin mereka. Sebanyak 82% responden
merasa lebih tenang setelah mengonsumsi konten tersebut, sementara 71% mengaku lebih sering membaca konten agama di Instagram dibandingkan sumber lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka untuk menganalisis bagaimana konten agama memengaruhi psikologi remaja, dengan teori spiritualitas dan media sosial sebagai landasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang mendukung remaja dalam menghadapi tekanan hidup. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan mental melalui pendekatan spiritual
Urban Religious Expressions in the Digital Era: Representations of Piety in Islamic TikTok Content
The rapid growth of social media, particularly TikTok, has created a new space for the dissemination of religious messages. This phenomenon raises questions about how piety is represented and reinterpreted in the digital sphere by urban youth. This study aims to analyze the forms of piety representation in Islamic preaching content on TikTok and to explore the reception of urban audiences toward such messages. A qualitative descriptive method was employed, using digital ethnography to observe five videos from three popular creators—@kadamsidik00, @amazmii, and @risyad_bay—along with audience responses in the comment sections. The findings reveal that Islamic preaching content on TikTok represents piety through three main dimensions: moral, ritual, and symbolic. Audience responses show diverse patterns, ranging from appreciative, critical, and reflective to humorous, reflecting the plurality of ways in which young urban audiences interpret religious messages.These findings emphasize that social media functions as a new discursive space where urban communities construct and negotiate their religious identities. Significantly, this study contributes to academic discourse by applying Stuart Hall’s theory of representation to the context of digital da’wah, while also offering practical insights for content creators, educators, and Islamic institutions in designing communication strategies that resonate with the dynamics of the digital generation.
Abstract
Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah menghadirkan ruang baru bagi penyebaran pesan keagamaan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana nilai-nilai kesalehan direpresentasikan dan dimaknai ulang dalam ruang digital oleh generasi muda urban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk representasi kesalehan dalam konten dakwah Islami di TikTok serta resepsi audiens urban terhadap pesan tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik observasi digital (digital ethnography) terhadap lima video dari tiga kreator populer, yakni @kadamsidik00, @amazmii, dan @risyad_bay, beserta respons audiens di kolom komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten dakwah Islami di TikTok merepresentasikan kesalehan dalam tiga dimensi utama: moral, ritual, dan simbolik. Respons audiens memperlihatkan pola yang beragam, mulai dari apresiatif, kritis, reflektif, hingga humoris, yang mencerminkan keragaman cara generasi muda memaknai pesan dakwah. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berperan sebagai ruang diskursif baru bagi masyarakat urban dalam membentuk dan menegosiasikan identitas keagamaan mereka. Secara signifikan, penelitian ini memberikan kontribusi akademik melalui penerapan teori representasi Stuart Hall dalam konteks dakwah digital, sekaligus menawarkan wawasan praktis bagi kreator, pendidik,dan lembaga dakwah dalam merancang strategi komunikasi yang relevan dengan dinamika generasi digita
Social Media as an Arena for Digital Jihad: An Analysis of Online Da'wah on Tiktok, Youtube, and Instagram
YouTube, TikTok, and Instagram have become key platforms for digital da’wah,particularly in reaching younger audiences. This study applies a descriptive qualitative approach with content analysis of ten purposively selected popular videos. The analysis focused on themes, rhetoric, visualaudio elements, and audience responses. The findings reveal unique characteristics of each platform. YouTube is marked by long, systematic,and argumentative sermons that enable deeper understanding. TikTok emphasizes short,concise, emotional, and viral content, making it effective for audiences with limited attention spans. Instagram highlights visual aesthetics and reflective messages, supported by interactive features such as comments and Q&A. These patterns illustrate the need for adaptive communication strategies aligned with algorithms and media consumption habits. The notion of “digital jihad” is interpreted as a non-physical struggle to spread Islamic values online while prioritizing ethics, substance, and engagement. Digital da’wah thus serves not only as religious communication but also as cultural activism that strengthens Islamic identity among youth in the digital era.
Abstract
YouTube, TikTok, dan Instagram kini menjadi arena penting bagi dakwah digital yang mampu menjangkau generasi muda. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis isi terhadap sepuluh video populer yang dipilih secara purposive. Analisis difokuskan pada tema, gaya retorika, aspek visual-audio, serta respons audiens. Hasil menunjukkan bahwa setiap platform memiliki keunikan. YouTube menampilkan ceramah panjang dengan penyampaian sistematis dan argumentatif sehingga mendorong pemahaman mendalam. TikTok menyajikan pesan singkat, padat,emosional, dan mudah viral, efektif untuk audiens dengan perhatian terbatas. Instagram mengutamakan estetika visual serta pesan reflektif yang didukung interaksi dua arah melalui komentar dan QnA. Perbedaan pola ini menegaskan perlunya strategi komunikasi yang adaptif terhadap algoritma dan kebiasaan konsumsi media. Konsep “jihad digital” dipahami sebagai perjuangan non-fisik untuk menyebarkan nilai Islam di ruang maya dengan menekankan etika, substansi, dan keterlibatan audiens. Dakwah digital berperan bukan hanya sebagai media penyebaran agama, melainkan juga sebagai aktivisme kultural yang memperkuat identitas keislaman generasi muda di era digital